A Romantic Story About Ryeowook

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Genre : Romance & Drama

Rate : M

Ini adalah FF remake dari novelnya Shanthy Agatha yang judulnya "A Romantic Story About Serena". Aku Cuma mengedit nama tokoh dan sedikit latar tempat kejadian untuk keperluan cerita.

Pairing : Yewook, GS

DLDR

.

.

.

.

.

CHAPTER 6

.

.

Ryeowook hampir saja terlambat kerja, dia menarik napas panjang melihat jam absennya... hanya kurang satu menit.

Dengan segera dia melangkah masuk ke mejanya, teman-teman seruangannya sudah mulai sibuk bekerja. Ryeowookpun mulai berkonsentrasi, tapi matanya hanya menatap kosong ke layar komputer, pikirannya mengingat ke kejadian semalam dan dia mengernyit, Dia merasa murahan sekali, menjual diri kepada laki-laki itu tetapi terlena dengan rayuannya. Mau bagaimana lagi, lelaki itu adalah jelmaan Eros penakluk wanita dengan segala pengalaman dan keahliannya, sementara Ryeowook baru pertama kalinya bercinta.

Tuhan, ampunilah dosa-dosaku. Ryeowook memejamkan matanya dan menundukkan kepalanya sebelum mulai menenggelamkan diri dalam pekerjaan.

"Iya, aku juga tidak menyangka", suara berbisik dua rekan disebelahnya menarik perhatian Ryeowook, "Rasanya seperti bukan Mr. Yesung."

Mendengar nama lelaki itu disebut mau tak mau Ryeowook menajamkan telinganya, mendengarkan.

"Tadi kami serombongan habis sarapan berpapasan dengan Mr. Yesung, kami hanya menunduk karena biasanya Bos besar itu hanya melirik dari sudut matanya, mengangguk selama sedetik lalu pergi dengan acuh tak acuh."

Wanita itu menghembuskan napas takjub, "tapi tadi,,,, astaga! Mr. Yesung bahkan berhenti, tersenyum ramah dan menanyakan kabar kita semua...", suaranya terpekik hampir histeris, "Dan senyumnya yang sangat jarang itu,,,bukannya menjawab semuanya malah terpesona dengan mulut menganga, ada yang mencoba menjawab tp yang keluar hanya suara tercekik", lanjutnya menggebu-gebu.

"Mr. Yesung sama sekali tidak merasa terganggu dengan sikap konyol kami. Dia malah tertawa geli dan melambaikan tangan ramah sebelum pergi... benar-benar anugerah tak terlupakan! Menurutmu..."

Ryeowook beranjak berdiri ke kamar mandi, tak tahan mendengarkan pemujaan pemujaan terhadap laki-laki itu.

Tapi tetap saja dia ikut bertanya tanya, Ryeowook terpekur di depan pintu kamar mandi.

Dia berpikir mengenai perubahan sikap Yesung dikantor, bosnya itu memang selalu memasang wajah dingin, ketus dan jarang bicara, banyak wanita di sini yang takut sekaligus memujanya karena sikapnya itu... tapi kenapa dia berubah ramah?

"Memikirkanku?"

Suara yang diucapkan dengan pelan dan lembut itu membuat Ryeowook membalikkan tubuhnya mendadak dengan terlonjak kaget dan hampir menabrak orang yang berdiri dibelakangnya.

Matanya langsung bertatapan dengan mata birunya yang tajam, obyek pikirannya.

Dan kenapa si bos ada di sini? Di lorong menuju kamar mandi lantai 3 padahal dia punya kamar mandi sendiri di ruangannya?

Tanpa sadar Ryeowook mengucapkan pertanyaannya keras-keras,

Yesung tertawa,

"Aku sedang menemui kepala personalia di lantai yang sama, tiba tiba ingin ke toilet, tidak bolehkah?", suaranya makin melembut, lalu matanya berubah tajam.

Dan Ryeowook mengenali tatapan itu, tatapan kalau...

