A Romantic Story About Ryeowook
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Genre : Romance & Drama
Rate : M
Ini adalah FF remake dari novelnya Shanthy Agatha yang judulnya "A Romantic Story About Serena". Aku Cuma mengedit nama tokoh dan sedikit latar tempat kejadian untuk keperluan cerita.
Pairing : Yewook, GS
DLDR
.
.
.
.
.
CHAPTER 12
.
.
Pagi itu Yesung duduk di kantornya dengan muram. Hari masih pagi, para karyawan belum datang ke kantor, tapi Yesung sudah ada di situ. Dia tak tahan berada di kamar apartement itu sendirian.
Tanpa Ryeowook.
Dia terbangun pagi-pagi sekali, karena terbiasa mencari Ryeowook untuk dipeluk, tetapi yang ditemukannya hanya bantal kosong. Dengan marah Yesung langsung bangun dan murka.
Berani-beraninya pelacur itu meninggalkannya?.
Tetapi kemudian, kertas yang diletakkan di bantal Ryeowook itu agak meredakan kemarahannya. Sebuah pesan singkat sederhana yang ditulis dengan huruf yang sangat rapi.
Ryeowook bilang "Sampai jumpa di kantor besok pagi" jadi Yesung menahan diri dari kemarahannya dan memutuskan bersiap-siap dan berangkat ke kantor saat itu juga.
Sekarang dia duduk sendirian di ruangannya, memikirkan perbuatannya semalam dan mulai merasa cemas. Ia terlalu kasar. Ia tahu itu. Ia terlalu kuat dan Ryeowook terlalu rapuh untuk menahan kemarahannya.
Tapi tidak tahukan Ryeowook kalau pemandangan Ryeowook yang sedang dipeluk dan dicium oleh Kangin itu benar-benar membuatnya marah? Seharusnya hanya dia yang boleh memeluk Ryeowook ! Seharusnya hanya dia yang boleh mencium Ryeowook!.
Saat itulah pintu diketuk dengan pelan. Yesung terdiam penuh antisipasi, dia sudah menunggu. Siapa lagi yang datang sepagi ini kalau bukan Ryeowook?.
"Masuk."
Pintu itu terbuka pelan, dan Ryeowook muncul disana. Hati Yesung langsung bagaikan dihantam oleh palu ketika melihat keadaan Ryeowook.
Gadis itu masih memakai pakaiannya yang semalam meskipun kelihatan segar setelah mandi. Tapi wajahnya kelihatan pucat dan rapuh. Dan bibirnya sedikit lebam akibat ciuman-ciuman kasarnya kemarin.
Kenapa kau pucat sekali sayang?.
Yesung berdehem, menahan perasaannya.
Detik itu juga Yesung memutuskan dia akan memaafkan Ryeowook. Dia tidak bisa menyalahkan Ryeowook karena merayu Kangin, tidak ada yang bisa melarangnya kan? Tidak ada tertulis dalam perjanjian mereka bahwa Ryeowook tidak boleh menjalin hubungan dengan lelaki lain, disitu hanya tertulis bahwa Yesung berhak memiliki Ryeowook sesuka hatinya.
Oleh karena itu dia akan segera memastikan adanya klausul tambahan dalam perjanjian itu, bahwa Ryeowook tidak boleh disentuh lelaki lain, bahwa tubuh Ryeowook adalah hak eksklusifnya, miliknya.
Untuk sekarang, Yesung yakin Ryeowook akan memohon maaf padanya, dan itu bukan masalah, Yesung siap memaafkan Ryeowook atas pengkhianatannya semalam. Dia siap menerima Ryeowook lagi. Dia belum mau melepaskan Ryeowook.
"Duduk." perintahnya, berusaha sedatar mungkin.
Dengan patuh Ryeowook duduk, tapi gadis itu tidak berkata apa-apa, hanya meremas tangannya dengan gelisah.
"Sebenarnya kau ingin bicara apa hingga harus menunggu sampai di kantor?"
Dimana kau tidur semalam? Apakah kau baik-baik saja? Apakah aku menyakitimu? Pertanyaan-pertanyaan itu yang bermunculan di benak Yesung, tetapi lelaki itu menahankannya.
