Begins With Rome
.
Naruto © Masashi Kishimoto
.
April 2014
Chapter Sei
Hari-hari berjalan normal. Hinata kembali dalam kuliah arsitekturnya, Sakura mau bertunangan dan berencana mengundang teman-teman terdekatnya saja, Naruto masih kerja paruh waktu di Invio, dan Sasuke masih menjalani kehidupannya yang padat. Mereka bertindak seperti tidak ada yang terjadi. Meski sebenarnya, hanya satu orang yang merasa tidak nyaman dengan keadaan seperti ini.
Kembalinya Hinata dari Santa Marinella agak membuat gadis itu tidak bersemangat. Sesuatu hilang begitu saja. Jarang sekali ia bisa bertemu Naruto, atau Sasuke, yang keduanya merupakan sahabat kesibukkan. Hinata tiba-tiba merasa semuanya kembali dari awal. Di mana dalam kehidupannya di Roma hanya ada Sakura.
Ia merasa sedikit kecewa, meski tidak bisa berbuat apa-apa. Naruto masih suka mengiriminya pesan singkat, tapi batang hidungnya tak pernah kelihatan. Di lapangan basket, di mana pun. Tanggal-tanggal menunjukkan bawa bulan akan berakhir, karena itu Hinata tidak bisa datang ke Invio. Keuangannya terbatas sebagai mahasiswa penerima beasiswa.
Hinata juga sudah mulai jarang bertemu Sakura. Gadis berambut merah jambu itu sibuk mengurusi pesta pertunangan yang dilangsungkan seminggu lagi. Bahkan Sakura jarang didapati di dalam asramanya, ia sepertinya pulang ke rumah orangtuanya di dekat Roma.
Tak jarang Hinata merindukan teriakannya yang selalu meleking. Bagaimana pun, Sakura adalah sahabatnya yang baik hati dan selalu ada untuk membantu. Hinata yang biasanya diam kali ini lebih pendiam lagi karena hidupnya mendadak tidak berwarna. Tidak ada yang peduli.
Hinata duduk di bawah pohon maple yang hampir gundul. Dedaunan yang bertumpuk membuat posisi duduknya lebih nyaman. Diseruputnya minuman rasa buah kuat-kuat. Setelah melampiaskan perasaannya lewat sedotan, Hinata menghirup napas dalam-dalam.
Ia memperbaiki posisi duduknya lebih maskulin. Celana jinsnya dihiasi potongan daun yang jatuh. Hinata memeluk lututnya saat angin bertiup. Hawa dingin menyapu lehernya yang kosong. Helaian rambutnya terikat rapi di satu tempat.
Hari masih siang, tapi Hinata tidak punya niat untuk datang ke kelasnya. Dosennya berhalangan hadir dan berjanji menggantinya dua minggu ke depan, jadi Hinata merasa tidak punya kewajiban untuk pergi ke manapun.
Minggu-minggu yang sulit, Hinata pikir. Apa yang harus ia lakukan kalau begini? Life does flat sometimes.
Di tengah rasa kebosanan itu, Hinata berdiri dan memutuskan pergi tanpa arah. Ia akan berjalan kaki, ke mana pun, yang bisa mengusir rasa sepinya. Ia mengangkat tas, lalu pergi melintasi lorong kantin yang bersambung menuju gedung utama jurusan arsitektur. Kampusnya punya desain yang klasik, lorongnya merupakan lorong terbuka, lebih pantas disebut koridor. Seperti jalan setapak yang agak lebar dengan tiang-tiang batu bertumpuk.
Jurusan arsitektur masih satu gedung dengan jurusan seni dan desain. Hanya tinggal melewati ruangan auditorium alat musik dan teater kampus, Hinata sampai di taman jurusan seni yang berdesain unik. Kebanyakan berisi monumen-monumen batu yang diukir sedemikian rupa. Ada yang berbentuk runcing, tersambung dalam bagian-bagian aneh, juga yang dibuat seolah-olah melayang.
Sekadar membunuh waktu, Hinata diam di taman sebentar, menikmati sisa cahaya matahari yang hanya ada 3 bulan dalam setahun. Cuaca yang bersahabat, meski hampir di penghujung musim panas. Puas melihat-lihat, ia bangkit dan melanjutkan perjalanannya.
