Frenemies?

Pairing: MyungJoe, slash!WooSoo

Rating: T

Disclaimer: Teen Top belongs to Top Media, Infinite belongs to Woolim ent., Topp Dogg belongs to Stardom Ent.

Warning: Sho-ai, AU, OOC, Typo(s)

Note: pure from my own imagination, DLDR!, do not bash or flame

"A-ah!"

"Annyeong, Byunghun-ah."

.

.

.

"Aah! Lihat mereka bergandengan tangan!"

"Tidak! Myungsoo oppa!"

"Omo! Mana kameraku?!"

"Aaaah! Mereka saling mendekatkan wajah mereka!"

"Huaaa! Sekarang aku menjadi shipper mereka!"

Apakah yang membuat para siswi di JungIn High School ribut? Jawabannya, seorang Kim Myungsoo yang tiba-tiba memeluk Nam Woohyun dan mengenggam tangannya. Woohyun mendekatkan wajahnya dan mengecup pipi Myungsoo.

"Kyaaa! WooSoo couple!"

Myungsoo dan Woohyun diam-diam menyunggingkan smirknya.

"Sialan kau Nam Woohyun." bisik Myungsoo. Ia menggam tangan Woohyun lebih kuat, membuatnya sedikit meringis. Woohyun tetap memaksakan tersenyum.

"Kau tahu apa akibatnya, kan?" bisik Woohyun. "Ayo kabur. Aku bawa kunci atap sekolah."

"Dalam hitungan ke-3. Hana."

"Dul."

"Set!" Myungsoo menarik tangan Woohyun. Mereka berlari ke atap, menjauh dari para fangirls itu. Woohyun membuka pintu atap lalu menguncinya. Ia menyandarkan badannya di pintu dan menghembuskan nafas lega.

"Hah, para fangirls itu, mereka benar-benar gila." keluh Woohyun. Myungsoo di sampingnya menganggukkan kepalanya. "Oh ya, akting yang bagus tadi."

"Gomawo. Tapi kalau kau menciumku, kupastikan tulangmu akan patah." ancam Myungsoo.

Akting? Ah, well. Sepertinya kita harus flashback ke hari kemarin.

Flashback

"Aku tertarik padanya. Tidak apa kan kalau dia untukku saja? Toh, kau kan tidak ada hubungan dengannya."

Myungsoo mengepalkan tangan kanannya. Woohyun menyeringai melihat reaksi Myungsoo, seperti yang ia harapkan. 'Sebetulnya, ini hanya rencana remeh sih.' pikirnya.

"Tapi mungkin aku akan berhenti mendekati Byunghun, kalau kau menuruti rencanaku."

"Jinjja?" tanya Myungsoo ragu yang dijawab dengan anggukkan oleh Woohyun. "Apa yang harus kulakukan?"

"Gampang. Jadilah namjachinguku."

BUGH

"Y-ya! Apa yang kau lakukan?!" Woohyun mengelus pipinya yang baru saja ditonjok oleh Myungsoo. Myungsoo hanya mendeathglarenya.

"Sepertinya kau tidak sayang nyawa, ya?" ucap Myungsoo dingin.

"Baiklah kalau begitu, aku akan mendekati Byunghun lagi. Woohyun berjalan keluar kelas, sebelum Myungsoo menonjoknya lagi. "Ya! Apa maumu?! Kau tidak mau mengikuti rencanaku, jadi aku akan mendekati Byunghun lagi."

"Jangan dekati Byunghun." ancam Myungsoo.

"Arraseo. Tapi seperti yang kubilang, kau harus menjadi namjachinguku. Toh, apa susahnya berakting?" tanya Woohyun. Myungsoo memutar bola matanya jengah. Ia tidak suka berurusan dengan tipe orang seperti Woohyun.

"Baiklah. Tapi tidak ada ciuman atau seks."

"Kalau begitu, making out boleh?"

