"Hallo? Sakura?"
"Ah, hai Karin, to the point saja ya. Yamanaka Ino siapanya kau?"
"Um, Ino itu- "
TING TONG
"SAKURAA?"
Daisuki Summer and you
A Naruto Fic
Disclaimer Naruto : Masashi Kishimoto
Pair : Sasuke Uchiha and Sakura Haruno
Rate : Teen
Romance/Hurt/Comfort
Warning : DLDR(!), OoC, AU, Typo(s), gaya penulisan aneh, cerita suka-suka gua.
Sakura mendengus pelan, "Menganggu saja."
"Nanti ku telepon lagi."
Klik.
Karin yang berada diseberang telepon menghela nafas lega, dia tidak ingin Sakura mengetahui siapa Ino sebenarnya, Karin tak ingin Sakura terlibat makin jauh kedalam masalahnya dengan Ino yang belum reda hingga detik ini. Sebenarnya Karin juga kasihan dengan sepupu pink-nya itu, gara-gara dirinya Sakura berurusan dengan Ino, miris batin Karin mendengar penuturan Hinata kemarin melalui telepon tentang pem-bully-an yang dilakukan Ino terhadap Sakura, sekarang Karin mengerti Ino bermaksud balas dendam padanya melalui Sakura. Tapi, bagaimana bisa Ino tahu kalau Sakura adalah sepupunya? Karin berusaha mem-flashback masalalunya dimana dirinya dan Ino masih berteman baik, Karin mendesis, ia baru ingat kalau ia sering menggembor-gemborkan soal Sakura keteman-temannya, dan menunjukkan foto Sakura kepada mereka. Cih! Baka!
Karin tercenung sejenak, Kenapa Sakura tiba-tiba menanyakan perihal Ino? Jangan-jangan dia sudah tahu?! Hell!
Itachi berjalan menyusuri koridor rumahnya, berniat kegudang mencoba mencari skate board zaman dirinya SMA, sore-sore ber-skate tidak burukkan? Tap, langkahnya terhenti ketika melihat si adik duduk membelakanginya di pinggiran lantai koridor yang cukup tinggi itu. Tak biasanya adiknya satu ini melamun. Diurungkannya sejenak niat awalnya, perlahan didekatinya Sasuke, Itachi ikut duduk di samping Sasuke.
"Itachi?"
"-nii,"
Sasuke mendengus, selalu begini setiap dia memanggil orang yang lebih tua empat tahun darinya itu, pasti Uchiha berkuncir itu selalu menambahkan embel-embel yang menurutnya tidak penting.
"Ada apa?" tanya Sasuke.
"Kau yang ada apa?" Itachi mendorong – dorong dahi Sasuke menggunakan telunjuknya.
Uchiha muda itu mendengus, disentakkannya tangan Itachi agak kasar, "Bukan urusanmu! Sana pergi!"
"Haahh~.. dasar adik payah. Kusumpahi masalahmu makin rumit." Ucap Itachi sambil melengos pergi kembali ke tujuan awalnya –gudang.
"Sial,"
Cklek.
"Sakura, kenapa lama sekali sih buka pintu doang?" Cerocos Temari sambil melenggang memasuki rumah Sakura di ikuti Tenten dan Hinata dibelakangnya.
Setelah mempersilahkan duduk ketiga sahabatnya itu, lalu beranjak kedapur mengambil tiga cawan teh hangat, Sakura mengambil posisi duduk di sofa single yang biasa didudukinya ketika menerima tamu.
"Jadi?" tanya Sakura ambigu, seraya memperhatikan satu-persatu sahabatnya yang masing-masing berpakaian manis dengan jaket sebagai pelindung dari udara musim gugur.
"Ayo Shopping!" Ucap Temari dan Tenten bersamaan.
"Sudah kuduga." Tenten yang mendengarnya hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Gadis musim semi itu lekas kembali kekamarnya untuk berganti pakaian.
