Maaf lama update ya, minna. TT^TT Molto grazie untuk semua reviewer~
Begins With Rome
.
Naruto © Masashi Kishimoto
.
May 2012
Dedicated to: Violetta Onyx and anak baru
Chapter quattro
Sekarang adalah hari Senin. Tidak seperti kebanyakan orang, bagi Hinata, hari Senin adalah hari keberuntungannya. Senin adalah hari baru pada setiap awal minggu, dimana semuanya tampak sempurna. Seperti sayuran yang digunakan oleh kantin mahasiswa Renaissance. Mereka semua baru diambil dari Castelli Romani. Masih segar, berimbun dan hijau.
Hinata berjalan menyusuri meja kantin, mencari-cari temannya. Matanya tertuju pada sebuah meja di pinggir lapangan basket. Ya, hanya meja itu yang nampak mencolok dengan tiga kepala yang dihiasi surai beraneka warna. Hinata hanya tersenyum, mendapati ketiga teman mencoloknya berada di sana, duduk menunggunya. Naruto, pria berambut pirang itu sedang asyik menyerukan tips-tips untuk memainkan basket dengan handal. Sakura, gadis itu sedang sibuk berteriak dengan ponselnya. Hanya sebuah nama yang melintas di kepala Hinata tentang orang yang menelepon Sakura; Kakashi. Sementara Sasuke, pria dingin itu sedang sibuk mengaduk minuman, mengecapnya, kemudian menggumam tidak jelas.
Yah, Sasuke Uchiha, entah kenapa ia menjadi amat suka mengikuti Naruto. Bahkan sampai kebiasaan untuk makan siang bersama Hinata. Pernah suatu kali Hinata bertanya, bukankah Sasuke selalu punya kesibukan selain makan bersama? Tapi, chef dingin itu hanya menjawab, 'bukan urusanmu'. Akhirnya, Hinata hanya pasrah dan membiarkan acara makan siang ini menjadi sebuah kebiasaan barunya.
"Scusi*," sahut Hinata saat berada di dekat meja. Sakura segera mendongak, melepaskan ponsel dari telinganya, kemudian menarik tasnya yang menghalangi kursi Hinata. Tak lupa, ia menyunggingkan senyum pada Hinata dan kembali sibuk berbicara dalam telepon. "M-maaf membuat kalian lama menunggu. Gusta memintaku u-untuk membagikan nilai."
Naruto yang menyadari eksistensi Hinata, langsung mengibaskan tangannya dan bilang, "Ueh, tidak apa-apa, Hinata-bella."
"Gusta?" alis Sasuke mengerut heran. Entah kenapa nama Gusta mengingatkannya pada seseorang.
"E-eh… Beliau dosenku, signor Sasuke." sahut Hinata pelan. "Naruto-kun, k-kenapa kau masih memanggilku dengan sebutan…?"
Sasuke hanya berdeham tidak jelas dan Naruto terlihat sama sekali tidak mendengar perkataan Hinata. Hinata langsung melihat makanan yang sedang dimakan oleh Sasuke, tampaknya Naruto memang sedang terlalu asyik dan Hinata hanya membiarkannya. Hinata mencium bau apel, brendi, kue mentega yang renyah dan kayu manis. Bau yang begitu pekat dalam ingatannya dan tercium baru diangkat dari oven. Hinata ingat, setiap malam natal, ibunya selalu memasak makanan ini. "Apakah itu…" Hinata bertanya.
"Ya, Pai Apel." sahut Sasuke. Sedikit-banyak, Sasuke sudah tahu kebiasaan dan kemampuan gadis indigo di depannya. Hinata selalu sensitif soal makanan dan penciumannya memang cukup tajam.
"Tapi, k-kurasa, kantin tidak menjual pai apel bukan?" tanya Hinata heran.
"Teme membuatnya sendiri, Hinata-bella. Dia membuatnya langsung dan membekalnya. Jangan pernah mengharapkan dia untuk membeli makanan. Dia pelit," Naruto tiba-tiba langsung menjawab pertanyaan Hinata sambil menjulurkan lidahnya. Sasuke hanya mendelik tajam dan Hinata terkekeh.
"Tapi, ba-bagaimana bisa menjaganya tetap hangat seperti baru diangkat dari oven?" Hinata bertanya lagi. Ia rasa, Sasuke selalu mempunyai teknik spesial untuk makanan sesederhana apapun.
"Alumunium foil," kata Sasuke.
Hinata menjentikkan jarinya, "Benar juga. B-bagaimana dengan wrapping plastic?"
"Itu untuk menjaga makanan agar tetap segar. Untuk menjaga ketetapan suhu memang memakai alumunium foil. Tapi, aku lebih suka memakai alumunium foil walaupun untuk menjaga kesegaran makanan. Wrapping plastic tidak ramah lingkungan." ucap Sasuke tegas. Mata Hinata berbinar, jelas ia kagum dengan Sasuke.
"Kurang, Sasuke. 'Kurang'." Koreksi Naruto. "Wrapping plastic masih dapat dilipat menjadi ukuran yang lebih kecil. Masa untuk hancurnya lebih singkat daripada plastik biasa." Belakangan ini, Hinata baru tahu bahwa Naruto adalah mahasiswa fakultas Geografi.
"Ya. Tapi tetap saja lebih ramah lingkungan alumunium foil." Sasuke memang keras kepala.
Naruto hanya mengangkat bahu, "Si, chef. Terserah padamu saja."
