Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rate : T
Genre : Hurt/Comfort, Angst
Pairing : Naruto & Hinata
Warning : Gaje, OOC, Lebay, Hancur, Lebur, Typo (s), Membingungkan, Buat puyeng, Butuh konsentrasi 'agak' tinggi, Aneh, menyebabkan serangan jantung dan sakit jiwa mendadak, abal, Alur gak jelas, Tak terkatakan
Liekichi-Chan
Proudly Presents
~*Secret In My Doll*~
Previous
"Hey, ayolah. Kenapa kau jadi seperti ini?" Naruto berbicara sendiri kepada dirinya.
Yang lelaki itu tahu dia akan baik-baik saja dan semuanya juga berjalan baik-baik saja. Hanya saja, perasaannya yang sekarang ini sangat berbeda. Entah karena ini adalah efek rasa lelahnya atau apapun itu yang jelas Naruto tidak mengerti dengan perasaan kosong dari dalam hatinya.
"Aku, apa mungkin?"
"Ah, tidak-tidak! Tidak mungkin!"
*Secret In My Doll*
Upacara Kelulusan.
Siapa sangka detik, menit, jam, hari, minggu, bulan dan tahun berjalan dengan begitu cepatnya. Tanpa mampu dihentikan, tanpa mampu dipercepat dan tanpa mampu diperlambat oleh siapapun dimuka bumi ini. Kapanpun, dimanapun, oleh siapapun.
Keceriaan.
Kesedihan.
Pengkhianatan.
Rasa benci.
Rasa suka.
Semuanya terpatri menjadi menjadi satu didalam kenangan setiap orang. Dan pada akhirnya semua perasaan yang bersifat negatif hanya akan menjadi leburan air mata tatkala perpisahan itu datang. Kebencian akan berubah menjadi kerinduan, kebahagiaan akan berubah menjadi sebuah keharuan yang tak mampu dibendung oleh rasa apapun.
Airmata akan mengalir dengan sendirinya – lalu menular kepada siapapun yang melihatnya. Berkilau seperti manik-manik yang indah ketika matahari menyiramkan cahayanya.
Ketika lautan doa dan harapan tentang masa depan diperdengarkan, yang akan timbul adalah tekad membara yang akan sangat sulit untuk dipadamkan – berkobar jauh didalam relung hati setiap orang yang akan menggapainya, meraihnya, dan merealisasikannya.
Senyuman dipamerkan dengan begitu lebarnya, tangisan dipertunjukkan tanpa rasa canggung sedikitpun.
Tawa – tangis – gurauan – pelukan – rangkulan. Semuanya adalah kebahagiaan yang tak akan mampu ditebus dan dibayar oleh manusia manapun. Sekalipun akan datang waktu berkumpul seperti hari ini, maka tidak akan pernah terpatri perasaan yang sama seperti hari ini.
Sudah saatnya pintu-pintu itu terbuka dan menunjukkan kenyataan getir didepan sana. Sudah saatnya menjemput dan menghadapi hari-hari yang penuh kekejaman diluar sana. Sudah saatnya menata masa depan – mengarungi kehidupan dengan tanggungjawab besar di tangan masing-masing orang.
Lakukan yang terbaik, maka hasilnya juga akan yang terbaik.
Akan lebih banyak tantangan setelah ini. Lebih banyak airmata, lebih banyak peluh, lebih banyak kehati-hatian dan lebih banyak hal hal lain yang tak akan terduga.
Tapi pada akhirnya, semuanya hanya akan menjadi kenangan. Kehidupan yang akan mengajarimu untuk menjadi lebih kuat, lebih dewasa, dan lebih bisa menghadapi masalah yang tak akan pernah ada habisnya.
Diujung jalan sana, akan ada kebahagiaan yang tak ternilai harganya jika mampu melewati jalanan penuh duri setelah ini. Jangan pernah mengeluh selama perjalanan. Sekali mengeluh maka dapat berdampak untuk keluhan-keluhan selanjutnya. Nikmati setiap kenangan karena semuanya takkan pernah terulang dengan perasaan yang sama ketika kau pertama kali merasakannya.
