Daisuki Summer and you
A Naruto Fic
Disclaimer Naruto : Masashi Kishimoto
Pair : Sasuke Uchiha and Sakura Haruno
Rate : Teen
Romance/Hurt/Comfort
Warning : DLDR(!), OoC, AU, Typo(s), gaya penulisan aneh, cerita suka-suka gua.
.
Sasuke POV
Sebenarnya aku tidak tega juga menampar Sakura kemarin, tapi dia sudah keterlaluan menampar Ino seperti itu. Aku merasa hubungan kami akhir-akhi ini agak merenggang, yah Aku sadari itu, aku lebih banyak menghabiskan waktu ku bersama Ino, Sakura juga, akhir-akhir ini dia semakin dekat dengan si ketua Osis sekaligus anggota Tim basket itu, Sabaku no Gaara. Entah kenapa setiap melihat mereka berbincang saperti ada yang mencubit hati ku, rasa nya sakit. Ada apa ini?
Aku juga membentak Sakura, aku harus minta maaf padanya, bagaimanapun juga gadis itu sahabat baikku, aku menyesal memperlakukannya seperti itu. Tapi apa maksudnya dia bilang kalau aku salah paham? Akan ku tanyakan saja langsung padanya sekalian meminta maaf atas perlakuan kasar ku kemarin.
Ku lirik jam dinding yang menggantung di atas Tv, sudah lewat jam sebelas malam, sebaiknya aku tidur, dan semoga Sakura mau memaafkan ku.
END Sasuke POV
.
.
Hari-hari berlalu terasa sangat cepat, sepanjang jalan Sakura mengamati daun-daun yang berguguran dari balik kaca mobil ayahnya, jalan-jalan di penuhi daun-daun yang menguning, apa ini sudah masuk musim gugur? Ah~ ternyata iya, ini sudah bulan September pertengahan. Pantas saja angin terasa menusuk kulit, untung saja Ibunya menyarankannya untuk membawa sweater.
Mobil sedan hitam itu berhenti di depan gerbang KHS, gadis cantik berambut pink sepunggung keluar dari dalam mobil, setelah berpamitan gadis itu melangkahkan kakinya ke dalam komplek sekolah tersebut.
Sakura memasuki kelasnya yang cukup sepi, dilihatnya Hinata duduk sendirian sepertinya sedang melamun, lekas didekatinya gadis Hyuuga itu.
"Hinata..." panggilnya pelan, nyaris tak terdengar.
Hinata berbalik, mendapati Sakura berdiri di sampingnya sambil tertunduk. Sepupu dari wakil ketua Osis – Neji – , itu tersenyum lembut seraya menepuk-nepuk bangku di sebelahnya, memberi isyarat kepada Sakura untuk duduk diatasnya.
Sakura yang tahu maksud Hinata lekas duduk di bangku tersebut, gadis itu malah diam, sperti orang yang kehilangan kata-kata. Hinata tersenyum simpul, Dia tahu sebenarnya Sakura mau bilang apa, yeah, feeling seorang sahabat – mungkin?
Hinata tidak mau memberitahukan perihal rencananya dengan Naruto untuk menyelidiki lebih lanjut latar belakang Gadis bermarga Yamanaka itu. Hinata dari tadi melamun memikirkan rencananya, dia berharap semoga rencananya ini bisa mengungkap siapa Ino sebenarnya.
"Sekarang, aku menyerah. Tak ada lagi cinta, aku muak." Sakura berucap datar. Mungkin setelah ini sikapnya berubah?
"Aku mendukung yang terbaik buatmu Sakura-chan," Hinata menatap Sakura lembut, dilihatnya sorot emerald itu, memancarkan sorot tegas namun sarat akan kepedihan, bukan lagi gadis yang di mabuk cinta Uchiha bungsu itu ataupun gadis yang lemah lembut. Gadis itu sekarang bertransformasi menjadi gadis yang tegar, gadis yang lebih bisa menerima kenyataan – walau itu sulit. Hinata dapat memaklumi itu.
Satu persatu siswa-siswi kelas mereka mulai berdatangan, begitu pula dengan Sasuke dan Ino. Pasangan kekasih itu berjalan dengan tatapan angkuh – tepatnya, Ino. Diapitnya lengan kiri Sasuke yang bersembunyi di balik kantung celana. Keduanya pun memasuki kelas mereka, Ino mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas, aquamarine-nya menatap nyalang gadis pink yang tengah mengobrol dengan gadis berambut biru tua, pacar si pirang bodoh itu. Merasa tatapannya tak berbalas Ino mengembalikan fokusnya ke kursinya.