Hinata sudah terlalu biasa melihat kedua pria di depannya ini berdebat. Tiba-tiba ia merasa tangannya disentuh oleh seseorang. Hinata segera menolehkan kepalanya dan mendapati Sakura sedang menyikutnya. Ponsel Sakura-yang sedari tadi menempel di telinganya-sudah menghilang entah kemana. Pandangan Sakura penuh selidik saat menatapnya. Ah ya, Sakura, gadis itu baru bergabung kembali dengan Hinata di hari Senin yang indah ini. Hari Minggu kemarin, dia tidak ikut karena mempunyai keperluan dengan kencannya, Kakashi.
"Kujelaskan nanti y-ya, Sakura-chan?" balas Hinata setelah melihat pandangan darimana-kau-kenal-dengan-Uchiha-Sasuke dan sejak-kapan-kau-tertarik-padanya dari Sakura. Sebenarnya Hinata merasa tidak enak pada Sakura, karena terlambat menceritakannya.
Sakura mengangguk dengan pasti. Iris klorofilnya kembali berputar bosan ketika ponselnya berbunyi lagi. 'Lama-kelamaan aku bisa dijuluki gadis ponsel,' rutuknya dalam hati. Sakura menjawab teleponnya dengan kasar dan berkata 'ciao' dengan setengah berteriak.
"Tapi teme, serius," suara Naruto mengalihkan pandangan Hinata. "Pai apel itu memang buatanmu?"
Sasuke berhenti menyuapkan potongan pai apel-nya dan melirik Naruto. "Kalau ya, memangnya kenapa dobe?" katanya sinis sambil mengeluarkan tatapan tajam.
"Kau tahu Hinata-bella, Sasuke memang merupakan chef yang perfeksionis dan rasa masakannya sangat sempurna. Tapi, dia payah dalam hal memasak makanan manis." Naruto cukup berani untuk mencari masalah lagi dengan pemuda bermarga Uchiha itu kali ini.
Alis Hinata mengerut heran. "Waktu itu aku pesan tozzetti di Invio d-dan rasanya masih baik-baik saja."
Sasuke hendak membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, tapi pemuda blonde di sampingnya langsung memotong ucapannya. "Karena biskuit itu tidak manis. Biskuit itu renyah dan lebih mengutamakan rasa dari hazelnut."
Hinata mengangguk paham. "Pai apel i-itu… bagaimana rasanya?"
Empat pasang mata langsung menghujam obsidian Sasuke. "Hn," kata Sasuke tidak peduli.
"Biarkan aku m-mencobanya," Hinata langsung mengambil potongan pai apel milik Sasuke dan mengunyahnya. Rasa yang 'khas' itu kembali membalut lidah Hinata, kue mentega yang renyah terasa serasi dengan bagian tengah pai yang lembut dan sedikit kenyal. Ditambah dengan selai apel buatan sendiri yang tersembunyi di balik tiga lapis kue mentega. Rasanya lebih dari sempurna. "S-sangat lezat. Cocok untuk dessert."
Naruto terdiam selama beberapa saat, manik biru laut-nya terlihat berpikir untuk beberapa saat. Kemudian Naruto tersenyum lebar. "Hinata, kau bisa memasak makanan manis?"
Hinata sempat curiga dengan pertanyaan Naruto yang tiba-tiba, tapi segera ditepisnya pikiran itu. Dia tidak boleh berburuk sangka pada Naruto. "Ya, a-aku suka memasak makanan manis."
"Kue macaroon buatan Hinata-chan sangatlah enak! Kau juga pasti akan menyukainya kalau sudah mencobanya." sahut Sakura mengambil andil. Pembicaraannya di telepon sudah berakhir dengan sukses.
Senyum Naruto bertambah lebar. "Bagaimana kalau kita mengadakan Afternoon Tea Challenge antara Sasuke dan Hinata? Peraturan sesuai tradisi bangsa Eropa."
.
.
Afternoon Tea adalah sebuah tradisi minum teh yang ada di Negara-Negara Eropa. Setiap Negara memiliki tradisi yang sedikit berbeda. Acara minum teh ini awalnya dipelopori oleh Anna Maria Russell, Duchess of Bedford yang ketujuh di awal tahun 1840-an. Pada zaman itu, makan malam biasanya dimulai pukul setengah sembilan malam atau pukul sembilan malam. Pada saat musim panas, makan malam disajikan lebih larut sehingga Anna merasa kelaparan dan meminta pelayan untuk menyelundupkan roti, mentega dan kue-kue manis ke dalam kamarnya. Saat rahasianya terbongkar, Anna tidak dipermalukan, tetapi kebiasaan ini diikuti oleh banyak orang sehingga menjadi sebuah tradisi.
Bagian-bagian Afternoon Tea disebut juga sebagai Low Tea. Low Tea juga dibagi manjadi tiga jenis; yang pertama adalah Cream Tea yang terdiri dari teh, scones, selai dan krim (Crème Brulee). Yang kedua adalah Light Tea yang terdiri dari teh, scones dan makanan manis. Yang terakhir adalah Full Tea yang terdiri dari teh, savories*, scones, makanan manis dan dessert. Seiring berkembangnya zaman, acara minum teh ini menjadi lebih simpel. Pilihannya ada tiga yang terdiri dari; Bagian pertama, savories (roti tangkup mini) atau appetizer. Bagian kedua, scones yang dihidangkan dengan selai (biasanya stroberi) dan krim. Bagian ketiga, pastries-cakes, biskuit, shortbread dan makanan manis.
Afternoon tea ini selalu memakai teh buatan India. Seperti Darjeeling, Assam dan Nilgiri. Masing-masing teh mempunyai citra rasa tersendiri. Penyajian afternoon tea tidak pernah lebih dari jam tujuh malam.
.
.
