A Romantic Story About Ryeowook

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Genre : Romance & Drama

Rate : M

Ini adalah FF remake dari novelnya Shanthy Agatha yang judulnya "A Romantic Story About Serena". Aku Cuma mengedit nama tokoh dan sedikit latar tempat kejadian untuk keperluan cerita.

Pairing : Yewook, GS

DLDR

.

.

.

.

.

CHAPTER 7

.

.

"Pingsan?!"

Yesung setengah berteriak kepada Kangin yang menyampaikan kabar itu padanya,

"Kapan?! Dimana?!", Yesung mulai berdiri dari balik meja besarnya.

Kangin hanya duduk santai di sofa kulit hitam di ruangan kantor Yesung, "Tadi dalam perjalanan ke sini aku kan mengambil arsip di sebelah klinik, ada keributan di luar, gadis itu sedang digendong salah seorang rekannya ke klinik dan di antar beberapa rekannya yang lain juga, dalam kondisi pingsan, dia pucat sekali seperti kelelahan ", tambah Kangin penuh arti.

"Digendong?", kali ini wajah Yesung menegang karena marah, "laki-laki?"

Kangin tiba-tiba saja tidak bisa menahan tawanya,

"Simpananmu pingsan dan kau meributkan siapa yang menggendongnya?",

Tawa Kangin kembali terdengar tak peduli pada wajah Yesung yang marah, "Tentu saja laki-laki, mana mungkin perempuan?"

Yesung mendengus marah dan hendak melangkah keluar ruangan, tapi Kangin berdiri dan menahannya,

"Kau pikir kau mau kemana Yesung?"

Yesung menatap tangan Kangin yang menahan lengannya dengan marah,

"Tentu saja melihat Ryeowook!"

"Dan membuat kehebohan di luar? Seorang CEO perusahaan yang jarang terlihat saking sibuknya, yang bahkan untuk berkonsultasi dengannya harus melalui perjanjian temu yang sulit, tiba-tiba saja turun menjenguk seorang staff biasa?

Kuulangi seorang staff biasa, yang tidak ada hubungan apapun dengannya", Kangin menatap Yesung tajam, "Dan bahkan dengan wajah pucat pasi lebih pucat dari yang pingsan kalau boleh kutambahkan", Kangin mulai terkekeh geli.

Yesung melotot marah padanya, tapi kemudian menarik napas dan tersenyum skeptis,

"Kau benar, aku tak bisa", dengan pelan dia melangkah dan duduk di sofa.

Kangin menuangkan minuman untuknya dari meja bar kecil dan memberikan kepada Yesung yang langsung menyesapnya.

"Kau tak pernah begitu sebelumnya Yesung, dan tak kusangka kau sebegitu perhatiannya kepada gadis kecil ini, kukira kau hanya menganggapnya tubuh yang sudah kau beli?"

Yesung meletakkan gelasnya, lalu menatap tajam Kangin

"Dan tubuh yang kau katakan itu yang sekarang terbaring pingsan."

Kangin tersenyum dan duduk di sebelah Yesung,

"Kemarin aku baru saja bilang kalau gadis itu membuatmu lelah dan tidak berkonsentrasi, ternyata kau berbuat lebih parah padanya", Kangin tak dapat menahan diri untuk tersenyum lebar, "Kau apakan saja gadis kecil itu Yesung?"

Yesung mengacak rambutnya bingung,

"Aku juga tidak menyangka bisa jadi begitu terobsesi kepadanya, kau tahu... rasanya tidak ingin berhenti, aku ingin terus menerus menyentuhnya, ingin terus menerus merasakannya... jadi tiap malam aku.. aku.."

"Kau bermaksud bilang tiap malam kau hampir tidak pernah membiarkannya tidur?", kali ini alis Kangin berkerut.

Yesung menghindari tatapan Kangin,

"Aku baru beberapa hari bersamanya, aku masih belum merasa puas", gumamnya tak Jelas.

Kangin menarik napas dalam,

"Yesung, aku tahu kau terbiasa dengan wanita dewasa yang berpengalaman, yang mungkin akan melayani marathon seksmu dengan senang hati kalau kau mau, tapi ini, seorang perawan, seorang gadis kecil tak berpengalaman, seharusnya kau lebih menahan dirimu."

"Aku tahu!", Yesung menyela dengan keras, frustasi kepada dirinya sendiri,

"Tapi... ah, kau tidak tahu rasanya Kangin..."