Hinata keluar dari kampusnya bukan dari jalur utama, tapi melalui pintu kecil yang biasa dilewati sepeda motor mahasiswa. Roma sesibuk biasanya. Turis ada di mana-mana.
Angin bertiup, Hinata merasa dingin. Ia belum makan siang. Hinata akhirnya memutuskan hanya makan di kedai kaki lima. Ia membeli Farinata, salah satu makanan khas dari Tuscany. Mirip pizza, makanan ini terdiri dari adonan tepung chickpea/ sejenis kacang polong, dicampur minyak zaitun, air, dan garam, lalu dilebarkan di piring selebar enam puluh sentimeter dan dibakar cepat dalam oven. Juga semangkuk minestrone con pesto, sup dengan basil segar.
Kadang-kadang, makanan Italia begitu sederhana tapi cara pengolahannya menjadikannya istimewa.
Hinata berlama-lama makan di sana, merasa tidak berguna. Ia tak pernah mengambil kerja sambilan. Keuangannya terbatas, tapi ia dilarang oleh Hiashi yang juga didukung Neji. Selain uang beasiswa dan uang saku dari Hiashi, ia juga dibantu untuk mencukupi biaya hidup oleh Neji.
Setelah menghabiskan makanan, ia berterima kasih pada pemilik kedai. Hinata berjalan lagi hingga terlalu jauh untuk kembali ke asrama mahasiswa. Ia sampai di suatu taman yang agak sepi. Taman itu didominasi batu dan marmer. Air mancurnya dipenuhi kepingan uang logam. Mungkin Hinata sudah ada di dekat wilayah perbatasan kota.
Patung malaikat terlihat tersenyum padanya, jadi Hinata juga melempar koin. Ia berbalik membelakangi air mancur dan mencoba keberuntungannya. Kepingan uang logam itu meluncur mulus ke dalam air, tak menganggu suara pecikkan air.
Di dekat sana ada sebuah katedral. Loncengnya berbunyi kencang. Hinata bukan seorang nasrani, tapi ia menyukai semua desain arsitektur katedral yang apik dan tampak gagah.
Tiba-tiba, terdengar suara ramai. Orang-orang berdatangan dengan mobil van, seperti kru acara televisi, mereka mengangkut kamera, alat pengeras suara, kursi, dan lintasan mirip kereta api mungil dari dalam van. Dalam sekejap, taman itu diubah menjadi tempat syuting.
Kursi-kursi penonton ditata rapi menghadap air mancur. Berjarak lima meter dari sana, kru-kru bertopi cerah itu menyiapkan meja besar, oven, dan beberapa alat memasak. Penonton yang didominasi perempuan mulai berdatangan, usianya mulai dari yang setengah abad sampai remaja.
Hinata merasa terganggu, ia hendak pergi lagi, mungkin kembali ke asrama. Perjalanannya hari ini cukup menyenangkan dan membunuh waktu. Tapi seseorang memanggilnya.
"Signorina!" laki-laki bertopi cerah, mengantungi tanda pengenal staf produksi, melambaikan tangan. Hinata tidak yakin ia yang dipanggil sebelum laki-laki itu menepuk bahunya. Alain Gennaro—namanya.
"Anda memanggil saya?" mata Hinata menyipit.
"Si, si. Anda. Kami sedang kekurangan penonton, sebentar lagi acara kami dimulai. Jika Anda tak keberatan, mau ikut menonton?" tanyanya ramah namun agak sedikit menggoda dengan matanya.
"Tapi s-saya—harus kembali—"
"Tunggu, Signorina," sekali lagi, laki-laki itu meraih lengannya. "Anda dibayar—tentu saja. Acaranya tidak lama. Hanya tiga puluh menit, jika Anda tidak sedang buru-buru."
Hinata ragu. "Ini acara apa ya?"
"Masak. Anda suka memasak?" laki-laki itu melepaskan tangannya. "Oke, berarti kita sudah sepakat ya, Signorina. Duduklah di barisan depan, jika Anda mau."