Tangan Hinata sibuk untuk mengocok putih telur dengan tangannya, kemudian memindahkan mangkuknya ke standing mixer dan berjalan menuju dapur. Hinata sedang memasak macaroon dengan teknik Italian meringue*. Adonan putih telur tidak boleh sedikitpun tercampur dengan kuning telur dan albumin*. Kalau tidak, maka putih telur akan sulit mengembang/ kaku saat dikocok. Lalu, putih telur akan dibiarkan di dalam kantung plastik selama 6-24 jam. Sebelum sampai ke tahap itu, Hinata harus mencampurkan sirup gula panas ke dalam putih telur bersuhu 120 derajat celcius. Adonan yang akan dihasilkan untuk Italian meringue akan sangat stabil, halus dan creamy.
"Pas," ujar Hinata sambil mengangkat termometer dari panci. Sirup gula panas memang diharuskan bersuhu 120 derajat celcius sempurna. Kemudian, Hinata mencampurkannya sedikit ke dalam adonan dan memasukkan adonan ke dalam plastik agar tidak menyerap kelembaban udara. Selanjutnya hanya tinggal menunggu.
"Sibuk membuat macaroon dengan teknik Italian meringue?" suara Sakura cukup mengejutkan Hinata. Hinata langsung melihat ke arah Sakura yang sedang bersandar di sisi pintu. Hinata ternyata lupa mengunci pintu kamarnya.
"Ya," sahut Hinata sambil menganggukkan kepala. Sakura berjalan dan duduk di sisi ranjang Hinata.
"Kau yakin soal ini Hinata-chan? Maksudku, meminjam tempat milik Neji…" kata Sakura pelan.
Hinata terlihat ragu, kemudian ia ingat dengan pembicaraannya dengan Naruto saat di kantin Renaissance.
Flasback
"Kau gila ya, dobe?" sahut Sasuke kesal. Sebenarnya apa yang Naruto mau?
"Tidak. Maksudku, pasti akan menarik bukan? Sasuke, sebagai chef, kau harus berlatih untuk membuat makanan manis. Lagipula, waktu minum teh adalah tradisi Eropa dan chef sepertimu tidak akan melewatkannya." Naruto memberi penjelasan.
Sasuke terdiam dan melirik Hinata. Gadis itu masih terlalu terkejut dengan ucapan Naruto tentang kompetisi afternoon tea. Bisakah ia melawan chef ahli seperti Sasuke? Mustahil.
"Tapi, dimana kita akan mengadakannya?" tanya Sakura semangat. Ia jelas sangat setuju. Ia bisa membawa Kakashi juga untuk menghadiri kompetisi ini. Juga sebagai relawan juri.
"Eh… itu…" Naruto menggaruk kepalanya bingung. Ia terlalu spontan dan tidak berpikir panjang. "Apartemen Sasuke?"
"Apartemenku hanya punya satu dapur, baka." kata Sasuke. Sudah dipastikan, bahwa Naruto tentu tidak memikirkannya.
"A-aku bisa," Hinata mengeluarkan suaranya. "Kakakku mempunyai te-tempat untuk kompetisi ini. Dia mempunyai bisnis jasa dekorasi dan tempat untuk acara apapun. K-kakak iparku, lebih tepatnya."
"Bagus sekali!" seru Naruto senang. "Kakakmu tinggal dimana, Hinata-bella?"
"Di Roma. Di Santa Marinella, le-lebih tepatnya." ujar Hinata.
"Lebih bagus lagi, kita bisa melihat pantai. Di sana juga ada pasar ikan bukan?" Naruto mengacungkan jempol. Kemudian dia mendekatkan kepalanya ke arah Hinata dan berbisik, "Aku yakin kau bisa melakukannya, Sasuke sangatlah payah dalam memasak makanan manis."
Wajah Hinata memerah. Sasuke sendiri menyeringai begitu mendengar kata 'pasar ikan'. Sudah lama sekali ia tidak memasak hidangan laut.
End of Flashback
"Tidak apa-apa. Aku meminjam tempatnya pada Tenten-nee. K-kakakku tidak akan menjadi masalah." sahut Hinata tenang.
"Neji tidak akan suka jika kau membawa pria ke sana." Sakura menekankan kata 'tidak suka'.
"Tapi, aku sudah menelepon keduanya. Y-yah, semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk." Jawab Hinata.
"Semoga saja." Sakura memejamkan matanya. Tiba-tiba ia terlonjak dari tempat tidur Hinata, "Oh ya, kau berjanji untuk menceritakan pertemuanmu dengan Sasuke-kun dan aku akan berjanji tidak akan menyerbarkan berita ini ke seluruh Sasuke-tasted."
"I-itu," Hinata ragu dan kemudian ia menceritakan seluruh detailnya pada Sakura.
.
.
Sasuke sudah bersiap dengan bahan-bahan yang ia butuhkan untuk afternoon tea keesokan harinya. Rencananya ia akan berangkat bersama Naruto, Hinata, Sakura dan Kakashi pada tengah hari. Makanan manis memang suatu masalah baginya. Apalagi hidangan yang menjadi favorit saat ini adalah kue macaroon yang tekniknya sangat susah untuk dibuat. Sasuke memutuskan untuk membuat macaroon dengan teknik French meringue* yang lebih mudah jika dibandingkan dengan teknik Italian meringue yang sulit. Ia sudah mengocok putih telur dan membiarkannya di dalam wadah tertutup. Tinggal menunggu selama 1-6 jam.
Sasuke memiliki jadwal kosong hari ini di Renaissance sehingga memutuskan untuk mengambil shift di Invio. Ia keluar dari dalam apartemennya sambil membawa kunci motor Ducati kesayangannya. Sasuke berlari menuruni tangga menuju basement. Ia kemudian menaiki motor, menyalakan mesin dan memegang kendali gas. Dalam waktu sekejap, motornya telah melaju kencang di jalan raya.
Beberapa menit kemudian, Sasuke sudah sampai di Invio. Ristorante itu masih belum buka. Sasuke membuka pintu restoran dan masuk ke dalam dapur.
