A Romantic Story About Ryeowook

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Genre : Romance & Drama

Rate : M

Ini adalah FF remake dari novelnya Shanthy Agatha yang judulnya "A Romantic Story About Serena". Aku Cuma mengedit nama tokoh dan sedikit latar tempat kejadian untuk keperluan cerita.

Pairing : Yewook, GS

DLDR

.

.

.

.

.

CHAPTER 13

.

.

"Dimana ruangan tempat perawatan Lee Donghae?" Yesung berdiri di depan resepsionis.

Resepsionis itu mendongak dan ternganga. Terpesona melihat penampilan dan ketampanan Yesung.

"Ruangan perawatan Lee Donghae?" Yesung mengulang jengkel karena resepsionis itu hanya menatapnya seperti orang bodoh.

"Oh... Untuk Donghae... Anda... Anda mungkin harus menemui Leeteuk dulu, beliau suster kepala penanggung jawabnya".

"Dimana?" gumam Yesung tak sabar.

"Lantai tiga, ruangan perawat nomor dua."

Tanpa basa-basi Yesung meninggalkan resepsionis yang masih ternganga itu.

Pintu itu tertutup rapat dan Yesung mengetuknya.

"Masuk" sebuah suara yang tegas terdengar dari dalam.

Yesung masuk dan langsung berhadapan dengan Leeteuk.

Leeteuk langsung menyadari siapa yang berdiri di hadapannya. Dia tidak mungkin salah mengenali.

Penggambaran Ryeowook sangat akurat. Lelaki ini memang benar-benar luar biasa tampan dengan keangkuhan yang sudah seperti satu paket dengan auranya.

"Apakah anda akhirnya berhasil menemukan kebenaran?" gumam Leeteuk langsung tanpa basa-basi.

Yesung mengernyit mendengar sapaan pertama Leeteuk yang sama sekali tidak diduganya. Tapi dia lalu teringat telepon di tengah malam yang tanpa sengaja dia angkat. Penelepon itu mengatakan dirinya adalah Leeteuk.

"Ya," Yesung mengakuinya pelan, "Anda sudah tahu semuanya?"

"Semuanya, dan pertama, sebelum anda menghina Ryeowook lagi. Saya akan jelaskan kepada anda, semalam Ryeowook datang kepada saya, dengan kondisi mengenaskan. Mental dan fisik yang rapuh, dan dia bilang ingin melepaskan diri dari anda, menurut saya itu wajar mengingat perlakuan anda padanya," Suster Leeteuk menatap Yesung dengan pandangan mencela yang terang-terangan hingga

wajah Yesung merona, "Uang yang dia pakai untuk melunasi anda, itu adalah uang pinjaman dari saya dan beberapa staff rumah sakit lain, bukan uang hasil menjual dirinya kepada lelaki lain seperti apa yang anda tuduhkan kepadanya tadi pagi."

Sebuah kebenaran lagi. Lebih keras daripada tamparan di pipi, lidah Yesung terasa kelu.

"Saya ingin bertemu Ryeowook" gumam Yesung akhirnya.

Leeteuk mengangkat alisnya.

"Untuk apa? Ketika hubungan hutang piutang itu lunas. Tidak ada lagi perlunya kalian bertemu, lagi pula saya tidak yakin Ryeowook bersedia menemui anda."

"Tidak ada hubungannya dengan uang! Saya tidak peduli dengan uang!" Yesung hampir berteriak, lalu berdehem berusaha meredekan emosinya, "Saya harus bertemu dengan Ryeowook, meminta maaf, saya tahu selama ini saya salah..."

"Anda bisa menyampaikan permintaan maaf anda melalui saya" sela Leeteuk tegas.

Yesung mengernyit.

"Saya mohon... Saya harus bertemu dengan Ryeowook, saya butuh bertemu dengan Ryeowook."

Leeteuk mengamati lelaki yang berdiri di hadapannya. Lelaki ini terlalu tampan, terlalu kaya sehingga wajar dia tampak begitu arogan. Tapi sekarang Yesung tampak begitu menderita, dan dia rela memohon agar bisa bertemu Ryeowook. Leeteuk menarik napas, ketika sebuah kesimpulan muncul di benaknya.