Setelahnya, Alain kembali menyiapkan lokasi syuting. Ia terlihat sibuk. Hinata pikir jika ia ikut, tidak akan ada salahnya. Ia dibayar, juga dapat resep baru yang dapat dicoba. Hinata mulai mengintari kursi dan memilih untuk duduk di paling belakang. Ia tak ingin terlihat mencolok.
.
.
Acaranya dimulai dua puluh menit kemudian, setelah kursi penontonnya terlihat penuh. Hinata bosan, hanya memainkan ponsel, mengirimi pesan singkat pada Sakura yang belum dibalas. Saat sang bintang acara keluar, telinganya hampir berdenging mendengar teriakan remaja. Jika Alain bilang mereka kekurangan penonton, pada kenyataannya mereka kelebihan penonton. Bahkan banyak yang rela tidak kebagian kursi.
Hinata tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya sampai ia memutuskan melihat ke depan. Ia tidak dapat melihat apa-apa kecuali punggung penonton lain yang antusias. Dalam waktu singkat, Hinata merasa lelah. Ia ingin mengorbankan kursinya dan pulang.
Setelah teriakan berkurang, dan punggung-punggung itu kembali pada posisinya, Hinata melihatnya. Rambut gelap harajuku yang agak melawan gravitasi, mata tajam, dan tangan yang sedang membuat adonan pasta.
"Signor Sasuke…?" bisiknya pelan.
Saat itu, pandangan mata keduanya bertubrukan. Mereka sama-sama terkejut. Tak lama, Hinata berhasil mengendalikan emosinya. Ia hanya tersenyum dan melambai pelan. Sasuke mengangguk sedikit.
Cukup interaksi kecil ini hanya mereka yang tahu.
Sasuke melanjutkan adonan pastanya yang mulai dibentuk menjadi fettucini. Tapi bahkan Hinata tidak dapat berkonsentrasi masakan apa yang sebenarnya sedang dihidangkan. Lama tidak bertemu membuatnya merasa asing.
.
.
Saat acaranya selesai, Hinata tak tahu apa yang harus dilakukannya. Apakah ia hanya akan pergi tanpa sepatah kata pun, atau menyapa Sasuke? Tapi Hinata tidak merasa berkewajiban menyapanya. Entahlah. Mereka bukan teman lama atau apa pun.
Akhirnya, Hinata memutuskan untuk pergi. Ia berbalik, melihat sekilas Ducati merah Sasuke, lalu berjalan pulang ke arah halte bus. Hari sudah menjelang senja saat itu, sekitar pukul tiga sore.
Sedikit bersenandung pelan, jarak halte bus agak jauh. Ia harus memutari beberapa blok untuk sampai ke jalan raya. Di persimpangan jalan, Hinata mendengar suara klakson yang keras. Sebuah Ducati merah tiba-tiba muncul dan berhenti di sebelah trotoar jalan. Hinata berjengit ngeri.
Hinata mengenali sepeda motor itu. Pengendaranya meraih sebuah helm lain dan menyerahkannya pada Hinata. "Ikut denganku." katanya tajam.
"K-kenapa?"
"Jangan bicara di sini," tegasnya.
Menyerah dengan keadaan, Hinata naik ke atas motor. Sasuke yang penuntut dan suka marah-marah itu sudah kembali. Setelah helm terpasang dengan benar, Ducati Sasuke bersiap-siap melaju kencang.
"Pegangan." Dan Hinata tak perlu disuruh dua kali.
Sasuke membawanya ke luar kota Roma, mengarah ke utara. Italia Utara berisikan banyak perkebunan-perkebunan. Orang Italia paling banyak menanam terong dan brokoli. Tetapi, jenis sayur mayor yang dapat ditemukan di sekitar sana adalah artichoke, zukini*, kembang kol, kale daun hitam, cardoon*, dan radicchio*.
Mereka berhenti di sebuah perkebunan yang juga merupakan distrik keju yang terkenal. Toko-toko keju berdiri bersisian di tepi sebelah kiri, sementara di seberangnya adalah perkebunan kol yang besar. Wangi keju meresapi penciuman Hinata.
