A Romantic Story About Ryeowook

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Genre : Romance & Drama

Rate : M

Ini adalah FF remake dari novelnya Shanthy Agatha yang judulnya "A Romantic Story About Serena". Aku Cuma mengedit nama tokoh dan sedikit latar tempat kejadian untuk keperluan cerita.

Pairing : Yewook, GS

DLDR

.

.

.

Aku publish ulang karena lupa edit nama nya Vanessa, maaf ya! ^^

Makasih buat semua yang udah kasih saran, dukungan dan semangat buat nerusin FF ini,

Review kalian semua gak terkecuali, bener-bener berarti buat aku.

.

.

CHAPTER 8

.

.

Julukan bajingan menjijikkan saja belum pantas untukku. Yesung merenung sambil menatap Ryeowook yang terbaring telanjang, tertidur pulas berbantalkan lengannya.

Obatnya mungkin sudah bereaksi, atau dia kelelahan gara-gara perbuatanmu dasar bajingan! Yesung mengutuk dirinya sendiri. Tega-teganya dia memuaskan nafsunya atas tubuh Ryeowook yang sedang sakit!

Tapi kelembutan Ryeowook saat membisikkan kalimat "Tidak apa-apa" benar benar membuatnya lepas kendali.

Yesung menggertakkan giginya, dia tidak boleh lepas kendali lagi!

Dengan lembut diletakkannya kepala Ryeowook di bantal, dan diselimutinya tubuh telanjang Ryeowook dengan selimut tebal. Saat itulah bel apartementnya berbunyi, Yesung mengernyit lalu meraih jubah tidurnya yang tersampir di kursi.

Ketika melihat dari lubang di atas pintu, dia melihat Jaejoong dan Kangin berdiri disana, dengan enggan dia membuka pintu apartemennya dan berkacak pinggang di pintu yang terbuka.

"Kenapa kalian bisa datang berdua disini?" tanyanya curiga.

Jaejoong mengangkat alisnya.

"Sungguh penyambutan tamu yang tidak sopan, kau kan yang meminta aku datang?".

Yesung menatap Jaejoong sekilas lalu menatap Kangin yang sedang tersenyum.

"Dan kau? Kenapa kemari?".

Kangin hanya menunjukkan setumpuk berkas kepada Yesung.

Sambil menarik napas panjang Yesung membuka pintu lebar-lebar dan mempersilahkan masuk.

"Silahkan masuk kalau begitu. Kangin, ijinkan aku berganti pakaian yang pantas sebelum melihat berkas-berkas itu, oya Jaejoong, Ryeowook masih tidur."

"Tidak hanya tidur kurasa", Jaejoong memandang penampilan Yesung yang acak-acakan dengan tatapan mencela.

Dan ketika Yesung tidak membantah melainkan hanya tersenyum kecut, matanya membelalak tidak percaya.

"Maksudmu... kau..?", Jaejoong kehilangan kata-kata, "Astaga Yesung tidak kusangka kau menjadi maniak seks separah itu sampai tega-teganya meminta gadis yang sedang sakit untuk melayanimu!", Serunya blak-blakkan, "Mana dia? Aku harusnya merekomendasikan dia dirawat di rumah sakit, bukannya disini, kalau disini bersamamu sepertinya dia bukannya sembuh malahan tambah parah!"

Kangin tampak tidak peduli dengan pertengkaran dua orang di depannya, dia sibuk melihat-lihat ruangan apartement itu.

"Wah, apartement yang bagus... mungkin aku bisa beli satu disini ", Gumamnya santai.

Yesung melotot ke arahnya, lalu dengan sebal melangkah ke kamar, Jaejoong mengikutinya.

Ryeowook sedang tertidur pulas saat Jaejoong mendekat ke arahnya, dan menyentuh dahinya.

"Panasnya seperti api, mungkin aku harus membawa sample darahnya ke Lab untuk memastikan dia tidak terkena demam berdarah...",

Jaejoong mengernyit menyadari Ryeowook telanjang di balik selimutnya, "Aku masih tidak habis pikir kau menidurinya pada saat seperti ini... aku tak tahu dia siapamu Yesung, setahuku kau masih berpacaran dengan artis cantik itu dan sekarang tiba-tiba kau sudah tinggal serumah dengan karyawanmu sendiri..."

