A Romantic Story About Ryeowook

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Genre : Romance & Drama

Rate : M

Ini adalah FF remake dari novelnya Shanthy Agatha yang judulnya "A Romantic Story About Serena". Aku Cuma mengedit nama tokoh dan sedikit latar tempat kejadian untuk keperluan cerita.

Pairing : Yewook, GS

DLDR

.

.

.

.

.

CHAPTER 9

.

.

Ruangan itu sangat sunyi, hanya suara alat-alat penunjang kehidupan yang berbunyi secara teratur.

Ryeowook duduk disana, disamping ranjang Donghae, menatap Donghae yang terbaring dengan damai. Dua jam lagi operasi ginjal Donghae akan dilaksanakan.

Kau harus kuat bertahan ya? Demi aku kau harus bertahan, kau harus bertahan, demi aku Donghae...

Berkali-kali Ryeowook merapalkan kata-kata itu seperti sebuah doa yang tidak ada putus-putusnya.

Donghae tampak lebih kurus, dan pucat, dan begitu diam, tetapi Ryeowook meyakini masih ada kekuatan hidup yang tersembunyi di dalam tubuh Donghae, Ryeowook mempercayainya. Ryeowook percaya kepada Donghae, seluruh harapannya masih bertumpu kepada kepercayaannya itu.

Kemungkinan keberhasilan operasi itu adalah 40:60, dan Ryeowook bergantung kepada 40% itu. Dia percaya Donghae adalah lelaki yang kuat, buktinya dia sudah berhasil bertahan sampai sejauh ini.

Leeteuk masuk ke dalam ruangan, dan menyentuh pundak Ryeowook.

"Kondisinya stabil Ryeowook, aku yakin dia akan berhasil melalui ini semua."

"Iya suster, Donghae pasti kuat."

Leeteuk mengecek denyut nadi Donghae lalu menatap Ryeowook seolah teringat sesuatu.

"Bagaimana kau berpamitan dengan Mr. Yesung?"

Ryeowook merona.

"Aku bilang menemani teman yang akan melahirkan," gumamnya pelan, merasa berdosa karena tidak biasa berbohong.

Hari ini hari minggu, Yesung kebetulan berencana melewatkan waktunya seharian dengan Ryeowook. Tetapi dengan alasan palsu dan kebohongan yang terbata-bata, Ryeowook berhasil membuat Yesung melepaskannya.

Meskipun dahi Yesung tampak berkerut curiga ketika Ryeowook berpamitan tadi pagi.

"Kalau begitu kenapa kau tak mau kuantar?" kejar Yesung tadi pagi ketika Ryeowook menolak tawarannya.

"Karena temanku ini mengenalmu sebagai bosku, nanti dia bisa mengetahui semuanya." jawab Ryeowook cepat-cepat.

Lelaki itu mengerutkan keningnya lagi, tidak puas.

"Apakah dia salah satu pegawaiku?"

"Bukan!"

Ryeowook langsung menyela keras, karena setelah mengenal Yesung lebih dekat,

Ryeowook tahu, jika dia menjawab 'iya', maka Yesung pasti akan menyuruh salah satu staf personalianya untuk mengecek apakah benar ada karyawannya yang akan melahirkan, dan dia akan mendapati kalau Ryeowook berbohong.

"Dia bukan pegawaimu, tapi dia banyak mengenal teman-teman kantor dan dia tahu tentangmu, jadi kalau dia melihatmu dia bisa bertanya-tanya kepada yang lain…."

"Oke, kalau begitu di Rumah Sakit mana?"

Ryeowook kehilangan kata-kata, berusaha mencari jawaban.

"Eh... aku tidak tahu di Rumah Sakit mana."

Dengan cepat Yesung melangkah ke hadapan Ryeowook yang berusaha menghindari tatapannya.

"Kau bilang akan menemani temanmu itu di Rumah sakit, bagaimana mungkin kau tidak tahu di mana rumah sakitnya?"

"A...aku...", dengan gugup Ryeowook menelan ludah, "Aku akan menunggu di kost yang lama, suaminya akan menjemputku nanti", disyukurinya jawaban yang terlintas cepat di otaknya. Dia jarang berbohong, dan tidak pandai berbohong.