Kini giliran Sasuke yang memandang Sakura. Entah, beruntung atau tidak Sasuke bertemu pandang dengan gadis yang kemarin ia tampar itu, baru beberapa detik Sakura langsung membuang mukanya. Air muka adik dari Itachi Uchiha itu berubah sendu, ia tahu gadis itu masih trauma padanya. Dapat dilihatnya pipi Sakura masih memerah, bengkaknya sudah mengempis. Lagi, dia merasakan hatinya seperti di hantam balok kayu besar mengingat apa yang telah ia lakukan pada sahabat baiknya itu. masih memandangi Sakura, Sasuke terdiam mematung, Ino yang kesal melihatnya langsung menyentakkan lengan Sasuke. Seketika itu pula pemuda Uchiha terakhir itu sadar kalau sedari tadi Ia berdiri memandangi sosok itu sampai melamun.
Kelas yang riuh itu langsung sunyi senyap kala sang Killer sensei Fisika itu memasuki kelas, yap, ini hari rabu. Entah kenapa tiba - tiba fikiran Sakura terarah pada hari itu, hari dimana dirinya dan Sasuke terlambat datang yang pada akhirnya di hukun di bawah tiang bendera sampai bel istirahat berbunyi. Dan itu satu hari sebelum mimpi buruknya dimulai, musim panas tahun ini menjadi musim panas paling buruk bagi hidupnya.
Sakura menggelengkan kepalanya pelan, menghilangkan pikiran nakalnya yang masih saja teringat akan pemuda itu. Sakura diam-diam mengutuk sensei sadis yang tidak membolehkan siswanya memakai sweater dan sejenisnya didalam kelas, angin musim gugur yang dingin berhembus masuk kekelasnya melalui jendela yang dibuka kecil sangat menusuk kulitnya, tubuhnya sedikit menggemetar, padahal pengahangat ruangan sudah cukup hangat, tapi Sakura masih tetap kedinginan.
Ketika bel istirahat di bunyikan, Sakura langsung memakai sweater-nya, lama-lama dia bisa mati kedinginan, baru musim gugur saja sudah sedingin ini, apalagi musim dingin? Kini ditemani ketiga sahabatnya berbincang-bincang, di dalam kelas, diantara mereka tak ada yang mau keluar, dingin. Hanya Sakura yang membawa sweater, beruntunglah Sakura mempunyai Ibu sebaik Nyonya Mebuki Haruno yang sangat peduli akan keadaan anaknya, yah, bukan berarti Ibu - Ibu dari para sahabatnya ini tidak peduli, melainkan kurang perhatian saja #apa bedanya coba-_-?
.
.
Sasuke diam hanya memperhatikan sekelilingnya, dia sendirian. Sedangkan Ino sedang asik dengan Shion menjahili gadis berkaca mata tebal yang di duduk disudut kelas, Shion mengendap di belakang gadis tersebut langsung saja di comotnya kaca mata tebal millk gadis cupu tersebut. Kontan saja gadis cupu yang bernama Sasame itu tersentak berusaha menggapai-gapai kacamata miliknya yang kini sudah berpindah tangan ke Ino. Walau agak buram Sasame masih berusaha mengambil miliknya. Ino dan Shion tergelak melihat gadis cupu itu, menggapai kaca mata tebalnya yang di junjung tinggi-tinggi oleh Ino. Capek, Ino mengembalikan – melepar – kacamata itu ke atas meja Sasame, gadis cupu itu buru-buru mengambilnya, langsung dipakainya, untung saja tidak rusak. Dilihatnya Shion dan Ino berjalan keluar kelas, menuju kantin, mungkin?
Shion sempat curhat dengan Ino melalui Line, kalau pemuda yang ditaksirnya, Menma sedang dekat dengan gadis bernama Sara, kouhai-nya, Shion meminta bantuan Ino untuk memberi-pelajaran bagi gadis bernama Sara itu agar tidak mendekati Menma lagi. Yah~ kau tahulah maksud memberi-pelajaran itu. Ternyatak kedua gadis yang sama-sama berambut pirang itu berjalan menuju lantai satu guna memberi pelajaran kepada Sara.
