MY TWINS
Cast : Cho Kyuhyun, Cho (Kim) Kibum, Shim Changmin
Genre : Brothership, Family, and Crime
Warning : OOC n Typo ^^V
Chapter : 11 of...
.
.
Haha, akhirnya aku bisa update lagi, ya walaupun gak cepet sie, yah abisnya mau login tuk publish itu susahhhhh bangetttttt...
Adakah yang menunggu FF mak jelas punya saya?
Oiya chapter kemarin full ChangKyu bukan, apakah chinggudeul suka? ^0^
Mian ne, cerita dichap kemarin kurang panjang, tapi ya mau gimana lagi, sebenernya cerita dichap kemarin mau ditambah ma cerita yang ada dichapter ini, tapi takutnya kepanjangan dengan terpaksa deh aku bagi-bagi, peace ^^V
Oiya, kemarin ada ya yang nyari FB ku trus bingung ya yang mana karena saking banyaknya, hehe aku juga baru nyadar, tapi udah aku ubah kok nama FB nya jadi Resti Chouko Rei, semoga kita tambah deket nde...
Yos silahkan dilanjut ngebacanya...
Pleaseeeeeeeee aku butuh review yang banyak ya, minimal review totalnya sampai tembus 260 deh, biar aku tambah semangat dan cepet update tuk chapter selanjutnya...
HAPPY READING GUYS
.
.
.
Flashback on
Stasiun Kota Nowon, 16 Desember 2004, 22.00 KST
"Gomawo Ajussi", ucap Kyuhyun saat Ia turun dari taksi yang ditumpanginya.
"Huh, apa aku masih dapat tiket ke Yeongwol?", monolog Kyuhyun saat Ia berjalan kepintu stasiun yang berjarak 15 meter dari tempatnya tadi turun dari taksi.
"Kurasa tidak Tuan Muda", jawab seorang namja paruh baya yang kini ada dibelakang Kyuhyun.
Merasa familiar dengan suara tadi, tanpa ragu Kyuhyun pun menoleh kebelakang dan...
Brak
.
Sangat cepat kegelapan itu menghampiri Kyuhyun, walaupun demikian Ia masih bisa merasakan darah yang cukup banyak mengalir dari kepalanya dan juga tubuhnya yang terjatuh membentur tanah dingin karena ditutupi oleh salju. Setelah itu Ia tidak merasakan apa-apa lagi.
.
"Cepat masukkan anak itu dalam mobil, dan jangan lupa hilangkan semua jejak, termasuk darah dan balok kayu yang kita gunakan", perintah seorang namja paruh baya kepada anak buahnya yang berjumlah empat orang.
"Nde Tuan".
"Huh, ternyata kepalamu cukup keras tuan muda, bahkan balok kayu yang aku gunakan untuk memukulmu sampai terbelah jadi dua, atau...aku yang memukulmu terlalu keras, hahaha".
.
.
Drrt drrt
"Nde yoboseo Sajangnim".
"Ah ye...anak itu sudah saya bereskan, sekarang dia sudah beristirahat dengan tenang didalam mobil dan secepatnya kami akan sampai dikediaman Anda Sajangnim".
"Emm wae? Bukankah Anda ingin bertemu dengan anak ini Sajangnim?"
"Perubahan rencana?"
"Nde saya mengerti Sajangnim".
Plip
"Goseong...ck aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Sajangnim".
.
.
"Sudah kami bereskan semua Tuan".
"Bagus, kalian sudah pastikan tidak ada barang bukti yang tertinggal?".
"Nde Tuan, semuanya sudah kami bersihkan".
"Baguslah, kita berangkat sekarang, bukan kekediaman Sajangnim, tetapi ke Goseong".
"Nde Tuan".
"Emmm, mianhae Tuan, apakah kita hanya akan menggunakan mobil untuk sampai di Goseong?".
"Ne, wae?"
"Bukankah itu terlalu jauh Tuan dan jugamemakan waktu yang sangat lama?"
"Ck...kau berharap kita kesana naik pesawat ha? KAU TAU KAN AKU TIDAK SUKA KETINGGIAN, JADI JANGAN PROTES!".
"Hehehe, mianhae Tuan".
Tidak beberapa lama kemudian, dua buah mobil berwarna hitam yang sejak awal mengikuti taksi yang ditumpangi Kyuhyun mulai berjalan meninggalkan stasiun dan membawa serta Kyuhyun didalamnya.
.
.
"Huh baiklah Tuan Muda, istirahatlah dengan baik karena kita akan melakukan perjalanan yang sangat panjang".
"Eungh", lenguh Kyuhyun.
"Oh...cepat sekali kau tersadar Tuan Muda, bahkan ini belum lewat dari lima belas menit kau tidak sadarkan diri, ternyata kau memang anak yang kuat".
"W..Wa..Wang Ajussi", ucap Kyuhyun lirih saat melihat seorang namja paruh baya yang duduk disamping kanannya.
"Nde...sepertinya pukulanku tidak berdampak buruk bagimu, kau masih dapat melihatku dan mengenaliku, ck sepertinya harapanku untuk membuatmu hilang ingatan atau buta tidak terkabul", decak Wang Ga Jin.
