Daisuki Summer and You
A Naruto Fic
Disclaimer Naruto : Masashi Kishimoto
Pair : Sasuke Uchiha and Sakura Haruno
Rate : Teen
Romance/Hurt/Comfort
Warning : DLDR, OoC, AU, Typo(semoga tidak ada), gaya penulisan aneh, cerita suka-suka gua.
.
FLASHBACK
Musim panas sudah dimulai, banyak orang-orang menghabiskan liburan musim panasnya di pantai Konoha, ada yang berjemur, berselancar, naik banana boat, dan lain-lain. Seakan tidak peduli dengan cuaca yang terik.
Kaki jenjang itu berlarian diatas pasir pantai yang halus, rambut merah muda panjangnya yang ia ikat ponytail itu berkibar-kibar di hembus angin laut. Tangan putihnya melambai-lambai pada pemuda yang mulai terlihat kelelahan lomba lari dengannya, pemuda berambut raven itu duduk di atas pasir, mensejajarkan kakinya kedua tangannya diletakkan di belakang untuk menopang berat tubuhnya. Sasuke tak habis fikir gadis itu semangat sekali ketika berada di pantai, dia tahu betul, Sakura sangat menyukai pantai yang tiap hari gadis itu elu-elukan ketika disekolah. Bibir merah muda itu mengerucut sebal, kemudian dia pun melangkahkan kakinya kearah Sasuke sambil membeli 2 es kelapa muda.
"Kau payah Sasu" lidahnya melet sembari menyodorkan es kelapa muda pada Sasuke dan mengambil posisi duduk yang nyaman di samping pemuda itu.
Sasuke bangkit dari rebahnya kemudian langsung menyeruput es kelapa muda itu, dan menghadiahi sakura deathglare khasnya.
"Aku bukannya payah, kau saja yang kelewat enerjik" sindir Sasuke.
Sakura memutar matanya bosan, kelewat enerjik? Hey! Apa salahnya mengekspresikan kebahagiaan sendiri ?
"Tidak mau ngaku dia. Dasar Sasucakes-chan hahaha" gadis itu terbahak. Sakura meniru panggilan sayang Itachi pada Sasuke. Tawanya makin mengeras tatkala melihat raut Sasuke menampilkan ekspresi –ieyucks!- nya.
"Diam, Jidat jelek" Tawa Sakura terhenti, jidat jelek? What the hell?! Mungkin untuk jidat, dia mengaku sering di katain Ino tentang jidat lebarnya. Tapi untuk jelek, Sakura tak terima. Teman-temannya –dan tentu saja ayah dan ibunya mengatakan kalau dirinya cantik. Urat jengkel muncul di dahinya yang lebar. Sedetik kemudian...
"HAHAHAHA, 1 sama" tawa keduanya pecah.
Krik
Krik
Suasana sunyi melingkupi mereka, berada dalam fikiran masing-masing. Angin pantai masih setia meniup-niupkan rambut mereka. Hari yang semakin sore menimbulkan pantulan matahari yang kemerahan di atas air laut. Mata berbeda warna itu memandangi pemandangan yang tersaji di depan mereka dengan tatapan lembut.
Sakura menoleh pada Sasuke, emeraldnya menyipit saat menatap sasuke, menyilaukan. Merasa ditatap Sasuke mengalihkan pandangannya ke Sakura. Dengan cepat Sakura mengalihkan pandangannya, Ia bersyukur pantulan bias cahaya matahari dapat menyamarkan semburat rona pink di wajahnya.
"Sa –"
Ucapannya terhenti saat kepalan tangan Sasuke memukul bahunya pelan. Bibir itu mengerucut.
"Kau kenapa Saku?" Ucap Sasuke heran melihat Sakura seperti ingin menyampaikan sesuatu.
"Ehm, Apakah kita bisa terus seperti ini, Sasu?" Sakura bertanya ragu-ragu. Jujur ia gugup saat ini.
"Tentu saja. Ada ap–"
"Bahkan jika kau sudah memiliki kekasih?"
"itu sudah jelas. Kau ini kenapa sih?" Sasuke makin heran, tadi gadis itu sangat berisik. Kenapa sekarang tiba-tiba seperti ini?
"Aku hanya takut kau meninggalkanku, melupakanku" Wajah ayu gadis itu berubah murung, masih menatap laut didepannya.
Sakura menolehkan kepalanya kearah Sasuke, saat melihat jari kelingking yang disodorkan dihadapannya. Alisnya bertaut, bingung. Pemuda itu tersenyum kecil.