Jika kehidupan kejam maka berjuanglah.
Jika kehidupan menyakitkan maka kuatlah.
Jika kehidupan memaksamu untuk menangis maka tegarlah.
Tapi ketika kau sudah tak mampu menahan airmata kesedihan itu, pinjamlah punggung yang bisa menopang setiap kesedihan itu. Berbagilah dengan orang sekelilingmu, agar kesendirian tidak menggeroroti hari-hari yang selalu dijalani.
Naruto menarik nafas dalam. Sama seperti yang lain, airmata lelaki itu juga masih terlihat menjejaki kedua belah pipi tan miliknya. Jika dia mengatakan bahwa ini adalah airmata kebahagiaan maka akan terselip satu kebohongan manis didalam ungkapan tersebut.
Mungkin batinnya mengatakan bahwa aimata yang turun dan membanjiri pipinya adalah kesedihan karena setelah ini semuanya akan berpisah. Tidak tahu kedepannya apakah teman yang ada disampingnya akan tetap sama atau mungkin menjadi berubah, berbeda, menyesuaikan diri dengan sekelilingnya.
Tawa yang telah mereka ukir bersama ketika masa-masa ini, takkan mampu terhapus oleh tiner kehidupan. Tak peduli sekeras apapun itu. Dan tatkala terjadi perubahan dari diri masing-masing orang, itu hanyalah sebuah proses pendewasaan diri yang sadar atau tidak semua orang akan mengalaminya.
Kehidupan.
Kejam tapi manis.
Penuh kebohongan tapi sarat akan pelajaran berharga.
Lelaki itu, masih terasa kepedihan dari hati terdalamnya. Rasanya pasti akan berbeda setelah ini. Semuanya pasti akan berubah juga setelah ini. Ini bukan akhir melainkan sebuah awal. Sudah seharusnya lebih serius untuk menjalani kehidupan. Sudah seharusnya berjuang untuk menggapai mimpi. Karena yang seperti ini, hanya terjadi sekali seumur hidupmu.
"Hey, ayo kita berfoto bersama."
Lelaki dengan taring panjang – Inuzuka kiba – mulai berteriak semangat kearah teman-temannya. Meskipun suaranya terdengar parau, tapi terselip tekad dan harapan pada nada bicaranya.
Semuanya tersenyum walau jejak airmata masih terlihat jelas dibelah pipi mereka. Beberapa teman mulai menyoraki lelaki yang memiliki semangat hebat tersebut. Terkekeh, mereka mulai mengambi l posisi berkumpul bersama. Saat-saat seperti ini sangat menggembirakan namun juga menyakitkan.
Pose mulai mereka pasang seunik dan seceria mungkin diwajah mereka. Rangkulan demi rangkulan mulai mereka lakukan dan seketika blitz kamera mulai merekam kejadian dihadapannya lalu menyimpannya dalam sebuah bentuk gambar tak bergerak.
Waktu seperti terhenti ketika kilatan blitz menunjukkan cahayanya dan menangkap pemangdangan haru yang tak akan lekang oleh masa tersebut.
Suara riuh mulai terdengar, sorak suara tak dapat dihentikan ketika tawa mulai pecah lagi dan hal itu akan terus berlanjut. Saling berbagi kenangan, saling membuat janji untuk bertemu kembali, saling membuat persetujuan untuk tidak saling melupakan dan saling berharap untuk dapat mencapai mimpi-mimpi yang mereka punya.
"Kalian nanti jangan menjadi sombong ya ketika sudah menjadi sukses dimasa depan. Ingatlah perjuangan kita bersama selama disekolah ini." Sakura mulai terisak lagi saat berbicara kepada teman-teman dihadapannya.
"Iya. Pokoknya tidak ada yang boleh saling melupakan!" Shion kembali menimpali.
