Chapter 3
Akhirnya chapter 3 sudah update.. Bagi yang menantikannya langsung saja di baca tapi sekalian dikoreksi kesalahan jika menemukannya xD
Happy reading~~
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Rated : T
Genre : Romance, Humor (mungkin)
Warning: OOC, typo bertaburan, DLDR
Hari baru dimulai...
Langit memunculkan sebuah cahaya di sebelah timur namun benda itu tidak terlalu membuat masyarakat desa ini merasa hangat. Suhu cuaca desa Konoha hari ini cukup dingin dengan hanya sedikit kehangatan mentari, walaupun begitu ini bukan alasan bagi makhluk sempurna yakni manusia untuk tidak beraktifitas.
"Sakura!"
"aiss..yabaii!" sakura kembali berbalik ke arah suara itu yang tadinya ia berniat pergi ke perpustakaan setelah melihat sosok dewi kematian yang sedang mencabut nyawa (?) "Ohayou! se-sensei" sakura membukkukkan badannya untuk menyapa orang yang ada di depannya saat ini dan menatap takut sosok yang sedang berdiri di samping meja dengan tangan kiri yang ia letakkan di atas meja untuk menopang badannya dan memegang buku ditangan kanannya sambil menatap penuh amarah kepada sakura
"mau ke mana ? sudah lambat dan sekarang tidak mau masuk kelas ?" pertanyaan Tsunade sensei membuat sakura mengambil seribu satu langkah melesat masuk ke dalam kelas dan segera duduk di bangkunya. Mengeluarkan buku PR pelajaran Fisika miliknya
Tsunade mendekati Sakura, melihat PR Fisika pemberiannya yang ternyata semua sudah dikerjakan dan jawabannya semua benar. "Hmm..kerja bagus" Tsunade melirik Sakura sebentar dan memberikan paraf dan nilai di atas PR Sakura lalu meletakkannya di atas meja Sakura
Untung saja Ino memberitahu kalau mereka mempunyai PR Fisika jadi Sakura tidak dihukum.
"Kemarin juara 2 dalam kompetisi anggar dan PR tetap dikerjakan, tapi itu tidak meloloskanmu dari hukuman karena 2 menit keterlambatanmu. Untuk itu ibu tetap akan menghukummu tapi akan ibu ringankan. Hukumannya nanti saja ibu kasihtahu ya" Tsunade menarik sudut bibirnya dan membentuk senyuman yang manis
Tsunade berjalan ke depan lalu menghadap ke 24 murid didepannya "Perhatian ! hari ini beberapa Siswa-siswi SMA Kaganame Env. Tokyo kelas XII tiba di desa ini dan mereka sekarang ada di Uchiha Hotel, dan besok mereka lah yang akan menjadi tim pengamat sekolah kita seperti yang Ibu katakan kemarin" Penjelasan panjang Tsunade membuat sebagian besar murid perempuan yang mendengarnya sedang membicarakan sesuatu sambil senyum-senyum penuh arti. Terutama gadis cantik yang duduk sendirian di bangku belakang Sakura yang memasang mimik wajah yang penuh kebahagiaan. Sedangkan murid lelaki mendengar bosan akan hal itu. Berbeda dengan Sai yang entah sedang membayangkan apa dengan senyum yang tidak dapat diartikan.
.
.
.
"A..paa ? jadi murid-murid sekolah itu akan di sini selama 1 bulan ? apa yang mereka mau amati di sini ? kenapa di sekolah kita ? dan kenapa mereka harus di kelas kita ? kan masih banyak kelas lainnya!" Pertanyaan bertubi-tubi Sakura tidak digubris oleh Hinata yang sibuk menekan-nekan telepon genggam tak bertombol itu yang dikenal dengan sebutan Handphone Touch Screen miliknya sepertinya sedang smsan, sedang sahabatnya yang satu sedang menyeruput jus jeruk sebelum menjawab pertanyaan Sakura.
"Katanya sih mereka ada tugas tentang mengamati 2 kegiatan tradisi suatu desa maupun kota di Jepang, dan mereka lama di sini yah pasti karena menunggu kegiatan tradisi desa kita yang akan kita rayakan tepatnya di akhir bulan Juni ini kan? Hmm, dan kenapa di sekolah kita, ya karena sekolah kita kan sekolah nomor satu di Konoha takkan menyambut murid-murid dari sekolah elit Ibu Kota Jepang dengan menempatkan mereka di sekolah lain yang akreditasinya di bawah sekolah kita, lalu kenapa di kelas kita ya karena mereka akan tetap harus mendapatkan pelajaran yang sama dengan jurusan mereka kelas IP-"
"Ya baiklah aku mengerti. Tapi kau dari mana Ino ?"