Ryeowook mendongakkan kepalanya, matanya tampak penuh tekad ketika menatap Yesung. Takut, tapi penuh tekad.
"Aku... ingin melunasi semua hutangku dan mengakhiri perjanjian kontrak kita."
Yesung tertegun.
Rasanya seperti seluruh aliran darahnya dihentikan seketika. Ini adalah jawaban yang sama sekali tidak disangkanya. Yesung begitu terkejut hingga membatu seperti patung.
Tetapi ketika keterkejutannya usai. Kemarahan langsung merayapinya. Seperti api yang membakar pelan-pelan, makin lama makin berbahaya.
"Apa?" desis Yesung di antara giginya, tangannya terkepal.
Dengan sedikit gemetar, Ryeowook meletakkan sebuah kertas di meja Yesung.
"Ini cek sebesar tiga ratus empat puluh juta, untuk melunasi hutangku sebesar tiga ratus juta, dan hutang ke perusahaan sebesar empat puluh juta, dan ini..."
Ryeowook meletakkan sebuah amplop di meja, "Surat pengunduran diriku dari perusahaan ini".
Hening cukup lama. Yesung hanya duduk di situ, mengamati Ryeowook dengan mata yang menyala-nyala.
Kemudian lelaki itu memajukan tubuhnya dan menatap Ryeowook sambil tersenyum dingin.
"Lunas sepenuhnya? Jadi malam-malam selama kau melayaniku itu kau anggap service gratis untukku?"
Wajah Ryeowook pucat pasi mendengar hinaan tersirat itu.
"Aku... Aku hanya ingin melepaskan diri dari perjanjian itu..."
Yesung mendesis gusar, lalu mengambil cek itu dan mengamatinya, alisnya terangkat, kemarahan tampak semakin membakarnya.
"Kau bisa memperoleh uang sebanyak ini dalam semalam, apakah kau menemukan korban lain yang bisa memberimu uang untuk melepaskan diri dariku?"
Ryeowook membelalakkan matanya tak percaya akan kesimpulan negatif yang di ambil Yesung.
"Jangan menuduhku serendah itu! Aku... aku bukan pelacur seperti yang kau kira!"
"Kau pernah dengan sukarela menjadi pelacurku demi uang tiga ratus juta! Bagaimana bisa aku tidak berpikir kau bersedia melacurkan diri pada orang lain demi melepaskan diri dariku hah?!" Yesung menggebrak meja dengan begitu kerasnya, hingga Ryeowook terlonjak kaget dari tempat duduknya.
Lalu tanpa di duganya. Yesung mengambil surat pengunduran dirinya di meja.
Dan merobek-robeknya bersama dengan cek yang diberikannya.
Ryeowook hanya ternganga, kaget dengan tindakan tak terduga Yesung itu.
Sementara lelaki itu berdiri di sana, menatapnya dengan tatapan mengancam sambil merobek-robek surat dan cek itu menjadi serpihan-serpihan kecil.
Ketika Yesung mulai mendekati Ryeowook, Ryeowook langsung berdiri menjauh, waspada.
"Kenapa kau merobek cek dan surat itu?" tanya Ryeowook gugup, takut akan suasana hati Yesung yang begitu muram.
Yesung makin mendekat. Lalu berhenti dan tersenyum sinis ketika melihat Ryeowook mundur lagi menjauhinya.
"Aku tidak akan melepaskanmu begitu mudah Ryeowook, kau pikir aku akan diam saja kau bodohi? Aku akan membuatmu menerima balasan setimpal sebelum akhirnya melepaskanmu..."
Tiba-tiba Yesung bergerak cepat meraih Ryeowook sebelum dia bisa menghindar.
Ryeowook mencoba meronta, tapi ia sadar dari pengalamannya bahwa percuma saja dia melawan kekuatan dan kemarahan Yesung, jadi dia hanya diam dengan wajah pucat pasi ketakutan.
