MY TWINS
Cast : Cho Kyuhyun, Cho (Kim) Kibum, Shim Changmin, Appa dan Eomma Cho, Member SUJU
Genre : Brothership, Family, and Crime
Warning : OOC, n Typo ^^V
Chapter : 8 of...
.
.
.
Wahhhhhh, mian baru update, hihi abis pemilu jadinya sibuk rekap-rekap suara
Yos lanjut aja dah ceritanya, semoga gak ngecewain chinggudeul semua ne..
Masih seputar flashback 10 tahun yang lalu ya, HAPPY READING GUYS
Maaf tuk typo, karena selesai ngetik langsung aja diupdate
.
.
.
Kamar KyuBum, 19.00 KST
Puk...puk..
"Tuan muda irona"
Puk..puk..
"Tuan muda irona, saatnya makan malam Tuan", ucap seorang yeoja paruh baya yang masih setia menepuk punggung Tuan Mudanya dengan lembut.
"Eung...Ahn Ajumma", ucap Kyuhyun khas dengan suara serak orang bangun tidur.
"Nde Tuan Muda, saatnya makan malam, Tuan dan Nyonya, serta Tuan Muda Kibum sudah menunggu Anda diruang makan", jawab Ahn Ajummaseraya tersenyum lembut pada salah satu anak yang pernah Ia asuh sewaktu kecil.
Srett
"Makan malam?...ini sudah jam berapa?", tanya Kyuhyun lagi setelah ia duduk dan minum segelas air putih yang diletakkan dimeja nakas samping tempat tidurnya.
"Jam tujuh malam Tuan...baiklah saya permisi Tuan", pamit Ahn Ajumma setelah sebelumnya membungkuk hormat pada Kyuhyun.
Blam
"Jam Tujuh, ahh aku tertidur sangat lama rupanya, yos sebaiknya aku bergegas keruang makan".
.
.
.
Ruang Makan Keluarga Cho, 19.15 KST
"Malam Eomma, Appa, Bum Bum, mianhae aku tertidur sangat lama", tutur Kyuhyun riang saat duduk dikursinya.
"Haha, Malam juga Kyunie, kau lelap sekali tidurnya, sampai-sampai eomma tidak tega membangunkanmu tadi", sahut Eomma Cho seraya mengelus lembut surai coklat anaknya yang duduk tepat disamping kanannya.
"Oh, Eomma tadi kekamarku?", tanya Kyuhyun penasaran.
"Nde, setelah pulang dari pemakaman Wang Ajussi siang tadi", ucap Eomma Cho yang sedikit lirih.
"Ohhh", ucap Kyuhyun cuek.
"Ck...hanya itu tanggapanmu, setelah apa yang sudah kau lakukan pada Wang Ajussi?", timpal Kibum setengah berteriak.
"Lalu aku harus bagaimana?", tanya Kyuhyun dengan nada santai.
"SEHARUSNYA KAU DATANG KEPEMAKAMAN WANG AJUSSI DAN BERLUTUT MEMINTA MAAF PADANYA KA..."
"Karena aku yang menyebabkan Wang Ajussi meninggal begitu? Cih, enak saja, kejadian itu tidak sengaja, jika saja...", ucap Kyuhyun memotong ucapan Kibum.
"SUDAH HENTIKAN", teriak Appa Cho menengahi pertengkaran kedua anaknya.
"Yeobo...", ucap Eomma Cho seraya mengelus lembut lengan kanan suaminya, mencoba menenangkannya.
"Saatnya makan sekarang, dan Appa tidak ingin mendengar keributan saat ini".
"Tapi Appa.."
"Cukup Kibum", ucap Appa Cho dengan tegas dan tidak ingin dibantah.
Mendengar nada tegas dari sang Appa kepada Kibum, Kyuhyun hanya tersenyum mengejek pada Kibum, Ia merasa saat ini Appanya tengah membelanya, dan begitu pula yang tengah dirasakan Kibum, Appanya lagi-lagi tidak mengerti apa yang dirasakannya, hingga membuat Kibum menggali kembali perasaan ingin menyingkirkan Kyuhyun yang sudah beberapa bulan belakangan ini Ia kubur dalam-dalam.
