A Romantic Story About Ryeowook
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Genre : Romance & Drama
Rate : M
Ini adalah FF remake dari novelnya Shanthy Agatha yang judulnya "A Romantic Story About Serena". Aku Cuma mengedit nama tokoh dan sedikit latar tempat kejadian untuk keperluan cerita.
Pairing : Yewook, GS
DLDR
.
.
.
.
.
CHAPTER 10
.
.
Jaejoong sedang duduk di ruang tamu rumahnya, merenung.
Ada yang mengganjal di pikirannya, terus mengganggu. Sesuatu yang diketahuinya sejak dulu tapi di lupakannya.
Sesuatu tentang Ryeowook, dia merasa dia seharusnya mengetahui sesuatu tentang gadis itu, tapi apa?.
Apa itu Jaejoong? Bukankah kau merasa sudah pernah mengenal gadis itu sebelumnya? Sebelum gadis itu bekerja di perusahaan ini? Bukankah gadis itu terasa begitu familiar?.
Dengan gelisah Jaejoong berdiri, melangkah ke depan lemari putih yang terpajang rapi di ruang tamunya...
Sebenarnya dia punya firasat Ryeowook berhubungan dengan masa lalunya, masa lalu yang ingin dilupakannya, karena terlalu pedih untuk diingatnya.
Kenangan tentang almarhum suaminya, Yunho...
Dengan gemetar Jaejoong membuka laci lemari putih itu, lalu mengeluarkan sebuah kotak putih yang tidak pernah disentuhnya sejak dua tahun lalu.
Hati-hati dibukanya kotak itu dan dikeluarkannya isinya, sebuah map tebal berisi berkas-berkas.
Jaejoong duduk, menarik napas panjang dan membuka map itu, isinya adalah kliping, potongan berita-berita tentang tragedi dua tahun lalu.
Tragedi kecelakaan beruntun di jalan tol yang menewaskan Yunho suaminya.
Saat itu, dalam kesedihannya, Jaejoong mengumpulkan semua berita yang memuat tentang tragedi itu, menjadikannya satu di dalam satu map besar, memasukkannya ke kotak, dan menyimpannya, menyimpannya bersama segenap kepedihan yang dia rasakan.
Sekarang dia membuka lagi kotak kepedihan itu, hatinya terasa nyeri, tangannya gemetar ketika membuka halaman demi halaman. Potongan artikel itu.
Sampai kemudian dia menemukan apa yang dia cari.
Gambar sosok itu persis sama, meski terlihat muda, rapuh dan remuk redam, itu Ryeowook yang sama, di gambar artikel itu, dia sedang menunduk mengenakan pakaian serba hitam di ruang tunggu sebuah rumah sakit.
SELURUH KELUARGA TEWAS MENJADI KORBAN TABRAKAN BERUNTUN
Begitu judul artikel itu.
Disitu dijelaskan bagaimana Ryeowook kehilangan kedua orang tuanya dan ditinggalkan sebatang kara sendirian. Sedangkan tunangannya, seorang pengacara bernama Lee Donghae terbaring koma tak sadarkan diri.
Tunangan? Koma?.
Jaejoong membaca artikel itu dengan teliti, lalu mengamati background rumah sakit pada gambar artikel Ryeowook itu.
Dia tahu rumah sakit ini karena pernah praktek lapangan disana beberapa tahun lalu.
Dengan segera dia menelephone rumah sakit itu, menggunakan berbagai koneksi profesi dokternya untuk memperoleh info dari dokter-dokter yang dikenalnya, Jaejoong mencari informasi sebanyak-banyaknya, dan pada akhirnya menemukan kebenaran.
Kebenaran yang pasti akan menyentuh hati siapapun yang mendengarnya.
Bahkan matanya pun berkaca-kaca karena terharu.
Tiba-tiba Jaejoong teringat akan kata-kata Kangin ketika mereka makan siang bersama tadi, mengenai rencana lelaki itu untuk memberi Ryeowook pelajaran... Malam ini...
Oh Tuhan!.
