Maaf lama update ya, aku perlu hiatus, dan kembali mendapatkan mood dalam menulis roman. Akhir-akhir ini aku agak bosan dengan roman, jadi aku membuat beberapa tulisan untuk pelarian. Ne, aku juga sedih tidak bisa apdet secepat yang reader-tachi harapkan. Aku terharu tiap kali reviewku bertambah. Big thanks and warm hugs is all I want to say and do right now. :')
Begins With Rome
.
Naruto © Masashi Kishimoto
.
May 2013
Dedicated to All My Readers
Chapter cinque
Hinata bangun pagi-pagi sekali keesokkan harinya. Ia mengerang, memegangi hidungnya yang berair, lalu mengambil sweter sebelum benar-benar turun ke bawah. Ia tidak bisa tidur. Bayang-bayang Naruto yang menatapnya seintens itu terus mengganggu tidurnya. Hinata merasa canggung dan sekelebat perasaan aneh menghampirinya. Jenis perasaan yang tidak dapat dijelaskan dengan kata.
Saat Hinata menuruni tangga, Sasuke berada di ujungnya, memakai jaket dan sneakers. Ia menatap hampa ke arah pintu paling depan rumah Neji, tidak bergerak. Di tangannya ada sebuah kotak berukuran lumayan besar.
"Signor Sasuke?" panggil Hinata. Mau ke mana lelaki itu di waktu sepagi ini?
Sasuke menoleh dengan wajah datarnya. "Kau sudah bangun?"
Hinata mengangguk pelan. "Kenapa?"
"Pintunya dikunci," Sasuke tidak bisa menyingkirkan nada jengkel dalam suaranya. Ia lalu mengangkat kotak berwarna cerah itu. "Aku kalah, ingat?"
Hinata paham sekarang. Sasuke hendak pergi ke pasar ikan Santa Marinella, memenuhi permintaan Neji. Kotak yang dipegangnya berfungsi untuk membuat bahan makanan laut yang dibelinya tetap segar.
Hinata tersenyum."A-Apa aku boleh ikut?"
"Si, si…" Sasuke bilang. "Masalahnya adalah pintu rumah ini."
"Kalau kau membuka pintunya, kau akan membangunkan Neji-niisan. I-Ikut denganku, ada pintu keluar lain," jelas Hinata. Ia berjalan membelakangi Sasuke menuju dapur. Di sana, ia menghampiri bak cuci piring dan mengalirkan airnya untuk mencuci muka. Sasuke menunggu.
Setelah Hinata selesai, gadis itu membimbing Sasuke ke pintu menuju gazebo. Tak lama, mereka sampai di gazebo. Hinata berjalan ke ujung sisi kanannya,lalu melompat ke bawah. Sasuke mengikutinya tanpa banyak bicara. Setelah itu, mereka berjalan melalui jalan setapak menuju pintu gerbang rumah Neji. Dengan mudah, Hinata membuka kuncinya, lalu mereka berdua sudah berada di luar tanpa menimbulkan sedikit pun kegaduhan.
Aroma laut menyapa penciuman Sasuke. Langit masih berpendar biru tua, sementara di ufuk timur pantai sudah agak biru muda. Lampu-lampu neon masih dinyalakan. Sasuke dan Hinata berjalan berdampingan dengan kesunyian.
Di kawasan pantai, terlihat deretan kapal-kapal nelayan yang baru saja melaut. Puluhan kotak kayu berisi makanan laut segar bersama-sama diangkut oleh beberapa pria berlengan kekar. Aroma amis ikan membuat Sasuke merasakan desiran halus; inilah pasar ikan yang sesungguhnya.
Ia perlu beberapa saat untuk membiasakan matanya dari cahaya remang-remang setelah datang cahaya terang dari ufuk timur itu. Rumah Neji memang bercahaya minim. Bangunan-bangunan yang gelap berjajar rapi di sisi pantai satunya, dekat ke arah jalan raya. Di sana terlihat tumpukan-tumpukan ikan membukit di setiap sisi, juga bau amis isi perut ikan yang sering kali mampir menyapa hidung Sasuke. Di toko yang satunya lagi, ikan-ikan Tuna berukuran besar digantung di setiap tiang kayu.
