Terimakasih banyak atas reviewnya di chapter lalu, minna. Aku senang sekali, karena di fandom asalku reviewernya hanya sedikit. Mereka juga terlalu pemilih (Well, mereka tidak akan mereview fiksi yang tidak mereka sukai, karena itu di fandomku tidak ada flamer.). Sambutannya hangat dan aku tidak dapat flame. Arigatou ne minna-san…

Begins With Rome

.

Naruto © Masashi Kishimoto

.

March 2012

Daiyaki Aoi's present

Chapter Due

"Hinata-chan! Hinata-chan!" Sakura mengetuk pintu kamar Hinata dengan semangat menggebu-gebu. Memang saat ini masih terlalu pagi, tapi Sakura rupanya bukan orang yang sabaran. Ia ingin sekali memberitahukan sesuatu pada Hinata. Tadinya ia sempat mengurungkan niatnya, karena tahu Hinata mungkin akan merasa terganggu. Semenit kemudian, ia tepis pikiran tersebut dari otaknya. Hinata adalah gadis yang rajin. Sebagai seorang sahabat, tentu Sakura tahu rutinitas Hinata. Gadis itu selalu bangun pagi, membereskan tempat tidurnya kemudian memasak sarapan. Urusan mandi bisa belakangan. Hinata tidak seperti Sakura yang lebih mengutamakan penampilan.

Setelah beberapa menit menunggu, pintu kamar Hinata masih tertutup rapat. Sakura mulai gusar,'Ayolah, cepat buka pintunya. Aku sudah tidak sabar lagi!' batinnya gemas. Tangannya meremas rok berwarna cokelat tua yang ia kenakan. Sakura berusaha mengetuk lagi.

Tok… tok… tok…

Perlahan, pintu kamar Hinata terbuka. Di baliknya, seorang gadis bersurai indigo, berjubah ungu gelap dan beriris perak memandang sayu ke arah Sakura. Helaian indigo rambut Hinata tampak kacau. Matanya juga masih berair. Gadis itu memandang Sakura dengan pandangan tanda tanya, masih terlihat bingung.

"Astaga, Hinata-chan!" pekik Sakura tertahan. Hinata memandang sekeliling, mengusap helaian Indigonya dan mengerjapkan mata.

"Ciao*, Sakura-chan. A-ada apa pagi-pagi begini?" Hinata tersenyum. Ia baru saja menggosok giginya di kamar mandi. Sebelum sempat mencuci muka, pintu kamarnya diketuk dengan keras. Jadi, ia langsung saja membuka pintu.

"Eh… Seperti biasa, Hinata-chan," Sakura langsung menghambur masuk ke dalam kamar Hinata. Ia lalu duduk di pinggir tempat tidur Hinata, kemudian melanjutkan, "Aku biasa menumpang sarapan di sini, bukan?"

Hinata memandang bingung, "Iya, tapi bi-biasanya tidak sepagi ini."

"Ah, itu-" Sakura mengorek tas selempang cokelatnya, mencari-cari sesuatu. "-ini dia, Hinata-chan!" Sakura mengacungkan sebuah kartu berwarna emas mengkilat tinggi-tinggi, seolah-olah kartu itu adalah penemuan terhebat pada abad dua puluh satu.

Alis Hinata mengerut samar. Pertama, ia bingung karena Sakura sudah bangun sepagi ini. Karena Sakura biasanya bangun agak siang. Kedua, Hinata bingung karena Sakura sudah siap dengan pakaiannya. Di waktu sepagi ini, semua mahasiswa pasti masih tertidur lelap di dalam kamar mereka. Toko-toko di kota Roma juga sepertinya belum buka, kecuali toko makanan yang buka selama dua puluh empat jam. Coba lihat penampilan gadis berambut merah muda itu sekarang; Sebuah turtleneck tanpa lengan berwarna pink tua, rok selutut berwarna cokelat tua, sebuah tas selempang berwarna cokelat dan sepasang flat shoes berwarna pink-putih yang mendominasi seluruh penampilannya saat ini. Ketiga, kartu apa yang sedang Sakura pegang? Kartu kredit, atau apa? Apa hubungannya dengan kebiasaan sarapannya itu?

Sebelum Hinata membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, Sakura telah menyelanya, "Ini adalah kartu member resmi fans club Sasuke-tasted, Hinata-chan. Aku membelinya lewat internet kemarin dan paketnya baru tiba saat tengah malam."

Sasuke-tasted itu apa? Sasuke itu siapa? Hinata memejamkan matanya, menutup pelan-pelan pintu kamarnya. Ia beranggapan memorinya belum terkumpul semua. Hinata memutar otaknya, mencari-cari tentang memorinya soal seseorang bernama 'Sasuke' tersebut.