Benar, suara yang didengar Kyuhyun saat di stasiun Kota tadi, orang yang memukul kepala Kyuhyun dan orang yang disebut Kyuhyun sebagai Wang Ajussi adalah benar-benar Wang Ga Jin atau Wang Ajussi dan satu kenyataan yang harus kita yakini sekarang adalah...Wang Ga Jin selamat dari kematian.
"Hahaha, tapi Anda sudah berhasil membuatnya buruk Tuan", timpal salah satu anak buah Wang Ga Jin yang saat ini duduk dibelakang kemudi.
"Kau benar Yun, lihatlah rambutnya yang basah oleh darah, bibirnya yang mulai memutih, dan tangannya yang lemas, ck menyedihkan".
"..."
"Mwo? Apa yang kau katakan Tuan Muda?", tanya Wang Ga Jin saat Ia tak mendengar apa yang digumamkan Kyuhyun.
"Sepertinya kondisinya cukup lemah Tuan Wang".
"Bukan cukup lemah Yun, tapi sangat lemah, untuk berbicara saja Ia tidak sanggup...tapi tenang Tuan Muda, aku tidak kalah pintar dari mu, aku tau apa yang diucapkan oleh bibirmu itu...Kau ingin bertanya kemana aku akan membawamu ha?". Kyuhyun hanya bisa mengedipkan kedua matanya sebagai tanda bahwa Wang Ga Jin mengetahui apa maksud gumamannya tadi.
"Apa kau ingat dengan orang yang menelponku kemarin?". Kyuhyun kembali mengedipkan kedua matanya sebagai jawaban bahwa Ia mengingatnya.
"Aku ingin membawamu kepadanya...tapi mendadak rencana itu berubah, sekarang aku ingin membawamu ke sebuah tempat yang cukup jauh dari kota ini, jangan takut, kau tidak sendirian, ada aku dan Yun yang menemanimu, oh jangan lupakan dimobil yang satunya lagi masih ada tiga anak buahku yang akan siap bermain-main bersamamu saat kita sampai ditempat itu, satu lagi, tempat itu sangat indah, pasti kau akan menyukainya". Wang Ga Jin tersenyum lembut serasa Ia baru saja menyampaikan sebuah rencana liburan yang indah kepada anaknya.
"Jadi sebaiknya Anda tidur Tuan Muda, karena aku tak ingin kau lelah saat kita sampai disana".
Telapak tangan kanan Wang Ga Jin yang sedari tadi hanya diam diatas pangkuannya, kini bergerak menuju surai coklat Kyuhyun yang basah oleh darah, sedikit mengacak-acaknya, lalu telapak tangan itu dengan perlahan turun untuk memejamkan mata Kyuhyun. Apa yang dilakukan oleh Wang Ga Jin saat ini sama persis dengan apa yang akan dilakukannya untuk mengantar Kyuhyun menjelajah alam mimpi, saat Ia memerankan lakonnya sebagai pengasuh si kembar.
Kyuhyun benar-benar tertidur setelah mendapat perlakuan Wang Ga Jin tadi. Kyuhyun benar-benar memejamkan matanya untuk tidur bukan pingsan, Wang Ga Jin tau itu dan bukan hal yang sulit bagi seorang mantan mahasiswa fakultas kedokteran untuk membedakan orang yang pingsan dan tertidur.
"Apa anak itu akan baik-baik saja Tuan Wang?".
"Keadaannya sekarang memang sangat lemah, tapi kau tak perlu khawatir karenaaku sudah memeriksanya, dananak ini akan tetap bisa bertahan sampai kita sampai di Geseong".
"Memeriksanya?".
"Nde, saat aku menyentuh kepalanya tadi, luka dikepalanya bukan berada pada tempat yang membahayakan baginya dan darah yang keluar dari lukanya itu, juga sudah berhenti".
"Kurasa anak ini mendapatkan nutrisi yang baik Tuan, sehingga dapat cepat pulih".
"Ya...walaupun Ia tidak menyukai sayur", ucap Wang Ga Jin seraya memandang wajah pucat Kyuhyun.
"Bolehkah aku tau Tuan, kenapa kita tidak jadi membawa anak ini kekediaman Sajangnim?"
"Aku juga tidak tau, yang jelas rencana kita mengalami perubahan dan Sajangnim belum menceritakannya kepadaku".
"Huh...aku harap semua ini akan selesai dalam waktu dekat".
"Kenapa? Bukankah permainan ini menarik?"
"Permainan ini hanya menarik untuk Anda dan Sajangnim, Tuan...mianhae jika saya menyinggung Anda".
"Gwenchana, kau benar...permainan ini memang ditujukan untukku, Sajangnim, dan keluarga Cho".
"Tapi kuharap Anda berdua tidak melebihi batas Tuan".
"Hahahahaha, kita lihat saja nanti".
.
.
.
.
.
Goseong, 17 Desember 2004, 19.00 KST
"Ck...jangan keras kepala Tuan Muda...aku tau sekarang kau sangat lapar, jadi cepat buka mulutmu", ucap Wang Ga Jin seraya menyodorkan sepotong roti kemulut Kyuhyun yang tertutup rapat.
Saat ini mereka sudah sampai di kota Goseong, perjalanan yang mereka tempuh sangatlah panjang, sekitar 21 jam menggunakan mobil, dan perjalanan itu belum berakhir, karena sekarang mereka masih terus melaju membelah jalanan Kota Goseong menuju sebuah tempat yang sampai saat ini hanya diketahui oleh Tuan Wang.
