Makin ancur lagi (/-\)

Disclaimer : Katekyo Hitman Reborn cuma punya Akira Amano-sensei, kalo punya saya bisa ancur itu KHR TT^TT

Maaf bila ada kesalahan.


"Panti asuhan?"

"Tidaaak! Jangan pertemukan aku dengan anak-anak!"

"Sensei, kenapa harus ke panti asuhan?"

"Bayangkan jika anak-anak itu menggigit kami, sensei!"

Sensei yang dipanggil oleh murid-muridnya itu hanya mendesah pelan ketika melihat reaksi murid-muridnya tersebut. Sebagian dari mereka memperotes dan sebagiannya lagi tersisa dengan reaksi yang aneh seperti-

"Sepertinya menculik mereka dari panti asuhan akan menyenangkan.."

"Calon istri.."

"Malam pertama di panti asuhan terdengar unik.."

"Sadarkan diri kalian para pedo!"

BLETAK

Dan sebuah buku sukses mendarat di kepala para makhluk yang pedonya mulai kambuh.

Lagipula ini hanya sebuah kunjungan ke panti asuhan.

"Ada ada saja.." Lagi-lagi Tsuna yang duduk di sudut ruangan hanya kembali mencoret-coret di belakang buku tulis miliknya setelah melihat reaksi teman sekelasnya tersebut, menorehkan beberapa kata pada kertas kemudian mencoretnya kembali hingga satu kertas penuh, lagi pula jika dipikirkan pun, sebenarnya ia tak punya masalah dengan panti asuhan.

'Panti asuhan ya..?'

Mengingat dirinya yang 2 bulan lalu keluar dari sana.


"Tsuna, kau lihat? Kecoa itu bangkit dari kubur~!"

"..I-itu hanya kecoa yang belum mati, jika kau tinggal, kecoa itu juga akan kabur Shiki-san.." Tsuna hanya menusuk pipinya dengan jari ketika melihat kecoa yang bergerak karena tubuhnya terbalik. Tak ada yang namanya kecoa bangkit dari kubur kan?

Jadi, intinya jam istirahatnya terbuang sia-sia ketika sang ketua kelas abnormal mengajaknya kesudut kelas hanya untuk menatapi kecoa yang bergerak-gerak, sungguh pemandangan yang-

KRIIIIING

Shit, ia belum makan dan bel masuk sudah berdentang.

Sepertinya mengikuti pelajaran dengan perut kosong adalah pilihan terakhir, semoga saja dirinya dapat menyerap materi pelajaran dengan perut kosong.

Well, makan kecoa sepertinya menarik.

Tunggu sampai Tsuna kehilangan kewarasannya baru kau boleh berharap dirinya mau memakan hal seperti itu.

"Awawaw, kecoanya keren bingitzz! Sepertinya leza-

"..Shiki-san, aku kembali ke tempat dudukku dulu."

"Eh? Baiklah."

Tsuna pun kembali ke tempat duduknya, malah sekarang memperhatikan Shiki dari tempat duduknya. Semua murid telah duduk di tempatnya masing-masing, namun sang ketua kelas yang nampaknya memiliki fetish kecoa tetap berdiri di sana sampai-

"Shiki-san, bisakah kau menghargai guru di depanmu ini? Hmm?"

Nak, apa itu fetish kecoa?


"Sepertinya stok sayuran mulai menipis.."

Mata Tsuna menerawang ke seluruh sisi kulkas, tinggal beberapa jenis sayuran yang tersisa di sana, kalau sudah begini jelas saja ia yang harus pergi untuk membeli sayuran sementara baa-san tidak ada. Sepertinya rumah tanpa keberadaan baa-san tak seburuk yang ia kira jika saja-

"Persediaan kopi masih ada bukan, Tsuna?"

Tak ada kehadiran seorang bayi yang terlalu peduli terhadap minuman tersebut.

"T-tentu," Tsuna menutup pintu kulkas kemudian menatap Reborn, "..Besok ada kunjungan ke panti asuhan sekaligus menginap di sana, Reborn. J-jadi aku tidak akan ada di rumah besok. Dan kupikir persediaan makanan pun masih akan mencukupi sampai aku kembali."

"Tak biasanya sekolah memiliki kunjungan ke panti asuhan."

Hanya itu balasan dari Reborn yang dapat ia dengar, karena Reborn justru telah pergi terlebih dahulu sebelum ia sempat menjawab lagi.

Kemudian Tsuna meneguk susu kotak yang sempat diambilnya dari kulkas. "Haah, tak perlu terburu-buru bukan?"

"Huah! Jadi anak-anak di sini berumur dari 4 sampai 10, sensei?"

"Sepertinya kasihan sekali jika mereka masuk panti asuhan di umur segitu."

"Dasar orang tua tak bertanggung jawab!"

"Ehm."

