A Romantic Story About Ryeowook

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Genre : Romance & Drama

Rate : M

Ini adalah FF remake dari novelnya Shanthy Agatha yang judulnya "A Romantic Story About Serena". Aku Cuma mengedit nama tokoh dan sedikit latar tempat kejadian untuk keperluan cerita.

Pairing : Yewook, GS

DLDR

.

.

.

.

.

CHAPTER 11

.

.

"Sakit", Kangin mengernyit ketika Jaejoong mengusap luka di bibirnya dengan kapas.

"Kau pantas mendapatkannya", gumam Jaejoong tanpa perasaan, malah semakin kasar mengusap luka itu.

Mereka baru pulang dari rumah sakit, hidung Kangin patah, dan tiga tulang rusuknya retak sehinga harus ditahan dengan perban. Belum lagi lebam-lebam di tubuh dan mukanya. Mata Kangin sudah mulai bengkak membiru. Pukulan pukulan yang diberikan Yesung benar-benar brutal.

"Aku kan cuma membantu Yesung dengan menunjukkan padanya kalau perempuan yang di peliharanya itu cuma pelacur kecil", Kangin tampak kesusahan bicara, tapi ia masih membela diri.

"Jangan sebut dia pelacur! Kau mungkin lebih kotor darinya!", potong Jaejoong marah, melemparkan kapas yang di celup alkohol itu ke samping, "Kau sudah bertindak kejam dan gegabah pada Ryeowook... Astaga! Kau pasti akan menyesal begitu mengetahui semuanya!"

"Mengetahui apa?", kali ini Kangin mulai cemas. Jaejoong tampak begitu marah sekaligus begitu sedih. Bertahun-tahun dia mengenal Jaejoong, tak pernah wanita itu tampak begitu dikuasai emosi. Kecuali pada saat pemakaman Yunho...

"Aku mulai ketakutan", gumam Kangin ketika Jaejoong tidak berkata apa-apa.

"Mengetahui apa, Jaejoong?".

"Kebenaran tentang Ryeowook", jawab Jaejoong lirih lalu mendesah seolah-olah tak mampu melanjutkan penjelasannya, "Mungkin kau harus melihat ini dulu."

Jaejoong mengambil bundelan artikel itu dari kotak putihnya, membukanya dan meletakkannya di pangkuan Kangin.

Begitu melihat foto yang menyertai artikel itu Kangin terhenyak, dan ketika membaca judul artikel itu yang ditulis dengan huruf besar-besar, keringat dingin mengalir di dahinya.

Dan begitu selesai membaca keseluruhan artikel itu, wajahnya benar-benar pucat pasi.

"Astaga...", Akhirnya Kangin mampu berkata-kata, suaranya lemah dan diliputi shock yang mendalam.

"Ah ya, astaga". Gumam Jaejoong mengejek, "Sekarang kau mengerti kan kenapa aku begitu membela Ryeowook?".

Kangin memejamkan matanya, meringis merasakan matanya yang sakit.

Hidungnya sakit, bibirnya sakit, sekujur tubuhnya sakit. Tapi yang paling sakit adalah hatinya. Penyesalan itu datang menghantamnya tanpa ampun sehingga yang bisa dilakukan Kangin hanya diam dan menahankan sesak di dadanya.

Dia pantas mendapatkan ini!

"Jadi Ryeowook melakukan ini semua karena itu...", suara Kangin diwarnai kesakitan, lalu dia menatap Jaejoong penuh harap, berharap kalau artikel ini salah. Sebab jika artikel ini benar, apapun yang dilakukan Kangin tadi benar-benar tak termaafkan, "Apakah kau sudah memastikan kebenaran artikel ini?".

Jaejoong menatap Kangin tajam, tampak puas dengan penyesalan Kangin.

"Aku sudah memastikan ke rumah sakit itu. Tunangannya, Lee Donghae masih terbaring koma disana dan belum pernah sadarkan diri sejak dua tahun yang lalu. Kemarin Donghae telah menjalani operasi ginjal - yang aku tahu biayanya amat mahal, hampir mencapai tiga ratus juta rupiah - dan sukses. Operasinya sukses, tapi lelaki itu masih belum sadar", Jaejoong memalingkan wajah. Matanya tampak berkaca-kaca menahan haru.