"Tidak tinggal serumah, aku tinggal di rumahku sendiri, apartemen ini kubelikan untuknya."

Jaejoong mengangkat alisnya.

"Oh ya? Kalau begitu berapa malam kau di rumahmu sendiri dan berapa lama kau tidur disini?", dengan cekatan, Jaejoong memeriksa kondisi Ryeowook dan menyiapkan suntikan dari tas kerjanya untuk mengambil sample darah Ryeowook.

Sementara itu Yesung kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaan Jaejoong.

"Kau benar", Yesung mengangkat bahu, "Sejak tidur bersamanya pertama kali, aku tidak pernah membiarkannya tidur sendirian lagi tiap malam".

"Bagaimana ceritanya kalian bisa menjalin hubungan? Seingatku tingkat peluang pertemuan antara sang CEO dan staff biasa sangat kecil. Sebenarnya sampai sekarangpun aku masih bertanya-tanya Yesung, Kangin juga tidak mau menjelaskan apapun, kukira..."

"Bukan urusanmu Jaejoong, tidak ada yang aneh dalam hubungan ini, dua orang setuju untuk saling memenuhi kebutuhan itu saja, dan aku menolak menjawab apapun kepadamu", Yesung menjawab dengan tajam.

Jaejoong mengangkat bahu lalu melanjutkan memeriksa Ryeowook lalu menuliskan resep.

"Diagnosa awal hanya flu biasa, tapi lebih lanjut menunggu hasil tes darah. Aku akan menuliskan resep obat dan antibiotiknya. Tiga hari sekali Yesung, dan ingat, dia harus istirahat. Tahan nafsumu, jika kau tidak bisa menahannya, cari perempuan lain."

.

.

Ryeowook terbangun dengan rasa mual dan sakit di sekujur tubuhnya. Ketika dia membuka matanya, dia melihat perempuan yang sangat familiar di duduk di ranjang sebelahnya.

"Dokter Jaejoong?"

Jaejoong tersenyum.

"Yah, Yesung memintaku datang memeriksamu. Dia dan Kangin, para lelaki sedang membicarakan masalah bisnis di ruang depan dan aku memutuskan menunggumu sadar di sini, bagaimana kondisimu?"

Ryeowook berusaha keras mengeluarkan suaranya.

"Mual... pa...nas..", gumamnya serak.

Jaejoong memegang dahi Ryeowook, panasnya seperti api.

"Kemari, aku akan membantumu meminum obat".

Dengan cekatan Jaejoong membantu Ryeowook meminumkan obatnya, lalu membaringkan Ryeowook lagi dan merapikan selimutnya. Keduanya menyadari bahwa Ryeowook telanjang di balik selimutnya, wajah Ryeowook langsung merah padam.

Jaejoong menatap Ryeowook penuh pengertian.

"Dia memang kadang kadang sangat egois, kau tahu, terbiasa menjadi bos sejak dia lahir. Dia bisa dibilang masih keturunan aristokrat dari keluarga berpengaruh di Jerman, sejak dulu dia sudah terbiasa keinginannya dipenuhi..."

Jaejoong mengedipkan sebelah matanya, "Kau tahu, saat pertama mengenalnya aku sangat tidak menyukainya".

Ryeowook tersenyum malu-malu.

"Saya juga", jawabnya pelan.

Jaejoong tertawa mendengarnya.

"Tapi walau pun begitu kau tidak boleh menuruti kemauannya seperti itu, kau berhak menolak, kau tahu itu kan?".

Sebelum Ryeowook sempat menjawab, Yesung, yang entah kapan sudah berada di ruangan itu berdehem keras, dengan sengaja.

"Jaejoong, bukannya kau harus segera membawa sample darah itu ke lab?", gumam Yesung datar, tapi matanya memperingatkan.

Jaejoong tersenyum miring, lalu mengangkat bahu dan tersenyum pada Ryeowook.

"Sepertinya dokter sudah diusir, obatnya ada di meja Yesung beserta cara pakai, kutinggalkan resep kalau-kalau obatnya habis, besok aku akan mengabarimu tentang hasil labnya".