"Katakan padaku Ryeowook... Pria yang membayari hutangmu itu... Apakah dia sudah menidurimu?" Mata Yesung menggelap penuh kemurkaan, "Apakah dia sudah menyentuhmu?" napas Yesung mulai memburu, "Apakah ciumannya sebaik ciumanku? Atau dia hanya pria bodoh yang tertipu oleh kepolosan palsumu yang..."
"Lepaskan aku!" entah darimana Ryeowook seperti mendapatkan kekuatan untuk mendorong Yesung dan melangkah menjauh. "Aku sudah membayar hutangku. Aku sudah tidak terikat denganmu! Kau tidak berhak melecehkanku lagi!"
"Melecehkan katamu? Kau bilang itu pelecehan? Kau menyambutku dengan hangat setiap aku mendatangimu dan kau bilang itu pelecehan?"
PLAK!
Tangan Ryeowook tanpa disadari melayang sendiri menampar pipi Yesung sekeras mungkin, kata-kata Yesung yang luar biasa menghina itu sangat menyakiti hatinya.
Yesung berdiri disana mengusap pipinya lalu tersenyum jahat.
"Kenapa menamparku? Apakah kau merasa malu karena kekotoran moralmu terungkap disini?" gumamnya sinis.
Dengan bergegas Ryeowook melangkah ke pintu, sedikit lega karena Yesung tidak mengikutinya.
"Aku akan mengirimkan lagi cek yang baru, berikut surat pengunduran diriku... Bagiku semua sudah lunas di antara kita" gumamnya lirih.
"Bagiku belum," desis Yesung tenang, "Kau boleh kabur kemanapun Ryeowook, dan aku bersumpah akan mendapatkanmu. Dan ketika itu terjadi aku tidak akan main-main lagi, aku bahkan akan merantaimu di kamar jika perlu. Dan tak usah repot-repot mengirimkan cek ataupun surat apapun, aku akan merobekrobeknya lagi."
Tangan Ryeowook yang memegang gagang pintu gemetaran.
"Kenapa kau begitu kejam padaku...?" Rintihnya putus asa, matanya berkaca-kaca.
Sejenak Yesung terpaku. Ryeowook tampak begitu hancur, begitu luluh, hingga seketika itu juga Yesung ingin memeluk Ryeowook dan menghiburnya, meminta maaf atas kata-kata kasarnya. Tapi akal sehatnya segera mengambil alih. Itu akting, teriaknya pada diri sendiri, jangan tertipu, gadis ini pandai memanipulasi orang dengan berpura-pura rapuh. Kau sendiri sudah merasakannya bukan?.
"A... Aku tetap akan pergi..." Ryeowook bergumam ketika Yesung hanya berdiam diri, "Kau boleh memaksaku semaumu, tapi aku akan melawanmu sekuat tenaga."
Dengan cepat Ryeowook membuka handel pintu. Lalu menolehkan kepalanya untuk
menatap Yesung, mungkin untuk yang terakhir kalinya. Diserapnya sosok itu baik-baik, sosok dingin yang berdiri kaku, menatap Ryeowook dengan penuh kebencian. Disimpannya sosok itu baik baik, dan tiba-tiba saja hatinya terasa teriris. Air mata mulai menetes dari sudut matanya, dan dengan segera Ryeowook melangkah keluar dari ruangan itu.
Setengah berlari dia memasuki lift tanpa mempedulikan tatapan bingung sekertaris Yesung.
Di lobby, Leeteuk yang menunggu dengan gelisah dari tadi langsung berdiri begitu melihat Ryeowook muncul di lift.
"Bagaimana...?"
Pertanyaannya tak terjawab karena Ryeowook langsung mengajaknya keluar dari lobby menuju parkiran, menaiki mobil jemputan rumah sakit yang diminta suster Leeteuk mengantar mereka ke sini tadi.
Di mobil air mata Ryeowook tak terbendung lagi dan Leeteuk langsung memeluknya untuk menenangkannya.
"Ssshhh... Semuanya tak berjalan baik ya?"
"Dia... Dia tidak mau menerima uang itu..." Ryeowook tersedak oleh tangisan yang dalam, "Dia... Dia menuduhku menjual diriku kepada lelaki lain demi mendapatkan uang itu..." tangis Ryeowook meledak lagi dengan kuatnya.