"Kau ini seperti obasan mu saja ya. Suka memotong pembicaraan. Aku tahu dari Hinata-chan tuh... " Ino melirik ke arah orang yang ia maksud. Diikuti dengan Sakura.
"Hinata, kau tau darimana tentang semua ini ?" Hinata dengan segera melepas pandangannya dari telepon genggamnya itu dan menyimpannya di saku Jas seragamnya.
"A..aku tau dari seorang siswa Kaganame School Env" Sakura dan Ino mendengar dengan antusias. Air muka mereka seakan bertanya 'siapa?'. Hinata yang merasakan itu memberi jawaban. "Hmm, besok akan aku kenalkan langsung" Ucap Hinata dengan senyum tulus kepada kedua sahabatnya. Sakura dan Ino pun membalas senyuman Hinata.
"Oia, gimana sekarang ? apa Sai sudah menegurmu... ?" Sakura menggantungkan pertanyaannya menunggu jawaban dari Ino
"Belum. Sepertinya dia marah dan salah paham" Sakura sukses membuat Ino terlihat lemas yang hampir tidak pernah terlihat lemas bak kangkung yang layu (author ketawa geje)
Sakura memegang pundak Ino dan berusaha menyemangati Ino karena ia sedikit merasa bersalah karena membuat sahabatnya itu sedih dengan pertanyaannya.
"Ke..napa ti..dak memberitahu Sai yang sebenarnya kalau hari itu kau menamparnya karena ada nyamuk di pipinya dan kau langsung meninggalkan kelas saat itu juga karena kau Phobia dengan darah yang ada di tanganmu karena nempel bersama dengan nyamuk itu ?" Hinata menyelesaikan ucapannya dengan cepat
"Tidak akan! Biarkan saja dia menganggapku marah padanya karena mencium tanganku. Lagian kalau dia penasaran nanti juga dia bertanya kan ? sudahlah, kita tidak perlu membahasnya" Ino kembali ke sifat asalnya yang sok tidak peduli dan judes. Ino meninggalkan kedua sahabatnya di kantin. Kedua sahabatnya saling memandang satu sama lain lalu memandang Ino dari belakang yang semakin menjauh.
"Sakura-chan,, apa a..aku salah bicara ?" Kini Hinata terlihat sedih dengan mata lavendernya yang berkaca-kaca lalu menundukkan kepalanya. Sakura yang duduk di depan Hinata di meja bundar kantin itu pindah ke tempat yang tadinya diduduki Ino. Di samping Hinata.
"Tidak kok, ehehe..sudahlah jangan cemberut, Ino hanya sedang marah. Tapi dia marah bukan padamu, nanti juga dia pasti mengajak kita bicara lahi. Ino hanya butuh waktu untuk menenangkan pikirannya, tau sendiri kan ini pertama kalinya Ino sangat mencintai seorang pria dengan kata lain ini pertama kalinya dia dilanda ombak asmara keheningan malam cobaan sebagai pacar sang patung mayat" Entah kenapa perkataan Sakura menjadi tidak karuan. Yang pasti ia mencoba untuk membuat Hinata berhenti bersedih. Walaupun sia-sia, hingga...
"Oi! Hinata-chan. Ada apa denganmu ?" Suara yang sangat sangat familiar di organ pendengaran Hinata sontak membuatnya mengangkat wajahnya yang sebenarnya kaget. Hinata memutar kepalanya ke kiri. Tepat di depan muka Naruto yang membungkuk dengan kedua tangannya di atas pahanya yang menopang badannya. Seketika itu juga tampak pipi Hinata merona seperti tomat jualan Gaara (Emangnya tukang sayur keliling? dikeroyok GaaraFC)
Sakura yang melihat wajah Naruto sangat dekat dengan wajah Hinata dengan jarak 5cm langsung menonjol jidat Naruto dengan telunjuknya. Naruto tertolak ke belakang dan ke posisi berdirinya sambil mengusap jidatnya
"Kenapa kau selalu seperti itu Naruto ?"
"memangnya kesalahan apa yang aku lakukan Sakura ?" tanya Naruto dengan dengan sedikit manaikkan oktaf suaranya karena kesal plus bingung
"wajahmu..." Sakura menggantung ucapannya "terlalu dekat dengan Hinata!" lanjutnya ikut-ikutan menaikkan oktaf suaranya
Naruto hanya cengengesan dengan menampakkan barisan depan giginya yang tampak putih dan bersih sambil menggaruk gusar belakang kepalanyanya "Hehee.." Pipi Naruto tampak merah karena malu. "Kau cemburu ya Sakura ?" Tanya Naruto dengan masih cengiran khasnya
"TIDAK sama sekali" Ucap Sakura sweatdrop dengan nada aneh dan background muram beserta ada suara gagak lewat (?)