"Ueh, Uchiha. Ristorante akan buka beberapa menit lagi. Pergilah untuk bersiap-siap," salah seorang rekan kerja Sasuke menepuk bahunya sementara ibu jarinya menunjuk ke arah dapur.
"Oui*, chef." Sasuke mengangguk singkat.
.
.
Jam duabelas tepat, shift Sasuke telah berakhir. Ia langsung berjalan menuju motornya dan memainkan gas-nya dengan sebelah tangannya. Hari ini Naruto memang tidak mempunyai jadwal di Invio, karena itu dia tidak pulang bersama Naruto. Bocah tan itu punya jadwal mata perkuliahan cukup padat hari ini.
Sesampainya di apartemen, Sasuke segera memeriksa adonan macaroon-nya. Ia bernapas lega ketika diketahuinya adonan itu masih baik-baik saja. Sasuke mengambil ponselnya untuk menelepon Naruto, sekedar memberitahu bahwa dirinya sudah siap untuk pergi. Naruto sudah menyiapkan mobil jeep untuk mereka semua.
"Ciao," sahut Sasuke di telepon. "Aku sudah siap." Dan kata selanjutnya yang ia gumamkan hanya 'hn'. Dua konsonan tanpa makna yang pasti.
Beberapa menit kemudian, Naruto meneleponnya dan bilang bahwa mereka sudah menunggunya di basement apartemen. Sasuke mengangkat tas besar berisi bahan makanan dan berjalan keluar dari apartemennya. Tak lupa, ia menguncinya. Sasuke berjalan menuju lift untuk turun ke basement. Sebenarnya hari ini ia membawa uang berlebih untuk membeli hidangan laut segar yang bisa didapatnya dari pelabuhan Santa Marinella.
Hinata mendekap tas berisi bahan makanannya erat-erat. Ia cukup mengkhawatirkan adonan putih telurnya. Jangan sampai ada sesuatu yang tidak diinginkan. Ekor matanya melihat ke belakang jok mobil, dimana ada dua pasangan canggung yang sedari tadi tetap diam. Sebenarnya ia juga merasa canggung terhadap Kakashi. Rasanya begitu aneh saat melihatnya bersama Sakura. Mereka memang pasangan serasi-oh, Hinata juga mengakuinya-mungkin karena Hinata tidak pernah melihat keduanya kencan dengan mata kepalanya sendiri. Padahal Kakashi sangat gemar menggoda Sakura.
"Naruto-kun, k-kenapa aku yang harus duduk di depan? Kenapa bukan signor Sasuke?" tanya Hinata dengan wajah yang semerah kepiting rebus. Akhirnya, keluar juga pertanyaan yang sedari tadi ia tahan.
Naruto menoleh. "Sudahlah. BIarkan saja teme duduk di belakang." Naruto berusaha mati-matian untuk menahan tawanya. Sudah jelas, ia ingin menjahili sang maestro.
Hinata menggigit bibirnya. "B-baiklah dan ka-kalau mau tertawa, tertawa saja Naruto-kun."
Detik itu juga, Naruto tertawa terbahak-bahak. Rupanya, gadis indigo itu menyadari maksudnya. Tak lama, Naruto melihat rambut raven milik Sasuke. Segeralah Naruto menyalakan mesin mobil jeep-nya dan menghentikan tawanya.
"Kenapa aku yang duduk di belakang?" nada interupsi Sasuke membuat Naruto ingin tertawa lagi.
"Karena kau harus," jawab Naruto singkat dengan gaya bicara mirip dengan Sasuke. Sasuke merenggut sebal dan masuk ke dalam mobil. Setelah bantingan pintu terdengar, Naruto segera menginjak gas kuat-kuat yang mengundang pekikkan dua orang gadis yang ada di dalam mobil. Sasuke langsung memasang headset miliknya.
.
.
Santa Marinella berjarak duabelas mil dari pusat kota Roma. Kebanyakan orang melewatkan pantainya karena terlalu terkagum dengan keindahan klasik di Roma yang sebenarnya sangat disayangkan. Naruto berkali-kali menyusul motorino-motorino* yang menghalangi jalan. Beruntung, Naruto tidak sampai memaki.
Lama-kelamaan, angin yang menerpa kian terasa panas. Rambut Hinata sudah bergulung-gulung seperti ombak laut. Saat Naruto melihat Hinata, entah kenapa rasa hangat menjalari seluruh bagian tubuhnya. Hinata terlihat lebih cantik dengan butiran-butiran keringat yang membuat kulitnya berkilau serta rambutnya yang mengikuti arah angin.
Naruto tiba-tiba tersadar dari lamunannya. Kenapa dia jadi tertarik pada Hinata?
Sementara Sakura berkali-kali memaki dan memukul dari kursi belakang. Wajahnya tampak merona, tapi ia berusaha untuk tidak mengakuinya. Kakashi nyatanya adalah pria 'gombal' dan Sakura sudah cukup malu saat ini. Hinata berpikir, betapa manisnya pasangan itu. Sebentar lagi, mereka pasti akan menikah dengan perasaan suka cita.
Sasuke sendiri sedang tenggelam dalam lagu-lagu kesukaannya. Tapi, matanya mendelik tajam saat ia melihat tatapan intens Naruto terhadap Hinata selama beberapa detik. Sebuah perasaan kecewa menyelimuti hatinya. Tapi tidak, well, 'pertarungannya' belum dimulai untuk saat ini. Ia hanya tingal menunggu dan berusaha.
