A Romantic Story About Ryeowook

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Genre : Romance & Drama

Rate : M

Ini adalah FF remake dari novelnya Shanthy Agatha yang judulnya "A Romantic Story About Serena". Aku Cuma mengedit nama tokoh dan sedikit latar tempat kejadian untuk keperluan cerita.

Pairing : Yewook, GS

DLDR

.

.

.

.

.

CHAPTER 4

.

.

Ryeowook merasakan seluruh tubuhnya sakit dan pegal. Dengan mengerutkan dahi dia mencoba menggerakkan badannya. Oh...memang pegal sekali rasanya, pelan pelan dibukanya matanya, cahaya kamar masih tampak redup, suasana kamar terasa sejuk dan menyenangkan,

"Selamat pagi"

Sapaan itu begitu mengejutkan, menembus kesadarannya yang masih berkabut, hingga badan Ryeowook terlonjak duduk,lalu selimutnya turun sampai ke pinggang dan barulah Ryeowook menyadari kalau dia telanjang. Dengan gugup ditariknya selimut menutup dadanya. Matanya langsung bertatapan dengan Yesung yang duduk disofa,tepat dihadapannya. Sedikit senyum tersirat di sana melihat kegugupan Ryeowook.

Sekali lagi Ryeowook benar-benar malu, Yesung sudah tampil sangat rapi dan elegan dengan pakaian santai dan sedang menyesap kopi sambil membaca koran paginya, penampilannya benar-benar sempurna di pagi hari, sedangkan Ryeowook...Astaga, jam berapakah ini?

"Ini masih pagi sekali, masih gelap, tadi aku bangun dan memutuskan mandi air dingin, kalau tidak aku tidak akan bisa menahan diri untuk membangunkanmu dan bercinta lagi denganmu",

Suara lelaki itu datar seperti sedang membicarakan acara televisi favoritnya, tak dipedulikannya wajah Ryeowook yang memerah.

"Bukannya aku tidak bisa, tapi sepertinya aku harus menghormati virginitasmu yang baru hilang",

Tatapan Yesung berubah tajam, seperti yang selalu dilakukannya di saat meeting di saat dia membuat lawan-lawan bisnisnya mengekeret ketakutan.

"Kenapa kau yang masih perawan itu bisa dengan mudahnya menjual diri padaku? Apa tujuanmu sebenarnya"

Tanya Yesung tanpa ampun.

Ryeowook duduk disana dalam kondisi paling tidak siap dan Yesung melemparkan pertanyaan paling sulit untuk di jawab, apakah laki-laki itu sengaja? Tentu saja Yesung sengaja! Seru Ryeowook dalam hati, lelaki seperti dia tak akan sesukses ini dalam bisnis jika tidak tahu cara menyerang lawannya di titik lemah.

Sekarang dia harus menjawab apa? Ryeowook benar-benar kebingungan. Kalau dia menceritakan seluruh kisahnya, akankah Yesung percaya? Lagipula dia tidak ingin melibatkan Donghae disini, jangan sampai Yesung tahu tentang Donghaenya, dia harus melindungi Donghae dari lelaki kejam seperti Yesung, siapa yang tahu apa yang akan dilakukan Yesung kepada Donghae hanya untuk memerasnya nanti? Dengan tegar Ryeowook menegakkan dagunya,

"Saya rasa alasan saya melakukan ini bukan urusan anda, yang penting saya tidak akan merugikan diri anda."

Rahang Yesung mengeras mendengar jawaban Ryeowook tadi. Sejenak tadi dia merasa Ryeowook patut diberi kesempatan, mungkin saja Ryeowook melakukan itu untuk membiayai saudaranya atau apa, Tetapi ternyata dia salah, bodohnya dia, wanita dimanapun sama saja. Ryeowook mungkin hanya menunggu kesempatan untuk menjual keperawanannya dengan harga mahal, bukan bermaksud menjaganya. Bodohnya dia sempat berpikir untuk mempercayai gadis itu.