Sasuke menoleh mencari Hinata. Ia agak melupakan gadis bermata rembulan itu selama beberapa saat ketika terpesona dengan tumpukan makanan laut yang segar. Tapi Hinata tidak ada di sisinya. Ke mana gadis itu? Sasuke mengedarkan pandangannya dan mendapati Hinata yang sedang mengamati satu peti berisi setumpuk pesce spada*, sekitar lima langkah di belakangnya.
Sasuke menghampirinya. "Hyuuga,"
"O-oh," Gadis itu memutar tubuhnya. "Maaf. Pesce spada yang besar," tunjuknya.
"Ya. Mereka punya makanan laut yang sangat segar dan bagus di sini." Sasuke mengangguk. "Tapi aku ingin lihat yang lain."
Hinata menurut tanpa sedikitpun penolakan. Mereka kemudian menyusuri setiap jengkal pasar ikan tersebut. Binatang-binatang laut di Italia lebih unik daripada di Jepang. Ada totani, cumi-cumi berwarna merah. Dan Hinata melihat sesuatu yang lebih unik, yaitu riccio di mare*. Di Jepang, ia lebih banyak melihat toko sushi dibandingkan pasar ikan.
Dalam sushi, makanan laut yang digunakan hanya makanan laut yang seringkali dilihat; tuna, salmon, udang, cumi-cumi, gurita atau lobster, pilihan sushi yang paling mahal. Cumi-cumi yang sering dilihat adalah cumi-cumi hitam atau putih. Tapi, di Santa Marinella pun masih ada jenis makanan laut yang lazim dikenal.
Hinata menyukai arogosti* dan granchi*. Tapi entahlah, Sasuke akan memasak apa. Sasuke sampai sekarang belum memutuskan untu membeli apa untuk sarapan, sementara langit semakin cerah. Mereka sebaiknya buru-buru, karena Hinata sudah merasa lapar.
Diantara semua tumpukan kerang-kerang berwarna jingga, Sasuke menemukan cicale. Cicale adalah hasil persilangan lobster kecil dan udang besar, dengan cakar depan yang panjang. Ia langsung memikirkan sesuatu yang sederhana saat melihat makanan itu. Dalam sekejap, Sasuke tahu apa yang akan ia masak untuk sarapan.
Dengan sopan, Sasuke meminta izin untuk melihat tumpukan cicale itu pada penjualnya. Bapak baik hati itu memperbolehkannya dengan senyum. Sasuke mengangkat satu cicale dan menghirup aromanya. Tercium bau ozon, rumput laut, air laut, dan aroma dingin samudra yang sulit dijelaskan dengan kata, mengiringi semua hasil tangkapan laut yang masih segar. Ia mengangguk. Ini sempurna sekali.
Hinata terpana beberapa saat. Jadi begitu cara Sasuke menentukan kesegaran makanan laut…? Saat menghirup cicale itu, mata Sasuke menutup. Hinata bisa melihat barisan bulu matanya yang tebal, bibirnya yang sedikit tertarik, dan ekspresinya yang indah, memberikan satu kesimpulan; menawan. Tiba-tiba saja tubuh Hinata menghangat, lalu beralih pada pipinya yang memanas.
"Hyuuga?" panggilan itu membuat hati Hinata melompat.
"Y-ya?"
"Kau mau mencoba menghirupnya?" Sasuke mengangkat cicale tadi.
Ragu-ragu Hinata mengangguk. Ia semakin merasa resah ketika Sasuke mendekatkan cicale itu pada hidungnya. Hinata menghirupnya dan ia setuju. Cicale itu merupakan salah satu kesegaran laut yang memabukkan.
"Segar… segar sekali…" kata Hinata. Sasuke menyeringai, dengan cara yang terlalu seksi. Hinata membeku saat itu, sementara Sasuke berbalik dan memutuskan membeli beberapa cicale. Ia mengalihkan pandangan, lalu memegangi tulang selangkanya. Tubuhnya menghangat lagi, dengan cara yang menyenangkan. Jantungnya berdentuman. Astaga… apa yang terjadi padaku?
.
.
.
"Oh, Sasuke? Hinata?" Naruto menyapa saat mereka berdua berjalan memasuki rumah lewat gazebo. Wajah Hinata menunduk, masih teringat perasaan anehnya tadi, sementara Sasuke terlihat biasa dengan wajah datarnya. "Kalian… darimana saja?"