Dan Leeteuk langsung memeluknya. Matanya sendiri berkaca-kaca melihat penderitaan Ryeowook.
"Apakah... kau mencintainya, Ryeowook?" tanya Leeteuk hati-hati.
Ryeowook langsung tersentak, menatap Leeteuk dengan pandangan nanar.
"Apa...? Itu... Itu tidak mungkin..."
"Ryeowook, mungkin kau tidak menyadarinya, tapi kebersamaan kalian selama ini mungkin saja menumbuhkan sesuatu yang dalam di antara kalian..." Leeteuk menatap Ryeowook lembut, "Dan kau... Tidak mungkin menangis semenderita ini jika kau tidak punya perasaan apa-apa kepada Yesung, sayang."
Ryeowook hanya termangu. Air matanya masih mengalir, hatinya sakit sekali. Dan memang benar, penghinaan dan perlakuan kasar Yesung telah menyakitinya lebih daripada yang seharusnya. Tapi Ryeowook tidak mau memikirkan kemungkinan apapun. Dia tidak mau, dan tidak bisa. Ada Donghae di sisinya bukan?.
Leeteuk mendesah melihat kediaman Ryeowook.
"Yah, setidaknya, suatu saat ketika Yesung menyadari kesalahannya, dia akan menyesal dan kuharap aku ada di sana ketika dia memohon maaf padamu."
.
.
Leeteuk benar, Yesung memang menyesal. Tidak perlu waktu lama, hanya selang satu jam dari kepergian Ryeowook.
"Aku menerima kalian di sini hanya demi Jaejoong," gumam Yesung dingin, suasana hatinya benar-benar buruk saat itu.
Ketika sekertarisnya menelepon dan memberitahu bahwa Jaejoong dan Kangin ada di ruangan depan, ingin bertemu dengannya, Yesung hampir saja mengamuk seketika itu juga. Dia sudah menegaskan pada sekertarisnya bahwa dia sedang tidak ingin diganggu. Tetapi Jaejoong memaksa, dan seperti biasanya, paksaannya berhasil.
"Kami harus memberitahumu sesuatu yang penting." gumam Jaejoong penuh tekad, tidak peduli akan tatapan membunuh yang berkali-kali dihujamkan Yesung kepada Kangin yang hanya duduk diam tanpa suara di belakangnya.
"Yesung," Jaejoong mencoba menarik perhatian Yesung yang terus menerus mempelototi Kangin. "Ada suatu fakta penting tentang Ryeowook yang harus kau ketahui."
Yesung langsung tertarik. Fakta apa lagi? Sebuah kebohongan lagi yang belum diceritakan kepadanya? Sebuah kepalsuan lagi yang akan menyulut kemarahannya?
Dia diam dan menunggu, bersiap-siap untuk meledak lagi, kepalanya terasa berdenyut dan mulai nyeri.
"Yesung..." Jaejoong mengernyit cemas ketika melihat Yesung tampak kesakitan,
"Kau tidak apa-apa?"
"Aku tidak apa-apa! Cepat selesaikan yang ingin kau katakan, dan bawa dia pergi dari ruangan ini!" Yesung bahkan tidak mau repot-repot menyebut nama Kangin.
Jaejoong menarik napas panjang.
"Kau... Kita... Mengambil kesimpulan yang salah tentang Ryeowook." dengan cepat Jaejoong membentangkan artikel itu di meja Yesung, "Baca ini."
Yesung melirik artikel itu, semula tidak tertarik, tetapi kemudian mengenali gambar di artikel itu sebagai Ryeowook, lebih muda beberapa tahun, tapi dia tak mungkin salah.
"Apa yang... Oh Tuhan!" baru separuh artikel yang dibacanya, tetapi dia pucat pasi. Dengan gemetar dia membaca artikel itu. Membacanya berulang-ulang kemudian, mencoba mencari kesalahan. Tapi kebenaran yang tertulis di sana tak terbantahkan lagi.