"Aku bertanya tentang Ryeowook kepada dokter-dokter di rumah sakit itu, dan rupanya kisah Ryeowook dan Donghae seolah menjadi legenda sendiri di sana. Kisah seorang wanita yang menunggu tunangannya terbangun tanpa putus asa selama bertahun-tahun...".

Jadi karena itu. Kebenaran itu menghantam Kangin dengan telak. Jadi karena itu Ryeowook menjual dirinya. Jadi karena itu Ryeowook mempunya hutang begitu besar diperusahaan.

Kangin menatap Jaejoong nanar, lalu mengalihkan tatapannya lagi ke atikel di depannya, dia mengernyit.

Lee Donghae...

Sebuah kebenaran langsung menghantamnya sekali lagi, sangat keras dan tidak tanggung-tanggung.

"Aku mengenal Lee Donghae", gumam Kangin seolah kesakitan.

Jaejoong langsung menatap Kangin tajam.

"Kau mengenalnya?"

Kangin mengangguk, lunglai.

"Dia… dia pengacara handal dan sukses dari sebuah firma hukum terkenal, reputasinya bagus, sangat jujur dan jarang kalah... Aku tidak begitu mengenalnya, hanya pernah beberapa kali bertemu di pengadilan, menangani kasus yang berbeda, tetapi dia terkenal sebagai pengacara muda berprospek

paling cerah di antara kami... aku mendengar dia akan menikah, sampai kemudian dia menghilang begitu saja setelah kecelakaan itu,... ada berita cukup simpang siur setelahnya, katanya dia kecelakaan dan kemudian cacat lalu pindah ke luar negeri, bahkan banyak gossip bilang dia sudah meninggal akibat kecelakaan itu... aku... aku sama sekali tidak menyangka dia masih bertahan hidup... Dalam kondisi koma", Kangin meremas rambutnya seperti tentara kalah perang, lalu menatap Jaejoong, mengernyit.

"Kau bilang kapan operasi Donghae tadi?".

"Kemarin malam", Jaejoong melirik jam tangannya, sudah jam tiga pagi, "Atau bisa dibilang sudah kemarin lusa?".

"Oh Tuhan!", Kangin menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

Oh Tuhan!... Apalagi yang bisa dia katakan? Itu sebabnya malam itu Ryeowook menghilang tanpa kabar dan tidak bisa ditemukan dimana-mana. Perempuan itu pasti sedang menunggui operasi tunangannya! Dan apa yang dia katakan malam itu pada Ryeowook? "Kau mungkin harus belajar lebih bertanggung jawab Tuan Putri!" , kata-kata yang sombong dan penuh tuduhan yang sekarang ia tahu, tak pantas ia ucapkan kepada Ryeowook.

"Kau benar-benar lelaki paling bodoh dan gegabah yang pernah aku kenal", Dengus Jaejoong, masih marah atas tindakan Kangin tadi. "Jika kau belum babak belur oleh Yesung, aku pasti akan menamparmu berkali-kali",

Kangin mengernyit mendengar ancaman Jaejoong.

"Tapi kau tidak bisa begitu saja menyalahkanku, suatu hari Yesung menghubungiku untuk mengurus kontrak jual beli tubuh Ryeowook senilai tiga ratus juta. Kau pikir apa yang bisa kupikirkan selain Ryeowook adalah pelacur?".

"Jangan sebut-sebut kata pelacur lagi Kangin!", potong Jaejoong tajam.

Kangin bungkam lalu mengangkat bahu.

"Aku memang salah besar, tapi siapa yg tidak berpikir begitu? Yesung sangat kaya, dan gadis itu punya reputasi hutang besar diperusahaannya... tentu saja sebagai pengacara aku menilai ada niat jahat dari sisi Ryeowook", Kangin mencoba membela diri lagi karena dilihatnya Jaejoong masih memelototinya dengan tajam.

"Sebagai seorang pengacara kau seharusnya melakukan penyelidikan", gumam Jaejoong sinis.

Kangin menarik napas panjang dan mengangguk.

"Benar, aku terlalu gegabah mengambil tindakan. Sebenarnya aku sudah bertekad tidak akan ikut campur hubungan Yesung dan Ryeowook, tapi malam itu, ketika Ryeowook menghilang tanpa kabar, Yesung mencarinya seperti orang gila, hampir kehilangan akal sehat karena mencemaskan Ryeowook. Yesung berubah karena gadis itu, dia begitu emosional. Tidak lagi berkepala dingin dan tenang".

