A Romantic Story About Ryeowook

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Genre : Romance & Drama

Rate : M

Ini adalah FF remake dari novelnya Shanthy Agatha yang judulnya "A Romantic Story About Serena". Aku Cuma mengedit nama tokoh dan sedikit latar tempat kejadian untuk keperluan cerita.

Pairing : Yewook, GS

DLDR

.

.

.

.

.

CHAPTER 14

.

.

Ryeowook berlari, tanpa sadar melepaskan diri dari pelukan Yesung, dia berlari penuh air mata, ke kamar perawatan Donghae, kerinduannya membuncah, rasa syukurnya tak tertahankan.

Ketika sampai di depan pintu perawatan nafasnya terengah, dia berhenti karena pintu itu masih di tutup rapat, Leeteuk tergopoh-gopoh mengejarnya.

"Ryeowook, jangan masuk dulu, dokter baru menstabilkan kondisinya."

Penantian itu terasa begitu lama, sampai kemudian Ryeowook diijinkan masuk, hanya lima menit untuk sekedar menengok Donghae, setelah itu dokter harus mengevaluasi kondisinya Donghae lagi.

Dadanya sesak tak tertahankan ketika mata itu balas menatapnya, mata yang selama ini terpejam, tertidur dalam damai, membuat Ryeowook menanti, mata itu sekarang terbuka, hidup, dan balas menatapnya.

"Donghae,"

Suara Ryeowook serak oleh emosi, dan tangisnya meledak, dia menghampiri tepi ranjang, ke arah Donghae yang masih terbaring, pucat dengan alat-alat penunjang kehidupan yang masih menopangnya, tapi hidup dan membuka mata.

Ryeowook meraih tangan Donghae dan menciumnya, lalu menangis.

"Donghae."

Banyak yang ingin Ryeowook ungkapkan, dia ingin mengucap syukur karena Donghae akhirnya bangun, dia ingin merajuk karena Donghae memilih waktu yang begitu lama untuk terbangun, dia ingin menangis kuat-kuat, tapi semua emosi menyebabkan suaranya tercekat di tenggorokan.

Air mata tampak menetes dari pipi Donghae, lelaki itu mencoba berbicara, tetapi tampak begitu susah payah.

"Stttt... Kau tidak boleh bicara dulu," gumam Ryeowook lembut, mencegah Donghae berusaha terlalu keras, "Mereka memasang selang di tenggorokanmu, untuk makanan, kau koma selama kurang lebih dua tahun."

Mata Donghae menatap Ryeowook, tampak tersiksa, dan dengan lembut Ryeowook mengusap air mata di pipi Donghae.

"Nanti, setelah mereka yakin kondisimu membaik, mereka akan melepas selang itu dan kau akan bisa berbicara lagi, tapi sekarang, kau cukup mengangguk atau menggeleng saja ya, sekarang..." Ryeowook menelan ludah, menahan isak tangis yang dalam, "Sekarang kita harus mensyukuri karena kau akhirnya terbangun, ya?"

Donghae menganggukkan kepalanya, dan seulas senyum dengan susah payah muncul dari bibirnya,

"Sekarang istirahatlah dulu, dokter akan mengecek kondisimu lagi" bisik Ryeowook lembut ketika melihat isyarat dari dokter yang menunggui mereka.

Ketika Ryeowook akan beranjak, genggaman Donghae di tangannya menguat, dengan lembut Ryeowook menoleh dan memberikan senyuman penuh cinta kepada Donghae.

"Aku tidak akan kemana-mana, aku harus menyingkir karena dokter akan memeriksamu lagi, tapi aku tidak akan kemana-mana, aku akan berada di dekat sini sehingga saat kau butuh nanti aku akan langsung datang."