Ketika Shion dan Ino masuk kelas sang Kouhai, tiba-tiba kelas itu senyap padahal sedetik sebelumnya kelas itu sangat riuh tak jauh beda dengan kelas mereka sendiri. Ino menoleh pada Shion di sebelahnya, seolah menanyakan yang mana murid bernama Sara, dagu tirus Shion mengarah pada gadis berambut hitam sebahu, murid kelas X.1 itu hanya memperhatikan senpai cantiknya itu berjalan menuju kerahnya.
Ino sampai dihadapan Sara, membuat gadis itu mendongak untuk menatap sang senpai yang entah ada keperluan apa menemuinya. Ino memasang senyum lembut pada kouhai-nya itu, Sara tersenyum canggung.
"Sara ?" gadis tersebut mengangguk.
.
.
Sasuke memutuskan untuk berjalan-jalan keluar sebentar, turun ke lantai dasar. Sakura yang melihat Sasuke pergi meninggalkan kelas, langsung berpamitan kepada sahabat-sahabatnya dengan dalih ingin ke toilet, padahal sebenarnya Sakura ingin bicara serius dengan Sasuke, Sakura tak tahan lagi memendam perasaan, perkataan Temari yang ia dengar melalui Hinata ternyata benar, kini hatinya kebas saking besarnya rasa cinta-nya pada si bungsu Uchiha yang tak lain adalah sahabatnya sendiri.
Begitu keluar kelas, Sakura langsung di sambut angin yang cukup dingin, lebih dieratkannya lagi sweater yang dikenakannya agar mendapatkan kehangatan yang cukup melindungi tubuhnya dari angin dingin ini. Diikutinya Sasuke dari jarak sepuluh meter. Kini sampai lah mereka di taman belakang yang sepi, yang terdapat pohon Sakura yang sedang menggugurkan daunnya, Sakura melihat Sasuke yang berjalan menuju kursi besi yang membelakanginya. Dengan keberanian yang di dapatnya dari Hinata gadis itu berjalan mendekati Sasuke yang duduk membelakanginya.
Biarlah sampai disini saja perasaan yang di pendamnya selama delapan tahun lebih itu, terkikis seiring dengan berjalannya waktu. Semakin dekat, dua langkah, selangkah, sakura diam. Dilihatnya Sasuke meraba pucuk kepala berhelaian raven-nya yang di jatuhi beberapa helai bunga Sakura. Sakura menahan nafasnya sebentar, keraguan, sedetik menghampiri kepalanya. Sakura juga dapat merasakan kepalanya yang sama-sama berwarna pink dengan kelopak bunga Sakura juga di jatuhi kelopak kebanggaan Jepang itu. Sakura menggeleng kuat-kuat, menepis keraguan yang menghampirinya sedetik lalu, sekaligus membuat kelopak yang tadinya bertengger manis di helian merah mudanya berjatuhan ketanah, seiring dengan angin yang masih bertiup. Bibirnya terbuka,
"Sas- Uchiha-san,"
.
.
"Ada perlu apa, sen – "
"Menma-san menunggumu di samping gudang penyimpanan." Ujar Ino selembut mungkin, memotong ucapan Sara. Sara tersipu sedikit ketika mendengar nama Menma. Shion yang berada di samping Ino pun tersenyum kecil – tepatnya menyeringai. Kedua senpai cantik itu berjalan keluar kelas dengan cukup pelan.
Tanpa ada rasa curiga atau apa, Sara mengekor dibelakang senpai-nya itu. Ino dan Shion saling lirik dan menyeringai, rencananya berjalan apik, rupanya. Turun kelantai satu, siswi kelas sepuluh itu masih setia mengekor di belakang senpai pirangnya. Kini ketiganya sampai didepan gudang, Sara menelisik keadaan sekitar mereka, tak dilihatnya orang selain mereka bertiga.
"Ah, Menma-san menunggumu di dalam gudang," Ino berkilah saat Sara mulai merasa curiga, kini giliran Shion dan Ino yang mengekor di belakang Sara, gadis berambut hitam itu membuka pintu gudang yang besar, berjalan lebih masuk ke dalam area gudang, tak ada siapa-siapa disini, gadis lugu yang sekarang memang sedang dekat dengan pemuda bernama Menma itu merasakan aura tak meng-enak-kan, saat telinganya mendengar suara pintu gudang ditutup, Senpai pirangnya itu berjalan mendekat dengan seringai seperti macan yang mendapatkan mangsanya.
