Daisuki Summer and you
A Naruto Fic
Disclaimer Naruto : Masashi Kishimoto
Pair : Sasuke Uchiha and Sakura Haruno
Rate : Teen
Romance/Hurt/Comfort
Warning : DLDR(!), OoC, AU, Typo(s), gaya penulisan aneh, cerita suka-suka gua.
Sudah beberapa hari ini hubungan Sasuke dan Sakura merenggang, yah kau tahulah~ Ino menjaga Sasuke jauh-jauh darinya, dan selama beberapa hari itu pula hubungan Gaara dan Sakura mulai dekat, sekarang Sakura tidak lagi enggan menceritkan keluh kesahnya kepada Gaara. Kadang-kadang juga Hinata ikut bergabung dengan mereka, yeah, pasti tak akan lama, karena si pirang Uzumaki itu sudah menyeret Hinata kekantin untuk menemaninya makan, contohnya saja sekarang. Gadis bermata amethyst itu sudah hilang di bawa Naruto ke kantin, Sakura dan Gaara terkikik pelan melihat tingkah pasangan unik itu.
"Jadi, bagaimana hubunganmu dengan Sasuke?" Gaara mencoba memulai percakapan.
"Hmm, yaah begitulah. Tidak ada perkembangan sama sekali," balasnya murung.
"Terkadang memperjuangkan apa yang kita inginkan sangat sulit, mulai dari ditolak secara tidak langsung, di bully dan lain-lain," Gaara berpendapat.
"Kau terlihat sekali menyindirku,"
"Ahaha, padahal maksudku ingin membuat mu terpancing, haahh, ternyata tidak. Apa kau menyerah hm?" lelaki berambut merah itu menatap Sakura.
"Tentu saja tidak, itu sih tidak membuat ku terpancing,"
"Lalu apa yang membuatmu terpancing?"
"Entah lah."
"Misalnya, Yamanaka itu mem-bully-mu lagi, apa yang akan kau lakukan?"
"Aku akan membalasnya," Ucap Sakura yakin.
"?" Gaara terdiam.
"Kau serius?" lanjutnya.
"Sepuluh rius."
"Aku tak yakin, tuan putri seperti mu membully orang," celetuk Gaara kemudian.
"Eh? Kau meragukan ku? Dasar panda sial." Gadis itu mengerucutkan bibirnya.
"Iya, kau kan terlalu lembut, sama seperti gadis Hyuuga itu." Gaara menyamakan.
"Ishh, kau ini mendukung ku atau mau mengatai ku sih?!" Sakura tambah sewot, sedangkan pemuda bermarga Sabaku itu malah terkekeh kecil.
"Ahaha, maaf. Habisnya~" ucap Gaara pura-pura menyesal.
Sasuke yang sedari tadi duduk sendirian didalam kelas memutuskan untuk bekeliling sebentar, hari ini membuatnya bosan. Ino tidak masuk sekolah katanya ada urusan keluarga, sahabat pirangnya itu sibuk dengan pacarnya. Tiba-tiba onyx kelam itu melihat sahabat pinknya sedang ngobrol dengan Sabaku no Gaara, si ketua osis. Lekas Sasuke menghampiri keduanya.
Gaara yang sadar kalau Sasuke berjalan kearah mereka, langsung berdiri, sambil membisikkan sesuatu ke Sakura. Kemudian berlalu meninggalkan Sakura.
"Selamat berjuang."
"Eh?"
Dua pemuda itu saling memandang sinis, tepatnya Sasuke yang memandang Gaara sinis. Sakura yang melihat tingkah kedua pemuda itu malah menaikkan sebelah alisnya.
Sasuke mengambil posisi duduk tepat di sebelah Sakura, membuat gadis musim semi itu blushing, semburat kemerahan menjalari wajah cantiknya. Dia gugup, tumben-tumbenan Sasuke menemuinya, biasanya pemuda Uchiha itu selalu di tempeli makhluk berambut pirang. Ah! Sakura ingat, Yamanaka itukan tidak masuk sekolah hari ini, pantas saja. Raut wajah yang tadinya tersenyum itu berubah sedikit sendu, hanya meninggalkan rona kemerahan yang masih setia melingkupi pipi ranum gadis itu.