Pegangan Donghae mengendor, lelaki itu mau mengerti. Dengan lembut Ryeowook mengecup dahi Donghae dan melangkah menjauh keluar ruangan perawatan. Air matanya mengucur dengan derasnya ketika dia melangkah menghampiri suster Leeteuk. Leeteuk masih berdiri di sana dan Ryeowook langsung berlari ke arahnya, menangis keras-keras.

"Dia sadar suster... dia akhirnya sadar... aku masih tak percaya, selama ini aku hampir kehilangan harapan. Mulai berpikir kalau Donghae memang tidak mau bangun, mulai berpikir kalau semua perjuanganku ini sia-sia... Tapi sekarang...", Ryeowook terisak, "Aku tak percaya bahwa pada akhirnya dia sadar... dia kembali dari tidur panjangnya, dia ada di sini untuk aku..."

Dengan lembut Leeteuk mengelus rambut Ryeowook.

"Ini semua karena perjuanganmu Ryeowook, Tuhan melihat keyakinanmu maka ia mengabulkannya." mata Leeteuk juga berkaca-kaca, terharu melihat pasangan yang sudah hampir menjadi legenda karena kekuatan cintanya di rumah sakit ini, akhirnya akan berujung bahagia.

Tapi kemudian, suster Leeteuk menyadari kehadiran Yesung di ujung ruangan, masih bersandar di pintu lorong ruang perawatan, dengan wajah tanpa ekspresi.

Dengan lembut dilepaskannya Ryeowook dari pelukannya.

"Eh mungkin aku harus pergi dulu Ryeowook, mungkin masih ada hal-hal yang ingin kalian bicarakan?" Leeteuk mengedikkan bahunya ke arah Yesung.

Baru saat itulah sejak pemberitahuan Leeteuk tadi, Ryeowook menyadari kehadiran Yesung di ruangan itu. Pipinya langsung memerah mengingat pernyataan cinta Yesung, sesaat sebelumnya. Tapi dia sungguh tidak bisa berkata apa-apa.

Setelah Leeteuk meninggalkan ruangan itu, suasana menjadi canggung, dalam keheningan yang tidak menyenangkan.

"Dia sadar." gumam Yesung akhirnya, memecah keheningan.

Ryeowook menganggukkan kepalanya, belum mampu bersuara.

Yesung tampak berfikir.

"Kau bahagia?" tanyanya kemudian, lembut.

Ryeowook mengernyitkan keningnya, Yesung telah berubah, menjadi sedikit lebih manusiawi, menjadi sedikit mudah disentuh. Yesung yang dulu tidak akan mungkin menanyakan itu padanya. Yesung yang dulu pasti akan langsung memaksa membawanya pulang tanpa peduli perasaan Ryeowook.

"Ya, aku bahagia." seulas senyum kecil muncul di bibir Ryeowook, membayangkan Donghae.

Yesung mengernyit melihat senyuman itu. Senyuman itu bagaikan pisau yang menusuk hatinya, senyuman yang diberikan Ryeowook ketika membayangkan lelaki lain, ketika membayangkan Donghae.

"Bagus," gumamnya datar, kemudian menatap Ryeowook lembut, "Mungkin kita harus melakukan pengaturan kembali dengan perkembangan yang mendadak ini, tetapi aku tidak mau mengganggumu dulu, kau pasti ingin fokus dulu dengan kondisi Donghae... jadi kupikir aku akan kembali lagi saja nanti."

"Terima kasih Yesung." akhirnya Ryeowook bisa berkata-kata, pelan.

Yesung tersenyum miring,

"Aku meminta maaf, dan kau malah menjawabnya dengan ucapan terima kasih, Ryeowook yang aneh." dengan hati-hati Yesung mendekat, lalu setelah yakin bahwa Ryeowook tak akan menjauh, dia merengkuh Ryeowook ke dalam pelukannya,

"Ingat kata-kataku tadi." bisiknya lembut, lalu menunduk dan memberikan Ryeowook sebuah ciuman yang singkat tetapi menggetarkan kepada Ryeowook.