Jaejoong mengangguk pada Ryeowook mengangkat tasnya dan berjalan pergi, pada saat berhadapan dengan Yesung di pintu keluar, dia menatap tajam.

"Ingat Yesung, dia harus istirahat kalau mau sembuh", gumamnya tegas sebelum melangkah pergi.

Yesung menatap pintu yang tertutup di belakangnya lalu mengangkat bahu dan tersenyum pada Ryeowook.

"Kadang-kadang aku merasa dia masih membenciku sampai sekarang."

Ryeowook tersenyum lemah pada Yesung yang menuang segelas air dari teko di meja samping ranjang.

"Apakah kau haus? Ayo, aku akan membantumu minum."

Dengan cekatan Yesung membantu Ryeowook duduk, beberapa kali selimut melorot dari dada Ryeowook, hingga Ryeowook harus mencengkeramnya, tapi Yesung mengabaikannya, sama sekali tidak melirik ketelanjangan Ryeowook, rupanya laki-laki itu bertekad untuk membiarkan Ryeowook beristirahat.

Setelah membantunya minum, Yesung menyentuh dahi Ryeowook dengan lembut, dan mengernyit karena badannya sangat panas.

"Maaf", Ryeowook tiba-tiba merasa bersalah, dia jarang sakit, tapi kali ini sekalinya sakit sangat parah sehingga harus bergantung pada belas kasihan Yesung.

Wajah Yesung melembut.

"Minta maaf karena sakit?", Yesung menarik napas, "Kau benar-benar gadis aneh", Yesung tersenyum miris, "Oke, obat itu akan membuatmu mengantuk, aku akan memesan makanan, jadi begitu bangun kau bisa makan."

Ryeowook mengernyit mendengar kata makan karena dia merasa sangat mual.

Yesung menatap Ryeowook dengan tatapan tegas seperti seorang ayah memarahi anaknya.

"Kau harus makan", gumamnya tegas, "Tidurlah", lalu lelaki itu berbalik dan melangkah keluar kamar.

Ryeowook meringkuk dibalik selimut, obat itu membuatnya nyaman dan mengantuk, sangat mengantuk.

.

.

Yesung duduk di tepi ranjang, dan mengamati Ryeowook, panasnya sudah agak turun dan gadis itu tidur seperti bayi, entah kenapa dan sejak kapan dia merasa kalau gadis kecil ini menjadi begitu penting baginya. Mungkin karena kedekatan mereka selama ini, Yesung tidak pernah membiarkan orang lain sedekat dengan dirinya.

Tiba-tiba bunyi getaran disamping ranjang mengejutkan Yesung, ponsel kecil itu bergetar dan Yesung mengernyitkan keningnya, ponsel milik Ryeowook? Dia baru pertama melihatnya, karena Ryeowook tidak pernah menggunakannya di depannya.

Dan yang terlintas pertama kali di otak Yesung ketika melihat ponsel itu adalah, dia harus membelikan Ryeowook ponsel yang lebih baik.

Ponsel itu terus bergetar, rupanya penelpon di seberang sana tidak mau menyerah, Yesung meraih ponsel itu karena tidak mau getarannya mengganggu Ryeowook yang sedang tertidur lelap.

Leeteuk? Yesung mengernyit membaca nama penelpon di ponsel itu, sebelum mengangkatnya.

"Ryeowook?", Suara diseberang telephone langung menyahut cemas, "Maafkan aku karena menelephone,aku cemas karena kau sudah dua hari tidak kemari dan tidak ada kabar sama sekali darimu, padahal kau tidak pernah melewatkan satu haripun, apakah kau baik-baik saja?".

Jeda sejenak, Yesung ragu untuk bersuara, tetapi kemudian dia bersuara.

"Maaf, Ryeowook sedang tidur", ketika Yesung bersuara, dia mendengar suara terkesiap diseberang sana, sepertinya lawan bicaranya sangat terkejut mendengar dia yang menyahut.

"Oh... maaf...", Leeteuk tampak kehilangan kata-kata.

"Ryeowook sedang sakit, dua hari ini dia demam tinggi, mungkin besok saya akan memberitahunya kalau anda menelephone", lanjut Yesung tenang dan tanpa memperkenalkan dirinya, tentu saja dia tidak berniat memperkenalkan dirinya.