Toko-toko itu berdesain gedung lama, layaknya pemandangan kota Roma. Lantainya merupakan lantai batu yang dihaluskan permukaannya dengan begitu apik. Hinata melayangkan tanda tanya pada Sasuke.
"Kenapa kita di sini?" tanya Hinata.
"Ini distrik keju terbaik," Sasuke mengangkat bahu. "Aku ingin beli keju."
"Oh…?" Tapi itu tak menjelaskan apa pun bukan?
"… sekaligus bicara." Sasuke menoleh ke arah rak berisi mandolini*. Mengambil keju itu dan menimbang-nimbangnya. Baunya agak menyengat.
Italia terkenal akan keju. Bagi orang Italia, keju adalah pengganti daging. Keju-keju yang sudah dikenal adalah pecorino*, parmigiano reggiano*, mozarella*, grana padano * dan gorgonzola*. Pecorino adalah keju tertua yang ada di Italia. Rasanya adalah penggabungan dari dua jenis susu. Keju ini berwarna pucat, biasa dimakan dalam bentuk potongan-potongan kecil bersama kacang lima dan grappa*. Sementara parmigiano reggiano dan gradana padano adalah keju parut kualitas terbaik yang biasa ditaburkan di atas pizza.
Mozarella, seperti yang seperti kita kenal, adalah keju yang mudah mencair dan melekat kental di atas makanan. Sementara gorgonzola adalah keju yang dibiarkan lama untuk memastikan kematangannya sempurna. Keju ini bisa matang secara alami, berjamur, dan memiliki lapisan berwarna biru kehijauan.
Hinata mengikuti Sasuke memilih keju, menanti apa yang ingin chef itu bicarakan padanya. Tapi mungkin agak sulit karena Sasuke pasti lebih suka fokus pada apa yang dicarinya lebih dulu sebelum benar-benar bicara pada Hinata.
Padahal, sebenarnya keju itu hanya pengalihan. Sasuke memang ingin membeli keju hari ini dan bertemu dengan Hinata adalah koinsiden yang mendadak. Jadi, sekaligus ingin bicara padanya, Sasuke lebih baik menyeret gadis itu ke sini. Ia tahu situasinya saat ini canggung dan Hinata terlihat menghindarinya.
Sasuke berusaha tenang dan berjalan ke arah pemilik toko yang tersenyum ramah. Sasuke memita izin untuk masuk ke dalam gudang khusus penyimpanan keju karena ia membutuhkan pecorino dan gorgonzola. Keju-keju semacam ini memang biasanya disimpan di dalam gudang khusus karena membutuhkan proses fermentasi alami. Semakin lama menyimpannya, maka semakin mahal harganya.
Gudang itu ada di belakang toko. Dengan panduan ibu pemilik toko, mereka sampai di depan gudang kayu itu. Mengeluarkan kunci, ibu pemilik toko mempersilakan mereka masuk dan mengambil waktu seleluasa mungkin. Ibu itu tak akan menemani mereka karena perlu menjaga toko.
Mengucapkan terima kasih, Sasuke dan Hinata masuk ke dalam gudang yang berbau keju. Keju-keju besar disusun dalam rak kayu dari atas sampai bawah. Masing-masing diberi label jenisnya dan lama disimpan per tahun.
Selagi melihat-lihat keju, Sasuke membuka topik pembicaraan yang tertahan. "Hyuuga, tadi kenapa kau pergi begitu saja?"
Hinata tidak menyangka pertanyaan sejenis ini yang dikeluarkan Sasuke. "A-Apa?"
Memangnya kenapa?
Situasinya mendadak canggung kembali. Sasuke mengambil sepihan keju dan menekan-nekannya dengan jemari, memastikan tekstur yang ia butuhkan. Ia tak suka Hinata yang pura-pura tidak tahu.
"Kau tahu masalahmu, Hyuuga? Menefreghismo*." Sasuke membalikkan tubuhnya, meraih rak keju yang di atas.
"A-Aku…" Sasuke menunggu. "… tidak seperti itu, kau tahu." Sasuke tidak berbicara apa-apa. Ia mengambil sepihan keju lain. Hinata melanjutkan, "Hanya saja, rasanya aneh. K-Kita sudah lama tidak bertemu, Signor Sasuke. Spiacente."