"Betul aku tidak tahu, karena itulah aku tidak mengerti, kalau memang nafsumu sebegitu besarnya, kenapa kau tidak mencari wanita lain sebagai pelampiasan? Wanita lain yang lebih bisa mengimbangimu? Jadi kau tetap bisa menjaga kondisi tubuh gadis itu, tubuh yang kau beli seharga 100 juta", Kangin mengingatkannya.

"Ah ya... ya, bisakah kau jangan menyebutnya sebagai 'gadis itu' atau 'tubuh itu'..? Dia punya nama Kangin, namanya Ryeowook."

"Baiklah, Ryeowook ini, kalau kau tidak mau menyakitinya, seharusnya kau mencari wanita lain untuk mengimbangimu."

Yesung mengernyit, wanita lain? Sepertinya itu ide yang bagus, kalau hasratnya membuat tubuh Ryeowook lemah, dia seharusnya menyalurkannya kepada wanita lain, tapi... Yesung tidak bisa membayangkan wanita manapun, dia mau Ryeowook, hanya Ryeowook yang membuat tubuhnya berhasrat sampai seperti ini,

"Tidak bisa kalau bukan dia Kangin, kau tahu aku bukan maniak seks, bercinta selama ini menjadi kebutuhan nomor duaku, bahkan aku selalu mementingkan pekerjaan dibandingkan janji temuku dengan wanita-wanita itu, tapi Ryeowook... Dia seperti ada magnet dalam tubuhnya yang mengubahku menjadi seperti ini"

Kangin menarik napas,

"Kalau begitu, kau harus belajar menahan diri Yesung dan lebih peka, kalau dia terlihat lelah, jangan memaksakan kehendakmu."

.

.

"Apa yang kau lakukan padanya?", gumam dokter Jaejoong, janda berusia 33 tahun yang sangat cantik, yang kebetulan adalah sahabat Yesung juga, ketika melihat Yesung masuk ke ruangan klinik itu, suasana sudah sepi dan dokter Jaejoong sudah mengusir rekan-rekan kerja Ryeowook dari klinik itu.

Yesung mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Jaejoong,

"Kenapa kau langsung menuduhku seperti itu?", gumamnya pura-pura tersinggung.

Jaejoong melirik ke arah Ryeowook yang tertidur pulas, tadi Ryeowook sempat bangun dan Jaejoong sengaja memberinya obat yang membuatnya mengantuk agar gadis itu bisa beristirahat.

"Seorang staff rendahan pingsan dan beberapa waktu kemudian sang CEO perusahaan yang tidak pernah menginjakkan kakinya di klinik ini tiba-tiba datang? Kau pikir ini kebetulan?"

Yesung tersenyum miring,

"Setidaknya kecerdasanmu tidak berubah Jaejoong".

Jaejoong terkekeh pelan, "Tentu saja aku sama sekali tidak menduga kalau gadis itu ada hubungannya denganmu, waktu memeriksa tubuhnya aku melihat bekas-bekas ciuman dari leher sampai ke perut, lalu aku berfikir, lelaki brengsek mana yang membiarkannya sampai pingsan kelelahan begitu",

Jaejoong mengangkat alisnya, " Dan tiba-tiba saja lelaki brengsek itu muncul."

Yesung mengerutkan alisnya lalu terkekeh,

"Sayangnya kata-kata tajammu juga tidak berubah, yah aku memang lelaki brengsek itu", Yesung mengangkat bahu, lalu menatap ke arah Ryeowook yang terbaring pucat di ranjang klinik itu, " bagaimana kondisinya?", wajahnya berubah serius.

Jaejoong menarik napas,

"Aku tak mau bertanya apapun itu kehidupan pribadimu", Jaejoong menatap tajam ke arah Yesung," Gadis itu kelelahan, kurang tidur dan tekanan darahnya rendah sekali, kondisi tubuhnya lemah dan karena itu dia demam, sepertinya gejala flu."

Yesung mengernyitkan allisnya, menerima tatapan tajam Jaejoong.

"Baik, baik semua salahku, Kangin sudah mengatakannya padaku, sekarang bisakah kau meninggalkan kami sendirian sebentar?"

Jaejoong melirik ke arah pintu,

"Kangin ada di luar? Bagaimana jika nanti ada karyawan yang kebetulan ke klinik?"

"Itulah gunanya Kangin di luar, tapi kalau sampai terjadipun aku akan bilang kalau aku sedang mencarimu meminta resep."

Jaejoong mengangguk,

"Aku akan bergabung dengan Kangin di luar, jangan berbuat macam-macam ya!"