Ah, ia ingat sekarang. Sasuke adalah nama seorang chef yang sinis itu. Chef yang diidolakan oleh Sakura. Hinata tertawa kecil di dalam hati. Jadi nama fans club chef itu Sasuke-tasted? Lucu sekali.

"B-baiklah, Sakura-chan. Hanya i-itu yang akan kau sampaikan padaku?" tanya Hinata lembut.

Muka Sakura langsung memerah, ia sadar bahwa ia telah mengganggu kegiatan Hinata. Ia menggebu-gebu pagi ini hanya untuk alasan yang tidak masuk akal, bahkan tergolong konyol. Tentu berita ini bukan hal yang penting untuk gadis macam Hinata. Tidak mungkin gadis itu berteriak dan bilang, 'APA, SAKURA-CHAN? KAU PUNYA KARTU MEMBER RESMI SASUKE-TASTED? CEPAT BERIKAN PADAKU!'

Baiklah, Sakura berfantasi terlalu liar. Terkadang otaknya memang suka membayangkan hal yang aneh-aneh. Mungkin daya imajinasinya terlalu tinggi. Padahal ketika sedang belajar, Sakura selalu serius. Ia hanya melakukan hal-hal konyol bersama Hinata.

"Aku juga mau sarapan, kok." Kata Sakura membela diri sambil menjatuhkan diri di tempat tidur Hinata. Seulas senyum maklum tersungging di bibir Hinata.

"Ah, a-aku mau mandi dulu ya?" Hinata bergerak menuju kamar mandi.

"Tunggu, Hinata-chan! Kau belum menceritakan padaku, siapa yang telah membuatmu jatuh cinta." Kata Sakura sambil menaikkan alisnya. Bibirnya menyeringai jahil.

"Ja-jangan bahas itu Sakura-chan!" sahut Hinata sambil menutup pintu kamar mandi. Tentunya, dengan wajah memerah.

Sakura pun tertawa. 'Hinata memang menggemaskan sekali,' batinnya sambil menyalakan televisi.


Sasuke membuka matanya dengan berat dan berjalan tersaruk-saruk menuju meja belajarnya. Tangannya meraih sebuah ponsel yang tergeletak di sana. Ponsel yang sedari tadi berbunyi keras sekali dan membuatnya terbangun. Oh, demi Tuhan, terkutuklah seseorang yang meneleponnya di pagi buta seperti ini. Ia memutuskan sambungan di layar ponsel, kemudian merangkak kembali ke atas tempat tidur. Ia tarik selimutnya kuat-kuat. Tak lama, ponsel sialan itu kembali berbunyi.

"Argh!" pekiknya kesal. Ia mengambil lagi ponselnya kemudian menjawab telepon.

"Teme!" Suara ceria yang pertama yang menyapanya membuat dirinya semakin kesal. Dasar Naruto tidak tahu malu. Untuk apa bocah tan itu meneleponnya sepagi ini?

"Terkutuklah kau, Dobe." Kata Sasuke geram.

" Ya, ya, terserah kau sajalah Sasuke-teme. Aku meneleponmu karena hari ini bos memintamu kerja. Salah satu chef kita sedang sakit."

"Tidak bisa," jawab Sasuke. Mata obsidiannya menyipit, mengingat jadwalnya hari ini cukup sibuk.

"Kenapa?"

"Hari ini aku kuliah, lalu aku harus-" Sasuke terdiam, menyadari dirinya sudah mulai banyak bicara. Pada akhirnya ia hanya mendengus, "-begitulah."

"Jadwalmu saat makan malam, Teme. Bos tahu dia sudah sangat merepotkanmu, lagipula ini hari liburmu."

"Mungkin kalau sempat aku akan kesana," ucap Sasuke.

"Baiklah."

"Naruto," sela Sasuke sebelum menutup telepon.

"Nan desu ka dattebayo*?"

"Kalau bos meminta lagi, jangan menelepon pagi-pagi seperti ini." Kata-kata Sasuke memang biasa saja, namun nadanya menyiratkan sejuta ancaman bagi Naruto.

"H-hai…" Sambungan telepon berakhir sampai disana. Sasuke menghela napas kemudian tertidur kembali. Ini hari pertamanya di Renaissance dan berharap semoga nasibnya baik-baik saja. Tanpa paparazzi, tanpa fans, tanpa sesuatu yang dapat mengganggunya.


