Daisuki Summer and you
A Naruto Fic
Disclaimer Naruto : Masashi Kishimoto
Pair : Sasuke Uchiha and Sakura Haruno
Rate : Teen
Romance/Hurt/Comfort
Warning : DLDR, OoC, AU, Typo(semoga tidak ada), gaya penulisan aneh, cerita suka-suka gua.
.
"Karin, ya?" Ucap Ino sinis.
"I-Ino?" gadis berkacamata itu terkejut melihat Ino didepannya, sudah beberapa bulan belakangan Karin tak pernah melihat Ino semenjak kejadian waktu itu.
"Cih, apa kabar –ketua?" nada mengejeknya kembali terdengar.
"Baik,"
"Kau banyak berubah, sejak kapan kau suka gulali, hm?" lanjutnya berbasa-basi.
"Ini untuk sepupuku. Ah, apa kabar, Ino?" seulas senyum tulus tercetak di bibir Karin. Tangannya mengambil seplastik besar kembang gula berwarna pink yang di sodorkan penjual kepadanya, dan kemudian membayarnya. Karin belum pergi dari stand makanan itu, mengingat ia masih terlibat pembicaraan dengan 'teman' sma nya di Tokyo.
"Sejak kapan kau peduli padaku? Cih, Jangan sok peduli !" bentak Ino sambil menatap tajam ruby Karin. Gadis pirang itu menyilangkan tangannya angkuh.
'Dia masih marah,' batinnya.
"Kau masih marah padaku? Aku minta maaf." Ucap Karin seraya menjulurkan tangan kanannya.
PLAK
"Jangan harap, ketua sialan!" Ino menampik kasar tangan Karin dan langsung melesat meninggalkan stand makanan itu dan Karin yang masih terdiam, gadis pirang itu tidak jadi membeli takobata lalu kembali ke tempat Sasuke menunggunya.
Karin menghela nafas berat, 'yasudah, kalau dia tidak mau memaafkan aku, toh aku sudah minta maaf, lagi pula itu bukan sepenuhnya salahku,' fikirnya.
Bibir kedua orang itu masih menempel, lumatan kecil Sakura membuat si pemuda ikut menikmati kegiatan mereka tersebut. Suara yang ditimbulkan olah ledakan hanabi diatas membuat Sakura tersadar dengan apa yang dilakukannya, Dia memundurkan dirinya beberapa langkah kebelakang, menunduk tak mampu menatap pemuda yang kini menatapnya heran.
"Ma-maaf, a-aku lancang," gadis itu membungkuk, dan langsung berlari meninggalkan Sasuke yang masih memegangi bibirnya yang basah akibat ciuman tadi.
"Haah~ ternyata dia masih marah, maaf Ino, aku tidak bermaksud seperti itu. Aiss, kenapa aku mikirin itu terus, ngomong-ngomong sakura mana ya?' gadis bermata ruby itu bergelut dengan fikirannya sendiri. Di tolehkannya kepala merahnya ke segala arah mencari-cari sosok yang berambut pink. Ah! Itu dia, Karin melihat melihat Sakura yang berlari-lari kecil kearahnya.
"Kau ini kemana sa- " Ucapannya terpotong ketika Sakura menarik tangannya, membawa dirinya jauh dari festival.
"Diam. Ayo pulang, ah, sini," Sakura menarik sekantung plastik kembang gula yang di beli Karin untuknya.
"Ck, aku menyesal membelikannya untukmu," Karin berdecak sebal.
Karin menyilangkan tangannya sambil membuang muka ke samping seolah-olah merajuk, berharap Sakura akan minta maaf padanya. Tidak mendapat respon apapun, Karin menolehkan kepala merahnya kearah Sakura, perempatan siku muncul di dahi Karin, bukannya minta maaf Sakura malah senyam senyum dan bersenandung kecil sambil sesekali memakan sejumput kembang gula di tangannya. Karin mengernyit ketika lagi-lagi dirinya melihat jejak air mata yang mulai mengering di sudut mata sepupunya itu 'Dia menangis?'.
"Kau aneh, Sakura." Ungkap Karin, namun tak di tanggapi apapun oleh Sakura. Mereka berjalan semakin menjauh dan menghilang di persimpangan.
"Cih, ini akan menarik gadis sialan!" seringai gadis pirang yang melihat fakta yang dilihatnya malam –dini hari- ini. Bahwa Sakura Haruno ternyata sepupu dari Karin. Ino ingat saat Karin menceritakan tentang Sakura, mulai dari segi fisik dan kepribadian gadis itu saat mereka masih berteman.