"Wajahmu merah," ucapnya datar sambil memegang pipi kanan Sakura.
"Eh?" semakin memerahlah pipi gadis Haruno itu.
"Kalian membicarakan apa? Kau tidak memberitahuku? Apa begini yang dinamakan sahabat?" sosor Sasuke. Sakura diam. 'bagaimana aku memberitahumu, itu semua tentangmu Sasu.'
"B-bukan begi–"
"Jangan terlalu dekat dengannya, dia itu jahat." Potong si Uchiha. Sasuke menarik kembali tangannya yang menyentuh pipi Sakura.
"Apa urusanmu? Urus saja pacarmu yang cantik itu." Sakura menaikkan sedikit suaranya, gadis itu sedikit terpancing, apa-apaan Uchiha satu ini, tiba-tiba datang memegang pipinya dan mengatai Gaara jahat?
"Cih, baru kenal sudah berani berciuman didepan umum begini." Sasuke mendengus.
"Apa maksudmu?! Kami tidak berciuman! Gaara itu sahabatku, jauh sebelum aku berteman denganmu! Mana mungkin aku menyukai sahabat ku sendiri! Hiks, Kau menyebalkan. Kau berubah. Kau lupa padaku! Hiks." Sakura menghentakkan kakinya, masuk ke dalam kelas, tak di pedulikannya siswa-siswi lain melihatnya menangis.
Dari jauh memang posisi Gaara yang sedang membisikkan Sakura terlihat seperti berciuman, wajar saja Uchiha itu menyimpulkan kalau Sakura dan Gaara berciuman. Sasuke menggelengkan pelan kepala berhelaian ravennya, buat apa dia sewot toh seandainya memang Gaara dan Sakura berciuman? Sakura berhak, lagi pula Sakura kan sahabatnya. Sahabat, ya?
Sasuke memutuskan kembali masuk ke kelasnya saat mendengar bel super keras itu menggema kesuluruh penjuru KHS, yang bisa-bisa memecahkan gendang telinganya – oke, itu lebay. Dilihatnya Sakura menenggelamkan kepala pinknya diantara lipatan tangannya dengan bahu yang sedikit bergetar. Ingin rasanya Sasuke menangkan gadis itu, tapi percuma, gadis itu sudah terlanjur marah –atau mungkin membencinya sekarang.
Entah kenapa Sasuke merasakan hatinya terasa tercubit saat melihat Sakura dengan Gaara berbincang ria. Sasuke sendiri tak mengerti. Laki-laki itu duduk diam di bangkunya, sesekali matanya melirik kearah Sakura. Gadis itu diam, bahunya tak lagi bergetar, apa gadis itu tertidur?
Gadis bermarga Yamanaka itu baru saja memasuki apartemennya, langsung saja direbahkannya tubuhnya ke ranjang empuk miliknya. Ino baru pulang dari Tokyo, menemui orang tua-nya. Sebenarnya urusannya tidak penting-penting amat sih, hanya menjenguk pamannya yang sedang sakit.
Ino teringat saat tadi siang ketika ia masih di Tokyo, dia mengunjungi sekolah lamanya, sebenarnya bukan mengunjungi tapi hanya sekedar lewat saja. Lalu dia mampir ke toko kue yang biasa ino dan teman-temannya hang out akhir pekan.
FLASHBACK
Ino segera mempercepat langkah kakinya, tak ingin berlama-lama melewati gedung sekolah lamanya. Aquamarine-nya melihat toko kue yang biasa ia kunjungi bersama teman-temannya, di dorongnya pelan pintu kaca toko tersebut, kaki jenjangnya menyusuri tiap rak-rak yang berisi aneka kue kering sampai berbagai macam cake.
Tak sengaja Ino melihat teman lamanya sedang asik memilh cake, didekatinya sosok berambut merah panjang yang masih mengenakan seragam sailor Tokyo Gakuen.
