Aku nggak nyangka lho yang review di chapter dua banyak juga… Sampai senang, bengong dan terharu. Hehehe… Domo arigatou ne! Thank you very much! Molto Grazie! Xie-xie! Merci beaucoup! X'D

Begins With Rome

.

Naruto © Masashi Kishimoto

.

April 2012

Dedicated to: Violetta Onyx and anak baru

Chapter tre

Hari ini adalah hari Sabtu yang cerah, Hinata bersenandung pelan sambil berjalan di sepanjang Via Aracceli bersama Sakura. Mereka berdua baru saja berbelanja beberapa bahan makanan di sebuah supermarket. Pada hari Sabtu, mereka terbebas dari jam kuliah. Namun anehnya, hari Minggu di Renaissance tidak libur. Para gadis muda ini berencana akan berbelanja beberapa pakaian di Palazzo Doria-Pamphili setelah membeli bahan makanan. Sekadar menghabiskan hari. Hari libur memang seharusnya dinikmati, bukan?

"Sakura-chan, telefonino*-mu berbunyi," kata Hinata sambil menunjuk tas tangan Sakura. Sakura langsung terkaget dan merogoh tasnya.

"Ciao?" sembur Sakura ketika sudah menekan tombol jawab. Bus umum yang mereka tumpangi berguncang, lalu berhenti mendadak. Kemacetan lalu lintas di jalan Montespaccato nampaknya menghadang perjalanan.

Hinata berusaha duduk tenang di dalam Bus, matanya melihat ke jalan yang dipenuhi mobil-mobil kecil bercat kuning yang biasa berlalu-lalang di Roma. Trotoar jalan pun dipenuhi turis-turis asal Amerika yang berpakaian ketat. Ia bisa mendengar Sakura berkata, 'Ya', 'Tidak' dan 'Sampai jumpa' di teleponnya. Hinata kembali melirik Sakura, tangannya mengambil sebotol air mineral dan meminumnya. Cuaca saat ini cukup bersahabat. Tidak terlalu panas.

"Siapa yang meneleponmu, Sakura-chan?" tanya Hinata setelah Sakura menutup telepon dengan kasar.

"Kakashi-sensei." Ujar Sakura singkat.

"Oh. D-dia bilang apa padamu?" Hinata mulai tertarik. Seingatnya, setelah kemarin mengunjungi Invio, Hinata mendapati Sakura sedang duduk terdiam di depan kamarnya. Wajah gadis itu tampak kacau. Sakura bercerita kalau Kakashi mengajaknya untuk memantapkan hubungan mereka. Ternyata, lelaki berambut perak itu benar-benar serius pada Sakura. Sayangnya, Sakura masih bingung dalam menetapkan pilihan. Dia bilang dia mau menyelesaikan kuliah terlebih dahulu.

"Jawabannya," Sakura memutar bola matanya. "Tidak sabaran sekali."

"Kupikir, Kakashi-san terburu-buru me-mengingat umurnya yang hampir menginjak tiga puluh." Hinata berusaha menghibur sahabatnya itu.

Perkataan Hinata mengundang tawa pelan Sakura. "Ya. Menurutku, itu salahnya sendiri. Banyak wanita yang menyukainya, tapi mengapa dia memilihku? Aku masih sembilan belas tahun!" keluhnya.

"Kau lebih d-dewasa dari yang kau kira, Sakura-chan." Hinata menepuk pundak Sakura.

Sakura menatap Hinata, "Sebenarnya dia ingin sebuah pertunangan untuk langkah awal."

"Justru itu lebih ba-bagus. Kalau bertunangan, kau masih bisa memutuskan hubungan dengannya," canda Hinata.

Sakura menggigit bibirnya, kemudian meninju pelan tangan Hinata. "Hinata-chan ada-ada saja."

Hinata terkekeh pelan.

Satu jam kemudian, bus mereka telah mencapai halte Palazzo Doria-Pamphili. Hinata dan Sakura segera turun dari bus dan berjalan menuju sebuah mall. Mall itu terletak di ujung jalan, dekat dengan Invio. Dengan semangat, Sakura segera menyeret Hinata menuju sebuah outlet yang berada di dalam mall. Sakura menyambar beberapa pakaian yang ia sukai, sementara Hinata duduk diam di dekat ruang ganti.

"Hinata! Hinata-chan! Gaun yang ini bagus tidak?" Sakura merentangkan sebuah gaun chiffon tops dengan bahu terbuka. Di dada sebelah kanannya, tersemat sebuah pita berwarna pink cerah.