Sasuke merebahkan tubuhnya diatas kasur king size miliknya. Pemuda itu memejamkan matanya mengingat kembali kejadian malam itu, saat Sakura menciumnya. Apa Sakura menyukainya? Dia menggelengkan kepala, itu tidak mungkin, mereka hanya te – Sahabat – tidak lebih. Lalu kenapa Sakura menciumnya? Mungkin hanya terbawa suasana. Fikirnya. Tak lama kemudian pemuda Uchiha itu pun terlelap.
"Hati-hati, Karin. Liburan kesini lagi ya. Dadahh." kata Sakura pada Karin yang mulai menaiki taxi yang akan mengantar kan gadis berambut merah itu ke stasiun.
"Iya bawell, perjuangkan terus cintamu yah~" ucap Karin jahil. Biasanya kalau di goda begitu pasti wajah Sakura memerah, tapi sekarang Karin hanya melihat tatapan sendu di wajah cantik gadis pink itu.
Kedua orang tua Sakura hanya tersenyum dan menggumankan kata "hati-hati" pada Karin. Taxi itupun melesat meninggalkan kediaman Haruno.
Drrtt Drrtt
1 pesan diterima
Sakura
Sasuke-kun, maaf hari ini dan seterusnya aku tidak pergi bersama mu lagi, ayah yang akan mengantarku. Dan terima kasih sebelumnya.
Dibacanya dengan perlahan pesan tersebut, baru saja Sasuke akan mengetik pesan pada Sakura, ternyata dia keduluan, 'Hn, baguslah'.
Selesai sarapan adik dari Itachi Uchiha itu pamit pada sang Ibu dan mengambil motor ninjanya di dalam garasi, Sasuke menghidupkan motornya kemudian menjemput Ino.
Hari ini, sekolah di mulai lagi. Anak-anak di kelas XI. IPA.2 sedang sibuk mengerjakan PR musim panas yang diberikan sensei mereka sebelum libur musim panas. Ckckck~ dasar pemalas. Sakura sedang ngobrol ria dengan Hinata, mereka sudah mengerjakan tugas itu saat liburan, tipikal murid teladan.
Krieett
Semua mata tertuju pada dua orang yang baru memasuki kelas, Sasuke dan Ino. Gadis bermarga Yamanaka itu mengamit lengan Sasuke sambil tersenyum, yang mengakibatkan mata si kepo Naruto memicing (?) Pemuda jabrik itu seakan melupakan PR musim panasnya yang belum selesai, masih dengan mata yang memicing Naruto berjalan mendekat kearah Sasuke dan Ino.
"Hei. Aku jadi curiga~" suara keras Naruto itu menyita perhatian semua orang di kelas. Termasuk Sakura tentunya.
"Iya aku juga, jangan-jangan kalian pacaran ya?" Temari ikut nimbrung tangannya menunjuk-nunjuk lengan Sasuke dan Ino.
"Hehe, Iya," jawab Ino cengengesan.
"Ceritakan!" seru anak-anak, minus Sakura dan Hinata.
Sakura menatap kosong kerumunan itu, Ah! Dia baru ingat sekarang Ino sudah menjadi pacar Sasuke. Kursi yang di tempatinya hampir setahun ini, harus berganti kepemilikan, pasti Sasuke akan memintanya untuk pindah, sebut saja bahasa kasarnya mengusir. Sakura mengemasi barang-barangnya bersiap pindah ke kursi nomor dua dari belakang. Daripada di usir lebih baik pindah duluan.
Sementara Ino sedang asyik bercerita, Sasuke berjalan menuju tempat duduknya. Sasuke tak suka Ino mengumbar-umbarkan tentang hubungan mereka, bagi Sasuke itu privasi. Dilihatnya Sakura hendak berdiri sambil membawa tas, pandangan mereka bertemu sekilas, emerald itu tidak secerah dulu, entah apa yang membuatnya begitu, Sasuke tak tahu, atau – pura-pura tidak tahu, hm?
Tett tettt
Bel masuk berbunyi, kerumunan yang 'mewawancarai' Ino seketika lari tunggang langgang (?), mengingat mereka belum sepenuhnya mengerjakan PR musim panas, Ino menghampiri Sasuke, aquamarine-nya tak melihat tas pink itu lagi.
"Duduk disini," ucap Sasuke sembari menepuk-nepuk kursi itu, member isyarat pada Ino agar segera duduk.