Sementara Yesung terlihat seperti seorang detektif yang mencurigai tindakan kriminal yang dilakukan di belakangnya.

"Suaminya?"

Jawaban itu sepertinya membuat Yesung tidak senang karena ekspresi wajahnya semakin menggelap.

"Kau membiarkan suaminya menjemputmu? kalian hanya berdua di jalan?"

Ryeowook merasa gugup, tapi kemudian dia merasa ingin tertawa mendengar perkataan Yesung yang terasa aneh.

"Yesung," gumam Ryeowook jengkel, " Dia seorang suami, dan isterinya akan melahirkan anaknya, apa yang ada di dalam pikiranmu?"

Perkataan itu membuat pipi Yesung merona, dan dia melangkah mundur.

"Ah ya... maaf," lalu lelaki itu menatap Ryeowook tajam, " Kau boleh pergi, tapi begitu sampai di rumah sakit itu kau harus menghubungiku"

"Ya," jawaban Ryeowook terlalu cepat sehingga Yesung menatapnya makin curiga.

"Kau harus menghubungiku, Oke?"

"Oke", jawab Ryeowook terlalu cepat.

"Ryeowook!" Suara Yesung terdengar jengkel.

"Oke, Aku janji." Jawab Ryeowook akhirnya.

"Dan sebelum jam delapan malam kau harus pulang."

"Baik Yesung", Ryeowook berjanji meski tidak tahu apakah dia bisa menepatinya.

Dan sekarang, dengan sengaja Ryeowook mematikan ponselnya. Bagaimanapun kemarahan Yesung nanti akan ditanggungnya, sekarang yang paling penting adalah Donghae.

"Sudah waktunya", gumam Leeteuk, membuyarkan lamunan Ryeowook.

Dua perawat lain masuk ke ruangan dan mulai mempersiapkan mesin-mesin penunjang kehidupan untuk Donghae. Lalu mulai mendorong tubuh Donghae keluar ruangan.

Ryeowook mengikuti di belakang, sampai Donghae menghilang di pintu khusus ruang operasi. Dengan lemah dia menoleh ke Leeteuk.

"Berapa lama suster operasinya?" Leeteuk memeluk Ryeowook lembut.

"Untuk operasi berat seperti ini, minimal 4 jam Ryeowook."

.

.

4 jam

5 jam

6 jam

...

Napas Ryeowook mulai terasa sesak, berkali kali dia melirik lampu di atas pintu ruang operasi. Tetapi tetap tidak ada gerakan di sana. Di setiap detik yang terlewatkan dengan begitu lambat, napas Ryeowook terasa makin lama makin sesak.

Kenapa lama sekali? Apa yang terjadi? Apakah para dokter mengalami kesulitan? Bagaimana kondisi Donghae disana?.

Pertanyaan-pertanyaan itu berkecamuk di dalam benak Ryeowook, membuatnya makin cemas dan ketakutan.

Leeteuk sudah berkali-kali menengok keadaan Ryeowook di sela-sela tugas jaganya, membawakan Ryeowook segelas teh dan makanan kecil karena Ryeowook tidak mau makan.

"Makanlah dulu Ryeowook. Aku tidak mau kau pingsan nantinya." gumam suster Leeteuk sambil memijit lembut pundak Ryeowook.

Dengan lemah Ryeowook menggeleng. "Tidak bisa suster, aku terlalu cemas untuk makan."

"Kalau begitu minumlah tehmu, kau sama sekali belum makan sejak tadi, setidaknya teh manis bisa memberikanmu sedikit tenaga."

Dengan patuh Ryeowook meneguk teh manisnya, lalu menatap ke pintu lagi dengan cemas.

"Kenapa lama sekali suster operasinya?"

Leeteuk menghela napas.

"Aku tidak tahu Ryeowook, tapi Donghae kan kasus khusus, para dokter harus benar benar berhati-hati menanganinya, mungkin itu yang memerlukan waktu lebih lama."

Pandangan Ryeowook tetap tidak terlepas dari pintu ruang operasi.

Ketegangannya semakin meningkat, ketika lampu di atas pintu ruang operasi menyala, tanpa sadar dia terlompat dari tempatnya berdiri dan setengah berlari menyongsong dokter.