"Sama saja, baka."

Flashback off

.

.

.

"Hyung!" Byunghun sontak langsung memeluk namja itu erat. Namja itu tertawa dan balas memeluk Byunghun. "Chanhee hyung! Bogoshippo!

"Ha ha, nado Byunghun-ah." Chanhee melepaskan pelukan mereka. Kedua tangannya beralih ke pipi Byunghun dan mencubitnya. "Kau bertambah gemuk, ya?"

"Aw aw! Appo, hyung!" mendengar rintihan Byunghun, Chanhee melepaskan cubitannya, mengucapkan kata 'Mian'. Byunghun mempoutkan bibirnya, kedua tangannya mengelus pipinya yang memerah. "Dan tidak, aku tidak bertambah gemuk."

"Tapi bertambah pendek, ya?" Chanhee langsung tertawa setelah mengatakan itu. Byunghun mendengus kesal dan menjulurkan lidahnya.

"Fyi, aku bertambah 0,3 cm." ucap Byunghun bangga. Chanhee mendengarnya langsung tertawa, membuat Byunghun bingung. "Wae hyung?"

"Aku bertambah 2 cm." kini giliran Chanhee yang menyombongkan dirinya. Byunghun merengut dan memukuli Chanhee. "Ah, ya! Appoyo!"

"Hyung curang!"

"Salahmu sendiri, jarang berolahraga."

"Aku sibuk dengan kegiatan OSIS." Chanhee tertawa geli melihat Byunghun yang tengah merajuk. Jujur, ia merindukannya, bertengkar dengan Byunghun seperti ini. Rasanya, saat ia akan pergi, Byunghun bahkan masih menundukkan kepalanya saat berbicara dengannya. Chanhee tersenyum senang dan mengacak-acak rambut cokelat Byunghun. "Aish! Wae, hyung?!"

"Syukurlah, sekarang kau sudah berani menatapku."

"Eh?"

"Dulu, meskipun saat bertengkar, kau tetap saja tidak melihatku. Kau pasti selalu melihat ke arah lain" terang Chanhee. Byunghun menganggukkan kepalanya.

Mana mungkin kan ia bisa memberitahu Chanhee alasannya? Well, dulu Byunghun mengagumi Chanhee dan sedikit menaruh perasaan padanya. Tapi toh, sekarang dia menganggap Chanhee hanya sebagai hyungnya.

"Hei, hyung! Kudengar di kantin mereka sedang menjual shortcake!"

"Jinjja?! Kajja, Byunghun-ah!"

Byunghun dan Chanhee berjalan menuju kantin dengan berpegangan tangan. Kaki Byunghun masih terasa sakit, meskipun sudah tidak separah kemarin. Mereka menghabiskan waktu sebelum bel di kantin. Menunggu Chanhee menghabiskan shortcakenya, membuat pikiran Byunghun kemana-mana. Dan ia teringat sesuatu.

"Ah!" mendengar pekikan Byunghun, membuat Chanhee menghentikan makannya sesaat. Ia menatap Byunghun penasaran. "Aku harus mencari Myungsoo, bye hyung!"

"Biar kubantu." Chanhee menggamit lengan Byunghun, memaksanya untuk berpegangan pada lengan Chanhee.

"Gwaenchana? Mungkin hyung akan telat. Kalau aku setelah ini ada tugas jadi tidak masuk ke kelas."

"Gwaenchana. Memang Myungsoo kenapa?"

"Aku ingin berterima kasih padanya."

Chanhee terkekeh mendengarnya. Ternyata anak itu (re: byunghun) dari dulu sampai sekarang masih sama.

Myungsoo adalah prioritasnya.

.

.

.

"Hei, sebentar lagi bel. Ayo turun." ajak Woohyun. Dia anggota OSIS, sangat penting baginya untuk masuk kelas tepat waktu. Myungsoo hanya menatap Woohyun malas dan kembali memainkan handphonenya. "Ayolah."