Dengan segera, seolah tersadarkan, Jaejoong segera meraih dompet dan kunci mobilnya.
Dia harus mencegah Kangin melakukan apapun rencananya untuk memberi pelajaran pada Ryeowook!.
Kangin sudah salah paham, dan apapun yang dilakukan lelaki itu, dia pasti akan menyesal begitu mengetahui kenyataan yang sebenarnya!.
Jaejoong harus mencegahnya sebelum terlambat!.
.
.
Tamu penting itu akhirnya pulang juga, beres sudah, semua berjalan sesuai keinginannya.
Yesung mengacak rambutnya kesal.
Kalau begitu kenapa dia tidak merasa lega?.
Kau tahu kenapa?.
Bisik suara hatinya.
Ah ya, aku tahu kenapa.
Yesung mengakuinya.
Ryeowook.
Cukup satu nama yang mewakili segalanya. Satu nama yang sedari tadi menghantui pikirannya.
Dia masih marah pada Ryeowook, marah besar. Tapi bahkan meskipun dia marah, dia tak ingin membuat Ryeowook sedih dengan kemarahannya.
Sungguh ironis.
Yesung tersenyum sinis, menertawakan dirinya sendiri.
Tanpa terasa , gadis itu, Ryeowook telah menjadi harta yang begitu berharga untuknya.
Tidak pernah dia secemas itu untuk siapapun, seperti yang dia lakukan untuk Ryeowook kemarin malam.
Akuilah Yesung, kau menyayangi gadis itu.
Suara hatinya menekannya lagi. Dan Yesung tidak membantahnya, dia sudah terlalu lelah membantahnya.
Gadis itu dengan sifat polos, jujur dan kekanak-kanakannya telah menyentuh sisi hatinya yang tidak pernah diijinkan tersentuh oleh siapapun.
Ah ya, Ryeowook pasti sudah menunggunya di ruangannya. Tamu penting yang datang mendadak ini membuatnya terpaksa menghubungi Kangin agar menunggu di ruangannya kalau-kalau Ryeowook datang.
Membayangkan Ryeowook sedang menunggunya membuat Yesung tergesa melangkah menaiki lift, menuju lantai pribadinya.
Dengan tenang dia membuka pintu ruangannya.
Pemandangan di depannya adalah pemandangan yang tidak disangkanya sekaligus pemandangan yang paling tidak disukainya.
Kangin sedang berdiri menekan Ryeowook ke tembok, memeluknya erat-erat dan menciumnya, tubuh Ryeowook yang mungil tenggelam dalam pelukannya.
Ketika menyadari pintu terbuka, Kangin mengangkat kepalanya, dan menatap Yesung yang terpaku di pintu, membeku seperti batu.
"Oh, hai Yesung," Kangin tersenyum, mengusap bibirnya yang sedikit bengkak karena berciuman dengan kasar, "Aku menawar gadismu ini dengan harga beberapa juta, dan dia bersedia menemaniku selama beberapa jam, boleh kan?".
Ryeowook yang masih berada dalam cengkeraman Kangin menjadi pucat pasi mendengar fitnah Kangin yang begitu kejam.
Yesung tidak akan percaya kata-kata Kangin kan? Yesung tidak akan percaya kan?.
Tapi ekspresi Yesung begitu susah dibaca, lelaki itu seperti membeku.
"Dan kau tahu Yesung, kau memang benar-benar tidak rugi", Kangin menyambung, menyeringai menghina kepada Ryeowook, "Ciumannya lumayan WOW".
"Tidak!", Ryeowook akhirnya berhasil bersuara, mencoba membantah kata-kata Yesung, "Tidak! Ya Tuhan! Yesung!".
Suara Ryeowook berubah menjadi jeritan ketika dengan secepat kilat tanpa di duga-duga, Yesung menerjang Kangin.
Menarik laki-laki itu dengan kasar dari Ryeowook, lalu menyarangkan pukulan keras di rahang Kangin, kemudian di perutnya sampai Kangin terbungkuk-bungkuk menahan sakit.