Kangin menarik napas dalam, "Aku takut Ryeowook makin lama akan makin membawa pengaruh buruk bagi Yesung, maka aku memutuskan untuk membuat mereka terpisah sesegera mungkin."

"Memangnya apa yang kau lakukan tadi sampai Yesung menghajarmu dengan begitu brutalnya?"

Wajah Kangin tampak memerah malu.

"Aku menciumnya dengan paksa, melecehkan Ryeowook dan memastikan agar Yesung melihat itu semua," gumamnya pelan.

Jaejoong langsung melotot marah mendengarnya.

"Apa?"

Kangin memalingkan mukanya, tidak tahan menghadapi tatapan tajam Jaejoong.

"Dan aku...", kata-kata itu seolah susah payah keluar dari mulut Kangin, "Dan aku... memfitnahnya, aku bilang Ryeowook mau kubayar untuk bercumbu denganku selama beberapa jam...".

"Oh Tuhan, Kangin!", Jaejoong mengerang tak habis pikir dengan perlakukan Kangin, "Pantas saja Yesung menghajarmu habis-habisan, kalau aku ada disana waktu itu, aku pasti akan memberi semangat padanya agar menghajarmu lebih keras",

Kangin menganggukkan kepalanya.

"Aku... aku pantas menerimanya...", Lelaki itu menghela napas panjang, "Tapi Jaejoong... Setelah aku mengetahui semua kebenaran ini, dan melihat tatapan mata Yesung ketika menyeret Ryeowook pulang tadi, entah kenapa aku... cemas."

Wajah Jaejoong mendadak pucat pasi.

"Astaga! Aku hampir saja lupa, Yesung selalu mempercayai kata-katamu! Bagaimana kalau Yesung menyangka bahwa Ryeowook benar-benar menjual dirinya kepadamu? Kalau melihat betapa posesifnya Yesung pada Ryeowook, aku tidak berani membayangkan betapa marahnya Yesung! Kita harus menjelaskan semua kepada Yesung sebelum dia melakukan sesuatu yang nantinya akan dia sesali," Jaejoong langsung meraih gagang telephone dan memencet nomor Yesung.

Lama ia mencoba tanpa hasil, ahkirnya menarik napas panjang dan menyerah.

"Semua nomornya tidak aktif, kita juga tak bisa menyerbu ke apartemennya begitu saja karena ini sudah dini hari", Dengan pasrah Jaejoong meletakkan gagang telephone, "Kita harus menunggu sampai besok pagi, dan jika... dan jika ternyata semuanya sudah terlambat...", Jaejoong melemparkan tatapan tajam ke arah Kangin yang balas menatapnya penuh rasa bersalah, "Aku akan membuatmu membayar semua kekacauan yang telah kau buat Kangin."

.

.

"Seorang pelacur harus diperlakukan seperti pelacur."

Kata-kata Yesung yang diucapkan dengan nada dingin dan ketenangan menakutkan itu seolah-olah bergaung di ruangan yang hening itu.

Lelaki itu sudah melepaskan kemejanya, dan membuka ikat pinggangnya lalu meletakkannya di ujung ranjang. Matanya begitu dingin, ekspresi wajahnya tenang, terlalu tenang, hingga membuat Ryeowook gemetar cemas.

"Kau... Harus... Mendengarkan." Ryeowook masih mencoba, meskipun melihat ekspresi wajah Yesung, ia tahu ia tidak akan berhasil.

Yesung terlalu marah, dia terlalu dibutakan oleh kemurkaannya.

"Lepaskan kemejamu Ryeowook." gumam Yesung datar.

"Yesung..." wajah Ryeowook langsung pucat pasi mendengar perintah yang diucapkan tanpa ekspresi.

"Lepaskan."

Nada suara Yesung begitu menakutkan. Mungkin Ryeowook akan lebih berani menghadapi jika Yesung berteriak-teriak marah dan membentaknya. Tetapi lelaki ini begitu tenang hingga menakutkan.

Dengan gemetar Ryeowook melepas kancing demi kancing kemejanya. Menatap Yesung dengan wajah memohon, tetapi lelaki itu tidak terpengaruh.

Setelah seluruh kancing kemeja Ryeowook terlepas, dia berdiri sambil menggenggam kemejanya yang terbuka dengan kedua tangannya erat-erat, berlutut di ranjang itu, memohon belas kasihan kepada lelaki yang berdiri di tepi ranjang dan tampak kejam.