Yesung tersenyum mendengar ancaman Jaejoong. Wanita itu adalah istri dari sahabatnya, dan merekapun ahkirnya bersahabat. Sayangnya suami Jaejoong meninggal dalam kecelakaan tragis di jalan tol beberapa tahun lalu, sejak itu Jaejoong membentengi diri dengan mulut tajam dan sifatnya yang ketus, padahal sebenarnya dia adalah wanita penyayang, sikap ketusnya itu tidak mempan pada Yesung dan Kangin, Yesung melirik keluar, seandainya saja Jaejoong bisa melirik Kangin, bagus sekali kalau sahabat-sahabatnya itu bersatu.

Dengan langkah pelan Yesung melangkah ke tepi ranjang berdiri di samping Ryeowook yang tertidur pulas,

Benar, wajahnya pucat sekali, kenapa Yesung tidak menyadarinya dari semalam?

Tangan Yesung menyentuh dahi Ryeowook, gadis ini demam! Badannya panas sekali...

"Jadi kau ingin mengantar pulang Ryeowook?",

Jaejoong tiba-tiba bersuara di pintu dengan agak keras, sengaja memberi peringatan kepada Yesung.

Yesung langsung menjauh dan berdiri di depan meja kerja Jaejoong.

Pintu terbuka dan salah seorang laki-laki, rekan kerja Ryeowook tapi Yesung lupa namanya, masuk membawa tas Ryeowook yang tertinggal di ruangannya, disusul oleh Jaejoong dan Kangin di belakangnya.

Rekan kerja Ryeowook itu tampak sangat kaget mengetahui Yesung, CEO perusahaan yang hanya pernah dia lihat dari foto, sekarang berdiri langsung di depannya, wajahnya langsung pucat pasi,

"Aaaa...aaandaa...", Lelaki itu bahkan tak sanggup berkata-kata karena kagetnya, Yesung menatap sekilas seolah tak peduli.

"Ya, Saya memang benar Yesung", dipasangnya ekspresi paling dingin.

"Saya ada urusan dengan dokter Jaejoong, tapi silahkan selesaikan urusan anda dulu, saya bisa menunggu."

"Hyungsik hanya ingin menjemput rekannya yang pingsan dan mengantarkannya pulang Yesung".

Kangin menyela di belakang Jaejoong tapi matanya menatap Yesung penuh peringatan.

Pulang? Yesung mengernyit, tapi Ryeowook kan sekarang tinggal di apartement mewah yang dia belikan, tidak mungkin dia membiarkan Hyungsik mengantar Ryeowook pulang!

"Saa ...saya hanya sebentar, saya akan mengangkat Ryeowook dan mengantar pulang, kebetulan saya ada janji temu dengan kilen di dekat tempat kostnya jadi sekalian, mohon maaf, silahkan dokter jika ada urusan dengan Mr. Yesung"

Hyungsik cepat-cepat membalikkan tubuh tak tahan menghadapi tatapan tajam Yesung, memang benar gosip yang beredar, Mr. Yesung CEO mereka ini terkenal sangat dingin dan tidak berperasaan, bahkan aslinya lebih menakutkan, wajahnya sangat rupawan tapi aura membunuh disekelilingnya sangat kental.

Yesung masih terpaku di situ, tempat kost? Si bodoh ini pasti masih mengira Ryeowook masih tinggal di tempat kostnya yang lama. Dan.. Apa yang dilakukan lelaki itu ? Dia menyentuh tubuh Ryeowook ?!.

Yesung hampir menyeberangi ruangan untuk menepiskan tangan Hyungsik yang mencoba menggendong Ryeowook ketika Suara Jaejoong menyela dengan cepat, menyadari gawatnya situasi yang terjadi.

"Jangan Hyungsik", perintahnya membuat Hyungsik meletakkan tubuh Ryeowook kembali dan menatap Jaejoong penuh tanda tanya.

"Aku memberi obat tidur untuknya supaya dia bisa beristirahat, kalau kau pulangkan dia ke kostnya dalam kondisi seperti itu, siapa yang akan menjaganya nanti? Lebih baik biarkan dia beristirahat dan tidur di sini dulu"

Hyungsik menyadari kebenaran perkataan dokter Jaejoong dan cepat-cepat menyetujuinya. Lagipula dia ingin cepat-cepat keluar dari ruangan ini.

Sang CEO hanya berdiri membatu di sudut ruangan tapi tatapan matanya mengerikan, seperti akan membunuhnya dengan tangan kosong!.