"Damn! Aku sudah amat sangat merindukanmu!"

Dengan cepat Yesung meraih Ryeowook,lalu menciumnya, dengan gairah menggebu-gebu seolah-olah sudah lama tidak berciuman, padahal baru tadi pagi mereka...

Suara percakapan yang sayup-sayup mendekat membuat Ryeowook terperanjat, dengan secepat kilat didorongnya Yesung dan dia setengah berlari masuk ke toilet perempuan.

Didengarnya suara Yesung dengan ramah membalas sapaan orang-orang yang baru datang ke toliet, Suaranya terdengar biasa saja bahkan sedikit kegembiraan kecil terselip di sana. Apakah lelaki itu geli atas sikapnya?

Sialan dia! Tak sadarkah dia kalau menyergapnya seperti itu di toilet kantor benar-benar tindakan nekat? Jantungnya masih berdentam-dentam dengan kuatnya seakan ingin meloncat dari tempatnya...

Tapi... Ryeowook mengernyit, apakah jantungnya berdetak keras karena ketakutan... ataukah karena ciuman spontan yang tidak diduganya itu...?

.

.

"Kau tampak senang", Kangin menatap Yesung yang sedang memeriksa berkas kontrak kerja mereka dengan supplier baru.

Yesung mengalihkan tatapannya dari berkas di mejanya dan menatap Kangin muram,

"Bukannya itu bagus? Tapi kenapa aku mendengar nada mencela dari suaramu?"

Kangin mengangkat bahu,

"Aku cuma tak ingin kau mabuk kepayang dan melakukan hal-hal yang akan kau sesali nanti."

Tatapan Yesung berubah tajam,

"Aku?,,,, Mabuk kepayang?... Apakah kau sedang bercanda?"

"Bukan begitu maksudku, tapi sepertinya kau agak berubah, kau tahu, agak tidak fokus, bahkan kata sekertarismu tadi pagi kau terlambat, pertama kalinya, katanya."

"Dan kau kira itu karna aku mabuk kepayang pada Ryeowook, begitu?... Baik ! Memang aku terlambat karena terlalu asyik bercinta dengan Ryeowook, lalu kenapa? Perusahaan ini sebagian besar milikku! Apakah seorang pemilik tidak diperbolehkan terlambat?, toh keterlambatanku tidak merugikan perusahaan ini!

"Yesung", Kangin berusaha meredakan emosi Yesung, "Aku tidak bermaksud membuatmu marah, aku hanya mencemaskanmu."

Sejenak Yesung tidak berkata-kata, tatapannya menyala-nyala, matanya bagaikan api biru yang membakar. Tapi kemudian dia berhasil mengendalikan emosinya. Dihelanya napas keras-keras.

"Kau benar, maafkan aku Kangin."

Sebelum Kangin dapat menjawab, ponsel Yesung berdering, Yesung meliriknya dan dahinya berkerut melihat siapa yang menelponnya.

"Ada apa Victoria?"

Mendengar nama Victoria disebut, Kangin langsung berdiri dan memberi isyarat berpamitan pada Yesung, Yesung mengangguk mempersilahkan dan Kangin berjalan keluar ruangan.

Di seberang, suara Victoria yang lembut dan elegan terdengar mengalun.

"Aku bertanya-tanya, kenapa kau tak menghubungiku sayang, sabtu kemarin kau mendadak membatalkan acara makan malam kita, dan kemudian aku sama sekali tak bisa menemukanmu, apakah ada pekerjaan mendadak yang menyulitkanmu?"

Wajah Yesung berubah dingin, dia sama sekali tidak pernah menjalin komitmen dengan Victoria. Mereka diperkenalkan pada suatu acara makan malam, setelah itu Victoria menghubunginya, mengajak makan malam berdua karena ingin mengenal lebih dekat. Yesung tidak menolaknya. baginya Victoria cukup cantik dan saat wanita itu mendekatinya, kenapa tidak?