.
.
Seperti yang dititahkan oleh Sang Appa, suasana makan malam itu hanya diliputi dentingan suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring, sisanya hanya sebuah keheningan tanpa adanya obrolan ringan. Hingga saat makan malam telah selesai,barulah suara Tuan Cho memecah keheningan itu.
"Apa kau sudah selesai dengan makan malammu Kyu?".
"Nde, Appa", jawab Kyuhyun dengan senyuman polos diwajahnya.
"Baguslah, setelah ini segera bereskan pakaian-pakaianmu karena besok kau harus pergi dari rumah ini".
Deg
.
.
"A..a..apa maksud Appa? Apa Appa mengusirku? Apa karena kejadian kemarin sore, Appa mengusirku?", tanya Kyuhyun yang tidak percaya atas apa yang barusan Appanya katakan.
"Appa tidak mengusirmu..."
"Lalu apa maksud Appa dengan menyuruhku membereskan pakaian-pakaianku? Bukankan itu artinya Appa mengusirku? Appa!, aku tidak bersalah atas kejadian kemarin", ucap Kyuhyun cepat, memotong pembicaraan sang Appa.
"Itu salahmu Cho!", timpal Kibum sinis.
"Kau juga seorang Cho, Cho Kibum-ssi", balas Kyuhyun yang tidak kalah sinis.
"CUKUP", bentak sang Appa yang lagi-lagi harus menghentikan perdebatan kedua anaknya.
"Eommaa..", Sang Eomma yang mendapati anak bungsunya mencoba meminta tolong kepadanya hanya bisa tersenyum dan mengelus kembali surai anaknya, Ia berusaha untuk tenang, sebenarnya Eomma Cho juga kaget atas apa yang diucapkan suaminya barusan.
"Dengar Kyu, Appa bukan mengusirmu, Appa hanya ingin mengirimmu ke Amerika, disana ada sebuah sekolah khusus pria yang disertai asrama dan Appa rasa sekolah itu sangat bagus untuk mendidik tingkah lakumu..."
"Mwo? Apa yang Appa maksud dengan tingkah lakuku? Aku rasa tidak ada yang salah dengan tingkah lakuku Appa..."
"Sifat keras kepalamu, tingkahmu yang tidak ingin diatur, dan..."
"Kesalahanku karena telah mencelakai Wang Ajussi kemarin", jawab Kyuhyun yang sudah mulai muak.
"Hah, akhirnya kau mengakuinya juga Kyu", ucap Kibum santai namun matanya tetap menatap Kyuhyun sinis.
"NDE, APA KAU PUAS KIBUM, KEMATIAN WANG AJUSSI ADALAH KESALAHANKU, DAN AKU AKAN PERGI SESUAI APA YANG APPA MAU".
Setelah Kyuhyun menyelesaikan ucapannya, segera Kyuhyun pun berlari masuk kedalam kamarnya dilantai dua. Menangis, kalian pasti bertanya, apakah Kyuhyunmenangis?, jawabannya tidak, Kyuhyun tidak menangis, bahkan matanya tidak berembun sedikit pun, ajaran sang Appa sudah melekat dibenaknya, bahwa apapun masalahnya, seorang pria tidak sepantasnya menangis, dan itulah yang Kyuhyun lakukan saat ini.
"Kyuuu, bukan seperti itu yang Appamu mau...Kyu...". Sang Eomma yang melihat kepergian anak bungsunya itu segera berdiri danhendak berusaha untuk memberi pengertian pada anak bungsunya, tetapi sebelum satu langkah pun yang Eomma Cho lakukan, tangan kirinya sudah lebih dahulu dicengkram oleh sang suami.
"Sudahlah, biarkan dia...", cegah Appa Cho.
"Tapi yoebo.."
"Aku permisi, Appa, Eomma", potong Kibum cepat.
"Eoh, Kibumie, tolong beri pengertian adikmu ne", pinta sang Eomma yang mengetahui bahwa anak keduanya itu hendak pergi kekamarnya juga, tetapi sepertinya permintaan sang Eomma tidak akan pernah dikabulkan oleh Kibum karena...