"Oke, bussiness is bussiness, aku tidak akan bertanya lagi tentang tujuanmu, asal jangan sampai kau merugikanku...", mata Yesung menyipit kejam, "kalau kau berani berani melakukannya, aku akan membuatmu menderita."

Ryeowook tanpa sadar beringsut menjauh, ketakutan dengan nada suara dan tatapan kejam Yesung.

Tiba-tiba saja laki-laki itu berdiri dari duduknya setelah membanting gelas kopinya di meja,

Ryeowook menatap lelaki itu dengan cemas, apa yang salah dari ucapannya?

Kenapa lelaki itu tampak begitu marah padanya?

Yesung melirik jam tangannya,

"Aku sudah membuat janji dengan pengacaraku tiga jam lagi, akan kubuat kontrak hitam di atas putih atas perjanjian jual beli kita ini, dan selama aku menunggu jam itu...",

Mata Yesung menelusuri tubuh Ryeowook yang berusaha menutupinya dengan selimut. Tatapan matanya sangat melecehkan.

"Well kurasa sudah cukup kan penghormatanku atas virginitasmu?"

Lalu Yesung naik ke ranjang dan merenggut tubuh Ryeowook. Membawanya ke tempat tidur bersamanya. Kali ini tidak ada kelembutan. Lelaki itu tidak menahan-nahan diri lagi. Dan dia sudah siap. Dengan kasar dibukannya paha Ryeowook dan tanpa basa basi dia menyatukan tubuhnya dengan Ryeowook, yang entah kenapa sudah siap menerimanya.

Yesung menyatukan tubuhnya dalam-dalam, sebuah erangan nikmat lolos dari mulutnya ketika dia merasakan kenikmatan yang menyengat, lelaki itu menatap Ryeowook, antara bingung dan marah tercampur di dalam matanya,

"Kau...Sungguh membuatku tergila-gila", Erangnya kasar sebelum bergerak dengan begitu ahlinya, membawa Ryeowook menuju puncak kenikmatan.

.

.

Ryeowook menatap tubuh telanjangnya di cermin, air panas mengalir dari pancuran menimpa tubuhnya, kamar mandi itu beruap, sehingga bayangan tubuhnya terpantul samar-samar di cermin.

Tadi Yesung tidak lembut, well meskipun tidak sampai menyakitinya, tetapi lelaki itu berbeda dari semalam, gairahnya liar dan tidak ditahan-tahan lagi, meluap-luap seolah olah sudah bertahun-tahun laki-laki itu tidak melampiaskan hasratnya.

Tapi itu tidak mungkin kan? Ryeowook tanpa sengaja mengerutkan dahinya, Yesung terkenal suka gonta ganti perempuan, parempuan yang dipacarinya selalu setipe, cantik bagaikan boneka, langsing, dari kelas atas dan terkenal, entah itu model, artis dan kebanyakan orang luar. Semua wanita itu rela menyerahkan dirinya pada Yesung dengan sukarela.

Desas desus berkembang bahwa Yesung kekasih yang sangat bergairah dan murah hati, tetapi tidak tanggung-tanggung mendepak pasangannya dengan kejam, karena dia tak pernah memakai hati dalam berhubungan.

Kekasih terakhir Yesung, yang kemarin baru digandengya dalam acara pernikahan seorang anak direksi adalah artis film yang sedang naik daun, keturunan indo Jerman yang sangat cantik bernama Shanon, tubuhnya tinggi langsing semampai dengan rambut cokelat bergelombang yang sangat halus bagaikan sutera,kulitnyapun tak kalah halusnya sepertu buah peach dan dia tampak sangat serasi, bergelayut manja di lengan Yesung dengan tatapan memuja.

Apakah Yesung juga akan melecehkan Shanon seperti melecehkanku? Apa yang akan dilakukan Shanon jika dia mengetahu semua ini? Tidak, apa yang akan dikatakan semua orang?

Ryeowook mengernyit melihat bekas bekas ciuman memerah di pundak dan sekitar buah dadanya. Yesung lelaki yang suka meninggalkan tanda. Seperti singa jantan yang menandai betinanya, Ryeowook tahu lelaki itu sengaja meninggalkan bekas-bekas ciuman di tubuhnya...bahkan ada yang di sekitar pinggulnya...