"Manis," Hinata tersenyum sambil mengangguk. Gaun itu pasti akan bagus sekali di tubuh Sakura yang proporsional. Lagipula kedua kaki Sakura itu benar-benar jenjang layaknya model, tidak seperti kaki-kaki Hinata yang pendek.

"Kalau yang ini?" Sakura kembali merentangkan sebuah kamisol krem, terusan mini berpita.

"Tentu saja ba-bagus," tutur Hinata pendek. Pikirannya melayang tentang berapa harga yang dibutuhkan untuk gaun seindah itu.

Sakura tersenyum cerah dan segera menenteng tiga potong baju menuju ruang ganti. "Kau tidak beli?" tanya Sakura. Terdengar suara tarikan resleting dari dalam kamar pas.

"T-tidak, menghemat," sahut Hinata.

"Mau aku belikan?" tawar Sakura.

"Iie*,Sakura-chan," tolak Hinata halus.

"Meskipun bajumu biasa saja, tapi kau fashionable Hinata-chan." Puji Sakura.

Wajah Hinata langsung memerah. "Arigatou ne."

.

.

Setelah beberapa jam asyik berputar-putar di dalam mall, Sakura dan Hinata akhirnya kelelahan. Tas-tas belanjaan yang dibawa oleh Sakura banyak sekali sehingga Hinata membantunya membawakan beberapa. Hinata sendiri cukup membeli sebuah gaun kasual berwarna ungu lembayung dan sebuah jam tangan. Waktu tepat menunjukkan pukul satu siang. Karena restoran-restoran di seluruh mall sangat penuh, Hinata memutuskan untuk mengajak Sakura ke Invio. Di Invio masih ada Naruto. Pemuda itu pasti menyisakan bangku spesial untuk Hinata, karena gadis itu telah resmi menjadi pelanggan tetap.

Hinata menarik napas dan mulai membuka mulutnya, "S-Sakura-chan-"

Ucapannya terpotong karena sedetik kemudian, Sakura berbicara lebih cepat, "Aku sudah tahu jawabannya!"

Hinata mendesah. Ah, mengapa volume suaranya begitu kecil, tidak seperti Sakura yang bersuara lantang. "Jawaban a-apa?" sebelah alis Hinata terangkat.

"Tentang Kakashi," Sakura melihat ke arah langit-langit mall. "Aku akan menerima permintaannya. Seperti katamu, bertunangan tidak ada buruknya."

"B-baguslah. Emm… Sakura-chan, kau mau m-makan siang denganku, tidak?" tanya Hinata pelan.

Sakura menunjukkan raut wajah menyesal, "Maaf Hinata-chan, aku sudah berjanji untuk makan siang dengan Kakashi-sensei."

"Oh, baiklah, tidak apa-apa." Hinata tersenyum. "Aku duluan kalau begitu. Sampai n-nanti Sakura-chan, sampai jumpa." Hinata melangkah pergi seraya melambai pada Sakura.

"Tunggu sebentar, belanjaanmu kubawa saja ya? Kakashi- sensei menjemputku memakai mobil dan tampaknya kau akan kesusahan jika pergi ke restoran dengan belanjaan sebanyak itu." Sakura bergerak mengambil barang-barang belanjaan Hinata, setelahnya ia balas melambai.

"Grazie, Sakura-chan," Hinata berjalan keluar menuju pintu utama lobby mall.

.

.

Restoran Invio tampak sepi, membuat Hinata menautkan alis heran. Ia menemukan motor Ducati merah yang biasa parkir di depan restoran-yang entah punya siapa-tapi tidak menemukan seorang pun di halaman depan. Kursi-kursi plastik itu tampak kosong dan sedikit berdebu, membuktikan bahwa selama sehari penuh mereka tidak diduduki. Hinata membuka pintu gerbang halaman depan, berjingkat melewati halaman yang kosong sambil masih terheran. Kemudian, ia menaiki undakan tangga dan mengetuk pintu Restoran Invio.

Tok… tok… tok…

Tidak ada balasan. Kemana perginya semua orang?

Penciuman Hinata tidak lagi menghirup aroma makanan yang menguar dari dalam Restoran. Ia ingin menelepon Naruto, sekedar menanyakan, tapi kemudian sadar bahwa ia belum menyimpan nomor Naruto dalam ponsel flip-nya. Samar-samar, Hinata dapat mencium bau rokok dari sisi bangunan restoran. Kaki Hinata bergerak mengikuti bau rokok itu. Ia melihat ke arah jendela. Gelap. Ia tidak dapat melihat apa-apa. Ia memutuskan untuk mengikuti bau rokok menthol itu, yang kemudian mengarahkannya ke halaman belakang Invio. Ah ya Tuhan, ditengah keadaan lapar begini mengapa pintu restoran Invio tidak bisa dibuka?