Dan pergilah Yesung, meninggalkan Ryeowook yang masih berdiri terpaku, memegangi bibirnya yang terasa hangat, bekas ciuman Yesung.

.

.

"Dia sadar." Yesung menyesap minumannya sambil berdiri terpaku menatap ke pemandangan dari jendela lantai atas kantornya.

Jaejoong, yang masih bersama Kangin hanya diam terpaku. Yesung sudah menceritakan semuanya kepada mereka tadi, tentang sadarnya Donghae dari komanya. Dan sekarang lelaki itu hanya terdiam dan mengulang-ulang kata 'dia sadar' 'dia sadar' sambil menatap keluar.

Jaejoong menarik napas mulai tak sabar, sedangkan Kangin hanya mengetuk-ketukkan tangannya di lutut. Yesung masih belum menunjukkan tanda-tanda memaafkannya jadi dia memilih diam dan tidak mengatakan apa-apa.

"Kurasa karena perkembangan baru yang tidak terduga ini, kau akhirnya memutuskan untuk melepaskan Ryeowook?"

Pertanyaan Jaejoong itu membuat Yesung mendadak memutar tubuhnya dengan tajam menghadap Jaejoong dan menatapnya dengan mata menyala-nyala.

"Dia belum memilih," gumam Yesung setengah menggeram. "Detik terakhir sebelumnya, dia menerimaku dalam pelukannya, membalas pelukanku dan aku yakin akan menerima ajakanku untuk pulang bersamaku."

"Sudahlah Yesung, sekarang kan tunangannya yang setia ditungguinya selama dua tahun sudah sadar, kau tidak bisa..." tanpa sadar Kangin bersuara memberikan pendapat seperti kebiasaannya sebelumnya. Tapi langsung berhenti mendadak ketika menerima tatapan tajam penuh permusuhan dari Yesung.

"Aku... aku hanya mencoba memaparkan kenyataan di depanmu." suara Kangin hilang tertelan karena tatapan Yesung makin tajam.

Jaejoong menghela napas sekali lagi.

"Yesung, Kangin benar, sadarnya Donghae ini bukankah merupakan tujuan hidup Ryeowook selama ini? Biarkan mereka berbahagia Yesung, mereka pantas mendapatkannya setelah tahun-tahun penuh penantian dan ketidakpastian yang menyiksa."

"Tidak!" Yesung tetap bersikeras, "Aku tidak bisa menyerah begitu saja dan membiarkan Ryeowook salah memilih. Dia mencintaiku. Perasaannya pada Donghae mungkin hanya kasihan."

"Kenapa kau tidak bisa berpikir kalau perasaannya kepadamulah yang mungkin

hanya perasaan sesaat karena keadaan yang dipaksakan? Kau pernah dengar apa itu Stockholm Syndrome?" sela Jaejoong jengkel.

Yesung tercenung, tentu saja dia tahu apa itu Stockholm Syndrome, dan menyakitkan kalau menyadari bahwa perasaan Ryeowook kepadanya mungkin ditumbuhkan oleh situasi keterpaksaan.

Dengan gusar diusapnya rambutnya, "Aku akan menanyakan langsung padanya. Nanti. Setelah kondisi tunangannya lebih baik."

Jaejoong tidak berkata-kata. Dan Kangin hanya diam, tak tahu harus bicara apa lagi.

.

.

Dua hari kemudian, Ryeowook berdiri di depan ruangan perawatan Donghae dengan cemas, tangannya menggenggam tangan Leeteuk setengah menangis.

Matanya semakin berkaca-kaca ketika mendengar suara teriakan dari dalam.

Teriakan Donghae.

"Suster..." hati Ryeowook terasa di iris-iris, menyadari bahwa suara pertama yang dikeluarkan Donghae setelah 2 tahun adalah teriakan kesakitan.