"Benar Yesung, keluarga Ryeowook, kedua orangtuanya terenggut pada kecelakaan yang sama di jalan tol, kecelakaan yang sama yang menewaskan Yunho", mata Jaejoong berkaca-kaca ketika kenangan itu kembali.
"Oh Tuhan!" Yesung berpegangan pada meja untuk menopang tubuhnya, Ini sebabnya Ryeowook selama ini sebatang kara dan sendirian?
"Kedua orang tua saya sudah meninggal dunia, saya hidup sendirian" itu jawaban Ryeowook waktu gadis itu terpaksa menumpang mobilnya di pagi yang hujan.
Lalu uang tiga ratus juta dan hutang puluhan jutanya di perusahaan itu... Sekali lagi Yesung mengernyit.
"Tunangannya, Donghae, masih terbaring koma sejak kecelakaan itu. Ryeowook berjuang mati-matian untuk mempertahankan hidupnya. Hutang-hutangnya di rumah sakit mungkin untuk membiayai biaya perawatan Donghae, dan hutangnya kepadamu tiga ratus juta mungkin karena gadis itu putus asa," Jaejoong memandang Yesung, dan tiba-tiba merasa kasihan, Yesung tampak hancur berkeping-keping, "Aku menelepon rumah sakit tempat Donghae dirawat Yesung, Donghae saat itu harus menjalani operasi pengangkatan ginjal karena salah satu ginjalnya rusak akibat obat-obatan yang terus menerus... biaya operasi itu sangat mahal, hampir mencapai tiga atus juta rupiah... Mungkin itu alasan Ryeowook menjual dirinya padamu, gadis itu putus asa."
Yesung memejamkan matanya, mengingat hari berhujan dimana Ryeowook membuat penawaran gila itu padanya. Bagaimana mungkin dia dulu tak menyadarinya? Waktu itu Ryeowook memang terlihat putus asa, panik dan putus asa.
"Kangin bercerita bahwa Ryeowook hilang seharian di hari minggu dan kalian mencarinya kemana-mana," Jaejoong mengedikkan bahunya pada Kangin yang hanya diam dan menundukkan kepalanya, "Itu hari di mana operasi Donghae dilaksanakan."
Sebuah hantaman lagi yang menerjang Yesung. Dia mengernyit, rasanya berat sekali ketika dia sudah berpegang teguh pada suatu keyakinan bergitu lama tapi kemudian dihancurkan begitu saja.
Ryeowook gadis baik-baik. Dia bukan gadis bermoral rendah seperti dugaannya selama ini. Pantas saja waktu itu dia masih perawan. Keperawanan yang seharusnya untuk tunangan yang dicintainya dikorbankannya. Yesung langsung disengat rasa cemburu yang tajam. Ryeowook pasti begitu mencintai tunangannya kalau sampai berjuang mati-matian seperti itu.
"Kecelakaan itu terjadi hanya beberapa hari sebelum pernikahan mereka Yesung," Jaejoong menoleh secara terang-terangan kepada Kangin, "Biarkan Kangin yang menjelaskan sisanya kepadamu."
Yesung menoleh kepada Kangin dengan muram, masih terbayang adegan ciuman waktu itu di matanya. Dan kemarahannya langsung membara, kalau begitu kenapa Ryeowook ada di pelukan Kangin dan Kangin bilang Ryeowook rela menjual diri padanya?
"Waktu itu semua sudah kurencanakan, Yesung," gumam Kangin pelan seolah bisa membaca pikiran Yesung, lalu mengernyit ketika menerima tatapan menusuk itu lagi, "Aku... Waktu aku mendampingimu mencari Ryeowook yang menghilang waktu itu, aku melihat betapa emosionalnya dirimu, itu menggangguku karena kau berubah, tidak seperti biasanya, aku berpikir Ryeowook telah menimbulkan pengaruh buruk padamu... Jadi aku mengambil keputusan... aku merekayasa semuanya... Ciuman itu adalah paksaan dariku... Ryeowook sama sekali tidak sukarela, dia menolakku sekuat tenaga. Dia memanggil namamu..."
Yesung langsung merangsek maju dengan marah, tanpa diduga. Langsung meraih kerah kemeja Kangin. Tak peduli tubuh Kangin yang memar dan lebam akan kesakitan menerima sentuhan seringan apapun.