Hinata dapat melihat seorang pemuda berambut aneh dan bermata sekelam malam sedang duduk di atas bangku taman sambil merokok. Pemuda itu terlihat tidak menyadari kehadiran Hinata. Earphone tersumbat di kedua daun telinganya.

"Ma-maaf," Hinata berseru mendekati pemuda yang baginya berwajah familiar itu. Pemuda itu tidak menoleh, bukti bahwa ia tidak mendengar suara Hinata.

"Halo? Signor*?" Hinata berusaha lebih mengeraskan suaranya. Tapi usahanya sia-sia belaka. Pemuda itu tetap asyik dengan iPod-nya. Hinata kemudian mencoba lebih berani dengan melambai-lambaikan tangannya di depan wajah sang pemuda. Lelaki bermata kelam itu terkaget, ia mematikan iPodnya dan menyingkirkan earphone dari telinganya.

"HEI!" bentaknya keras pada Hinata. Mata Hinata melebar takut, ia mundur satu langkah. Sadar karena telah membentak orang dengan alasan yang tidak jelas, Pemuda tersebut melunakkan pandangan tajamnya.

"Ma-maaf mengganggumu, t-tapi apa hari i-ini Invio tutup?" Hinata sungguh yakin wajah pemuda ini tidak asing di matanya. Tapi ia benar-benar lupa, siapa pemuda ini sebenarnya.

"Pelanggan baru?" tanya pemuda itu dengan suara tidak ramah, bahkan terkesan dingin. "Setiap hari sabtu, Invio memang tutup." Katanya ketus.

"K-kau chef di sini?" tanya Hinata. Sorot mata sang pemuda berubah selama satu detik, kemudian kembali menjadi tajam lagi.

"Jika tidak ada urusan, cepatlah pergi. Kau menggangguku." Lelaki tersebut memakai lagi earphone-nya.

Hinata berdecak sebal, baru kali ini ada seorang pemuda yang tidak ramah padanya. Bahkan dalam sekejap langsung membuat suasana hatinya memburuk. "T-tapi aku la-lapar sekali." Gumam Hinata. Beberapa menit kemudian perutnya berbunyi. Tapi, pemuda tersebut mengacuhkannya. Dengan langkah gontai, Hinata berjalan keluar darihalaman belakang Invio. Lalu, langkahnya terhenti di depan pintu masuk. Rasanya tubuhnya hampir ambruk saat itu juga. Astaga, ia sangat lapar. Setahunya, tidak ada lagi restoran murah di Palazzo Doria-Pamphili selain Invio. Hinata terduduk di undakan tangga.

Beberapa menit kemudian, suara dingin kembali terdengar olehnya, "Cih. Kau belum pergi juga?" Pemuda itu tepat berada di belakangnya, sedang memasukkan sebuah kunci ke dalam pintu restoran. Hinata bertanya-tanya dalam hati, apakah pemuda menyebalkan itu adalah pemilik Invio?

"A-aku lapar…" Hinata mengeluh. Baru kali ini ia mengeluh, sungguh.

"Ada banyak restoran lain di sekitar sini." Pemuda itu membuka pintu restoran.

"T-tapi mahal." Hinata menggeleng. Beberapa detik kemudian, perutnya kembali berkompromi.

Pemuda itu menarik napas kesal, ia membuka pintu restoran lebih lebar. Lehernya bergerak, menandakan Hinata boleh masuk ke dalam restoran. Senyum manis menghiasi bibir Hinata, ia membungkukkan badan berkali-kali di depan pemuda itu sebagai tanda terimakasih.

Hinata masuk ke dalam restoran Invio yang sepi, ia memperhatikan pemuda itu duduk di kursi yang biasa ia duduki jika Hinata datang ke sini. Diam-diam, pemuda itu melirik Hinata. Hinata berjalan dan duduk di kursi seberang meja.

Pemuda berambut aneh itu tiba-tiba menyodorkan tangannya. "Nama?" tanyanya pada Hinata.

Hinata sungguh bingung dengan perkenalan yang aneh dan canggung ini. Ia menatap pemuda di depannya dan menyadari bahwa pemuda itu sama sekali tidak terganggu dengan situasi canggung ini. Seperti sudah terbiasa. "Hyuuga Hinata, salam kenal." Tutur Hinata pada akhirnya, menjabat tangan kekar pemuda itu.