Jam di dinding kelas menunjukkan pukul sepuluh pagi. Serentetan kata-kata makian dari mulut mahasiswa terdengar dari dalam kelas tersebut. Kelas mereka masih sibuk dengan aktivitas yang disuruh oleh dosen, yaitu menggambar sketsa ruangan atau lebih tepatnya, desain grafis. Ya, di dalam gedung fakultas arsitektur tersebut, lorong-lorong kelas mahasiswa baru terdengar bising. Maklum saja, mereka masih terlalu labil dengan umur yang tergolong muda; 17-19 tahun. Mereka masih tidak sabaran. Berbeda dengan lorong-lorong kelas senior mereka yang hening. Hanya ada suara gesekkan pensil di atas kertas sketsa yang bisa tertangkap oleh pendengaran.

Dosen telah meninggalkan kelas tersebut karena harus menghadiri rapat penting di gedung rektorat. Meskipun jam sepuluh masih tergolong jam pagi, beberapa mahasiswa telah selesai menggambar sketsa mereka.

"In c'v ta ne copi capri un cazz*! Aku sudah menyelesaikan sketsa ini satu jam lalu. Kalau saja dosennya tidak menghadiri rapat itu, aku pasti sudah diperbolehkan keluar dari dalam kelas!" Maki seorang lelaki berkulit kemerahan bernama Adriano. Beberapa temannya menggumam setuju.

Hinata hanya menghela napas. Ah, lelaki-lelaki ini sungguh tidak sabaran. Sampai kapanpun Hinata tidak akan pernah mau berpacaran dengan laki-laki Italia yang seperti ini. Tidak sabaran dan penggoda wanita. Tipikal standar. Hinata berusaha mengabaikan suasana yang berisik dan hanya terfokus ke sketsa desain grafis-nya. Ia merancang sebuah ruangan keluarga yang hangat dan minimalis. Tangannya asyik berputar, mencoret dan menggaris di atas buku sketsa. Ia suka jurusan mata perkuliahan yang ia ambil. Hinata menikmatinya.

Sakura melirik sahabatnya yang tenggelam dalam buku sketsa, kemudian melihat ke arah sketsanya sendiri. Sakura merancang sebuah rumah klasik Yunani kuno dengan pilar-pilar penyangga yang besar dan megah. Karena tema-nya bebas, maka setiap mahasiswa diperbolehkan menggambar sketsa apapun. Sakura bangkit dari tempatnya duduk dan berjalan ke arah meja Hinata.

"Ruang keluarga, Hinata?" tanya Sakura sambil menunjuk buku sketsa Hinata.

"Si*." Hinata mengangguk cepat. Ia mengarsir sedikit gambarnya, lalu menoleh ke arah Sakura. "Sakura-chan sendiri se-sedang menggambar apa?"

"Sebuah rumah klasik khas Yunani kuno," jawab Sakura. Lalu Ia mendesah memuji, "Ruang keluarganya sepertinya nyaman sekali, cantik, simple dan keren."

Hinata tersipu malu, "G-grazie, Sakura-chan."

Ruangan keluarga yang digambar Hinata didominasi warna krem, abu-abu, cokelat tua dan Hitam. Sebuah karpet bulu berwarna krem berada di tengah-tengah ruangan, sebuah sofa panjang berwarna cokelat tua teronggok manis di depan sebuah televisi flat inch yang berada di atas meja berkaki rendah berwarna hitam minimalis. Cat ruangan berwarna abu-abu. Ukiran bunga anggrek menghiasi dinding ruangan itu. Yah, meskipun sketsanya hitam-putih, Hinata memberikan keterangan warna pada kolom di pinggir gambarnya.

Hinata memang berbakat.

"Sakura-chan, boleh aku lihat gambarmu?" tanya Hinata sambil berdiri.

"Silakan," sahut Sakura .

Hinata meraih buku sketsa Sakura, Ia melihat sebuah bangunan mewah seperti abad-abad lalu. Bangunan itu seperti bangunan yang dibuat oleh orang-orang yahudi pada jaman yang telah lewat. Rumah yang ada di sketsa Sakura seperti sebuah rumah pemujaan berisi patung dewa-dewa Yunani. Sebagai mahasiswa fakultas arsitektur, Hinata tentu mempelajari soal mitologi, pahatan, sejarah dan hal-hal klasik lainnya. Dewa-dewa mitologi Yunani biasanya Zeus (dewa petir), Aphrodite (dewi cinta), Neptunus (dewa lautan), Apollo (dewa matahari), Pan (dewa hutan), Bacchus (dewa anggur) dan Hades (dewa kematian).

"Ini… klasik sekali, Sakura-chan." Ucap Hinata kagum.

Kali ini Sakura yang tersipu. Ia mengambil buku sketsanya dari Hinata dan bilang, "Biasa saja, Hinata-chan."