"Brengsek kau Kangin! Brengsek kau! Aku mempercayaimu!" Yesung menggeram di antara ke dua giginya, "Kau tahu malam itu aku memperlakukannya sebagi pelacur rendahan?! Aku memperkosanya!"
"Yesung, tenanglah dulu", gumam Jaejoong hati-hati, berusaha membuat Yesung melepaskan cengkeramannya dari kerah baju Kangin, "Kau menyakiti Kangin, tidakkah kau sadar kau sudah cukup menyakitinya kemarin? Lepaskan dia Yesung", bujuknya lembut.
Yesung bergeming, sejenak seolah-olah akan menghajar Kangin, tapi kemudian dia melepaskan lelaki itu dengan kasar.
"Harusnya kubunuh saja kau sekalian!", desisnya geram sambil mengacak rambutnya.
Lalu sebuah pertanyaan merasuk di benaknya.
"Kenapa harus Ryeowook yang menanggung seluruh biaya perawatan Donghae? Kenapa bukan keluarga Donghae?"
"Donghae tidak punya keluarga." Kangin yang menyahut setelah berhasil meredakan napasnya yang terengah karena perlakuan kasar Yesung tadi, "Dia pengacara juga, kebetulan aku mengenalnya", suaranya tertelan melihat tatapan bermusuhan Yesung, tapi dia bertekad melanjutkan, " Sebenarnya aku tidak begitu mengenalnya, tetapi Donghae cukup terkenal di kalangan profesi kami karena reputasi baiknya, aku... Eh... Melakukan penyelidikan singkat tadi dan mendapati bahwa Donghae dibesarkan di panti asuhan, dia sebatang kara... karena itulah kabar setelah kecelakaan yang menimpanya menjadi simpang siur, dia menghilang begitu saja dan gosip yang beredar mengatakan Donghae sudah meninggal, tidak ada yang tahu bahwa sebenarnya Donghae masih hidup dan ada dalam kondisi koma", Kangin menatap Yesung sungguh-sungguh, "Aku menyesal dan aku meminta maaf Yesung. Aku memang bodoh dan gegabah, aku juga menyesal setengah mati"
Yesung tercenung. Lama tidak mengatakan apa-apa. Sejenak ruangan itu begitu hening.
"Yesung, mungkin lebih baik kita melepaskan Ryeowook, sudah cukup berat beban yang dia tanggung," gumam Jaejoong pelan memecah keheningan. Lalu dia berubah ragu-ragu dan berhati-hati dengan reaksi Yesung, "Mengenai hutang-hutang Ryeowook baik kepadamu dan kepada perusahaan, aku bersedia menggantinya."
"Tidak."
"Tidak?" Jaejoong mengernyit mendengar gumaman pelan Yesung itu.
"Tidak akan kulepaskan. Aku tidak peduli dengan uang itu. Ryeowook tidak akan kulepaskan."
"Yesung!", Jaejoong mengernyit jengkel. "Hentikan! Kau tidak tahu betapa banyak penderitaan yang ditanggung Ryeowook selama ini! tidak bisakah kita biarkan dia tenang bersama tunangannya? Lagipula kau bisa mencari wanita lain untuk memuaskanmu bukan? Kau bisa mendapatkan pengganti Ryeowook dalam beberapa menit!"
Yesung mengusap wajahnya, tampak begitu menderita.
"Tidak, aku tidak bisa Jaejoong." erangnya parau.
Mata Jaejoong melebar melihat ekspresi Yesung, tidak pernah sebelumnya Jaejoong melihat Yesung begitu penuh emosi. Apakah ini berarti Yesung benar-benar mencintai Ryeowook?.
"Dia punya tunangan Yesung, jangan lupa, semua yang dilakukannya adalah demi menyelamatkan Donghae."
Kebenaran itu menyakiti hati Yesung, sengatan cemburu itu kembali melukainya.
"Kalau begitu aku akan membuatnya memilihku," mata Yesung penuh tekad, "Dimana alamat rumah sakitnya?".