Sasuke menatap pantulan dirinya di cermin yang ada dikamar mandinya, pemuda bermarga Uchiha ini menjambak rambutnya geram, fikirannya masih saja mengulang pada kejadian dimana Sakura menyatakan cinta padanya, Sasuke merasa dirinya adalah laki – laki paling jahat yang sudah membiarkan sahabat baiknya – orang yang mencintainya menanggung kesakitan hati akibat sikapnya yang terlalu mengabaikan keberadaan gadis pink itu semenjak kedekatannya dengan Ino. Tapi, dilain sisi Sasuke juga merasa dirinya tidak bersalah atas Sakura, salah gadis itu sendiri tidak menyatakan perasaannya sejak awal, fikir Sasuke.
Kheh, apa jika gadis itu menyatakan cintanya sejak lama kau akan menerimanya?
Air shower masih mengucur mengiringi kegiatan mandinya yang sebenarnya sudah selesai, diambilnya handuk berukuran kecil untuk mengeringkan rambutnya lalu keluar dari kamar mandi, bergegas untuk berangkat sekolah.
Ternyata benar, apa yang ditakutkanya tentang pemuda yang Sakura cintai berpacaran dengan Ino. Sedari tadi Karin hanya melamun dalam perjalanannya menuju Tokyo Gakuen – sekolahnya – Karin semakin cemas dengan keadaan Sakura, mungkin sebentar lagi puncaknya. Batin Karin. Gadis berkacamata itu mengepalkan tangannya kuat – kuat, sekarang dia harus siap dengan apa yang akan Ino lakukan nantinya, Karin tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu dengan sepupunya yang malang itu, padahal gadis itu – Sakura – sedang menata hidupnya yang tenang tanpa gangguan bersama pemuda yang dicintainya, tapi lihatlah sekarang, semuanya kacau. Apa yang telah sepupunya tata rapi kini berantakan. Jika ditanya siapa penyebab semuanya, sudah jelas yang paling salah adalah dirinya, tapi Ino juga turut andil dalam masalah ini.
Mengingat tentang rencananya dengan Hinata, karin tersenyum optimis, Karin yakin semuanya akan baik – baik saja, Sakura akan baik – baik saja, yah~ walaupun Karin tahu Ino pasti sedang menyiapkan rencana untuk sakura. Jangan sampai kali ini Ino mengulangi perbuatannya yang dulu.
"Ino.. Kuso!"
"Etto, Temari, uangku ketinggalan di tas aku ambil dulu. Kau tunggu disini bentar," gadis bercepol dua itu langsung ngacir kekelasnya dilantai tiga mengambil uang jajannya.
"Dasar pikun! Kalau lama aku tinggal!" Teriak Temari kesal.
Bel istirahat pertama sudah berbunyi sepuluh menit lalu, siswa kelas XII IPA 2 itu sudah pergi kekantin untuk mengisi perut mereka yang lapar, hingga menyisakan dua orang pemuda didalamnya Naruto dan Sasuke. Mata kelam milik adik Itachi Uchiha itu menatap sinis sahabat pirangnya yang tengah berjalan kearahnya, Naruto berdiri didepan Sasuke.
"Dobe." Cetusnya.
Tenten sampai didepan kelasnya, tangannya meraih gagang pintu tapi tertahan ketika mendengar suara bariton yang dikenalinya, Sasuke. Takut – takut Tenten mengintip dari jendela, dilihatnya Naruto berdiri dihadapan Sasuke.
Gigi sang Uzumaki itu bergemeletuk, Shappire Naruto balas menatap tajam onyx Sasuke. Tangannya mengepal erat.
"Aku kasihan padamu," Ucapan Naruto barusan sukses membuat mata Sasuke melotot. Sasuke belum mau membuka suara, masih menantikan kelanjutan ucapan si pirang didepannya itu.
"Kau lebih memilih gadis yang baru kau kenal beberapa minggu daripada sahabatmu yang sudah kau kenal lama, hahaha menyedihkan, sahabat macam apa kau?" Naruto tertawa mengejek.
Brakk
Sasuke menggebrak mejanya, pemuda berusia tujuh belas tahun itu mulai tersulut emosinya, Sasuke bukan merupakan orang yang diam saja ketika diejek, apalagi orang yang mengejeknya adalah sahabatnya sendiri – Naruto.
Tangan kekarnya mencengkeram kerah seragam Naruto, membuat pemuda pirang itu berjinjit condong kedepan.