Ah, mungkin dia hanya sedang tidak enak badan, Hyungsik berusaha menenangkan dirinya, lalu mengangguk.

"Baiklah saya akan meninggalkannya dulu, nanti kalau dia sadar saya akan menjemputnya lagi" gumamnya sambil meletakkan tas Ryeowook di kursi dan hampir melonjak kaget ketika Yesung berseru dalam bahasa Jerman yang tidak dimengertinya.

Jaejoong agak menahan senyum karena dia tahu arti kata-kata Yesung, 'Langkahi dulu mayatku', itu artinya.

"Tidak usah Hyungsik, biar aku yang mengantarnya sekalian pulang nanti"

Hyungsik mengangguk, sebenarnya dia ingin membantah, dia ingin mengantar Ryeowook, sebenarnya sejak dulu dia sudah suka pada Ryeowook tetapi belum berani mengungkapkannya karena Ryeowook terlihat begitu tertutup, kejadian ini dianggapnya sebagai kesempatan mendekati Ryeowook, tapi mengingat aura tak nyaman di ruangan ini, Hyungsik memutuskan menyerah, mungkin lain kali, putusnya. Lalu melangkah ke luar setelah mengangguk pada semuanya, tak bisa menahan untuk mempercepat langkahnya keluar dari situ.

"Aku yang akan membawanya pulang", Yesung bergumam memecah keheningan.

"Kau ada rapat satu jam lagi Yesung", sela Kangin tajam.

"Batalkan, mereka akan menyesuaikan jadwalnya denganku"

Jaejoong dan Kangin hanya bisa berpandangan, lalu mengangkat bahu.

.

.

Ketika Ryeowook membuka mata dia sudah ada di ranjangnya, mengenakan salah satu piyama sutra hitam milik Yesung, lelaki itu sedang duduk di ranjang di sebelahnya,bersila dengan menghadap notebooknya, wajahnya serius sekali.

Ryeowook merasa pusingnya sudah hilang, tapi rasa nyeri di tubuhnya belum hilang juga, sepertinya dia masih demam.

Seolah merasakan gerakan Ryeowook, Yesung menoleh, dan tersenyum.

"Tadi aku mencari piyama untukmu, ternyata kau tak punya piyama ataupun gaun tidur ya? Aku tidak tahu sebelumnya karena aku selalu menelanjangimu sebelum tidur"

Wajah Ryeowook memerah, bisa bisanya Yesung memilih kata-kata itu sebagai kalimat sapaan pembukanya.

"Kenapa aku tiba-tiba sudah di rumah? Jam berapa ini?"

Yesung mengangkat alisnya,

"Kau tidak tahu? Tadi pagi kau pingsan lalu dokter Jaejoong menyuntikmu dengan obat yang membuatmu tidur, tapi aku harus mengajukan komplain karena sepertinya dosisnya terlalu besar, kau tertidur hampir sepuluh jam... sekarang sudah jam delapan malam"

Ryeowook terperangah,

"Jam delapan malam?"

Yesung tersenyum,

"Besok-besok kalau kau merasa tidak enak badan jangan memaksakan diri untuk masuk, kau sangat merepotkanku, aku terpaksa pulang setengah hari untuk menjagamu"

Wajah Ryeowook memucat, dia telah mengganggu kesibukan Yesung! Padahal lelaki itu punya jadwal yang sangat padat dan terpaksa meninggalkannya hanya gara-gara dia pingsan.

"Ma...maafkan aku...", suara Ryeowook terdengar lemah, penuh penyesalan.

Yesung menoleh mendengar nada suara Ryeowook, lalu menutup notebooknya dan meletakkannya di meja samping ranjang,

"Aku tidak memarahimu, lagipula sudah lama aku tidak mengambil cuti", dengan lembut Yesung meletakkan tangannya di dahi Ryeowook, "Sudah mendingan, tadi kau panas sekali tahu, aku sampai mengkompresmu dengan air es"

Ryeowook memejamkan matanya merasakan tangan Yesung yang sejuk di dahinya, kenapa lelaki ini begitu lembut dan penuh perhatian? Sudah lama sekali rasanya sejak ada yang memperhatikan dirinya. Setelah kedua orang tuanya meninggal, Ryeowook selalu berjuang sendirian, tidak pernah sama sekali mengijinkan dirinya menjadi lemah. Sekarang, perhatian yang begitu lembut dari Yesung entah kenapa membuat dadanya sesak.