Dokter itu tersenyum sebelum Ryeowook bertanya, dia mengenal Ryeowook, mengenal kegigihan gadis itu memperjuangkan kehidupan tunangannya. Dan tanpa sadar turut merasakan empati pada pasangan itu.

"Tidak apa-apa Ryeowook, Donghae lelaki yang kuat, operasinya berhasil."

Tubuh Ryeowook langsung lunglai penuh rasa syukur hingga sang dokter harus menopangnya.

"Selamat Ryeowook, kamu berhasil... Kalian berdua berhasil."

.

.

"Pulanglah dulu Ryeowook, ini sudah hampir jam tiga pagi", Leeteuk yang masih setia menemani mengguncang pundak Ryeowook.

Dia kasihan melihat gadis itu tertidur kelelahan di samping ranjang Donghae, begitu Donghae keluar dari ruang pemulihan dan kembali ke kamar perawatan intensif, Ryeowook tak pernah beranjak dari sisi Donghae, tidak makan, tidak minum. Hanya duduk disana mengenggam tangan Donghae yang tidak terbalut infus, seolah olah akan ada keajaiban dimana Donghae akhirnya sadarkan diri.

Kasihan sekali kau nak, Leeteuk menggumamkan rasa tersentuhnya dalam hati.

Ryeowook berusaha mengumpulkan kesadarannya, tanpa terasa tadi dia tertidur karena kelelahan.

"Kamu harus pulang Ryeowook, ingat, mungkin Yesung kebingungan mencarimu."

Astaga! Astaga! Astaga! Ya Tuhan, Ryeowook benar-benar lupa, Yesung!

Astaga, lelaki itu pasti akan mencarinya dan sekarang dia pasti sedang marah besar!.

Dengan gugup Ryeowook bangkit dari kursinya, sedikit gemetar membayangkan kemarahan Yesung nantinya.

"Aku meminta supir rumah sakit mengantarmu pulang, jadi kamu tidak perlu naik taksi dini hari begini", Leeteuk berusaha meredakan kegugupan Ryeowook.

Dengan cepat Ryeowook mengecup tangan Donghae yang masih ada dalam genggamannya, memeluk Leeteuk dan setengah berlari keluar.

.

.

Ruangan itu gelap.

Gelap dan sunyi, hingga bunyi klik ketika Ryeowook menutup pintu terdengar begitu keras.

Dengan gugup Ryeowook menelan ludah.

Kenapa sepi? Kemana Yesung?.

Apa Yesung mungkin pulang ke rumahnya? Apa mungkin dia tidak tahu kalau Ryeowook belum pulang? Syukurlah kalau begitu kejadiannya.

Ryeowook berusaha menenangkan dirinya, tapi tetap saja tidak bisa menyembunyikan rasa gugupnya menghadapi apa yang akan terjadi, seperti hitungan mundur penantian sebuah bom yang akan meledak saja.

Dan bom itu memang meledak.

Dalam hitungan beberapa menit pintu depan terbuka, tidak, bukan terbuka, tapi terdorong dengan kasarnya, lampu-lampu menyala.

Yesung tampak begitu menakutkan, matanya menyala-nyala, rambutnya acak-acakan, bahkan pakaiannya yang biasanya selalu elegan dan rapi tampak kusut masai. Yang pasti, lelaki itu kelihatan begitu murka mendapati Ryeowook berdiri di ruang tamu apartemen itu, hanya menatapnya.

Dengan gerakan kasar dia meraih pundak Ryeowook dan mengguncangnya begitu keras sampai Ryeowook merasa pusing.

"Kemana saja KAU?!", teriak Yesung, lepas kendali.

Ryeowook berusaha menjawab, tetapi kepalanya terasa pusing karena Yesung masih mengguncangnya.

"Aku mencarimu ke segala penjuru, kau tahu?! ", Yesung masih berteriak.

"Semua rumah sakit bersalin di kota ini aku datangi satu persatu, tapi tidak ada kamu! Kemana saja KAU?"