Apakah ada yang bertanya bagaimana kondisi Kyuhyun sekarang?
Tenang saja kondisi Kyuhyun saat ini sudah sedikit membaik, hanya sedikit...yah setidaknya keadaan Kyuhyun tidak selemah kemarin malam, kalian bisa lihat bahwa bibirnya tidak sepucat kemarin malam ...haruskah kita mengucapkan terima kasih kepada Tuan Wang karena telah bersedia menyuntikkan beberapa obat yang dapat membantu Kyuhyun sampai pada keadaannya saat ini?
.
.
"Apa kau takut aku meracunimu ha?".
"Lepaskan aku dan biarkan aku pulang", tegas Kyuhyun.
"Pulang? Bukankah kau sendiri yang memilih untuk pergi dari rumah huh?".
"..."
"Hahahaha, kenapa kau diam...apa kau menyesal?...maukah kau mendengarkan sedikit nasehat dari orang tua ini Kyu, jangan terlalu berani untuk bertindak bila kau tak ingin menyesal".
"Tapi bila aku tidak bertindak maka aku tidak akan tau apa hasilnya".
"Kau benar, tapi bila hasilnya buruk, kau menyesal bukan telah melakukannya", tegas Tuan Wang.
"Ani"
"Kau menyesal!...bukankah baru beberapa saat yang lalu kau memintaku untuk melepas dan memulangkanmu, hahahaha".
"Bum Bum pasti kecewa jika tau bahwa orang yang telah Ia anggap sebagai Appanya melakukan hal kotor seperti ini", geram Kyuhyun.
"Ck...jangan pernah mengalihkan pembicaraan Kyu".
"Wae? Kau tak ingin kita mengganti topik pembicaraan?"
"Kuingatkan sekali lagi padamu Kyu...jangan terlalu berani untuk bertindak, bila kau tak ingin menyesal...terutama menyangkut mengenai Kibum, saudara kembarmu itu".
"Dengarkan aku baik-baik Tuan Wang...nan Cho Kyuhyun, tidak akan pernah menyesali apa yang aku perbuat selama itu untuk kebaikan dan kebahagiaan Bum Bum".
"HAHAHAHAHA...Kenapa kau sangat patriotik Kyu pada saudara kembarmu itu yang jelas-jelas tidak menginginkan keberadaanmu disampingnya", ejek Tuan Wang.
"Jangan pernah memprovokasiku Tuan", desis Kyuhyun.
"Aku bukan memprovokasimu, aku tau kau juga mengetahui hal ini bukan...beberapa bulan yang lalu, dikamar kalian, tepat pukul 02.00 malam, kau mendengarnya langsung dari mulutnya bukan, HAHAHAHAHAHA...HAHAHAHAHAHA".
Kyuhyun membenarkan apa yang diucapkan Tuan Wang barusan, malam itu...Ia mendengar semuanya.
Saat itu Ia tidak sengaja terbangun karena merasakan tenggorokannya kering, tetapi ketika Ia hendak membuka mata, Ia tidak sengaja mendengar curahan hati Kibum mengenai dirinya, merasa tertarik, Kyuhyun memutuskan untuk kembali berpura-pura tidur, namun sepertinya curahan hati Kibum saat itu tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh Kyuhyun. Satu keinginan Kibum yang sampai saat ini masih tertekam jelas dalam ingatan Kyuhyun adalah keinginan Kibum untuk menggantikan posisinya dan menggenggam erat kehidupannya serta kebebasannya, walaupun Kibum harus membuat Kyuhyun pergi.
"Bagaimana kau bisa tau?"
"Karena Kibum menceritakannya padaku, bukankah hubungan kami sangat dekat, bahkan melebihi kedekatanmu dengannya".
"Tapi aku yakin, Bum Bum tidak akan pernah bisa melakukan semua itu, kami saudara kembar...".
"Apakah takdir kalian sebagai saudara kembar bisa menghalanginya untuk tidak membencimu?", potong Tuan Wang.
"Bum Bum tidak membenciku, Dia menyayangiku...Dia selalu tertawa bersamaku, bermain denganku, belajar denganku, tidur denganku, semua waktu kami habiskan bersama...tidak ada alasan yang bisa membuatmu mengatakan bahwa Bum Bum membenciku".
"Selalu bersama? Kau yakin Kyu?... Apakah saat Kibum dipaksa untukberkutat dengan berkas-berkas dan laporan perusahaan, kau juga ada disitu menemaninya?".
"Ani".
"Apa kau menemaniKibum saat Ia dihukum karena tidak bisa menganalisis sebuah laporan perusahaan yang diberikan oleh Appamu?"
"Ani, tapi itu karena aku tidak tau", jawab Kyuhyun membela diri.
"Lebih tepatnya kau tidak ingin tau Kyu".
"Jika dia membenciku karena muak dengan semua laporan-laporan perusahaan yang dibebankan oleh Appa, kenapa dia tidak pernah mengatakannya padaku ha? Dengan begitu aku akan membantunya berbicara pada Appa untuk tidak terlalu mengekangnya dan Appa membiarkanku untuk membantu Bum Bum".
"Kau lupa, dia pernah mengatakannya kepadamu".
"Kapan?"
"Tiga hari setelah ulang tahun kalian yang ketiga belas...".
"Jangan mengada-ngada Tuan".