"Apalagi kalian ya para laki-laki. Awas saja ketika sudah dapat pacar nanti tidak mengenalkannya pada kami. Akan ku hajar sampai babak belur." Tenten tak kalah semangat mengajukan argumennya.
Tawa mereka lepas.
Lagi.
Waktu bersama akan segera berakhir setelah hari ini. Kebersamaan mereka akan direnggangkan oleh waktu dan ketika itu terjadi maka hanya waktu saja yang dapat menjawab untuk mengembalikan kebersamaan ini.
"Aku akan jadi orang paling jenius setelah ini. Kalian, tunggu saja hasil citaanku nanti." Bahkan Shikamaru yang biasanya tidak banyak bicarapun kini mulai membicarakan tujuan nya setelah ini.
"Aku juga tidak akan kalah." Naruto mulai membuka suara.
"Hey hey kalian! Lihat saja nanti. Aku akan menjadi pemain sepak bola paling hebat dan akan dibeli olah klub-klub ternama bertaraf internasional." Gigi taringnya sampai terlihat sangat jelas ketika lelaki itu menjelaskan keinginannya.
"Hahahah kalau begitu kami akan mendukungmu."
"Ya. Pasti! Akan kudukung!"
"Aku juga dukung!"
"Aku juga!"
"Hahahaha~"
Semuanya tersenyum. Semuanya tertawa.
Langit berubah senja. Ketika semua lantunan keinginan dan harapan yang mereka miliki bergerak ke angkasa, maka keberhasilannya akan ditentukan oleh kerja keras dan doa yang mereka panjatkan.
~*Secret In My Doll*~
Gadis itu, dirinya masih terdiam ditempatnya semula. Yang ia lakukan dari tadi hanyalah menatap sosok blonde yang menjunjukkan berjuta ekspresi diwajahnya untuk hari ini. Sebuah ekspresi yang akan sangat jarang sekali bisa ditemui ketika dalam keadaan biasa.
Matanya memanas dan sudut bibirnya bergetar menahan gejolak dari dalam dadanya. Niatnya untuk menemui lelaki itu, ia undur untuk beberapa jam demi kebaikan bersama. Biar bagaimanapun ini adalah upacara kelulusan yang berarti masa terakhir kebersamaannya dengan teman-teman. Ia tak ingin merusak saat-saat kebersamaan Naruto dengan teman-temannya.
Sama seperti lelaki yang sedang ia pandangi – hari inipun merupakan upacara kelulusan untuknya. Tapi ia mengorbankan kebersamaan yang seharusnya ia habiskan lebih lama untuk teman-temannya, menjadi untuk lelaki itu.
Dia – sosoknya masih berdiri disudut jalan yang sulit terlihat oleh pandangan. Sekalipun hatinya sedih, tapi ia masih ingin memberikan waktu kepada lelaki itu untuk mencurahkan segala isi hatinya kepada teman-temannya.
Menunggu.
Rasanya seperti ini menunggu.
Sangat lelah, tapi ia tidak boleh menyerah karena inilah janjinya.
Rambut panjangnya menari lembut ketika angin menyentuhnya. Airmata yang sempat ia tahan lolos dengan sempurna dan langsung menetes – menyinggahi bumi tempat ia berpijak. Tubuhnya bergetar, namun hatinya merasakan kerinduan yang sangat mendalam kepada sosok yang sempat ia abaikan.
"Namikaze Naruto."
Hatinya berteriak sedih ketika mengucapkan nama itu.
Getaran tubuhnya semakin terlihat jelas ketika semua kenangan-kenangan mengisi pikirannya. Rasanya ia benar-benar ingin berlari dan berteriak bahwa ia tak sanggup melakukan ini. Hatinya teriris perih dan rasa sakitnya sangat terasa diorgan hati miliknya.
Tapi ia tahu, akan menjadi percuma penantian selama ini bila ia mengurungkan niatnya. Ini adalah sebuah amanah dan dirinya tak boleh melupakan itu.
