MY TWINS

Cast : Cho Kyuhyun, Cho (Kim) Kibum, Shim Changmin, Appa dan Eomma Cho, Member SUJU

Genre : Brothership, Family, and Crime

Warning : OOC, n Typo ^^V

Chapter : 7 of...

.

.

Oiya, sebelum ngebaca, Re kasih tau dulu ya, ntar kalau ada kalimat yang di Bold, itu adalah kalimat yang diucapin Kyuhyun didalam hatinya ya...

Okay Happy Reading Guys

Jangan lupa Review ya...

.

.

.

.

Tuhan...

Bolehkah aku meminta kepada Muuntuk memutar waktu kembali dan tak membiarkan aku untuk mendengar hal yang tak pernah kubayangkan, sehingga membuatku terjerumus untuk melakukan kesalahan itu

Aku benci saat Ia melihatku dengan tatapan tajamnya

.

.

.

Flashback

Kediaman Keluarga Cho, Nowon, 15 Desember 2004, pukul 15.00 KST

Ting Tung

"KYU KYU...AKU DATANGGGG", teriak Changmin didepan pintu sesaat setelah membunyikan bel.

"KYU...KYU..."

Klek

"Bisakah kau tak berteriak Chang..., kau sangatttt mengganggu tidur siangku hah", sungut Kyuhyun setelah membukakan pintu untuk Changmin.

"Hahaha, kau tidur siang Kyu...tumben sekali hah, wae? Apa kau frustasi karena kau ditinggal oleh Appa dan Eomma mu menjenguk Ahra Noona? HAHAHAHA, tenang saja...ada aku...SHIM CHANGMIN", celoteh Changmin.

"..."

"Hya Kyu, jawab akuuuu?", rengek Changmin saat didapati Kyuhyun hanya terdiam dan tidur tengkurap diatas sofa ruang keluarga.

"Hah, apa yang mesti aku jawab Chang..", jawab Kyuhyun dengan suara yang sedikit sumbang karena mulutnya sedikit tertutup oleh bantalan sofa yang Ia gunakan untuk tidur.

"Ya pertanyaanku tadii!", ucap Changmin gemas.

"Kurasa tadi omonganmu itu hanya berupa pernyataan bukan", jawab Kyuhyun yang sekarang sudah berganti posisi menjadi miring menghadap Changmin yang duduk dikarpet bawah.

"Aniya...ditengah-tengah pernyataanku ada pertanyaan pabbo!"

"Coba kau ulangi apa pertanyaanmu Chang?"

"Ishhh, sudah lupakan saja...", rajuk Changmin yang kini tengah melipat kedua tangannya didepan dada dan berputarduduk membelakangi Kyuhyun.

"Sebaiknya kau pulang saja bila kau marah padaku", ucap Kyuhyun cuek.

"Kau mengusirku...jahat sekali, kau tega denganku yang sudah rela menempuh perjalanan jauh dan ditengah badai salju demi menemuimu Kyuu".

"Kau tidak usah berlebihan Chang, jarak rumahku dengan rumahmu hanya sepuluh meter saja, dan walaupun aku seharian ada didalam kamarku tapi aku tau kalau saat ini diluar tidak sedang badai salju".

"Tetapi salju diluar turun Kyu, dan kau tau, angin yang berhembus sangatlah dingin, bukankah itu sama saja", jelas Changmin yang kini sudah memutar tubuhnya kembali menghadap Kyuhyun.

"Terserah padamu".

.

.

"Kyuuuuuu", panggil Changmin setelah lima menit mereka saling diam.

"Em", gumam Kyuhyun yang saat ini tengah memejamkan matanya.

"Kau mengacuhkanku", lirih Changmin.

"..."

"Kyu"

"Kyu", panggil Changmin lirih untuk yang kedua kalinya.

Srett

"Apakah kau masih merasa dingin", tanya Kyuhyun tiba-tiba, saat bangun dari tidurnya dan duduk menyilangkan kakinya diatas sofa.