Mobil sudah memasuki kawasan Santa Marinella. Bau ikan segar dan garam pantai langsung menyerang indra penciuman Sasuke. Bahkan ia sudah tidak sabar untuk bisa berbelanja. Sakura memekik kagum melihat pantainya yang sangat 'mengundang'. Hinata hanya terdiam dengan seulas senyum tipis. Ia bersyukur jika teman-temannya suka. Suara ombaknya sangat membuat pantai terkesan ramai. Pelabuhan Santa Marinella juga dipenuhi dengan kapal milik nelayan-nelayan. Berbagai jangkar perangkap berjejer rapi di atas kapal.
Setelah menjelaskan alamatnya pada Naruto, akhirnya sampailah mereka semua di rumah milik kakak Hinata. Hinata segera turun dari dalam mobil, diikuti oleh teman-temannya. Rumah ini bercat putih dengan beberapa warna netral yang sangat 'pantai'. Rumah itu besar dan luas. Ada sebuah gazebo besar dengan arah melihat ke pantai di sisi rumah, kain-kain berwarna putih menghiasi setiap tiang gazebo dan membuatnya tampak indah. Hinata kemudian mengetuk pintu rumah.
Tak lama, seorang wanita bercepol dua menyambut mereka dengan senyuman hangat. "Bienvenutti a Santa Marinella*," katanya cepat. Pandangannya langsung beralih pada Hinata. "Hinata. Lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?" Wanita itu memeluk Hinata.
"Bene*. Aku merindukanmu Tenten-nee," Hinata balas memeluk erat. "D-dimana Neji-nii dan Ruri?"
"Mereka di dalam. Ayo, masuklah," Tenten membuka pintu rumah lebih lebar dan mempersilahkan masuk para tamunya.
"Grazie." Ucap semuanya secara bersamaan.
Tenten hanya tersenyum dan membalas, "Di niente."
Bagian interior dalam ruangan juga terkesan ramah. Jendela-jendelanya merupakan jendela putar panjang yang hanya seperempat terbuka. Banyak sekali barang-barang bertemakan laut. Karpetnya terlihat seperti kumpulan rumput laut imitasi dan banyak sekali barang-barang yang terbuat dari kerang. Hinata dan teman-temannya duduk di ruang tamu. Mata Sakura berbinar-binar melihat keindahan interior rumah milik Neji.
"Sebentar, kuambilkan minuman dulu ya?" kata Tenten sopan. Hinata hanya mengangguk.
Seorang anak perempuan mendekati mereka dengan tatapan malu-malu. Usianya mungkin sekitar empat atau lima tahun. Matanya perak seperti Hinata, tapi rambutnya berwarna cokelat gelap. Kedua pipinya berwarna kemerahan dan terlihat penuh. Sangat menggemaskan.
"Hinata-baasan!" katanya ceria dan menghambur ke pelukan Hinata.
"Ruri-chan. Wah, aku rindu sekali d-dengan Ruri-chan." Hinata mencubit pipi Ruri dengan gemas.
"Ruri-chan tidak ingat aku?" Sakura tersenyum.
"Sakura-baasan juga ikut ya?" Ruri melepaskan pelukan Hinata dan menghambur ke pelukan Sakura. Sakura hanya terkekeh pelan. Naruto langsung bermain dengan Ruri. Ruri beberapa kali tertawa di pelukan Sakura. Persis dengan dugaan Hinata, bahwa Naruto sangatlah akrab dengan anak kecil.
Sasuke tiba-tiba berucap, "Hyuuga, dimana tempat untuk memasaknya?"
"A-ah… Di Gazebo tadi, signor Sasuke." kata Hinata.
"Hn." Sahut Sasuke.
"Ah! Chef kesukaan Ruri!" tiba-tiba Ruri berteriak dan menunjuk Sasuke.
Tenten datang membawa lima cangkir teh hangat dan menyajikannya di atas meja. Ruri tiba-tiba turun dari pelukan Sakura dan menarik-narik baju Tenten. "Mama, ada chef kesukaan Ruri."
Tenten terkejut. "Uchiha Sasuke?"
Sasuke mengangguk pelan.
"Ah, Ruri suka menonton acara masakmu dan dia menyukainya." Jelas Tenten. "Dia pasti akan suka jika mendapat perhatianmu."
"Ciao, Ruri." Kata Sasuke sambil mengelus puncak kepala Ruri. Senyum kecil terukir di bibirnya. Ruri langsung memeluk Sasuke. Naruto memandang Sasuke dengan tatapan ternyata-kau-bisa-tersenyum-juga. Sementara Sakura terpana melihatnya dan Kakashi sengaja untuk berdeham. Hinata juga merasa, apakah ia salah jika menilai bahwa senyum Sasuke sangatlah manis?
"Wah… Hinata, kau sudah datang?" Suara Neji membuyarkan lamunan Hinata.
"Neji-nii," Hinata berdiri dan memeluk Neji.
Neji kemudian mengedarkan pandangannya untuk melihat para tamunya dan matanya tertuju pada satu orang. "Oh. Ternyata kau, Uchiha." katanya sambil menatap tajam ke arah Sasuke.
"Hyuuga," desis Sasuke.
Hinata melepaskan pelukannya. "K-kalian saling ke-kenal?" tanyanya bingung.
"Tentu saja. Siapa yang ribut soal dekorasi waktu itu?" ucap Neji sinis.
"Siapa yang salah untuk mendengar konsepnya?" balas Sasuke tidak kalah tajam. Suhu ruangan mendadak naik.
"Sudah untuk reuninya," Tenten melerai. "Kami sudah sengaja untuk menunggu kalian. Sebaiknya, cepatlah kalian adakan kompetisinya. Kami sudah kelaparan. Alat-alat sudah disiapkan di Gazebo."
"Baiklah, ayo kita kesana!" Naruto memberi komando dengan suaranya yang ceria.
.
.