"Aku bilang lepaskan kemejamu, Ryeowook," suara Yesung tetap lembut dan terkendali, tapi entah kenapa Ryeowook makin gemetar mendengarnya, dengan sudah payah dia melepaskan kemejanya dan menjatuhkannya ke kasur, menatap Yesung tanpa daya.

"Sekarang roknya." sambung Yesung setelah mengamati tubuh Ryeowook tanpa malu-malu, membuat seluruh wajah dan tubuh Ryeowook merah padam.

"Tidak...!" Ryeowook berusaha membantah, dia tidak mau dilecehkan seperti ini, dipaksa membuka baju dihadapan laki-laki yang sama sekali tidak menghargainya.

"Aku bilang roknya!" suara Yesung sedikit naik, tetapi tetap tenang. Matanya menatap tajam tak terbantahkan, hingga mau tak mau Ryeowook bergerak melepaskan roknya, air mata mulai mengalir di mata Ryeowook.

Hening cukup lama, Yesung terdiam sambil menatap Ryeowook tajam. Dan Ryeowook berlutut di ranjang itu dengan tubuh gemetaran, berusaha memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua tangannya yang kecil.

"Lepas pakaian dalammu."

"Tidak!" dengan was-was Ryeowook berseru, tanpa sadar tubuhnya beringsut ke ujung ranjang, ketakutan.

Sikapnya itu malah menyalakan api kemarahan di wajah Yesung, lelaki itu sudah tidak setenang tadi.

"Kenapa tidak Ryeowook? Pelacur cilikku? sudah tak terhitung berapa kali aku melihatmu telanjang, dan kau melakukan semuanya dengan sukarela kan? Demi uang tiga ratus juta...", Suara Yesung terdengar jijik, dia melangkah maju mendekati ranjang dan secara otomatis Ryeowook langsung beringsut mundur menjauh.

"Aku membeli tubuhmu seharga tiga ratus juta, seharusnya tubuhmu itu bisa kupergunakan semauku, tetapi aku terlalu baik padamu, memberimu kemewahan, tidak menyentuhmu di saat kamu sakit, merawatmu... itu semua terlalu baik untukmu," Mata Yesung tampak menyala, "Dan kau dasar pelacur cilik tak bermoral! Bukannya mensyukuri kebaikan hatiku, kau malah merayu sahabatku...!"

"Kau salah paham Yesung." Ryeowook mulai menangis terisak.

Tetapi Yesung tetap mengeraskan hatinya.

"Aku tidak mungkin salah paham dengan apa yang kulihat dengan mata kepalaku sendiri."

Dengan gerakan secepat kilat Yesung meraih kedua lengan Ryeowook, sebelum Ryeowook sempat menghindar dan menempelkan tubuh Ryeowook ke tubuhnya sendiri.

"Kalian berciuman! Kau membiarkan dia menciummu! Menjijikkan sekali dimataku."

Napas Yesung mulai terengah-engah, lalu mendorong Ryeowook ke bantal membuatnya terbanting kasar disana.

Ryeowook berusaha menghindar, berusaha melepaskan diri dari tindihan badan Yesung yang keras dan berat, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan Yesung yang kuat dan tanpa ampun.

Tetapi lelaki itu terlalu kuat, terlalu marah, bahkan tidak menyadari kalau kekasarannya melukai tubuh Ryeowook yang rapuh.

Lelaki itu seperti kerasukan setan. Matanya menyala penuh kebencian ketika dia menatap Ryeowook. Dengan ketakutan yang amat sangat, Ryeowook berusaha memberontak dan turun dari ranjang, tetapi Yesung menangkapnya, membantingnya di ranjang lagi dengan kasar, lalu menindihnya.

Ryeowook mengernyit merasakan cengkeraman tangan Yesung yang kasar di tangannya.

"Sakit Yesung... kumohon..."

"Diam!" seru Yesung marah, dan ketika Ryeowook meronta ketakutan, hal itu makin mendorong kemarahan Yesung, lelaki itu merobek baju Ryeowook dan mencoba membuka pahanya.

Ryeowook berteriak ketakutan, dia tidak siap dan Yesung pasti akan melukainya.

Tetapi Yesung tidak peduli. Ketika merasakan Ryeowook tidak basah dan tidak siap, lelaki itu tetap menyatukan dirinya.