Tak lama, dosen mereka yang sudah lama ditunggu-tunggu, Hatake Kakashi pun datang. Dosen mereka ini cukup misterius dengan masker yang menutupi setengah dari wajahnya. Belum lagi, Kakashi ini selalu melontarkan alasan yang absurd ketika datang terlambat. Selalu datang terlambat, lebih tepatnya. Misalnya kata-kata, 'Maaf aku terlambat. Dalam perjalanan, aku tersesat di jalan bernama kehidupan.' Dan yah, masih banyak lagi.

"Baiklah, tugas dikumpulkan sekarang." Suara bariton Kakashi menggema ke seluruh ruangan. Para mahasiswa berdiri, membuat antrian panjang dan memberikan tugas mereka satu per satu. Gumaman-gumaman 'grazie' dan 'diniente' terdengar samar. Ketika sampai bagian Hinata dan Sakura, Kakashi menghentikan mereka, "Tunggu sebentar, boleh kupinjam signorita Haruno?" Gumam Kakashi pada Hinata.

Hinata hanya mengangguk sambil menahan tawa,'kebiasaan.' Batinnya. Ia hanya mengisyaratkan kepada Sakura agar menemuinya di kantin kampus. Sakura pun mengangguk dengan wajah memerah.

.

.

Waktu makan siang, kantin Renaissance.

Hinata duduk di salah satu bangku kantin sambil menikmati segelas rainbow soda. Sebelah tangannya memegang satu bungkus beefburger. Iris mata Hinata memandang sekeliling, mencari-cari sosok Sakura yang ia tunggu. Untung saja ia mendapat bangku yang masih kosong, sebab, jika kau terlambat semenit saja sebelum jam sebelas, kau pasti tidak akan mendapat bangku. Hinata mengaduk-aduk cairan soda bening yang dihiasi es balok berwarna-warni di dalam gelasnya. Ia meminumnya, lalu mulai menggigit beefburgernya. Di sebelah kantin, ada sebuah lapangan basket yang dikelilingi pohon ek. Beberapa daun pohon ek yang berserakan di atas lapangan basket terlihat tidak sedikitpun mengganggu aktivitas permainan basket yang sedang dilakoni beberapa mahasiswa.

Mahasiswa-mahasiswa yang tidak dapat tempat duduk di kantin terlihat duduk santai di bawah pohon ek sambil menonton permainan basket. Sebenarnya tidak buruk juga jika tidak mendapatkan bangku. Sejenak pandangan Hinata menangkap seseorang yang sedang menembak bola basket ke dalam ring. Laki-laki yang dipandangi Hinata itu berhasil memasukkan bola basket dan berteriak, "Three point!"

Sekujur tubuh lelaki itu dibasahi keringat. Ia menepuk pundak temannya dengan bangga sambil mengacungkan ibu jari. Lelaki berkulit tan dengan tiga garis melintang di kedua sisi pipinya.

'Tidak salah lagi,' batin Hinata. Wajahnya memerah menahan malu. Ia masih ingat, pemuda itu adalah maitre d' di restoran Invio kemarin. Hinata memandang ke lapangan basket, menonton pertandingan kecil itu dengan teliti. Ternyata, maitre d' yang dikaguminya adalah mahasiswa Renaissance! Dunia memang sempit. Hinata terkagum-kagum dengan aksi lelaki beiris biru langit itu. Tembakannya selalu jitu. Slam dunk yang dilakukan oleh pemuda itu sukses membuat penonton permainan basket memekik kagum.

Permainan basket berakhir sampai disana, sang maitre d' terlihat mengangkat tasnya kemudian berjalan pergi. Hinata tampak kecewa, ia menggigit lagi beefburgernya.

Ketika sedang asyik melamunkan sesuatu, sebuah suara bariton menerjang pendengaran Hinata, "Boleh aku ikut duduk di sini?"

Hinata memutar kepalanya dan dalam sekejap, jantungnya langsung berlompatan. Pemuda itu! Pemuda berambut pirang itu sekarang ada di depannya! Astaga...

"S-si," Hinata mengiyakan dengan gugup. Wajahnya terasa sangat panas, pasti wajahnya memerah saat ini. Tangan Hinata mencengkram erat ujung kemeja lavendernya.

"Bangku di sini penuh dan hanya mejamu saja yang kosong. Maksudku, kau hanya duduk sendiri 'kan?" ujar lelaki itu ramah dan duduk di seberang Hinata.

"S-sebenarnya aku sedang me-menunggu seseorang," kata Hinata, memberanikan mengadahkan wajahnya. Menatap sepasang iris biru langit yang tertuju ke arahnya.

"Apa aku mengganggu?" tanya pemuda itu. "Aku bisa pindah ke tempat lain, jika itu yang kau inginkan." Ia menyunggingkan senyum kawaii yang membuat Hinata gemas.

"T-tidak apa-apa. Temanku i-itu hanya sa-satu orang saja." Jawab Hinata sambil menyesap pelan rainbow soda-nya.