"Aniya, penghangat ruanganmu bekerja dengan sangat baik", jawab Changmin jujur.

"Ck...padahal aku ingin mengajakmu minum wine", cibir Kyuhyun yang mendapati jawaban Changmin tidak sesuai dengan perkiraannya.

"Haaaaa, kita masih belum cukup umur untuk minum Kyu...Aniya...aku takut dimarah Appaku terlebih oleh Appamu, kau tau, Appamu sangat mengerikan bila sedang marah, melebihi kemarahan Appaku, hiii...aku tak ingin mengingatnya lagi", Changmin sedikit bergidik ngeri ketika imajinasinya membayangkan Tuan Cho marah dan mengeluarkan dua tanduk merah disisi kepalanya.

"Eh, memangnya, kau pernah dimarahi Appa?", tanya Kyuhyun yang sedikit kurang yakin dengan pernyataan Changmin barusan.

"Aniya, aku hanya pernah mendengar Appamu memarahimu saat tau kau ketahuan membolos demi membeli kaset game bulan lalu, untung saja aku tidak ikut membolos bersamamu saat itu, huft", tutur Changmin dengan wajah polos.

"Hahahaha, tenang, tak akan ada yang memarahi kita, bukankan kedua orang tua kita sedang ada diluar negeri, dan hari ini mereka belum pulang kan? Jadi kita bebas", ucap Kyuhyun meyakinkan.

"Waww, kau tau dari mana Appa dan Eommaku sedang pergi keluar negeri Kyu? Apa kau penggemar rahasiaku Kyu, yang tahu segala hal mengenai keluargaku?", tanya Changmin dengan wajah yang berbinar-binar.

"Ck, hentikan pikiran konyolmu Chang", timpal Kyuhyun malas.

.

.

"Otte?", tanya Kyuhyun saat Changmin tidak cepat memberikan jawaban pasti atas ajakannya tadi.

"Arraseo, tapi hanya sedikit", tutur Changmin dengan suara yang pelan, sepertinya Ia masih sedikit takut dengan kemarahan Appanya dan Tuan Cho.

"Okayyyy, chakkaman", timpal Kyuhyun dengan senyum lima jari diwajahnya.

.

.

"Emmm, mana wine yang cocok untuk aku minum saat ini ya...", monolog Kyuhyun saat tiba diruang penyimpanan wine Appanya.

"Ah yang ini saja, Jepun Sparkling Wine, aku jamin kau akan minum lebih dari satu gelas Chang, hahaha".

.

.

"Itu bukannya, Jepun Sparkling Wine, waw..kau yakin kita akan meminum ini Kyu?", tanya Changminmemastikan sambil menunjuk wine yang kini ada digenggaman tangan kanan Kyuhyun.

"Sangat yakin Changmin", jawab Kyuhyun sambil meletakkan botol wine dan dua buah gelas yang Ia bawa sekembalinya dari ruang penyimpanan wine diatas meja.

"Keunde, kenapa rumahmu ini sepi Kyu, Wang Ajussi dan para maid kemana Kyu?", tanya Changmin seraya menyusuri beberapa sudut penghubung ruang tengah dengan ruang lainnya. Changmin sangat hafal kondisi rumah Kyuhyun, walaupun kedua orang tua Kyuhyun sering pergi keluar negeri untuk mengurus kerajaan bisnis mereka, rumah besar itu tetap tidak akan pernah sepi seperti saat ini dan Changmin masih tetap bisa melihat beberapa maid yang berlalu lalang mengurus pekerjaan mereka.

"Entahlah, ketika aku terbangun untuk membukakan pintu untukmu, rumah ini sudah terlihat kosong, serasa hanya aku saja yang menghuninya".

"Haha, kau beruntung Kyu, karena aku datang em", tutur Changmin dengan senyum lebar menghiasinya.

"Ya...kurasa".

"Ish".

