A Romantic Story About Ryeowook
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Genre : Romance & Drama
Rate : M
Ini adalah FF remake dari novelnya Shanthy Agatha yang judulnya "A Romantic Story About Serena". Aku Cuma mengedit nama tokoh dan sedikit latar tempat kejadian untuk keperluan cerita.
Pairing : Yewook, GS
DLDR
.
.
.
.
.
CHAPTER 5
.
.
Semua terjadi begitu cepat, Yesung langsung mendapatkan apartemen yang diinginkannya, sebuah apartemen yang sangat mewah dengan privasi yang sangat terjamin, Ryeowook tidak berani membayangkan berapa harganya, tapi Yesung bersikap sangat santai, katanya itu semua hanyalah investasi.
Dengan sangat efisien Yesung membantu Ryeowook membereskan barang-barangnya yang tentu saja tidak banyak, untuk dipindahkan ke apartement, lalu menyelesaikan pembayaran kost dan sekaligus berpamitan dengan induk semangnya.
Mereka berdua berdiri di tengah ruang tamu apartemen yang sangat mewah itu, Yesung tersenyum pada Ryeowook yang berdiri kaku di tengah ruangan,
"Well anggap saja ini rumahmu sendiri", dia lalu melirik jam tangannya, "Aku harus kembali rumahku, pengurus rumah tanggaku pasti bertanya-tanya apa yang kulakukan sampai aku tidak memberi kabar, dia akan kebingungan menjawab telepon yang masuk, kau, silahkan atur apartemen ini sesuai seleramu, jika ada yang kurang atau kau ingin menambah sesuatu, bilang saja"
Ryeowook memandang sekeliling apartemen yang penuh dengan interior mewah dan elegan itu, penataannya saja terlalu mewah dan mungkin berlebihan untuknya, tidak, dia mau mengganti apalagi?
"Sementara kau pergi,,,,bolehkah aku keluar sebentar? Kau ingat? Sedikit waktu untuk diriku sendiri seperti yang kau janjikan?"
Yesung mengangkat bahu,
"Silahkan", dia mengeluarkan dompetnya,"Kau butuh uang?",
"Tidak...!", Ryeowook menjawab tegas, uang Tiga ratus juta yang ditransfer Yesung tadi siang sudah lebih dari cukup, dia tidak butuh uang apa-apa lagi dari lelaki itu,
Yesung sepertinya bisa membaca pikiran Ryeowook,
"Uang yang kuberi tadi, itu murni untukmu silahkan kau gunakan sesuka hatimu, tetapi untuk sehari-hari, aku sudah berjanji akan membiayaimu, ingat kan penawaranku di ruangan kerjaku dulu?",
Yesung mengeluarkan kartu berwarna keemasan dari dompetnya,
"Ini kartu debit, isinya lebih dari cukup jika kau ingin membeli sepuluh mobil sekalipun", dia lalu menyebutkan nomor PIN nya dan menyuruh Ryeowook mengingatnya baik-baik. Ryeowook sebenarnya ingin menolaknya, tapi dia tak ingin berlama-lama berdebat dengan Yesung disini, lagipula dia tinggal menyimpannya di dompet dan tak akan pernah memakainya, toh Yesung tidak akan tahu.
Yesung memakai jasnya , puas karena Ryeowook menerima kartu debitnya, "Kita akan buat kartu kredit atas namamu besok. Nanti malam, kalau tak ada urusan aku akan kesini", Tatapan Yesung ketika mengucapkan 'nanti malam' begitu intens, membuat pipi Ryeowook memerah.
Sepeninggal Yesung, Ryeowook segera memakai jaket, membawa tas tangannya dan melangkah pergi, loby apartemen yang begitu mewah itu benar-benar membuatnya minder, apalagi penjaga pintu menyapanya dengan begitu penuh hormat ketika dia melangkah keluar,
"Anda ingin dipanggilkan taxi, Miss?", sapanya dengan sopan.