Sekuat apapun ia mencoba untuk berdiri tegak, pada akhirnya tubuhnya hanya akan semakin bergetar. Pada akhirnya lututnya hanya akan semakin bertambah melemas dan melemas. Kalau boleh jujur ia tak sanggup melakukan hal ini. Bahkan gadis itu sendiripun tidak tahu sejak kapan dirinya menjadi selemah dan semelankolis ini.
"Aku tidak kaut." Suarnya bergetar sempurna. Gadis cantik itu mengadu sedih – mengutarakan perasaannya saat ini. Dirinya benar-benar merasa sangat sedih terlebih ia merasa sangat tak sanggup melakukannya. Jika ia melakukannya maka ia harus mengingat kembali semua kenangan tentang orang itu dan hal tersebut hanya akan membuat dirinya menjadi semakin merasa sakit dan rindu.
Ini sudah yang kesepuluh kalinya ia menarik nafas dalam-dalam, berharap rasa sakitnya bisa hilang. Tapi bukannya menghilang, yang ada hanyalah kesakitan yang tak berujung yang ia rasakan. Nafasnya sesak, airmatanya tidak dapat berhenti. Jangan salahkan ia kalau dirinya akan menjadi seperti sekarang ini.
"Aku harus bagaimana?" Kembali, hatinya terasa nyeri.
"Bagaimana kalau aku tidak sanggup melakukan ini?"
"Bagaimana kalau aku tidak bisa memenuhi janjiku?"
Matanya sudah membengkak sempurna. Mungkin beberapa orang yang menyadari keberadaanya akan mengira bahwa dirinya sangat menyedihkan atau mungkin gila.
Berdiri sendirian, lalu menangis.
Tidakah itu terlihat aneh?
~*Secret In My Doll*~
Naruto-kun, dia itu adalah sosok yang sangat periang dan juga sangat populer dikalangan gadis-gadis disekolahnya. Bukan hanya karena ketampanannya, tapi juga karena kebaikan hatinya. Dia selalu menolong teman-teman yang membutuhkan bantuan. Oleh karena itu begitu banyak orang yang mencintainya.
Tapi, Hey ayolah~ jangan tanyakan aku darimana aku mengetahui hal tersebut!
Sudah kukatakan bukan?
Walau tak bersekolah disekolah yang sama dengannya, aku seperti memiliki ikatan batin dengannya. Aku tidak sedang berbohong tentang hal ini.
Tapi kalau untuk kepopulerannya disekolah, aku pernah mendengar salah seorang teman satu sekolahnya berbicara tentang Naruto-kun ketika aku menaiki bus sepulang sekolah. Hihihi
Rasanya aku benar-benar menjadi orang jahat saat ini. Setiap hari selalu saja memikirkannya, berharap bisa selalu berjalan pulang dengannya. Tapi ini sebuah perasaan yang benar-benar dari hatiku yang terdalam.
Aku ingin Naruto-kun menyadari keberadaanku – ah mungkin selama ini ia sudah sadar karena aku terlalu sering tertangkap basah sedang memperhatikannya. Tapi mungkin ia hanya menganggapku sebagai orang aneh.
Naruto-kun, Harusnya aku ungkapkan perasaanku ini waktu itu. Entah kenapa, rasanya setiap detik yang berlalu aku merasa kita semakin jauh.
Sangat jauh sekali...
Setiap kali aku mencoba untuk mengulurkan tanganku, mencoba untuk meraihmu dari belakang, tapi yang kutemukan adalah punggungmu yang semakin menjauh dan menjauh. Rasa-rasanya, aku seperti berjalan ditempat sementara kau terus berjalan maju.
Naruto-kun, aku menangis saat ini.
Ya, aku rasa aku memang berjalan ditempat sementara kau terus melangkah maju. Kau akan meninggalkanku cepat atau lambat. Kalau aku begini terus, kapan aku bisa berjalan denganmu?
