I give my first to you chapter 3
Author : Jisaid
Cast : Kim Seokjin, Kim Taehyung, Jeon Jungkook
Disclaimer : Semua tokoh punya ortu masing masing, saya cuman minjem nama aja.
Warning : DLDR, Typo bertebaran, Kalo gasuka ya monggo klik tombol X. Selamat membaca.
Prev part
Chupp
Aku mencium bibirnya. Sedikit melumat bibirnya, dan kugigit pelan untuk mencari akses masuk dan mengabsen giginya satu persatu. "emmh Seokkiehh" desisnya. Kueratkan pelukanku pada pinggangnya, ia juga sedikit berjinjit dan menekan tengkukku memperdalam ciuman diantara kami.
- Chapter 3 -
Author pov
Keesokan harinya, Taehyung nampak berjalan menuju pagar samping sekolah. Namun langkahnya agak sedikit terseok seok(?) Ia mencoba memanjat dinding pembatas sekolah itu. Mau membolos eoh?
"Aishh, bokongku nyerii. Mana bisa aku memanjat kalau beginii?" Taehyung mengomel tak jelas pada dirinya. Merutuki bokongnya yang sedikit nyeri akibat kejadian semalam. Aduhh membayangkannya saja sudah membuat wajahnya memanas. Bisa bisanya ia melakukan sesuatu yang 'iya-iya' di ruangan dance-_-
"Heyy BlankTae! Kau mau kemana? Membolos lagi eoh?" sebuah suara menginterupsinya. Ahh itu Seokjin. "Ahh Seokkie! Kau menguntitku yak?" bukannya menjawab pertanyaan Seokjin Taehyung malah bertanya balik. "Aku melihatmu dari koridor tadi, jadi aku mengikutimu kesini. Dan kau mau kemana sekarang?" tanyanya lagi.
"Umm, Dokter Kim memberitahuhu tempat dimana Hoseok hyung dikubur. Aku ingin mengunjunginya. Tapi aku tak bisa memanjat tembok ini, bokongku sakit tau." Bibir Taehyung mencebik cemberut. Seokjin terkekeh dibuatnya.
"Hahaha, mianhae nee chagiya~ apa itu sakit? Sini kubantu naik." Tanpa aba aba Jin mengangkat Taehyung. Hap! Taehyung berhasil meraih unjung tembok tersebut. Namun saat hendak melompat keluar, tiba tiba ada suara Jungkook mengagetkannya. "Yo! Taehyung!" Ucapnya. "Eh? Apa yang kau lakukan?" Tanya Taehyung.
"Aku? Aku mau membolos. Sekarang aku punya pacar diluar sekolah, aku ingin menemui pacarku. Daripada aku disini dan menggoda Seokkie hyung." Jawabnya sambil mengerlingkan matanya pada Seokjin. "Heyy janji adalah janji!" Protes Taehyung.
"Yayaya terserahmu, tapi hey Taehyung-ah! Bisakah kita menjadi teman?" Pernyataan Jungkook sukses membuat Taehyung kaget, dedangkan Jin menatap cengoh keduanya. "Ehh? kau abis terbentur apa eoh?" tanya Taehyung. "heyy, aku tak ingin terus bermusuhan denganmu bodoh. Ahh sudahlah, aku pergi dulu. Ppaii~" Jungkook melompat pagar pembatas tersebut dan melengos pergi meninggalkan Seokjin dan Taehyung.
"Anak itu berubah aneh TaeTae." Ucap Seokjin dengan plongonya. "Aish, sudahlah. Ayo kau turun dulu. Aku tak berani melompat setinggi ini, bokongku sakit." Seokjin langsung melakukan apa yang Taehyung perintahkan dan mereka menuju makam Hoseok.
Sore harinya, Jungkook hendak kembali ke asrama. Awalnya sang kekasih ingin mengantarnya, namun Jungkook menolaknya. Jungkook berjalan santai, dan melihat kearah lampu merah yang bertuliskan digit angka bahwa waktu menyebrang tersisa 6 detik lagi. Jungkook segera berlari, namun takdir berkehendak lain. Saat sudah menyebrang setengah jalan, ada sebuah truk melaju kencang kearahnya dan kemudian menabrak tubuhnya keras. Kecelakaan pun tak terelakkan.
Taehyung Pov
"Ada seorang pemuda mengalami kecelakaan sore ini. Dan ia membawa kartu donor organ. Aku mendapat kabar dari jaringan transplatasi organ bahwa mereka memilih Taehyung sebagai penerima donor karena golongan darahnya sama (anggep aja sama). Selain itu, keluarga donor juga telah menyetujui hal ini." Jelas Dokter Kim panjang lebar.
Aku cukup terkejut mendengarnya. Aku senang sekali, akhirnya aku mendapatkan sebuah donor untuk transplantasi jantung.