Sasuke tidak berbicara apa-apa, mengangkat kotak esnya, lalu menyerahkannya pada Naruto. Ia hendak memprotes dengan mencari perlindungan Hinata, tapi gadis itu bahkan tidak melihatnya. Hinata terus menunduk hingga Naruto yakin gadis itu juga tidak menyadari kehadirannya. Jadi, ia memperbaiki posisinya, mundur beberapa langkah, dan berdiri di depan Hinata yang sedang berjalan.
Sesuai harapan, tak lama kepala Hinata terantuk kotak es yang sedang dipeluknya. Gadis itu mengaduh, memegangi kepalanya, lalu menaikkan wajah. Tiba-tiba, Hinata merasa malu.
"Ciao, Hinata-bella." Naruto memamerkan senyum favoritnya.
Alhasil, wajah gadis itu lebih memerah lagi tanpa alasan. "Selamat pagi, N-Naruto-kun." Kemudian bola matanya berputar ke kiri dan kanan. "Ke mana signor Sasuke?"
"Entahlah," Naruto mengangkat bahu. "Kurasa dia pergi ke dapur dan sebenarnya menyuruhku untuk membantunya."
"A-ah.. Cicale itu…" Hinata bergumam.
"Apa?"
"Aku penasaran apa yang akan signor Sasuke b-buat dengan cicale-cicale itu." Hinata melepas sweternya dan menggantungkannya di kursi. "A-ayo ke dapur, N-Naruto-kun,"
"Jadi kalian pergi ke pasar ikan?" tanya Naruto antusias.
"Si," jawab Hinata.
"Padahal aku bangun sepagi ini untuk ikut dengannya," Bahu-bahu Naruto turun. "Kalian jahat. Kenapa hanya pergi berdua? Supaya suasananya romantis?"
"E-eh? Aku tidak tahu kalau Naruto-kun mau pergi juga…" Hinata berhenti. Tangannya lalu bergerak ke atas dan menutupi kedua pipinya yang tiba-tiba memanas lagi.
"Ah… terjadi sesuatu?" Naruto menyelidik.
"T-tidak!" pekik Hinata.
"Lalu kenapa wajahmu merah begitu, Hinata-bella? Lalu kenapa kalian mengendap-endap masuk melewati gazebo, bukan dari pintu depan?" Naruto terlihat berpikir. "Benar! Terjadi sesuatu. Kalian… pacaran?"
Hinata hampir tersedak. "B-bukan! Ada a-alasannya,"
"Apa?"
Hinata tidak menjawab. Ia mendadak merasa ngeri. Saat Naruto hendak menyudutkan Hinata lagi, tiba-tiba lengan berwarna pucat telah melingkari lehernya. Naruto otomatis memegangi lengan tersebut, lalu memukulnya. Lelaki itu tercekik, sementara Sasuke—sang pelaku utama—menyeretnya tanpa rasa ampun.
Gadis itu merasa bersalah, lalu mengikuti Sasuke dan Naruto ke dapur. Mungkin ia sudah mengajak Naruto mengobrol terlalu lama. Hinata berlari-lari kecil, mengambil kotak es yang berisi makanan laut dari Naruto, karena keadaannya tidak memungkinkan untuk membawa kotak es itu.
Sesampainya di dapur, Naruto berhasil melepaskan diri dari Sasuke. "Jahat kau, Teme! Yang tadi itu sakit, tahu! Kau juga tidak membangunkanku hari ini!"
"Aku sudah mengetuk pintu," kata Sasuke tidak peduli. Ia sudah menyiapkan minyak zaitun, remah roti, garam, dan merica hitam dalam jumlah yang banyak di atas meja kitchen set Neji.
"Itu bukan usaha, tahu!" Naruto masih memegangi lehernya.
Sementara saat itu, Hinata dengan tanpa bicara, duduk di atas konter melihat bahan-bahan yang disiapkan Sasuke dengan takjub. Benarkah sesedikit itu bahan-bahan yang digunakan untuk cicale? Benar-benar sederhana.
"Hanya itu yang akan digunakan pada cicale, signor Sasuke?" tanya Hinata.
"Hn," jawaban yang tidak jelas itu terdengar, tapi Hinata menganggapnya sebagai 'ya'.
Naruto mengambil kotak es di depan Hinata, mengeluarkan lima ekor cicale dari dalamnya. Ia kemudian meraih talenan dan pisau untuk memotong cicale-cicale itu. Pertama, hanya bagian punggungnya yang dipotong secara memanjang. Alis Hinata mengerut.