Afternoon tea challenge dimulai setelah Sasuke dan Hinata menata semua bahan-bahan yang mereka perlukan. Hinata segera membuka plastik berisi adonan putih telur dan memindahkannya ke dalam mangkuk. Hinata mencampurkan kacang almond bubuk, gula kastor dan gula icing ke dalam adonan yang sudah dibiarkan selama sembilanbelas jam itu. Almond bubuk yang dicampurkan harus benar-benar halus dan kandungan minyaknya sangat diperlukan untuk kue semacam macaroon. Jika tidak halus, permukaan kulit macaroon akan tidak rata. Gula kastor berfungsi untuk mengentalkan dan mencegah putih telur untuk kembali lumer setelah mengembang saat dipanggang nanti. Terakhir, gula icing berfungsi untuk membuat adonan macaroon menjadi padat dan membuat almond tidak menggumpal.
Hinata mengocok adonan itu dengan mixer tangan dan tetap menjaga kecepatan tangannya. Hinata juga menambahkan pistachio, essens apel dan pewarna pasta berwarna hijau terang. Penambahan essens tidak boleh terlalu banyak karena bisa membuat adonan tidak mengembang. Saat itu, Hinata segera mengocok lagi dan mulai memasukkan adonan ke dalam plastik berbentuk segitiga dan mencetaknya di atas loyang. Ia menyentakkan pintu oven, mengatur suhu dan memasukkan adonannya.
Selagi menunggu, Hinata membuat isi untuk macaroon-nya. Ia membuat krim apel. Macaroon dengan krim apel harus cepat dimakan karena teksturnya lebih basah dari ganache*. Hinata menyiapkan keju beku, susu, krim dan sirup apel kental. Ia mencampurkan semuanya dan mengocoknya dengan standing mixer. Setelah selesai, Hinata memasukkan krim-nya ke dalam plastik segitiga dan menunggu kue macaroon matang.
Hinata mengeluarkan beberapa lembar roti tawar dan memotongnya menjadi segitiga-segitiga kecil. Kemudian ia menyiapkan frying pan untuk memasak daging domba yang akan dimasukkan ke dalam sandwich-nya.
Sasuke melirik lawannya yang tengah sibuk mengurusi kue dan sandwich. Ia sudah memasukkan adonan macaroon ke dalam oven dengan perasaan khawatir. Sasuke kurang tahu takaran gula yang harus dimasukkannya ke dalam adonan. Tapi, Sasuke mengikuti intuisinya sebagai seorang chef dalam hal takar-menakar. Selanjutnya, Sasuke menyiapkan hidangan crème brulee-nya. Bahan dasarnya cukup mudah, yaitu keju. Ia sudah menyiapkan bahwa hidangan afternoon tea-nya akan lebih dipenuhi dengan saviories.
Sasuke juga handal dalam menyiapkan teh. Jangan sampai teh-nya sampai terasa ada 'campuran basah' sedikitpun. Campuran basah ini biasanya akan membuat rasa teh lebih pahit dan disebabkan hanya karena dihidangkan telat dalam waktu sekitar lima detik. Penyajian teh adalah penyajian yang paling utama dalam hidangan ini. Jadi, Sasuke harus menjaganya sesempurna mungkin. Untuk berjaga-jaga, Sasuke memakai teh Darjeeling. Teh Darjeeling ini berasa sedikit asam dan akan sedikit menyamarkan rasa pahit jika sampai ia menghidangkannya agak lama. Sedangkan teh Assam berasa manis. Jika hidangan tercampur dengan 'campuran basah', maka rasa pahitnya akan sangat terasa.
Crème brulee ditata di atas mangkuk alumunium foil berukuran kecil. Sasuke menambahkan selai blueberry dan whipped cream di atasnya sebagai garnish*. Setelah itu, Sasuke bersiap-siap memasak roti tangkup mini dan scones. Scones adalah hidangan yang sudah biasa dan wajib dimasak oleh chef seperti Sasuke. Jadi, sepertinya scones bukan masalah besar baginya.
Naruto yang duduk di meja makan memandang gerak-gerik Hinata yang sibuk mengeluarkan adonan macaroon dan mengisinya dengan krim. Naruto merasa, hatinya berkata bahwa ia ingin sekali membantu Hinata di sana. Tangannya terkepal erat. Kenapa dia memikirkan Hinata? Bukannya dia yang ingin Sasuke dan Hinata berjodoh? Naruto menghela napas dan mengalihkan pandangannya ke arah Sasuke. Naruto sudah tidak yakin lagi dengan perasaannya.
.
.
Dua buah delicate*China berdiri manis di atas meja makan. Semua orang di gazebo terlihat kagum dengan penyajian Sasuke dan Hinata. Delicate milik Sasuke berisi lebih banyak savories dan pilihan teh-nya adalah teh Darjeeling. Sementara delicate milik Hinata terlihat lebih dominan, savories dan makanan manis terlihat sama rata dan pilihan teh-nya adalah teh Assam.
Naruto mengambil cangkir teh keduanya dan mencobanya seteguk. Semua orang di gazebo mengikuti gerak-geriknya. Bibirnya tersenyum kala mencoba kedua cangkir teh tersebut. Naruto adalah juri utama untuk kompetisi ini. Selanjutnya, ia mengambil savories berupa shortbread dan sandwich. Rasa renyah memenuhi seluruh permukaan mulutnya saat mencoba sandwich milik Hinata. Daging dombanya terasa lembut di dalam dan garing di luar. Belum lagi keju yang mendominasi kehalusan rasa sandwich. Daging dombanya matang sempurna.