"Cih, sebenarnya aku malas menegurmu, yah~ mumpung aku ada disini," ucapannya membuat Karin berbalik ke arahnya.
"Ino? Hai, apa kabar?"
"Baik,"
"By the way, kau pindah ke Konoha ya?"
"Ya, tempat yang cukup jauh untuk menjauhi orang seperti mu."
"Ahaha, kau bisa saja, ah, aku duluan ya. Sampai jumpa, maaf tak bisa berlama-lama." Karin berlalu meninggalkan Ino yang menatapnya jengkel. Karin terlalu malas untuk meladeni Ino yang masih saja menyalahkan dirinya tentang kejadian waktu itu.
Melihat Karin yang mengacuhkannya Ino bertambah kesal pada Karin, dihempaskannya toples kue kering yang ia pegang kelantai hingga pecah berhamburan, membuat pegawai toko kue itu menatapnya horror.
"Akan ku ganti."
END OF FLASHBACK
Rasa kesalnya itu masih ada sampai sekarang, mungkin gadis bermata aquamarine ini akan melampiaskannya pada Sakura? Yah, hanya dia dan kami-sama yang tahu.
'Haah~'
Sakura menghela nafas pelan, kini dirinya sedang duduk di depan koridor kelasnya, barusan ayahnya menelpon kalau sang ayah tidak bisa menjemputnya hari ini, karena ada rapat mendadak. Padahal ayahnya menawarkan untuk di jemput sopir, tapi gadis itu menolaknya, Sakura bilang dia bisa pulang sendiri, naik bus umum –mungkin?
Sudah 20 menit sejak bel pulang berbunyi tapi gadis pink itu masih duduk disana, fikirannya melayang pada kejadian lusa lalu saat dirinya di bully Ino, luka di lututnya sudah mengering mungkin satu atau dua hari lagi sembuh. Perlahan di mainkannya rambut kebanggaannya itu yang kini panjangnya hanya sebatas punggung, padahal ia memanjangkan rambut karena mendengar pengakuan Sasuke saat mereka masih duduk di bangku kelas tujuh Junior High School.
"Aku suka gadis berambut panjang, pasti cantik,"
Begitu mendengarnya Sakura langsung bertekad untuk memanjangkan rambutnya yang kala itu hanya sebatas bahu. Sakura terkekeh pelan menyadari dirinya bernostalgia sendiri, sekarang tekadnya bukan itu lagi, tekadnya sekarang dia tidak boleh kalah dari Ino, tidak boleh lemah. Suara ketukan sepatu membuat Sakura menoleh ke ujung koridor, dapat dilihatnya gadis Yamanaka itu berjalan dengan lenggoknya, emeraldnya menatap Aquamarine Ino yang menatapnya nyalang. Sakura masih duduk dalam diam terus memperhatikan Ino yang berjalan mendekat.
"Tengil." Ketus Ino, yang baru saja melewati Sakura.
"Siapa yang kau bilang tengil Yama – Ino-chan, hm?" Ino berhenti lalu berbalik, mendekati Sakura yang menatapnya sinis.
"Heh, berani kau rupanya? Dengar ya, sampai kapanpun aku tak kan pernah menyerahkan Sasuke-kun padamu! Ingat itu!" nada bicaranya mulai naik.
"Hihihi, yang seharusnya bilang 'sampai kapanpun aku tak akan menyerahkan Sasuke-kun padamu' itu aku, Ino-chan." Balasnya Sakura enteng seraya berdiri menghadap Ino.
PLAK!
Tamparan Ino sukses mendarat di pipi mulus Sakura, membuat kepala gadis pink itu tertoleh kekanan, bukannya meringis kesakitan Sakura malah terkekeh pelan,
"Hehehe, Kau suka main kasar ya? Padahal Sasuke-kun itu menyukai gadis yang sopan, karena kau sudah mencoba, aku pun ingin mencoba.." Ino tersenyum seolah menyetujui.
PLAK!
"SAKURA?!" gadis itu terkejut, apa-apaan ini? Kenapa ada Sasuke? Dia melihat Ino menyeringai kecil seolah mengatakan 'Kena kau!' ah, dia terjebak.