Semua perhatian murid-murid teralih ketika mendengar sensei mereka berdeham kecil, mereka langsung menatap senseinya itu dengan tatapan bingung.

"Seperti yang kalian lihat, bangunan di belakang panti asuhan ini adalah bangunan yang digunakan untuk kalian nanti."

Jika diperhatikan, di luar bangunan panti asuhan tersebut terdapat banyak pepohonan yang rindang dan beberapa jenis tanaman yang beragam, terutama bunga bunga yang terdapat di samping kursi-kursi santai di sana. Tepat di belakang panti asuhan, terdapat sebuah bangunan lagi, bangunan yang digunakan untuk para pengunjung yang ingin menginap.

Kebanyakan dari pengunjung menginap hanya untuk melihat kehidupan anak-anak panti lebih lama, meresapi apa yang anak-anak itu rasakan kemudian mempelajarinya, bahwa mereka tak akan membiarkan anak mereka kelak merasakan tempat yang bernama panti asuhan tersebut.

Tapi ada beberapa pengunjung yang bahkan ingin sekamar dengan anak-anak tersebut.

Apalagi terlihat beberapa anak yang bermain di sana dengan riangnya. Sebuah suasana panti asuhan yang menyenangkan ketika melupakan bahwa mereka adalah anak yatim piatu.

"Kalian bebas untuk berinteraksi dengan anak-anak di sini, jangan melanggar peraturan atau apapun yang membuat masalah, mengerti?"

"Tentu sensei, kami kan bukan anak kecil lagi.."

Dan dengan begitulah Tsuna melihat teman-teman sekelasnya mulai menghampiri anak-anak tersebut.

Lebih tepatnya menghampiri secara terpaksa.

"M-mungkin melihat ke dalam akan lebih baik.."

Dan Tsuna pun melangkahkan kaki ke dalam panti asuhan tersebut.

Hal pertama yang menyambut pandangannya adalah ruangan yang didominasi warna putih dengan sebuah meja dan kursi, terlihat biasa memang, tapi yang tak Tsuna mengerti adalah mengapa tak ada satu anak pun yang berada di sana.

Mungkin semua anak-anak sudah di luar? Atau beberapa dari mereka ada di lantai atas?

'Ada suara langkah kaki.'

Tsuna segera berbalik ke belakang, yang ia lihat adalah seorang gadis kecil berambut indigo dan mata yang senada. Sayangnya gadis itu bukan berada tepat di depannya, tapi jauh di depannya. Dan Tsuna sendiri akhirnya berjalan mendekati gadis kecil itu, apalagi ketika gadis kecil itu sendiri yang memanggilnya.

"Onii-sama.."

"Ada apa?" Tsuna segera berjongkok lalu tersenyum kecil pada gadis kecil tersebut.

"Onii-sama, yang di sana itu.. ia temanmu bukan?"

"E-eh?"

Tsuna langsung mengikuti arah jari gadis kecil kecil tersebut yang ternyata menunjuk ke arah Shiki sang ketua kelas abnormal yang tengah menawarkan kecoa bakar kepada anak-anak di luar sana, yang jelas saja membuat anak-anak bereaksi berlari ketakutan.

"I-itu ketua kelasku."

"Sedari tadi ia terus membawa kecoa itu.."

Tsuna memutar matanya kemudian menghela nafas .

"Siapa namamu?"

"Chrome Dokuro.."

Kemudian Tsuna membawa gadis kecil itu dalam gendongannya, "Sawada Tsunayoshi,"

Gadis kecil itu menunduk ketika Tsuna mengacak rambutnya perlahan.

"Keluar dari panti asuhan sebentar mungkin terdengar menarik Chrome-chan, tertarik?"

"U-un.. Tentu.."


"Dua es krim rasa coklat."

Tsuna melihat ke arah Chrome yang berada di sampingnya, kemudian ia mengambil es krim yang dibelinya lalu menyerahkannya pada Chrome.

"Terima kasih."

"Chrome-chan.. Berapa umurmu?"

"9 tahun."

"Sejak umur berapa kau masuk panti asuhan?"

"4 tahun, onii-sama.." Chrome memandangi es krim di tangannya lalu memakannya kembali, terlihat beberapa kali ia merenungi sesuatu.

Tsuna menatap Chrome kemudian menghela nafas, "Pasti menyedihkan ketika kau harus terjebak dalam panti asuhan di umur itu bukan?"

"Aku.. Panti asuhan ini sudah terasa lebih dari cukup.. "

"Aku mengerti, ayo kembali Chrome-chan."

Chrome hanya menatap Tsuna dengan bingung ketika Tsuna mulai menggandeng tangannya dan mengajaknya kembali, terlalu tiba-tiba pikirnya. Namun lebih terasa aneh ketika Tsuna bereaksi saat Chrome mengatakan bahwa panti asuhannya yang sekarang lebih dari cukup.