"Uchiha Sasuke," ujar Sasuke seraya melepaskan tangannya. Ia bangkit dari tempat duduknya dan masuk ke dalam pintu dapur.


"Hyuuga, ikut aku." Perintah Sasuke dari dalam dapur. Astaga, pikirannya benar-benar kacau. Pertama, ia sudah tahu nama gadis itu dari Naruto. Kedua, ia tidak bisa berbasa-basi. Berbasa-basi bukan keahliannya. Ketiga, ia memang kasihan pada gadis itu. Gadis yang kelaparan dan tidak punya banyak uang. Sasuke segera mengambil beberapa bahan makanan dari dalam lemari pendingin dan menyiapkannya di atas meja makan. Pintu dapur terdengar berderit saat gadis itu memasuki dapur. Gadis berkulit pucat, memakai celana longgar yang santai, kaus putih dan jaket abu-abu. Hyuuga Hinata.

"Kau ingin makan, bukan?" tanya Sasuke tanpa memandang Hinata. Gadis itu hanya mengangguk pelan. Sasuke sebenarnya hanya berbasa-basi. Pria itu jelas tidak membutuhkan jawaban. "Kau harus menjadi asistenku."

"B-baiklah," kedua manik keperakan itu tampak berbinar. "K-kau akan memasak apa, Signor Uchiha?"

Sasuke berhenti dalam kegiatannya mengambil bahan makanan. Ia benar-benar heran. Tidakkah gadis ini tahu siapa dirinya? Biasanya, gadis-gadis yang ditemuinya langsung memanggilnya 'Signor Sasuke' atau 'Sasuke-bello'. Bukan bermaksud sombong atau apa. Ia hanya heran sekaligus senang. Senang bahwa akhirnya ada yang mengajaknya berkenalan secara normal. Dia membutuhkan gadis normal. Dan heran karena seolah-olah gadis itu tidak mengenalnya sama sekali.

Sasuke menatap Hinata, "Pasta con sugo di lepre,"

"Oh," Hinata tampak lebih senang lagi.

"Potong thyme*, bawang merah, bawang putih, dan daun rosemary-nya sementara aku membersihkan daging kelincinya." Perintah Sasuke sambil membawa dua ekor kelinci segar-baru dibeli-dari dalam ruangan berisi daging-daging di sebelah barat daya dapur. Ia membawa kelinci-kelincinya ke atas bak cuci dan mulai mengulitinya.

Hinata mengambil sebuah pisau bermata tajam untuk memotong-motong bahan makanan yang sudah diambil Sasuke, tapi pria itu menyahut lagi, "Ingat, jangan rusak pisau-pisauku, Hyuuga."

Uanema*, pria ini lebih mementingkan pisau-pisau bodohnya ini. Hinata kira, Sasuke akan berkata 'hati-hati' padanya. Seakan mengerti apa yang dipikirkan Hinata, Sasuke berkata dengan cueknya, "Pisau-pisauku mahal. Kalau kau terluka, tinggal diobati dengan obat. Tapi jika pisau-pisauku rusak, susah lagi membelinya."

Sasuke sesungguhnya menggoda Hinata, meskipun tidak terdengar seperti menggoda dengan nada datarnya itu. Tapi hasilnya sama saja; Hinata kesal dan Sasuke menikmatinya. Tanpa melihat pun, Sasuke tahu gadis itu tengah merenggut sebal.

Setelah Hinata selesai memotong rempah-rempah, Sasuke segera mengambilnya. Dengan penasaran, Hinata berdiam di sebelah Sasuke, memperhatikan gerak-gerik pria itu ketika sedang memasak.

Pertama-tama Sasuke menggoreng kelincinya bersama pappardelle, lalu ia mengeluarkan kelinci beserta pappardelle-nyadan mulai menumis sedikit bawang merah dan bawang putih sampai layu. Sasuke menambahkan sebotol sangiovese* merah, kayu manis, cengkeh, rosemary serta thyme banyak-banyak. Setelahnya, Sasuke kembali memasukkan daging kelinci dan pasta pappardelle ke dalam penggorengan. Biasanya, pada bagian ini, hidangan dibiarkan sedikitnya selama dua jam dengan api kecil sampai kelincinya mulai luluh ke dalam saus, sehingga menjadi kental dan melapisi pasta seperti lem.