Benar mereka sudah agak lama tidak bertemu. Menjadi teman begitu saja, lalu tidak berhubungan selama hampir dua minggu. Terdengar helaan napas Sasuke.
"Kau bertemu dengan Naruto?" tanyanya. Sasuke bahkan tak menyukai nada bicaranya yang aneh ini.
"Belum. Aku…" Hinata memainkan jemarinya. "belum bertemu siapa pun."
Bahkan dengan temanmu yang berpacaran dengan dosen itu?
Sasuke menghela napas lagi. "Tadi aku melihatmu di taman, sendirian. Jadi kuminta kru menyuruhmu menonton acara itu. Kursinya penuh, tapi kubilang kau temanku."
"O-Oh? Grazie, Signor..." Hinata mengangkat kepalanya dan tersenyum. Jadi begitu.
"Aku belum setua itu," Sasuke meraih satu baki berisi dua potong keju yang ia inginkan. Ia tidak membeli dua potongan penuh, hanya seperempat bagian. "Sasuke."
"Baiklah. Sasuke," Hinata tersenyum lagi. Ia teringat kata-kata Sakura waktu itu. Sepertinya ia harus mulai menganggap Sasuke teman dekatnya. Bukan hanya sekadar chef yang ia kagumi.
Setelah selesai, mereka keluar dari gudang dan masuk kembali ke dalam toko. Sasuke membayar harga yang cukup mahal untuk potongan-potongan keju itu. Ibu pemilik toko mengucapkan terima kasih.
Saat Sasuke menyodorkan helm Hinata, ia juga menyodorkan bungkusan keju lain. "Kau sudah menemaniku." katanya.
Mereka lama tidak bertemu, tapi Sasuke lebih banyak bicara. Dan Hinata merasa hatinya hangat.
.
.
Hinata tidak meminta diantarkan ke asramanya. Setelah menyebutkan alamat, Ducati Sasuke berhenti di sebuah bengkel vespa. Sasuke mengernyit heran dari balik helm.
"Sasuke, grazie di tutto. U-Untuk hari ini, juga kejunya." Hinata membungkuk.
Sasuke mengangguk, mengambil helm dari Hinata sebelum bertanya, "Bengkel vespa?"
"Kau ingat vespa merahku, Sasuke? Vespa itu sudah selesai diperbaiki hari ini. Sekali lagi, grazie." kata Hinata.
Oh ya, Sasuke ingat. Vespa tua berwarna merah itu. Ia selalu bertanya-tanya mengapa Hinata tidak berganti menjadi Piaggio saja. Vespanya terlalu sering mogok.
Sasuke tidak langsung pergi. Ia menunggu Hinata hingga mendapatkan vespanya kembali. Selama dalam pengurusan administrasi, Hinata bercerita kalau bengkel itu langganannya, sehingga ia dapat diskon. Setelah mendapatkan vespanya kembali, gadis itu menyalakan mesinnya yang terbatuk-batuk pelan.
"Kau kenapa menungguku?" tanya Hinata, mengambil helm miliknya sendiri yang tersimpan rapi di keranjang depan.
Sasuke mengangkat bahu. "Aku juga ingin ke Renaissance."
Kemudian, mereka pergi dari sana menuju Renaissance yang hanya tinggal beberapa blok lagi. Di persimpangan asrama, Hinata mengucapkan selamat tinggal. Sasuke hanya menjawabnya dengan klakson, kemudian ia mengemudikan motornya dengan cepat ke arah jurusan memasak.
Hinata tidak bisa berhenti tersenyum hari ini. Ia memarkirkan vespanya di parkiran asrama, lalu masuk sambil bersenandung pelan. Suaranya ikut memantul hingga ke ujung koridor yang sepi.
Ia menaiki tangga, lalu menyadari kalau pintu kamar Sakura terbuka. Sepertinya Sakura sudah kembali dari rumah orangtuanya mengurusi perihal pertunangannya dengan Kakashi. Karena kamar Sakura persis di seberangnya, ia memutuskan untuk menyapanya lebih dulu.
"Sakura-chan?" Hinata mengetuk pintu.