Ryeowook cepat-cepat menggeleng, tidak mungkin kan dia bilang kalau dia mau menunggu kendaraan umum di depan perempatan sana?
"Tidak", jawabnya," saya menunggu jemputan, di depan", gumamnya singkat, lalu sebelum penjaga pintu itu bertanya-tanya lagi, Ryeowook segera mengangguk sopan dan melangkah pergi.
Perjalanan ke rumah sakit tidak berlangsung lama, mungkin karena hari minggu jadi jalanan tidak begitu macet, Ryeowook berpapasan dengan Leeteuk ketika dia hendak memasuki ruangan perawatan Donghae,
"Kau tidak apa-apa Ryeowook?", kau kelihatan pucat,
Ryeowook meraba pipinya, benarkah? Apakah dia tampak berbeda sekarang?
Setelah dia menyerahkan...
"Aku,,, aku mencari uang untuk biaya operasi Donghae", gumamnya gugup, Leeteuk menatap Ryeowook sedih,
"Ryeowook uang tiga ratus juta itu sangat banyak, aku juga tahu kalau kau masih menanggung hutang di perusahaan sebanyak empat puluh juta, begini nak, aku punya simpanan sekitar lima puluh juta, mungkin itu bisa membantu, dan kalau aku bisa menaruh surat tanahku di bank untuk mengajukan pinjaman, mungkin kita bisa mendapat beberapa tambahan..."
"Suster, saya sudah mendapatkan uangnya", Ryeowook bergumam lemah,
Kata-kata Leeteuk langsung terhenti seketika,
"Apa?...Sudah mendapatkan uangnya? Apa maksudmu nak? Darimana...?", kata-katanya langsung terhenti melihat Ryeowook mulai menangis,
"Ada apa nak? Ceritakan padaku jika itu bisa membantu, mungkin itu bisa membuatmu lega",
"Mungkin setelah ini suster akan jijik pada saya", Ryeowook terisak pelan. Leeteuk mengelus rambut Ryeowook dengan lembut,
"Tidak akan anakku, aku menyayangimu seperti anakku sendiri, dan seorang ibu pasti akan menerima anaknya apa adanya"
Ryeowook menarik napas panjang, dia memang sangat membutuhkan tempat untuk berbagi cerita, dan amat sangat bersyukur ada Leeteuk yang mau mendengarkannya, lalu meluncurlah cerita itu dari bibirnya,
"Aku tidak menyalahkanmu Ryeowook, yang aku tidak habis pikir, betapa bejatnya bosmu itu memanfaatkan kondisimu untuk kepuasan dirinya!", geram Suster Leeteuk.
Ryeowook buru-buru mencegah kemarahan Leeteuk,
"Bukan suster, sampai sekarang Mr. Yesung tidak tahu kalau aku memerlukan uang itu untuk biaya perawatan Donghae, dia mengira aku perempuan muda dengan gaya hidup berfoya-foya yang punya banyak hutang karena gaya hidupku, jadi dia tidak segan-segan mengambil atas pembayarannya"
Leeteuk mengerutkan keningnya,
"Kenapa kau tidak mengatakannya Ryeowook? setidaknya dia bisa lebih menghargaimu jika tahu alasanmu yang sebenarnya",
Ryeowook menggelengkan kepalanya,
"Tidak suster, aku tidak mau Mr. Yesung mengetahui tentang Donghae, lelaki itu tidak mudah ditebak, tidak tahu apa yang akan dilakukannya jika tahu tentang Donghae nanti",
Leeteuk menarik napas,
"Setidaknya dia tidak brengsek seperti lelaki hidung belang yang mungkin nantinya akan menjerumuskanmu", tiba-tiba tatapan Leeteuk berubah intens dan hati-hati,
"Apakah dia berbuat kasar atau tidak Ryeowook?"