Aku selalu ingin berbicara padamu tapi aku benar-benar tidak bisa memulai. Melihat wajah Naruto-kun saja aku tidak sanggup. Maaf, aku bingung menyatakannya. Aku bingung untuk menyampaikannya.
Aku menjadi sangat tidak sopan dengan perasaanku. Tapi saat ini aku benar-benar ingin bersama dengan Naruto-kun. Bukan hanya untuk saat ini, tapi untuk seterusnya. Aku pasti akan menangis kalau Naruto-kun dengan gadis lain. Tidak, aku tidak boleh begini. Maafkan aku. Tapi perasaan seperti ini sangat menyesakkan dadaku. Aku sangat sedih. Seandainya kau benar-benar mengetahui kesedihanku saat ini mungkin kau akan menangis juga bersamaku.
Aku mulai ragu, apakah aku bisa menggapaimu Naruto-kun?
~*Secret In My Doll*~
Matahari mulai berarak turun. Kicauan burung senja mulai mendominasi pendengaran kala itu. Angin semakin terasa menusuk, namun gadis itu masih setia berdiri disudut jalan demi menunggu lelaki yang tengah ia lihat sejak tadi.
Matanya masih memerah dan membengkak. Jejak airmata juga masih terpatri sempurna dikedua belah pipi putihnya. Ia enggan untuk bersuara dan lebih memilih untuk menatap sosok yang kini masih tersenyum dengan teman-temannya.
Sepertinya ini sudah waktunya.
Satu peratu mengucapkan perpisahan. Teman-teman Naruto mulai berjalan pergi ke tujuan mereka masing-masing. Pelukan terakhir terasa sangat hangat namun juga terselip rasa dingin yang sangat sulit untuk digambarkan. Perasaan mengharu biru yang sangat sulit untuk dilukiskan. Waktunya telah tiba untuk menopang tanggungjawab besar dan setelah hari ini, pintu akan benar-benar terbuka.
Lelaki itu melambaikan tangan kepada teman-temannya ketika semuanya mulai menjauh. Dirinya mengambil jalan pulang yang berbeda dari yang lain.
Halaman sekolah mulai sepi, menyisakan kenangan manis yang sempat dibagi beberapa menit yang lalu. Naruto masih tanpa henti melambaikan tangannya kepada teman-teman sambil menunjukkan cengiran khasnya. Beberapa siswa siswi dari kelas lain juga mulai pulang kerumah masing-masing. Hanya menyisakan beberapa orang yang ingin menikmati detik-detik akhir – sisa sisa kenangan yang baru saja mereka habiskan.
Naruto – lelaki itu terkekeh dengan tingkahnya sejak tadi. Padahal teman-temannya telah menghilang dipersimpang jalan, tapi ia masih melambaikan tangan kokohnya.
Sedikit menyeringai, ia lantas mengusap sudut matanya dengan jari telunjuknya. Senyuman masih terpatri jelas pada bibirnya. Ia masih belum menyadari bahwa sejak tadi ada sepasang manik yang terus memperhatikannya dalam diam.
Andai ia tahu, ada sejuta cerita dibalik manik tersebut. Cerita yang mungkin mampu membebaskan airmatanya lebih banyak dari ini.
Langit jingga menjadi pemandangan yang sangat indah. Dibawah langit jingga yang tak lama lagi akan berubah menjadi gelap tersebut, ada penantian yang sangat dalam dari seseorang yang sangat mencintainya.
Menarik nafas dalam, gadis yang sejak tadi memperhatikan Naruto secara terus menerus itu masih menutup rapat kedua belah bibirnya. Diam adalah sesuatu yang menjadi pilihannya saat ini. Ia takut, dirinya sangat ketakutan karena jika ia berbicara terlalu banyak nantinya ia tak akan sanggup menahan airmatanya.
Dan gadis itu, kalau boleh jujur ia tidak mau menunjukkan airmatanya didepan lelaki itu. Sebisa mungkin ia harus tahan.
Pandangan gadis itu benar-benar kosong dan hampa.