"Taehyungie~ operasi akan dilaksanakan 2 hari kedepan. Aku ingin kau istirahat total di tempat tidur. Dan tolong jangan tinggalkan ruangan ini kalau bisa." Ucap Dokter Kim. "Lalu bagaimana dengan toilet?" Tanyaku. Dokter Kim tersenyum geli, "Kau kan punya toilet di ruangan ini TaeTae." Jawabnya.
"Umm, Ahjussi.. Jika transplantasi ini sukses, apakah aku akan baik – baik saja? Apakah aku dapat memakan apapun yang aku inginkan? Apa aku bisa melakukan apapun yang kuinginkan? Dapatkah aku kuliah dan menikah suatu saat nanti?" tanyaku.
Dokter Kim hanya tersenyum. "Tentu saja, kau bisa." Jawabnya. Tanpa kusadari airmata mulai menggenang di pelupuk mataku dan mulai mengalir di pipiku. Ummaku memelukku. Dan appa juga berkata "Chukkae anakku. Akhirnya kau akan menjadi seperti anak anak lainnya."
Seokjin pov
Aku menghela nafasku lega, tak mempedulikan udaha dingin yang kurasakan di atap rumah sakit ini. Aku senang, akhirnya mimpi Taehyung untuk mendapatkan donor terkabulkan. Terima kasih Tuhan, kau mengabulkan permohonan kami.
Aku menuruni tangga hendak menuju ke ruangan Taehyung. Namun aku melihat murid Bangtan HS dari kejauhan. 'Untuk apa mereka kesini? Siapa yang sakit? Dan juga kenapa mereka terlihat menyeka air mata mereka?' batinku. Aku langsung menghampiri mereka.
"Umm, chogiyo chingudeul. Ada apa ini? Mengapa kalian bersedih? Apa ada yang salah? Siapa yang sakit?" tanyaku bertubi tubi. "Kau disini Seokjin ssi? Apa kau sudah tahu bahwa Jungkook mengalami kecelakaan? Dia mengalami kecelakaan sore ini, dan ia masih tidak sadar sampai sekarang. Dokter bilang ia mengalami brain dead." Aku terkejut mendengarnya.
'Apa jangan jangan orang yang akan mendonorkan jantungnya untu TaeTae itu dia?' batinku, aku segera berlari menuju ruangan appaku.
Brakk,, aku membuka pintu dengan tidak elitnya. "Yaa! Bisakah kau menge… eh Jin? Ada apa?" tanyanya. "Bukan dia kan? Donor jantung untuk Taehyung.. bukan dia kan appa?" tanyaku. "Jin, itu bukan urusanmu.. temani Taehyung sana.." jawabnya.
Aku melihat Taehyung dari luar ruangannya sedang bercengkrama dengan orang tuanya. Senyum tak pernah lepas dari wajahnya. Ya Tuhan.. aku tak sanggup jika Taehyung mengetahuinya, lalu senyum itu akan memudar dari wajah manisnya.
Aku membalikkan badanku, mengurungkan niatku untuk melihatnya. Namun tiba tiba ia keluar dan menemuiku. "Seokkie~ aku mendapatkan donor jantung. Aku akan dioperasi dalam dua hari kedepan." Katanya riang. Aku tersenyum kecut, "Chukkaeyo TaeTae~" aku mengecup keningnya. "Nee, Gomawoo seokkie~ ahh aku sudah tak sabar. Aku ingin sekali transplantasi itu dilakukan hari ini." Katanya.
"Hahaha." Aku tertawa mendengarnya, dia juga tertawa bahagia. Ya Tuhan, tolong jangan membuat seyumannya menghilang, kumohon.
Author pov
Seorang namja manis terbaring lemah di salah satu ruang ICU rumah sakit. Tubuhnya dikelilingi oleh berbagai alat dan selang yang menopang hidupnya. Di sisinya ada seorang kakek yang memegang sebuah kartu, disamping kakek itu terdapat seorang wanita paruh baya yang menangis.
"Jadi kau memutuskan untuk menjadi seorang pendonor jantung Kookie ya? Apakah semua ini karena ayahmu meninggal karena ia tak mendapatkan donor?" Ucap kakek tersebut memandangi cucunya yang terbaring lemah sambil memegang kartu donor organ ditangannya.
"Kau begitu dingin denganku. Tapi aku yakin, kalau kau ini sebenarnya anak yang baik dan pengertian. Aku mengerti sekarang, aku akan membiarkan jantungmu tetap hidup kookie.." Sambungnya.
Keesokan paginya, Seokjin kembali menemani Taehyung di ruangannya. "Seokkie~ kenapa dokter Kim tak mau memberitahuku siapa pendonornya sihh? Aku kan ingin tau siapa pendonornya. Aku ingin berterima kasih pada mereka." Taehyung mempoutkan bibirnya.