Sasuke menghampiri keduanya, Onyx itu berkilat marah, menatap sang Emerald. Di tangkupkannya kedua tangan besarnya ke kedua pipi Ino yang memerah lalu mengecupnya lembut. Sasuke kembali menatap Sakura yang memalingkan mukanya.
"Sakura, apa-apaan kau!" kini Sasuke pun membentaknya. Sekali lagi likuid sialan itu meluncur dari irisnya, Sakura menggeleng pelan.
"Kau salah paham Sasu –"
"Aku paham! Kau marah padaku, silahkan. Tapi jangan pada Ino!"
"KAU SALAH PAHAM! Hiks." Sakura balas berteriak.
"AKU PAHAM!"
PLAK!
"Jangan pernah temui aku lagi." Sasuke melengos sambil menggandeng Ino yang masih memegangi pipinya.
Sakura menatap nanar kedua orang itu, dilihatnya bibir Ino bergerak seperti mengatakan "RASAKAN!". Tubuh Sakua merosot kelantai, padahal sebelum Ino datang semuanya berjalan sesuai alur, tapi ketika gadis pirang itu datang semuanya jadi kacau begini?. Ah, Sakura terlalu pusing memikirkannya. Mendapatkan dua tamparan sekaligus dipipi kanannya, membuat Sakura meringis pipinya terasa bengkak, perih, panas.
Sakura tak habis fikir, selama ini Sasuke yang selalu lembut padanya tiba-tiba menamparnya hanya Karena Ino. Sakura merasa sesak, memangnya apa yang Sasuke paham? TAK ADA! Yang pemuda itu paham hanya Ino, bukan lagi dirinya.
"Sekarang kau melupakanku, kau tak tahu apa yang sebenarnya terjadi!Ino itu jahat, hiks tolong dengar kan aku sekali ini saja! Sasuke!"Teriakannya percuma, Sasuke dan Ino sudah jauh.
Sakura mendengar ketukan sepatu mendekat ke arahnya, Sakura mendongak mencoba mencari tahu siapa orang yang menghampirinya ini. Ah, ternyata Hinata, gadis bermarga Hyuuga itu berjongkok mengelus pundak Sakura yang bergetar karena tangisnya belum berhenti. Hinata tak tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi melihat pipi Sakura yang bengkak dan memerah Hinata langsung paham. Dipeluknya Sakura, mencoba menenangkan gadis itu.
"Aku... hiks.. menye... rah.."
"Iya, tak apa, aku paham." Hinata beringsut, dilepaskannya pelan pelukannya pada Sakura. Lalu di ulurkannya tangan kanannya, mengajak Sakura berdiri.
Sakura menyambut uluran tangan Hinata, mereka duduk di bangku yang terdapat di sepanjang koridor. Suara ketukan sepatu yang bersahutan lagi-lagi menyita perhatian Sakura, di tolehkannya kepala merah muda itu ke arah suara. Emerald-nya melihat Gaara dan Naruto sedang berlari kecil ke arah mereka.
"Sakura kau kenapa?" Tanya Gaara ketika mendapati Sakura dalam keadaan menangis. Sakura diam, lidahnya kelu untu mengatakan tentang hal sebenarnya.
"Ya ampun Sakura-chan! Pipimu!" Naruto kaget melihat pipi Sakura yang bengkak dan merah.
"Seharusnya kau tidak perlu melakukan itu," Gaara tahu itu bukan tamparan Ino saja, melainkan ada tamparan lain, yah siapa lagi selain Sasuke? Kalau tamparan wanita tidak sampai mengakibatkan bengkak seperti itu, hanya menimbulkan bekas kemerahan saja.
Sakura diam.
Hinata juga berfikiran seperti Gaara, benar-benar tidak mungkin tamparan wanita sampai mengaibatkan bengkak, kecuali si wanita memiliki tenaga kuat. Naruto yang dari tadi bingung melihat tingkah Gaara dan Hinata yang sepertinya memnyembunyikan sesuatu dari dirinya.