Lelaki itu mengangguk-angguk mengerti. Ia membuka minuman kalengnya, dan meneguknya sekaligus. "Haah, lelah sekali." Katanya.

Hinata hanya memandang lelaki itu lalu melihat jam tangannya. Ia semakin gugup saja. Kemana Sakura saat sedang ia butuhkan?

"Apa kita pernah bertemu?" tanya lelaki itu-Naruto-sambil mengamati wajah Hinata. Wajah Hinata tambah memerah karena malu diperhatikan oleh Naruto.

"Y-ya. Di I-Invio." Hinata menunduk.

"Oooh! Kau yang pesan latte macchiato itu?" Naruto menggebrak meja saking semangatnya. Ia menyodorkan tangannya, "Maaf aku lupa. Namaku Uzumaki Naruto, salam kenal."

Hinata membungkukkan badan, "Hyu-Hyuuga Hinata, s-salam ke-kenal juga."

"Jadi-" Naruto memulai pembicaraan, "-apa kesanmu terhadap Invio? Aku adalah seorang maitre d' yang ramah, bukan?"


Naruto sekali lagi tertawa lebar di depan gadis berkulit pucat itu. Ya, Hinata. Gadis itu sangat menyenangkan, ramah, pemalu dan menggemaskan. Naruto sudah melontarkan puluhan lelucon yang bisa membuat gadis itu tampak tidak bisa menahan tawanya. Mereka sudah berbincang cukup banyak. Bagi Naruto, Hinata adalah gadis yang teramat menarik. Sopan, tapi tidak berlebihan. Terlebih lagi, Hinata merupakan gadis yang perhatian. Ia selalu memperhatikan Naruto setiap kali pria itu mulai berbicara. Suasana canggung tergantikan dengan gelak tawa. Topik pembicaraan mereka nampaknya tidak akan pernah habis. Mulai dari perkenalan diri, jenis makanan yang disukai, jurusan apa yang digeluti sampai… pengalaman mereka masing-masing.

'Teme…' batin Naruto, 'Kuharap kau bisa dekat dengan gadis ini.'

Sifat-sifat Hinata pasti akan cocok dengan Sasuke, Naruto yakin itu.

"Sakura-chan!" Suara Hinata naik satu oktaf, mengejutkan Naruto yang sedang melamun. Naruto melihat ke arah seorang perempuan berambut merah muda yang sedang dipanggil oleh Hinata. Mata emerald-nya terlihat bersinar, langkahnya rapuh dan pipinya merona. Ah, itukah teman Hinata yang ditunggu sedari tadi?

"Oh, Hinata," gadis bernama Sakura itu menghempas ke atas kursi di sebelah Naruto dengan lesu. Dia belum menyadari eksistensi Naruto di sana. Tangannya mencengkram erat lengan Hinata.

"Bagaimana, Sakura-chan?" tanya Hinata penuh dengan pandangan menyelidik. Naruto penasaran.

"Ajakan kencan, sepeti biasa," jawab Sakura, memutar bola matanya. "Entah kenapa, aku benar-benar khawatir."

"A-apanya?" tanya Hinata.

"Kencan kali ini." Sakura memandang ke sebelahnya, kemudian matanya terbelalak. "E-eh? Maaf aku tidak menyadarimu." Tuturnya malu. Ia baru sadar, ternyata di sebelahnya ada seorang lelaki. Ia memandang Hinata, bertelepati. Heran, baru kali ini Hinata dekat dengan lelaki. Atau jangan-jangan…

"Ja-jangan salah paham d-dulu!" wajah Hinata merona, seakan mengerti apa yang sedang Sakura pikirkan. "K-kenalkan Sakura-chan, ini Naruto U-Uzumaki, k-kenalanku. Naruto-san, Ini S-Sakura Haruno, sahabatku."

"Salam kenal," Naruto menjabat tangan Sakura.

Sakura hanya tersenyum, "Salam kenal juga, Uzumaki-san."

"Kakashi m-mengajakmu kencan dimana?" Hinata menatap sepasang manik emerald Hinata dengan penasaran.

"Ristorante* Il Cuoco. Kedengarannya bagus, bukan? Ah, aku tidak ingin hubungan ini menjadi serius, Hinata-chan!" Sakura memandang Hinata dengan tatapan yang sulit diartikan. Entah bingung, sedih, marah, senang… atau bahkan menikmati? Mengharapkan?

Naruto membuka suaranya,"Kakashi? Hatake Kakashi?"

"Ya, kau mengenalnya?" dua tatapan menghujam ke arah Naruto.