"Kau boleh melakukan apa saja pada ku kalau sampai itu terjadi. Aku tidak akan meninggalkan ataupun melupakanmu Saku, kau itu teman yang sangat berharga bagiku. Aku berjanji. Kau?" ucap Sasuke tegas.
"Aku juga berjanji" Sakura mengaitkan kelingkingnya di kelingking Sasuke. Keduanya tersenyum, lalu melepaskan kaitan kelingkingnya.
Hatinya lega. Sasuke sudah berjanji begitupun dirinya. Sekarang tak ada yang perlu di khawatirkan lagi. Tapi, masih ada 1 hal lagi yang masih membuatnya bingung, rasa cintanya terhadap pemuda ini. Tak tahu harus dikemanakan rasa itu. dipendam hanya akan membuat sesak di dada. Jika di ungkapkan, bukan tidak mungkin Sasuke akan menjauhinya. Dia teringat perkataan Temari, 'Dari pada dipendam lebih baik diungkapkan, tak baik untuk hati kita.' Temari mengatakan itu pada Hinata saat gadis Hyuuga itu menceritakan perasaaannya terhadap si kuning jabrik itu -Naruto. 'Sepertinya aku harus mengatakannya'.
"Sasuke-kun." Panggil Sakura.
"Hn." Sahut Sasuke tanpa mengalihkan pandangannya.
"Apa kau sudah memilki orang yang kau sukai?" tanyanya. Tangan kecilnya memainkan pasir pantai, membuat suatu pola tulisan.
"Sepertinya belum. Kenapa?"
"A – aa tidak. S-Sasu.. se-sebenarnya..." Dahi pemuda raven itu mengerut bingung.
"Hn? Sebenarnya...?" Sasuke melanjutkan ucapan Sakura yang terhenti.
Gadis itu menunduk, menghindari tatapan onyx yang menatapnya dengan begitu dalam. Menyembunyikan semburat kemerahan di pipinya.
"Se-se..." 'Aku belum siap kau jauhi Sasuke-kun'
"HEY! Sebenarnya apa?!" Teriak Sasuke saat gadis itu berlari menjauh.
"AYO PULANG SASUKE-KUN!" teriak Sakura dari kejauhan. 'Aku benar-benar belum siap'.
END OF FLASHBACK
Gadis bersurai pink itu tersenyum kecut mengingat kejadian itu. Sejak pulang dari pantai itu Sasuke terus menanyakan kelanjutan dari kata 'Sebenarnya..' yang diucapkan Sakura, namun hanya dibalas dengan senyum kecil dari Gadis itu.
Entah hanya perasaannya saja atau memang musim panas sudah dimulai, padahal hari masih pagi. Sinar mentari seolah-olah membakar kulit putihnya.
Seperti biasa Sasuke menjemput Sakura setiap berangkat sekolah. Biasanya Sakura tidak berhenti mengoceh saat diatas motor, tapi hari ini gadis bermata emerald itu diam, tak bersuara seperti orang bisu. Sakura sendiri tak tahan dengan keadaan seperti ini.
"Kau–"
"Sakura, Kau sudah berkenalan dengan anak baru itu?" Tanya Sasuke dari balik helm, walau samar tapi masih terdengar oleh telinga Sakura.
" –kemarin kemana?" Sesak. "Belum" jawab sakura.
"Sa–"
"Geez, Sakura. Kenapa belum? Kalau begitu nanti kukenalkan"
' –suke, kau lupa ya?' Sakura diam. Di jengah, sungguh jengah. Lebih baik diam sepanjang jalan dari pada harus membuka percakapan tentang anak baru itu. namanya saja aku tak tahu. Batin Sakura kesal.
"Oi, Saku.."
"Sakura.." Merasa diabaikan, Sasuke berhenti memanggil gadis itu. Dan suasana pun sunyi kembali.
Motor hitam itu berhenti diparkiran. Melepaskan helm, Sakura berjalan meninggalkan Sasuke yang masih menatapnya aneh setelah menggumamkan terima kasih.
Sampai dikelas, pemuda raven itu mengedarkan pandangannya kepenjuru kelas. Onyx nya bertemu pandang dengan emerald jernih itu. Namun tak berlangsung lama, karena si gadis buru-buru membuang muka. 'Dia kenapa?' gumam Sasuke.
Pelajaran pertama dimulai, semua murid terlihat serius mengerjakan soal-soal dari sang sensei. Kecuali Gadis manis berambut soft pink itu. Dia terlihat seperti sedang memikirkan masalah yang besar. Padahal.. 'Huh! Kau bodoh Sakura! Di diamkan Sasuke-kun rasanya tidak enak kan?!' rutuknya pada diri sendiri, karena sejak masuk kekelas pemuda itu tidak menyapanya. Dan itu sukses membuat Sakura pusing. Untungnya dia punya otak diatas rata-rata, untuk mengerjakan soal yang terbilang susah itu. bunyi ketukan penanya pada permukaan meja membuat teman sebangkunya menoleh kearahnya.