Lelaki ini sedang jatuh cinta.

Bagaimana mungkin dia menolak permintaan Yesung? Kalau saja Yesung hanya lelaki sombong yang menginginkan bayaran setimpal atas apa yang diberikannya kepada Ryeowook, Leeteuk akan mengusirnya tanpa ragu. Tapi Yesung yang ada di depannya ini tampak begitu kesakitan menanggung rasa bersalah, tampak remuk redam di dera perasaannya sendiri. Lelaki ini sama menderitanya dengan Ryeowook. Bagaimana mungkin Leeteuk tega mengusirnya?.

"Tapi tolong jangan menyakiti Ryeowook lagi jika kalian bertemu nanti, jangan memaksanya..." mata Leeteuk melembut membayangkan Ryeowook, "Sudah cukup beban yang ditanggung anak itu."

"Saya berjanji." Yesung menjawab yakin.

Sekilas Leeteuk mencuri pandang ke arah Yesung. Dan tersenyum ketika mendapati ekspresi Yesung ikut melembut karena membayangkan Ryeowook.

Ah Ryeowook, Lelaki ini benar-benar sedang jatuh cinta...

.

.

Ruangan itu hening terletak di lorong paling ujung. Dan Ryeowook hanya berdiri di depan ruang perawatan sambil menatap melalui jendela kaca lebar yang membatasinya dengan Donghae, saat ini bukan jam besuk dan Ryeowook tidak boleh masuk.

Pikiran Ryeowook terasa berat, dia tidak punya pekerjaan sekarang. Leeteuk dan yang lain-lain bilang akan membantu, tetapi Ryeowook tidak mungkin menggantungkan hidupnya pada bantuan orang lain terus menerus, apalagi dengan biaya perawatan Donghae yang begitu mahal yang harus ditanggungnya setiap bulannya...

Dengan sedih Ryeowook menatap Donghae, lelaki itu masih terbaring dalam kedamaian yang sama, begitu pucat, hanya bunyi mesin-mesin penunjang kehidupan itulah yang menunjukkan kalau masih ada harapan hidup yang tersimpan di sana.

Ryeowook mengusap air mata di sudut matanya.

Ah Donghae... Sampai kapan kau tertidur begini? Aku merindukanmu kau tahu. Aku membutuhkanmu. Saat ini aku tidak mengerti dengan perasaanku sendiri, aku takut jika kau tidak segera bangun nanti aku akan...

Saat itulah Yesung masuk, diantarkan oleh Leeteuk di belakangnya. Perasaan sedih yang aneh menyeruak di dada Yesung ketika dia melihat Ryeowook menatap Donghae yang terbaring di balik kaca dengan tatapan sendu.

"Ryeowook..." Yesung bergumam pelan, mendadak dikuasai keinginan yang dalam untuk mengalihkan perhatian Ryeowook dari Donghae.

Suaranya seperti menyentakkan Ryeowook hingga gadis itu menoleh kaget. Wajahnya langsung pucat pasi, tidak menduga bahwa Yesung akan muncul disini, matanya menatap Leeteuk meminta pertolongan.

"Dia datang disini untuk berbicara Ryeowook, dan dia sudah berjanji tidak akan melakukan atau mengatakan sesuatu yang akan menyakitimu," gumam Suster

Leeteuk lembut, menyadari kegelisahan yang dirasakan Ryeowook, dia lalu mengamit lengan Ryeowook, "Mari, kuantar kalian ke ruanganku di mana kalian bisa berbicara dengan tenang, aku akan meninggalkan kalian di sana."

Seperti kerbau yang di cocok hidungnya, Ryeowook hanya mengikuti ketika di tuntun ke ruangan Leeteuk, sedangkan Yesung hanya mengikuti di belakang dalam diam.

Ruangan tetap hening lima menit kemudian ketika Leeteuk menutup pintu ruangan dari luar.

"Aku minta maaf." gumam Yesung dengan lembut akhirnya.

Ryeowook bersedekap, seolah ingin melindungi dirinya.