"Aniyo, aku tidak mau, dan mulai malam ini aku akan tidur dikamar tamu", jawab Kibum singkat.
.
.
"Kibumie...hiks..hiks..". Sang Eomma hanya bisa menangis, Ia tidak menyangka bahwa kejadian kemarin begitu membawa dampak yang buruk bagi keluarganya, kedua anaknya yang beberapa hari lalu masih saling menyayangi, kini bagaikan dua kubu yang saling bermusuhan.
"Tenanglah yoebo, lambat laun Kyuhyun akan mengerti".
"Tapi Yoebo, kenapa harus mengirim Kyuhyun ke Amerika, tidak bisakah..."
"Ani, keputusanku sudah bulat, semua yang kulakukan saat ini adalah yang terbaik untuk mereka", tegas Appa Cho.
"Maksudmu? Mereka?".
"Sejak awal aku sudah merencanakannya, mengirim Kibum dan Kyuhyun ke Amerika untuk belajar lebih mengenai bisnis saat mereka telah menyelesaikan Junior High Schoolnya, belajar bagaimana tingkah laku yang pantas mereka perlihatkan sebagai penerus kerajaan bisnis kita, tetapi karena kejadian kemarin sore, aku telah memutuskan untuk mengirimkan Kyuhyun terlebih dahulu, huh...sifat keras kepalanya dan tingkahnya yang seenaknya itu sudah menyebabkan satu orang tak bersalah kehilangan nyawanya"
"Mwo? Apa aku tidak salah dengar? Kau baru saja menganggapnya pembunuh!"
"Ani, aku tidak pernah menganggapnya pembunuh"
"Tapi kata-katamu barusan...sudahlah aku lelah"
"Yoebo.."
Blam
Pintu kamar utama yang ditempati Tuan dan Nyonya Cho tertutup dengan cukup keras.
Tuan Cho, sosok yang tersisa diruang makan itu hanya bisa menghela nafas dan mengurut pelipisnya. Ia sudah tau hal ini akan terjadi sejak semalam Ia memikirkannya. Ia tahu bahwa keputusannya yang sangat mendadak kali ini akan mendatangkan kemarahan dan kesalahpahaman pada anak bungsunya, juga kekecewaan sang istri. Tapi sebagai kepala keluarga Ia harus tegas bukan, dan keputusan inilah yang Ia bukan mengusir sang bungsu, hanya saja memisahkannya sebentar dengan keluarganya terutama dengan kakak kembarnya. Keputusan yang cukup tak adil bagi sang bungsu, tetapi cukup menyelamatkan bagi kondisi Kibum yang sedang labil karena kepergian Wang Ga Jin. Biarlah Ia dianggap ayah yang jahat, biarlah Ia dibenci. Ia percaya, bahwa anak bungsunya akan mengerti seiring dengan pengertian-pengertian yang akan Ia berikan kepada sang bungsu.
.
.
Dilantai dua tepatnya didepan pintu kamar KyuBum yang tertutup, kita bisa melihat Kyuhyun terduduk dilantai yang dingin tanpa alas sembari menundukkan kepalanya, merenungkah Ia, ya...Ia memang merenungkan apa yang baru saja Ia dengar dari perbincangan Appa dan Eommanya tadi. Memang Ia memutuskan untuk masuk kekamarnya setelah perdebatan dengan Appanya tadi, tetapi kemudian Ia pergi keluar kamar lagiuntuk mengambil air minum.
Perdebatan yang Kyuhyun kira sudah selesai, ternyata salah. Kyuhyun mendengar semuanya. Rencana untuknya dan Kibum beberapa tahun yang akan datang, kekecewaan sang Eomma pada Appanya, dan kemarahan sang kakak, serta cap baru dinamanya yang tidak secara tersirat, baru saja disandangkan oleh sang Appa kepadanya, yaitu pembunuh.