"Oh, baiklah, terimakasih", Suara diseberang terdengar sangat gugup, lalu telephone ditutup dengan begitu cepat sehingga Yesung mengernyit.

Ada yang aneh, wanita diseberang itu memang kaget mendengar suaranya, tetapi tidak ada kesan bertanya-tanya mendengar suara Yesung yang menjawab telephone. Apakah wanita diseberang itu mengetahui siapa Yesung? Dan apa yang dimaksud dengan datang setiap hari dan tidak pernah melewatkan satu haripun? Datang kemana? Untuk apa?.

Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi kepala Yesung dan membuatnya menyadari bahwa dia tidak tahu apa-apa tentang Ryeowook.

.

.

Jaejoong sedang duduk di bar bersama dengan Kangin, lalu mengernyit, "Menurutmu apakah bos kita itu sudah main hati?".

Kangin menyesap minumannya.

"Apa maksudmu?"

"Gadis kecil itu, Ryeowook".

Hening sejenak dan Kangin menyesap minumannya lagi.

"Menurutku Yesung sudah gila", Gumamnya dengan nada tidak setuju, "Dia sudah bertindak di luar kehati-hatiannya yang biasa menyangkut gadis itu."

Jaejoong menolehkan kepalanya ke Kangin dengan penuh rasa ingin tahu.

"Sebenarnya aku sangat penasaran dengan hubungan mereka, menurutku Yesung menyimpan perasaan yang dalam..."

"Ralat, nafsu yang dalam", Sela Kangin, "Yesung sudah merasakan nafsu yang dalam ketika melihat gadis itu pertama kalinya dan menginginkannya. Dan gadis itu, Ryeowook, dia memanfaatkan itu dengan menjual dirinya kepada Yesung", gumamnya jijik.

Jaejoong mengernyit lagi.

"Ryeowook tidak kelihatan seperti gadis yang sengaja menjual dirinya"

"Dia menjual dirinya seharga tiga ratus juta. Aku sendiri yang membuatkan kontrak perjanjian jual beli yang konyol itu, setelah itu Yesung masih membelikan apartemen untuk tempat dia tinggal, dan bahkan berencana melunasi hutang gadis itu yang hampir 40 juta di perusahaan, aku sudah menasehatinya kalau dia mulai berlebihan, tapi Yesung tidak peduli", gumam Kangin frustasi.

Jaejoong merenung dengan serius, tiga ratus juta? Itu uang yang tidak sedikit untuk perempuan seumuran Ryeowook. Dan gadis itu juga berhutang 40 juta di perusahaan, sungguh pengeluaran fantastis untuk gadis dengan penampilan sederhana seperti Ryeowook.

"Menurutmu untuk apa uang itu? Kalau untuk bermewah-mewah sepertinya tidak mungkin, gadis itu tinggal di tempat kost sederhana, pakaian dan barang-barangnya tidak ada yang bermerk, dia juga selalu naik kendaraan umum ke kantor", gumam Jaejoong pelan.

Kangin menoleh dan mengangkat alisnya.

"Untuk seorang dokter perusahaan, tampaknya kau tahu banyak"

Jaejoong tertawa pelan.

"Tentu saja, aku banyak berhubungan dengan karyawan kau tahu. Kangin, tampaknya kau tidak boleh terlalu berprasangka dulu pada Ryeowook", Jaejoong berubah serius, "Yesung bukan orang bodoh, dia tidak akan membiarkan dirinya dimanfaatkan, kecuali dia melakukannya dengan sukarela"

"Dia mabuk kepayang, lelaki yang mabuk kepayang tidak akan menggunakan akal sehatnya, dan kalau hal itu mulai keterlaluan, aku sendiri yang akan memperingatkan Ryeowook", gumam Kangin dengan penuh tekat.

Jaejoong diam saja, memahami betapa dalamnya rasa persahabatan antara Kangin dan Yesung, dan betapa Kangin sangat ingin menjaga sahabatnya itu.

Tetapi ada sesuatu yang mengganggu pikirannya, sesuatu tentang Ryeowook, gadis itu terasa familiar tetapi Jaejoong tidak bisa mengingatnya, Kapan? Dimana?.

.

.