"Hei, sebenarnya apa yang terjadi?" Naruto semakin penasaran, di tatapnya Hinata dalam-dalam seolah memaksa.
"Sebaiknya kalian pulang duluan." Celetuk Gaara, menghentikan niat Naruto untuk bertanya lebih lanjut.
Gaara sangat tahu kalau laki-laki pirang di sampingnya ini adalah sahabat dekat Sasuke selain Sakura, dan Gaara juga tahu pasti kalau mulut Naruto ini ember, asal ceplos. Gaara menatap Hinata lalu menggelengkan kepalanya pelan seolah mencegah Hinata untuk memberitahukan hal yang sebenarnya kepada Naruto. Bisa gawat kalau si baka ini sampai bicara yang tidak-tidak pada Sasuke.
Melihat Gaara yang menggelengkan kepala, Hinata menarik Naruto berdiri, lalu berpamitan pada Gaara dan Sakura untuk pulang duluan. Keduanya sampai di parkiran, hanya ada motor biru dan motor merah Gaara saja yang terparkir disana.
Naruto memelankan laju motornya, pemuda pirang ini masih penasaran tentang apa yang terjadi pada Sakura.
"Tolong beri tahu aku apa yang sebenarnya terjadi Hinata-chan, please" Naruto membuka suara.
"Sebelumnya kau harus berjanji untuk tidak ember Naruto-kun," awalnya Hinata berniat untuk tidak memberitahukan tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Naruto, tapi melihat Naruto yang memohon seperti ini membuatnya tak tega.
Naruto hanya mengangguk, tak berani menjanjikan hal yang sulit itu. memangnya masalah apa sih sampai Hinata menyuruhnya untuk tutup mulut? Batin Naruto bertanya-tanya.
"Sakura menyukai Sasuke," ucapan Hinata membuat shappire-nya terbelalak. Apa hubungannya dengan Sakura yang menangis dan pipinya yang bengkak? Jangan-jangan...
"Ya, Sasuke-san dan Ino-san yang menamparnya." Kata-kata Hinata barusan seolah menjawab pertanyaan hatinya, yang membuat Naruto semakin prihatin. Ia tidak bisa tinggal diam, mulut ember-nya harus beraksi!
"Kau ingat saat Gaara-san mengantar Sakura-chan kekelas kita?" Naruto mengangguk seolah menyuruh Hinata melanjutkan ceritanya.
"Luka dilutut dan Siku tangan Sakura-chan itu karena di bully Ino-san, coba Naruto-kun fikir dengan logika kenapa Ino-san sampai tega berbuat seperti itu terhadap Sakura-chan? Pasti ada apa-apa. Tidak mungkin kalau alasannya hanya karena Ino-san tidak ingin Sakura-chan mendekati Sasuke-san bukan? Ah iya, aku ingat saat membantu Neji-nii merekap data murid-murid baru, ternyata Ino-san pindahan dari Tokyo Gakuen, tapi aku tidak menemukan alasan yang kuat kenapa Ino-san pindah dari sekolah bertaraf Internasional itu."
"Lalu?"
"Kalau tidak salah Sakura-chan mempunyai sepupu perempuan yang sebaya dengan kita bersekolah disana, siapa ya namanya..?" Hinata berusaha mngingat nama sepupu Sakura yang sering Sakura ceritakan padanya. Berambut merah dan berkaca mata.
"Karin?" Ujar Naruto agak ragu.
"Ya, Karin-san. Kau kenal dengannya?"
"Tidak terlalu sih, hanya beberapa kali pernah ngobrol," Jawab Naruto sekenanya, tak ingin Hinata berspekulasi aneh-aneh terhadapnya.
"Memangnya ada sangkut pautnya dengan Ino?" lanjut Naruto yang mengerti gelagat Hinata.
"Mungkin. Kita bisa tanyakan tentang Ino-san pada Karin-san, mereka kan seangkatan. Jadi kemungkinan besar Karin-san mengenal Ino-san." Jawab Hinata percaya diri.
"Hehehe, pacarku ini memang pintar."