"Mengada-ngada? Apa kau pernah mendengar Kibum menceritakan suatu kebohongan?".
"Apa Bum Bum yang menceritakannya kepadamu?"
"Kau sudah tau jawabannya kan,...huh sebaiknya kau ingat sendiri, aku tidak ingin dicap sebagai penggosip yang membongkar rahasia orang yang bercerita kepadaku".
"...".
Kyuhyun hanya terdiam tak menanggapi ucapan Tuan Wang, saat ini Ia hanya memikirkan apa yang Tuan Wang ucapkan barusan...benarkah Bum Bum pernah bercerita kepadanya?... apa tanggapannya saat itu?...apa tanggapan yang Ia berikan saat itu membuat Bum Bum membencinya saat ini?...lalu jika memang Bum Bum membencinya, kenapa Ia tidak melihat kebencian itu dimata Bum Bum?.
.
.
"Yun...berapa lama lagi kita akan memasuki kawasan Gunung Shinjiok?".
"Sebentar lagi Tuan, setelah kita melewati beberapa jalan menikung didepan?"
"Terakhir aku melewatinya, satu bulan yang lalu, jalan itu belum ada pembatasnya bukan?"
"Nde, sampai saat ini, jalan itu belum diberikan pembatas jalan, aku akan mengurangi kecepatan agar kita tidak terpeleset masuk ke jurang, Anda jangan khawatir Tuan".
"Memangnya berapa kecepatanmu saat ini?"
"80 Km/Jam Tuan".
"Jangan diturunkan"
"Tapi itu berbahaya Tuan"
"Aku tau kau pandai dalam mengendalikan mobil Yun, terutama untuk daerah yang seperti ini, bolehkan aku merasakan kemampuanmu saat ini, tenang saja aku akan mengencangkan sabuk pengamannya, hahaha".
"Kau ingin membawaku kemana Tuan Wang? Dan apa tujuanmu sebenarnya?", sela Kyuhyun yang saat ini telah kembali fokus.
"Wuahhh, jalanan disini sepi sekali, ck ck ck", ucap Tuan Wang yang melihat jalananan yang dilaluinya lewat jendela disamping kanannya.
"JAWAB AKU WANG GA JIN", teriak Kyuhyun.
"Berbicaralah yang sopan dengan yang lebih tua Kyu...bukankah kau pintar, kenapa kau tidak mencari tau sendiri ha?", jawab Tuan Wang yang membalas pertanyaan Kyuhyun dengan pertanyaan lagi.
"Wa..."
"Selamat tinggal Tuan Muda", ucap Tuan Wang memotong ucapan Kyuhyun.
Klek
Pintu mobil disamping Kyuhyun tiba-tiba dibuka oleh Tuan Wang.
Srett
Dan sama dengan cepatnya laju mobil yang ditumpangi oleh Kyuhyun saat ini, secepat itulah tangan Tuan Wang mendorong Kyuhyun keluar dari mobil.
"Aaaa'.."
Brughh
Hanya sebentar teriakan Kyuhyun terdengar oleh Tuan Wang, karena teriakan itu dengan cepat tertelan oleh gelapnya jurang yang kini juga menelan tubuh Kyuhyun kedalamnya.
.
.
"TUAN APA YANG KAU LAKUKAN".
Ckitttttttt
"Jangan turun, tetap ditempatmu Yun...".
"Tapi...".
"Ini perintah dari Sajangnim...cepat jalankan mobilnya dan pergi dari sini".
"Tapi bukankah kita tidak boleh membunuhnya Tuan?".
"Percaya padaku, dia tak akan mati".
"Tu...".
"Jalan".
Bug
"Selamat bersenang-senang Tuan Muda dan kuharap kau tak menyesal dengan apa sudah kau mulai", ucap Tuan Wang sesaat setelah Ia menutup pintu mobil yang terbuka.
.
.
.
.
Flashback Off
.
.
"Kyu...ceritamu itu...".
"Kau tak mempercayainya bukan?"
"Bukan begitu, hanya saja ini sedikit sulit untuk dipahami, bagaimana mungkin...saat pemakaman, aku, Kibum, Appa, dan Eomma mu, Appaku, Eommaku, bahkan semua maid yang ada dirumahmu benar-benar melihat jenazah Wang Ajussi berada didalam peti, lalu bagaimana caranya?".
"Entahlah".
"Kau...sampai saat ini belum tau?".
"Itu seperti benang yang rumit Chang...", ucap Kyuhyun lirih dan putus asa.
"Lalu apa yang terjadi setelah kau jatuh kejurang?".
"Setelah Wang Ajussi mendorongku...".
"Changmin-ah", sapa seorang namja paruh baya yang tanpa sengaja memotong cerita Kyuhyun.
"Han Ajussi", ucap Changmin lirih. Sebenarnya Changmin cukup kaget karena kedatangan Han Ajussi yang tiba-tiba.
"Kau disini juga rupanya...wahh apa dia temanmu?", tanya Han Ajussi saat melihat Kyuhyun duduk dimeja yang sama dengan Changmin.
"Oh nde Ajussi, dia sahabatku".
"Ken imnida Ajussi".
Changmin cukup bingung kenapa Kyuhyun memperkenalkan dirinya sebagai Ken, bukan sebagai Kyuhyun. Tetapi setelah melihat tatapan Kyuhyun yang mengatakan bahwa nanti Ia akan menjelaskannya, maka Changmin mengurungkan niatnya untuk bertanya dan memutuskan untuk mengikuti cerita yang saat ini dibuat oleh Kyuhyun.