Shortbread Sasuke juga tidak kalah rasanya. Shortbread-nya terlihat sangat garing dan rapuh. Bentuknya segitiga kecil. Tomat ceri dan daun peterseli menghiasi penyajiannya. Shortbread Sasuke sangat berasa sayuran dan teksturnya langsung hancur begitu Naruto menggigitnya. Rasa asin mentega juga membuat lidahnya lembab dan rasanya bertahan lama. Membuatnya sulit untuk melupakan hidangan ini.
Kemudian, Naruto meraih kue macaroon. Sasuke membuat macaroon ganache sementara Hinata membuat macaroon dengan krim apel. Naruto sedikit tersenyum saat melihat macaroon buatan Sasuke. Tidak disangka, Sasuke membuat pilihan yang salah. Macaroon ganache terasa lebih manis daripada macaroon dengan krim buah-buahan meskipun teksturnya lebih tahan lama. Saat menggigit macaroon Sasuke, Naruto sadar bahwa opininya salah. Sasuke adalah chef kelas atas, tentu takaran kemanisannya sangat stabil. Sayangnya, Sasuke membuatnya dengan teknik French meringue.
Naruto beralih menggigit macaroon Hinata. Tekstur macaroon renyah di luar dan lembut di dalam. Macaroon itu berasa lumer di dalam mulutnya, rasa manis dan asam bercampur menjadi rasa yang dominan. Krim apel terasa meleleh di dalam mulutnya, membuatnya menghayati makanan itu walau hanya beberapa detik. Perkataan Sakura benar. Hinata memang ahli untuk membuat kue macaroon dan satu lagi yang membuatnya kagum, Hinata membuatnya dengan teknik Italian meringue. Sangat fantastis. Naruto melihat ke orang-orang di sampingnya dan tampaknya mereka merasakan hal yang sama.
"Kita sudah tahu sendiri siapa pemenangnya, bukan?" tanya Naruto. Mereka semua mengangguk pasti.
.
.
Hinata berdiri tegang di sebelah Sasuke, takut jika menerima kenyataan bahwa hidangannya tidak sempurna. Ia memainkan jari telunjuknya dengan gugup.
"Tidak ada yang harus kau khawatirkan." Suara baritone menyahut. Hinata menoleh, mendapati Sasuke melihatnya dengan pandangan setengah mengejek.
"T-tapi…" bantah Hinata.
"Kalah ataupun menang tidak ada ruginya." kata Sasuke tenang. Bagai sebuah sihir, Hinata berusaha untuk menjadi lebih tenang.
"Sasuke," Naruto mulai mengeluarkan suaranya. "Teh-mu sempurna dan tidak terdapat 'campuran basah' di dalamnya, shortbread-mu fantastis, sayangnya macaroon-mu hanya menggunakan teknik French meringue. Siamo in Italia*, Sasuke. Seharusnya kau memakai teknik Italian meringue. Delicate-mu berisi lebih banyak savories, padahal seharusnya isinya adalah makanan ringan. Beruntungnya, keluarga Hinata sedang lapar sehingga cukup terbantu dengan hidanganmu."
Neji dan Tenten langsung mendelik ke arah Naruto. Ruri dan Sakura hanya tertawa.
Naruto melanjutkan, "Hidanganmu dominan, Hinata. Savories-mu cukup membuatku kenyang, tapi rasa macaroon-nya sangatlah fantastis dengan Italian meringue. Rasa teh-mu cukup tercampur dengan 'campuran basah' itu. Tapi, selain itu, semuanya sempurna. Kau pemenangnya."
Jantung Hinata sempat berhenti sesaat. Ia tidak percaya ia bisa memenangkan kompetisi ini. Ternyata, ia bisa mengalahkan chef sinis di sebelahnya.
"Dan," Neji mengeluarkan pandangan sadistik. "Peserta yang kalah harus membuat hidangan laut untuk makan siang besok."
Sasuke menerima kekalahannya. Dia memang payah dalam memasak makanan manis. Tapi ia kesal jika harus mentraktir mereka semua dan memasakkan hidangan laut untuk mereka. Berhubung tujuan awal dia kemari hanya untuk berbelanja hidangan laut, Sasuke juga tidak dapat menolak. "Sepertinya perkataanku tadi salah."
Hinata hanya tertawa mendengar penuturan Sasuke.
.
.
Hinata bersandar di atas balkon rumah Neji, menikmati pemandangan pantai yang indah dan pasang saat malam hari. Malam ini malam bulan purnama dan membuatnya rileks. Ia membiarkan rambutnya melambai digerakkan oleh angin. Kenangan kompetisi tadi sore membuatnya tahu bahwa Sasuke ternyata bisa bercanda dengannya.
Naruto bersumpah saat itu ia sedang melihat seorang bidadari kalau saja ia tidak sadar bahwa itu Hinata. Gadis itu nampak begitu cantik dengan sinar rembulan yang menyinari wajahnya. Naruto bejalan mendekat ke arah Hinata. Ia dan teman-temannya memang diminta Tenten untuk menginap di sana. Neji terlalu khawatir jika Hinata pulang malam-malam, diantar kedua orang pemuda yang tidak dikenalinya dengan baik. Selain itu, Sasuke juga sudah berjanji untuk membuatkan mereka hidangan laut, jadi mereka memutuskan untuk tinggal selama satu malam.
"Sedang apa kau, Hinata-bella?" tanya Naruto mengambil posisi di sebelah Hinata.
"E-eh… Sedang melihat pemandangan, Naruto-kun. Bulan purnamanya sangat sayang untuk dilewatkan," jawab Hinata dengan wajah memerah, membuat Naruto gemas.
"Iya, kau benar," Naruto menyadari bahwa segalanya telah terlambat. Ia sudah terlanjur menyukai Hinata, meskipun belum sampai pada tahap 'jatuh cinta'.
Dari balik jendela kamar yang tidak jauh dari balkon, sepasang mata obsidian melihat mereka berdua dengan pandangan yang sulit diartikan.
