A Romantic Story About Ryeowook

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Genre : Romance & Drama

Rate : M

Ini adalah FF remake dari novelnya Shanthy Agatha yang judulnya "A Romantic Story About Serena". Aku Cuma mengedit nama tokoh dan sedikit latar tempat kejadian untuk keperluan cerita.

Pairing : Yewook, GS

DLDR

.

.

.

.

.

CHAPTER 15

.

.

"Tidak enak." Donghae mengernyit, menggelengkan kepalanya, menghindari sendok berisi bubur sayuran yang disuapkan Ryeowook kepadanya.

Hari ini adalah tiga minggu sejak Donghae tersadar dari komanya, kondisinya sudah mulai membaik, dia sudah bisa duduk, sudah bisa mengucapkan lebih dari satu kalimat, dan alat-alat penunjang kehidupannya sudah mulai dilepas satu persatu, dokter sendiri memuji perkembangan Donghae yang luar biasa pesat, tekad lelaki itu kuat, maka ketika dia berniat untuk sembuh dia akan merasakannya sepenuh hati.

"Kau harus memakannya," gumam Ryeowook sedikit geli dengan kemanjaan Donghae yang seperti anak-anak, "ini menyehatkanmu."

"Rasanya seperti muntahan." Gumam Donghae, tapi akhirnya menurut membuka mulutnya, menerima suapan Ryeowook lalu mengernyit ketika menelan.

Ekspresinya membuat Ryeowook tergelak, tapi kemudian Donghae meraih tangan Ryeowook yang tidak memegang sendok, ekspresinya berubah serius.

"Ryeowook, tak terbayangkan rasa terimakasihku padamu... aku tidak tahu bagaimana mengungkapkan cintaku, aku... Para dokter dan perawat menceritakan perjuanganmu untukku..."

"Stttt," Ryeowook meletakkan sendoknya dan menyentuhkan jemarinya di bibir Donghae.

"Perjuangannya sepadan, kau akhirnya bangun kan?"

"Tapi..." ekspresi kesedihan menghantam Donghae, "Aku... Aku mungkin tidak akan bisa berjalan lagi. Aku mungkin lumpuh selamanya, aku hanya akan menjadi bebanmu..."

"Donghae," Ryeowook menyela sedikit marah, "Kau tidak boleh memvonis dirimu sendiri, kesembuhanmu yang luar biasa ini juga diluar prediksi dokter bukan? Kita pasti bisa kalau kita berjuang dengan tekad dan keyakinan kuat bersama-sama, meskipun begitu...", Suara Ryeowook berubah sendu, "Meskipun pada akhirnya kau lumpuh selamanya pun, aku akan tetap bahagia bersamamu... Kau tahu selama ini aku selalu berdoa apa? Aku berdoa yang penting kau sadar, aku tidak peduli yang lain, Tuhan sudah mengabulkan doaku Donghae... Tidakkah itu cukup?"

Mata Donghae tampak berkaca-kaca.

"Kau tidak tahu betapa aku mencintaimu..."

Suara di pintu itu mengalihkan perhatian mereka, Ryeowook dan Donghae menoleh bersamaan, lalu Ryeowook tersenyum, Dokter Jaejoong ada di sana, dalam kunjungannya yang biasa, sekarang bahkan dokter Jaejoong sudah mulai akrab dan berteman dengan Donghae.

Tapi senyuman Ryeowook langsung membeku ketika menyadari siapa yang mengikuti di belakang dokter Jaejoong, itu Yesung!

Yesung yang sama. Yesung yang tampan dengan penampilan bak adonis, dengan ekspresi yang dingin dan tidak terbaca. Ryeowook tidak pernah berhubungan dengan Yesung lagi sejak Donghae sadarkan dari komanya, Yesung selalu memaksakan maksudnya dengan perantaraan dokter Jaejoong, seperti ketika Yesung memaksakan untuk menanggung biaya rumah sakit Donghae dan ketika Yesung memaksakan Ryeowook setuju - lewat bujukan dokter Jaejoong – agar Ryeowook dan Donghae pulang ke apartemen yang dibelikannya ketika Donghae sudah boleh pulang dari rumah sakit nanti.

Sekarang lelaki itu berdiri di depannya, ekspresinya tak terselami dan sedikit muram, membuat Ryeowook bertanya-tanya, apakah Yesung mendengarkan percakapannya dengan Donghae tadi. Apakah Yesung tidak senang mendengarnya.

"Dokter Jaejoong," Donghae menyapa ramah ketika Ryeowook hanya diam saja, lalu menatap ingin tahu ke arah lelaki tampan yang sepertinya hanya menatap terfokus kepada Ryeowook.

"Halo Donghae, aku datang untuk mengecek keadaanmu. Dua hari lagi kau sudah boleh pulang kalau kondisimu sebaik ini terus," Jaejoong menyadari Donghae menatap ke arah Yesung, lalu menyikut pinggang Yesung untuk menarik perhatian Yesung yang terarah lurus kepada Ryeowook, "Dan ini Yesung, dia eh bosku dan bos Ryeowook juga."