Langit senja perlahan mulai menggelap namun masih menyisakan sedikit biasan warna cerah yang menyelinap pada celah awan. Angin kembali berhembus dengan kejamnya. Lelaki yang terkunci sempurna pada bola mata gadis itu masih belum menyadari keberadaannya.
"Hyuuga Hinata."
Nama itu meluncur dengan sempurna lalu menghilang seperti terbawa oleh angin.
Naruto mengembuskan nafas berat, lalu mencoba untuk tersenyum. Lelaki itu bermaksud untuk membalikkan tubuhnya, tapi tepat ketika akan ia lakukan niat itu, mata biru lautnya menangkap sosok yang kini tengah menatap kosong kearahnya.
Sedikit bingung, ia lantas mengedarkan pandangannya hampir keseluruh halaman sekolah tapi disana sudah benar-benar sunyi karena itu keyakinan muncul dalam dirinya bahwa ialah yang sedang menjadi objek penglihatan sang gadis saat ini. Seragam gadis itu berbeda, jelas mereka bukan berasal dari satu sekolah yang sama.
Hatinya berdebar secara tiba-tiba. Seragam itu! Dia ingat dengan seragam yang dikenakan oleh gadis yang tengah menatapnya dalam saat ini. Setitik kerinduan muncul didalam hatinya namun dengan cepat lelaki itu menggelengkan kepalanya.
"Gadis itu... ah tidak!" Naruto bergumam tak jelas lalu kemudian menghentikan kalimatnya.
Naruto balik menatap gadis yang kini masih menatapnya dengan mantap. Bibir gadis dihadapannya tertutup dengan rapat serta memucat. Mereka terpisah pada jarak yang lumayan jauh, tapi lelaki itu bisa melihat dengan jelas bahwa mata gadis itu sedikit memerah dan membengkak. Apa dia menangis? Batin lelaki itu menerka.
Keduanya masih terdiam – sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Apa dia sudah sejak tadi disana? Ada apa dengannya? Kenapa menatapku seperti itu?" Naruto mulai penasaran dengan ulah gadis dihadapannya.
Lelaki itu bingung, tapi ia merasa bahwa diinya tak pernah melakukan kesalahan apapun kepada gadis itu. Bertemu saja baru hari ini, tapi yang menjadi pertanyaan besar baginya adalah untuk apa gadis itu menatapnya sampai seintens itu.
Tidak ingin ambil pusing, Naruto akhirnya mengabaikan kebaradaan gadis itu dan mulai mengalihkan pandangannya. Membalikkan tubuh jangkung miliknya untuk bergegas pulang.
Baru tiga langkah ia berjalan, suara parau memanggil namanya.
"Namikaze Naruto."
Suara itu terdengar bergetar dan terdengar agak samar ketika angin membawanya pergi. Tapi lelaki itu masih bisa mendengar dengan jelas sebutan tersebut. Itu adalah namanya.
Tersirat rasa sakit dari suara yang gadis itu perdengarkan ketika memanggil namanya. Tapi, ia bngung bagaimana mungkin gadis itu bisa tahu namanya? Padahal jelas mereka baru bertemu hari ini. Naruto yakin dengan ingatannya tersebut. Dia yakin baru melihat gadis itu hari ini
Naruto masih diam, tapi ia menghentikan langkahnya.
Langit telah berubah menjadi gelap dan lampu-lampu jalanan mulai menggantikan posisi matahari sebagai penyumbang cahaya. Angin kembali berhembus dengan lebih kencang lagi. Naruto saja sampai merasa sangat kedinginan.
Langkah kaki mulai terdengar samar mendekat kearahnya. Perlahan tapi pasti langkah tersebut mulai semakin jelas berada dibelakangnya. Biar begitu, Naruto masih enggan untuk membalikkan tubuh jangkungnya.
Ia masih bingung, tantang gadis yang kini berada dibelakangnya.
