I give my first to you chapter 4
Author : Jisaid
Cast : Kim Seokjin, Kim Taehyung, Jeon Jungkook
Disclaimer : Semua tokoh punya ortu masing masing, saya cuman minjem nama aja.
Warning : DLDR, Typo bertebaran, Kalo gasuka ya monggo klik tombol X. Selamat membaca.
Prev part
"Taehyung tidak akan meninggalkanku, Tidak akan, itu tak boleh terjadi.." Ucap Seokjin pada dirinya sendiri kemudian ia berlari menjauhi ruangan Taehyung.
Chapter 4
"Saya mohon, jebalyoo.. jeball.. jebalyoo.." isak tangis pilu seorang namja tampan yang tengah berlutut sambil bersujud memohon mohon di salah satu ruang ICU. "Saya mohon, berikan Taehyung jantung Jungkook… hiks… jebalyooo…. Aku tahu aku mungkin egois melakukan hal ini. Tapi Taehyung tengah dalam kondisi kritis saat inii, kumohon beri dia jantung Jungkook.. ku mohoonn selamatkan Taehyung… ku mohonn jebalyoo…" Isaknya
Dokter Kim merasa tak tega melihat putranya menangis seperti itupun mencoba menghentikannya. "Seokkie.. hentikan." Perintahnya, namun Seokjin, namja yang menangis tadi tak mengindahkan perintah sang appa. "Ku mohonn.. kakek.. ahjumma…." isaknya
Tanpa diduga kakek Jungkook ikut berlutut, ia memegang bahu Seokjin. "Aku mengerti anak mudaa… tetapi.. kami tidak bisa begitu saja berkata 'ya'" ucap sang kakek menitikkan air matanya.
"Cucuku mengeluarkan air mata.. ia menangis.. dan pagi ini, jarinya bergerak. Dokter mengatakan itu hanyalah refleks.. tapi bagi kami, itu adalah sebuah harapan. Keajaiban mungkin saja terjadi,, sebuah obat mungkin akan ditemukan dan dia akan bangun esok dan berkata.. "Harabeoji, aku dimana?" kita tak bisa menghancurkan harapan itu, kumohon mengertilah anak muda.." jelas sang kakek.
Ibu Jungkook berjalan mendekati Seokjin, "Taehyung,, dia siapa?" tanyanya. "Taehyung, dia tunanganku.." jawabnya. Sang kakek dan Ibu langsung menangis mendengarnya. "Jadi begitu… maafkan kami Seokjin ssi… kami minta maaf…" ucap sang ibu terbata bata.
Seokjin terus menangis sepanjang malam, sungguh ia tak ingin Taehyung meninggalkannya untuk selamanya. Ia belum siap untuk itu. Ia belum siap untuk kehilangan Taehyung, senyum manisnya terutama. Kalau ia bisa menukar posisinya, lebih baik ia yang merasakan rasa sakit yang Taehyung rasakan, ia tak tega melihat wajah bak malaikat itu kesakitan.
"Dewa dari empat daun semanggi, apa artinya hidup? Seokkie menangis lagi.. aku mohon, sedikit lagi.. beri aku, sedikit lebih banyak waktu.. bersamanya.."
Jari jemari mungil seorang namja manis yang tengah berbaring itu mulai bergerak kecil, kelopak mata yang semula tertutup rapat mulai terbuka dan menampakkan iris coklat teduh sang pemilik, detak jantung yang semula sangat lemah kini mulai kembali seperti semula. Membuat sepasang wanita dan pria paruh baya yang setia menunggu disampingnya melihat seluruh pergerakan yang dilakukan sang putra.
Seokjin pov
Aku berjalan ke ruangan Taehyung setelah mencoba menenangkan diri beberapa saat. Namun aku terkejut saat aku masuk ke ruangannya, Taehyung dan kedua orang tuanya tak ada.. 'kemana dia? Apa sesuatu yang buruk terjadi padanya? atau jangan jangan?' berbagai pikiran buruk mulai bermunculan di pikiranku.