"Tidak apa-apa Ryeowook, itu pertanda bagus, Donghae memang kesakitan, mereka sedang melepas selang di tenggorokan dan di dadanya, tetapi kalau Donghae bisa mengeluarkan suara, itu pertanda kondisinya sudah semakin membaik." Suster Leeteuk menggenggam tangan Ryeowook, membagikan kekuatannya.

Suara teriakan itu terdengar lagi, begitu serak hingga Ryeowook hampir tak mengenalinya. Air matanya mulai menetes satu-satu tanpa dapat ditahannya.

"Berapa lama lagi suster?" menunggu di luar seperti ini terasa bagaikan siksaan yang paling mengerikan.

"Sebentar lagi, nanti mereka akan mengizinkanmu menemuinya," dengan lembut Leeteuk mengusap-usap Ryeowook, "Dia harus melalui ini Ryeowook, dan nanti akan banyak kesakitan lagi, tapi ini proses penyembuhan, dia pasti akan sembuh."

Ryeowook menganggukkan kepalanya, memejamkan matanya, menunggu.

Penantian itu terasa begitu lama, lama sekali sampai tim dokter dan perawat keluar dan mengizinkan Ryeowook masuk.

Dengan hati-hati, Ryeowook melangkah masuk ke ruangan perawatan Donghae. Ruangan yang sangat akrab, sangat dikenalinya. Tetapi sekarang berbeda, Donghaenya tidak tidur. Donghaenya tidak menutup mata, dia bangun, sadar dan hidup.

Hati Ryeowook sesak oleh euforia yang membuncah.

Ryeowook duduk di sebelah ranjang, dan Donghae langsung menyadari kehadirannya, tangannya membuka dan dengan lembut Ryeowook menyelipkan jemarinya kesana.

"Hai", sapa Ryeowook lembut.

Donghae tersenyum, lalu mengeryit karena gerakan sederhana itu ternyata menyakitinya.

"Sa...kit", gumamnya susah payah.

Ryeowook tersenyum lembut, sebelah tangannya mengusap dada Donghae yang kurus, berhati-hati agar tidak menyentuh luka di dadanya.

"Mereka sudah melepas selang di tenggorokan dan dadamu".

Donghae mengeryit lagi.

"Berapa lama?", suaranya serak dan terpatah-patah.

"Apanya?"

"Tidur... Berapa lama?"

Ryeowook mendesah lembut.

"Dua tahun", jawabnya pelan. Dan langsung menerima tatapan penuh kesedihan dari Donghae, "Tapi dua tahun tidak terasa lama kok, yang penting kau bangun, kau berjuang dan aku bangga padamu." sambung Ryeowook cepat-cepat.

Donghae tampak sedikit lega mendengar penjelasan Ryeowook, tapi lalu dia mengernyit lagi.

"Mama... Papa...?"

Ryeowook menggenggam tangan Donghae erat-erat.

"Mereka meninggal pada saat kecelakaan itu Donghae."

Dan hati Ryeowook bagaikan diremas-remas ketika melihat Donghae memejamkan mata dan menangis, dengan lembut diusapnya air mata Donghae, dikecupnya pipi lelaki itu yang pucat dan tirus.

"Tapi aku yakin mereka sudah tenang disana. Mereka pasti bahagia sekarang, mengetahui kau sudah sadar."

Donghae membuka matanya dan menatap Ryeowook lembut.

"Maaf."

"Kenapa?" Ryeowook mengernyit.

"Karena... Kau... Ditinggal.. sendiri..."

Air mata ikut mengalir di pipi Ryeowook.

"Aku tidak apa-apa, lihat? Aku sehat dan baik-baik saja. Aku bertahan buat kamu. Dan sekarang kamu yang harus berjuang buat aku ya, kamu harus berjuang untuk pulih lagi, bersamaku."

Donghae mengangguk dan memejamkan mata, percakapan singkat itu membuatnya begitu kelelahan.

Dengan lembut Ryeowook mengusap rambut Donghae.