Tapi, karena rasa lapar telah memenuhi benak Sasuke sendiri, Sasuke membesarkan apinya. Tangan Sasuke meraih tombol di sisi kompor, memainkan suhu api. Sebelum dihidangkan, Sasuke mengeluarkan tulang-tulang yang melekat di dalam daging kelinci, lalu menuangkan hidangannya ke atas piring porselen putih yang berukuran cukup besar. Mata keperakkan Hinata berbinar-binar melihat hidangan itu.

'Hidangan yang cantik,' batinnya. Perutnya bergemuruh lagi. Sontak, wajah Hinata langsung memerah karena malu.

Sasuke hanya menyeringai, "Sudah tidak sabaran, Hyuuga?" sindirnya. Bibir Hinata hanya mengerucut sebal.

"Parla comme t'ha fatto mammeta*" desis Hinata. Baru pertama kali ia mau menegur orang seperti itu. Bagi Hinata, ucapannya kali ini cukup kasar. Meskipun sebenarnya, di telinga orang lain, teguran itu terdengar biasa-biasa saja. Sepertinya pria bernama Sasuke Uchiha telah berhasil membuatnya kesal setengah mati.

"Aku tidak sedang beromong kosong," Sasuke meraih pintu dapur sambil membawa nampan makanan.

"Harfiah," balas Hinata pendek. Kali ini Sasuke yang merengut kesal.


Hinata sudah yakin bahwa wajah itu tidak asing di matanya. Dugaannya benar, pemuda menyebalkan ini adalah chef yang ada di tabloid milik Sakura. Sesuai wajahnya yang dingin, sinis dan terkesan cuek, Uchiha ini juga memiliki sifat-sifat tersebut. Bahkan lebih menyebalkan lagi. Hinata meyakini perkataan ibunya ketika ia masih kecil, bahwa sifat seseorang bisa dilihat dari bahasa tubuh dan wajahnya. Seperti Uchiha-ayam yang satu ini.

Aroma daging kelinci muda bercampur pasta langsung menyerang penciuman Hinata. Oh, ia bisa membayangkan ketika pasta lengket itu menjelajah lidahnya, memberikan sensasi yang benar-benar lezat. Ia mengambil tempat duduk di sebelah Sasuke yang sedang menata hidangan. Pria bermata kelam itu memiliki ekspresi yang berbeda saat memasak dan menyiapkan makanan. Entahlah, tapi Hinata bisa melihat pandangan chef muda itu melunak, melembut dan terlihat menikmati. Hilanglah sudah semua aura buruk yang berputar-putar di sekeliling tubuhnya.

Tiba-tiba pintu restoran Invio terbuka, diiringi dengan suara ceria, "Sasuke-teme! Aku datang!"

Sasuke melirik dingin ke arah pintu, auranya telah kembali seperti semula, membuat Hinata sedikit bergidik. "Dobe…" Suara Sasuke terdengar lebih mengerikan dan mengancam.

Sasuke menggeram, menunggu Naruto menutup pintu Invio. Pemuda berambut pirang tersebut terkejut melihat Hinata ada di dalam, duduk di seberang Sasuke dengan pandangan menyelidik. "Hinata-bella!" teriaknya.

Sasuke tampak lebih marah lagi. Sahabat bodohnya ini tidak sadar suasana. Tidakkah dia merasakan aura tajam yang telah menyelimuti udara?

Hinata gelagapan. "O-oh.. Hai, Naruto-kun. Sedang apa k-kau di-di sini?"

"Seharusnya aku yang bertanya. Sasuke-" ucapannya terhenti melihat Sasuke dengan wajah mengerikannya. Naruto mundur satu langkah, menyadari bahwa dirinya sedang dalam masalah.

"Tahukah kau berapa lama aku menunggumu?" tanya Sasuke dingin.

"E-eh? Dua jam?" tebak Naruto dengan wajah bodohnya. Sasuke langsung menghampirinya, kemudian mencekik lehernya. "Teme! Apa yang kau lakukan? Teme! Iya iya, aku minta maaf. Teme!"

.

.

Hinata memakan pasta-nya dengan ragu. Ia menusuk-nusuknya dengan garpu sebelum memakannya. Matanya melihat ke arah dua orang pemuda yang tadi sempat dilerainya. Naruto masih memegangi lehernya sambil berkali-kali mengucapkan 'maaf' dan Sasuke yang masih memberikan deathglare gratis pada pemuda pirang tersebut.

"J-jadi, apa yang s-sebenarnya terjadi di sini, Naruto-kun?" tanya Hinata sambil mengulum pasta dan thyme yang berasa sedikit mint karena daun rosemary. Ternyata Sasuke adalah chef yang selalu memasak untuknya. 'Rasa'-nya sama. Mungkin hanya itu satu hal bagus yang bisa membuatnya menyukai Sasuke. Hinata menusuk lagi hidangannya, melepaskan daging kelinci yang meresap dalam hidangan dan melengket seperti lem.