"Hey Seokkie~" sebuah suara mengagetkanku, ah itu Taehyung! Eh? Tunggu, Taehyung? "Tunggu sebentar ne, aku akan bersiap siap!" ucapnya riang. "Taetae…" bingungku.
"Ini adalah kesempatan terakhir kita. Ayah dan Ibu pergi memanggil dokter Kim ketika aku sadar," Ucapnya enteng sambil memakai jaketnya. "Ayo kita pergi, jalan jalan." Katanya lagi. "Ehh? Kemana?" "Jalan jalan Seokkie~" ucapnya.
"Ehh? Taehyungg tunggu! Kita harus kembalii.." kataku, tapi dia tak menghiraukanku dan tetap saja berjalan di depanku. "Woahh, pagi yang cerahh nee Seokkie~ kita mau kemana dulu Seokkie?"katanya. "Taehyung, dengarkan aku duluu." Kesalku. "Seokkie, diamlah. Aku baik baik sajaa, bahkan aku merasa lebih baik dari kemarin kemarin."
"Tapi ini tidak benar TaeTae, kita harus bertemu appa dan memeriksa keadaanmu." Cerocosku. "Ssst! Diamlah atau aku akan membencimu karena menghancurkan hari yang cerah ini. Sudah ayoo kita akan pergi kemana hari ini? Kita akan pergi kemanapun yang kau inginkan." Katanya dan berjalan mendahuluiku. Aku hanya menuruti perkataannya daripada aku dibenci olehnya.
Author pov
Disinilah mereka di sebuah taman bermain di pusat kota. Mereka memutuskan untuk pergi kesini karena Taehyung menginginkan mereka berkencan disini sedari dulu. Mereka menaiki berbagai macam wahana, namun setiap hendak menaiki atau setelah menaiki suatu wahana Seokjin selalu bertanya pada Taehyung tentang keadaannya.
"Huahh aku selalu menginginkan untuk bisa menaiki wahana itu Seokkie~" Kata Taehyung berseri – seri. "Ne, tapi Taetae apa kau benar benar baik baik sajaa?" Tanya Seokjin. "Nee~ aku baik baik saja Seokkie, bahkan lebih baik dari sebelumnya." "Jeongmall? Kau tidak berbohong kan?" "Tidak, aku tidak berbohong Seokkie~ ah iyaa selanjutnya kita naik wahana apa ya?" Tanyanya.
"Ahh! Jet Coaster!" pekik Taehyung senang, sedangkan Seokjin melotot kaget. "Yak! Tidak boleh!" Seokjin menolaknya mentah mentah. "Waeyoo?" Taehyung menarik narik lengan Seokjin layaknya anak kecil yang merengek minta dibelikan eskrim.
"Tidakk, kupikir kita harus…" "Hyaa ini akan baik baik sajaa seokkie~ jangan khawatir." Taehyung menarik Seokjin ke tempat Jet Coaster itu. Mereka benar benar bersenang senang di taman bermain itu. Mereka menaiki hampir seluruh wahana, dan menonton pertunjukan lumba lumba.
Selesai mengelilingi taman bermain tersebut, mereka memutuskan untuk bersantai sambil menikmati makan siang di restoran pinggir pantai. Saling menyuapi, hingga membuat banyak pengunjung melihat mereka iri.
Setelah makan mereka berjalan jalan di pinggir pantai, bermain dengan pasir pantai dan bermain air tentunya. Senyum bahagia tak pernah lepas dari wajah mereka.
Sore harinya mereka memutuskan untuk kembali kerumah sakit, atas permintaan Seokjin tentunya. "Seokkie, bisakah kita duduk dan bicara sebentar?" Tanya Taehyung saat mereka baru saja masuk ke wilayah rumah sakit. "Umm, baiklah. Kita ke bukit belakang rumah sakit saja ne." "Gendongg~" Taehyung merentangkan tangannya. "Aigoo, baiklah.. ayo naik ke punggungku."