"Yesung, kalau kau terus mengguncangnya seperti itu, dia akan muntah sebentar lagi", sebuah suara tenang terdengar di belakang Yesung, membuat lelaki itu terpaku, seolah-olah baru menyadari kehadiran sosok di belakangnya.

Kangin berdiri dengan santai sambil menyandarkan tubuhnya di dinding dekat pintu, sepertinya menikmati pemandangan Ryeowook yang didamprat oleh Yesung.

Yesung menarik napas dalam-dalam beberapa kali, berusaha mengontrol emosinya.

Sialan benar Ryeowook! Sialan benar gadis ini! Tidak tahukah dia begitu cemas tadi ketika sampai malam Ryeowook tidak juga pulang? Tak tahukah dia betapa hati Yesung dicengkeram ketakutan yang amat sangat ketika mencoba menghubungi Ryeowook dan menemukan bahwa ponselnya mati?.

Beribu pikiran buruk tadi berkecamuk di dalam benak Yesung, bagaimana kalau Ryeowook kecelakaan? Atau dia menjadi korban kejahatan?! Bagaimana kalau gadis itu terluka parah dan tidak dapat datang kepadanya untuk meminta pertolongan?.

Dan sekarang, menemukan gadis itu berdiri di ruang tamu apartemennya, tanpa kekurangan suatu apapun, membuat Yesung dibanjiri perasaan lega yang amat sangat, lega sekaligus murka, murka karena gadis itu telah membuatnya kacau balau, murka karena gadis itu telah membuatnya berubah dari Yesung yang tenang menjadi Yesung yang kacau, murka karena gadis itu telah menumbuhkan

sebentuk perasaan yang tidak dia kenal sebelumnya.

"Pro... Proses melahirkan temanku bermasalah... Dia... Dia eh... Harus... Dioperasi...", Ryeowook masih berusaha mengumpulkan nafasnya, diguncang dengan begitu kerasnya membuat pandangannya berkunang-kunang.

Tangan Yesung yang masih berada di pundaknya mencengkeramnya kuat.

"Kalau begitu, apa susahnya meneleponku?! Kenapa kau matikan ponselmu hah?!",

Ryeowook mengerjapkan matanya gugup. "Baterai ponselku... Habis..."

"Memangnya tidak ada cara lain buat menghubungiku?! Aku hampir gila memikirkan kau ada dimana! Apa kau pikir aku tidak mencemaskanmu? Kau tahu aku hampir melaporkan kehilanganmu ke kantor polisi!".

"Yesung, sudahlah, toh dia sudah pulang dengan selamat", Kangin menyela, berusaha lagi meredakan kemarahan Yesung.

Dengan tajam Yesung menoleh kepada sahabatnya itu.

"Cukup Kangin, kau boleh pulang, terima kasih sudah menemaniku tadi."

Kangin hanya mengangkat bahu menghadapi pengusiran halus itu, dia menepuk-nepuk kemejanya yang juga kusut, lalu melangkah keluar pintu.

"Kau harus menenangkan otakmu, kalau kau seperti ini, makin lama aku makin tidak mengenalmu", kata-kata Kangin ditujukan kepada Yesung, tapi matanya menatap tajam ke arah Ryeowook, menyalahkan.

"Dan kau, Tuan Putri, lain kali belajarlah sedikit bertanggung jawab!", sambungnya dingin sebelum melangkah keluar dan menutup pintu di belakangnya.

Ruangan itu menjadi begitu hening sepeninggal Kangin.

Yesung diam.

Dan Ryeowook juga diam, menilai emosi Yesung, takut salah berbicara atau bertindak yang mungkin bisa menyulut emosi Yesung semakin parah.

Setelah mengamati dengan hati-hati, Ryeowook menarik kesimpulan kalau kemarahan Yesung sudah mulai mereda, matanya sudah tidak menyala lagi seperti api biru, dan napasnya sudah teratur, hanya tatapan tajam dan bibirnya yang menipis itu yang menunjukkan masih ada sisa kemarahan di sana.

"Maafkan aku," bisik Ryeowook pelan, takut-takut.

Sejenak Yesung tampak akan mendampratnya lagi, tetapi lelaki itu menarik napas panjang, berusaha menahan diri.

"Sudahlah", gumamnya, melangkah melewati Ryeowook memasuki kamar.