Ia memang kecewa, Ia bahkan belum memberitahu apa yang Ia dengar sesaat sebelum kejadian itu terjadi, tetapi keluarganya kecuali Eommanya, sudah memberikan signal untuk tidak akan mempercayainya, terutama sang kakak. Ia tidak bodoh, Ia sudah bisa memprediksi semuanya, Ia tidak memiliki bukti... dan kesaksiannya yang tak berdasar itu, akan semakin menambah kekacauan yang akan terjadi pada keluarganya dan tentunya kadar kebencian Kibum pada dirinya, karena dianggap menfitnah seseorang yang sudah Kibum anggap sebagai ayahnya sendiri.
"Ini belum berakhir Kyuhyun, walaupun apa yang akan kau lakukan saat ini masih belum bisa melihat siapa dalang dibalik ini semua, setidaknya kau punya sedikit gambaran, kau pasti bisa", ucap Kyuhyun lirih.
Setelah itu, Kyuhyun kembali membuka pintu kamarnya dan bergegas masuk untuk membereskan beberapa pakaiannya dan memasukkan semua uang tabungannya yang Ia simpan dilaci almarinya kedalam tas ransel yang biasa Ia bawa kesekolah.
.
.
"Tidak ada waktu lagi, aku harus pergi sekarang, ini tidak akan lama", ucap Kyuhyun lirih, Ia berusaha untuk memantapkan hatinya kembali.
Setelah dirasa semua hal yang Ia butuhkan sudah masuk kedalam tas ranselnya, Kyuhyun buru-buru mengambil sebuah kertas dan menuliskan beberapa kalimat diatasnya, setelah dirasa pas, Kyuhyun melipat kertas itu dan memasukkannya kedalam sebuah amplop berukuran sedang berwarna baby blue dan meletakkannya diatas bantal kesayangannya, berharap amplop itu mudah untuk ditemukan saat sang Eomma atau Ahn Ajumma membangunkannya esok pagi.
Sekali lagi Kyuhyun menghela nafas sambil sesekali membenarkan tas ranselnya yang sedikit berat, dengan langkah kaki yang dibuat sepelan mungkin, Kyuhyun mengambil sebuah tangga tali yang Ia simpan disamping lemari pakaiannya, segera setelah Ia membuka jendela kamarnya dan memastikan keadaan dibawahnya aman, dengan sangat pelan-pelan, Kyuhyun menurunkan tangga talinya itu dan bersiap untuk kemudian menurunkan badannya.
.
.
.
Tap
Kyuhyun berhasil menapaki tanah dengan selamat, sesaat sebelum Kyuhyun kembali melangkahkan kakinya pergi dari rumahnya, Kyuhyun kembali melihat keatas, melihat kamar yang ditempatinya bersama Kibum. Hanya sebentar, kemudian dengan langkah yang cepat dan pelan, Kyuhyun berhasil keluar dari rumahnya melewati pagar semak yang mengelilingi rumah Kyuhyun. Sebenarnya Kyuhyun tidak pernah merencanakan semua hal yang Ia lakukan saat ini, rencana sang Appa, perbincangan Appa dan Eommanya, serta yang terpenting adalah kemarahan Kibum pada dirinya, yang memaksa Kyuhyun melakukan semua ini.
Kyuhyun tidak menyukai apapun yang ada pada Kibum saat ini, Ia tidak suka melihat mata tajamnya yang dingin, Ia tidak suka mendengar ucapan Kibum yang sinis, dan Ia tidak bisa menahan dirinya yang terlihat lemah saat melihat tangan Kibum yang terkepal kuat saat menahan amarahyang jelas ditunjukkan dari itu, Kyuhyun memutuskan pergi dari rumahnya untuk sementara waktu, setidaknya saat Ia kembali, Ia bisa memberikan sebuah bukti yang mampu mendukungnya untuk membukakan mata dan hati Kibum kembali, bahwa apa yang terjadi kemarin adalah murni sebuah kecelakaan dan Wang Ajussi yang selama ini sangat disayangi oleh Kibum bukanlah orang yang memang benar-benar pantas disayangi oleh Kibum.