Disinilah mereka berdua, menikmati sore hari bukit belakang rumah sakit. Taehyung bersandar pada pundak lebar Seokjin. "Hari ini menyenangkan bukan TaeTae?" Seokjin mengusap usap rambut Taehyung, sedangkan Taehyung menjawabnya dengan sebuah deheman. "Kita akan melakukan ini lagi kan?" tanya Seokjin lagi. Taehyung terdiam memainkan ujung baju Seokjin, tak tahu harus menjawab apa.
"Sseokkie.." Panggilnya, Seokjin berdehem pelan. "Kita bersenang senang bukan?" Tanyanya, Seokjin berdehem lagi dan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Kita selalu bersenang senang." Ucap Taehyung. Seokjin merasa akan ada sesuatu yang tidak beres terjadi, ia mengangkat wajah Taehyung membuat mereka berhadapan satu sama lain.
"Mianhae ne, Seokkie… ku-kurasaa a-aku tak bisa menepati janjiku.." Taehyung mencoba menarik nafas panjang. "Dewa dari empat daun semanggi.. h-hanya memberiku sedikit waktu lebih." Taehyung memalingkan wajahnya. "Ayo kita kembali Seokkie " Taehyung memperlihatkan seyuman manisnya. Seokjin merasa senyuman itu jauh lebih manis dari biasanya. Senyuman tulus seorang Kim Taehyung, yang mampu mengalihkan dunia seorang Kim Seokjin.
Seokjin memeluk Taehyung erat, "Hajima, jebal.. jangan berkata seperti itu, kumohon.. kita akan bersama sama selamanya kann?" Seokjin mulai meneteskan air matanya. "Nee, aku tak akan pergi kemanapun, karena aku akan selalu hadir di dalam hatimu Seokkie.. Hey jangan menangis,,"
Taehyung mulai merasakan sakit yang teramat menjalari dadanya. 'Kumohon Tuhan, sedikit lagi' batinnya nelangsa. Taehyung melepas pelukan mereka perlahan, ia merogoh saku celananya. Ia menyodorkan sebuah amplop yang sudah terlihat lusuh ke Seokjin. Ia memberi Seokjin sebuah benda yang ia anggap sebagai jimatnya selama ini.
"I-ini.. bukalah saat aku tak ada nee seokjin ah.. ayo kita kembali, kurasa umma, appa, dan dokter Kim mencari kita." Namun saat Taehyung berdiri, ia mengerang kesakitan sambil memegangi dadanya. "Taehyung!" Pekik Seokjin, dengan sigap ia langsung menggendong tubuh lemah Taehyung yang limbung. Taehyung mulai merasa kesulitan menghirup oksigen. "Ahh.. Appooh.. Sseokieehh.." lirih Taehyung memegangi dadanya.
"Bertahanlah sayangg…." Ucap Seokjin sambil berlari memasuki rumah sakit dengan tergesa gesa. "Suster! Tolong Taehyung! Sayang, bertahanlah.. jangan tinggalkan aku.." para perawat langsung panic, dan membawa Taehyung ke UGD dengan kasur dorong. "Sseokkiehh… aahh ahhppoo.." Taehyung mencengkram erat tangan Seokjin. "Bertahanlah sayang… kumohonn…" Taehyung mulai kehilangan kesadarannya saat memasuki ruangan UGD.
Plakk
Umma Taehyung menampar keras pipi Seokjin. "Apa kau tak pernah berpikir haa!?" Appa Taehyung berusaha meredam emosi istrinya, "Apa kau tau seberapa buruk kondisinya sekarang?" Tangis nyonya Kim pecah seketika, Appa taehyung memeluk nyonya Kim dan membawanya menjauh dari sana untuk menenangkan istrinya.
Di dalam ruangan UGD Taehyung terbaring lemas dengan berbagai alat yang berusaha untuk membuatnya bertahan hidup, dokter dan suster yang mati matian berusaha untuk mengembalikan denyut jantung Taehyung yang lemah itu.