"Cha, sebaiknya kita minum sambil menonton DVD, kemarin aku menyewanya", ucap Kyuhyun riang.

"Ceritanya tentang apa?"

"Pembunuhan", ucap Kyuhyun cuek seraya mengangsurkan gelas yang sudah terisi wine kepada Changmin.

.

.

.

90 menit kemudian

"Ini sudah habis, huh...sebentar, aku akan mengambil wine yang lain dan jangan lupa kau pause filmnya Chang", tutur Kyuhyun saat melihat botol winenya kosong.

"Aniya...kita sudah cukup mabuk Kyu", cegah Changmin seraya memegang lengan kanan Kyuhyun.

"Kau yang mabuk Chang, bukan aku, sudah lepaskan", dengan cepat Kyuhyun berlari ke arah dapur yang terhubung langsung dengan lorong menujukeruang penyimpanan wine tersebut.

"Kyuuuuu...aish anak itu tidak akan pernah berhenti bila sudah minum wine", ucap Changmin frustasi. Changmin akui bahwa ucapan Kyuhyun benar, Changmin sudah mulai merasakan bahwa matanya sedikit berat, Ia sudah mulai mengantuk.

.

.

.

"Sekarang saatnya Alexandria Muscat, hahaha, aku datang Changminnnn". Setelah mengambil wine yang diinginkannya Kyuhyun pun segera keluar dari ruang penyimpanan itu. Langkahnya ringan, ingatkan Ia tidak mabuk seperti yang Changmin lihat. Tetapi baru sebentar Kyuhyun keluar dari ruangan itu, Ia menghentikan langkahnya saat melihat seseorang yang Ia kenal ada diujung lorong yang bersebrangan dengannya.

"Wang Ajussi...", ucap Kyuhyun lirih.

"Haha, akhirnya aku menemukanmu Ajussi, Kau juga harus merasakan ini", ucap Kyuhyun senang seraya memandangi botol wine yang saat ini ada ditangannya.

Dengan langkah mantap, Kyuhyun pun segera menghampiri Wang Ajussi, namun saat jaraknya dengan Wang Ajussi tinggal beberapa meter lagi, sebuah ide jahil muncul di otak jenius Kyuhyun saat melihat Wang Ajussi merubah posisi berdirinya, yang awalnya menyamping menjadi membelakangi Kyuhyun, ia pun segera mengubah cara jalannya menjadi berjinjit, berniat untuk mengagetkan Wang Ajussi. Tinggal sedikit lagi Kyuhyun sampai dibelakang tubuh Wang Ajussi, tetapi Kyuhyun segera menghentikan langkahnya saat melihat Wang Ajussi terlihat sedang menerima sebuah panggilan dihandphonenya.

"Appa?" tanya Kyuhyun dalam hati. Bisa jadi, karena Appanya selalu menelpon Wang Ajussi untuk memastikan apakah dirinya nakal atau tidak saat ditinggal sendiri dirumah. Kyuhyun tidak ingin mengambil resiko dihukum oleh Appanya karena tidak sengaja ketahuan mengerjai Wang Ajussi saat Wang Ajussi menerima panggilan dari Appanya yang saat ini ada di Kyuhyun harus sedikit menahan dirinya, mood Kyuhyun saat ini sedang tidak ingin bersahabat dengan hukuman yang diberikan oleh sang Appa.

Tetapi sepertinya dugaan Kyuhyun meleset, saat Ia tidak sengaja mendengar ucapan Wang Ajussi yang terdengar sedang menjawab salam dari seberang line telepon.

"Oh Yoboseo Sajangnim, mianhae karena baru sekarang saya dapat dengan mudah dihubungi oleh Anda".

("Sajangnim? Aku tak pernah mendengar Wang Ajussi memanggil Appa dengan sebutan itu? Telepon itu pasti bukan dari Appa, huft"), kyuhyun pun mengurut dadanya, tanda dirinya merasa lega.