"Kau tidak tahu apapun, jadi tak usah ikut campur urusanku." Sasuke melepaskan dengan kasar cengkeramannya, membuat Naruto terhuyung kebelakang. Perlahan Sasuke berjalan meninggalkan sosok Naruto yang masih berdiri ditempatnya.
"Aku lebih tahu yang sebenarnya daripada kau! Ino adalah murid pindahan dari Tokyo Gakuen, dia diberhentikan dari sekolah bertaraf Internasional itu karena kasusnya yang hampir menyebabkan nyawa temannya melayang, Ino tidak boleh lagi tinggal di Tokyo keluarga korban mengancam akan melaporkan Ino ke kantor polisi kalau Ino masih berada di Tokyo. Ino juga pernah membully Sakura, sampai terpaksa Sakura memotong rambutnya yang sengaja Sakura panjangkan, setelah ia mendengar kalau kau menyukai gadis berambut panjang," pemuda pirang itu terengah, Naruto tahu percuma omong panjang Uchiha itu tak akan peduli.
"..."
Gadis musim semi itu hanya menatap kosong novel yang dipegangnya, fikirannya masih dipenuhi bayang – bayang Sasuke, cara pria itu tersenyum dan tertawa kepadanya, raut kesalnya, sikap jahil yang sering membuatnya merona, ciumannya dimalam festival Tanabata, tamparan serta bentakan pemuda itu terhadapnya. Dirasakan pandangannya mengabur terhalang genangan likuid bening yang entah sejak kapan berkumpul diiris emeraldnya. Lekas di sekanya sebelum air mata sialan itu mengalir ke pipinya.
"Sasuke..."
Minuman yang dipesannya tak tersentuh sama sekali, sebenarnya tadi Sakura ditemani Gaara duduk dikantin, tapi pemuda berambut merah itu segera pergi dikarenakan urusan OSIS yang masih belum selesai. Tak ingin berlarut – larut dalam nostalgianya yang menyakitkan. Sakura melanjutkan lagi membaca Novelnya.
Sasuke terdiam membisu mendengar perkataan Naruto, Sasuke tidak tahu harus mempercayai kekasihnya atau Naruto. Sasuke masih belum berniat beranjak dari posisinya.
"Sampai sekarang Ino masih menaruh dendam kepada gadis yang hampir mati karenanya dan sahabatnya yang memberitahu guru kalau dia pelakunya, yaitu Karin – Sepupunya Sakura. Maka dari itu Ino berusaha membalas dendamnya pada Karin melalui Sakura." Mata kelam Sasuke membulat menengar penuturan si jabrik Naruto.
Sasuke tertawa sinis, tangannya sudah mengepal erat. "Ha ha, jangan mengarang! Tanganku tak segan menonjok mulut kotormu itu!"
"Cih. Sebentar lagi puncaknya, kelak kuharap kau tak menyesal. Aku benar – benar kasihan padamu, Sasuke." Naruto meninggalkan Sasuke yang menatapnya garang, Dasar buta! Gumam Naruto sambil berlalu.
Tenten masih ditempatnya mengintip, untung dikoridor ini sepi. Gadis keturunan China itu tak mengerti apa yang dibicarakan kedua sahabat yang sedang berselisih itu, Ino membully Sakura? Karin? Siapa itu? Tokyo? Puncaknya? Mungkin dia harus tanyakan kepada Hinata, mungkin saja Hinata tahu masalah ini mengingat dia pacar Naruto yang sekarang sedang adu mulut dengan Sasuke, fikirnya. Tenten lalu melanjutkan acara mengupingnya kembali, mata cokelat Tenten membulat saat melihat Naruto berjalan menuju pintu, langsung saja gadis itu ambil langkah seribu, terlupakan sudah niat awalnya.
"ARRRGH!"
BUGH!
Sasuke memukul keras mejanya, tak dihiraukannya rasa sakit pada bagian tangannya yang sekarang mulai membengkak. Kepalanya serasa mau pecah setelah dijejali si pirang Naruto tentang latar belakang Ino yang entah benar atau tidak. Pemuda itu terduduk lemas dibangkunya nafasnya memburu, dia kesal, dia marah, marah pada dirinya sendiri. Dia terlalu sibuk dengan dunia barunya bersama Ino, tak dihiraukannya sahabat sekaligus orang yang mencintainya sejak kecil, entah sudah berapa banyak luka yang ia torehkan kepada Sakura secara tak langsung. Aku harus bagaimana sekarang?! Jeritnya dalam hati.