"Kau juga sama tampannya dengan Changmin, Ken...kau bisa memanggilku Han Ajussi, hahaha", ucap Han Ajussi seraya tersenyum lembut pada Ken.
"Apa kau ingin bergabung bersama kami Ajussi?".
"Aniyo, terima kasih atas tawaranya Ken, aku sudah ada janji untuk bertemu seseorang disini".
"Siapa Ajussi?", tanya Changmin.
"Kibum...emmm katanya dia ada dimeja nomor 18", ucap Han Ajussi seraya memutarkan pandangannya mencari kemeja-meja disekitarnya.
"18? Kami ada di meja nomor 17 Ajussi", ucap Changmin.
Mungkin ada yang bertanya mengapa Changmin dan Kyuhyun tidak mengetahui keberadaan Kibum padahal mereka duduk berdekatan bahkan berdampingan?
Jawabannya adalah kursi yang ada direstaurant itu dirancang memiliki sandaran duduk yang cukup tinggi, sedikit melebihi tinggi orang dewasa saat duduk, jadi tak ayal Changmin dan Kyuhyun tak mengetahui keberadaan Kibum bukan.
.
.
.
.
"Ya Kibum-ah...kenapa tiba-tiba Kau mengajakku pindah dari restaurant itu ha, padahal aku belum duduk?".
"Mianhae Ajussi, aku sudah tiga jam berada disana dan aku merasa bosan disana, Ajussi", ucap Kibum memberi pengertian.
"Ck...salahmu sendiri kenapa kau datang duluan dan akhirnya menungguku lama".
"Hahaha, mian Ajussi, sebaiknya kita mengobrol direstaurant lain nde".
"Kau yang traktir".
"Baiklah, hahahaha".
.
.
.
.
"Kyu...", tegur Changmin.
Ia yang sedikit bingung dengan situasi yang baru saja terjadi, tepatnya setelah tiba-tiba Kibum pergi mengajak Han Ajussi keluar dari restaurant tanpa menyapa dirinya dan Kyuhyun yang jelas-jelas berada didekat Kibum.
"Menurutmu, apa dia sudah mendengar semuanya Chang?", tanya Kyuhyun lirih dengan pandangan yang masih menghadap kejendela tepatnya mengarah ke Kibum yang saat ini berjalan menjauhi restaurant tempatnya berada.
"Kibum?...Emm, bisakah kau menjelaskannya padaku apa yang terjadi pada kau dan Kibum? Ahh matta, aku lupa, kau sudah bertemu dengan Kibum bukan? Lalu apa tanggapannya setelah mendengar ceritamu?".
"..."
"Kyu...jawab aku, apa semuanya baik-baik saja?".
"..."
"Kyu..."
Drrt drrt
Ucapan Changmin terpotong karena bunyi getar smartphone Kyuhyun.
"Nde yoboseo Jang Ajussi".
"Arraseo, aku akan segera kesana".
plip
"Lain kali aku jelaskan Chang...aku pergi dulu".
"Ya! Ya!...Kyu...kau mau pergi kemana ha?", tanya Changmin yang melihat Kyuhyun dengan cepat berdiri dan berlari keluar restaurant, meninggalkannya sendiri.
"Ck dia bahkan belum menyelesaikan ceritanya...ahhh kenapa dikepalaku sekarang timbul banyak pertanyaan...siapa Jang Ajussi itu?...apa ada hubungannya dengan Wang Ajussi?...lalu apa yang dikerjakan Kyuhyun selama sepuluh tahun ini?...apakah dia bersemedi?...kalaupun iya berarti sekarang Kyuhyun sudah menjadi seorang biksu?".
"Andwe...jika Kyuhyun menjadi seorang biksu...berarti rambutnya sekarang adalah rambut palsu?".
"AHHHHH AKU AKAN MEMBUNUHMU WANG AJUSSI KARENA MENGACAUKAN PIKIRANKU...", teriak Changmin seraya mengacak-ngacak rambutnya.
.
.
.
.
Ruang Penyelidikan, Kantor Pusat Kepolisian Seoul, 11.00 KST
Tok tok
Klek
"Jang Ajussi".
"Akhirnya kau sampai juga Ken, masuklah".
"Mianhae aku terlambat", ucap Ken setelah duduk dihadapan Jang Ajussi.
"Kau kira ini sekolah...sudahlah...kau ingat kemarin kau memintaku untuk memeriksa semua CCTV di Apartement Star City bukan?".
"Nde, apa aku akan mendengar kabar baik?".
"Entahlah...hahahaha...emm apa kau ingin minum segelas kopi saat mendengarkan penjelasan dariku?".
"Aniyo Ajussi, gomawo atas tawarannmu, aku baru saja minum kopi".
"Baiklah...begini...keenam teror yang didapat oleh member Suju, mereka dapat saat mereka membuka kumpulan-kumpulan hadiah yang diberikan oleh fans-fans mereka, dengan kata lain, teror itu sengaja diserahkan kepada mereka sebagai sebuah hadiah yang diberikan oleh fans pada mereka dan dikhususkan diberikan di apartement mereka".
"Lalu?".