"Dia… yah, seniorku. Mantan murid ayahku. Tak kusangka tipe wanita yang disukainya adalah wanita sepertimu. Dia misterius, kau tahu. Selalu berjalan dengan caranya," Kata Naruto ringan, tidak menyadari tatapan dingin Sakura.

"Sebaiknya jaga mulutmu, bocah," sahut Sakura. Meski dalam hati, Sakura menyetujui apa yang dikatakan oleh Naruto.

Naruto hanya menatap sakura sesaat, kemudian ia beranjak dari kursinya, "Hinata-chan, kau mau ke Invio hari ini?"

"M-mungkin. Kalau sempat…" Hinata tersenyum tipis. Sakura memandang bingung.

"Yo, baiklah. Adios*," Naruto melambaikan tangannya sambil menyunggingkan senyum favorit Hinata. Hinata langsung gelagapan menutupi wajahnya yang memerah.

.

.

.

Invio, 07.00 p.m.

Hinata memasuki ristorante Invio dengan gugup. Restorannya terlihat penuh, hampir saja Hinata mau melangkahkan kembali kakinya untuk menaiki vespa merahnya dan pulang. Tapi, sebuah suara bariton yang khas menegur Hinata.

"Selamat malam, signorita Hyuuga, kami telah menyiapkan meja khusus untuk Anda," Naruto telah siap dengan pakaian maitre d' yang melekat di tubuhnya. Tangannya yang berbalut sarung tangan berwarna putih, tersodorkan pada Hinata layaknya seorang gentleman. Hinata tersipu malu dan menerima sodoran tangan Naruto.

Naruto membawanya ke pojok kursi persis saat pertama kali ia datang ke sini. Setelah bergumam 'grazie' pada Naruto, Hinata segera membaca buku menu dengan hati yang berbunga-bunga. Malam ini, setelah ia mendandani Sakura, entah kenapa Hinata langsung mengambil vespa merah bututnya dan melaju sampai ke sini. Entah angin apa yang membawanya.

Naruto hanya tersenyum melihat Hinata yang sedang membaca buku menu. Ternyata, gadis itu datang ke sini. Berarti, ia tinggal memberitahukannya pada Sasuke. Dengan senyum jahil, Naruto perlahan membuka pintu dapur. Ya, Sasuke ternyata datang juga. Ah, jodoh memang tidak kemana…

"Sasuke-teme, aku sudah berkenalan dengan gadis itu," Naruto berjalan mendekati Sasuke. Pria berambut aneh itu sedang memutar-mutar adonan pizza, menghempaskannya ke atas meja masak, lalu memutar-mutar lagi.

"Gadis yang mana?" tanyanya acuh.

Naruto menepuk dahinya frustasi, "Gadis yang waktu itu membeli asparagi con zabaione."

"Oh." Sasuke menghiasi pizza-nya dengan potongan daging kepiting dan ikan bass sebelum memasukkannya ke dalam oven.

'Astaga,' jerit Naruto dalam hati. Ia mengusap dadanya, "Namanya Hinata. Dia orang Jepang, kau tahu. Gadis itu enak diajak bicara."

"Oh," Sasuke menyentakkan penutup oven satu kali. Setelah menyalakan timer, memasukkan adonan pizza dan menutup oven, Sasuke baru menatap Naruto.

Naruto memutar bola mata, "Satu bulan, Sasuke. Ingat itu." Perkataannya ditekankan.

"Ya, ya, kau keluar saja sana!" gerutu Sasuke, mendorong punggung Naruto ke pintu dapur. "Si pigliano piu mosche in una gocciola di miele che in un barile d' aceto." Usir Sasuke.

Naruto menggumam dengan mata yang menyipit kesal. Ia keluar dari dalam dapur dan menghampiri meja Hinata, meninggalkan Sasuke yang berkutat dengan pikirannya.

"Hinata-chan, kau mau memesan apa?" tanyanya sambil menyiapkan secarik kertas.

"A-ah, Naruto-kun," Hinata membalikkan halaman pada buku menu, "Se-sepertinya vin santo dan tozzetti s-saja." Ia tersenyum.

"Kau selalu memilih makanan yang bagus." canda Naruto sebelum beranjak pergi. "Ada lagi?"

Hinata menggeleng.

"Baiklah, mohon tunggu sebentar signorita." Naruto kembali menghilang di balik pintu dapur.

.

.

Tozzetti adalah biskuit hazelnut buatan sendiri. Semacam home made biscuit. Biasanya para chef di Italia mempunyai citra rasa tozzetti mereka masing-masing. Adonannya berupa telur, tepung terigu dan kacang hazel yang kemudian akan dipanggang secara sempurna. Tozzetti memiliki citra rasa hazelnut yang kuat dan menggoda selera. Hidangan tozzetti berperan sebagai dessert setelah acara jamuan makan yang besar atau banyak. Sedangkan vin santo merupakan wine putih manis yang menjadi pasangan tozzetti, karena tozzetti akan lebih enak jika dicolek dengan vin santo. Tozzetti khas Sasuke biasanya ditambah dengan susu murni.