"Sakura..."
"Lama – lama bisa lumutan aku disini, nekat banget sih ambil uang jajan kekelaskan jauh, baka!" umpat Temari kesal tanpa basa – basi di tinggalkannya Tenten, langsung menuju kantin.
"Eh, itu kan Sakura, kesana ah~" Gadis berkuncir empat itu baru saja melangkahkan kakinya kearah Sakura, namun terhenti ketika melihat Ino dan Shion menghampiri gadis musim semi yang tengah asyik membaca Novel kesukaanya.
Temari bersembunyi dibalik dinding kantin, ditajamkannya pendengaran untuk mengetahui apa yang dibicarakan Ino dengan Sakura.
Kedua gadis berambut pirang itu berdiri disamping bangku Sakura, sebenarnya malas juga sih Sakura meladeni Ino, merasa Ino tak beranjak mau tak mau Sakura menoleh.
"Ada ap – "
"Istirahat kedua kutunggu didekat kolam renang," usai mengucapkan itu Ino dan Shion berlalu entah kemana.
Alis gadis musim semi itu bertaut bingung, Ino menunggunya didekat kolam renang? Mau apa dia? Terlalu malas menerka – nerka apa yang akan Ino lakukan padanya, Sakura berjalan meninggalkan kantin, bel masuk sudah berbunyi. Temari pun kembali kekelasnya.
Siswa – siswi kelas XI IPA 2 itu baru saja selesai pelajaran Sejarah, Bel istirahat kedua pun sudah berbunyi, Ino dan Shion langsung melesat kearah gedung kolam renang sekolahnya, menunggu Sakura disana. Sasuke yang melihat Ino keluar dari kelas tak ambil pusing, Uchiha bungsu itu hanya terdiam dibangkunya.
Sakura langsung keluar dari kelasnya menuju gedung kolam renang, dengan santai Sakura berjalan, tapi entah mengapa perasaannya tak enak, Sakura menggelengkan kepalanya mengusir jauh perasaan itu, Ia yakin semuanya akan baik-baik saja.
Dia sudah sampai didekat gedung kolam renang, dilihatnya Ino dan Shion sudah menunggunya sambil tersenyum sinis. Perasaannya semakin tak karuan. Kini Sakura telah berdiri dihadapan Ino.
oOo
Bel masuk berbunyi lagi, mengingat waktu istirahat kedua hanya sebentar. Siswa – siswi kelas XI IPA 2 itu langsung masuk kekelas, setelah ini mereka akan dihadapkan dengan soal – soal rumit Ulangan Kimia.
"Punya nyali juga kau datang," Ucapan Ino semakin membuat Sakura merasa aneh, jangan – jangan...
"Bagaimana pernyataan cintamu kemarin,heuh? Sukses?" Emerald Sakura membulat.
Shion berjalan mengitari Sakura lalu berhenti tepat di belakangnya. "Kenapa diam?"
"Ayo jawab!Apa kau tidak punya mulut?!" bentak Ino.
"AKH!"
Shion menjambak rambut Sakura kasar, membuat gadis musim semi itu meringis, kejadian waktu itu terulang lagi, mungkin ini akan lebih parah. Fikirnya.
"Brengsek."
"Apa kau bilang?!"
"Kau brengsek!"
PLAK!
"Cih! Aku sudah lama mencintainya. Tapi kau tiba – tiba datang mengacaukan semuanya! Apa salahku padamu?!" Sakura menahan perih disudut bibirnya yang sedikit robek akibat tamparan keras dari Ino.
"Haha, kau bertanya salahmu? Kau tidak punya salah apapun padaku, tapi justru sepupumu itulah yang sangat bersalah padaku!" emerald itu membulat, sepupu?
"K-Karin?"