Astaga...apa yang telah kulakukan ya Tuhan? Apakah aku sudah melakukan keputusan yang paling benar? Ryeowook sudah tidak dapat menangis lagi, air matanya sudah habis dan hatinya sekarang terasa amat hampa.

Dengan pelan Ryeowook meraih handuk dan mengeringkan tubuhnya lalu meraih jubah mandi yang tadi ditemukannya tergeletak di karpet, sepertinya Yesung semalam melemparkannya ke lantai.

Dengan langkah pelan Ryeowook keluar dari kamar mandi, bingung mau berbuat apa, dan bertanya-tanya dimanakah pakaiannya sekarang?

Tatapannya menuju ke arah sofa, di situ ada kemasan pakaian. Ryeowook melangkah dan mengambil kemasan itu, ya, ini pakaian wanita, masih baru, dari butik ternama lengkap dengan pakaian dalamnya...Apakah ini untuknya? Ryeowook memegang kemasan itu dengan ragu.

Tapi dia juga tak mungkin memakai jubah mandi dalam kondisi telanjang seharian kan?

Dengan hati-hati Ryeowook membuka kemasan itu, sebuah gaun santai berwarna merah muda dari bahan yang sangat halus, apakah ini sutra? Dan pakaian dalam senada, Ryeowook melihat ukurannya dan semuanya pas, Yesungkah yang memesaannya?

Dengan gerakan pelan dan tanpa menimbulkan suara Ryeowook memakai pakaian itu, gaunnya terasa sangat nyaman menempel ditubuhnya, sebuah gaun santai satu potong sepanjang bawah lutut yang sangat elegan.

Setelah itu selama beberapa lama Ryeowook berdiri ditengah kamar itu tanpa berbuat apa-apa.

Pandangannya mengarah ke arah ranjang yang seperti habis diserang badai, Dan tubuh Yesung terbaring disana, punggungnya tampak kecokelatan terlihat di balik selimut kamar yang putih bersih.

Lelaki itu berbaring tengkurap salah satu lengan membingkai kepalanya, dan tubuhnya diam tak bergerak, Kepalanya terbaring miring di atas bantal. Ryeowook mendekat pelan kesisi ranjang tempat Yesung berbaring, wajahnya tampak damai sekali, kalau sedang tidur, dia tak tampak berbahaya.

Ryeowook melirik ke arah jam dinding, satu jam lagi, seperti yang dikatakan oleh Yesung tadi, dia ada janji dengan pengacaranya...haruskah Ryeowook membangunkannya? Tapi bagaimana nanti kalau Yesung marah dan menuduhnya berani mengganggunya karena ingin segera mendapatkan uang pembayaran? Bukannya Ryeowook tidak ingin segera mendapatkan uang itu, Semakin cepat dia bisa membayar ke rumah sakit, semakin cepat Donghae bisa dioperasi. Tetapi Yesung sudah cukup banyak memandang rendah dan melecehkannya...

Tiba-tiba handphone Yesung yang diletakkan di meja samping ranjang berbunyi keras, membuat Ryeowook hampir terlonjak karena terkejut.

Tubuh Yesung bergerak dan mata biru yang tajam itu terbuka, langsung menatap Ryeowook. Meski baru bangun tidur, rupanya Yesung tipe lelaki yang langsung terjaga sepenuhnya detik itu juga.

Matanya langsung menelusuri tubuh Ryeowook dari atas ke bawah tanpa satu incipun terlewatkan, tersenyum puas melihat penampilan Ryeowook dengan baju barunya.

"Ternyata pilihanku tepat", desisnya parau sambil mengangkat telephone.

Telephone itu dari pengacaranya. Yesung menyuruh Pengacara itu menunggu di restoran hotel satu jam lagi.

Ketika Yesung meletakkan telephonnya, Ryeowook masih berdiri diam di tempatnya semula, tak tahu musti mengatakan apa.