"Ya... Sudah di maafkan... Sekarang... Sekarang bisakah kau pergi?" Ryeowook mulai menahan tangisnya. Yesung telah benar-benar melukai hatinya, kehadiran lelaki itu sekarang, berdiri di depannya, menatapnya dengan begitu lembut, benar-benar membuat emosinya bergejolak.

"Aku tidak tahu tentang semua ini Ryeowook, baru tadi Jaejoong mengungkapkan kebenaran di depanku. Aku tidak tahu. Tidakkah itu bisa membuat semuanya sedikit dimaklumi?" sambung Yesung pelan. "Selama ini aku salah paham, aku berpikiran buruk tentangmu dan semakin memupuknya dari hari ke hari. Itu... Itu juga menyiksaku, antara dorongan untuk menyayangimu atau menghukummu karena jauh dilubuk hatiku aku mengira aku hanya dimanfaatkan," Yesung mengerjapkan matanya pedih, "Kalau aku tahu tentang semua ini, segalanya akan berbeda Ryeowook."

Ryeowook memejamkan matanya. Mau tak mau permintaan maaf Yesung yang begitu tulus itu mulai menyentuh hatinya. Yesung memang tidak bisa disalahkan. Dia tidak tahu. Lagipula apa yang harus dipikirkan Yesung tentang gadis yang melemparkan diri padanya demi uang selain bahwa gadis itu adalah pelacur?

"Aku... Aku mengerti... tidak apa-apa, pilihanku juga untuk tidak mengatakan ini semua kepadamu," suara Ryeowook terdengar serak. "Dan apapun konsekuensinya aku sudah bersedia menanggungnya... Jadi kita impas."

Yesung menatap Ryeowook sedih.

"Ryeowook... Aku..." Yesung mengulurkan tangan hendak meraih Ryeowook, tapi lalu tertegun ketika Ryeowook mundur seperti ketakutan.

Kesadaran itu menghancurkan Yesung, kesadaran bahwa Ryeowook takut dengan sentuhannya, mungkin akibat kekasarannya semalam.

Yesung mengusap rambutnya dengan kasar.

"Aku... Mungkin semua sudah terlambat. Tapi aku harus mengatakannya... Aku mencintaimu Ryeowook, mungkin kau bertanya-tanya kenapa. Tapi aku juga tidak bisa menjawabnya. Aku juga baru menyadarinya. Itu terjadi begitu saja,"

Yesung menatap Ryeowook yang hanya termangu dengan wajah pucat pasi, "Tapi sekarang itu tak penting lagi bukan? Kesalahanku tidak bisa di maafkan semudah itu. Dosaku terlalu besar."

Dengan ragu Yesung melangkah ke arah pintu, terdiam sejenak.

"Semua hutangmu anggap saja sudah lunas. Aku tidak akan menuntut apapun darimu, aku akan menjauh darimu dan kau tidak perlu takut harus menghadapiku lagi. kau bebas sebebas-bebasnya. Dan kalau kau masih mau bekerja di perusahaanku. Aku akan sangat senang... Tapi aku tidak akan

memaksa. Aku sudah terlalu sering memaksakan kehendakku padamu. Sekarang tidak akan lagi," punggung Yesung tampak tegang, "Selamat tinggal Ryeowook." gumamnya pelan sebelum membuka handle pintu.

Ryeowook termangu menatap punggung yang begitu tegang itu. Pernyataan cinta Yesung begitu mengejutkannya hingga dia tidak bisa mengatakan apa-apa, memang Yesung telah menyakitinya, tapi ada saat-saat dimana Yesung berhasil membuat hatinya terasa hangat. Dan kalau dipikir-pikir, selama kebersamaan mereka itu. Tidak pernah sekalipun Yesung menyakitinya dengan sengaja, kecuali saat kemarahan menguasainya kemarin.

Sekarang ketika Ryeowook menatap punggung Yesung, yang tampak begitu tegang sekaligus rapuh. Sebuah perasaan hangat menyeruak ke dalam hatinya, sebuah perasaan yang bertumbuh pelan tanpa dia sadari.