"Aniya, saya tidak melupakannya Sajangnim, keunde akhir-akhir ini, situasi dirumah ini sedikit kurang aman bila saya akan menghubungi Sajangnim".

"Haha, gomawo Sajangnim atas pengertiannya".

"Nde Sajangnim, Yeung Hwan dan Hanna sedang tidak ada dirumah, mereka pergi bersama Kibum untuk mengunjungi Ahra di Australia"

("Aku tidak pernah mendengar Wang Ajussi menyebut Appa dan Eomma hanya dengan namanya saja, ini aneh, siapa Sajangnim yang saat ini menjadi lawan bicara Wang Ajussi")

"Kyuhyun? Dia masih tertidur dikamarnya Sajangnim, sepertinya efek obat tidur yang saya taburkan dinasi gorengnya, belum hilang,Ia bukanlah masalah besar bagi saya Sajangnim"

("Obat tidur, tidak mungkin, Wang Ajussi apa yang akan kau lakukan?")Merasa pembicaraan Wang Ajussi dengan seseorang yang disebut Sajangnim adalah sebuah pembicaraan yang penting juga cukup berbahaya bila Ia ketahuan menguping, dengan langkah yang Ia buat sepelan mungkin, Kyuhyun mundur beberapa langkah ke sisi lorong yang cukup gelap untuk menyembunyikan dirinya dan tetap bisa mendengar apa yang selanjutnya dibicarakan Wang Ajussi.

"Nde, mianhae baru hari ini saya dapat mengambil surat-surat berharga yang berhubungan dengan Cho Corporation dan menyalinnya, dan kurasa sebentar lagi dokumen-dokumen itu sampai dimeja Anda, Sajangnim"

"Gomawo, Sajangnim atas pujiannya, hahaha"

"Nde, saya sudah mempersiapkan semuanya, dan saya dapat pastikan semuanya akan berjalan lancar sesuai dengan yang kita rencanakan sejak awal",

"Semua yang akan terjadi pada Kibum akan terlihat seperti kecelakaan dan akan saya perhitungkan dengan lebih cermat lagi, supaya kecelakaan itu tidak akan merenggut nyawanya dan hanya akan membuatnya cacat"

"Nde, saya juga sudah tidak sabar untuk melihat kehancuran keluarga ini tepat dihari natal, Sajangnim, hahaha"

"Nde Sajangnim"

Plip

.

Sambungan telepon itu pun terputus, Wang Ajussi sudah mulai beranjak dari ujung lorong itu dan menyisakan Kyuhyun sendiri dengan segala rasa ketidakpercayaannya atas apa yang didengarnya barusan.

"Tak bisa ku percaya, Wang Ajussi...chakaman, apa ini sebuah mimpi?", inner Kyuhyun.

"Awww, ini bukan mimpi", ucap Kyuhyun lirih setelah sebelumnya Ia menyubit pipi cubbynya.

"Pantas saja aku sangat mengantuk saat selesai sarapan tadi, surat-surat berharga perusahaan? Untuk apa Wang Ajussi melakukan itu semua? Lalu Kibum?Bukankah Wang Ajussi sangat menyayangi Bum Bum seperti anaknya sendiri, bahkan Kibum sangat dekat dengan Wang Ajussi melebihi Ia dekat dengan Appa...Aku harus meminta penjelasan pada Wang Ajussi! Harus!", lanjut Kyuhyunberbisik.

Kyuhyun pun akhirnya memutuskan mengejar Wang Ajussi yang sepintas Kyuhyun melihatnya mengarah ke halaman belakang rumah.

.

"Wang Ajussi", panggil Kyuhyun setengah berteriak saat Wang Ajussi hampir sampai dipintu keluar yang menghubungkan dapur dengan halaman belakang.

"Kyu...Hyun...sejak kapan kau ada disitu?", Wang Ajussi kaget saat mendapati Kyuhyun keluar dari lorong tempat penyimpanan wine yang tidak jauh dari tempat Ia menerima telepon tadi.