Tidak ada suara, Hinata melangkah masuk. Sakura ada di dekat jendela, membereskan koper. Ia tampak sibuk.
"Sakura-chan?" Punggungnya melengkung kaget. Sakura berbalik secepat yang ia bisa.
"Hinata-chan! Aku kaget sekali!" Sakura melotot.
"Maaf, maaf. Kau tampak serius. Bagaimana orangtuamu? Sehat?" Hinata menyamankan diri duduk di kasur Sakura.
"Sehat, terima kasih Hinata-chan. Saat Kakashi melamar, mereka tampak kaget. Mungkin karena usiaku terlalu muda." Sakura terkekeh, mengangkat bahunya.
"Lalu? Apa yang terjadi?" Hinata bersemangat.
"Awalnya mereka ragu, tapi Kakashi berusaha meyakinkan mereka. Kurasa ibuku melihat bahwa Kakashi mampu dan matang untuk hal ini. Jadi mereka menerimanya. Itu saat-saat yang canggung, kau tahu." Sakura tertawa.
"Syukurlah kalau begitu, Sakura-chan." Hinata bilang. "Aku c-cemas… dan kupikir, kamar di seberangku telah kosong begitu lama."
"Eh? Maafkan aku, Hinata! Aku tidak tahu akan pergi selama itu…" Sakura membungkuk.
"Tidak apa-apa. Jadwal kuliah juga kosong akhir-akhir ini… entah ke mana dosen-dosen itu,"
"Baiklah! Untuk membayarnya, kita menonton malam ini ya, Hinata-chan! Aku akan memasak popcorn dan membeli soda! Aku punya film yang baru kubeli. Jam 8 ya, Hinata? Oke, aku akan bersiap-siap."
Sakura sepertinya antusias dalam hal ini. Jadi Hinata hanya mengangguk setuju. Memang rasanya sudah lama sekali ia tidak menonton film di kamar sahabatnya. Hari yang Hinata pikir akan membosankan, ternyata berubah menjadi sangat menyenangkan. Membeli keju dengan Sasuke, menonton dengan Sakura, apalagi yang bisa ia harapkan? Teman-temannya memang menyenangkan dan perhatian.
"Aku punya keju pecorino. Nanti kita makan bersama grappa, ya?" Hinata teringat akan kejunya.
"Wah? Serius, Hinata-chan? Kau beli di mana? Bukankah ini akhir bulan?" tanya Sakura heran.
"A-Aku… eh—itu…" Hinata merasa malu. Kalau Sakura tahu, gadis itu pasti akan lebih antusias lagi. "T-Tadi, Sasuke mengajakku beli keju dan dia memberiku sebungkus pecorino."
"EEEEH—?!" Sakura berteriak. "Jadi selama aku tidak ada, kau kencan dengan—tunggu, Hinata. Sejak kapan kau memanggilnya 'Sasuke'?"
.
.
Hinata baru selesai mandi sekitar pukul enam sore. Ia mengambil pengering rambut dan mulai menyisir rambutnya yang basah. Sakura tadi memberondongnya dengan berbagai pertanyaan, bahkan menuduh kalau sebenarnya Hinata sudah resmi berkencan dengan Sasuke. Hinata hanya tertawa awkward dan menjawab 'tidak' beberapa kali.
Sekedar menunggu, Hinata menonton televisi. Acara televisi tak ada yang menarik, ia hanya memutar-mutar chanel. Sampai akhirnya, ia menemukan acara memasak Sasuke tadi siang.
Wah langsung segera ditayangkan, ya…
Ia menonton acara itu sampai ada yang mengetuk pintu kamarnya.
Sakura-chan? Katanya jam 8?
"Sakura-chan? Masuk saja…" Hinata kembali menyisir rambutnya.
"Hinata-bella? Ini aku."
"N-Naruto-kun?"
.
.
"Maaf ya, Hinata-bella. Aku saat ini benar-benar sibuk, jadi tak sempat menemuimu." Naruto mengeratkan jaketnya malam itu. Ia meminta jalan sebentar dengan Hinata di taman di depan asrama. Lampu-lampu bulat berwarna remang menemani mereka.