Kyuhyun tahu, apa yang akan dilakukannya ini dan hasil yang akan didapatnya tidak akan maksimal sebagaimana seprofesionalnya seorang detektif bekerja dalam menyelidiki sebuah kasus, tetapi bolehkan Kyuhyun berharap bahwa apa yang akan dilakukannya dan apa yang didapat oleh Kyuhyun sebagai hasil akhirnya nanti mampu membuat dirinya bisa melihat mata tajam nan teduh milik Kibum bersinar gembira lagi, mampu membuat Kibum tersenyum kembali, memeluknya danKibum bisa menggendongnya lagi.
.
.
.
"Baby Boeing", panggil Kyuhyun pada miniatur pesawat Boeing 737 kesayangannya yang kini tengah Ia genggam ditangan kanannya.
"Kau tidak boleh ikut kali ini, aku tidak ingin kau terluka, sebaiknya kau main dulu dengan paman Changmin ne".
"Sssttt, jangan menangis, aku tidak akan lama menitipkanmu, aku janji setelah aku pulang, aku akan mengambilmu dan mengajakmu pindah ke Amerika, sesuai dengan yang Appa inginkan, arraseo".
"Baguslah, kau memang anak baik, sekarang waktunya kita mampir kerumah paman Changmin".
Selesai Kyuhyun bermonolog pada miniatur kesayangannya itu, Kyuhyun pun melangkahkan kakinya kerumah Changmin yang bersebelahan dengan rumahnya. Ditengah langkahnya yang mengarah kerumah Changmin, sesekali Kyuhyun menengok kebelakang untuk memastikan bahwa tidak ada orang rumah yang mengenalinya.
.
.
.
Sesampainya dirumah Changmin, Kyuhyun pun disambut dengan ramah oleh Eomma Changmin dan mempersilahkan Kyuhyun untuk langsung masuk kekamar Changmin yang berada dilantai dua. Apakah Ibu Changmin curiga dengan tampilan Kyuhyun yang sekarang seperti orang yang hendak pergi jauh dengan tas ransel yang penuh, jawabannya tidak. Walaupun rencana kepergian Kyuhyun dilakukan secara dadakan, tetapi Kyuhyun cukup untuk memperhitungkan segalanya, termasuk saat berkunjung kerumah Changmin. Tas ranselnya yang besar sengaja Ia sembunyikan dipagar semak-semak rumah Changmin, Ia tidak ingin rencananya gagal sekarang.
"CHANG CHANG", sapa Kyuhyun riang saat didepan pintu masuk kamar Changmin.
"Oh, hay Kyuuuuu", jawab Changmin riang.
"Tumben sekali kau main kerumahku malam-malam begini", lanjut Changmin yang kini tengah menatap Kyuhyun curiga.
"Hahaha, karena rumahku sedang dalam keadaan genting Changggg", jawab Kyuhyun enteng.
"Oh wae? Apakah karena masalah Wang Ajussi?", tanya Changmin dengan wajah sendunya.
"Aniyo...bukan karena kecelakaan itu"
"Lalu?"
"Ini karena Wine yang kita minum". Changmin yang terlalu percaya pada Kyuhyun tidak sekalipun curiga dengan alasan yang dibuat Kyuhyun.
"Ohhh, tuh khan aku bilang apa Kyu, Cho Ajussi pasti marah besar karena kita menghabiskan winenya".
"Emmm, maka dari itu, semua kaset games terlebih miniatur-miniatur pesawatku akan disita", tutur Kyuhyun sedih.
"Mwo? Lalu kau tidak bisa main game lagi dong"
"Itu tidak masalah bagiku, yang menjadi masalahnya adalah miniatur pesawatku, maka dari itu, aku sembunyi-sembunyi kesini untuk meminta bantuanmu"
"Bantuan?"
"Em, Chang Chang bisa kau bantu aku untuk merawat benda kesayanganku ini", ucap Kyuhyun sambil menunjukkan miniatur pesawat Boeing 737 ditangan kanannya.
"Tenang saja aku pasti akan kembali dan mengambilnya lagi dari mu dan selama benda ini ada ditanganmu jangan lupa untuk menghitung biaya perawatannya ne, aku akan membayar semuanya", lanjut Kyuhyun saat Changmin tidak memberi tanggapan atas pernyataannya tadi.