"Sejak Wang Ajussi menerima telepon dari seseorang, obat tidur itu apa sengaja kau berikan kepadaku agar kau bebas untuk masuk keruangan Appa dan menyalin surat-surat perusahaan?Kenapa kau berniat menghancurkan keluargaku?...Apa salah kami kepadamu Ajussi? WAE?", tanya Kyuhyun beruntun dengan nada menuntut.

"Ah, rupanya kau mengambil wine, apakah kau akan meminumnya sendirian? Kau akan mabuk berat Kyu, hahaha", ucap Wang Ajussi tenang dengan senyum malaikat yang Kyuhyun tahu semua adalah palsu.

"JANGAN MENGALIHKAN PEMBICARAAN AJUSSI! CEPAT JAWAB PERTANYAANKU", teriak Kyuhyun.

"Emm, sepertinya kau mabuk Kyu...sudah berapa botol yang kau minum ha?", tutur Wang Ajussi yang mencium bau alkohol yang menguar dari mulut dan badan Kyuhyun.

"AKU TIDAK MABUK!"

"Benarkah, pipi dan matamu sedikit memerah Kyu, Cha, kemarikan botolnya dan kembalilah tidur dikamar Kyu", ucap Wang Ajussi ramah seraya mengulurkan tangan kanannya untuk mengambil botol wine yang dipegang Kyuhyun.

"Aniya, aku tidak akan tidur dikamar,...a..ak..aku...akan menelpon Appa". Dengan langkah yang gemetar, Kyuhyun segera berlari keruang tengah untuk menghubungi Appanya melalui telepon rumahnya. Tak bisa dipungkiri bahwa saat ini Kyuhyun sangat takut dengan Wang Ajussi, tetapi Kyuhyun ingat, Ia harus berani dan kuat demi keluarganya, terlebih demi Kibum, saudaranya.

"CHO KYUHYUN!", teriak keras Wang Ajussi. Karena kerasnya teriakan Wang Ajussi, Changmin yang mulai tertidur diruang keluarga, tiba-tiba menegakkan badannya kembali karena kaget. Wajar saja karena jarak pintu yang mengarah kehalaman belakang dengan ruang keluarga tidakterlalu jauh dan teriakan Wang Ajussi sangat jelas terdengar oleh Changmin terutama saat keadaan rumah dalam keadaan sunyi seperti ini. Suara Wang Ajussi begitu menggema.

.

.

"Lepas Ajussi...lepasssss", ucap Kyuhyun pada Wang Ajussi yang sudah berhasil mengejar Kyuhyun yang berlari dan kemudian memegang erat lengan kirinya, sangat erat. Changmin yang sudah terbangun dari tidurnya hanya memandang bingung Wang Ajussi dan Kyuhyun. Walaupun Ia sudah membuka matanya lagi, tetapi tetap saja rasa kantuk itu masih terlihat diwajahnya.

"Aniya Kyu, aku tidak akan melepas tanganmu sebelum Kau melepaskan botol wine itu dan menyerahkan kepadaku", ucap Wang Ajussi yang masih didengar oleh Changmin diambang batas sadarnya.

Dan tanpa sepengetahuan Kyuhyun dan Changmin, Appa dan Eomma Cho, serta Kibum,yang ternyata baru saja sampai karena pulang lebih awal dua hari dari yang seharusnya, ikut mendengar dan menyaksikan pertengkaran itu dari tempat mereka berdiri yaitu dibelakang sofa ruang keluarga yang berdekatan dengan Changmin duduk.

"Kau sudah mabuk Kyu, Cha berikan botolnya", kekeh Wang Ajussi seraya tangan kirinya Ia buat seakan-akan hendak mengambil botol wine ditangan Kyuhyun yang sedikit sulit karena Kyuhyun yang memberontak. Berbeda dengan Changmin dan Kyuhyun, Wang Ajussi ternyata sudah menyadari keberadaan Appa dan Eomma Kyuhyun, serta Kibum diruang keluarga itu, maka dari itu Wang Ajussi tetap kekeh mempertahankan sandiwaranya.