"TaeTae kau tahu kan itu sudah sistemnyaa? Jadi kau tak boleh mengetahuinya arra?" kata Seokjin. "Huff,, nee~ Oh iya, apa ada siswa Bangtan HS lagi yang dirawat disini selain aku? Aku melihat seragam Bangtan HS akhir akhir ini berkeliaran dirumah sakit."
"Eh? Aku tak tahu, mungkin dari kelas lain. Yah kelas lain." Seokjin meyakinkan Seokjin dengan jawabannya. "Ahh, jadi begitu."
Taehyung pov
Kupikir hanya aku saja siswa Bangtan HS yang dirawat disini, tapi aku tak terlalu mempedulikannya karena cerita Seokkie tadi. Namun saat aku hendak menutup mataku sejenak untuk istirahat, kulihat pintu terbuka dan menampakkan beberapa orang temanku di Bangtan HS. 'bagaimana mereka tahu aku disini?' batinku.
"Ehh? Gongchan kita salah kamar?" Ucap seorang namja di belakang. "Tapi dia juga teman kita Jongup ah." Jawabnya. "Eh? Apakah ada siswa lain yang dirawat disini?" tanyaku. "Jeon Jungkook dari kelas kami. Ia mengalami kecelakaan dan koma. Jadi kami memutuskan untuk menjenguknya. Tapi kami malah salah kamar hehe.." ucap Namja yang bernama Jongup.
'Jeon Jungkook? Kecelakaan? Koma? Jangan jangan..' aku langsung bergegas berlari mencari Seokjin, atau siapapun yang mau menjelaskanku tentang ini. 'Apa jungkook yang akan menjadi pendonorku?' batinku sambil berlari menuruni tangga dan aku berpapasan dengan Seokjin. Ia terdiam.
"Seokkie.. kau mengetahuinya bukan?" tanyaku to the point, dan dia hanya menundukkan kepalanya. "M-Mianhae Taehyungie.. a-aku…" jawabnya terbata. "Jadi ini penyebab kenapa aku tak boleh kemana mana selama 2 hari ini.." Kataku. "Tidak TaeTae.. i-ini hanya suatu kebetulan.." elaknya.
"Tidakk mungkin! Kenapa kau berbohong padaku Kim Seokjin!?" "Tae…" "Ini mungkin adalah kesempatan terakhirku untuk bertahan hidup. Mungkin aku tak akan bisa melewatinya lagi setelah ini.. dan aku tak bisa mengambil Jantung temanku sendiri untuk bertahan hidup!"
"Lalu jika jantung orang lain bagaimana? Kau terlihat begitu bahagia tadi malam, dan aku tak ingin menghancurkan kebahagiaanmu. Aku tak peduli jantung siapapun itu, asalkan itu bisa membuatmu bertahan hidup semua akan baik baik saja! Itu yang aku khawatirkan TaeTae.. aku tak akan membiarkanmu membatalkan transplantasi ini." Jelasnya.
"Jika kau mati.. bagaimana dengan.." belum selesai ia menyelesaikan ucapannya aku memotongnya duluan "Cukup Seokkie.. jangan katakana apapun lagi.. Kau.. juga dokter Kim.. tidak akan pernah tau.. apa artinya mati.. seberapa menakutkannya itu.. kondisiku sama dengan Jungkook sekarang." Airmata mengalir di pipiku.
"Seokkie.. Apa artinya sebuah kehidupan? Apakah aku harus mengambil jantung temanku untuk bertahan hidup lebih lama?" tanyaku. Seokjin hanya diam, tak member jawaban sama sekali.
"Seokkie, kau tau aku tak menginginkan hal itu terjadi.." ucapku kemudian meninggalkannya sendiri.
Sorenya aku membicarakan bahwa aku ingin membatalkan transplantasi ini pada ibuku. Terang saja, ibuku langsung terkejut dan marah padaku. "Apa maksudmu sayang? Mengapa kau tiba tiba ingin membatalkan transplantasi ini? Apa yang terjadi sayang? Ceritakan pada umma." Aku tak menjawab ibuku, aku langsung menarik selimut menutupi seluruh tubuhku.
Author pov
"Tapi dokter.. aku minta maaf, kami harus menarik persetujuan donor kami untuk Taehyung ssi. Aku minta maaf." Ucap seorang wanita paruh baya disamping Jungkook pada dokter Kim. "Tapi, mengapa anda menariknya Hyosung ssi?.." Kaget dokter Kim.
"Aku minta maaf, tapi anakku benar benar menangis. Sebagai ibunya, aku menolak untuk mendonorkan jantungnya." Dan dokter Kim tak tahu lagi harus berkata apa. Ia berpikir kata kata yang tepat untuk diucapkan pada Taehyung dan kedua orang tuanya.