2 jam telah berlalu, namun kondisi Taehyung semakin memburuk. Wajahnya semakin pucat, tiba tiba terdengar bunyi beep panjang dari elektrokardiograf disamping Taehyung. Para perawat dan dokter yang berada di dalam semakin panik.
"Kim Taehyung! Sadarlahh! Kumohon!" Dokter Kim mencoba memompa denyut jantungnya dengan menekan nekan dada taehyung, namun nihil. Taehyung tak memberikan reaksi sama sekali, Taehyung sudah…
Dokter Kim melirik jam, "06.36 p.m" dokter Kim menghela nafasnya kasar. Ia kemudian menghampiri kedua orang tua Taehyung yang berdiri tak jauh dari Taehyung berbaring.
"Maafkan aku, aku turut menyesal atas kehilangan kalian. Kumohon, terima belasungkawa tulus dariku." Ucapnya tulus dan membungkuk atas permohonan maafnya. Tangis umma Taehyung seketika pecah, ia memeluk sang suami erat erat menumpahkan kesedihannya disana.
"Terima kasih, dokter Kim." Ucap appa Taehyung tulus, ia mencoba terlihat tegar walaupun sesungguhnya ia merasa sangat kehilangan Taehyung. Ia dan nyonya Kim berjalan mendekati tubuh Taehyung yang sudah tak bernyawa itu. Menangis tersedu sedu dihadapan tubuh sang putra tersayang.
Seokjin menunggu diluar ruangan menunduk dalam dalam, menunggu sang appa yang membenarkan firasat buruknya. Dokter Kim keluar dari ruangan, ia melihat anaknya termenung seperti orang yang kehilangan semangat hidupnya. "Seokkie…" lirih dokter Kim. Seokjin berjalan pelan menjauhi ruangan tersebut dan dokter Kim. Pandangan matanya kosong.
Seokjin berjalan ke atap rumah sakit. Tempat ia biasa menghabiskan waktunya dengan Taehyung saat dirumah sakit. Menyandarkan tubuhnya pada pagar pembatas atap tersebut. Ia menghela nafas kasar, merogoh sakunya mengambil benda yang diberikan Taehyung tadi.
Seokjin melihat sampulnya, mati matian ia menahan air matanya yang seolah mendesak ingin keluar. "Doaku" disampul amplop itu tertulis tulisan Taehyung semasa kecil. Perlahan ia membuka amplop itu dan membacanya.
Do'aku..
Untuk semua orang yang kucintai,,
Kumohon, untuk dengan senang hati merelakan aku pergi..
TaeTae
Seokjin tersenyum ditengah air mata yang mulai menetes dari matanya, Tulisan tangan Taehyung semasa kecil, dengan empat daun semanggi tertempel manis di kertas tersebut. Kemudian tangisnya Seokjin pecah tak terbendung, tubuhnya merosot kebawah memeluk erat erat surat doa itu. "Taehyung ah… kajimaa… hiks.. KIM TAEHYUNG!"
Beberapa hari setelah kematian Taehyung, Seokjin mengunjungi rumah Taehyung. Ia mengunjungi kamar milik Taehyung, melihat semua benda kenangan miliknya dan Taehyung.
"Terima kasih untuk mengizinkanku melakukan ini, ahjussi, ahjumma." Ucap Seokjin sambil menerima sebuah guci tempat abu milik Taehyung. "Tak apa Seokkie, ahjussi yakin Taehyung akan bahagia. Itulah yang selalu ia inginkan selama ini." "Terima kasih banyak ahjussi." Seokjin membungkuk hormat pada keduanya. Kemudian ia berbalik meninggalkan mereka.