"Ishh, ucapanmu serasa kau tidak akan kembali dalam waktu dekat Kyu...Arraseo aku akan merawatnya dan jangan lupa aku akan menagih biaya perawatannya".
"Gomawo Changminnnnn", ucap Kyuhyun riang sambil memeluk Changmin.
"Aku pulang dulu ne, bye"
"Bye, aku tidak mengantar ya"
"Arra, aku tau kau masih sibuk dengan drama sinetronmu itu, hahaha, sudah ya"
Blam
Segera setelah pintu kamar Changmin tertutup, Kyuhyun tidak langsung beranjak untuk turun, untuk beberapa menit Ia masih berdiri didepan pintu kamar Changmin, entahlah Ia merasa berat untuk meninggalkan sahabatnya itu, hingga tanpa sadar Kyuhyun menggumamkan ucapan selamat tinggal pada Changmin.
.
.
.
.
Setelah berpamitan pulang dengan Eomma Changmin yang sedang menonton televisi diruang keluarga, Kyuhyun pun segera pergi meninggalkan kompleks perumahan tempatnya dan rumah Changmin.
Dengan menaiki sebuah taksi, Kyuhyun pun bersiap untuk kestasiun kota. Ia berencana untuk pergi ke Yeongwol, sebuah kabupaten yang terletak di Provinsi Gangwon, sebuah tempat yang belakangan ini menjadi sangat sering untuk dikunjungi oleh Wang Ajussi. Kyuhyun mengetahuinya saat Kibum bercerita kepadanya bahwa Wang Ajussi akhir-akhir ini selalu meminta izin kepadanya untuk mengunjungi kampung halamannya tersebut, dan sepertinya Kyuhyun akan mendapatkan jawaban pertanyaan-pertanyaan yang ada dikepalanya saat ini, maka Kyuhyun memutuskan untuk pergi ketempat itu.
.
.
.
.
Stasiun Kota Nowon, 22.00 KST
"Gomawo Ajussi", ucap Kyuhyun saat Ia turun dari taksi yang ditumpanginya.
"Huh, apa aku masih dapat tiket ke Yeongwol?", monolog Kyuhyun saat Ia berjalan kepintu stasiun yang berjarak 15 meter dari tempatnya tadi turun dari taksi.
"Kurasa tidak Tuan Muda", jawab seorang namja paruh baya yang kini ada dibelakang Kyuhyun.
Merasa familiar dengan suara tadi, tanpa ragu Kyuhyun pun menoleh kebelakang dan...
Brak
.
.
.
Sangat cepat kegelapan itu menghampiri Kyuhyun, walaupun demikian Ia masih bisa merasakan darah yang cukup banyak mengalir dari kepalanya dan juga tubuhnya yang terjatuh membentur tanah dingin karena ditutupi oleh salju. Setelah itu Ia tidak merasakan apa-apa lagi.
.
.
"Cepat masukkan anak itu dalam mobil, dan jangan lupa hilangkan semua jejak, termasuk darah dan balok kayu yang kita gunakan", perintah seorang namja paruh baya kepada anak buahnya yang berjumlah empat orang.
"Nde Tuan".
"Huh, ternyata kepalamu cukup keras tuan muda, bahkan balok kayu yang aku gunakan untuk memukulmu sampai terbelah jadi dua, atau...aku yang memukulmu terlalu keras, hahaha".
.
.
.
.
.
Flashback off
.
.
Kembali lagi ke Ruang Tengah Dorm SUJU, 27 April 2014, pukul 19.00 KST
Sreet...Kyuhyun dengan sigap menahan lengan Kibum yang sudah berdiri dan hendak pergi meninggalkan ruangan itu.
"Apakah seperti ini caramu menyambut kedatangan saudaramu Bum Bum?", tanya Kyuhyun dengan senyum ramah yang Ia tujukan untuk Kibum, tetapi senyum itu tak bertahan lama saat...
Srett...bugh
"Dengarkan ini baik-baik...Aku...tidak...pernah...memiliki...saudara...seorang...pembunuh sepertimu", desis Kibum tajam.