Ryeowook saat itu sedang melamun sehingga tidak menyadari maksud kata-kata Leeteuk,
"Eh? Apa Suster?"
Leeteuk tampak salah tingkah,
"Apakah dia bertindak kasar semalam Ryeowook?, maksudku itu kan pertama kalinya, kebanyakan wanita akan merasa tidak nyaman, apalagi jika pasangannya bertindak kasar",
Wajah Ryeowook langsung merah padam,
"Tidak, Mr. Yesung tidak kasar...Oh Tuhan!", Ryeowook menutup mukanya dengan kedua tangannya,"Aku malu sekali suster, tiap kali aku memandang diriku di cermin aku merasa seperti perempuan yang sangat tidak berharga."
Leeteuk menepuk pundak Ryeowook lembut, menenangkannya,
"Ryeowook, kita semua tahu alasanmu melakukan ini, aku sendiri dapat mengerti dan menerimanya, pengorbananmu demi Donghae sudah luar biasa besarnya, aku yakin Tuhan pasti akan mengerti", tiba-tiba wajahnya berubah profesional,
"Ryeowook aku yakin, Mr. Yesung ini akan 'mengunjungimu' secara berkala bukan? Mungkin pertanyaan ini mengganggumu, tapi aku harus bertanya, apakah kemarin dia menggunakan pengaman?",
Ryeowook memandang Leeteuk dengan bodoh,
"Pengaman?"
Barulah ketika Leeteuk menatapnya dengan intens dan penuh arti, Ryeowook menangkap maksudnya, wajahnya memerah lagi,
"Oh, itu...", suara Ryeowook hilang, "kemarin dia memakainya"
Leeteuk berdehem,
"Baik, kalau begitu dia lelaki yang cukup bertanggung jawab, bagaimana kondisi tubuhmu sayang?",
"Eh, aku baik-baik saja Suster"
"Kalau begitu mari kita bicarakan tentang kontrasepsi, kau juga perlu membicarakan ini dengan Mr. Yesung "
.
.
Ryeowook meletakkan barang belanjaannya di meja dapur, tadi dia mampir sebentar ke supermarket untuk membeli bahan makanan.
Kondisi Donghae baik-baik saja dan cukup stabil, itu sudah membuatnya cukup tenang, Operasi sudah dijadwalkan 1minggu lagi, Sekarang Ryeowook hanya bisa berdoa dan menyerahkan semuanya pada Tuhan,
Dengan ragu, Ryeowook memandang sekeliling apartemen, lalu menarik napas panjang, semua ini terlalu mewah, terlalu berlebihan untuknya tinggal seorang diri di tempat seluas dan semewah ini, tadi dia menyempatkan diri mengatur pakaiannya yang sedikit, sehingga hanya memerlukan waktu sebentar, setelah itu dia sempat terdiam lama bingung mau berbuat apa, apalagi ditempat yang luas begini, suasana terasa sangat lengang dan sendirian. Baru kemudian Ryeowook menyadari bahwa dia belum sempat sarapan sejak tadi pagi, jadi dia memutuskan memasak makan malamnya.
Setelah mengatur belanjaannya yang sedikit itu di dalam lemari es raksasa, sehingga tampak menggelikan karena lemari itu terlihat kosong,
Ryeowook mengeluarkan beberapa butir telur, sedikit sosis dan sayuran, dikocoknya dengan pelan sambil berdendang, lalu dituangnya adonan omelet sederhana ini ke wajan mungil yang sudah diberi mentega.
Aroma harum telur menyeruak ke seluruh dapur,
"Baunya enak sekali"
Suara itu terdengar begitu tiba-tiba, tak disangka dan sangat menegejutkan sehingga Ryeowook hampir menjatuhkan mangkuk bekas adonan telurnya,
Dengan gugup dia menoleh ke pintu dapur, Yesung bersandar di sana, mengenakan baju santai dan tampaknya habis mandi,
"I,,,iya, aku memasak makan malamku", jawabnya gugup lalu memusatkan perhatiannya lagi ke telurnya.