Pertemuan mereka berlanjut ke pertemuan-pertemuan berikutnya, Tetapi di saat awal Yesung sudah menegaskan kepada Victoria bahwa hubungan yang mereka jalin adalah hubungan tanpa ikatan. Saat Victoria mengundangnya ke tempat tidurnyapun Yesung sudah menegaskan itu dia lakukan tanpa ikatan dan tanpa cinta.

Tapi sekarang Victoria sepertinya besar kepala karena Yesung saat itu tidak dekat dengan wanita lain selain dirinya, dalam otaknya dia mengira bahwa dirinya telah berhasil menaklukkan Yesung dan membuat lelaki itu setia padanya, Dia tidak tahu bahwa saat itu pikiran Yesung sedang terpaku untuk mendapatkan wanita lain, Ryeowook.

Sekarang Yesung merasa muak dengan tingkah Victoria yang bertindak seolaholah mereka sepasang kekasih, yang harus selalu mengetahui kegiatan Yesung dan merasa berhak mengatur-atur Yesung.

"Sayangku, Yesung? Kau masih disana?"

"Victoria, maafkan aku sedang sibuk sekali."

Terdengar helaan napas dramatis di sana, sudah pasti wanita ini tidak akan menyerah, dia terbiasa dikejar kejar dan dipuja lelaki, penolakan hanya membuatnya lebih gigih mengejar.

"Begini sayang, aku ada undangan pesta di rumah Yonghwa, kau tau kan pelukis terkenal itu? Dia mengadakan pesta di pembukaan pameran lukisannya... Aku belum punya pasangan untuk datang ke sana, kau mau kan menemaniku?"

Yesung menghela napas keras.

"Victoria, sudah kubilang aku sibuk, aku tak bisa menemanimu ke pesta manapun, lebih baik kau ajak kekasihmu atau laki laki lain, pasti mereka dengan senang hati akan menemanimu."

"Tapi Yesung, aku mencintaimu dan aku ingin kamu..."

"Aku bukan kekasihmu Victoria, dan tak akan pernah, ingat itu, jadi jangan meminta macam-macam dariku, Oke ?", Yesung langsung menyela dengan kesal.

"Oke, Oke !" Victoria setengah menjerit, "kau sudah pernah mengatakan itu berulang kali padaku, tapi tidakkah kebersamaan kita selama ini..."

"Victoria, aku sibuk. Maaf!", Yesung langsung menutup percakapan, menyudahinya karena dia yakin Victoria tidak akan menyerah dengan segera.

.

.

Ryeowook baru saja membuka pintu apartemen ketika teleponnya berdering, dia segera mengangkatnya dan langsung terdengar suara Yesung diseberang sana,

"Kau suka masakan cina?"

"Hah?", Ryeowook terperangah mendengar sapaan pertama Yesung yang tanpa basa-basi, baru ketika Yesung mengulang pertanyaannya dia mengerti, dan tanpa sadar mengangguk.

"Ryeowook?"

Mendengar pertanyaan Yesung, Ryeowook baru sadar kalau dari tadi dia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Eh...iya...iya.."

"Oke, kalau begitu jangan memasak malam ini, kubawakan dua porsi untuk kita."

Telepon ditutup. Meninggalkan Ryeowook yang yang masih terperangah.

Satu jam kemudian, ketika Ryeowook menyeduh kopi, Yesung datang, langsung ke dapur, masih mengenakan jas resminya, tapi dengan dasi yang sudah dikendorkan. Dia meletakkan Kantong kertas berisi makanan yang masih panas, berlogokan nama hotel bintang lima.

"Tadi ada undangan pertemuan dengan kilen di sana, hanya minum kopi, tapi aku lalu ingat kalau masakan cina di hotel ini terkenal enaknya, dan aku ingat kamu."

Yesung mengedipkan sebelah matanya, "Siapkan ya, aku mandi dulu."

Dengan langkah anggun Yesung membalikkan badan menuju kamar.