"Yesung," Ryeowook bergumam pelan, tapi cukup untuk membuat Yesung membatu di tempat. Tetapi lelaki itu tidak menoleh, hanya berdiri di sana. Membeku seperti patung.

"Yesung." kali ini Ryeowook mengulang lagi, lebih lembut sehingga Yesung menoleh menatap Ryeowook.

Entah karena mata Ryeowook yang menatapnya penuh kelembutan, Entah karena Yesung pada akhirnya sudah tidak bisa menahan perasaannya lagi. Ryeowook tidak tahu, yang pasti ekspresi Yesung berubah seketika.

Dia membalikkan tubuh. Menatap Ryeowook ragu-ragu. Dan ketika dilihatnya Ryeowook membuka lengan menyambutnya, Yesung mengerang. Kemudian melangkah tergesa ke arah Ryeowook, tersandung-sandung menghampiri Ryeowook.

Sejenak mereka berdiri berhadapan. Lalu Yesung jatuh berlutut dan memeluk pinggang Ryeowook, membenamkan wajahnya di perut Ryeowook. Napasnya tersengal menahan perasaan.

Dengan lembut Ryeowook memeluk dan mengelus rambut Yesung.

"Aku mencintaimu," Yesung berbisik dengan suara parau, wajahnya masih terbenam di perut Ryeowook, "Entah sejak kapan aku mencintaimu. Mungkin sejak pertama kali aku melihatmu, aku..." napas Yesung tersengal, "Aku mungkin manusia paling kejam, paling jahat... tapi aku... Aku tidak..."

"Yesung," sekali lagi Ryeowook berbisik lembut. Yesung mendongakkan wajahnya dan menatap Ryeowook, wajah Ryeowook penuh air mata, dan tiba-tiba mata Yesung terasa panas.

"Jangan menangis," Tiba-tiba Yesung berdiri dan merengkuh Ryeowook ke dalam pelukannya, memeluknya erat-erat, "Jangan menangis lagi, aku bersumpah tidak akan pernah membiarkanmu menangis lagi."

Ryeowook memeluk Yesung erat-erat. Permintaan maaf Yesung dan kelembutan sikapnya meluluhkan hatinya, menumbuhkan perasaan baru di dalam hatinya, mereka telah begitu dekat selama ini, kedekatan yang dipaksakan, tetapi mau tak mau telah membuka pembatas yang selama ini ada di hati Ryeowook.

Lama mereka berpelukan, dalam keheningan. Ryeowook menumpahkan tangisnya di pelukan Yesung dan lelaki itu memeluk Ryeowook erat-erat, membenamkan wajahnya di rambut Ryeowook.

Setelah tangis Ryeowook mereda, Yesung mengangkat dagu Ryeowook agar menghadap ke arahnya, mengusap air mata di pipi Ryeowook dengan lembut.

"Pulanglah bersamaku, kembalilah bersamaku Ryeowook, bukan karena uang tiga ratus juta itu. Aku ingin kau melupakan masalah hutang itu, aku ingin kau bersamaku karena kemauanmu sendiri. Pulanglah bersamaku Ryeowook, kita mulai lagi semuanya dari awal... Dan jika... Dan jika..." Yesung menarik napas, menahan perasaannya, "Jika kau memang belum mencintaiku, aku akan menunggu. Bahkan aku tidak akan menyentuhmu kalau kau tidak mau, aku tidak akan memaksakan kehendakku, kau bisa tenang. Aku... Aku hanya ingin kau ada di tempat dimana aku bisa melihatmu setiap hari."

Ryeowook menatap Yesung, dan melihat ketulusan di sana, melihat cinta di sana yang tidak di tahan-tahan lagi.

Dia baru membuka mulutnya untuk menjawab ketika pintu ruangan itu terbuka.

Leeteuk membuka pintu, terlalu panik dan terengah-engah untuk merasa malu ketika menemukan Yesung dan Ryeowook sedang berpelukan.

"Ryeowook!" Leeteuk berusaha menormalkan nafasnya, dia tadi setengah berlari ke sini, "Cepat! Cepat ikuti aku ke ruang perawatan! Donghae sadar! Dia terbangun dari komanya!".