"Ada beberapa titik penempatan CCTV diarea Apartement itu yang menjadi perhatian dalam penyelidikan ini".
"Jalan utama masuk apartement, pintu masuk apartement, resepsionist, dan loby apartement".
"Kau benar Ken...dan karena teror itu dimasukkan kedalam sebuah kotak yang hanya dilapisi oleh kain beludru berwarna ungu tanpa adanya kertas lain yang melapisinya, maka hal itu cukup memudahkan kita untuk bisa langsung mengetahui siapa saja yang membawanya masuk dan menyerahkannya kepada pihak resepsionist".
"Apa saksi yang membawanya itu hanya membawa hadiah teror itu tanpa membawa hadiah lainnya?".
"Mereka membawanya".
"Jadi kesimpulannya adalah ada orang yang sengaja menyuruh mereka untuk menyerahkan teror itu bersamaan dengan hadiah yang akan diberikan kepada idola mereka".
"Kau benar".
"Dan orang yang terekam camera adalah orang yang berbeda".
"Huwaaaaa, kau tau rupanya...", ucap Jang Ajussi riang.
"Hahahaha, bukankah itu hal yang biasa untuk membuat sebuah aliby Ajussi".
"Em...dan ini data keenam orang tersebut", ucap Jang Ajussi seraya menyerahkan draft file data saksi pada Ken.
"Keseluruhannya yoeja...Apa sudah dilakukan panggilan kepada mereka".
"Para saksi akan datang setelah jam makan siang berakhir, ya...walaupun sedikit unsur pemaksaan".
"Pemaksaan?".
"Kau tau bukan kalau kasus ini tertutup, jadi saat kita melakukan pemanggilan, jelas kita tidak mungkin untuk membeberkan kasus ini bukan?".
"Lalu kenapa tidak kita lakukan dirumah mereka saja Ajussi?"
"Itu akan memakan waktu, lagi pula, bila kita lakukan diruang introgasi, kita memiliki rekaman kesaksian mereka...dan masalah alasan pemanggilan mereka, akan kita jelaskan saat mereka menjalani introgasi".
"Baiklah, apa kau ikut dalam introgasi Ajussi?".
"Ani, aku akan mengawasi kalian lewat ruang pengawas".
"Bukan ide buruk...emm Ajussi?".
"Wae?"
"Bolehkah aku meminta seorang ilustrator untuk mendampingiku".
"Baiklah, aku juga akan menyertakan ilustator lainnya pada penyidik lainnya".
"Gomawo".
"FIGHTING!", ucap Jang Ajussi yang mencoba menyemangati Ken.
"Ck".
"Ya!"
"Sudahlah Ajussi, aku ke toilet dulu".
"Jangan lama-lama".
"Ooh".
Blam
"Kenapa wajahnya lesu begitu", monolog Jang Ajussi.
.
.
.
Ruang Introgasi, Penyelidikan 1, 13.00 KST
"Annyeong", sapa Ken saat duduk dihadapan seorang saksi.
"Em..nde Anyeong".
"Kau tidak tegang seperti yang lainnya", ucap Ken santai seraya tersenyum lembut.
"Benarkah...mungkin karena yang penyidik yang mereka hadapi tidak...setampan oppa", jawab sang saksi lirih dengan wajah merah menahan malu.
"Hahahaha, benarkah aku setampan itu".
"Nde...kau sama tampannya dengan Kibum oppa".
"Jinjayo".
"Jinja...aku tak pernah berbohong".
"Aku tau...matamu mengatakannya begitu".
"Siapa nama oppa?".
"Ahh matta, aku lupa mengatakannya...kau bisa memanggilku Ken".
"Nama yang cocok denganmu oppa...nan Kim Ji Na imnida".
Kecocokan nama...chek.
"Ji Na-ya...kau tampak sangat muda...kelas berapa sekarang?".
"Benarkah...sebenarnya aku sudah lulus senior high school, dua tahun yang lalu".
"Hwaa...apa kau merawat kulitmu...kau sangat cantik".
"Apa oppa menyukainya?", tanya Kim Ji Na riang.
"Nde, kau terlihat sangat segar".
"Sepertinya aku harus kembali lagi ketempat itu".
"Tempat apa?"
"Sebuah salon didaerah Gangnam yang menyediakan perawatan yang aku jalani tiga bulan yang lalu...oppa harus mencobanya siapa tau oppa semakin tampan dan dapat terlihat tiga tahun lebih muda dari usia oppa sekarang".
"Jinchayo? Memangnya berapa usiamu sekarang?"
"20 tahun".
Kecocokan usia...check.
"Berarti saat ini kau sudah kuliah?".
"Nde, Aku kuliah di Shawol University dan jurusan yang kuambil adalah Management Business".
Kecocokaan latar belakang sekolah dan jurusan...check.
"Waw...kau kuliah ditempat itu, kau pasti sangat kaya".
"Hahaha, ani...aku hanya berasal dari keluarga yang sederhana, nae Appa hanya seorang karyawan biasa di Choi Corporation, jadi aku bisa kuliah disana karena adanya beasiswa".
"Lalu apa kau melakukan kerja paruh waktu setelah kuliah?"
"Nde...setidaknya bisa membuatku bisa membantu biaya perawatan ibuku dirumah sakit".
"Ibumu sakit?"
"Nde, Eomma sudah hampir empat bulan ini dirawat dirumah sakit karena gangguan liver".