"Kau sudah bisa minum obatnya? Dokter Jaejoong membawakan obat untuk kau minum, tunggu sebentar".

Yesung bangkit dari ranjang dan melangkah keluar kamar, tak lama kemudian dia kembali membawa nampan, meletakkannya di meja samping ranjang dan membantu Ryeowook duduk.

"Kau harus makan dulu sebelum minum obat".

Aroma kuah yang sangat menggoda itu benar benar membuat air liur menetes, Ryeowook menoleh ke atas nampan yang diletakkan di pangkuannya, semangkuk sup jagung dan daging yang masih panas dengan aroma yang sangat enak.

"Itu bukan bubur ayam, jadi kuharap kau tidak memuntahkannya", ada nada geli dalam suara Yesung.

Mau tak mau Ryeowook tersenyum karena ternyata Yesung masih teringat percakapan mereka kemarin.

Dengan pelan dia berusaha mengangkat sendok sup itu, tapi Yesung menahannya,

"Aku suapi", gumamnya sambil mengambil sendok itu.

Wajah Ryeowook memerah canggung, tapi ketika Yesung mengarahkan sendok itu ke mulutnya ahkirnya dia membuka mulutnya pelan.

Dengan tenang Yesung menyuapi Ryeowook, setelah selesai dia meletakkan mangkuk kosong itu ke sebelah ranjang.

"Ada yang menempel di bibirmu", tanpa disangka Yesung mendekatkan wajahnya, lalu menjilat sudut bibir Ryeowook dengan lembut, "Sekarang sudah bersih", Yesung terkekeh melihat wajah Ryeowook yang merah padam.

"Te...terimakasih" gumam Ryeowook terbata-bata.

Tiba-tiba saja Yesung meraih pundak Ryeowook dan menciumnya, ciuman yang sangat dalam dan membakar, seolah-olah ingin melumat bibir Ryeowook sampai habis, lama sekali Yesung mencium Ryeowook, sampai napas mereka berdua terengah-engah ketika Yesung melepaskan ciumannya,

"Sama-sama", gumam Yesung dengan parau kemudian, "Kalau begitu minum obatmu, setelah itu kau harus tidur lagi."

Dengan patuh Ryeowook berbaring lagi di ranjang dan membiarkan Yesung menyelimutinya.

Lelaki itu lalu duduk di ranjang di samping Ryeowook dan menyalakan notebooknya lagi, lalu mulai tenggelam dalam pekerjaannya.

Ryeowook termenung agak lama, Yesung tidak menyentuhnya malam ini, tetapi lelaki ini tetap bermalam di apartement ini untuk merawatnya. Ternyata di balik sikap kejam dan arogannya, Masih ada sisi baik di jiwanya.

Dengan pemikiran seperti itu, Ryeowook kembali tertidur lelap.

.

.

Paginya dia terbangun dengan kondisi demam yang lebih parah, sepertinya pertahanan tubuhnya sedang berperang melawan virus yang menyerang tubuhnya,

Yesung sedang mengenakan dasinya, tapi dia segera menghampiri Ryeowook yang

mengerang karena panas tubuhnya tak tertahankan. Dengan cemas, dia meletakkan tangannya di dahi Ryeowook, astaga! Panas sekali, dengan cepat dia meraih handphonenya dan memencet nomor Jaejoong, dijelaskannya secara terperinci tentang kondisi Ryeowook, lalu diletakkannya termometer di tubuh Ryeowook sesuai instruksi Jaejoong.

"39 derajat!", Yesung berteriak tanpa sadar, "Jaejoong! Dia panas sekali, kenapa obat yang kau berikan kemarin tidak membuat kondisinya membaik?!"

Didengarnya instruksi-instruksi Jaejoong di seberang sana.

"Baik! Akan kuminumkan lagi, apa? Seka seluruh tubuhnya dengan air dingin?

Oke, kapan kau bisa kesini untuk mengecek kondisinya? Aku takut dia harus dibawa ke rumah sakit, baik...baik, kutunggu!"

Yesung mengakhiri pembicaraan, lalu memencet nomor-nomor lain, menelpon Kangin dan jajaran direksinya, lalu memberikan serentetan instruksi pekerjaan sebelum menutup telephon.

Dengan pelan dilonggarkan dasinya, dan digulungnya lengan kemejanya, lalu dia

berusaha mengguncang tubuh Ryeowook.

"Bangun Ryeowook, kau harus mandi, badanmu panas sekali."