Yesung melangkah dengan santai masuk ke dapur, tak mempedulikan kegugupan Ryeowook, dia berdiri dekat di belakang Ryeowook, lalu menengok penggorengan,
"Apa itu?", tanyanya tertarik melihat masakan Ryeowook.
"Eh, ini? Ini telur goreng kuberi campuran sosis dan sayuran", Ryeowook berusaha bertingkah wajar,
"Seperti omelet?", kali ini Yesung tampak benar-benar tertarik,
"Ya seperti itu, tapi ini lebih sederhana. Ryeowook menjawab sambil melirik ke ekspresi Yesung, baru sekarang Ryeowook sadar, ternyata lelaki ini tertarik pada hal-hal baru yang belum pernah ditemuinya sebelumnya.
"Buatkan aku satu ya"
Ryeowook menoleh mendengar permintaan Yesung,
"Memangnya kamu mau?", tanyanya ragu.
Lelaki itu mengangkat bahunya,
"Siapa tahu? Lagipula aku lapar sekali, setelah menyelesaijan urusan rumah, aku langsung kemari, kau kan masih penyesuaian diri disini, jadi aku ingin melihat kondisimu."
Dasar perayu ulung, Ryeowook memaki dalam hati, orang seperti Yesung tidak segan-segan memanipulasi pikiran perempuan agar mau melakukan apapun yang dia inginkan, pura-pura mengkuatirkanku, huh!
Yesung masih berdiri di belakangnya, napasnya terasa hangat di ubun-ubunnya karena Yesung memang jauh lebih tinggi dibanding Ryeowook, tiba-tiba saja, tangan lelaki itu ,mencengkeram pundak Ryeowook mendekatkannya ke belakang, kepalanya turun dan bibirnya mengecup leher Ryeowook dari samping dengan kecupan selembut bulu dan panas, sehingga tubuh Ryeowook bagaikan disetrum dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Aku menunggu di sofa ya, kita makan disana saja", gumam Yesung pelan, lalu melangkah pergi meninggalkan Ryeowook di dapur, yang mencoba menetralkan nafasnya.
.
.
Lelaki itu makan seperti biasa, dengan elegan. Sedangkan Ryeowook tidak bisa berkonsentrasi pada makanannya, dia tidak bisa mengalihkan tatapannya dari Yesung.
Ternyata Yesung suka masakan biasa, dari penampilan dan gayanya, kelihatannya lelaki itu hanya mau makan makanan tertentu dan yang pasti kelas atas, tak disangka dia bisa duduk santai di sofa menikmati sepiring omelet sederhana.
"Kenapa?", Yesung tiba-tiba menatap tajam setelah suapan terahkirnya, dia merasakan tatapan Ryeowook selama dia makan,
Ryeowook langsung menundukkan kepalanya gugup,
"Eh...tidak, tidak apa-apa."
Yesung tersenyum,
"Pasti kau heran kenapa aku mau makanan rumahan kan?",
Dia lalu meletakkan piringnya, "Aku juga manusia Ryeowook, kita tidak ada bedanya, kadangkala penampilan seseorang membuat kita berpikir bahwa manusia yang satu berbeda dengan yang lain",
Yesung mengangkat bahunya, "kuakui memang aku menyukai makanan berkualitas dan bercitarasa tinggi, tapi kadangkala, aku bosan, masakan sederhana buatan sendiri terasa lebih nikmat",
Dengan santai lelaki itu berdiri lalu menuang kopi dari poci di atas meja minuman, dan menyesapnya ringan.
"Dan suka minum kopi",
Tanpa sadar Ryeowook mengomentari kebiasaan Yesung, sejak kemarin, diamatinya Yesung selalu meminum kopi setiap ada kesempatan.