Kelas itu sunyi, hanya suara detik jam dan desauan angin yang terdengar jelas, dihadapan mereka ada selembar kertas yang berisi soal – soal Kimia. Sasuke hampir selesai mengerjakan soalnya, mata hitamnya sesekali melirik kearah bangku disampingnya yang kosong, Ino tak ada. Dengan sigap Sasuke kembali mengisi lembar ulangannya, hanya butuh waktu tak lebih dari lima menit pemuda itu sudah selesai, Sasuke menyerahkan kertas ulangannya kepada sensei yang tengah duduk sambil mengawasi siswa – siswinya mengerjakan soal.
Tak lama darinya, seorang pemuda berambut nanas menyerahkan kertas ulangannya, Shikamaru. Pemuda bermarga Nara itu sangat terkenal karena kecerdasannya dikelas. Shikamaru kembali ke tempat duduknya dan langsung mengambil posisi nyaman untuk tidur. Sasuke yang melihatnya hanya mendengus pelan, ternyata sahabat nanasnya itu masih tidak bisa menghilangkan kebiasaan tidur dikelas. Sasuke perlahan – lahan mengambil smartphone dari dalam kantung celananya, dia mengetik pesan pada kontak Ino, menanyakan keberadaan gadis itu.
"Selesai bukan berarti boleh memainkan Handphone, Uchiha." Pemuda itu tersentak, Sasuke langsung memasukkan benda canggih itu kembali tempatnya semula.
"Benar. Kau tahu? Dia yang membuatku diberhentikan dari Tokyo Gakuen! Sialan kan sepupumu itu? Dan aku fikir aku terlalu jijik untuk balas dendam langsung padanya."
"Padahal Sasuke mencintaimu," Sakura berucap pelan nyaris berbisik. Hatinya terasa nyeri mengucapkan kalimat itu.
"Kalau kau mau balas dendam padaku jangan kau libatkan Sasuke. Sialan!" lanjutnya lagi, Sakura menahan air matanya. Kali ini dia tidak boleh menangis, dia sendiri yang berjanji akan melupakan cintanya pada pemuda itu.
"Jangan sok membela! Kau harusnya diam saja dan nikmati! Tidak usah banyak komentar jalang." Tangan Ino mencekik leher Sakura, gadis bermarga Haruno itu merasakan nafasnya sesak. Tangan mungilnya berusah melepaskan tangan Ino dari lehernya.
Sensei mata pelajaran Kimia itu baru saja keluar dari kelas XI IPA 2, pemuda berambut pirang itu mengutuk senseinya yang memberi soal – soal yang rumit.
"Sensei itu gila! Dia pikir otak kita ini sejenius Shikamaru dann Sakura-chan, hah?!" Teriak Naruto jengkel. Temari yang duduk didepannya berbalik menghadapnya.
"Kita? Lo aja keles." Ucap Temari alay.
Hinata yang duduk disamping Naruto langsung menengok kearah bangku Sakura ketika mendengar nama Sakura terucap. Sakura tadi tak mengikuti ulangan Kimia, kemana gadis itu? Tak biasanya dia absen apalagi ini ulangan. Tiba – tiba perasaannya jadi tak enak.
"A- ano, apa kalian melihat Sakura-chan?" tanya Hinata pelan.
"Eh? Sakura-chan tak ada?" mata shappire Naruto berpendar kepenjuru kelas mencari keberadaan gadis pink itu. Tak ada.
Temari menoleh, gadis berkuncir empat itu ingat kejadian dikantin tadi, "Sakura ada didekat kolam." Ucapnya sukses membuat Naruto, Hinata dan Tenten menautkan alis bingung.
"Sakura didekat kolam?" pemuda bermarga Uzumaki itu membeo ucapan Temari.
Temari mengangguk, "Istirahat pertama tadi aku tak sengaja mendengar percakapan Ino dan Sakura. Ino berkata pada Sakura kalau dirinya dan Shion menunggu Sakura di dekat kolam renang istirahat kedua,"
Amethyst dan Shappire membulat. "SAKURA-CHAN!"
Mendengar teriakan Naruto yang tidak bisa dibilang kecil itu membuat seluruh pasang mata kelas XI IPA 2 itu sukses mengarah padanya, tak terkecuali Sasuke.