Ryeowook mulai sembuh, meskipun dia belum bekerja, Yesung tidak mengijinkannya. Laki-laki itu bersikeras bahwa Ryeowook belum boleh bekerja, dan dia memerintahkan dokter Jaejoong menghubungi langsung atasan Ryeowook sehingga tidak masuknya Ryeowook selama empat hari ini tidak akan menjadi masalah.

Well, besok dia harus masuk, dia sudah sehat, itu hanya flu biasa dan dengan perawatan Yesung yang sengat intensif disertai dengan obat dari dokter Jaejoong yang sangat manjur, dia sudah merasa cukup kuat hari ini.

Dan Ryeowook merindukan Donghae, sudah empat hari dia tidak ke rumah sakit, kemarin tubuhnya masih terlalu lemah, tetapi sekarang dia sudah agak kuat dan tidak sabar ingin segera melihat Donghae.

Leeteuk menelephon dan menceritakan perihal Yesung yang mengangkat telephonnya pada waktu Ryeowook tertidur, sekaligus meminta maaf jika dia sudah hampir membuka rahasia Ryeowook.

Setelah itu, Ryeowook bersikap hati-hati kepada Yesung, menunggu lelaki itu bertanya kepadanya. Tetapi Yesung besikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Jadi Ryeowook berpikir Yesung tidak menganggap telephone dari Leeteuk itu sebagai sesuatu yang serius.

Ryeowook sudah berpakaian rapi, saat itu jam lima sore, Yesung masih akan pulang jam sembilan malam, jadi dia masih punya waktu lebih dari cukup untuk menengok Donghae.

Dengan riang karena akhirnya bisa berkunjung lagi ke rumah sakit, Ryeowook berjalan dan membuka pintu keluar apartemennya, hanya untuk berhadapan dengan sosok Yesung yang akan membuka pintu untuk masuk, Yesung mengamati Ryeowook yang berpenampilan rapi.

"Mau kemana?", tanyanya langsung.

Sejenak Ryeowook terperangah tak menyangka akan berhadapan dengan Yesung, matanya mengerjap gugup.

"Ryeowook?", Yesung mengulang pertanyaannya dalam matanya.

"Eh aku...", Ryeowook mengerjap lagi, "Aku mau membeli bahan makanan di supermarket", gumamnya, mengucapkan hal pertama yang terpikir di dalam benaknya.

Yesung mengernyit.

"Kau masih sakit, tidak boleh keluar-keluar, kau bisa membeli bahan makanan itu besok, lagipula aku sudah membawa makanan", Yesung menunjukkan kantong, kertas di tangannya dan melangkah masuk lalu menutup pintu apartement, ketika dirasakannya Ryeowook masih terpaku dia menoleh dan mengangkat kantong makanan itu.

"Kau tidak mau menatanya di piring sementara aku mandi?", tanyanya lembut.

Ryeowook tergeragap, dan mengangguk, lalu menerima kantong itu dari Yesung.

Ketika Yesung melangkah ke kamar dan mandi, Ryeowook menata makanan di dapur dengan frustasi, kenapa Yesung sudah pulang sore-sore begini? Kenapa waktunya begitu tidak tepat?.

Ryeowook menyempatkan diri menghubungi Leeteuk dan menjelaskan perihal batalnya kunjungannya ke rumah sakit, untunglah Leeteuk mengerti lalu menjelaskan secara singkat kondisi Donghae yang stabil sehingga kemungkinan operasi ginjalnya bisa dilakukan beberapa hari lagi. Ryeowook merasa sangat lega mendengarnya, dengan cepat dipanjatkannya doa permohonan untuk Donghae lalu melanjutkan menata makanan itu.

Semua masakan yang dibeli Yesung tampak hangat dan menggiurkan sehingga mau tak mau menggugah selera Ryeowook.

"Kau pasti menyukainya, itu menu andalan dari restaurant favoritku", Yesung masuk kedapur dengan mengenakan pakaian santai, dia sudah bertransformasi dari pebisinis yang dingin ke lelaki yang lebih mudah didekati.

"Mana kopiku?", gumamnya disebelah Ryeowook,

Yesung berdiri begitu dekat hingga membuat Ryeowook gugup, dengan ceroboh dia hampir melompat menjauh dari Yesung, membuat lelaki itu mengangkat sebelah alisnya sambil menatap Ryeowook.