"Kulitnya tidak akan dikupas, N-Naruto-kun?" tanyanya heran.
"Tidak usah. Rasanya nanti akan lebih kaya." Naruto tersenyum lebar. Hinata jadi merasa penasaran.
Setelah kelima cicale itu dipotong, Naruto menyerahkannya pada Sasuke. Hinata menyadari sesuatu yang ganjil. Kenapa cicale-nya hanya ada lima?
"Mereka pergi,"
"Spiacente*?" Hinata menatap Naruto yang duduk di seberang konter. Mata birunya diterangi lampu neon dapur, menjadikannya silau dan bersinar. Mata yang benar-benar indah. Layaknya warna laut Italian Riviera.
"Kakashi dan Sakura-san." Jelas Naruto, membaca pikiran Hinata. Ia menumpukan dagunya di telapak tangan, membalas tatapan kedua mata rembulan itu. "Ke Hotel. Kamarnya kurang, jadi mereka pergi. Saat itu, kau sudah tertidur."
Hinata mengangguk mengerti, kemudian matanya beralih pada Sasuke yang sedang merendam cicale terakhir ke dalam minyak zaitun. Oh, jadi begitu. Kulit cicale akan melunak setelah direndam minyak zaitun. Tapi, sampai berapa lama?
Tangan-tangan Sasuke kemudian bekerja cepat memasukkan bahan-bahan sisanya. Setelah selesai, ia lalu menepuk-nepuk tangannya, dan menghampiri bak cuci piring. Di sana, Sasuke mencuci tangannya. Tak lama, pandangan Hinata kembali lagi pada Naruto, yang masih menatapnya.
"Ah, memang terjadi sesuatu." Naruto menyandar pada sandaran kursi konter yang pendek.
Hinata gelagapan. Ia hanya melihat apa yang akan dimasak Sasuke, bukan berarti ia memerhatikan lelaki itu. Lagipula, kenapa Naruto berpikiran seperti itu? Bukankah ia tahu Hinata sangat menyukai makanan buatan Chef Uchiha Sasuke?
"Terjadi … apa?" Kursi konter Hinata bergetar sedikit saat seseorang meraih sandarannya. Tercium aroma shampoo keluarga dan citrus yang sangat dikenalnya.
"Tidak apa-apa, Neji-niisan." Hinata berbalik, lalu tersenyum gugup. "Ke mana Tenten-neesan dan Ruri-chan?"
"Mereka di kamar mandi," Neji berjalan menuju pintu kulkas dan maraih sebuah apel. Ia mengigitnya sebelum melirik seorang lagi di dalam dapur. "Kau masak apa untuk memenuhi janjimu, Leone*?"
Sasuke agak sedikit terganggu dengan kehadiran Neji, jadi ia memutuskan pergi sebelum berkata, "Cicale,"
"Oh. Untung saja. Kami lebih sering memakan granchi, dan bosan." Neji bilang. Hinata agak menyayangkan sikap kakaknya. Sebenci itukah Neji terhadap Sasuke?
"Ya. Sangat terlihat." Sasuke menyahut kalem sebelum langkah kakinya terdengar menaiki tangga. Hinata menunduk malu. Sasuke pasti sedang bicara tentang dirinya.
.
.
.
Tiga puluh menit kemudian, Sasuke turun dari kamarnya. Neji, Ruri, dan Tenten sedang asyik melakukan kegiatan mereka di ruang keluarga, sementara Naruto dan Hinata masih ada di konter, mengobrol. Segelas jus tropis yang dirindukan Hinata ada di atas meja konter, masih bersama jug transparan yang terbuat dari kaca.
Sasuke memandang keduanya dengan sekelebat perasaan kecewa. Ia hanya meraih satu kursi di sebelah Naruto, mengambil gelas yang masih tersedia, dan menuang jus tropis tersebut. "Aku minta jusmu." Entah berkata pada siapa.
Hinata dan Naruto tampak kaget selama beberapa saat. Hinata menatap Sasuke yang sudah selesai menuang jus dan hendak meminumnya. Jus berwarna cerah itu tampak berkilauan, tapi ia agak khawatir rasanya tidak cocok dengan lidah Sasuke.
"Enak?" itu suara Hinata.
"Segar."
Hinata mengerucutkan bibirnya. "E-Enak dan segar itu tidak sama." Lalu, "Enak, tidak?"