"Pengacara akan datang sejam lagi", dengan santai Yesung berdiri dari ranjang, tak peduli dengan ketelanjangan tubuhnya, dan mengangkat alis tersenyum melihat Ryeowook memalingkan muka.

Dengan sengaja dia mendekat berdiri di depan Ryeowook dan mengangkat dagu Ryeowook agar menghadapnya,

"Kenapa manis? Kau malu melihatku telanjang? Bukankah kita sudah menghabiskan waktu berjam-jam telanjang bersama?"

Wajah Ryeowook merah padam, tapi dia tidak berkata apa-apa.

Yesung mendengus lalu melepaskan Ryeowook dan melangkah ke kamar mandi.

"Bagus kau sudah siap. Aku akan mandi setelah itu kita sarapan, lalu kita akan tandatangani kontrak perjanjian, setelah itu kau akan mendapatkan uangmu"

.

.

Ryeowook mengaduk-aduk supnya dengan pikiran menerawang, dia memikirkan Donghae, kemarin sore dia meninggalkannya dan menitipkannya pada Leeteuk, sore ini dia harus menjenguknya. Bagaimana kondisi Donghae? dia habis mengalami serangan, bagaimana kalau dia mengalami serangan lagi?

Yesung menatap Ryeowook dari seberang meja, apa yang dipikirkan gadis itu?

Kenapa dia tampak begitu tidak bahagia? Bukankah dia baru saja mendapatkan uang dalam jumlah banyak yang bebas digunakannya melakukan apapun?

Ataukah dia menyesal sudah menyerahkan diri padaku? Pikiran buruk itu tiba-tiba menyergap otaknya. Dalam Kapasitas apa dia menyesali sudah menyerahkan diri padaku?

Yesung menggertakkan giginya, seharusnya wanita ini Bangga, aku, Kim Yesung, orang yang sangat kaya dan berasal dari keturunan keluarga kaya terpandang di negaranya, yang bisa mendapatkan wanita manapun yang dia mau, bersedia menidurinya!

Yesung memikirkan semua keputusannya semalam. Ternyata ini bukan obsesi mau pun kegilaan sesaat, ternyata bahkan setelah percintaan marathon mereka semalam dan tadi pagi, dirinya masih menginginkan Ryeowook. Amat sangat menginginkannya malahan, Setelah hasratnya terpuaskan pada tubuh Ryeowook, bukannya semakin reda dia malahn makin ingin dan ingin lagi, gadis itu begitu polos tapi menggairahkan dan di dalam otaknya ini penuh dengan hasrat untuk mengajari gadis itu bagaimana cara memuaskannya.

Dengan kesal dia mengutuk pemikirannya itu, apakah aku sudah menjadi seorang maniak seks?

Yesung memikirkan jeda sejenak tadi, ketika dia menghubungi Kangin pengacara kepercayaannya dan menyatakan niatnya serta minta dibuatkan draft surat perjanjiaannya. Kangin adalah pengacara kepercayaannya sejak dulu, sekaligus sahabatnya.

Lelaki Korea ini telah menempuh pendidikan hukum di Jerman, dan disanalah mereka berkenalan. Beberapa tahun kemudian, setelah Kangin pulang ke Korea, dia membangun karir menjadi pengacara yang hebat. Dan ketika Yesung memutuskan memimpin cabang di Korea, mereka bertemu lagi, lalu menjalin kerjasama kerja sekaligus persahabatan.

Yesung tahu Kangin tidak akan bertanya apapun yang tidak perlu tentang keputusannya. Lelaki itu sudah terbiasa dengan keputusan dan rencana-rencana bisnis Yesung yang ekstrim.

Tetapi saat Yesung membicarakan hal tersebut, ada kecemasan dalam suara Kangin,

"Kau yakin? Ini memang surat jual beli, tapi ini ekstrim Yesung, jual beli manusia, jual beli pelayanan seks. kau bisa dibilang melanggar hukum malahan kalau suatu saat nanti terjadi masalah, apalagi mengingat kau warga negara asing"

Yesung tersenyum, Ryeowook tidak akan berpikir sejauh itu, bukannya gadis itu bodoh, tapi dia terlalu polos, entah kenapa Yesung percaya bahwa Ryeowook akan menepati janjinya.