Namun baru beberapa langkah, Ibu Taehyung memanggil dan menghampirinya. "Seokkie." Seokjin menoleh, "Seokkie, dari dulu aku selalu ingin mengatakan ini,, terima kasih. Terima kasih sudah menyayangi putra kami, terima kasih sudah menjaga dan menemani Taehyung sampai akhir. Terima kasih banyak. Dan juga, maafkan sikapku kemarin. Terima kasih Seokjin ah." Ucap ibu Taehyung sambil tersenyum tulus padanya. Seokjin tersenyum tulus menanggapinya dan melanjutkan jalannya kembali.
Dokter Kim nampak rapi dengan setelan tuxedo hitam sedang terduduk di sebuah kursi taman sebuah gereja. Di dalam gereja tersebut sepi, hanya terlihat seorang namja tampan dengan setelan tuxedo putihnya. Tersenyum manis dengan memeluk sebuah guci.
"Taehyung.." Ucap si namja tampan tersebut. "Impian kita telah menjadi kenyataan… Ini hanya masalah waktu.." menarik nafasnya, ia melanjutkan kata katanya. "Akhirnya, kehidupan kita.. lebih baik dari orang orang bukan?" ucapnya, ia menarik nafasnya lagi untuk menjaga agar air mata yang ditahannya tidak meleleh lagi.
"Taehyung ah, hidup ini.. begitu sedih. Penuh dengan kesedihan seperti ini." Ia mengeratkan pelukannya pada peti abu Taehyung berusaha untuk tidak menangis. "Tapi Tae.. aku tak menyesali apapun yang terjadi.. aku bertemu denganmu, aku jatuh cinta denganmu. Dan jika suatu saat nanti kita bertemu kembali. Meski kesedihan akan selalu menungguku setelahnya. Aku.. Aku pasti akan.. jatuh cinta denganmu lagi." Setitik air mata jatuh mengalir di pipinya.
"Kim Taehyung, aku mencintaimu.. my first and only love." Seokjin tersenyum bahagia ditengah tangisannya.
End
Epilog
Seorang namja kecil sedang mengintip dibalik sebuah pohon besar. Ia mengamati sebuah kursi yang mungkin sudah ia beri jebakan sebelumnya. Tak lama kemudian ada seorang namja kecil lainnya yang duduk di kursi tersebut.
Spontan namja kecil yang tadi bersembunyi itu terkejut dan menghampirinya. "Hyaaa! Mengapa kau duduk disana?" Katanya. "Ehh, mi-mianhaee.. ahh celanaku kotorr…" ucap namja kecil lainnya. "Tadinya aku ingin menemui kepala perawat dan membuatnya duduk di kursi itu, tapi kau malah mendudukinya dulu." Namja kecil tadi mendekatinya dan menyodorkan crayon padanya. "Inii, kau mau melakukannya juga? Coret coret saja disini." Sambungnya. "Ahh, baiklah."
Si namja cilik yang baru saja selesai mencoret coret itu terkejut saat tiba tiba si namja cilik satunya tiba tiba menduduki bekas coretannya dan membuat celananya kotor juga. "Hyaa apa yang kau lakukan?" Tanyanya.
"Cha! Sekarang kita impas kan? Jadi maukah kau memaafkanku?" tanyanya balik. "Aku tidak marah sejak awal kok." Jelasnya. "Hey, aku kan menjahilimu. Kenapa kau tidak marah padaku? Mengapa?" Ia maju satu langkah mendekatinya membuat namja di depannya bingung. "Mengapa? Mengapa aku bertanya kenapa?" katanya. Namja cilik yang jahil tadi tersenyum.
"Namamu siapa?" tanyanya mengulurkan tangannya. "Kim Taehyung." Jawabnya. "Aku Kim Seokjin." Balasnya. "Seokkie~" Ucapnya riang, "Senang berkenalan denganmu TaeTae." Mereka berjabat tangan satu sama lain dan tertawa riang.
**Aku tak menyesali apapun.
Tak peduli berapa kali kita bertemu.
Aku pasti akan jatuh cinta denganmu lagi.**
Yosh! Akhirnya selesaii *sobs maaf mengecewakan, dan telat update juga ;; makasih buat review reviewnya, I love you all :** /tebar dolar suho/?