Sepulang sekolah
Ino berhenti di depan salon yang sebenarnya rumahnya juga. "Aku sampai di sini saja, sampai ketemu besok ya Sakura dan hati-hati di jalan..jaa~" pamitnya dengan melambaikan tangannya sebelum memasuki kediamannya. Sakura membalas lambaian tangan Ino dan senyum tipis terukir di bibir mungilnya. Ino dan Sakura selalu berangkat dan pulang sekolah bareng menggunakan sepeda mereka, sedangkan Hinata diantar jemput supir pribadi dan ditemani bodyguardnya menggunakan mobil mewahnya.
"Untung saja dia tidak marah begitu lama" Batinnya dengan senyum yang masih terukir
Sakura mengayuh sepeda pinknya belok ke arah kiri. Setelah menempuh perjalanan sejauh 8m dengan sepedanya tiba-tiba terdengar suara lantunan lagu yang sangat dikenal Sakura
Jitensha Jitensha
Jitensha Jitensha
"Ima sugu Ima sugu..hm~ hmm ano hito n-" Sakura tiba-tiba berhenti dari kegiatan mengayuh pedal sepedanya dan bersenandung rianya tadi "eh ? tunggu dulu bukankah itu..." Sakura tampak sedang mengingat-ngingat sesuatu. Bunyi musik itu masih terdengar. "Itu kan suara Ringtone Handphone ku!" Sakura menepok jidatnya lalu segera merogoh kantong jas merah maroonnya. Dengan cepat Sakura menekan tombol hijau handphonenya yang sudah ada di genggamannya.
"Moshi mosh-" Tuut tutt tut
"jiahh~ sudah keburu tutup" Sakura memanyunkan bibirnya kecewa. Sakura menaruh kembali telepon genggamnya ke dalam saku jasnya dan hendak mempercepat mengayuh sepedanya segera pulang setelah tau orang yang meneleponnya tadi ternyata Obasannya. Sakura menoleh ke kanan. "Hotel milik keluarga Uchiha terlihat tambah besar saja" Ucapnya yang berada di depan tempat masuk yakni gerbang yang terbuka lebar. Sejajar dengan gerbang itu tepatnya di tembok bertuliskan 'Uchiha Hotel'. Lalu melanjutkan perjalanannya menuju ke rumahnya yang berjarak 10m dari situ.
"Apa ini ?" tanya pria berambut merah sambil memegang benda krystal kecil berwarna pink berbentuk hati yang tergantung oleh tali berwarna pink yang dipungutnya dijalan depan Hotel yang mereka tempati untuk tinggal selama sebulan. Mereka baru saja pulang dari mengelilingi daerah sekitar Hotel itu dengan berjalan kaki.
Wanita bercepol dua merebutya dari tangan pria itu "wah~ cantik sekali gantungan HP ini, tapi sayang talinya sudah putus. Sepertinya milik seorang wanita"
"benarkah ? itu ada inisial S. Mungkin itu inisial nama pemiliknya. Atau itu milik Sasuke ya? Gyahahaa" Tanya pria itu sambil terbahak-bahak dan memegang perutnya tak tahan geli membayangkan Sasuke menggantungkannya di HPnya
"heh, kau ini. Mana mungkin. Kau pikir dia cowok kemayu apa ?"
"aku becanda. Ya sudah sini aku yang simpan" Pria tampan itu merebut kembali benda itu dan memasang senyum aneh sedang membayangkan sesuatu
TBC
Terimakasih yang udah review. Entah kenapa saya sangat gugup+bingung saat menulis fanfic ini, takut mengecewakan readers ni kayaknya T.T
Semoga ch.3 ini tidak mengecewakan kalian...
For Azriel : Arigatou, sudah mengoreksi akan kesalahan saya. *membungkuk hampir kejedot laptop* Saya berusaha keras memperbaiki kesalahan itu di ch.3 ini, tapi sepertinya masih banyak kesalahan Salam kenal..
For Lyn Kuromuno : Hehee..sya setuju di sini entah kenapa Sasuke sangat menyebalkan. Tapi di chapter berikutnya Sasuke tidak akan semenyebalkan ini lagi :D Salam kenal..
For Ssavers : Yap ini lanjutannya. Semoga kamu suka. Salam kenal..