"Segar," kata Sasuke kembali meminum jusnya.
" Teme suka yang segar, Hinata-bella. Karena rasanya natural. Kalau 'enak' tergantung selera dan rasa itu bisa dibuat. 'Enak' bukan sesuatu yang natural." Lama-lama, Naruto bisa menjadi penerjemah pikiran Sasuke. Tidak heran, mereka sudah berteman selama belasan tahun. Tapi Hinata senang mengetahui kalau Sasuke menyukai jusnya.
Setelah selesai meneguk jus, Sasuke berjalan ke belakang konter untuk menyiapkan pemanggangan. Naruto juga ikut berdiri membantunya. Mereka mengangkat sebuah tempat panggangan yang kemudian diisi dengan batu bara. Naruto membakar batu bara-nya, lalu mengolesi logam panggangan dengan minyak.
Hinata memandang keduanya dengan kagum. Mereka berdua terlihat begitu harmoni saat bekerja sama dalam memasak. Ia melirik jam dinding, sudah hampir satu jam cicale direndam dalam campuran minyak zaitun.
Sasuke mengeluarkan wadah berisi cicale, lalu tangannya bergerak ke atas panggangan, memastikan suhunya. Saat itu, Hinata bisa mendengar suaranya yang berkata dengan nada rendah, "Kurang panas."
"Ya, seharusnya sangat panas. Biar aku tambahkan batu bara lagi." Naruto kemudian menambahkan beberapa batu bara sambil menyalakan alat penyedot di atas kompor. "Ini akan berasap."
Setelah panasnya cukup, Sasuke menaruh cicale-cicale di atas panggangan, dan Naruto mengatur posisinya supaya muat. Cicale-cicale itu dihiasi titik-titik noda hitam, dilapisi minyak zaitun yang membuatnya berkilauan. Apinya sedikit melonjak saat tetesan zaitun mengenainya.
Sasuke memanggang semua cicale itu sampai cangkangnya gosong. Sambil memanggang, Sasuke meminta Hinata untuk membuat lebih banyak jus tropis karena rasanya akan lebih cocok jika dinikmati dengan jusnya. Sambil mencampurkan semua buah dalam blender, Hinata memerhatikan Sasuke yang mulai memindahkan satu persatu cicale ke atas piring.
Kemudian, tangan-tangan Sasuke bergerak dengan terampil mengelupas cangkang, menariknya, dan membuatnya terlihat seperti kupu-kupu. Minyak zaitun menetes-netes di setiap piring. Cangkang cicale itu terlihat garing dengan remah-remah roti di atasnya.
"Bella…" desah Hinata.
Naruto langsung meraih tiga piring dengan keterampilannya sebagai maitre d' dan langsung membawanya ke ruang tengah. Sasuke juga mengangkat dua piring sisanya, diikuti Hinata yang membawa nampan jus.
"Prego*." kata Sasuke, terlihat begitu professional saat sampai di ruang tengah.
Selagi menuangkan jus untuk semua orang di sana, Hinata terkikik geli saat melihat Ruri yang tidak berhenti berteriak 'come una bella farfalla*' saat melihat piring Tenten. Setelah selesai, Hinata mengambil tempat di sebelah Naruto, yang duduk di dekat Sasuke juga.
"Kalian belum… ma-makan?" tanya Hinata kaget.
"Kami menunggumu, Hinata-bella," jawab Naruto menebar senyum. "Tadinya Teme mau duluan, tapi kurasa itu kurang sopan." Ia melirik Sasuke.
Naruto… adalah perayu yang hebat. Jelas, ia adalah seorang Italien sejati. Sangat… gentle. Hinata terkesan, jadi ia hanya berbalik dan menyembunyikan rona wajahnya. "Ka-kalian boleh makan sekarang, s-sungguh…"
Terdengar suara embusan napas Sasuke yang berat. Sesudahnya, Hinata perlu beberapa menit untuk bisa merasakan wajahnya tidak panas lagi. Naruto kurang peka, jadi ia segera memakan cicale-nya.
Sasuke melirik Hinata yang belum menyentuh cicale buatannya. "Kau harus memakannya dengan cara menyedotnya col bacio*."
Hinata kaget dengan perkataan Sasuke yang tiba-tiba. "C-Col bacio?" tanya Hinata. Sasuke mengangguk samar.