Gaara mengantarkan Sakura kerumahnya, awalnya Sakura menolak, katanya ia mau mampir sebentar ke pantai, tapi Gaara tetap memaksa, akhirnya Sakura menurutinya. Setelah sampai di rumah Sakura, Gaara langsung pulang karena sudah cukup sore.
"Aku pulang." Suara lemah itu cukup terdengar di telinga Mebuki, langsung saja nonya Haruno itu menuju pintu.
"Kau kenapa? Pipimu bengkak." UCap mebuki khawatir melihat pipi putrinya bengkak.
"Ah, Sakura sakit gigi." Pura-pura meringis, lekas Sakura menutupi pipi kanannya. Sekarang gadis ini jadi sering berbohong ya? Hanya untuk seorang Sasuke. Cih, miris!
"Oh, Ibu ambilkan obat ya?" tanpa ada rasa curiga Mebuki bergegas mengambil obat sakit gigi, tapi langkahnya terhenti saat tangannya di tahan Sakura.
"Tidak perlu, Bu. Bentar lagi juga hilang sakitnya. Sakura ke kamar dulu." Sakura langsung melengos kekamarnya. Dan bergegas mandi.
Selesai mandi Sakura memakai kaos putih dan celana jeans selutut, gadis bermata emerald itu berbaring di atas ranjangnya sambil memainkan smartphone miliknya, guna menghilangkan rasa bosannya dia membuka jejaring sosial miliknya.
'Sekarang aku nyerah ngejer kamu yang ga pernah nganggep aku. Sampe disini aja, ga lagi-lagi deh. Bye-bye. #berharap bisa move on.'
5 minute ago. 17 like.
Setelah menulis status Sakura langsung menutup jejaring sosial itu. Dipejamkannya sebentar matanya. Tiba-tiba handphone-nya bergetar menandakan ada pesan masuk.
Karin
"Yahh, jangan nyerah dong. Masa gitu aja nyerah? Ga asik ah! :P."
Sakura mengerucutkan bibirnya, kesal. Dengan malas Ia membalas pesan dari Karin itu. Sakura menyuruh Karin agar tidak mengomentari status-statusnya di jejaring sosial tersebut, jadi setiap Sakura buat Status pasti Karin langsung mengiriminya pesan. Ckck, dasar kepo.
"Masalahnya kau itu tidak tahu apa-apa, jadi jangan sok tahu deh, :P."
Send.
Tak lama kemudian pesan Karin datang lagi.
Karin
"Emangnya masalah apasih? Kan sayang udah darah daging tuh cinta XD."
Sakura terlalu malas kalau mau curhat tidak bertemu langsung rasanya ga nyaman aja. Iya sih cintanya ke Sasuke sudah kayak mendarah daging. Tapi mau bagaimana lagi, pemuda itu sudah membenci dirinya, -tepatnya salah paham-.
"Ah.. tunggu kau kesini saja, libur musim dingin kau kesini lagi kan?"
Send.
Tak lama kemudian pesan Karin datang lagi.
Karin
"Aiss, pelitt. Iyadong, eh kalau boleh tanya di sekolahmu ada anak baru tidak? Anak perempuan, rambutnya pirang panjang, matanya warna biru."
Sakura mengernyit, rambut pirang? Mata biru? Apa Ino?
"Yamanaka Ino kah?"
Ragu-ragu Sakura menekan tombol send, batinnya masih bertanya-tanya. Karin kenal dengan Ino?
'Siapa kau Ino-san?'
TBC
maaff, aaaa, lama ga nih apdetnya? #jduak, udah jelas-jelas lama masih nanya. ini udah kebut apdet, sampe tengah malem gini *lirik jam*, padahal tadi sore ini baru selese empat puluh persen, makanya ini di kebut enampuluh persennya. XD. jadi kalo typo nya parah harap maklum aje yaa .
mata udah tinggal 5 watt . , udah ngantuk banget, yaudah sampai ketemu chp selanjutnya, mau ngebo dulu XD.
Bye,
KIKI TAKAJO.
REVIEWXD :3