"Buat saja Kangin, selanjutnya biar aku yang menanggung", gumamnya yakin.

Kangin tidak mengatakan apa-apa lagi, tetapi Yesung yakin lelaki itu menunggu sampai mereka bertatap muka baru dia akan mengajukan pertanyaan mendetail.

Kangin adalah lelaki yang sangat analisis, Yesung menahan senyumnya.

Pikirannya kembali ke masa sekarang, dan menatap Ryeowook yang seolah tidak selera makan,

"Kenapa kau tidak memakan makananmu?", desis Yesung, hanya sebuah desisan dan Ryeowook terlonjak kaget, apakah dia sebegitu menakutkannya bagi Ryeowook.

"Mr. Yesung", Ryeowook menyebutkan nama Yesung dengan pelan, di telinga Yesung suaranya terdengar begitu merdu bagaikan ajakan bercinta.

"Sesuai perjanjian kemarin, aku akan selalu ada kapanpun kamu membutuhkanku", pipi Ryeowook bersemu merah mengingat arti dari kata,

"Aku...bolehkah aku meminta waktu untuk diriku sendiri setiap harinya dari jam pulang kantor sampai jam sembilan malam?", suara Ryeowook terdengar tertelan dan takut-takut.

Yesung mengerutkan keningnya, sebenarnya itu bukan masalah, Yesung terbiasa bekerja sampai larut malam, biasanya jam sepuluh atau sebelas malam dia baru sampai di rumah,

"Bukan masalah, aku selalu pulang larut malam", Yesung berdehem, "Tempat tinggalmu sekarang, apakah memperbolehkan lelaki masuk?", Ryeowook mengernyitkan kening,

"itu tempat kost perempuan satu kamar milik sebuah keluarga, tentu saja kau boleh masuk, ada ruang tamu yang disediakan"

"Ruang tamu?", Yesung mengangkat alis penuh arti dengan tatapan sedemikian rupa.

"Oh", pipi Ryeowook bersemu dan tak berani menatap Yesung ketika menyadari arti tatapannya.

"Aku tak mungkin bukan 'berkunjung' setiap malam ke tempatmu?", tatapannya tampak menahan senyum.

Dan Ryeowook menyadari kebenaran kata-kata Yesung, tempat kostnya hanyalah sebuah kamar sederhana seadanya yang penting bisa tidur setiap malam. Bukan level Yesung untuk berada di sana, Ryeowook melemparkan pandangan sekilas ke sekeliling ruangan.

"Aku tak mungkin membawamu setiap malam ke hotel, karena jam pulang kerjaku yang tak tentu, tidak mungkin pula menyuruhmu stand by di hotel setiap harinya", Yesung merenung, "Tak mungkin juga membawamu tinggal di rumahku, kalau sampai ada orang yang tahu bisa berbahaya buatmu juga",

Dengan santai Yesung menyesap kopinya, "Oke, nanti siang setelah bertemu dengan pengacaraku, kita cari apartement di dekat kantor"

Ryeowook hampir menyemburkan teh yang disesapnya mendengarnya, lelaki ini bercanda?

Apartemen? Di dekat kantor? Kantor mereka berada di kompleks perkantoran dan bisnis yang mewah, apartmen pun pasti juga kelas atas dan mahal, bagaimana lelaki itu bisa mengatakan tentang mencari apartemen semudah itu?

Yesung sepertinya mengetahui pemikiran Ryeowook,

"Lebih mudah bagiku Ryeowook, aku biasanya capek dan bertemperamen buruk setelah bekerja, aku tak mau repot-repot menjemput atau tetek bengek reservasi hotel jika malam-malam tiba-tiba aku menginginkan bersamamu",

Yesung tersenyum," apartemen akan memudahkan kita, bukan berarti aku akan mengunjungimu setiap malam", tambahnya cepat.

Ryeowook mengangguk gugup, yah, dia kan hanya mahluk yang sudah dibeli, dia hanya bisa menuruti apapun kemauan Yesung.