Baru saja pasangan NaruHina itu beranjak, Temari dan Tenten sudah berdiri menghalangi mereka, "Sebenarnya apa yang terjadi antara Sakura dan Ino?" desak Tenten.
Hinata mengeluarkan Handphonenya dan langsung mengetikkan pesan singkat ke kontak Karin. "Cepatlah datang Karin. Sakura.. Ino berulah lagi," Batinnya.
"Minggir, tak ada waktu untuk bercerita! Sebaiknya kalian ikut kami, Sakura-chan gawat!" ucap Naruto panik, keempat remaja itu berlari keluar kelas untung saja sensei pelajaran Biologi sekarang tidak hadir. Tapi lagi – lagi harus terhenti karena seseorang menghalangi mereka.
Ino melepaskan cekikannya dari leher Sakura, dilihatnya gadis pink itu terbatuk – batuk akibat perbuatannya. Ino tertawa kecil, tapi dia belum puas kalau hanya membuat gadis itu terbatuk – batuk.
"Ah, Shion. Kau berhasil mendapatkan kunci gedung kolam renangkan?" Shion mengangguk.
"Bagus," Gadis bermarga Yamanaka itu menyeringai sekilas, lalu ditariknya kasar pergelangan sakura, memaksanya mengikuti tujuannya.
Ketiga gadis itu berjalan menuju gedung kolam renang, dengan sigap Shion membuka pintu masuk yang terkunci dengan kunci yang didapatnya entah dari mana. Pintu masuk pun sudah terbuka, memperlihatkan air yang tenang tertampung dalam kolam yang lumayan besar itu.
Ino menarik – narik Sakura yang berjalan lamban, gadis pink itu memberontak sesekali memakinya sambil menyentakkan tangan Ino yang kuat mencengkeram tangannya. Ino yang kesal menarik Sakura kasar menyebabkan anak tunggal Haruno itu tersandung undakan tangga keramik, lututnya mendarat duluan ke permukaan keras keramik, rasa sakit dan nyeri langsung menjalar ke seluruh kakinya.
'Kamisama, ini sakit.'
"Minggir Uchiha sial!" bentak Naruto pada orang yang menghalangi jalan meereka.
"Ada apa dengan Sakura?!" orang itu – Sasuke balas membentak Naruto, Naruto yang sedang panik itupun mulai emosi, hampir saja pipi mulus si Uchiha terkena bogem mentah dari Naruto kalau saja Tenten tidak sigap menahan tangan Naruto.
"Cih!"
"Naruto-kun kita harus cepat, Sasuke juga harus tahu yang sebenarnya." Ucapan Hinata membuat emosi Naruto mereda, pemuda pirang itu langsung menarik Hinata pergi ketujuan awal mereka.
Kelima remaja itu berlari menuju gedung kolam renang.
Ino kembali menarik Sakura masuk kedalam tempat tersebut, sampai di pinggir kolam Ino melepaskan cengkeramannya membuat gadis Haruno itu terduduk. Perasaan Sakura semakin tak enak, mau apa, mau apa Ino menyeretnya kesini? Sakura mendesis luka robek dilututnya bereaksi lagi. Emeraldnya menatap luka itu, sampai sepasang kaki jenjang berada dihadapannya, sakura mendongak lagi, dilihatnya wajah sinis Ino menatapnya rendah.
Ino menyamakan posisinya dengan Sakura, gadis pirang itu berjongkok, dicengkeramnya dagu tirus Sakura.
"Ternyata kau sama saja jalangnya dengan Karin, menyedihkan!"
CUIH!
Ino meraba pipinya kanan atasnya, berani - beraninya gadis pink itu meludahinya. Sialan! Amarahnya semakin memuncak, dijambaknya lagi rambut Sakura memaksa gadis malang itu untuk berdiri.
"BANGUN! CEPAT BANGUN DASAR JALANG!" luka dilututnya semakin nyeri karena dipaksa berdiri, desauan angin musim gugur yang melewati permukaan air kolam terasa sangat dingin menerpa tubuhnya walau sudah dibalut sweater. Ino perlahan mendekat kearahnya, tapi Sakura tetap diam, memperhatiikan gadis pirang itu.