"Sakuranya?"
"Dia pindah sendiri kebelakang." Sasuke menunjuk Sakura yang sedang menatap keluar jendela dengan ujung dagu tirusnya.
"Oh, tunggu sebentar, aku mau berterima kasih padanya," Kata Ino yang dibalas oleh anggukan halus dari Sasuke.
Merasakan ada orang yang berdiri disampingnya Sakura menolehkan kepalanya, ternyata Ino. Gadis pink itu menampilkan senyum kecilnya pada Ino. Ino balik tersenyum lebih tepatnya senyum meremehkan.
"A-ada apa Ino-san?" dipandangi seperti itu membuat Sakura gugup.
Ino tidak menjawab, Ino sedikit membungkukkan badannya, mendekatkan bibirnya ke telinga Sakura dan berbisik pelan.
"Baguslah kau sadar, kursi itu milikku sekarang. Dan jangan coba-coba mendekati Sasuke-kun. Atau kau akan tahu akibatnya, gadis tengil." Ino segera meninggalkan Sakura yang tercenung akibat bisikannya barusan, yang seperti bisikan setan.
Bel Istirahat telah berbunyi, Ino dipanggil ke ruang guru sejarahnya, karena nilainya tidak memenuhi standar. Sasuke menolak saat diajak sahabatnya makan kekantin bersama, laki-laki itu memilih menunggu Ino dikelas. Sendirian.
Sakura dan Hinata kini duduk di depan kelas, untung anak-anak tidak begitu banyak di koridor ini, jadi Sakura bisa menceritakan hal yang membuatnya dilema hingga sekarang kepada Hinata, tentang dirinya mencium Sasuke di festival Tanabata. Sakura berani bersumpah, dia melakukan itu karena benar-benar terbawa suasana. Hinata hanya terkikik geli tatkala melihat wajah Sakura yang memerah saat menceritakannya.
"Jadi aku harus bagaimana Hinata-chan?"
"Um, kau coba saja mengungkapkan perasaanmu sekarang, " saran Hinata asal.
"Ah~ itu suliiit. Lagipula dia kan sudah jadi milik Ino." Sahut Sakura dengan wajah murung.
"Ya sudah, kalau kau masih belum mau mengutarakannya, lebih baik kau minta maaf pada Sasuke-san. Um, yah itusih kalau kau mau Sakura-chan,"
"Hmm~ mungkin akan kucoba. Sekarang?" Hinata menganggukkan antusias kepala bersurai gelap miliknya.
"Semangat ya," Hinata langsung melengos pergi ke kantin.
Sakura menarik nafasnya, perlahan kemudian membuangnya secara perlahan juga, hingga beberapa kali guna meminimalisir debaran jantungnya yang semakin menggila di dalam sana. Dia mulai melangkahkan kaki jenjangnya ke dalam kelas yang hanya ada Sasuke didalamnya, Uchiha itu sedang sibuk mengotak-atik smartphone-nya. Sakura menarik mundur mantan 'kursi'nya kemudian mendudukinya .
"Sasuke." Panggilnya.
"Hn."
"Etto, maaf soal kejadian di festival Tanabata itu, aku terbawa suasana,"
"Oh, lupakan," jawabnya,Sasuke yang masih sibuk dengan ponselnya.
Hatinya mencelos. Lupakan? Dia bilang lupakan? Barang sedetik pun Sakura tetap teringat. Pasti bagi Sasuke ciuman itu bagai angin lalu. Tapi bagi Sakura itu sesuatu yang istimewa, spesial. Malam itukan tepat tanggal tujuh bulan tujuh, yang menurut legenda – Ah! Persetan dengan legenda.
Seseorang tengah menggeram kesal dengan apa yang baru saja ia dengar dari balik pintu kelas .2 itu.
"Y-ya benar, Lu-lupakan, lu-lupakan benar. Y-ya pasti," Entah sadar atau tidak Sakura meracau seperti orang stress, gadis pink itu beranjak dari duduknya. Ketika Ia berbalik seketika itu pula liquid sialan itu meluncur bebas dipipi ranumnya. Gadis itu berjalan seperti kehilangan arah, tiba-tiba saja gadis itu berada di samping gudang penyimpanan alat-alat olahraga.