Hinata mengambil cicale dan menyedotnya, meninggalkan jejak minyak zaitun yang berwarna kecoklatan yang telah dibakar di sekitar bibirnya. Lidahnya bergelenyar saat menikmati cangkang cicale yang bertaburkan remah-remah basah, rasa pedas merica hitam, minyak zaitun, dan diperkaya rasa gosongnya sendiri.
"Benar kan, kataku?" sahut Naruto dengan mulut penuh. "Ueh, Sasuke memang jenius dalam rasa."
.
.
.
Akhirnya mereka sampai di Roma dua jam setelah acara makan cicale itu. Sasuke menyetir, Naruto duduk di sampingnya, dan Hinata duduk di belakang. Kakashi dan Sakura tidak ikut karena sudah pulang lebih dulu. Naruto bilang akan pergi ke kampus karena sudah berjanji dengan teman-temannya, jadi Hinata juga dapat diantar ke asramanya.
Mobil mereka melewati Testaccio, distrik yang dulunya bekas pusat pertokoan daging. Sebagian besar sudah direnovasi menjadi kelab dan bar. Sasuke tidak menyukai kelab dan bar. Ia lebih suka pub tradisional atau menjadi barista * sendiri di dalam minibar dapurnya yang dipenuhi rak wine.
Tidak ada perbincangan yang berarti. Naruto terlalu malas untuk bisa terus-menerus melihat ke belakang, karena punggungnya pasti sakit. Sasuke memang tak suka berbicara, dan Hinata pasrah menerima apa yang terjadi.
Hinata tidak pernah berinisiatif akan sesuatu. Ia menerima apa yang diterimanya, maka itulah yang membuatnya menjadi gadis tak terlihat. Hinata menghargai orang lain dan bertekad untuk tidak merugikan siapa pun. Tapi di sini, Hinata-lah yang rugi.
Naruto banyak bicara, tapi Sasuke adalah rekannya yang payah. Jadi, ia bosan melihat pemandangan, menaikkan kaki-kakinya, lalu mencari posisi yang paling menyenangkan. Tak lama, lelaki biondine* itu tertidur dengan damai.
Bibir Hinata tersenyum saat melihat wajah polos Naruto yang tertidur. "Kawaii…" bisiknya.
Tanpa ia sadari, Sasuke memperbaiki letak spion tengah mobil, dan mengarahkannya pada Hinata. Ia menatap Hinata lewat iris matanya yang seindah mutiara hitam. "Kau … lapar?" tanyanya. Sebelum gadis itu balas menatapnya, Sasuke segera fokus ke jalan.
"T-Tidak juga."
Tapi Sasuke berbelok ke tengah pertokoan ramai. Setelah mendapat tempat parkir, ia mengajak Hinata dengan tatapan matanya untuk masuk ke dalam toko kue. Hinata turun dari mobil, diikuti Sasuke yang sudah melepaskan sabuk pengaman.
"Naruto-kun bagaimana?" Hinata hanya khawatir. Di Italia terlalu banyak mafia.
"Dia baik-baik saja," perkataan Sasuke agak dingin, seolah-olah merupakan keputusan akhir. Ia kemudian menarik pergelangan Hinata dan masuk ke dalam toko.
Toko itu adalah toko kue-kue manis yang akhir-akhir ini digemari wanita. Kue-kue populer yang mahal berjejer cantik di etalase toko. Rainbow cake, red velvet, tiramisu, opera… Hinata menelan ludahnya dan mengalihkan pandangan. Di atas etalase kue, ada lemari kecil khusus penyimpanan macaroon.
Sasuke tidak berhenti dan tetap membawanya menyusuri toko lebih dalam. Desain toko yang gelap dan bernuansa vintage merupakan tempat yang benar-benar cozy. Bahkan di lantai dua-nya ada tempat duduk khusus pengunjung yang ingin menikmati makanannya di toko itu.
Sasuke berhenti saat Hinata masih mengagumi seisi toko. Kepalanya menabrak punggung Sasuke, lalu cepat-cepat menunduk memandangi karpet. Sasuke menoleh sedikit, bibirnya membentuk tarikan samar.
Hinata merasa tubuhnya mulai aneh lagi, jenis perasaan yang sama yang mengganggunya seperti di pantai. Ia menunduk dalam-dalam saat merasakan pipinya kembali memanas. Saat itu, Hinata tidak bisa menyadari suasana di sekelilingnya.