Lelaki itu tertawa mendengar komentar Ryeowook,
"Ya, kopi berkualiatas juga", gumamnya sambil mengedipkan sebelah matanya.
Ryeowook menunduk, entah kenapa Yesung yang santai dan ramah ini lebih membuatnya merasa nyaman, dibandingkan Yesung yang kaku dan dingin di kantor,
"Habiskan makananmu, setelah itu kita pindah ke ruang baca, kau bisa membaca atau melihat televisi, ada beberapa pekerjaan lagi yang musti kubereskan".
Ryeowook segera menyelesaikan makannya dan mencuci piring sementara Yesung membuat secangkir kopi lagi, sekaligus secangkir teh untuk Ryeowook, dan membawanya ke ruang baca,
Dengan enggan Ryeowook menyusul ke ruang baca, Yesung sedang duduk di sofa, menghadap notebooknya dan tampak Serius, dia hanya melihat sekilas pada Ryeowook,
"Duduklah, minum tehmu", gumamnya, lalu kembali serius lagi menghadap notebooknya.
Ryeowook sebenarnya mengantuk, tapi dia tidak enak kalau harus masuk kamar duluan, apalagi apartemen ini hanya mempunyai satu kamar yang luas, kamar lain hanya kecil dan diperuntukkan sebagai kamar pembantu, Ryeowook tidak tahu, apakah Yesung akan menginap ataupun pulang, dia sama sekali tidak mengatakan rencananya.
Ryeowook menghirup tehnya, lalu duduk di sofa di seberang Yesung, dia mengambil sebuah majalah dan membacanya sambil menenggelamkan tubuhnya di sofa.
Bacaan itu menarik, dan keheningan itu membuatnya merasa nyaman, hingga lama-lama dia tak bisa menahan kantuknya.
.
.
Ryeowook merasa ada yang mengusap lembut rambutnya, lalu tubuhnya terangkat dan terasa dipeluk hangat, dia merasakan tubuhnya terayun-ayun. Ketika dia membuka matanya yang berat, dia menyadari Yesung sedang menggendongnya ke kamar, lelaki itu tak menyadari Ryeowook membuka matanya, dengan langkah pelan dan hati-hati, dia berjalan ke arah kamar,
Ryeowook langsung pura-pura memejamkan matanya lagi begitu Yesung dengan lembut membaringkan tubuhnya di ranjang dan menyelimutinya.
Setelah itu tak ada gerakan, tetapi Ryeowook masih belum berani membuka matanya, Apakah Yesung memutuskan pulang atau tinggal?
Lalu ada gerakan di ranjang di belakangnya, ternyata lelaki itu menginap disini, Ryeowook menyadari dari selimut yang tersingkap dan gerakan tubuh lelaki itu menyelinap di balik selimut,
Kemudian, tubuh hangat Yesung mendekat dan merengkuh Ryeowook dari belakang, Pertama kali Ryeowook merasa tidak nyaman, tapi kemudian rasanya hangat ditengah kamar yang dingin itu, dan dia terlelap.
.
.
Ryeowook terbangun dengan rasa haus yang amat sangat, biasanya sebelum tidur dia meminum air putih, tapi tadi malam dia tidak melakukannya.
Dengan tak nyaman dia bergerak gerak gelisah,
"Ada apa Ryeowook?", sosok yang memeluknya dari belakang bertanya, suaranya sangat segar,
Tidakkah dia tidur? Gumam Ryeowook dalam hati,
"Haus", ahkirnya Ryeowook bisa bersuara meskipun parau.
Yesung langsung bergerak turun dari ranjang dan menuang segelas air di meja minum, lalu mengitari ranjang berdiri di samping sisi Ryeowook terbaring, lelaki itu tampak tinggi menjulang, hanya menggunakan celana piyama sutra hitam dan telanjang dada,
"Duduk, minum."