"Aniyaa...LEPAS AJUSSI"

Sreet..

Prang...

.

.

.

.

Semua orang yang ada dalam ruangan itu terperangah, tidak percaya dengan apa yang barusaja terjadi didepan mata mereka. Darah segar dengan cepat mengalir merembes dari tubuh yang kini telah memejamkankan matanya. Tubuh yang tergeletak tak berdaya diantara pecahan guci besar itu,masih dibiarkan terbaring, keadaan diruangan itu tiba-tiba hening, hingga tak berapa lama kemudian terdengar derap langkah kaki yang tergesa-gesa menuju arah mereka.

"Omo...Wang Ga Jin-ssi", ucap lirih salah satu maid wanita. Beberapa maid yang ikut menyaksikan kondisi tragis sang kepala maid, juga ikut terdiam. Mereka cukup kaget.

"A...ajussi...", ucap lirih Kyuhyun yang sedikit terbata. Seluruh tubuhnya gemetar ketakutan.

"KYUHYUN, APA YANG KAU LAKUKAN HAH", teriak Kibum seraya mendorong keras tubuh Kyuhyun hingga jatuh terduduk dilantai. Kibum pun segera berlari mendekat ketubuh Wang Ajussi yang tidak jauh dari Kyuhyun dan segera merengkuh tubuh Wang Ajussi.

"Ajussi...Wang Ajussi bangunlah...omo...kepalamu berdarah Ajussi...kumohon bangunlah Ajussi...hiks...hiks...AJUSSI BANGUNN", Kibum menangis saat itu.

"APA YANG KALIAN LAKUKAN, CEPAT PANGGIL AMBULANCE", teriak Cho Yeung Hwan yang ternyata sudah ada disamping Kibum.

"Nde, Tuan besar".

"Wang Ga Jin...BANGUNLAH...", teriak Cho Yeung Hwan kembali seraya menepuk-nepuk pipi kepala maidnya, berusaha untuk menyadarkannya.

.

.

"Kyu...", panggil Changmin lirih seraya memeluk bahu Kyuhyun dari samping, Changmin berusaha untuk menguatkan Kyuhyun sahabatnya.

"A..ak..aku, tidak sengaja Chang", tutur Kyuhyun pelan.

"Gwenchana, Wang Ajussi akan baik-baik saja", ucap Changmin tenang.

"Tetapi darah yang keluar dari kepalanya sangat banyak Chang, otte?"

"Tenanglah anakku", kini sang eomma yang berusaha untuk menguatkan anak bungsunya. Ia duduk disamping Kyuhyun dan mengambil alih tubuh Kyuhyun untuk Ia peluk. Cho Hanna tau bahwa saat ini Kyuhyun membutuhkan pelukannya yang hangat.

.

.

"Wang Ajussi...bangunlah...". Suara lirih Kibum yang masih berusaha untuk membangunkan Wang Ajussi masih terus terdengar di telinga Kyuhyun. Ia benci suara lirih itu, Ia membencinya, sangat membencinya dan sangat ingin menghilangkan suara itu, Kyuhyun menutup kedua telinganya erat, sangat erat, Ia tidak ingin mendengarnya. Cho Hanna yang semakin mengerti keadaan Kyuhyun yang tertekan, semakin mengeratkan pelukannya dan mengelus-elus pundak Kyuhyun agar Kyuhyun kembali tenang. Kalimat 'semua akan baik-baik saja' terus dirapalkan Cho Hanna untuk meyakinkan Kyuhyun.

.

.

.

.

Nowon Hospital, Pukul 20.00 KST

Sudah tiga jam Wang Ajussi berada diruang operasi, dan sudah tiga jam pula, keluarga Cho minus Ahra, dan Changmin dalam suasana keheningan. Mereka diam, tetapi do'a untuk keselamatan Wang Ajussi tetap terus dirapalkan dalam hati mereka masing-masing, terkecuali Kyuhyun.