Kecocokan latar belakang keluarga...check.
"Semoga ibumu cepat sembuh nde".
"Gomawo oppa".
"Jika ibumu sakit dan membutuhkan biaya yang besar untuk perawatannya, dari mana kau mendapatkan uang untuk pergi kesalon mahal? Apa teman-temanmu yang mentraktirnya?".
"..."
"Ji Na-ya..."
"Apa karena itu aku dipanggil kemari? Apa oppa ingin mengambil uang itu kembali? Apa uang itu adalah uang haram?".
"Apa itu bukan dari teman-temanmu?".
"Bukan...manamungkin teman-temanku mempunyai uang yang banyak, mereka sama denganku".
"Lalu?"
"Apa aku akan dipenjara bila mengatakannya?"
"Siapa yang mengatakan bahwa kau akan dipenjara hem?".
"Jincha?"
"Kau tak percaya pada oppa?"
"Aku percaya".
"Lalu dari mana kau mendapat uang itu?".
"Aku tak tau...aku mendapatkannya secara cuma-cuma".
"Bisa kau menceritakannya?".
"Tiga bulan lalu, saat aku akan pergi ke Apartement Kibum oppa".
"Apartement pribadi?"
"Ani, lebih tepatnya Dorm Suju".
"Lalu?"
"Saat itu aku berencana untuk memberikan hadiah yang sudah kusiapakan jauh sebelum acara meet and greet Super Junior, sebenarnya hadiah itu akan aku berikan saat acara itu berlangsung, tapi aku membatalkannya karena saat itu tidak ada yang menjaga Eommaku dirumah sakit".
"Dan kau memutuskan pada hari itu untuk datang ke dorm suju dan memberikan hadiah itu?"
"Nde".
"Apa ini adalah hadiah yang kau berikan pada Kibum-ssi?", tanya Ken seraya memperlihatkan sebuah kotak beludru berwarna ungu yang tertutup.
"Sebenarnya itu bukan hadiah yang akan aku berikan pada Kibum oppa".
"Lalu?"
"Hadiah itu adalah titipan dari salah satu elf yang aku temui saat akan memasuki kawasan apartement Kibum oppa".
"Titipan?"
"Nde...saat dijalan menuju Dorm Suju, aku bertemu dengan seorang yoeja, dia tampak terburu-buru dan wajahnya terlihat sedih, sepertinyaIa menangis karena matanya terlihat sembab. Ia datang kepadaku dan menyerahkan sebuah kotak berwarna ungu itu kepadaku, Ia mengatakan bahwa, dirinya sangat terburu-buru, jadi dia memintaku untuk menolongnya memberikan kotak ini kepada Kibum oppa."
"Dan kau mau membantunya begitu saja?".
"Nde, karena aku rasa Ia juga adalah salah satu penggemar Kibum oppa, jadi aku mau membantunya...lalu, Ia memberikan aku sebuah amplop coklat yang ternyata berisikan uang yang cukup banyak".
"Kau tidak berusaha menolaknya?"
"Awalnya aku menolak, tapi Ia tetap kekeh untuk memberikannya padaku sebagai hadiah karena aku mau menolongnya, karena saat itu aku butuh uang untuk perawatan Eommaku, maka aku menerimanya".
"Orang yang kau temui itu, seorang yoeja atau namja?".
"Jelas seorang yoeja, Ia sangat cantik dan sangat fashionable, karena penampilannya itu, makanya aku mau menerima uangnya".
"Apakah yeoja itu adalah buronan yang membawa kabur uang dalam jumlah yang banyak oppa?...ck kalau tau begini aku tidak akan mau menerimanya...menyusahkan saja", lanjut Kim Ji Na.
"Bukankah kau sudah menikmatinya?".
"Nde...setidaknya aku merasakan bagaimana mendapat perawatan disalon mahal dan sedikit membantu pengobatan Eommaku".
"Berapa nominal uang yang diberikan kepadamu?".
"Sekitar 1 juta won".
"Bisakah kau membantuku menyebutkan bagaimana ciri-ciri yoeja itu?".
"Tapi, aku tidak akan dipenjara bukan?".
"Kau bisa percaya ucapanku, kau tidak dipenjara".
"Baiklah, ciri-ciri yoeja itu...".
.
.
.
.
"Huwaaaa...tak ku sangka seorang Ken menggunakan pesonanya dalam mengintrogasi".
"Itu kelebihanku Ajussi, setidaknya gadis itu merasa nyaman".
"Lebih tepatnya Ia terpesona padamu, Ia menjawab pertanyaanmu seperti air yang mengalir, sangat lancar dan juga Ia sama sekali tidak mencurigai apa fungsi barang bukti yang kita tunjukkan padanya, kau hebat Ken".
"Hahaha, gomawo Ajussi, ah...Bagaimana hasil lainnya, Ajussi?".
"Ck...mereka belum selesai Ken".
"Belum selesai?".
"Nde...bukan mereka yang lambat, tapi kau yang terlalu cepat dalam mengintrogasi saksi, hanya 30 menit".
"Aku tak terlalu suka berada dalam ruang yang sedikit agak gelap, Ajussi".
"Sedikit gelap…kau benar, sepertinya mereka lupa untuk mengganti lampunya, hokshi….Apa kau Achluophobia?".