Waktu terasa berjalan dengan sangat lambat. Sunyi masih mendominasi keduanya. Gadis berambut panjang itu juga masih enggan untuk berbicara padahal lima menit sudah berlalu sejak ia sampai dibelakang punggung lelaki itu.
Hatinya menjerit sakit. Kepiluan mengisi rongga dada sang gadis. Airrmatanya tak mampu ia bendung lebih dari ini.
"Ke-Kenapa untuk melakukan hal seperti ini saja kau sangat kesusahan?" gadis itu mulai berbicara dan jujur Naruto tersentak mendengarnya. Suara gadis itu terdengar tersendat dan ia menangis pilu.
"Kenapa kau begitu bodoh?"
"Kenapa kau hanya diam dalam hidupmu?"
"Kenapa kau begitu pengecut?"
"Kenapa kau membuatku seolah-olah aku adalah kau?"
"Ke-kenapa rasanya sesakit ini?"
Gadis itu berkicau tanpa henti. Suaranya pecah seiring dengan tangisan yang ia tumpahkan.
Lelaki itu kebingungan, dahinya berkerut jelas.
"Apa salahku?" Naruto mulai membatin cemas.
Ia benar-benar tidak tahu menahu apa yang menyebabkan gadis itu sampai menangis.
Rambut panjang sang gadis bergoyang lembut dan tubuhnya kembali bergetar.
Naruto masih mempertahankan posisinya. Diam dan tidak bergerak.
PUUUKK...
Nyeri.
Lelaki itu merasakan nyeri pada punggungnya dan ia yakin bahwa itu adalah perbuatan gadis yang kini berada dibelakangnya. Sang gadis baru saja menampar punggung lebarnya dengan tangan kecil yang kini mulai bergetar.
"Kau itu bodoh! Kau lihat kan, aku bahkan memukulnya saat ini. Lalu apa susahnya, hah?" gadis itu berbicara pada dirinya sendiri. Suaranya serak dan airmatanya tak bisa ia kontrol. Ia menangis sejadi-jadinya.
Semakin bingung dengan keadaan yang tercipta, Lelaki bermata biru laut itu lantas membalikkan badannya. Seketika hatinya terasa sangat nyeri karena jujur, ini kali pertama ia melihat seorang gadis menangis sampai sesenggukan seperti ini.
"A-apa yang kau lakukan, hey? S-siapa kau? Dan kenapa datang lalu memukulku dan lalu menangis?" Naruto mulai mengekspresikan kebingungannya. Rasanya terlalu aneh jika seperti ini. Ia tak tahu menahu tentang gadis ini, dari mana asalnya, dan apa yang membawanya kesini.
"KAU BODOH!" gadis itu berteriak lantang. Tubuhnya masih bergetar hebat. Tapi sekuat tenaga ia mencoba untuk kembali mengontrol dirinya.
Naruto terdiam membatu ketika melihat sesuatu yang kini tengah gadis itu bawa. Sebuah boneka beruang yang lumayan besar. Untuk apa gadis itu membawa boneka seperti itu?
Mengatur nafasnya sesaat, gadis itu terlihat lebih normal dari sebelumnya. Naruto menjadi semakin bingung dengan semua ini. Benar-benar sangat aneh. Alis lelaki itu sampai hampir bertaut sempurna dengan kerutan yang terlihat semakin nyata pada dahinya.
"Ambillah ini." Lagi, kebingungan menguasai hati Naruto.
Satu pertanyaan belum terjawab tapi kebingungan lain sudah mendatanginya.
"A-apaan ini? Boneka? Aku rasa aku tidak membutuhkannya. Untukmu saja." Naruto tidak tahu bagaimana cara untuk menolaknya.
"Aku bilang ambil ini!"
"..."
"Hey, Ayo ambil ini!"
Menggaruk kepalanya, ia lalu menggeleng cepat.
"Tolonglah ambil ini-" nafas gadis itu mulai putus-putus dan airmata tampak mulai menggenangi pelupuk matanya, lagi. Nafasnya terdengar lemah.