Dengan pelan Ryeowook duduk dan menerima gelas besar berisi air putih itu, masih setengah minuman tersisa, Yesung mengambil gelas itu,
"Apakah kau sudah bangun?", Ryeowook mengernyit karena suara Yesung sekarang menjadi parau.
Dengan masih bingung dia menganggukkan kepalanya,
"Bagus", Yesung menenggak sisa air putih di gelas Ryeowook sampai tandas lalu setengah membantingnya di meja samping ranjang.
Kemudian dengan gerakan tiba-tiba, dia mendorong Ryeowook hingga terbaring di ranjang dan menindihnya, napasnya terasa hangat di atas tubuh Ryeowook, dan mata birunya tampak berkabut dengan pupil yang mengecil sehingga tampak hitam, di tengah-tengah mata birunya.
Ryeowook agak terperanjat setengah membelalak memandang wajah Yesung yang sangat dekat di atasnya, napasnya terangah-engah penuh antisipasi, ketika kemudian Yesung mengecup bibirnya dengan sangat intim, semula hanya ciuman biasa, bibir dengan bibir, itupun sudah membuat Ryeowook panas dingin karena begitu ahlinya Yesung.
Menggerakkan bibirnya, Setelah sebuah ciuman yang lama dan panas Yesung mengangkat wajahnya dan tersenyum,Ryeowook bisa merasakannya karena bibir Yesung hanya berjarak beberapa inci dari bibirnya,
"Kau tidak biasa berciuman ya?"
Ryeowook memalingkan mukanya dengan pipi memerah mendengar pertanyaan blak-blakan itu, tapi Yesung meraih dagunya dan menempelkan bibir mereka lagi,
"Tirulah apa yang kulakukan padamu", bibir Yesung bergerak di bibir Ryeowook, dan ketika Ryeowook mengikutinya, Yesung mengerang senang, "ya...ya bagus,begitu...tidak,,,jangan gigit...bagus...bagus...buka mulutmu...ah sayang...",
Yesung terus memberikan instruksi di sela sela ciumannya yang makin panas dan bergairah, dan Ryeowook menurutinya, lebih dikarenakan ingin tahu, ketika Yesung membuka mulutnya Ryeowook mengikutinya,ketika lumatan Yesung makin dalam dan belaian lidahnya membelai Ryeowook dengan ahli, Ryeowook mengikutinya dengan tersendat-sendat, meskipun sepertinya itu cukup memuaskan bagi Yesung karena lelaki itu mengerang lagi dan memperdalam ciumannya, ciuman dengan bibir terbuka dan permainan lidah yang begitu panas dan seolah tidak akan berahkir, Ryeowook bahkan tidak pernah menyadari bahwa sebuah ciuman bisa dilakukan dengan sedalam dan seintim itu!
Lama kemudian Yesung mengangkat kepalanya, hanya sedikit seolah olah ingin tetap berdekatan dengan Ryeowook, matanya tampak berkabut dan napasnya terasa bergemuruh di dadanya,
"Itu tadi yang namanya french kiss...",gumamnya lembut, lalu tangannya mulai bergerak dengan ahli membuat Ryeowook melengkungkan punggungnya merasakan sengatan kenikmatan yang tidak diantisipasinya,
Tubuh telanjang mereka berdua bergesekan. Dengan lembut Yesung mengajari Ryeowook bagaimana cara menyentuhnya, bagaimana cara memuaskannya. Lelaki itu suka disentuh dimana-mana, dia akan mengeluarkan erangan pendek tertahan ketika Ryeowook menyentuhnya.
Dan itu mempesona Ryeowook, seorang lelaki yang begitu dominan dan jantan seperti Yesung, mengerang nikmat di bawah sentuhannya. Dengan takut-takut Ryeowook menyusuri bagian dalam lengan Yesung yang kekar, membuat napas Yesung terengah,
"Kau akan membunuhku dalam kenikmatan", bisik Yesung Serak, lalu melumat bibir Ryeowook penuh gairah, "Dan aku akan mati bahagia", desahnya.