Ia sudah tenang, tubuhnya tidak gemetar lagi dan kedua tangannya yang menutupi telinganya sudah Ia turunkan. Kyuhyun sudah kembali seperti biasa.

Saat ini Kyuhyun tidak merasakan apa yang sedang keluarganya dan Changmin rasakan, rasa sedih ataupun rasa bersalah, tidak sedikit pun menghinggapi relung hatinya. Ia hanya menatap datar pintu ruang operasi, tidak lama, karena Kyuhyun segera mengalihkan pandangannya kearah saudara kembarnya yang duduk disamping Appanya yang berjarak tiga kursi dari tempatnya dan eommanya duduk.

"Bum Bum...", panggil Kyuhyun yang memecah keheningan diantara mereka.

"Jika terjadi sesuatu yang buruk pada Wang Ajussi, aku tak akan memaafkanmu, ingat itu", desis Kibum tajam tanpa menoleh kearah Kyuhyun.

"Tapi bum bum..."

"Sstt, sebaiknya kau jangan dulu mengganggu Kibum, Kyu, biarkan dia tenang dulu, sebaiknya kita berdo'a semoga operasinya berjalan dengan lancar"

"Eomma..."

"Semuanya akan baik-baik saja Kyu, percayalah...", tutur Cho Hanna seraya tersenyum teduh meyakinkan.

"Berjalan lancar, huh...mianhae Eomma, aku bahkan menginginkan hal yang sebaliknya, setidaknya rencana jahat mereka tidak akan terjadi dalam jangka waktu dekat ini, dan aku masih memiliki waktu untuk memberitahu kalian", inner Kyuhyun.

.

.

.

.

"Bagaimana keadaan Wang Ajussi, Uisanim?", sergah Kibum saat melihat seorang dokter keluar dari pintu operasi.

"Jawab Uisanim?", ucap ChoYeung Hwan sedikit berteriak tak sabar.

"Yoebo, tenanglah.."

"Mianhae, kami sudah berusaha dengan maksimal, pasien mengalami pendarahan yang hebat dibagian kepala belakangnya dan keadaannya diperparah pada kondisi jantungnya yang robek karena pecahan keramik yang menuusk punggung belakangnya ternyata tepat mengenai jantungnya, jadi kami gagal untuk menyelamatkannya, jeongmal mianhae, saya permisi".

"Wang Ajussi...andwe hiks...WANG AJUSSI KAU TIDAK BOLEH MENINGGALKANKU hiks...WANG AJUSSI BANGUN", teriak Kibum histeris.

"Kibum-ah, tenang nak", ucap Cho Yeung Hwan seraya memeluk anaknya erat, Ia cukup kesusahan mengingat Kibum yang meronta hebat dalam pelukannya.

"Appa...bangunkan Wang Ajussi...bukankah kita membawa oleh-oleh dari Australia ha...Wang Ajussi harus melihatnya Appa...hiks..hiks, suruh Dia bangun Appa...hiks...cepat Appa...hiks...bangunkan Wang Ajussi...hiks".

"AJUSSI BANGUN..hiks..hiks".

"Appa...jangan biarkan Wang Ajussi pergi..hiks".

"Appa..."

Suasana didepan ruang operasi itu sudah dihiasi dengan tangis kesedihan yang tidak hanya dari Kibum, tetapi juga dari Appa dan Eomma Cho, mereka sangat kehilangan sosok yang sudah mereka anggap keluarga, sosok yangmereka percayai untuk mengurus rumah mereka, anak-anak mereka, bahkan tiga tahun belakangan ini, Tuan Cho menyerahkan beberapa hal yang menyangkut perusahaan Cho yang ada di Korea. Tuan Cho sangat mempercayai Wang Ajussi karena kejujuran dan keahlian Wang Ajussi dalam menyelesaikan masalah walaupun Ia tidak begitu mengerti mengenai bisnis.