"Tidak apa-apa," Hinata melihat jam tangannya. Ia sudah bilang ia punya janji dengan Sakura, jadi tidak bisa pergi lama-lama. Beberapa menit lalu, Naruto hanya tertawa pelan dan menjanjikan hanya akan sebentar. Hanya ingin bicara.
Sebenarnya ada apa di antara Sasuke dan Naruto hari ini?
"Kakashi bercerita padaku. Katanya dia berkeringat dingin saat sampai di depan rumah orangtua Sakura-san." Naruto meniup-niup napasnya yang terlihat seperti asap.
"Oh ya? Aku tidak percaya Sensei bisa segugup itu…" Hinata tertawa pelan.
Naruto tersenyum penuh arti. Hinata tak lagi gugup. Bicaranya selancar air yang mengalir. Pemikiran ini berujung pada satu kesimpulan; Hinata nyaman bersamanya.
"Laki-laki itu bisa menjadi sangat gugup saat menghadapi wanita yang dia cintai, Hinata-bella," kata Naruto.
"E-Eh?" Itu hanya perasaannya saja, atau pemuda itu bernada serius? "B-Begitu ya…"
Menyadari kegugupan Hinata kembali, Naruto mengubah nada bicaranya menjadi riang seperti biasa. "Hinata-bella, kau ke mana saja? Kalau kau kesepian kan, kau bisa pergi ke Invio. Aku selalu ada di Invio. Aku juga kesepian di sana. Si Teme sibuk dengan acara televisinya."
"Ini akhir bulan, aku tidak punya terlalu banyak uang, Naruto-kun." kata Hinata tenang, sedikit bernada maaf. "Iya, acaranya menjadi tampil setiap hari…"
"Oh? Kau menontonnya juga ya…" Naruto berhenti di kursi taman dan memutuskan untuk duduk. Hinata memilih berdiri, mengingat janjinya pada Sakura. "Omong-omong, kau tidak merasa kesepian? Maksudku, Sakura-san pergi dengan Kakashi, bukan?"
"Eh… iya…" Hinata memegang ujung rambutnya yang basah. "Tapi hari ini aku bertemu… Sasuke." Ia hampir memanggil chef itu dengan signor.
Naruto memicingkan mata. Sejak kapan…? Apakah Sasuke berhasil…?
Tunggu, bukankah ini yang dia inginkan? Sasuke dan Hinata bersama? Ia memberi Sasuke waktu selama satu bulan… Naruto selalu berpikir bahwa kemungkinannya 50:50. Ia tidak akan mengganggu sampai waktu satu bulan itu habis, karena itu selama dua minggu ini ia menahan diri…
Tapi, kenapa ia merasa tidak rela?
Ada apa dengannya?
Tanpa sadar, Naruto meraih lengan Hinata. "Hinata-bella… jika nanti Sakura-san dan Kakashi mengadakan pesta pertunangan mereka… apa kau mau pergi denganku?"
Hinata tertegun, terlalu kaget dengan gerakan tiba-tiba Naruto. Keheningan yang nyata tercipta begitu saja. Naruto memandang matanya lurus-lurus… mata biru yang indah.
Kenapa, Hinata? Tidak ada salahnya bukan, datang ke pesta pertunangan Sakura dengan Naruto sebagai teman? Kenapa… kau berharap yang lain?
Bukankah kau menyukai Naruto?
Hinata ingin melepaskan lengannya, tapi Naruto tidak menunjukkan akan melepaskannya. Menit-menit berlalu, ia masih ada janji dengan Sakura. Hinata menarik napas dalam-dalam, lalu tersenyum manis.
"Baiklah, Naruto-kun. Lagipula, aku tadinya akan pergi sendiri. Dengan teman pasti lebih menyenangkan, bukan?"
.
.
.
.
.
Dalam hubungan antar bagian-bagiannya,
pola jamuan makanan Italia yang lengkap sangat mirip kehidupan berbudaya.
Tak ada satu hidangan yang menenggelamkan yang lain,
baik dalam hal jumlah maupun rasa,
setiap hidangan menyisakan ruang untuk daya tarik baru bagi mata dan selera;
setiap sensasi, rasa, warna, dan tekstur terjalin dengan rasa, warna,
dan tekstur hidangan sebelumnya.