Dengan gugup Ryeowook berusaha mengejar langkah Yesung yang begitu cepat.

"Maafkan aku, aku tidak berpikir kamu akan secemas itu", tersengal Ryeowook berusaha menjajari langkah Yesung menuju kamar. "Aku... aku terlalu terfokus pada operasi temanku lalu aku... Yesung!", Ryeowook setengah berseru karena lelaki itu berjalan terus tanpa memperhatikannya.

Yesung berhenti melangkah, menatap Ryeowook, tampak begitu dingin.

"Yang penting kau sudah pulang dengan selamat", jawabnya datar.

"Yesung...?".

Ryeowook merasa ragu mendengar nada dingin di dalam suara Yesung.

"Sudah! Aku mau tidur!" geram Yesung marah sambil melangkah ke arah ranjang.

.

.

Lelaki itu marah, marah besar padanya.

Ryeowook bisa merasakannya dari suasana pagi itu, ketika mereka bersiap-siap berangkat ke kantor.

Semalaman Ryeowook tidak bisa tidur, dan Ryeowook yakin Yesung juga tidak tidur, karena lelaki itu bergerak dengan gelisah sepanjang malam.

Suasana tegang di waktu sarapan pagi itu terasa seperti kawat berduri yang direntangkan, siap putus dan melukainya.

Ia tidak menyukai suasana seperti ini, lebih baik Yesung meledak-ledak marah seperti kemarin, setidaknya semua kemarahannya terlampiaskan, tidak seperti sekarang.

Lelaki itu murka, tetapi menyimpannya sehingga membuat seluruh dirinya tegang dari ujung rambut sampai ujung kaki.

"Kita berangkat bersama", desis Yesung setelah membanting serbet makannya ke meja.

Tangan Ryeowook yang menyuapkan roti ke mulutnya berhenti di tengah-tengah.

"Apa?"

"Kita berangkat bersama-sama", ulang Yesung datar.

"Tapi..."

"Tidak ada tapi Ryeowook," sela Yesung kasar lalu berdiri dengan marah ke pintu,

"Ayo cepat!"

Dengan gusar lelaki itu membukakan pintu mobil buat Ryeowook, dan membantingnya ketika Ryeowook sudah duduk di kursi, tanpa dapat membantah, tanpa dapat memberikan perlawanan.

Sepanjang jalan, lelaki itu menyetir dengan sangat kasar, seolah-olah melampiaskan kemarahannya. Ryeowook hanya duduk berdiam, tidak mau melakukan apapun yang dapat memancing kemarahan Yesung.

"Nanti kau pulang denganku! Kau dengar itu? Kau datang ke ruanganku setelah jam kantor, kita pulang bersama!", gumam Yesung tanpa mau dibantah ketika menurunkan Ryeowook di lobi kantor.

.

.

Hari ini berlalu dengan amat lambat bagi Ryeowook, perasaannya tidak enak, sampai kapan Yesung akan marah padanya? Sampai kapan Yesung akan bersikap seperti ini kepadanya? Dia tahu dia bersalah, tapi dia kan sudah meminta maaf? Lagipula kenapa permasalahan kecil semacam ini begitu dibesar-besarkan oleh Yesung?.

Pemikiran itu masih berkecamuk di kepalanya ketika keluar dari lift yang mengantarkannya ke ruangan pribadi CEO perusahaan.

Sebenarnya Ryeowook tadi bermaksud pulang sendiri dan mampir ke rumah sakit menengok Donghae, memanfaatkan waktu bebasnya yang dijanjikan oleh Yesung pada waktu perjanjian awal mereka.

Tapi dengan ancaman Yesung tadi pagi, Ryeowook tidak punya pilihan lain selain menuruti permintaan Yesung untuk menemuinya di ruangannya sepulang kerja.

Meja sekertaris Yesung sudah kosong, dengan pelan Ryeowook melangkah ke pintu besar ruangan Yesung, mengetuknya pelan.

"Masuk."

Sebuah suara mempersilahkannya dari dalam. Ryeowook masuk dan menutup pintu di belakangnya, ketika membalikkan badannya dia terpaku.