Jawaban Ryeowook hanya berupa erangan tak jelas dan seperti kesakitan, tentu saja, gadis ini badannya sangat panas!

Yesung melepas kancing piyama Ryeowook pelan-pelan lalu melepas piyama itu, sampai Ryeowook telanjang. Kulit gadis itu memerah karena suhu tubuhnya yang panas, dengan hati-hati dia mengangkat tubuh Ryeowook ke kamar mandi, meletakkannya ke bathtub, lalu menyalakan keran air dingin.

Tubuh Ryeowook langsung berjingkat ketika air dingin mengenai tubuhnya, tapi Yesung menahan,

"Dingin", erang Ryeowook dalam kondisi setengah sadar.

"Tidak apa-apa,tahan,nanti kau akan kuslimuti", bujuk Yesung lembut.

Setelah selesai Yesung mengeringkan tubuh Ryeowook lalu memakaikan piyamanya yang lain untuknya, dan mengangkat Ryeowook kembali ke tempat tidur, lalu menyelimutinya dengan selimut yang tebal. Setelah itu dia memaksa Ryeowook meminum obat yang rasanya pahit dan dengan lembut meminumkan air untuknya.

Dalam kondisi setengah sadar, Ryeowook mengamati keadaan Yesung, kemejanya setengah basah dengan dasi yang sudah dilepas dan beberapa kancing yang terbuka sementara jasnya tergeletak begitu saja di sofa.

"Kau...ti..dak ..ke kan..tor?", tanya Ryeowook lemah.

Yesung yang sedang membuka kancing kemeja dan melepaskan kemejanya yang basah menoleh dan tersenyum tipis.

"Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu dalam kondisi seperti ini sendirian?"

"Aa...aaku tidak mau...merepotkan...mu", gumam Ryeowook lagi, "I..ni Cuma demam bia..sa..nanti juga sembuh".

Yesung mengganti kemejanya dengan t-shirt santai,lalu duduk di tepi ranjang.

"Kau sekarang milikku Ryeowook, kau tanggung jawabku, kalau terjadi apa-apa denganmu,aku juga yang akan kesusahan bukan?", gumamnya lembut tapi penuh makna.

Wajah Ryeowook memerah,dan memalingkan wajah, tapi itu membuat Yesung tidak dapat menahan diri, diraihnya dagu Ryeowook menghadapnya, tubuhnya setengah menindih tubuh Ryeowook, lalu dilumatnya bibir Ryeowook dengan dalam dan penuh gairah, nafas mereka menjadi panas.

Dan Yesung hampir kehilangan kendali diri, dengan sekuat tenaga diangkatnya bibirnya, napasnya terangah-engah. Tubuhnya menegang, berteriak ingin dipuaskan kebutuhannya, tapi Yesung menahan diri.

Demi Tuhan ! Gadis ini sedang sakit!.

Ryeowook merasakan gairah Yesung yang bangkit, semalam lelaki ini menahan diri untuk tidak menyentuhnya, padahal Ryeowook tahu Yesung punya kebutuhan fisik yang sangat besar. Melihat lelaki ini menahan diri sampai menggertakkan gigi menyentuh hati Ryeowook.

Tanggannya menyentuh pipi Yesung, tak disangka Yesung langsung memejamkan mata menempelkan pipinya

"Tidak apa-apa", gumam Ryeowook lembut.

Mata itu terbuka bagaikan api biru yang menyala-nyala.

"Kau sedang sakit!" geramnya.

Ryeowook tersenyum lalu merangkulkan lengannya ke leher Yesung.

"Tidak apa-apa."

Dan Yesung menyerah pada gairahnya, sambil mengerang dilumatnya bibir Ryeowook lagi, dan mereka pun tenggelam dalam gairah yang panas. Panas tubuh Ryeowook karena demam, menyatu dengan panas tubuh Yesung karena gairah, tubuh mereka menyatu ketika Yesung menghujamkan dirinya dengan lembut, mengerang karena merindukan kenikmatan itu, kenikmatan ketika tubuh Ryeowook yang selembut sutra melingkupinya, meremas kejantanannya, membuatnya melayang.

Yesung tidak pernah kehilangan kontrol sebelumnya. Dia tidak pernah tidak bias menahan dirinya untuk bercinta dengan seorang perempuan. Tidak pernah.

Sampai dia bertemu Ryeowook. Gadis mungil ini menjungkirbalikkan dunianya. Mengancamnya akan kehilangan kendali diri. Dan Yesung tahu dia sudah tidak bisa melepaskan dirinya lagi.