"Aku dan Sasuke biasa membuat acara makan sendiri di dalam Invio jika restorannya sedang tutup. Sasuke punya hak istimewa di Invio. Dia bisa memakai bahan-bahan makanan di sini untuk kepentingan pribadi. Tidak segaja, aku telat datang. Karena itu dia jadi begini," Naruto menunjuk Sasuke seperti anak kecil yang mengadu pada mamanya karena permennya direbut orang lain. Ditambah lagi dengan mata berkaca-kaca. Hinata berusaha menahan tawanya. Naruto itu sudah kuliah. Bukan anak kecil lagi.

"Kalian m-memang selalu membuat acara bersama?" tanya Hinata.

"Kami sahabat, Hinata-bella*. Dari umur lima tahun." Sahut Naruto.

"Oh," Hinata mengangguk mengerti. "T-tolong berhenti memanggilku begitu."

"Berhenti? 'Hinata' saja ya?" Naruto menyendok pasta lalu menjejalkannya ke dalam mulutnya.

Hinata mengangguk pelan. Ia mengunyah makanan Italia itu. Rasa sangiovese, cengkeh dan kayu manis bercampur dalam lidahnya. Juga bawang putih yang memperkuat rasa. Hinata memejamkan matanya, menikmati sentuhan lembut pasta con sugo di lepre yang memanjakan lidahnya. Indra pengecap Hinata cukup tajam. Ia bisa memperdalam rasa makanan dalam mulutnya.

"Seenak itu?" tanya Sasuke sambil menusuk pasta pappardelle dan menunjuknya pada Hinata.

"Signor Uchiha, masakanmu luar biasa. Sungguh. Tapi, tolong bicaralah yang sopan." Kata Hinata sebal.

Sebenarnya Sasuke suka cara Hinata memakan makanan buatannya. Gadis itu tidak segan-segan menghabiskan seluruh porsi makanannya dan menjilati minyak-minyak yang menempel di jari-jarinya dengan sopan. Hinata juga terlihat sangat menikmati rasa makanan. Gadis itu mengerti tentang seni makanan dan menghayatinya. Tidak seperti gadis-gadis anggun Italia yang menyuap makanannya sedikit-sedikit dengan sangat hati-hati seakan makanan mereka berbahaya, memutar-mutar makanan di piring atau memotong-motongnya menjadi belasan potongan kecil sebelum menyisakan separuhnya tanpa disentuh. Entah kenapa, kalimat yang dilontarkannya selalu salah bagi Hinata.

Hinata memakan potongan pasta terakhirnya lalu berdiri. "Sepertinya a-aku sudah selesai. Aku pulang le-lebih dulu, ti-tidak apa-apa?" tanyanya.

Naruto memandang Hinata. "Eh, tunggu! Tidak baik jika kau pulang sendiri. Sayangnya aku tidak mempunyai sepeda motor."

"A-aku bisa pulang sendiri. Sekarang masih sore," Hinata bersikeras.

"Sasuke, antarkan Hinata ya? Kau punya motor, bukan?" tawar Naruto ragu. Ia tidak yakin Sasuke mau mengantarkan Hinata.

"Tidak." kata Sasuke singkat.

"Ayolah. Kau tidak punya hati ya, Teme?" Naruto mengeluarkan ponselnya dan mengedip jahil. "Ah, mana nomornya Mikoto-baasan ya?"

"Baiklah," Sasuke merebut ponsel Naruto dengan tatapan tajam. Ia membuka pintu keluar, menyentaknya dengan keras. Hinata mengikuti di belakangnya dengan pandangan takut.

.

.

Hinata mencengkram baju Sasuke, Ia berpikir bahwa pria di depannya ini benar-benar gila. Sasuke memacu motornya dengan kecepatan penuh. Sebenarnya apa yang ada di pikiran pemuda ini? Apa dia mau bertanggung jawab jika terjadi sesuatu? Apa dia mau mencelakakan Hinata? Hinata tidak bisa melakukan apa-apa saat ini. Ia menyesali keputusannya untuk pulang bersama Sasuke. Dia ingin sekali memukuli Sasuke, memarahinya, tapi suaranya tidak dapat keluar. Hinata terlalu takut, jadi ia hanya memilih diam dengan mata terpejam dan mencengkram erat baju Sasuke.