"Kau sudah selesai?" Tanya pemuda berambut raven itu berbisik.
Sakura mengangguk. "Kau sendiri?"balasnya berbisik. 'ku kira dia marah, syukurlah'
"Hampir selesai"
"Otak jenius mu kenapa Sasu? biasanya kau yang sudah lebih dulu" sindir Sakura. "Ah. Aku tahu, kau pasti memikirkan gadis pirang itu ya?" goda Sakura dengan nada yang jahil. Cih! Sangat bertolak belakang dengan hatimu Saku!
Melihat semburat merah dari kedua pipi Sasuke membuat dadanya semakin sesak. 'Oh great! Saku, kau membuat luka mu sendiri.' Batin gadis itu.
Bel istirahat baru berbunyi, Sakura dan Hinata sedang bergossip ria di dalam kelas, tawa mereka membahana di dalam kelas. Sesekali emerald itu menoleh kearah Sasuke dan Ino, yang sedang mengobrol. Sekedar 'mengukur' ke-akrab-an Sasuke dan Ino. Hinata yang menjadi teman bergossip Sakura tentu saja memperhatikan Sakura.
"Kau tahu Hinata? Naruto pernah bilang kalau dia pernah lihat Ibiki-sensei ngondek! Hahahaha." Tawa Sakura lagi.
"Hahahah. Ngondek? Pfft – Sasuke-san?" alis gadis pink itu bertaut, lalu Ia membalikkan tubuhnya.
"Hai. Saku" Sapa Sasuke.
"Aa – Hai" balas Sakura singkat sambil tersenyum kecut melihat Ino di samping Sasuke.
"Nah Saku, perkenalkan ini Ino. Ino, ini Sakura. Ayo berkenalan" Ucap Sasuke.
"Haruno Sakura" Sakura menjulurkan tangannya pada Ino, dan disambut oleh Ino "Yamanaka Ino" Keduanya tersenyum.
'Senyumnya, seperti – mengejek.' Batin Hinata ketika melihat senyum Ino yang tak lazim untuk sapaan perkenalan. Namun, nampaknya Sakura tidak tahu arti dari senyum gadis pirang itu.
"Kami ke kantin duluan, Sakura-san, Hinata-san" pamit Ino.
Sasuke dan Ino langsung melengos meninggalkan kelas. Raut muka Sakura berubah sendu, ketika melihat tangan Sasuke bertautan dengan tangan Ino. Ia memandangi punggung Sasuke yang semakin menjauh, seperti keberadaannya di sekitar Sakura yang perlahan menjauh. Hinata tahu, Sakura sedang berusaha menahan sesak di dadanya. Hinata meraih tangan Sakura kemudian menggenggam jari-jari mungil gadis itu. tangannya dingin, Sakura menoleh pada Hinata.
"Aku tahu perasaan mu Sakura-chan" Sakura tersentak, likuid bening itu siap jatuh dari sang emerald dalam sekali kedip.
"Kau menyukai Sasuke-san kan?" lanjut gadis bermarga Hyuuga itu. Setetes likuid itu meluncur dari sudut mata itu.
"K-kau – "
"Ini. Dari cara mu memandangnya. Kau bersikap dingin padanya hanya untuk menyembunyikan rasa suka mu kan? Kau takut jika dia tahu perasaanmu?" Potong Hinata, seraya menyodorkan selembar tisu pada Sakura.
Gadis itu mengusap air mata yang mengalir dipipi nya. Ia tertunduk, bahunya bergetar, isakan-isakan kecil dari bibirnya terdengar. Rambut pink panjangnya yang ia gerai menutupi wajahnya, seolah menjawab pertanyaaan yang dilontarkan Gadis Hyuuga itu.
"Sakura-chan, kau tidak menyukai Sasuke tapi kau mencintainya kan?" Tanya Hinata pelan.
Sakura mengangguk. Gadis bermata amethyst itu tersenyum kecil.
"Kalau begitu buat dia membalas perasaanmu, atau lupakan dia jika kau tidak ingin merasakan sakit lagi" Sakura masih tertunduk, sesekali terdengar isakannya.
"Ah-, maaf Sakura-chan aku tidak bermaksud mengguruimu. Maaf, A-aku ke toilet dulu Sakura-chan." Hinata melangkah menjauh dari Sakura, sesekali dia menoleh kea rah Sakura yang masih tertunduk.