Bukan Yesung yang ada di sana, tetapi Kangin, lelaki itu sedang duduk santai di sofa, menyesap segelas brendy, menatap Ryeowook dengan penilaian santai yang sedikit kurang ajar.

"Mr. Yesung menyuruh saya kesini jam pulang kantor", jelas Ryeowook terbata.

Kangin tersenyum, masih duduk santai di sofa sambil menatap brendynya yang tinggal seperempat gelas.

"Aku tahu, Yesung menyuruhku menunggumu di sini, dia sedang menemui tamu penting dari Jerman di ruang pertemuan."

"Oh."

Ryeowook tidak tahu harus berkata apa, suasana terasa sangat canggung. Entah karena Ryeowook memang tidak kenal dekat dengan Kangin, atau karena sikap santai palsu yang ditunjukkan Kangin.

"Kalau begitu mungkin saya akan menunggu di luar saja", gumam Ryeowook cepat-cepat, ingin segera meninggalkan ruangan itu.

"Bagaimana rasanya?"

Pertanyaan tiba-tiba Kangin itu menghentikan gerakan tangan Ryeowook membuka pegangan pintu.

"Apa?"

"Bagaimana rasanya menjadi wanita simpanan taipan kaya seperti Yesung?", Kangin bangkit berdiri dari sofa dan menghampiri Ryeowook.

Ryeowook tidak suka mendengar nada melecehkan dalam suara Kangin, dia ingin segera keluar dari ruangan ini.

"Eh, mungkin saya harus menunggu di luar," Ryeowook berhasil membuka pintu sedikit, tapi dengan lengannya Kangin mendorong pintu itu tertutup lagi.

"Aku bertanya padamu Tuan Putri", ulang Kangin sinis.

Ryeowook menatap Kangin tajam.

"Saya tidak akan membiarkan anda merendahkan saya," desisnya pelan.

Ucapan itu membuat Kangin tertawa, penuh penghinaan.

"Merendahkan katamu? Bukannya kau yang datang merangkak meminta dijadikan pelacur oleh Yesung?", ejeknya kasar, lalu mencekal lengan Ryeowook tak kalah kasar, tak peduli Ryeowook mulai meronta-ronta.

"Kau adalah wanita paling rendah, paling murahan yang pernah kukenal, kau mungkin berhasil merayu Yesung dengan tubuhmu", Kangin menyeringai sinis,

"Tak kusangka Yesung bisa bertekuk lutut pada perempuan sepertimu, tapi kau tentu sudah tahu kan? Yesung terbiasa dikelilingi perempuan-perempuan dewasa yang berpengalaman, jadi citra polos dan kekanak-kanakanmu tentu saja menjadi hal baru yang menyegarkan untuknya."

"Anda salah! Saya tidak begitu", Ryeowook berusaha menyela, berusaha melepaskan diri dari cekalan tangan Kangin, tapi genggaman lelaki itu seperti capit besi, dan dari napasnya yang berbau brendy, sepertinya lelaki itu setengah mabuk.

"Kau tidak bisa membohongiku pelacur cilik!", Kangin menggeram pelan, "Meski dulu aku terpaksa membuatkan kontrak tiga ratus juta yang konyol itu, jangan kira aku akan membiarkanmu menyetir Yesung untuk membuat kekonyolan lain yang merugikannya!"

"Anda salah paham!", Ryeowook setengah berteriak, semakin meronta dari cengkeraman Kangin yang sangat keras.

"Kau pelacur cilik yang menjual tubuhmu seharga tiga ratus juta", Kangin mulai merapat ke tubuh Ryeowook.

"Aku mulai bertanya-tanya, apakah hargamu sepadan dengan pelayananmu?"

"Tidaaak! Lepaskan saya!", Ryeowook mulai berteriak membabi buta, berusaha melepaskan diri dari Kangin yang semakin gelap mata.

Lelaki itu mencengkeramnya kuat, mendorongnya ke tembok dan berusaha menciumnya dengan kasar

Ryeowook meronta membabi buta, berusaha menghindari ciuman itu sekuat tenaga, memalingkan kepalanya seperti orang gila, dia tak mau disentuh Kangin, dia tidak mau!.

Yesung! Yesung! Tolong aku!.