BRAK
.
.
"Kibum...Aku akan menyusulnya", tutur Siwon yang kini sudah berdiri dari duduknya.
"Aniyo, Siwon Hyung, biar aku saja", cegah Kyuhyun.
BLAM
Pintu depan dorm itu pun tertutup dengan cepat, menyisakan para member SUJU dan Jang Ajussi dalam kebingungan mengenai apa yang sebenarnya terjadi antaraKibum dan seseorang yang bernama Cho Kyuhyun.
.
.
.
.
.
Taman Kota Seoul, 21.00 KST
"Setelah sepuluh tahun...mengapa Ia datang lagi?", lirih Kibum yang kini menatap kosong langit malam yang tidak berhias bintang sama sekali.
"Molla, aku juga sebenarnya belum ingin kembali pada kalian", jawab Kyuhyun yang kini sudah duduk bersebelahan dengan Kibum.
"Noe!"
"Igo, kurasa kopi hangat cocok untuk menghangatkan badanmu yang selama satu jam ini duduk merenung ditaman ini", tutur Kyuhyun seraya mengangsurkan sekaleng kopi hangat yang Ia beli dimesin minuman yang tidak jauh dari tempatnya dan Kibum duduk saat ini.
"Kau tak mau? Padahal ini hangat, baiklah aku letakkan disampingmu", ucap Kyuhyun lagi saat Ia mendapati Kibum tidak segera mengambil kaleng kopi yang Ia sodorkan.
Srett
Tap...Tap
"Kenapa kau pergi Bum Bum?", tanya Kyuhyun yang menyadari Kibum sudah beranjak pergi dari tempat duduknya.
"...", Kibum hanya terdiam dan melanjutkan langkahnya kembali, tetapi baru satu langkah Ia berjalan, suara Kyuhyun kembali menghentikan langkahnya.
"Kau...kau tidak ingin tahu kenapa tadi aku berkata kalau sebenarnya aku belum ingin kembali pada kalian? Atau kau tidak ingin tahu kemana saja aku selama sepuluh tahun ini? Dan...dan bagaimana bisa aku yang seorang pembunuh menurutmu bisa bergabung dengan Black Raven? Kau tidak ingin tau Bum Bum?", tanya Kyuhyun cepat.
Kibum yang berdiri membelakangi Kyuhyun hanya diam, giginya gemeletuk dan kedua tangannya mengepal dengan kuat, Kibum kembali menahan emosinya.
"Huh, baiklah kurasa kau tidak akan pernah mau mendengar cerita membosankan tentangku selama sepuluh tahun ini bukan, itu tak masalah, dan kau harus tau Kibum, aku sangat lega karena kau masih hidup dengan baik sampai detik ini, mengenai masalah didorm tadi, kau tenang saja, aku akan membereskannya dan aku akan kembali menggunakan nama KEN, yos...hati-hatilah jika kau pulang, aku pergi, bye".
.
.
Taman itu kembali sunyi, hanya suara kumbang pohon dan gemerisik angin yang menggoyangkan ranting-ranting pohon saja yang terdengar. Setelah kepergian Kyuhyun, Kibum masih diam dan tetap dalam posisinya berdiri,tetapi tangannya tidak terkepal kuat lagi, emosinya sudah berubah, bukan kemarahan yang mendominasinya, tetapi...
.
.
.
Sebuah kesedihan
.
.
.
Ya..saat ini Kibum tengah menangis dalam diam.
.
.
.
"Mianhae Kyu, aku gagal menjadi seorang kakak untukmu".
.
.
TBC
.
Gimana-gimana apakah chapter ini tambah aneh...
Haha mian kalo begitu
Akhir kata, review pleaseeeeeeeeeeee
Thanks for:
Hyunsparkyu, Dewiangel, MinGyuTae00, Desviana407, Rini11888, Guest, SfsClouds, Kyufit0327, Awaelfkyu13, Vha Chandra, Cuttieekyu, Fiwonkyu0201, Phiexphiexnophiex, MingKyuMingKyu, Gemgyu407, and All Readers.