"D-di mana Menma-kun?" Sara semakin gemetar kala kedua senpai itu hanya tinggal beberapa langkah darinya. Satu langkah didepan Sara, Ino menjulurkan tangannya, meraih kerah sailor Sara.
"AHK!" Sara, merasa tercekik saat tangan Ino mencengkeram erat kerah sailornya, membuatnya kesulitan untuk mengambil nafas.
"Silahkan," Kini Ino melepaskan cengkeramannya, lalu menahan tangan Sara kebelakang, yang baru saja bergerak akan melawan.
"Tidak usah melawan, gadis kecil. Selama kau turut, kami tidak akan memberi lebih kok," Shion mencoret-coret muka Kouhai-nya menggunakan spidol yang ia bawa sebelumnya.
Sara tidak tinggal diam, di geleng-gelangkannya cepat kepalanya, membuat spidol tersebut jatuh kelantai.
"TOLONG!"
PLAK!
.
.
Karin tak bisa fokus dengan pelajaran yang sedang berlangsung sekarang, gadis berkacamata itu menatap kosong buku catatannya,ternyata kekhawatirannya tentang Ino yang pindah ke KHS itu benar. Dalam hati Karin berdo'a agar Ino tidak mengetahui kalau Sakura adalah sepupunya, bisa gawat Sakura kalau Ino sampai tahu akan hal itu.
Ah! Karin ingat saat Sakura curhat padanya tentang Sasuke, pemuda yang Sakura cintai dari kecil, berpacaran dengan gadis pindahan yang baru satu mingggu mereka kenal, Karin takut kalau gadis pindahan yang dimaksud Sakura adalah Ino, dia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Sakura kedepannya.
Kalau memang benar Ino yang menjadi pacar pemuda yang bernama Sasuke, dan kalau sampai Ino berbuat macam-macam pada sepupu kesayangannya Karin tak segan-segan melakukan apapun kepada Ino. Persetan dengan masa lalunya dengan Ino, persetan dengan perjanjiannya dengan pihak sekolah. gadis berambut merah itu kemudian memutuskan untuk menulis.
.
.
Pemuda berjaket hoddie biru tua yang di belakangnya terdapat lambang klan Uchiha itu menoleh ke asal suara dari balik punggungnya, suara yang memanggilnya dengan marga tadi adalah Sakura? Apa dia tak salah dengar? Apakah perlakuannya kemarin sudah merubah sifat seorang Haruno Sakura? Kemana panggilan itu? 'Sasu' dan 'Sasuke-kun', atau 'Sasucake-chan'?
"Mau apa kau kemari? Kan sudah ku bilang tidak usah temui aku lagi." Pemuda Uchiha itu bicara ketus. Sebenarnya Sasuke ingin minta maaf, tapi di tahannya dulu, dia ingin tahu maksud Sakura menemuinya.
"Aku.. aku minta maaf," Sakura tertunduk, menyembunyikan wajahnya yang mulai memanas.
"Tak ada yang perlu dimaafkan, pergilah" Sahut Sasuke datar. Berniat mengusir Sakura.
Sakura tersentak, refleks dia mengangkat wajahnya, memperlihatkan raut yang sarat akan kepedihan. Sasuke mengusirnya? Apa dia tidak salah dengar? Amarahnya perlahan terpancing, genggaman tangannya mengerat.
"Kau berubah, Sas- Uchiha-san." Sakura menggeram kecil mencoba menahan amarahnya.
"Justru kau lah yang berubah, kau sekarang lebih kasar,lebih dekat dengan pemuda merah itu. cih!"
"Kau tak tahu apa-apa! Jangan sok menuduhku! Memangnya kenapa kalau aku dekat dengan Gaara? Dia sahabatku, apa masalahmu?!" Ucap Sakura membentak. Gadis itu menangis.
"Menuduh bagaimana? Jelas-jelas aku melihatmu menampar Ino didepanku. Cih, lalu memangnya kenapa kalau aku pacaran dengan Ino? Apa masalahmu juga?!" jeda sejenak. Sasue mem-beo ucapan Sakura dengan versinya sendiri.