"Bila aku pengidap Achluophobia maka aku akan langsung histeris atau gelisah, Ajussi".
"Hahaha, kau benar juga...baiklah kita lihat sketsa yoeja yang kau dapatkan".
.
.
.
Ruang Penyelidikan, Kantor Pusat Kepolisian Seoul, 18.00 KST
" Ya!...kenapa kalian lama sekali ha?".
"Mianhae Ajussi, saksi-saksi itu sedikit sulit memberikan informasi pada kami", tutur Dae Gun, salah satu polisi yang terlibat dalam penyelesaian kasus teror Super Junior.
"Ck...".
"Sudahlah Ajussi, ini sudah mulai malam, sebaiknya kita bahas hasil hari ini", relai Ken.
"Baiklah, berikan hasilnya padaku".
.
.
"Emmm... dari keenam saksi yang kita introgasi hari ini, informasi yang kita dapat adalah
Sama seperti dugaan pertama kita, bahwa teror yang dimanipulasi sebagai hadiah itu bukanlah pemberian yang langsung disiapkan oleh para saksi, melainkan berasal dari seseorang yang menitipkan hadiah itu kepada mereka saat mereka hendak memasuki kawasan apartement yang dihuni oleh member SuJu.
Mereka sama-sama diberikan imbalan berupa uang yang jumlahnya cukup besar, sekitar 1 juta sampai 1,5 juta won dan sudah digunakan oleh para saksi untuk memenuhi keperluan hidup mereka seperti, untuk membiayai keluarganya yang sakit, sekolah, maupun kehidupan ekonomi keluarga mereka.
Dari keenam sketsa ini, kita bisa menyimpulkan bahwa, orang-orang yang memberikan hadiah teror itu kepada para saksi adalah orang yang berbeda dan karena mereka semua adalah yeoja, jadi mereka cukup mudah mendekati para saksi dan mengaku sebagai salah satu bagian dari fans member Super Junior.
Teror pertama yang pada tanggal 13 Januari 2014 khusus diberikan kepada Sungmin, teror kedua tanggal 30 Januari 2014 diberikan kepada Kibum, teror ketiga tanggal 20 Februari 2014 diberikan kepada Siwon, teror keempat tanggal 5 Maret 2014 diberikan kepada Kibum, teror kelima tanggal 28 Maret 2014 diberikan kepada Yesung, dan teror keenam tanggal7 April 2014diberikan kepada Kibum".
"Melihat kesamaan dari tujuan pemberian hadiah oleh para saksi dengan orang-orang itu, apakah ada kemungkinan bahwa sebelumnya para saksi itu sudah diselidiki terlebih dahulu Inspektur Jang?",
"Kemungkinan itu ada Jae, kita akan selidiki lebih lanjut, bukan hari ini, tapi besok bersamaan saat kita mencari informasi mengenai orang-orang yang sketsa wajahnya sudah kita dapatkan hari ini".
"Nde, Inspektur Jang".
"Terima kasih atas kerja keras kalian", ucap Inspektur Jang menutup diskusi kasus hari ini.
.
.
.
"Ajussi pulang dulu Ken", pamit Jang Ajussi mendahului Ken saat dipintu keluar.
"Nde Ajussi, hati-hati dijalan".
Setelah Ken menjawab sapaan pamit Jang Ajussi, Ken kembali melangkahkan kakinya menuju tempat Ia memarkirkan motor sportnya, namun baru dua langkah Ia berjalan, Ken kembali berhenti saat merasakan smartphonenya bergetar.
Drrt drrt Ting
1 New Message
+8201068578xxx
"Temui aku di taman parkir, mobil Ferrari hitam, nomor polisi 5439, sekarang".
"Siapa yang mengirimnya?...Apa Chang Chang?...Tidak mungkin, aku belum memberitahu dimana aku bekerja, Ck...menyusahkan, bila ingin bertemu kenapa bukan dia saja yang menemuiku".
.
.
.
"Apa itu mobilnya?", monolog Kyuhyun saat tiba di taman parkir dan melihat sebuah mobil ferrari hitam yang berjarak 20 meter dari tempatnya berdiri saat ini.
Tap
Tap
Tap
Tok tok
Srrrht
"Masuklah", ucap seorang namja saat jendela mobilnya terbuka.
"Bum Bum".
.
.
.
TBC
.
.
Apakah cerita ini semakin membosankan? Atau semakin tak jelas? Mianhae ^^
Yos, aku sudah menulis chapter ini cukup panjang bukan, nah sekarang giliran chinggudeul menulis review untuk ku, aku harap total reviewnya bisa tembus 260 ya...
Please, bisakah kalian membayarku dengan review...aku akan senang walaupun kalian hanya menulis kata next untukku...
Gomawo buat chinggudeul yang setia dengan FF ku ini:
Rini11888, , Cuttiekyu, Hanna Shinjiseok, Nurul, Evilpumpkin, Dewiangel, Gnagyu, Sfsclouds, Phiexphiexnophiex, Sukha, Kyuhyuk07, Guest, Renthucieamah, Kyufit0327, Fiwonkyu0201, Awaelfkyu13, Hyunsparkyu, Diahretno, Itskyu, Fuawaliyaah, Gyu1315, Mingyutae00, Mingkyumingkyu, Desviana407, Rikarika, Shinjoo24, Tatta, Chairun, Dwi Kurniawati, IffahCho, n All Readers.