"A...akan kubuatkan", gumam Ryeowook dengan pipi merah padam.

"Tidak, nanti saja akan kubuat sendiri, kemarilah aku belum memeriksamu sejak tadi", Yesung merentangkan tanggannya sambil bersandar di meja dapur.

Ryeowook memandang ragu-ragu ke tangan Yesung yang terentang, lalu beralih kemata Yesung yang menyiratkan perintah tanpa kata-kata.

Dengan ragu dia melangkah mendekat ke arah Yesung, lelaki itu langsung merengkuhnya ke dalam pelukannya.

"Hmmmm kau harum seperti aroma bayi", gumam Yesung tenggelam disela sela rambut Ryeowook.

Yesung juga harum, pikir Ryeowook dalam hati, aroma sabun dan aftershave, aroma yang sudah familiar dengannya dan mau tak mau Ryeowook merasa nyaman ada di dalam pelukan Yesung,

Mereka berdiri sambil berpelukan beberapa lama, tanpa suara tanpa kata-kata, ketika akhirnya Yesung mengangkat kepalanya dan menatap Ryeowook, matanya tampak membara.

"Kau sudah tidak demam lagi", suaranya terdengar serak, dan Ryeowook mengerti artinya, Yesung sudah terlalu lama menahan diri, lelaki itu tidak menyentuhnya selama tiga malam, dan mengingat besarnya gairah Yesung kepadanya, sepertinya itu sudah hampir mencapai batas maksimal pengorbanan Yesung.

Ryeowook sangat mengerti.

"Iya, aku sudah tidak demam lagi", balas Ryeowook lembut.

Yesung mengerang lalu menekankan tubuhnya makin rapat pada tubuh Ryeowook, hingga kejantanannya yang sudah mengeras menekan Ryeowook membuat pipi Ryeowook memerah. Dengan lembut Yesung mengusap pipi Ryeowook.

"Begitu liar di ranjang, tapi masih bisa memerah pipinya ketika kugoda", dengan lembut Yesung meniupkan napas panas di telinga Ryeowook, membuat tubuh Ryeowook menggelenyar, "Apakah aku juga bisa membuat yang di bawah sana merona ketika kugoda?".

Tangan Yesung menyentuh Ryeowook dengan lembut, membuat napas Ryeowook terengah, jemari yang kuat itu menelusup ke dalam, menyentuh Ryeowook dan menggodanya, membuatnya basah.

Yesung mendorong Ryeowook ke atas meja dapur membuka pahanya, lalu dengan cepat membuka celananya dan menyatukan dirinya dengan Ryeowook.

Kerinduannya begitu dalam sehingga kenikmatan yang terasa begitu menyengat seakan-akan jiwanya dipukul dengan tabuhan percikan orgasme tanpa ampun.

Entah hati mereka saling berseberangan, tetapi ternyata tubuh mereka saling membutuhkan. Ryeowook setengah terbaring di atas meja dapur dengan tubuh Yesung melingkupinya, Lelaki itu membutuhkannya dan Ryeowook dengan caranya sendiri membutuhkan Yesung. Ketika paha mungil Ryeowook melingkupi pinggang Yesung, Yesung menekankan dirinya kuat kuat, menggoda batas pertahanan Ryeowook.

"Yesung...", Ryeowook merintih, tanpa sadar mengucapkan nama Yesung, dan ucapan itu bagaikan musik hangat di telinga Yesung.

"Ya manis, katakan manis, kau ingin aku berbuat apa?", bisik Yesung parau disela tubuhnya yang bergolak untuk memuaskan Ryeowook, di sela napasnya yang tersengal yang terpacu cepat. "Kau ingin aku memuaskanmu ya? Aku akan memuaskanmu manis, aku akan memuaskanmu sampai kau tidak akan pernah bisa menemukan kepuasan yang sama dari siapapun", Dengan posesif Yesung

menekan Ryeowook menyatakan kepemilikannya.

"Kau tidak akan pernah menemukan lelaki lain...", suara Yesung tercekat ketika hantaman orgasme melandanya, membawa Ryeowook ikut dalam pusaran puncak kenikmatannya.

Dan akhirnya, mereka baru menyantap makan malam hampir lewat tengah malam.