"Hyuuga?"
Hinata tersentak. "Y-Ya?"
"Es krim," Sasuke menunjuk konter khusus es krim buatan sendiri dengan banyak pilihan rasa yang berbeda.
Hinata mengerti. Ia langsung menghampiri pelayan yang menunggu di sana dan memilih dua skop es krim di atas wafer kerucutnya. Ia menoleh pada Sasuke, menanyakan rasa apa yang lelaki itu mau, tapi dilihatnya Sasuke sudah memegang satu es krim berwarna kuning di tangannya. Oh, jadi tadi itu Sasuke berhenti untuk memilih es krim? Hinata tersenyum.
Setelah mendapatkan es krimnya, Hinata menghampiri Sasuke yang sudah berdiri di meja kasir. Lelaki itu membayar semua es krim mereka sebelum mengajaknya kembali ke mobil. Ada satu es krim lagi yang dilapisi plastik khusus.
'Itu pasti untuk Naruto-kun,' batin Hinata.
Es krim itu menonjolkan rasa susu yang benar-benar lembut. Di dalamnya juga terdapat banyak potongan buah. Benar-benar enak.
Setelah sampai di mobil, Sasuke menyalakan mesinnya lagi, lalu mengemudikannya menuju Renaissance.
.
.
.
"Hinata, kau sebenarnya memilih siapa?"
Hari sudah gelap dan Sakura memutuskan untuk mengadakan pesta semalam suntuk berdua dengan Hinata di kamarnya. Mereka duduk di depan televisi dan Sakura sudah menyiapkan semua film yang dibutuhkan. Hinata juga membuat semangkuk besar berondong jagung untuk mereka berdua.
"H-Hah?" reaksi Hinata sambil mengerjap.
"Tadi siang aku melihatmu pulang dengan kedua lelaki itu," jelas Sakura sambil mengunyah popcorn. "Naruto-san tertidur, tapi aku melihatmu mengobrol dengan Sasuke-kun sambil tersenyum bahagia sebelum masuk ke asrama."
Hinata berharap dia bisa memaki. Sakura sangat memerhatikannya. "Aku hanya berterima kasih… u-untuk es krimnya."
"Es krim?"
"Si, Sakura-chan. Signor Sasuke mentraktirku makan es krim."
"Sudah kuduga!"
"A-Apanya?"
"Dia menyukaimu, tahu! Sangat terlihat jelas!"
"H-Hanya es krim. Lagipula dia membelikan untuk Naruto-kun juga."
"Karena itu, Hinata-chan…"
"…" Hinata memberikan pandangan tanya. Tayangan film yang ditontonnya tidak begitu menarik perhatian. Ia lebih suka menonton film horror daripada dorama.
"Jangan memanggilnya dengan 'signor'. Terdengar tua, kau tahu?" Sakura memegangi dagunya.
"Tapi … a-aku sudah memanggilnya 'signor' dari awal kami berkenalan,"
"Aku memanggilnya 'Sasuke-kun' padahal aku tidak mengenalnya sebaik dirimu."
"Aku bukan … fans-nya,"
"Kau suka makanan buatannya."
"Ya, bene. Hanya ma-makanannya,"
Sakura dan Hinata sama-sama terdiam setelahnya. Pikiran-pikiran berkecamuk dalam benak mereka. Hinata meraup lebih banyak popcorn tanpa ia sadari, lalu menyedot sodanya dengan tenaga berlebih. Apa yang terjadi?
"Soal Naruto-san…" Hinata menatap Sakura. "Kau sudah menyukainya dari awal kan?"
Ia tak menjawab. Rasanya bingung harus menjawab apa. "A-Aku mengaguminya…" kata Hinata diplomatis.
"Kurasa dia … menyukaimu." Gadis bermata seterang rembulan itu meremas cangkir sodanya dan merasakan matanya yang perih. Entah untuk apa, atau kenapa.
To Be Continue
Hurt/comfort-nya udah mulai. X3 Siapa yang kemarin nanyain genre ini? Oh, I've done a huge mistake. Untuk perempuan, panggilannya itu 'signorina'. Oke? Maaf salah kemarin. Ano, gomen. Sebagai Hinata-centric, aku tahu Hinata nggak suka makanan laut, terutama kepiting. Tapi… di sini anggap dia suka aja oke? Latarnya kan di pantai.. :(
Maaf baru apdet. There's a lot of work to do. Spiacente. TT^TT Te amo di tutti deh, pokoknya. Aku udah banyakin SasuHina-nya, semoga pada suka yaa. :3 Yo, seperti biasa, yang review login bakalan dibales via PM (yang udah dibalesin tahun lalu).