Ryeowook mengatur masakan berbau harum itu pada piring saji, sambil mengatur poci kopi di nampan untuk Yesung, untuk dirinya dia menyeduh secangkir teh.

Yesung muncul di dapur setengah jam kemudian, dengan piyama sutra hitam, lalu duduk di kursi di meja dapur.

"Aku lapar sekali, tadi jalanan macet."

Ryeowook duduk di hadapan Yesung, memperhatikan lelaki itu mulai menyantap hidangannya dengan penuh minat.

"Tadi, di pertemuan tidak ada makan malam?", setahu Ryeowook pertemuan bisnis di hotel seperti itu selalu disertai dengan jamuan makan malam.

"Ada, tapi aku menolaknya, hanya minum kopi tadi", Yesung menatap Ryeowook dengan tiba-tina hingga Ryeowook kaget, "Kenapa tidak kamu makan ? ayo, enak lho."

Dengan gugup Ryeowook menyantap makanannya, memang enak sekali, gumam Ryeowook pada suapan pertama, Tanpa sadar dia makan dengan lahap, dan baru berhenti ketika menyadari Yesung menatapnya geli, pipinya langsung bersemu merah.

Yesung langsung terkekeh geli.

Ryeowook baru mengetahui kepribadian Yesung yang seperti ini, santai dan penuh tawa, berbeda sekali dengan apa yang ditampilkannya di kantor.

Selesai makan seperti biasa Yesung minta ditemani saat mengerjakan tugas kantornya, lelaki itu tampak serius mengahadapi notebooknya, sambil sesekali menyesap kopi, sementara Ryeowook menyibukkan diri denga menonton chanel masak memasak di TV kabel. Benaknya berkecamuk, apakah Yesung akan bercinta dengannya lagi? Bodoh! Tentu saja, kalau bukan untuk itu buat apa

lelaki itu menginap disini?

"Kau bisa memasak yang seperti itu?" Suara celetukan Yesung hampir membuat Ryeowook terlonjak karena kaget.

Ryeowook menatap ke arah Yesung, lelaki itu sudah bersandar di sofa, dengan santai menyesap kopinya sambil menatap televisi. Notebooknya sudah tertutup dan berkas-berkasnya sudah tersusun rapi, Astaga...berapa lama tadi dia melamun? Sudah berapa lama Yesung menyelesaikan pekerjaannya?

Dengan buru buru Ryeowook menoleh ke televisi, adegan disana menampilkan cara memasak sup jagung dengan berbagai modifikasinya.

"Bisa...aku pernah membuatnya meski tidak persis seperti itu."

Yesung tersenyum.

"Aku jadi ingat saat aku sakit waktu kecil dulu, ibuku selalu membuatkanku sup jagung, tidak ada yang mengalahkan rasa sup buatannya."

Ryeowook ikut tersenyum mengenang.

"Ibu dulu membuatkanku bubur ayam. Rasanya tidak enak hingga aku selalu ingin memuntahkannya."

Yesung tertawa geli mendengarnya.

"Aku belum pernah menemui wanita sepertimu sebelumnya", gumamnya dalam tawa.

Ryeowook menoleh pada Yesung dengan bingung.

"Wanita sepertiku...?"

"Polos, jujur dan tidak berusaha memanipulasiku", senyum Yesung berubah sensual," dan masih bisa tersipu sampai memerah di sekujur kulitnya, padahal sudah berkali-kali kusentuh."

Kali ini Ryeowook hampir tersedak tehnya,dengan cepat diletakkannya cangkirnya dan ditatapnya Yesung dengan waspada. Lelaki itu juga sedang menyesap kopinya, tapi mata birunya yang tajam itu menatap serius pada Ryeowook.

"Kau seperti kelinci yang terjebak ketakutan", gumam Yesung sambil menyipitkan matanya, "apakah cara bercintaku menyakitimu?"

Pipi Ryeowook langsung memerah mendengar pertanyaan Yesung yang blak-blakan itu,

"Ti...tidak, bukan begitu... saya... saya hanya belum...terbiasa..."