Tapi gadis kecil itu memilih untuk tak terlalu memikirkannya, lebih memilih untuk berjalan dengan riang kembali ke panti asuhan.

'Boss harus mendengar dengan sangat baik bukan, Mukuro-sama?'


Tsuna beberapa kali mengayunkan ayunan yang tengah ia duduki ini, malam hari memang selalu menenangkan meskipun gelap sedikit menghalangi pandangan. Sedangkan di jam segini, ia yakin yang lain telah tertidur.

Udara dingin yang sedikit menusuk kulit justru memberi sensasi ketenangan tersendiri bagi Tsuna, sudah 2 bulan terakhir ia tidak duduk di ayunan pada malam hari seperti ini. Duduk di atas ayunan layaknya menunggu seseorang, tapi tak seperti kelihatannya, ia hanya bersantai setiap malam di atas ayunan tersebut.

Dan berpikir ketika panti asuhan adalah sebuah hal yang mengikat kebebasan seorang anak sedangkan itu adalah satu-satunya tempat anak itu berlindung-

"Ada yang datang."

Tsuna berdiri kemudian melihat ke sekitar.

"Onii-sama.. Ini sudah waktunya untuk tidur."

Lagipula, akan terasa lebih bebas jika memiliki pengadopsi seperti dirinya.

"Chrome-chan, baa-san pernah bilang bahwa ia ingin mengadopsi satu anak perempuan lagi, jadi.. Kau mau?"

Lagipula.. Bicara dengan anak kecil tak pernah semembahagiakan ini.


Sudah beberapa hari sejak Tsuna mengajak Chrome untuk tinggak bersamanya, lebih tepatnya mengambilnya dari panti asuhan, Tsuna pun telah meminta tolong Reborn untuk memberitahu pada baa-san. Jadi, tak ada kekhawatiran soal ini, sikap Chrome pun telah benar-benar berubah, dan bukan berubah lagi, contohnya seperti-

"Boss."

"C-Chrome, s-sudah kubilang berhenti memanggilku boss..."

Juga meminta Tsuna untuk menghapus suffix 'chan'.

"Tapi aku benar-benar menginginkannya." Tsuna menghela nafas kemudian tersenyum, entah kenapa sifat Chrome kini terasa jauh lebih kekanakan, tapi jelas ini lebih menyenangkan.

"Haah, baiklah. Terserah kau saja, lagi pula sarapannya sudah siap Chrome-chan.."

"Suffixnya~"

"Baik-baik Chrome, makan dengan benar."

Chrome pun memakan sarapannya sambil tersenyum, begitu senang ketika Tsuna mengacak rambutnya.

Betapa bersyukur ketika dirinya bisa memiliki pengadopsi, tinggal di sini begitu nyaman, perasaan yang tentunya tak dapat disampaikan melalui cerita.

Rasa bahagia yang langsung menyeruak dalam dirinya saat ia mendengar saat Tsuna menawarkan hal tersebut.

Dan yang kini Chrome perhatikan adalah Reborn, Reborn yang hanya diam ketika melihat Tsuna menggendong tasnya kemudian pergi. Berbeda dengan Chrome yang menolak untuk sekolah, tapi lebih memilih untuk meminta Tsuna mengajarinya saja.

Tapi entah kenapa kali ini Reborn terlihat merenung.

'Ini seperti aku tak dapat mengajarinya sekarang, Nono.'

Kemudian tampak Reborn melompat ke sisi jendela.

'Akan ku coba, dame-Tsuna."


Anak baru yang diperkenalkan sebagai Gokudera Hayato, berhelai silver dan dikatakan bahwa dirinya duhulu bersekolah di Italia, itu lah yang menjadi fokus Tsuna ketika ia melihat ke depan.

"Grr."

Baru saja Tsuna menatapnya, geraman itu dan sebuah pelototan yang dikeluarkan oleh Gokudera, Sedangkan Tsuna tak terlalu memperdulikannya malah tampaknya membuat emosi Gokudera memuncak, terlihat dari bagaimana ia langsung menghampiri meja Tsuna yang berada di sudut ruangan tanpa mempedulikan perkataan guru.

Menggebrak meja Tsuna hingga jatuh, sayangnya Tsuna yang telah memperkirakan hal itu justru berdiri untuk mencegah dirinya ikut terjatuh.

Namun Tsuna hanya berbisik ke telinganya, "Aku benar-benar tak punya waktu untuk hal seperti ini Gokudera-kun.. Tidak vongola atau yang lainnya."


Hiks, bukannya wordnya tambah banyak, malah sama aja =.=) Semoga yang ini agak lebih bener DX makasih buat yang kemarin kasih saran lewat review!

Minta kritik dan sarannya~ kalo mau flame juga silahkan *^* asal ninggalin review aja ya~ XD