Now I'm back from hiatus! Forza Daiyaki Aoi! Yang mau BWR apdet tiap dua minggu bisa rikues, ya. Aku lagi bebas! Kalau tiap minggu, nanti akunya tepar sama kena pegel jari. :3
.Kamus Mini.
Pesce spada= Ikan todak/swordfish
Riccio di mare= Sejenis bulu babi
Arogosti= Udang galah bercapit
Granchi= Kepiting cangkang lunak
Spiacente= Maaf
Prego= Silakan
Col bacio= Dengan ciuman/ seperti ciuman
Come una bella farfalla= Seperti seekor kupu-kupu yang cantik
Barista= Bartender
Biondine= Pirang
.Kamus Mini.
Balas review;
aam tempe: Arigatooo~ ^^ Amin deh, amin… Makasih buat reviewmu ya, aam!
demikooo: Gomen… aku juga laper, kok. Sama. Di sini aku cuma nyisipin satu masakan aja. Arigatoooo… eh? Kenapa malah mikir yang aneh? Oke, udah update. Maaf telat. :'( Please, jangan marah sama aku ya.
sasuhina-caem: Aduh… kayaknya chapter kemarin kebanyakan masakannya, deh. Sekarang cuma satu, kok. Simpel lagi masakannya, nggak pake bahan yang aneh-aneh. Hahahaha… temen makan temen, ya. Yaaa, chapter ini kayaknya udah cukup ngeliatin kalau Sasuke sama Naruto rebutan deh. Mudah-mudahan keliatan ya... Maaf nunggunya lama. ;;A;;
sukamanga: Arigatooo… Iya, kalau Naruto nyerang, Sasuke pasti beraksi. XDD Ya, meski aku suka Sakura, aku lebih suka kisah cinta segitiga. Maaf ya, Sakura~ Berbahagialah sama Kakashi~
mamoka: Arigatoooo… iya, pasti battle tuh bocah-bocah. Aku paling seneng kalau pasangan sobat ini berantem, sih. XDD Ah, maaf apdetnya lama. Hiksu. TT^TT
suka snsd: Hahahaha… Buat Sakucchi dan Kakapyon, aku udah punya rencana lain buat mereka dan itu happily ever after, deh. Buat afternoon tea, kau bisa browsing aja sih… Soalnya kayaknya ribet kalau aku bales di sini… Maaf ya… Yo! Semangat apdet!
harunaru chan muach: Gak apa-apa kok. Ada yang ngebaca aja udah seneng, apalagi review, udah jingkrak-jingkrak kali… ^^v Wah ini sih NGARET banget. Maaf ya, maaf banget. *sujud-sujud* :"(
fishy: Sip, makasih review-nya ya! Ini tuh perkembangan nggak sih, sebenernya? -..- Kok abis nulis chappie ini rasanya kayak ngasih harkos gini ya?
Oshin tsubaki chan: Maaf nggak cepet apdet. Udah setahun… #semua reviewer menjadi batu. Arigato udah review. ^^"
Wood Pixie: Wow… your review is amazing! Makasih banyak. :') Makasih banyak buat pujiannya… X3 You're really sweet! Aku kelas 3 SMP dan mau ke SMA sekarang. :') Makasih ya ampun… *terharu*
Makasih buat info-nya ya. :') Maaf aku nggak apdet asap. Review-mu juga mengena di hatiku kok. You've written an amazing review for me. Thank you very much.
sasuhina lover-AST: oke, udah dipublish! Maaf lama yaaa~ Maaf banget!
Wow. Aku baru ngeh dan inget. Terakhir aku nulis ini pas kelas 2 SMP, karena aku harus berhenti nulis fanfic di kelas 3 SMP. Dan, ini udah setahun! Berarti pas banget! Berarti aku tahan ya, nggak nulis fic selama setahun penuh dan fokus sama UN. Semoga aku dapet hasil yang bagus ya! Doain lho!
Oke, untuk semua reviewer, review lagi, please? Dan, minna, segala bentuk review akan kuterima dengan senang hati. Jadi, review please?
Thanks for everything!
-Aoi.