Sasuke mengocok telur dengan cepat. Lagi-lagi ia menyeringai mengetahui pilihan makanan sang gadis indigo yang telah diketahui namanya adalah Hinata. Sebenarnya ia kesal juga mengapa Naruto yang harus lebih dulu mengenal gadis itu. Tidak bisakah Naruto membiarkannya berjuang sendiri? Satu bulan bukanlah waktu yang lama.

'Baka dobe.' Batinnya. Ia memasukkan bubuk hazelnut ke dalam adonan dan mengocoknya lagi. Tak lama, ia mencetak adonan biskuit dan memasukkannya ke dalam oven bersuhu seratus delapan puluh derajat. Sambil menunggu, ia mengambil sebotol vin santo dan satu buah gelas sampanye yang ramping.

.

.

Hinata dapat mencium aroma hazelnut yang lembut, diselingi dengan wangi susu murni yang segar dari nampan makanan yang dibawa oleh Naruto. Hinata tersenyum senang. Naruto mendekati meja Hinata dan mulai menata sajian yang dibawanya.

Setelah selesai menata, Naruto membuka penutup makanan. "Selamat menikmati." Katanya, membungkuk singkat.

Hinata menggumamkan kata 'terimakasih' pada Naruto. Pria itu hanya mengangguk, tersenyum lalu melangkah pergi. Hinata menuangkan vin santo-nya ke dalam mangkuk kecil dan gelasnya. Kemudian ia mengambil sepotong tozzetti dan mencoleknya dengan vin santo yang berada dalam mangkuk kecil.

Hanya kerenyahan sempurna yang dapat dirasakan oleh Hinata, suara gemertak gigi-giginya begitu enak untuk didengar. Aroma hazelnut menyebar ke seluruh bagian lidahnya, beserta susu murni yang membuat rasa tozzetti begitu lembut, memanjakan lidahnya. Hinata mengulum biskuitnya, mencoba memperdalam rasa hazelnut dan susu murni. Rasa yang begitu kaya.

Hinata dapat menebak, chef yang memasak tozzetti kali ini adalah chef yang sama membuat asparagi con zabaione saat pertama kali ia datang ke sini. Entah kenapa 'rasa' yang dipersembahkan oleh chef itu begitu khas sehingga mudah dikenali. Siapa chef yang telah membuatnya jatuh cinta pada masakannya ini? Oh, andai saja suatu saat ia akan mempunyai seorang pacar yang hebat dalam memasak…

To Be Continued

Akhirnya, aku bisa update jugaaa...! XD Maaf kalau telat ya, minna

Kamus mini:

*Ciao= Halo.

*Nan desu ka dattebayo? = Ada apa? Sedangkan 'dattebayo' adalah kata-kata yang selalu digunakan oleh Naruto. Seperti latah. (Bahasa Jepang)

*Hai= Baiklah, ya. Kata 'hai' tidak selalu berarti 'ya'. Bisa juga digunakan dalam artian, 'maaf, saya tidak dapat mendengarmu.' (Bahasa Jepang)

*In c'v ta ne copi capri un cazz= Gila.

*Si= Ya.

*Ristorante= Restoran

*Adios= Sampai jumpa lagi.

*Si pigliano piu mosche in una gocciola di miele che in un barile d' aceto= Kau bisa menangkap lebih banyak lalat dengan setetes madu daripada segentong cuka. (Pribahasa)

Pertanyaan, saran dan perkenalan pembaca;

rqm3490: Ah, drama korea yang 'Pasta' itu bukan? Aku tahu kalau yang itu! Oke, ini sudah lanjut. XD maaf menunggu lama. ^^ Makasih fave-nya.

SuHi-18: Ya, bahasa Italia memang sulit. DX Mereka tidak memakai bahasa harfiah, lebih ke pribahasa. Makasih atas pujiannya :D. Hehehe… Tanding masak? Baiklah, mungkin aku akan menambahkan scene itu. Akan kupertimbangkan saranmu!^^

Violetta Onyx: Kak Aghniiii! XD Wah, kakak cepat juga mereview… Saran kakak sudah aku lakukan. Tadinya aku juga bingung menempatkannya. Makasih atas pujiannya! Jadi malu nih. ^/^ Kependekan? Ini udah ditambah *sedikit sih* Hehe… ^^v

Ya, nggak apa-apa. Yang penting novelnya baik-baik aja, nggak rusak, nggak hilang, dll. *Aku memang over-protective sama buku. Peace!* Minggu ini kakak UAS 'kan?