Sasuke hanya diam. Dia tidak merasa khawatir atau apapun. Sudah menjadi kebiasaan bahwa dia menjalankan motornya dengan kecepatan penuh. Ia dapat merasakan tangan yang mencengkram bajunya itu gemetar. Ketakutan. Sasuke memperlambat laju motornya dan menghentikannya di sisi jalan.

"Hyuuga," panggilnya. Hinata tidak menyahut, matanya masih tepejam. "Hyuuga," Sasuke mengeraskan suaranya.

Mata rembulan itu perlahan-lahan terbuka, mengerjap. "Apa kita s-sudah sampai?" tanya Hinata khawatir.

"Belum." sahut Sasuke datar. "Kau tidak apa-apa?"

Hinata sedikit terkejut. Pria ini… mau mencemaskannya? "A-aku tidak apa-apa. Teruskan s-saja, Signor Uchiha."

Tanpa banyak bicara, Sasuke menjalankan motornya lagi. Kali ini, ia kurangi kecepatannya.

.

.

"Molto grazie, Signor Uchiha." Hinata membungkuk berterimakasih. Salah satunya berterimakasih karena Sasuke bersedia mengurangi kecepatan motornya dan mengantarkannya sampai gerbang asrama. Hinata menyunggingkan senyum terbaik yang dia bisa.

"Kau mahasiswa yang dapat beasiswa di sini?" tanya Sasuke tiba-tiba. Meskipun raut wajahnya datar, kesan penasaran dapat ditangkap dari nada suaranya.

"Si. Sekali lagi, terimakasih banyak, Signor Uchiha." Hinata mengangguk dan membungkuk lagi.

"Sasuke," kata pria bermata kelam itu sambil memakai helm-nya. Hinata yang hendak berbalik, mengurungkan niatnya.

"A-apa?" tanyanya tidak pasti.

"Panggil aku Sasuke," ucap Sasuke sambil memegang kendali gas dan melaju pergi, menyembunyikan wajahnya yang sebenarnya memerah karena malu. Baru kali ini ada seorang gadis yang harus ia suruh dahulu untuk memanggilnya 'Sasuke'.

Hinata terpaku sesaat, kemudian senyumnya mengembang lagi. "Baiklah, Signor Sasuke." Katanya diiringi tawa pelan.

To Be Continued

Aaaaah! Gimana interaksi Sasuke dan Hinata-nya? DX Semoga Sasuke nggak OOC ya… Maaf baru update malam-malam begini. Setidaknya, aku menepati janji kalau aku akan update hari Minggu bukan? :D Kenapa ya, kalau di kotak review-ku itu jumlah reviewer-nya suka ngegantung? Kayak sekarang, jumlah reviewer-nya 49. Kenapa nggak 50 aja? XD *Ditendang* #Suka-suka readers aja kali.

Kamus mini:

*Telefonino= Telepon atau ponsel

*Iie= Tidak (Bahasa Jepang)

*Signor= Tuan

*Thyme= Sejenis jamur yang tumbuh di daerah pinggiran kota Roma, Castelli Romani

*Uanema= Astaga

*Sangiovese= Sejenis wine yang terbuat dari anggur merah Italia

*Parla comme t'ha fatto mammeta= Bicaralah seperti yang diajarkan ibumu, kata lainnya jangan beromong kosong. Tapi, karena Hinata menyebutkannya dalam harfiah, bisa diartikan bahwa Sasuke tidak sopan dalam perkataannya.

*Bella= Cantik

Balas review (Yang punya akun sudah aku balas lewat PM ya):

WidiwMin: Aku cinta makanan sih… XD Kalau ada makanan enak, langsung aku santap. Untuk lebih bisa mendalami penjelasannya, tinggal aku bayangin deh… hehehe… *Author gaje yang memiliki imajinasi berlebih* Makasih ya, untuk pujian dan review-mu ini. :D Di chapter ini gimana? Adegan Sasuke sama Hinata membuat gemas nggak? Aku lagi gemas sekali nih sama adegannya. XD Maaf ya, aku nggak update cepat.

demikooo: Makasih yaaa^^. Iya deh, kayaknya bakalan panjang. Soalnya isi otak author-nya fiksi multi-chaptered panjang terus sih… Hehehe… Nanti aku coba bikin one-shot deh. Kalau two-shot atau three-shot kayaknya nggak bakal bisa. D: Sasu sama Hina kenal di chapter ini. :D makasih atas review-mu yaa… (XOXO)

Zae-Hime: Naruto memang nggak tertarik sama Sakura. Pokoknya SasuHinaNaru XD. Hidup SasuHinaNaruuu! Oke, maaf nggak update kilat ya… XD