"Kau yang JALANG!"
Kelima remaja itu sampai di dekat kolam, mereka mengatur nafas sembari melihat sekeliling mencoba mencari keberadaan gadis merah muda itu, tapi nihil.
Sasuke merasakan jantungnya berdegup kencang, ada apa ini?
"Mana? mana Sakura-chan?" ucap Naruto panik. Namun, tak lama kemmudian...
SYUUUNG
"KYAAAAAAAAAA!"
BYUURRRR
"SAKURA!" teriak Sasuke yang mendengar suara jeritan yang diiringi dengan suara benda besar yang jatuh ke air. Pemuda Uchiha itu langsung berlari ke gedung kolam renang yang tak begitu jauh dari tempatnya berdiri, diikuti dengan keempat temannya dibelakang.
Ino mendorong Sakura kedalam kolam sedalam dua setengah meter itu, Shion yang sedari tadi hanya memperhatikan Ino tercengang tak percaya apa yang dilkukan Ino barusan. Gila, Shion merasa Ino sudah gila, gadis itu sampai tega mendorong Sakura yang sudah babak belur kedalam kolam yang cukup dalam itu, apalagi ini hampir masuk musim dingin, sudah dapat dipastikan air didalamnya sangat dingin. Shion menatap karah kolam, gadis malang itu tak bergerak, semakin lama semakin tenggelam, jauh kedasar.
Sakura merasakan tubuhnya kaku, nafasnya sesak, sungguh dia menggigil. Gadis itu mencoba menggerakkan kakinya untuk berenang, tapi gagal, lututnya yang terluka tak bisa bergerak, sakitnya kembali terasa, kakinya keram, tubuhnya tiba - tiba menjadi kaku. Sakura terkena Hipotermia. Gadis itu kehilangan kesadarannya.
'Jika ada yang harus kusesali sebelum aku mati, itu masih tentangmu, tentang perasaan ini, perasaan yang masih ada sampai detik ini, detik yang mungkin menjadi detik terakhir hidupku, padahal aku sudah berjanji melupakan perasaan ini, tapi aku tetap tak bisa Sasu, sekeras apapun aku mencoba berhenti, aku tetap mencintaimu.. Ya, aku masih mencintaimu, Sasuke... - kun."
BRAKKKK!
Tbc
A/N:
Aaaaaaa! Salahkan maling yang ngerampok barang – barang kuuu! Gegara mereka aku jadi nelantarin Fic ini berbulan –bulan!
Buat readers yang udah nungguin fic ini, Kiki minta maaf, soalnya barang – barang yang menghubungkan aku dengan dumay ilang semua, dimaling orang yang ga mau kerja keras! Padahal waktu itu tinggal mau di publish chp 7nya, gegara maling sialan ini jadi mesti ngetik dari awal. #jadimalahcurcol#
yosh bales review non-login~
Yulia Vaniy : Ini lanjutannya~ makasih udah review. ^^
Riki-Chan : Hehe~ liat chapter berikutnya yaa~ makasih udah review^^
Guest 2 : Hehe~ maaf ya. lama apdet, alasannya sudah saya jelasin diatas. makasih udah review^^
Elsa : Umm, dimana - mana nyesl emang selalu datang terakhiran kan~ hehe. Okee b. makasih udah review^^
Chidori : Ahaha makasiiihh, udah bilang keren. XD yosh ini apdet.. maaf lamaa. makasih udah review~
Chibiusa : Huhuhu, masih 'agak' ya? XD yaudah nanti saya usahain buat apdet kilat. makasih udah review~^^
Guest123 : Hihih, ini lanjut ko! tapi ga kilat, maap yuaa? makasih udah review^^
Asuka-chan : Yosh~ ini udah next! makasih udah review^^
Lockets : Yap, ini apdet, umm, kira-kira sampe sepuluh atau lebih deh. *ngirangira. Ino suka sama Sasuke tapi dikiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit banget. okehh, makasih udah review~
Emeralyna : itu sudah pastiii, saya gak akan berat sebelah ko! heheh. XD. makasih udah review^^
Yang login silahkan cek PM^^
akhirkata..
REVIEW^^ YAH~
Makasihhhh~