.:: Marcella Hazan, The Essential of Classic Italian Cooking ::.
.
.
.
.
.
To Be Continue
.Kamus Mini.
-Zukini: sejenis labu kecil
-Cardoon: tanaman yang mirip bunga, berduri, sejenis dengan artichoke
-Radicchio: kol ungu
-Mandolini: keju kambing
-pecorino: keju yang terbuat dari capuran susu kambing dan susu domba
-parmigio reggano: keju yang terbuat dari susu sapi, berwarna kekuningan
-mozarella: keju yang terbuat dari susu kerbau, mudah mencair dan lengket
-grana padano: keju parut berkualitas tinggi, bertekstur mirip parmigio reggano
-gorgonzolla: keju yang dibuat dari sisa-sisa susu oleh penggembala, lapisannya berwarna biru kehijauan
-grappa: minuman beralkohol dari kulit anggur
-Menefreghismo: ungkapan yang mengombinasikan 'me ne frego' 'aku tidak peduli' dan 'machismo'. Dengan kata lain, artinya adalah sikap tidak peduli yang disengaja.
.Kamus Mini.
Maaf banget atas keterlambatannya. Sebenarnya chapter ini udah ditulis dari Juli 2013. Sayangnya, aku berhenti di tengah jalan karena nggak tahu apa yang harus ditulis. Mungkin itu yang namanya Writer's Block. Aku kehabisan ide.
Ide-ide ini baru muncul ketika sisi shoujo manga-ku kambuh. Plot cerita selalu ada, tapi masalahnya, Begins With Rome butuh banyak sekali referensi. Jadi, maaf yang sebesar-besarnya. Mana kemarin-kemarin itu, yang ada aku lagi mode shounen manga dan fujoshi. Sama sekali nggak ada rasa tertarik sama pairing straight. Sama sekali.
Aku anak labil~
—yang ini sesi curhat pribadi—
Dan, terakhir, jadi anak SMA itu susah. ._. Apalagi kalau masuk salah satu SMA favorit. Aku nyesel aku pinter. #digeplak
Maaf, ada kesalahan, sebenernya 'pinter' itu cerita lama. Otakku udah expire.
Tapi, sekadar curhat, aku masuk SMA favorit peringkat ke-4 se-Indonesia. Dan itu nggak enak. Kalau dulu, belajar itu bisa latihan soal dan baca buku paket atau searching. Sekarang, aku bahkan nggak tau guruku ngambil soal macam apa. Yang diajarin apa, ujiannya apa.
Bahkan soal SNMPTN dan UN nggak sebanding sama soal-soal yang dikasih sama guruku. Kami seangkatan UTS Fisika rata-ratanya 3. Itu sakit. :"
Aku sama sekali nggak punya waktu luang kalau nggak sengaja males-malesan. #eh
Maaf kalau kedengerannya sombong. Nggak usah dibaca aja. u_u Galau stadium akhir.
—udah selesai—
Nah! Kalau kampus Renaissance, aku bayangin denahnya itu rada mirip ITB. Jadi ya, begitulah… Habisnya aku nggak tau kalau kampus di Italia itu sebenernya gimana. Lol.
Buat review, aku malu sama reader. Jadi, review akun login nggak akan dibalas personal dulu untuk saat ini. Aku malu. Beneraaaan. Udah hampir setahun hiatus. Gyaaaa *tutupin muka*
Makasih banyak yaaaa.
Ti Amo di tutti. :*
Big special thanks to:
Saerusa, , penelopi, aeni hibiki, Lavender Bhi-chan, aiko, Tatsu Hashiru Katsu, Yamanaka Emo, FP Gudang Fanfic SasuHina — Indo, flowers lavender, Hasegawa Nanaho, fitria toushiro, Malfoy1409, sasuhina-caem, ryuu matsuda, Neerval-Li, Uchh Mhk, Mizuki Rae Sichi, Nyanmaru desu, Guest, Sasazaki mami, MeghanLeggyLeaf, dan altadinata.
.
Review, anyone? :D