Sasuhina-caem: Makasih^^ *bungkuk* Ya, berbahagialah dengan suamimu~ XD tapi nanti bakalan SasuHinaNaru lho. Jangan kecewa ya…

suka snsd: Apa chapter ini bisa disebut pedekate? -_- Ini author-nya payah ya… Naruto? Ah ya, tentu saja. 'kan SasuHinaNaru. Lho kok, Aku malah kayak spoiler ya? ._. Another Paradise ya? Aku juga suka fiksi yang itu! Kak rully bee memang keren banget… Aku dipenuhi semangat 45! XD Makasih banyak untuk review-mu yaaa…

n: Makasih untuk review-mu di chapter ini ya. *Sparkling eyes* Mama kamu benar, bahan-bahan makanan Italia memang susah untuk didapat. Harus impor dan itu 'kan mahal sekali. Padahal aku ingin makan juga lho.

yuuaja: Iya. Gimana nih adegan Sasu-Hina-nya? Semoga Sasuke nggak OOC ya.. Bambino junmat itu apa ya? ._. Makasih untuk review-mu^^.

Jimi-li: Aaaaah XD Ada Jimi-li rupanya. Aku sebenarnya sudah lama menunggu review darimu untuk fiksiku yang Ghastly di FGAI. Tapi, mengingat kamu nggak bisa baca horror, aku jadi memaklumi. Aku tahu kamu dari kotak reviewnya Raz. Kamu 'kan reviewer setianya Razux. Hehehe^^

Panggil aku sesuka hatimu, selama masih terdengar sopan dan nyaman^^. Razux juga biasa memanggilku Aoi kok. Makasiiiiih ^\\\\^ Aku malu sekali dengan pujianmu. Aku jadi ingin mengklaim perkataan Razux kalau Aku dan dia hanyalah author yang terlalu banyak memiliki imajinasi liar. Hahaha :D

Aku? Pergi ke Italia bagaimana? Hahaha XD. Belum pernah kok. Aku nggak sekaya itu. Ibuku adalah seorang dosen dan ayahku adalah PNS.

Nggak akan terjadi. Meskipun aku juga suka NaruSaku, tapi 'kan sudah aku setting menjadi SasuHinaNaru. Iya Hinata itu naksir Naruto, sedikit tertarik.

Soal Love In London… Tidakkah kamu merasa fiksi itu terlalu copy-paste? Aku nggak berniat melanjutkannya. Ditunda dulu saja. DX dan, gaya penulisanku masih buruk saat itu. Well, tapi aku bersyukur jika kau menyukainya. Ada banyak alasan kenapa aku tidak melanjutkannya. Di FGAI itu reviewernya sedikit sekali. Jujur, aku kurang merasa semangat. Kalau di FNI, rasanya aku ingin update chapter terus. Karena reviewer-nya banyak. ^^

Baiklah. Sekali lagi, terimakasih ya.

Blue-purple Indigo: Maaf sebelumnya karena aku menghapus dua review-mu. Alasannya adalah karena ketiga review-mu isinya sama semua. Nggak apa-apa 'kan? Memang ideku pasaran, nggak bermutu, asal berimajinasi dan sebagainya. DX Maaf! Konfliknya juga nggak akan besar-besaran karena ini fiksi ringan. Mohon maaf jika merasa kecewa. Baiklah. Aku akan berusaha sebaik mungkin. Makasih untuk review-mu. :D

Uzumaki Nami-chan: Oh ya? Maka belajarlah bahasa Italia. Mereka adalah bahasa yang indah, meskipun agak kasar. Aaaah… XD Makasih atas pujiannya! Iya benar kok. Aku lahir di tanggal 10 bulan Februari. Tolong jangan panggil aku 'senpai'. Aku yakin seyakin-yakinnya kalau aku lebih muda darimu. Umurku masih 13 tahun, senpai… tahun kelahiranku adalah 1999. Aku masih kelas 2 SMP. :D Ini update-nya nggak lama 'kan? Makasih untuk review-nya. :3

ruffy: Salam kenal juga^^. Nggak apa-apa sih. Baiknya dari chapter satu supaya mengerti. :3 Makasih banyak untuk review dan pujiannya! XD Oke, ini sudah update lhooo… Dibaca yaaa! ^^

Oh dear, review-nya banyak! XD Baiklah, untuk semua reviewer: review lagi? :3

Dan terimakasih untuk minna semua yang sudah membaca fiksi ini. Lebih baik lagi jika di review. XD Kritik, saran dan flame diterima ^^.