"Ani, aku malas. Aku akan masuk kelas setelah istirahat kedua."

"Lalu apa yang akan kau lakukan di sini?"

"Tidur, mendengarkan musik, lalu tidur." Myungsoo menghela nafas dan menyandarkan punggungnya di dinding atap, menutup matanya. Kedua tangannya disilangkan di depan dadanya. "Apa saja asal aku tidak bertemu dengan makhluk setinggi 171 cm berambut cokelat dan bernama Lee Byunghun."

"Kim Myungsoo! Ruang detensi, sekarang!"

Tunggu. Suara Woohyun tidak secempreng itu. Myungsoo membuka sebelah matanya, hanya untuk melihat Byunghun tengah berkacak pinggang di hadapannya. Myungsoo langsung menutup matanya kembali.

"Yaa! Kim Myungsoo, irreona!" teriak Byunghun. Myungsoo dan Woohyun (dia masih ada di situ) refleks menutup kedua telinga mereka dengan tangan, Chanhee hanya meringis lalu tertawa geli.

"Ah yaa! Shikkureo!" balas Myungsoo. Byunghun menarik kedua tangan Myungsoo, membuatnya berdiri dan mendorong punggungnya, memaksanya turun ke ruang detensi.

"Chanhee hyung?" tanya Myungsoo.

"Ah, annyeong Myungsoo!"

"Kapan kau balik?"

"Kemarin sore, dan ugh-" Byunghun masih mendorong punggung Myungsoo. "Kau, cepatlah turun ke ruang detensi."

Myungsoo hanya diam dan berjalan turun tangga. Byunghun hampir terjatuh saat Myungsoo tiba-tiba pergi saat dirinya masih berusaha mendorong punggung Myungsoo. Beruntung, Chanhee dengan sigap merengkuh pinggang Byunghun.

"Gomawo, hyung." Byunghun tersenyum lembut ke Chanhee yang dibalasnya dengan senyuman juga. Myungsoo menoleh ke arah mereka dan kembali berjalan turun. Woohyun yang sedari tadi merasa seperti obat nyamuk, berdehem keras.

"Sepertinya sebentar lagi bel. Aku akan turun dan mengantar Myungsoo ke ruang detensi. Annyeong Byunghun-ah dan Chanhee-ssi." Woohyun melambaikan tangannya dan berjalan menuruni tangga.

"Ah, hyung! Tadi kau kenapa bersama Myungsoo?" teriak Byunghun. Woohyun menyeringai mendengarnya.

"Berkencan." jawabnya. Seringaian di wajahnya semakin lebar saat melihat tatapan kosong Byunghun.

.

.

.

"Annyeong, Woo seonsaeng. Saya membawa murid detensi." ucap Woohyun setelah membuka pintu. Woo seonsaeng membalas sapaannya, wajah cantiknya memucat saat melihat Myungsoo di belakang Woohyun. Myungsoo awalnya sibuk membuat puisi (di otaknya) dengan kata-kata 'kurcaci', 'Byunghun', 'cokelat', 'ahjumma', dan kata-kata lain yang bisa digunakannya untuk mengejek Byunghun. Myungsoo mengeluarkan senyuman jahilnya saat melihat wajah Woo seonsaeng yang pucat. Dia hendak berbicara, saat omongannya dipotong oleh Woohyun.

"Tenang, seonsaengnim. Saya sudah izin ke Park seonsaeng untuk menemani anda dan Myungsoo sampai waktu detensinya habis." Myungsoo menggigit bibirnya kesal, sementara Woo seonsaeng mengelus dadanya lega. Jujur, ia tidak akan tahan lebih dari sepuluh menit hanya berdua dengan Kim Myungsoo.

"Piss off." gerutu Myungsoo.

"Jaga ucapanmu, Myungsoo."

.

.

.

TBC

Double update. Speechless.