Yesung menolehkan kepalanya pelan-pelan, lalu menatap ke arah Donghae, menelusurinya dengan tajam dan meneliti.

Inikah laki-laki yang dicintai Ryeowook sampai rela mengorbankan segalanya? Tiba-tiba pikiran jahat melintas di benaknya, apa yang akan diperbuat Donghae jika tiba-tiba dia mengungkapkan bahwa Ryeowook sudah menjual keperawanannya kepadanya? Bahwa dia sudah berkali-kali meniduri tunangannya yang katanya dicintainya tadi?

"Yesung." Jaejoong bergumam ketika Yesung hanya menatap dan tidak bersuara.

Yesung lalu mendekat dan mengulurkan tangannya kepada Donghae.

"Salam kenal, saya adalah... Atasan Ryeowook di tempat kerjanya... Kebetulan kami eh cukup... akrab." sedikit senyum muncul di bibir Yesung ketika menyadari Ryeowook dan Jaejoong tampak begitu cemas dengan kata-kata yang mungkin muncul dari bibirnya.

Donghae menerima jabatan tangan Yesung dan tersenyum tulus.

"Terimakasih." meskipun Donghae sedikit bertanya-tanya kenapa tatapan Yesung seolah-olah ingin membunuhnya.

"Saya senang kondisi anda semakin membaik." gumam Yesung tenang, tapi terdengar seolah-olah mengatakan, kenapa kau tak mati saja biar semua jadi mudah?.

Ryeowook mengernyit mendengar nada suara Yesung itu, lelaki itu sama sekali tidak mencoba membuat suasana menjadi lebih mudah malah seolah-olah menantang Ryeowook untuk mengakui sesuatu ? Mengakui apa? Apakah Yesung ingin agar Ryeowook mengakui segalanya di depan Donghae? Mengakui bahwa dia sudah menjual keperawanan dan tubuhnya demi membiayai biaya operasi Donghae?

Ryeowook akan mengakuinya, itu pasti, dia tidak mungkin membohongi Donghae. Donghae mungkin akan marah dan sedih, sedih karena Ryeowook terpaksa melakukan semua itu demi dirinya. Lalu mungkin Donghae akan menyalahkan dirinya sendiri. Oh, lelaki itu tidak akan meninggalkan dirinya karena sudah tidak perawan. Ryeowook begitu mengenal Donghae hingga yakin akan hal itu, dia lelaki berpkiran terbuka, tetapi yang Ryeowook takuti adalah Donghae akan semakin menyalahkan dirinya sendiri, menyalahkan kondisinya yang tidak berdaya yang membuat Ryeowook harus berjuang sendirian demi dirinya, dan Ryeowook tidak mau Donghae mengalami itu semua, tidak di saat kondisi Donghae masih begitu rapuh dan ada di dalam proses pemulihan. Nanti, Ryeowook pasti akan mengakui semuanya, tetapi tidak sekarang.

Karena itu dia langsung memelototi Yesung mengingatkan, memastikan Yesung melihat isyarat dalam matanya, dan menggeram dalam hati ketika Yesung malahan tersenyum meremehkan.

"Mr. Yesung ini adalah atasanku di tempat lamaku bekerja." jelas Ryeowook cepat begitu melihat kebingungan di mata Donghae.

"Tempatmu sekarang bekerja Ryeowook, kamu masih bekerja di sana." sela Yesung tajam.

Ryeowook ternganga mendengar bantahan Yesung itu, kehabisan kata-kata, sementara lelaki itu tersenyum datar pada Donghae.

"Kami sempat mengalami sedikit kesalahpahaman. Saya menuduh Ryeowook melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak dia lakukan, Tetapi saya sekarang sudah menyadari kesalahan saya," Yesung menatap Ryeowook penuh arti, "Dan dengan rendah hati, saya meminta Ryeowook kembali kepada saya". kata-kata itu diucapkan dengan datar dan santai, tapi entah kenapa arti yang tersirat di dalamnya membuat pipi Ryeowook merona.

Jaejoong langsung berdehem memecah kecanggungan.

"Bagus, kita akhirnya menyelesaikan segala kesalahpahaman," gumamnya ceria.

"Nah sekarang aku ingin memeriksa kondisimu Donghae."

"Saya tidak pernah merasa lebih baik dokter." Donghae tersenyum, perhatiannya teralih dari Yesung dan Ryeowook.

"Dan akan lebih baik lagi, aku yakin mengingat pesatnya kondisimu," Jaejoong tersenyum, lalu menatap Ryeowook dan Yesung, "Kalian bisa keluar sebentar? Aku ingin memeriksa kondisi Donghae."

Dan dalam diam Yesung dan Ryeowook melangkah keluar ruangan. Mereka masih berdiri diam di lorong ruang perawatan.

"Well dia tampak sehat." gumam Yesung kemudian, menyandarkan tubuhnya di tembok dan menatap Ryeowook tajam, Ryeowook menganggukkan kepalanya.