Jangan bilang sejak tadi gadis itu berdiri sambil terus membawa boneka beruang yang lumayan besar begini, tapi Naruto tidak menyadari hal tersebut. Astaga.
"Tapi untuk apa kau memberikan benda ini kepadaku?" lelaki itu mulai penasaran.
"Kau akan tahu nanti."
Naruto masih terdiam ditempat. Tatapannya masih terpaku pada boneka beruang yang kini tengah dalam rengkuhan kokohnya. Rasanya seperti De Javu dan rasanya seperti mengenal boneka ini. Tapi dimana? Ia masih mencoba menerka tapi yang ada hanyalah kebuntuan.
"Hey, darimana kau tahu namaku? Lelaki itu mulai bertanya pada gadis dihadapannya.
Bingung. Bingung. Bingung.
Naruto benar-benar sangat bingung dengan semua ini. Bukannya terpecahkan, kebingungannya malah bertambah berkali-kali lipat.
Gadis itu hanya diam tak menjawab.
Dan itu membuat Naruto semakin frustasi.
"Hey, ayolah kau membuatku semakin penasaran."
"Kau akan tahu jawabannya. Aku beri waktu dua hari untukmu menjaga boneka itu. Setelah itu, aku akan mengambilnya kembali. Karena itu, sebelum saatnya datang tolong temukan jawaban atas semua pertanyaanmu."
"Dan juga, tolong-"
"ah, tidak lupakan saja." suara gadis itu melemah saat hendak melanjutkan ucapannya.
Naruto menaikkan sebelah alisnya. Heran.
"Tolong apa?" lelaki itu kembali bertanya.
"Tidak ada. Aku permisi, Naruto."
Naruto bisa melihat dengan jelas perubahan air muka yang terpatri pada wajah gadis dihadapannya. Kenapa lagi-lagi ia menunjukkan ekspresi sedih seperti itu?
Belum sempat bertanya ini dan itu kepada gadis tersebut, Naruto malah kini menemukan sosok dihadapannya telah berlari menjauh dari hadapannya.
Rasa penasarannya semakin menjadi-jadi.
"HEY, SIAPA NAMAMU?" lelaki itu berteriak keras. Gadis itu menjawab, tapi suaranya nyaris tak terdengar lagi. Mungkin ketika bertemu lagi atau ketika ada yang mengulang menyebutkan nama itu barulah Naruto bisa mengingat nama tersebut. Untuk saat ini, semuanya terasa sangat samar.
.
.
.
TBC
Hay minna-san, saya kembali lagi. Maaf membuat cerita yang tidak berbobot begini. Hihihi saya akui, memang ceritanya rada membingungkan. Sejujurnya saya juga bingung buatnya (Nahloh!) Tapi gatau kenapa, saya yakin ada segelintir pihak yang dapat mencerna cerita ini walau saya sangat payah dalam urusan mendeskripsikannya. Aneh memang, tapi saya harap minna sekalian dapat memaklumi saya yang pemula ini :")
Oh ya, saya mau ngucapin selamat buat yang lulus Ujian Nasional. Saya yakin semuanya udah melakukan yang terbaik. Selanjutnya tinggal menentukan pilihan mau kemana dan jadi apa. Semangat ya!
Saya memang sengaja buat cerita ini minim komunikasi dan lebih ke deskripsi penggambaran suasana atau apalah itu namanya. Dan alurnya pun saya buat lambat, lompat sana-sini, gak jelas arahnya. Habisnya saya memang seneng dengan yang seperti itu :p heheheh
Sekali lagi saya mohon maaf untuk kehancuran cerita ini.
Dan juga, saya sangat berterima kasih untuk yang dengan sangat berbaik hati memberikan review untuk cerita ini, nge-fave, dan nge-follow :") Kalian adalah semangat saya. Terima kasih henti saya selalu mengharapkan kritik dan saran minna semuanya :)
Arigatouuu~ :3
23052014
18.39