Bagi Ryeowook itu adalah kesakitan yang luar biasa, sakit di tubuhnya dan sakit di hatinya, diperlakukan seperti pelacur rendahan yang tak ada harganya.

Seluruh tubuhnya terasa tersobek-sobek oleh gesekan tubuh Yesung, tapi Ryeowook menahan diri, digigitnya bibirnya hingga hamper berdarah, di tahankannya air matanya meskipun matanya terasa begitu perih. Dan di tekannya hatinya dalam dalam yang mulai hancur menjadi serpihan berkeping-keping.

Ryeowook berbaring memunggungi Yesung, matanya nanar, penuh airmata.

Napasnya sesak karena isakan yang ditahannya.

Setelah semua usai, Yesung menjauh dari tubuhnya dan berbaring hening di sebelahnya, sampai napas yang terengah berubah menjadi tenang dan hening.

Ryeowook tahu Yesung tidak tidur, lelaki itu masih berbaring nyalang di sebelahnya, terlentang menatap langit-langit kamar. Tetapi Ryeowook langsung membalikkan badan dan berpura-pura tertidur.

Dirasakannya Yesung bolak-balik menghadap ke arahnya, seperti ingin mengajaknya bicara tetapi kemudian ragu dan mengehentikan dirinya di detik terakhir.

Saat-saat hening itu terasa menyiksa. Tubuh Ryeowook tegang meskipun dia berakting sudah tidur dengan baik, dijaganya agar nafasnya teratur, dijaganya agar tubuhnya tidak bergerak sama sekali.

Lama-lama dia merasakan tubuh Yesung berangsur-angsur santai dan lelaki itu tertidur. Ryeowook menanti menit demi menit, menyakinkan diri kalau Yesung sudah terlelap, dan setelah cukup yakin, pelan-pelan dia bergerak.

Tubuhnya terasa sakit. Itu tadi benar-benar perkosaan, dan Yesung sama sekali tidak mau repot-repot bersikap lembut. Bibir Ryeowook memar akibat ciuman yang terlalu kasar, lengannya sedikit lebam karena genggaman yang terlalu keras, dan masih ada kesakitan-kesakitan lainnya. Di seluruh tubuhnya, di dalam tubuhnya.

Tetapi yang paling sakit adalah hatiku.

Air mata mengalir tanpa suara dari pipi Ryeowook, tapi dia menahan isakan dengan menggigit bibirnya yang sakit. Dengan hati-hati Ryeowook duduk di tepi ranjang, mengamati pakaiannya yang berserakan di lantai, dan pakaian dalamnya yang setengah dirobek oleh Yesung saat lelaki itu melepaskannya dengan marah tadi.

Pelan-pelan, agar tidak menimbulkan gerakan di ranjang tempat Yesung berbaring miring dan tertidur pulas, Ryeowook bangkit berdiri dan memungut pakaiannya satu persatu. Langkahnya goyah, dan tubuhnya gemetar, tapi Ryeowook menguatkan diri.

Dipakainya pakaiannya pelan-pelan sambil menatap ranjang dengan was-was, bersiap-siap jika ada satu gerakan sesedikit apapun dari Yesung.

Tetapi lelaki itu tidur dengan tenang sampai Ryeowook selesai berpakaian. Ryeowook lalu mengambil tas kerjanya dan melangkah keluar, tetapi di pintu dia ragu-ragu, menoleh dan menatap Yesung yang masih tertidur pulas.

Yesung pasti akan maklum jika dia pergi begitu saja. Setelah perkosaan brutal dan kejam itu, Yesung pasti maklum jika Ryeowook menjauh darinya. Tapi kemudian Ryeowook mengernyit, teringat kemarahan Yesung ketika Ryeowook menghilang tanpa pamit untuk menunggui Donghae di rumah sakit hari minggu lalu.

Kalau aku pergi tanpa pamit, apa yang akan dilakukan Yesung? Apalagi dengan perjanjian tiga ratus juta itu...

Ketakutan mewarnai perasaan Ryeowook, menahan langkahnya.

Lalu Ryeowook mengeluarkan kertas dan menulis.

Maaf Yesung, aku harus pergi sementara. Butuh waktu sendirian.

Tapi kau bisa tenang, aku tidak akan melarikan diri dari hutang-hutangku.

Aku tidak serendah itu kau tahu.

Sampai jumpa di kantor besok pagi

Ryeowook.