Ryeowook menelan ludah ketika Yesung beranjak dari sofanya dan berdiri di depan Ryeowook, lalu menarik Ryeowook berdiri dan langsung mencium bibirnya dengan lembut,

"Kalau begitu, tidak ada yang bisa kulakukan selain membuatmu terbiasa bukan?", suara Yesung berubah serak, lalu dengan cepat mengangkat Ryeowook dan membawanya ke kamar.

.

.

Jam dua pagi, ketika Yesung terbangun dan menyadari ada tubuh hangat dalam pelukannya.

Ryeowook berbaring meringkuk di dadanya, tubuhnya begitu mungil hingga Yesung merasa bisa meremukkannya dalam sekejap kalau dia mau. Damn! Kadangkala karena Ryeowook begitu mungilnya jika dibandingkan dengan tubuhnya yang tinggi besar, Yesung seperti merasa sedang melakukan pelecehan seksual pada anak di bawah umur.

Tanpa sadar tangan Yesung mengelus punggung polos Ryeowook, dan dalam tidurnya, Ryeowook bergumam tidak jelas, lalu meringkuk makin rapat ke dada Yesung.

Tidak! Mungkin ukuran tubuhnya seperti anak-anak, tapi tubuhnya benar-benar tubuh wanita dewasa. Yesung tidak pernah merasa begitu bergairah sekaligus begitu terpuaskan selain dengan Ryeowook. Tubuh mungil itu telah memberikan kepuasan yang sangat dalam bagi Yesung.

"Aku mungkin tak akan pernah melepaskanmu" guman Yesung di kegelapan,

"kau milikku Ryeowook"

Seolah mendengar ancaman Yesung di alam bawah sadarnya, alis Ryeowook berkerut dan menggumam tak jelas.

Yesung tertawa geli melihatnya, lalu dikecupnya dahi Ryeowook dengan lembut.

Anak kecil ini benar-benar tidak terduga, tidak disangka dia akan menyerah di pelukan gadis seperti ini.

"Dong...hae"

Yesung langsung menoleh secepat kilat ke arah Ryeowook, Apa? Tadi gadis itu bilang apa?!

"Donghae",

Kali ini gumaman Ryeowook terdengar lebih jelas. Bahkan Yesung melihat ada air mata di sudut matanya.

Rahang Yesung menegang karena marah, siapa lelaki yang disebut Ryeowook itu?

Kenapa dia tidak pernah mendengarnya? Dia sudah menyelidiki Ryeowook bukan?

Selama ini Ryeowook tidak pernah dekat dengan lelaki manapun, dia bahkan masih perawan!

Dengan gusar Yesung menghapus air mata di sudut mata Ryeowook, lalu mengguncang tubuh Ryeowook pelan.

Dan mata lebar yang polos itu terbuka menatap Yesung dengan bingung karena dibangunkan tiba-tiba,

"Berani-beraninya kau!" desis Yesung dengan tatapan membara, "Berani-beraninya kau menyebut nama lelaki lain dan menangis untuknya di atas ranjangku!"

Ryeowook benar-benar tidak siap ketika Yesung menyerangnya dengan cumbuan yang sangat hangat dan menggelora. Kali ini Yesung berbeda dengan biasanya,dia seperti...seperti membara, seolah olah tidak ditahan-tahan lagi, ada apa? Ada apa sebenarnya?

Tapi Ryeowook sudah tidak dapat berpikir lagi karena Yesung sudah menenggelamkan kesadarannya dengan cumbuan dan belaian jemarinya yang sangat ahli. Sungguh nikmat... dan Ryeowook akhirnya menyerah dalam pelukan Yesung.

.

.

Ryeowook terbangun sendirian di ranjang itu. Yesung sudah tidak ada. Yah lelaki itu mungkin sudah pergi pagi-pagi sekali kembali kerumahnya sebelum berangkat ke kantor. Dia kan punya rumah, tidak mungkin kan dia terus-terusan berada di apartement ini?