"Istirahatlah sayang, tidurlah, aku akan ada saat kau terlelap, aku akan ada saat kau bangun lagi."

Dengan lembut Ryeowook terus mengusap rambut Donghae sampai nafas lelaki itu berubah teratur dan tertidur pulas.

"Dia kuat, dia akan baik-baik saja."

Suara dari arah pintu yang terdengar tiba-tiba itu mengejutkan Ryeowook, dia menoleh dan mendapati dokter Jaejoong sudah berdiri di sana, entah sejak berapa lama.

"Dokter Jaejoong?"

Jaejoong tersenyum dan melangkah mendekat.

"Yah kau pasti tidak menduga kedatanganku, aku kesini bersama seseorang."

Jaejoong mengedikkan kepalanya ke arah pintu, Ryeowook mengikuti arah pandangan Jaejoong dan wajahnya memucat melihat Kangin berdiri di sana, tidak melangkah masuk, hanya berdiri di ambang pintu dengan ragu-ragu.

"Dia datang untuk minta maaf." jelas Jaejoong lembut begitu melihat ekspresi takut Ryeowook, "Dia sudah meminta maaf kepada Yesung dan Yesung mengusirnya, menyuruhnya meminta maaf padamu karena kaulah yang dilukainya."

Yesung. Nama itu melintas di benak Ryeowook. Yesung dan pernyataan cintanya. Tiba-tiba dada Ryeowook terasa penuh, tapi lalu dia mengernyit. Tidak, dia harus membunuh perasaan apapun itu yang muncul untuk Yesung. Dia harus fokus kepada Donghae.

"Mungkin kita bisa berbicara di luar?" Jaejoong berucap setengah berbisik, melirik ke Donghae yang sedang tertidur pulas.

Ryeowook mengangguk mengikuti dokter Jaejoong sampai ke ujung lorong, dengan diam-diam Kangin mengikuti mereka.

"Maaf," gumam Kangin ketika mereka sudah ada di lorong yang sepi, dia mengeryit sedikit ketika melihat bahwa Ryeowook menjaga jarak kepadanya, sedikit berlindung di belakang Jaejoong, terlihat takut kepadanya.

Kangin mengusap rambutnya penuh perasaan bersalah, "Aku sendiri tak tahu setan apa yang menghinggapiku saat itu, aku salah paham dan berbuat fatal... Mungkin aku memang pantas menerima luka-luka akibat semua pukulan ini..."

Kangin mencoba menatap Ryeowook selembut mungkin, menunjukkan ketulusannya sebesar mungkin agar Ryeowook yakin, "Kumohon jangan takut kepadaku Ryeowook, aku minta maaf, aku benar-benar menyesal, aku malu."

Kata-kata itu merasuk ke dalam jiwa Ryeowook, dia menatap lelaki di depannya ini. Dia memang tidak terlalu akrab dengan pengacara Yesung ini, mereka berinteraksi hanya kalau perlu dan kebanyakan Kangin hanya berinteraksi dengan Yesung, mengabaikannya. Tetapi sekarang lelaki ini terlihat begitu tulus, tulus dan berantakan, dengan memar di mana-mana, meskipun tidak mengurangi ketampanannya.

Ryeowook mencoba menganguk dan memunculkan senyum kecil meskipun dia masih menjaga jarak,

"Iya", jawabnya pelan.

Kangin menatap Ryeowook dalam-dalam, mencari kepastian di sana, dan yang dilihat di mata Ryeowook adalah ketulusan.

"Aku dimaafkan?" tanyanya pelan.

Ryeowook akhirnya tersenyum lepas.

"Iya."

Dengan lembut Kangin membalas senyuman Ryeowook.

"Sekarang aku tahu kenapa hati Yesung yang keras itu bisa melumer menjadi begitu lembut." gumamnya pelan, membuat pipi Ryeowook merona.

Dengan lega Jaejoong menarik napas panjang.