Pengintip itu mengikuti Sakura, dilihatnya Sakura masih terdiam dengan bahu yang sedikit bergetar menandakan bahwa gadis itu masih menangis. Ino –pengintip- itu mulai kesal karena Sakura masih terdiam,padahal bel masuk yang kerasnya super itu sudah berbunyi sebanyak tiga kali, masih belum bisa membuat Sakura bergeming sedikitpun. Ino berjalan menuju Sakura, dicengkeramnya erat surai pink itu dengan tangan kirinya, membuat sang empu-nya mendongak sambil merintih.
"AKH!" seketika itu Sakura sadar.
"HEH Tengil! Kau mencium Sasuke-kun?! Sialan!" di sentakkannya lagi rambut itu.
"AKH!"
"Seharusnya kau sadar, sejak awal kau itu sudah di tolak secara tidak langsung!, tahu diri dong!" didorongnya kasar Sakura kelantai tak berkeramik itu.
Sakura merasakan kepalanya berdenyut, kedua telapak tangan dan kedua lututnya tergerus lantai semen, rasa sakit mulai menjalari bagiian itu, masih dalam posisi seperti itu, Ino mendekati Sakura yang terdiam. Tak ada lagi bahu yang bergetar, tak ada lagi air mata yang mengalir.
Sakura berusah mati-matian untuk tidak menangis, dia menggigiti bibir bawahnya, menahan isakan. Didengarnya suara ketukan sepatu mendekat, seketika itu pula Sakura kembali merasakan denyutan menyiksa di kepala bagian belakangnya yang baru saja berangsur-angsur akan menghilang.
"Beginilah akibatnya, cari-cari masalah denganku. Mau mencoba sekali lagi, heuh?" ejeknya, sambil melepaskan cengkramannya dari rambut Sakura. Ino berjalan meninggalkan Sakura yang masih dalam posisi 'mengenaskan'.
Dapat dilihatnya helaian merah muda yang selama ini ia panjangkan hingga mencapai pinggang kini putus sia-sia, rambutnya kini tak rapi lagi, kusut, acak-acakan. Sakura beringsut, di tiup-tiup nya luka dikedua telapak tangan dan lututnya. Darahnya bercampur dengan debu-debu Sakura meringis pelan. Dilangkahkannya kaki janjang itu ke toilet.
Gaara baru saja menaruh buku-uku di perpustakaan. Dia menyusuri koridor menuju kelasnya, tiba-tiba Gaara mendengar seperti suara perempuan, di dalam toilet.
"Mencintaimu semakin sulit saja ya, Sasuke-kun?" ucap suara itu lirih.
Gaara mengernyit, Sasuke-kun? Didengarnya langkah kaki mendekat dari dalam toilet, betapa terkejutnya Gaara melihat Sakura dengan rambut yang tak rapi. Dia tahu betul gadis itu sangat merawat rambut pink anehnya itu. pasti ada apa-apa. Tebaknya.
Sakura tersentak melihat Gaara berdiri di depan toilet, yang melihatnya dengan tatapan menyelidik sekaligus heran.
"Sakura, ya ampun! Kau kenapa? ayo ke UKS!" ucap Gaara saat melihat lutut Sakura yang luka cukup besar.
"Aku tadi tersungkur," ah! Dia berbohong.
Ino memasuki kelasnya, ternyata guru mata pelajaran matematikanya tidak masuk, Ino berjalan ke tempat duduk barunya. Gadis bermarga Yamanaka itu langsung di sosor berbagai macam pertanyaan dari Sasuke.
Hinata gelisah, sejak istirahat tadi, dirinya tak menemukan Sakura, Hinata merutuki dirinya, dia lupa membawa ponsel. Perasaannya tak enak, ketika melihat Ino memasuki kelas dengan senyum aneh, bukannya Hinata mau berprasangka buruk terhadap Ino, tapi – Ah, sudahlah. Sekarang yang lebih penting adalah Sakura.
Luka Sakura sudah di perban oleh penjaga UKS, rasa sakitnya mulai berkurang, tapi rasa sakit di hatinya terasa semakin menyiksa, bukan karena Ino yang mem-bully-nya tadi, melainkan sikap Sasuke yang semakin acuh kepadanya. Sakura tak habis fikir, Ino memperlakukannya seperti ini, padahal Sakura menilai kalau Ino itu gadis yang baik, tapi ternyata salah besar. Sakura sadar Ino berhak marah, kesal, cemburu, tapi bukan begini caranya. 'Sabaaarr, Sakura.' Semangatnya pada diri sendiri.