Yesung menyatukan dirinya dengan lembut, melihat reaksi Ryeowook, dan ketika dia yakin tidak ada kesakitan lagi, dia mendesak perlahan, menembus kehangatan yang langsung membungkusnya rapat, membuatnya tergila-gila.
"Bagus sayang, jangan ditahan, aku akan mengajarimu...ah...kau begitu hangat dan siap untukku..."
Suara Yesung tenggelam di sela sela cumbuannya yang sangat ahli, menghanyutkan Ryeowook kedalam pusaran gairah yang selama ini tidak pernah dikenalnya. Dan ketika Yesung membuat Ryeowook mencapai puncak kenikmatan untuk kesekian kalinya. Lelaki itupun menyerah dalam beberapa hujaman tajam, mengejar kenikmatannya sendiri.
.
.
Ryeowook terbangun merasakan sinar matahari menerpanya, dia mengernyitkan alisnya dan membuka matanya pelan-pelan, Sinar matahari memang sudah mengintip malu malu dari balik gorden jendela balkon kamar apartemen itu,
Ryeowook menyadari ada tangan kekar yang memeluk perutnya dengan posesif, Yesung masih tidur, napasnya terasa naik turun dengan teratur di punggung Ryeowook. Mereka berbaring miring seperti sendok dan garpu, dengan Ryeowook membelakangi Yesung berbantalkan salah satu lengan Yesung, sementara lengannya yang lain memeluk Ryeowook erat, menempelkan punggung Ryeowook sedekat mungkin dengan dadanya.
Mereka telanjang, dan selimut tebal yang seharusnya menyelimuti mereka sudah tertendang oleh Yesung entah kemana, Seharusnya Ryeowook kedinginan, tapi tidak, karena Yesung memeluknya dengan begitu eratnya,
Tiba-tiba sengatan rasa bersalah seperti memukulnya, disinilah dia berbaring nyaman dalam pelukan laki-laki yang membelinya sementara Donghae...
Helaan napas Ryeowook pasti membangunkan Yesung karena lelaki itu terasa mulai bergerak, lalu sebuah kecupan lembut mendarat di pelipis Ryeowook,
"Selamat pagi", suara lelaki itu terdengar serak tapi sarat dengan kepuasan sensual yang dalam. Tentu saja lelaki itu puas, dia hampir tidak membiarkan Ryeowook tidur semalaman.
Ryeowook tidak menjawab, tetapi berusaha menarik selimut yang terlempar jauh di kakinya untuk menutupi ketelanjangannya.
Usahanya gagal karena Yesung mempererat pelukannya di pinggangnya sehingga Ryeowook tidak bisa bergerak,
"Tidak perlu selimut sayang, aku sudah mengenal setiap jengkal tubuhmu secara intim, tak ada yang terlewatkan...begitu juga sebaliknya hmmm?"
Wajah Ryeowook memerah sampai semerah-merahnya, bahkan telinganyapun memerah dan Yesung terkekeh melihatnya,
Lalu tiba tiba tawa itu hilang dan Ryeowook merasakan gairah Yesung bangkit lagi, Dengan bingung dia menolehkan kepalanya dan langsung bertatapan dengan mata biru Yesung yang menyala penuh gairah,
"Lagi?", Ryeowook tanpa sadar mengucapkan ketakjubannya, sebegitu cepat Yesung menginginkannya lagi setelah semalam?, hanya Tuhan dan dirinya yang tahu bagaimana bergairahnya Yesung semalam, Ryeowook pikir Yesung sudah terpuaskan, tetapi sepertinya dia salah.
"Aku juga tidak menyangka", gumam Yesung parau, "Sepertinya kau akan menjadi penyebab kematianku" kemudian Yesung meraih Ryeowook lagi ke dalam pelukan penuh gairahnya.