Setelah menghabiskan kopinya Yesung melirik jam tangannya,

"Well, pengacaraku pasti sudah menunggu di bawah, enjoy your time, aku akan menemuinya sebentar", dengan santai lelaki itu berdiri, lalu tanpa diduga-duga menarik Ryeowook berdiri, mendorongnya ke tembok lalu menciumnya dengan penuh gairah, lama dan hangat dengan teknik yang sangat ahli, sehingga ketika dia melepas ciumannya, Ryeowook hampir tak bisa berdiri membuat Yesung musti menahan tubuhnya, dengan lembut lelaki itu mendudukkan Ryeowook di kursi,

"Sebenarnya sudah sejak tadi aku ingin melakukan itu", gumamnya dalam senyum puas sebelum pergi meninggalkan Ryeowook.

.

.

"Kau benar-benar serius tentang ini Yesung?", Kangin bertanya saat Yesung mempelajari salinan kontrak itu,

Yesung mengangkat matanya dan menatap Kangin, lalu menunjukkan kontrak itu,

"Kau pikir aku tidak serius? Perjanjian ini senilai tiga ratus juta man!"

"Aku tak habis pikir, kenapa seseorang sepertimu yang bisa mendapatkan wanita manapun yang kau mau, melakukan hal seperti ini demi seorang wanita? Wanita yang sangat murahan dan materialistis sehingga terang-terangan menjual dirinya padamu demi uang? Apa yang ada dipikiranmu Bos?"

Kening Yesung berkerut tidak suka mendengar kata-kata Kangin, meskipun dia tahu itu semua benar.

"Kau tahu bagaimana rasanya ketika melihat seorang perempuan, dan tiba-tiba seluruh tubuhmu menginginkannya?", Yesung tersenyum melihat ekspresi skeptis Kangin, tentu saja Kangin tidak tahu, dia sendiri merasa aneh dengan perasaannya, "Yang pasti aku menginginkannya, dan aku masih belum bosan, tiga ratus juta tak ada artinya buatku"

"Tapi kau orang yang sangat pembosan, seminggu lagi kau pasti akan mencampakkannya, dan menyesali kontrak ini"

"Dan aku tetap akan merasa puas karena setidaknya aku tidak penasaran lagi", jawab Yesung yakin.

Kangin mengangkat bahu,

"Aku tetap tidak setuju, tapi ini semua keputusanmu, serahkan kontrak pada wanita itu, pastikan dia tandatangan, beri salinannya, lalu serahkan yang asli padaku",

Kangin menyandarkan tubuhnya dikursi, "Miss. Ryeowook ini, apakah aku pernah melihatnya sebelumnya?"

Yesung menggeleng,

"Dia hanya pegawai biasa, seorang supervisor lapangan, kau tidak mungkin pernah melihatnya", jawabnya tegas.

"Apakah dia gadis mungil dengan rambut sebahu dan wajah polos dan tatapan seperti anak kecil yang ada di area pameran mendampingi bosnya yang penjilat waktu itu?"

Yesung langsung bersiaga, Kenapa Kangin ingat pada Ryeowook? Apakah Kangin juga memperhatikan Ryeowook? Apakah dia juga tertarik padanya?Insting posesifnya langsung menyeruak keluar,

Kangin tertawa melihat tatapan tajam Yesung,

"Hey hey jangan menatapku seperti itu, aku memperhatikannya karena waktu itu kau memandangnya dengan begitu intens, tatapanmu seolah-olah tak bisa lepas darinya, seperti pemburu yang ingin melahap mangsanya",

Kangin mengangkat bahu,

"Orang lain mungkin tak akan menyadarinya, tapi aku sudah mengenalmu sejak lama, dan aku tahu betapa intensnya kau jika sudah berkonsentrasi pada satu hal, malam itu kau kehilangan konsentrasimu, gadis itu menarik seluruh perhatianmu, kau sulit berkonsentrasi pada hal lain selain itu",

Kangin menarik napas panjang, "Well jika dengan gadis yang sama ini kauterlibat, semoga Tuhan memberkatimu sahabatku."