Setelah bertemu dengan orang tua Jungkook, dokter Kim kembali ke ruangan Taehyung. "Sebelumnya, saya mohon maaf. Keluarga donor menarik kembali persetujuan mereka tentang memberikan donor pada Taehyung." Ucap dokter Kim.
"Tapi dokter.. apakah hal itu diperbolehkan pada tahap ini?" Tanya ayah Taehyung. "Keluarga pendonor harus memberikan persetujuan untuk melakukan transplantasi. Jika keluarga menolak maka transplantasi tidak dapat dilakukan." Jelas sang dokter.
"Tapi, bukankah mereka sudah memberikan persetujuan sebelumnya? Mengapa harus membatalkannya sekarang?" tanyanya lagi. "Aku tak tahu harus berkata apa, maafkan saya." Ucap dokter Kim. "Tidak bisa begini dok, saya tak bisa menerima.." sebelum ayahnya selesai bicara, Taehyung langsung membantahnya.
"Sudahlah appa, lupakan tentang transplantasi itu." Ucapnya. "Tapi Taee…" "Aku akan bertahan appa.. Ahjussi, bolehkah aku keluar sekarang? Aku ingin kembali sekolah lagi. Seokkie kajja~" Ucap Taehyung. Semua yang ada diruangan itu hanya menatap cengo padanya.
"TaeTae.." suara Seokjin memecah keheningan diantara mereka berdua di dalam bus yang sepi ini. Taehyung tak menjawab, "Aku peringatkan kau, jangan pernah menyerah… jangan pernah berpikir tentang kematian, karna aku tak akan membiarkanmu mati." Ucap Seokjin sambil mengusap surai Taehyung dalam pelukannya lembut.
Taehyung tersenyum mendengarnya. "Seokkie.. Aneh sekali, saat kau mengatakan itu rasa sakitku hilang tiba tiba." Seokjin tersenyum tipis. "Aku adalah obat paling ampuh untukmu sayang, dari segala obat di dunia ini." Dan mereka berdua tenggelam dalam kasih sayang satu sama lain.
Keesokan paginya, Taehyung tak masuk ke kelas karena ia mengeluh dadanya nyeri sedari pagi. Dan malam harinya, Taehyung mengalami serangan jantung kembali. Ia mengeluh dadanya sesak dan nafasnya tersengal sengal. Jimin teman sekamarnya pun panik. Ia langsung menghubungi ambulans dan Seokjin.
"TaeTae.. bertahanlah sayangg.. kita hampir sampai.. bertahanlah kumohon.." Seokjin tak henti hentinya mengatakan itu pada Taehyung di ambulans. "Kim Taehyung 18 tahun, tingkat kesadaran mengalami penurunan. Bawa ke ICU sekarang." Ucap salah seorang perawat kemudian Taehyung dibawa ke dalam ICU untuk mendapat perawatan.
ICU Room
"Taehyungie kau mendengarku!? Taehyung! Bertahanlah disana!" Ucap dokter Kim yang member pertolongan pada Taehyung. Ia melihat sebentar kearah elektrokardiograf sebentar, kemudian mengatakan pada para perawat untuk membawakan alat kejut jantung karena denyut jantungnya menghilang.
"Siapkan ke level 150!" Perintahnya. "Baik dok!" "Siap? 1 2 3." Denyut jantung Taehyung mulai kembali lagi walaupun masih lemah. Semua yang berada di dalam ruangan tersebut menghela nafas lega.
Orang tua Taehyung langsung menghampiri dokter Kim saat melihat pria paruh baya tersebut keluar dari ruangan ICU.
"Mungkin.. ini akan menjadi kesempatan terakhir bersamanya." Ucap dokter Kim. Tangis ibu Taehyung pecah seketika. Orang tua Taehyung langsung memasuki ruangan Taehyung. "Appa.." ucap Seokjin. "Dan kau, Kim Seokjin. Tetaplah bersama Taehyung, jaga dia."
"Taehyung tidak akan meninggalkanku, Tidak akan, itu tak boleh terjadi.." Ucap Seokjin pada dirinya sendiri kemudian ia berlari menjauhi ruangan Taehyung.
TBC
Annyeoongg~ Ji balik lagi OuO adakah yang nungguinn? Hohoho maaf lama nee~ akhir" ini tugas numpuk jadi jarang bisa ngelanjutin hehe ._.v oiyaa sama mau minta saran nih, kalian mau ini death chara ato engga? Tolong saran dan reviewnya yah chap selanjutnya itu chap terakhir, jadi akan Ki publish kalo kalian kasih saran yang membangun untuk ini. Oiyaa lupa, makasih ya buat semua review di chap chap sebelumnya. 3 you all ^.^ /tebar kolor jin v/?