Gaara mengantar Sakura ke kelas .2, Gaara memapah Sakura yang berjalan tertatih akibat luka parut di lututnya. Diketuknya pelan pintu kelas itu, lalu membuka nya dengan perlahan. Semua mata tertuju pada keduanya, sang ketua Osis itu memapah Sakura tempat duduknya.
"Lain kali hati-hati ya," nasihat Gaara seraya mengelus pucuk kepala Sakura lembut.
"Iya, terima kasih, Gaara." Ketua Osis itu pergi meninggalkan kelas. Kemali ke kelasnya, .1.
Sasuke menatap keduanya dengan tatapan aneh, onyx-nya menangkap perubahan mencolok pada Sakura, yaitu rambutnya. Rambut pink panjang gadis itu tidak sepanjang tadi pagi, rambut Sakura sekarang hanya sebatas punggung dan dipotong rata, Sakura terlihat mirip dengan Hinata, hanya saja yang membedakan warna rambut dan bentuk poni.
Hinata, Tenten dan Temari langsung mengerubungi Sakura, menanyai Saura dengan berbagai pertanyaan seperti: Kenapa Kau diantar Gaara? Kenapa kau terluka? Potong rambut dimana? Ada hubungan apa dengan Gaara?. Sakura cengo, tak tahu harus jawab apa.
Hinata mendorong –mengusir Tenten dan Temari yang menanyakan hal yang kebanyakan tidak penting itu ke tempat duduk mereka masing-masing, Sakura terkekeh kecil melihat tingkah ketiga sahabatnya itu.
"Sakura, ya ampun, kau jatuh dimana? Rambutmu?"
"Ah, jatuh di dekat gudang, emm, in-ini a-etto, tadi Gaara yang memotongnya, saat aku jatuh ternyata ada permen karet yang nyangkut di rambut ku, jadinya aku minta gaara potong rambutku, hehe" Ah! Dia berbohong lagi.
"Oh, lain kali hati-hati" Hinata tahu pasti Sakura berbohong, sangat jelas terlihat dari matanya.
Ino, mendengus kesal. Dari tadi dia melihat Sasuke memperhatikan Sakura terus.
"Aduh! Kelilipan! Sasuke-kun, tiupin." Sasuke mendekatkan bibirnya ke arah mata Ino, lalu meniupnya pelan. Sasuke mengacak-acak pelan pucuk kepala Ino.
Sakura yang tak sengaja melihat itu, langsung memalingkan wajahnya. Lagi lagi rasa sakit menggerogoti hatinya. 'Padahal lembaran baru, baru dimulai, kenapa sudah sesulit ini?' sekarang mengeluh pun percuma.
Apakah janji mu itu sudah boleh kulakukan Sasuke-kun?
-ternyata belum.
-Karena aku belum mau menyerah.
Naname mae no kimi miteru to
Mune ga kurushiku natte kuru
Melihat kamu yang duduk di depanku
Membuat rasa sakit timbul di dada
.
.
To Be Continued
Aaaaa-, kelamaan apdett! Maaf yaah. *salaminsatusatu* gara-garanya modem lagi. Tapi tenang saya udah isi modem kok, hehe. Kalo ga ada halangan rintangan membent- #plak! Ko malah nyanyi. Saya usahain apdet kilat. Hohoho. -_-a
Ada apakah antara Ino dan Karin? Bakalan di perjelas di chp-chp selanjutnya. Nyehehe. XD
ayang Gaara muncul disini, si ayam masih dikit saya buat dialognya. *digampar si ayam*, eh Sasuke-koi.
Yosh! Balas review nonlogin doken._. XD
Peargirl
cupcup jangan nangis, sini ane peyuk {} XD. Eh? Tujuh tahun?! Peargirl-chan muda amat yak? Okee. Makasihh ^^b.
Nabilla
Iya, si ayam bikin ane kesel juga *eh? Makasih udah review^^b.
Akbar123
Yoshha! Ini lanjuut. ^^b
Ryouta Shiori
Nyehehe. Iya noh, si ayam sok romantis. *ditampolsasufc .
ya, ini lanjutt. Amin, berhubung baru ngisi modem, saya jadi semangat ni.
review lagi yah^^b.
Zuka
ini cepet ga apdetnya? *digaplok* udah jelas-jelas lama masih nanya.
saya juga T.T. yosh. Makasih ^^b.
Yang login, cek PM-nya . ^^ makasihh
Yak. Tunggu chp selanjutnya yah.~ review anda sekalian sangat berarti bagi saya yang newbie ini, *lebe
HUGS. ({})
KIKI TAKAJO ;3
REVIEW YAH^^b