Tapi entah mengapa Ryeowook merasa ada yang kosong, setelah beberapa kali dia terbangun dengan Yesung di sisinya, entah kenapa ada yang kurang saat dia terbangun sendirian sekarang.

Bodoh! Apa yang kau pikirkan Ryeowook? Kau hanyalah wanita simpanannya, yang dibelinya untuk memuaskan nafsunya! Jangan pernah berpikir macam-macam. Lagian masih ada Donghae yang harus kau cemaskan.

Sambil membungkus tubuhnya dengan seprai, Ryeowook melangkah ke kamar mandi, tubuhnya terasa agak nyeri, karena entah kenapa pagi tadi Yesung bercinta seolah-olah kesetanan dan tidak menahan-nahan diri.

Ketika mengaca dan menurunkan selimutnya Ryeowook mengernyit.

Dari Leher, buah dada sampai perutnya, semuanya penuh dengan bekas ciuman Yesung. Lelaki itu seolah sengaja meninggalkan jejak di mana-mana. Warnanya merah di sekujur tubuh Ryeowook, dan Ryeowook yakin tak lama lagi akan berubah menjadi ungu.

Dasar Yesung! Siapapun yang melihat akan tahu kalau ini bekas ciuman, di bagian dada bisa dia sembunyikan, tapi yang di leher?

Ryeowook belum pernah mendapatkan bekas ciuman seperti ini di tubuhnya sebelumnya.

Percintaannya dengan Donghae selalu sopan dan tidak pernah sepanas itu sehingga Donghae bisa meninggalkan bekas-bekas ciuman di kulitnya. Tapi Ryeowook tahu bekas ciuman seperti ini butuh beberapa hari untuk hilang.

Dasar Yesung bodoh! Gerutunya sambil mencari cari turtle neck yang dapat menutupi tubuhnya sampai ke leher lalu memadankannya dengan blazer, Ryeowook hanya menyapukan bedak tipis ke mukanya, lalu segera melangkah keluar, jangan sampai dia terlambat ke kantor lagi.

Ketika berdiri di tepi jalan menanti kendaraan umum, Ryeowook merasakan sengatan sakit yang tiba-tiba di kepalanya.

Aduh! Di saat seperti ini migrainnya kambuh. Tapi tentu saja hal itu terjadi, dia belum sarapan, dan dia kurang tidur gara-gara Yesung hampir tidak pernah membiarkan tidur nyenyak tiap malam. Dengan memaksakan diri Ryeowook naik ke dalam bus menuju kantornya.

.

.

"Wajahmu pucat sekali", salah seorang temannya memandang Ryeowook dengan cemas ketika Ryeowook mendudukkan diri di kursinya. Tadi dia hampir terlambat dan setengah berlari ke mesin absen.

Ryeowook memegang pipinya, memang terasa agak panas, apakah dia demam? Dan kepalanya juga pusing sekali. Tapi tetap dipaksakannya tersenyum,

"Tidak apa-apa kok, mungkin karena belum sarapan, nanti setelah minum teh hangat pasti agak baikan."

Tapi ternyata tidak, rasa pusing itu makin menusuk nusuk di kepalanya terasa nyeri, bahkan untuk menolehkan kepalanya saja terasa sangat sakit, badannya juga sama saja, rasanya nyeri di sekujur tubuh seperti habis dipukuli. Ryeowook bertahan dengan tidak bergerak di kursinya, tapi rasa sakitnya makin tak tertahankan,

"Ryeowook coba kesini sebentar, lihat draft pemasaran ini bagaimana menurutmu?", salah seorang rekannya memanggilnya.

Dengan mengernyit Ryeowook mencoba berdiri, tubuhnya limbung sejenak, tapi dia berdiri dan bertahan sambil berpegangan di tepi meja.

Lalu setelah menarik napas dalam-dalam, dia melangkahkan kaki ke meja rekannya. Tapi tiba-tiba rasa nyeri tak tertahankan menyerang kepalanya dan semuanya menjadi gelap.