"Kalau begini masalah sudah selesai," Jaejoong menoleh ke arah Kangin, "Nah Kangin bisakah kau ke tempat lain dulu? Aku ingin berbicara berdua dengan Ryeowook, percakapan dokter dengan keluarga pasien, kau tahu."

Kangin meringis dengan pengusiran itu, lalu mengangguk.

"Oke, telpon aku kalau kalian sudah selesai." gumamnya dan membalikkan tubuh melangkah pergi setengah diseret mengingat kondisinya yang babak belur setelah dihajar habis-habisan. Mereka berdua menatap kepergian Kangin dan Jaejoong tersenyum.

"Dia sangat menyesal kau tahu."

Ryeowook mengangguk.

"Saya mengerti," lalu Ryeowook menatap Jaejoong dengan penuh ingin tahu.

"Dokter ingin berbicara tentang apa kepada saya?" kecemasan tampak terdengar dari suara Ryeowook, apakah terjadi sesuatu dengan Donghae? Jaejoong tersenyum mencoba menenangkan Ryeowook.

"Tenang saja, Donghae akan baik-baik saja. Aku sudah berbicara dengan dokter yang menangani Donghae, dia bilang Donghae bisa kembali pulih meski proses pemulihannya bisa berlangsung lama," dengan lembut Jaejoong menggenggam tangan Ryeowook.

"Ryeowook apakah dokter sudah memberitahukan kepadamu tentang kemungkinan... Kemungkinan bahwa Donghae bisa lumpuh selamanya?"

Ryeowook mengangguk, tidak tampak terkejut.

"Pada saat Donghae jatuh koma pun, dokter sudah memberitahukan kemungkinan itu kepada saya, dokter bilang kalau meskipun nanti Donghae sadar, dia bisa lumpuh selamanya."

"Tapi kemungkinannya tidak seratus persen, masih ada harapan 20 persen bahwa Donghae bisa berjalan lagi kalau dia ada di tangan yang tepat..."

"Maksud dokter?", Ryeowook mengernyitkan keningnya.

"Maksudku, aku merekomendasikan diriku untuk merawat Donghae, kau tahu aku sedang mendalami spesialisasi pemulihan tulang dan saraf, jadi aku bisa merawat Donghae dengan baik... Nanti ketika dia sudah boleh keluar dari rumah sakit, Donghae harus terus menjalani terapi dengan begitu masih ada kemungkinan dia bisa berjalan lagi."

"Apakah... Apakah dokter diminta Yesung melakukannya?" Ryeowook menatap dokter Jaejoong sedikit curiga. Kebaikan hati perempuan cantik di depannya ini tampak diluar dugaan, apakah Yesung memaksa dokter Jaejoong menawarkan ini kepadanya?

Jaejoong mengangkat bahu dan tersenyum lagi.

"Yesung memintaku memang, tapi bukan itu alasan aku ingin merawat Donghae,"

Jaejoong menepuk pundak Ryeowook hangat, "Kau tahu almarhum suamiku... Dia meninggal dalam kecelakaan beruntun di jalan tol, kecelakaan yang sama yang menewaskan kedua orang tuamu dan melukai Donghae."

"Astaga", Ryeowook menutup mulutnya dengan jemarinya, terkejut.

"Yah astaga", Jaejoong tersenyum, "Dunia ini sempit bukan? Kadang kebetulan-kebetulan yang terjadi sering membuatku bertanya-tanya," tatapan Jaejoong berubah serius, "Tapi sungguh Ryeowook, kondisi Donghae ini kupandang sebagai kesempatan kedua, aku tidak bisa merawat suamiku pada saat itu, tapi kurasa Tuhan memberiku kesempatan untuk merawat korban yang selamat dari kecelakaan yang sama, itupun kalau kau mengizinkan."

Ryeowook menganggukkan kepalanya, terharu.

"Iya dokter, saya akan senang dan lega sekali menyerahkan perawatan Donghae di tangan dokter."