Malam ini Keluarga Cho dalam keadaan berduka. Terkecuali Kyuhyun, bahkan Ia tidak meneteskan air mata sedikit pun.

.

"Apa kau akan tetap menangisi kepergian Wang Ajussi jika kau mengetahui hal yang sebenarnya Kibum?", ucap Kyuhyun dalam hati. Kyuhyun miris melihat keadaan Kibum yang sangat kehilangan Wang Ajussi. Mata sembab itu, teriakan histeris Kibum, terlebih air mata Kibum yang terus mengalir dipipinya adalah pemandangan yang tidak ingin Kyuhyun lihat saat ini, karena Kyuhyun merasa bahwa Wang Ajussi tidak pantas mendapatkan semua hal itu dari anak yang hendak Ia celakai.

.

.

.

Acara pemakaman Wang Ajussi dilaksanakan saat pagi sudah menjelang, tepat pukul 08.00 KST. Pemakaman itu hanya dihadiri oleh Tuan dan Nyonya besar Cho, Kibum, Changmin dan keluarganya, serta para maid yang bekerja dikediaman Cho, Wang Ajussi hanya sebatang kara, istrinya meninggal lima tahun yang lalu karena kelainan jantung, dan Wang Ajussi tidak memiliki anak sejak awal pernikahan dengan istrinya. Menjadi pengasuh KyuBum adalah pekerjaan yang sangat disukai oleh Wang Ajussi, karena menurutnya Ia dapat merasakan bagaimana menjadi seorang ayah. KyuBum sudah diasuh oleh Wang Ajussi sejak mereka menginjak usia tiga tahun, dan si kembar menjadi lebih sering menghabiskan waktu dengan Wang Ajussi sejak kedua orang tua mereka semakin sibuk mengurus kerajaan bisnis keluarga Cho yang tersebar diberbagai negara, maka dari itu, KyuBum menjadi sangat dekat dengan Wang Ajussi dan telah menganggapnya sebagai Appa mereka sendiri, terlebih Kibum. Kibum yang terkenal dengan sifat tenang dan dewasanya, akan menjadi manja bila sedang berada dekat Wang Ajussi. Maka tak heran bila Kibumlah yang merasa sangat kehilangan Wang Ajussi, terlebih kejadian yang mengakibatkan Wang Ajussi meninggal dilihat secara langsung oleh Kibum.

Lalu, adakah yang bertanya kemana si bungsu Cho?

Ia sedang bermain gamedengan santai dikamarnya, rasa simpatik yang dimiliki Kyuhyun pada Wang Ajussi sudah hilang saat Kyuhyun mengetahui semua itu kemarin. Bukankah setelah ini Ia harus menyiapkan dirinya untuk memberitahu sebuah kenyataan yang mungkin sulit untuk dipercayai oleh Appa dan Eommanya, juga Kibum.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

Oiya, Re kurang ngerti ini apa sapaan buat seorang dokter, jadi kalau yang diatas ntoe toe salah, mianhae...hehe...

Yos...jangan timpuk saya pakai sendal ne, karena dengan seenaknya memotong? Flashback 10 tahun yang lalu...abisssss flashback nya ini sangat panjang kalau dijadiin satu chapter...jadinya aku buat dua chapter deh...hehe peace ^^v

Penasarannya sedikit terobati bukan...

Sampai jumpa dichapter selanjutnya ya, tetep dengan lanjutan flashback 10 tahun yang lalu...

.

Thanks to:

Desviana407, Fiwonkyu0201, Phiexphiexnophiex, sfsclouds, Awaelfkyu13, Guest, Dewiangel, Guest, Jmhyewon, Ristiti, Fane, BunnyKyunnie, MingKyuMingKyu, , Rini11888, MinGyuTae00, Kyufit0327, Kyufiie99, Guest, Guest, Cuttiekyu, Vha Chandra, n All Readers.