"Memangnya apasih yang kalian bicarakan selama ini?!" lanjut Sasuke membentak. Sakura tahu 'kalian' maksud Sasuke.
Sakura tertawa miris di selingi sesenggukannya, di tatapnya dalam-dalam mata onyx Sasuke yang berkilat di penuhi amarah.
"Haha, jelas itu masalahku Sasuke! Kau mau tahu alasannya? Mau tahu apa yang aku bicarakan dengan Gaara?" Tanya Sakura sarkartis, sambil menaikkan sebelah alismya.
"Walaupun kau ini sahabatku, aku tak bisa menceritakannya padamu, karena aku yakin setelah aku mengatakannya kau akan menjauhi ku atau bahkan membenci ku, itu buru bagiku, aku tak sanggup jika dibenci olehmu," lanjutnya.
"..." Sasuke diam.
"Aku mencintaimu, Sa- Uchiha-san. Tapi tenang, aku sedang dalam tahap melupakan perasaan sialan ini. Jadi, hubung dengan Ino-san tak ada yang mengganggu. Semoga bahagia," Akhirnya kata-kata yang selama ini Sakura pendam kini telah dikeluarkannya, tak ada lagi rasa malu atau ragu, dengan tenang dan pelan Sakura mengucapkannya. Sakura berlalu meninggalkan Sasuke yang masih berdiri mematung.
Sasuke masih mencerna apa yang Sakura katakan. Dia, Sakura, mencintainya? Cih, hal konyol apalagi ini yang terjadi? Padahal lusa kemarin Sakura mengatakan kalau dia tidak mungkin mencintai sahabatnya sendiri. Lekas Sasuke kejar Sakura yang belum berjalan jauh darinya.
Mendengar langkah kaki mendekat, Sakura menghentikan langkahnya, tak didengarnya lagi derap langkah tadi, berarti orang yang berlari tadi mengejarnya.
"Kau berbohong. Kemarin lusa, kau bilang kalau kau tidak mungkin mencintai sahabatmu sendiri." Ucap suara itu dari balik punggungnya. Suara ini Sasuke.
"Itu pengecualian untukmu. Aku tidak bisa menentukan kepada siapa aku mencinta, dan siapa orang yang mencintaiku. Tapi tak usah khawatir, aku akan melupakan perasaan itu." Jawab Sakura sambil melenggang menaiki tangga menuju kelasnya. disekanya dengan kasar air mata yang terus menganak sungai di pipinya.
.
.
Sara meringis mendapat tamparan yang cukup kuat dari Shion, mata cokelatnya mulai berair.
"Sudah kuduga kau akan berteriak – " Shion mengambil lakban dari kotak pensilnya, lalu di tempelkannya lakban tersebut kemulut Sara agar tidak kembali berteriak.
"Dan sudah kubilang, selama kau turut, kami tidak memberi lebih, tapi, ternyata kau sendiri yang meminta lebih. Tak tega, kami langsung beri saja." Shion terkekeh pelan melihat Kouhai-nya menangis tersedu.
"Emh! Eemmmh!" tambah tergelaklah kedua gadis yang kini serupa iblis itu melihat korbannya tak berdaya. Shion menjambak rambut hitam Sara, guna melanjutkan acara melukisnya di wajah gadis lugu itu.
"Ini peringatan pertama, jangan coba-coba mendekati Menma-kun lagi, atau Kau ingin mendapat peringatan kedua, hm?"
Setelah puas memberi pelajaran kepada sang Kouhai, siswi kelas sebelas itu keluar dari dalam gudang, merapatkan sedikit pintu, agar tak ada yang curiga jika di dalam ada seorang siswi kelas sepuluh tengah tertidur – kecapaian- karena habis di bully.
Ino dan Shion yang tak sengaja melihat drama Korea di taman belakang sekolah dekat gudang mereka membully adik kelasnya, keduanya tertawa geli, apa yang baru dilihatnya.
"Ada job baru nih, mau ikutan?" tawar Ino pada Shion ketika mereka berhenti tertawa.
Shion tahu betul maksud job yang dikatakan Ino, dengan cepat ia mengangguk, sepertinya Shoin ketagihan dengan job Ino.
"Oke, besok jam istirahat kedua, nanti aku tentukan tempatnya." Ino menyeringai, ada alasan lagi dia mem-bully Sakura. Lalu kedua evil itu beranjak dari tempatnya semula menuju kelasnya.