To Be Continued
Wow… chapter yang cukup panjang. Terburu-buru kah aku? Chapter ini juga spesial buat Kertas Biru yang waktu itu ingin Sasuke dan Hinata 'battle'. Semoga tidak mengecewakan ya, Yoru-san. ^^ Konflik-nya sudah mulai muncul ya? Semoga minna juga suka.
Kamus Mini:
*Scusi= Permisi
*Savories= Kue-kue yang cenderung asin untuk afternoon tea.
*Italian meringue= Teknik pembuatan macaroon yang rumit dengan sirup gula panas. Sesuai namanya, teknik ini berkembang di Italia.
*Albumin= Bagian yang terlihat seperti benang dan bertekstur kental di dalam putih telur.
*French meringue= Teknik pembuatan macaroon yang lebih simple dan palig sederhana di antara teknik-teknik lain. Teknik ini berkembang di Perancis
*Ganache= Campuran cokelat masak yang dilelehkan, gula halus dan krim atau metega.
*Oui = Dibaca 'Wi'. Artinya 'ya' dalam bahasa Perancis. Meskipun ini bukan bahasa Italia, tetapi kerap dikatakan oleh chef-chef manapun.
*Motorino= Sepeda motor.
*Bienvenutti a Santa Marinella= Selamat datang di Santa Marinella, semuanya. Jika untuk satu orang, kata-nya menjadi 'Bienvenutto'.
*Bene= Baik.
*Garnish= Semacam bahan yang ditambahkan untuk mempermanis penampilan suatu hidangan.
*Delicate= Piring alumunium bertingkat tiga yang biasa digunakan untuk afternoon tea. Buatan China.
*Siamo In Italia= Kau sedang berada di Italia.
Balasan review (Yang log-in akan kukirimi PM secepat mungkin):
Ruffy: Ah iya, maaf banget ya. Soalnya setiap aku menulis balasan review ini, aku selalu hanya membuka review untuk chapter sebelumnya saja. Bukan keseluruhan. ^^" Maaf karena telat update. Ah, begitukah? Wow. Seharusnya aku yang berterimakasih padamu. Makasih untuk review-mu yaaa… XDD
suka snsd: Iya. ^^ Apakah chapter ini terlalu terburu-buru? Maaf ya, kalau tiba-tiba ada konflik dan maaf karena telat update. Makasih untuk review-mu yaaa… XDD
sasuhina-caem: Makasih… Makan daging kelinci? Nggak pernah sih… Tapi, well, aku membayanginya enak saja. XDD Hahaha… Entah kenapa, sekarang aku merasa cerita ini terlalu terburu-buru. Tapi mau bagaimana lagi… Oke, maaf telat update. Makasih untuk review-mu yaaa… XOXO
Jimi-li: Makasih… Jadi malu… Maaf ya, kujawab di sini dulu. Menurutmu chapter ini teburu-buru tidak? Aku merasa begitu lho…
Razux jugalah yang pertama fiksinya kubaca. Well, dia memang keren sih… Hahaha… Nggak apa-apa. Setiap orang punya 'hak' 'kan?
Wah, aku sudah cukup melayang-layang dengan pujian-pujianmu. ^\\\\^ Makasih ya… Jalan cerita yang kubuat memang biasa saja. Hanya 'tema' yang kuambil berbeda. Itu rahasianya. XDD
Wah… Aku menulis dari sejak kelas… 3 SD. Aku suka berkhayal, tetapi aku sangat jelek ketika mewujudkannya dalam bentuk teks. Tetapi, guruku tetap bilang bahwa karya-karyaku bagus. Jadi, aku terus menulis sejak saat itu. Jujur, ketika aku membaca tulisanku dulu, benar-benar hancur tidak berbentuk! Ah, aku jadi merindukan guruku itu. Berkat dialah aku bisa sampai seperti ini. :) Tapi, untuk membuat fiksi yang dipublikasikan baru kumulai saat aku menginjak kelas 1 SMP dan aku pun berkembang pesat.
Yah… Aku pikir LIL sudah nggak ada harapan untuk dilanjutkan. Maaf ya…
Nah. Naruto sudah mulai 'berperan' di sini. Semoga kau menyukainya ya… Ah, tidak, aku tidak pernah bosan membaca review. Makasih untuk reviewmu ya… XOXO Maaf telat update…
YUPI love SasuHina: Gatel? Gatel kenapa? Wah, makasih ya… XDD Iya, setuju banget. Sasuke itu semakin membutakan~ Bukan. Sasuke belum punya cukup 'affair' sama Hinata. Semoga kamu suka chapter ini ya… Ya, Salam kenal juga. Makasih sudah review! XDD
demikoo: Wah… Dapat pujian lagi. Makasih banyak ya. Sayang aku nggak bisa cium kamu dari sini. #Plak. Tenang, aku normal kok. XDD Oke deh, signorita. Ini nggak berlovey-dovey 'kan? XDD Well, maaf karena aku telat update…
Uzumaki Nami-chan: Makasih… XOXO Iya, rencana awalnya memang sudah SasuHinaNaru sih.. Aku sukanya cinta segitiga, bukan segiempat. XDD Menurutmu gimana chapter ini? Waah.. Kita seumur! Tos! ^.^/ Iya, maaf juga karena telat update ya…
Buat YuuKina ScarJou review-mu akan kubalas dengan PM karena kamu punya akun. :) Well, aku sangat berterimakasih dengan semua reviewer. Sayang aku nggak bisa mencium kalian satu-persatu di sini. XDD Baiklah, untuk semua reviewer, maukah kalian mereview lagi?
Oke, minna, silahkan tinggalkan jejak~ Pujian, kritik, saran dan flame diterima dengan senang hati. :)