Zae-Hime: Cinta segi empat? Umm… setelah baca chapter ini, aku rasa kamu akan tahu deh… :D Maaf, mungkin ini bukan update-an kilat… Yang penting, aku udah update 'kan? *Dijitak berjamaah* XD

Aiza-chan Kim: Aku pikir 'sih, Sasuke itu perfeksionis. Jadi cocok untuk menjadi chef. Hehe… ^^v Oke, sudah update nih…

Minma: Makasiiiiih ^/^ 'senpai'? jangan panggil aku 'senpai'! XD Mungkin aku lebih muda daripada kamu… Ini sudah update :)

sasuhina-caem: Lapar? Hehehe, itu adalah salah satu tujuanku, lho; Membuat readers menjadi lapar! Hahahaha :D *Dijitak berjamaah lagi* Makasih ^^. Aku sudah melanjutkannya, dibaca ya…

yuuaja: Pas dong. Kamu jadi makan spaghetti-nya? :3 Makasih yaaaa… :D Ini sudah update ^^

widiwMin: Sesuai perkataanku sebelumnya, aku memang berencana membuat reader kelaparan. XD Hahahaha! Pssst, aku kasih tahu lho. Sasuke sama Hinata ketemunya di chapter depan! Di sini Sasuke sama Hinatanya belum ketemu. :9 Maaf nggak update kilat ya…

KarinHyuuga: SasuHinaNaru kok. 'kan sudah ditulis di summary. :) Oke, makasih ya ^^

harunaru chan muach: Salam kenal juga, Haru-san! :D Wah benarkah? Bagaimana dengan chapter ini? Kalau alurnya cepat, bilang saja ya… ^^ Makasih atas pujiannya ;D. Ini sudah update~

anak baru: senpai UN-nya sudah selesaikah? Ini sudah dikurangi bahasa asingnya… Gagapnya Hinata sudah aku kurangi ;D. Tapi, karena ada Naruto, gagapnya bertambah. Dia memang menyukai Naruto, karena itu gugupnya nambah deh… Tidak kok! Sama sekali tidak menyinggung! Aku suka konkrit dan saran…

Baiklah, aku akan tetap semangat… ^^v

Yukio Hisa: Oh oke-oke :D. Hinata sekolah saja, kok. Dia sebenarnya berencana kerja sambilan juga. Tapi tidak tahu dimana… Mencari kerja itu 'kan susah… hehe.. :) Makasih… Oke, ini sudah update dalam kurun waktu secepat yang aku bisa. ^^

Naw d Blume: Ah, makasih ya… :D Secara pribadi, aku pun ngiler membayangkan makanan-makanan itu. Aku membuat fic makanan karena aku cinta makanan XD. Ahahaha… Temanku suka heran, kenapa badanku nggak gendut-gendut meskipun banyak makan. Hahaha XD. Cinta segi empat? Kau pasti tahu deh setelah membaca chapter ini. Oke, sudah aku lanjutkan ;).

suka snsd: Salam kenal juga :D. Ah, menurutku sih 'kerasa' atau tidaknya dapat terlihat dari gaya penyampaian penulis itu sendiri. Apakah kesannya dia seolah-olah pernah pergi ke sana atau tidak. ^^v Oke, sudah update! Makasih atas review-mu yaaa… XD

Aiiko Aiiyhumi: Makasih ya… XD Chapter ini gimana? Buat kamu lapar lagi tidak? Hehe :D Soal update kilat itu…. *pundung di pojokan*

n: Makasih ^^. Jangan panggil aku 'senpai'! Mungkin aku lebih muda darimu~ Iya, Adegan SasuHina-nya ada di chapter tiga ;D.

Ai HinataLawliet: Nggak mengertipun nggak apa-apa. Yang penting kau menikmati jalan ceritanya. ^^ Ini sudah lanjut… ;)

Nolarious: Wah makasih yaaa *Hugging* :D. Aku juga suka. Author-author di fandom ini memang kreatif sekali dalam membuat fiksi. Aku nggak pernah bosan membaca cerita mereka. Iya, Hurt/Comfort… soalnya aku bingung harus ditaruh di genre apa. Tapi aku janji nanti ada Hurt/Comfort-nya kok! Aaaah! DX jangan panggil aku 'senpai'. Pertama, aku malu. Kedua, aku mungkin lebih muda daripada kamu. Hehe…

Sama dong, aku juga lapar nih… Chapter ini bikin lapar nggak? Oke, makasih fave-nya.. XD Oke, sudah aku update!

Wah yang reviewnya banyak… Hampir seribu kata hanya untuk membalas review! XD Untuk semua reviewer; review lagi? :3

Oke minna, mind to review?