Setelah pulang Hinata langsung berganti seragam sekolah dengan pakaian khas rumahan, lalu membuka hp-nya yang memang ia tinggalkan dirumah. Hinata mulai memasukkan digit angka nomor Hp Karin yang Ia dapatkan secara diam-diam dari Hp Sakura saat Sakura pergi dari kelas tadi. Lancang memang, tapi ini demi kebaikan sahabat pink-nya juga. Tanpa basa-basi Hinata mendial nomor Karin, terdengar suara perempuan disebrang sana.
"Hallo, ini siapa?"
"Ah, aku Hinata teman Sakura, ini Karin?" ucap Hinata memperenalkan diri.
"Oh, iya aku Karin. Ada perlu apa ya?"
"Um, tidak. Aku Cuma mau bertanya sedikit, boleh?"
"Tentu, silahkan,"
"Apa Karin-san mengenal Yamanaka Ino?" Tanya Hinata pelan.
Karin diam, kenapa teman Sakura menanyakan perihal Ino? Apa hubungannya gadis ini dengan Ino? Batin Karin bertanya-tanya.
"Ya, kau kenal dengannya?" Karin balik bertanya.
"Dia teman sekelasku. Boleh Karin-san ceritakan sedikit tentang Ino-san? Ketika dia masih bersekolah di Tokyo Gakuen, mungkin?"
Karin pun bercerita perihal dirinya, Ino dan temen-temannya ketika Ino masih bersekolah di Tokyo Gakuen. Hinata kaget mendengar cerita Karin akhirnya Gadis bermata amethyst itu tahu latar belakang kenapa Ino berbuat seperti itu. Setelah mengucapkan kata terima kasih, Hinata langsung memutuskan sambungan telepon.
Tak lama kemudian, Hinata menghubungi kekasihnya – Naruto, diceritakannya fakta tadi kepada Naruto, sama seperti dirinya, Naruto juga kaget mendengar fakta tersebut. Sebentar lagi semua akan terbongkar. Tapi, Hinata tak bisa jamin keputusan Sakura untuk melupakan cintanya pada Sasuke bisa di tarik, semoga saja Sakura dan Sasuke dapat bersatu, do'anya dalam hati.
.
.
Sakura duduk di balkon kamarnya, di lindungi jaket pink tebalnya menghalangi angin yang berhembus menerpa tubuhnya. Gadis itu sudah membulat kan tekad untuk melupakan perasaannya terhadap Sasuke, orang yang sudah ia cintai sejak lama. Rasa kecewa dan sakit di hatinya belum hilang, ditambah lagi dengan sikap Sasuke tadi membuatnya benar-benar bertekad melupakan cintanya pada adik dari Itachi Uchiha itu.
Sakura teringat akan pertanyaan Karin tempo hari melalui pesan singkat, yang menanyakan tentang Kepindahan seorang murid baru, perempuan, rambut pirang panjang. Di keluarkannya Hp, dengan sigap dia men-dial Karin, Sakura sangat penasaran denga hubungan antara Karin dan Ino.
"Hallo? Sakura?"
"Ah, hai Karin, to the point saja ya. Yamanaka Ino siapanya kau?"
"Um, Ino itu– "
TING TONG
"SAKURAA?"
TBC
Hai saya datang lagi membawa chp 6, mau tanya, ini udah apdet kilat belom sih? . saya kan dulu pernah janji mau apdet kilat tapi ga tau ini termasuk apdet kilat ga.
oiya, maaf untuk reader yang ga suka waktu scene Sasu nampar Saku, ya tapi mau gimana lagi, itu udah nyampir di otak author, lagi pula itu penting untuk cerita ini . XD. *lebe
dichap ini, saya lebih nampilin aslinya Ino kek gimana. XD. kan ada yang minta panjangin wordsnya , ini udah saya panjangin. maaf kalo masih ngerasa pendek.
untuk masalah Sasuke nyesel, silahkan stay chp-chp selanjutnya XD.
bls review ga login :
Guest :
Umm, yah itu memang udah plot. baca "warning"nya yaaw :3
Lala:
Iya, sasu jahat :(, okeh inih lanjuut .
.
Yang Login silahkan cek PM. sip.
yah, saya mau ngebo dulu, :p babai, sampai ketemu di chp selanjutnya.
KIKI TAKAJO.
REVIEW;3