"Terima kasih, Hinata-chan"
Entah kenapa tiba-tiba bibir mungilnya mengucapkan kalimat itu, berkali-kali gadis bermarga Hyuuga itu merutuki dirinya yang sok bijak, padahal sendirinya tidak begitu mengerti tentang percintaan. Hinata benar-benar takut Sakura jika marah padanya. Sakura kalau marah
Sabar. Sakura berusaha sabar melihat Sasuke yang sempat-sempatnya mengobrol dengan Ino di jam pelajaran Asuma-sensei. 'Sabar. Ini baru dimulai, lembaran baru dimulai. Yosh! Ganbatte Sakura!' Semangatnya pada diri sendiri.
Bel pulang sudah menghampiri Hinata yang sedang mengemasi buku-bukunya. Ne, tampaknya kau sudah bisa tersenyum Saku?
Amethyst itu tak sengaja melihat Sakura yang melangkahkan kakinya kearahnya. Dengan sigap ia melangkahkan kakinya. Takut. Dahi Sakura mengernyit bingung. Dia berlari mengejar Hinata yang sudah jauh.
"Hosh.. Hosh.." Sakura menyamakan langkah kakinya dengan Hinata.
Grep .
"Kau ini kenapa sih Hinata-chan?" sosor Sakura. Tangannya masih menahan tangan Hinata saat gadis Hyuuga itu mau kabur tadi. Gadis berambut ungu gelap itu diam. Aha!, dia tahu jawabannya.
"Kau fikir aku marah, eh? Hhh~ untuk apa aku marah jika diberi solusi bagus seperti tadi." Gadis itu berbicara sambil tersenyum.
Hinata menatap Sakura, "Jadi kau tak marah?" tanyanya belum yakin
"Hu'um. Tentu" Baru kali ini Hinata merasa berguna untuk Sahabatnya.
Mereka berjalan beriringan menuju halte bus. Bersama dengan murid-murid yang lain.
"Ehm, Kau tidak pulang bersama dengan Sasuke?" Sakura menggeleng.
"Dia bilang ada urusan penting, Hah~ Aku tahu dia berbohong." Jelas ini sudah mengenal pemuda Uchiha itu selama delapan tahun, sejak kapan Sasuke punya urusan penting? Haaah, pasti Ino. Gadis itu mendesah pelan.
Tanpa sengaja kedua mata gadis itu melihat Sasuke mengandarai motornya dengan kecepatan yang lumayan. Pemuda itu tidak sendirian, walau hanya sekelebat, tapi mereka dapat melihat rambut pirang itu melambai-lambai. Ino.
"Hahaha~ benarkan?" kekeh Sakura. Hinata tahu dibalik tawa itu, tersimpan kepedihan yang luar biasa.
"Mulai sekarang aku akan mengikuti saranmu Hinata-chan." Mata berwarna ungu lembut itu membulat, Ia tak menyangka Sakura benar-benar mendengarkan sarannya. Tapi untuk opsi yang mana?
Satu persatu murid-murid SMA itu naik kedalam bus. Begitu pula dengan Hinata dan Sakura. Mereka mengambil kursi dibagian tengah, Sakura memilih duduk didekat jendela. Bus itu mulai meninggalkan kompleks SMA itu.
"Kau memilih opsi yang mana Sakura-chan?" Tanya Hinata hati-hati.
Bus itu sedang melewati pantai Konoha, ramai. Ternyata musim panas sudah dimulai, ne?
"Aku... memilih opsi yang pertama" Gadis pink itu menatap Hinata, lalu dengan cepat menolehkan kepalanya ke arah pantai konoha di sebelah kanannya.
Hinata tersenyum kecil.
"Membuatnya membalas perasaan ku."
.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
.
Hai~. Chap dua nih . gimana?
Kiki minta maaf banget! Ga bisa apdet kilat. Soalnya mau belajar untuk ujian kenaikan kelas. Yah walopun ranknya turun. *hiks. tapi lain kali diusahai apdet kilat, maklum orang sibuk. *heheh
#balas review~
Satsuki-Hoshi.
pasti sampe selesai, tapi ga bisa apdet kilat. Maklum suka kena serangan WB *ngeles
Love Foam.
Tenang aja. Pasti Sasuke cembokur kok *eh.
Hyuuga miiko.
Haha, makasih ;) iya nih lanjut. Gajanji yah *kedipkedip
Ayumi.
Okeh, inih lanjut . :D
#yang login cek PM. :3 makasiiih udah review. Review kalian adalah penyemangat saya untuk nulis :D *lebe
#Kiki Takajo. Jjaa, tunggu chp 3nya yah!
akhir kata-
REVIEW ;D