Tetapi Yesung masih belum puas. Dia menyarangkan lagi pukulan telak bertubi-tubi ke semua bagian tubuh Kangin, tanpa memberi Kangin kesempatan melawan.
"Yesung! Stop! Kumohon! Kau bisa membunuhnya!", Ryeowook berteriak panik ketika Yesung menghajar Kangin seperti kesetanan. Dan terus menghajarnya, terus tanpa henti tidak peduli Kangin sudah terkulai tanpa memberikan perlawanan. Aura membunuh memancar dari mata Yesung.
Menakutkan.
"Yesung!", Ryeowook menjerit sekuat tenaga, berusaha mengembalikan akal sehat lelaki itu.
Kali ini berhasil, Yesung berhenti. Matanya nyalang, napasnya terengah-engah.
Sedangkan kondisi Kangin sungguh mengenaskan, lelaki itu berbaring tak berdaya, wajahnya penuh darah, mungkin hidungnya patah. Dan sepertinya dia tidak sadarkan diri.
"Astaga."
Sebuah suara tercekat yang berasal dari pintu membuat Ryeowook dan Yesung menoleh bersamaan, Jaejoong berdiri di sana, pucat pasi.
Seolah disadarkan, Yesung langsung berdiri, menghampiri Ryeowook dengan bara kemarahan yang membuat Ryeowook beringsut menjauh.
Lelaki itu tidak peduli, dengan kasar dia menarik lengan Ryeowook, setengah menyeretnya keluar ruangan.
"Sakit Yesung", Ryeowook merintih karena perlakuan kasar Yesung, tetapi lelaki itu tidak peduli, seolah tidak mendengar apa yang diserukan Ryeowook.
Jaejoong berusaha menghentikan langkah Yesung.
"Yesung, kau harus mendengar penjelasanku, semua ini...".
"Diam!", teriakan Yesung yang menggelegar membuat suara Jaejoong tertelan kembali," Kau urus saja bajingan disana itu sebelum dia mati kehabisan darah! Dan begitu dia sadar, katakan padanya bahwa dia dipecat!".
Yesung menggeram marah sambil menyeret Ryeowook menaiki lift. Meninggalkan Jaejoong yang masih berdiri terpaku, bingung.
.
.
"Yesung! Semua yang Kangin katakan itu bohong!", Ryeowook berusaha menjelaskan ketika mereka sampai di apartemen, dan lelaki itu masih menggelandangnya dengan kasar.
Tubuh Ryeowook dihempaskan dengan sangat kasar ke tempat tidur.
"Dia bohong Yesung...", Ryeowook tersengal, putus asa mencoba meyakinkan Yesung.
"Kangin tidak pernah berbohong padaku", jawab Yesung datar, tangannya bergerak membuka kancing bajunya.
"Dia bohong... Percayalah", air mata mulai mengalir di sudut mata Ryeowook.
"Tidak ada untungnya baginya berbohong padaku."
"Ada!", Jerit Ryeowook, "Dia membenciku, dia ingin menyingkirkanku..."
"Wah... Kau pikir kau seberharga itu? Kau tidak lebih dari pelacur kecil dengan tampilan tanpa dosa... Berapa dia membayarmu untuk sebuah ciuman hah?! Sepuluh juta? Dua puluh juta? Kau pikir kau bisa mendapatkan uang keuntungan dari kami berdua ya?".
"Kumohon Yesung, kau tahu dia berbohong... Kumohon... Kumohon... Percayalah padaku...", Ryeowook mulai panik ketika Yesung melepas kemejanya, "Ke... Kenapa kau melepas pakaianmu?"
Dengan takut Ryeowook beringsut di ranjang mencoba sejauh mungkin dari Yesung.
"Yah... Aku sudah pernah bilang kan?", lelaki itu tersenyum kejam sambil mulai melepas ikat pinggangnya, tatapan matanya tak lepas dari Ryeowook yang meringkuk ketakutan seperti seekor mangsa yang menghadapi predator kejam.
"Seorang pelacur harus diperlakukan seperti pelacur!", desis Yesung penuh penghinaan.