"Dia tidak akan bisa berjalan lagi kan?" sambung Yesung jahat.

Ryeowook membelalakkan matanya mendegar kekejaman dalam suara Yesung.

"Yesung! Jahat sekali kau!", mata Ryeowook tampak berkaca-kaca, "Dokter Jaejoong bilang masih ada kesempatan bagi Donghae untuk sembuh, dan aku percaya dia akan sembuh."

"Sampai berapa lama lagi Ryeowook? Kau harus menunggu dalam waktu yang tak pasti lagi, kenapa mencintai seseorang harus penuh pengorbanan seperti itu?"

Yesung mendeses kesal, "Dan kata Jaejoong dia juga mungkin tidak bisa berfungsi sebagai laki-laki normal..."

"Yesung!" Ryeowook setengah berteriak, menghentikan kata-kata Yesung, pipinya memerah mendengar ucapan Yesung yang begitu vulgar.

Yesung mengangkat bahunya tanpa rasa bersalah.

"Aku cuma mengungkapkan apa yang dikatakan Jaejoong kepadaku", tiba-tiba dia mendekat dan merengkuh pundak Ryeowook, "Bagaimana Ryeowook? Bagaimana jika dia tidak dapat berfungsi sebagai lelaki normal? Padahal aku tahu...", mata Yesung menyala-nyala, "Aku tahu betapa kau gadis kecil yang penuh gairah, betapa kau menyambut setiap sentuhanku dengan gairah yang sama, betapa kau menyukainya... Bagaimana kau nanti bisa tahan tidak merasakan itu semua... tidak disentuh.. tidak di..."

"Hentikan!" Kali ini Ryeowook benar-benar berteriak, matanya berkaca-kaca.

Membuat Yesung terdiam dan tidak melanjutkan kata-katanya. Ryeowook tampak begitu rapuh sekaligus begitu kuat dengan wajah pucat pasi dan mata berkaca-kaca seperti itu, membuat Yesung ingin melumatnya...

"Kau terlalu picik kalau selalu memandang sebuah kasih sayang hanya dari kemampuan melakukan hubungan fisik," desis Ryeowook tajam.

"Aku mencintai Donghae, aku hanya butuh kehadirannya di sampingku, itu saja... Kalaupun.. kalaupun dia nantinya tidak bisa memelukku dengan bergairah, aku tidak peduli, yang penting dia hidup dan ada di sisiku, aku tidak butuh yang lain lagi..."

"Tidak butuh yang lain lagi?" Kata-kata Ryeowook yang penuh cinta kepada Donghae itu menyulut kemarahan Yesung, dengan kasar direngggutnya Ryeowook ke dalam pelukannya, "Kalau begitu bagaimana dengan yang ini?!"

Dengan tanpa diduga-duga, Yesung mencium bibir Ryeowook, pertama kasar, meluapkan kemarahannya disana, melumat bibir Ryeowook dengan menyakitkan seolah ingin menghukumnya. Oh! betapa dia ingin menghukum perempuan ini karena menyakitinya! Oh berapa dia merindukan perempuan ini!.

Ciumannya melembut ketika merasakan bibir perempuan yang sangat dirindukannya, yang sudah lama tidak disentuhnya, yang sudah lama tidak dirasakannya. Kerinduannya meluap, dipeluknya tubuh Ryeowook erat-erat, dilumatnya bibirnya dengan seluruh gairahnya, dipujanya bibir itu.

Ryeowook yang tidak menyangka akan dicium dengan seintens itu semula hanya terpaku, lalu dia memejamkan matanya, aroma Yesung, kemaskulinannya menyeruak di dalam dirinya. Membangkitkan kenangan lama akan kedekatan mereka, dan secara alami, Ryeowook membalas pelukan dan lumatan Yesung.

Entah berapa lama mereka berciuman sampai kemudian Yesung melepaskan tautan bibir mereka, terengah-engah.

Dengan lembut Yesung menunduk, masih berpelukan, dahinya menyatu dengan dahi Ryeowook, napas mereka yang panas menyatu, bibir mereka masih berdekatan.

Kemarahan Yesung mereda seketika oleh ciuman itu, kini dadanya dipenuhi oleh perasaan lembut yang menyesakkan dada.

"Jangan bilang kau tidak merindukan sentuhanku." bisik Yesung lembut.

Ryeowook memejamkan mata berusaha menggeleng.

"Aku tidak merindukannya." erangnya mencoba melawan.

Yesung menundukkan kepalanya, menghujani telinga dan leher Ryeowook dengan ciuman-ciuman lembut seringan bulu, membuat tubuh Ryeowook gemetaran.

"Teruslah berbohong?" bisik Yesung di telinga Ryeowook, "Tapi tubuhmu tidak bisa membohongiku, tubuhmu merindukanku Ryeowook, dan aku merindukanmu." Bisik Yesung di sela-sela kecupannya.

Ryeowook mengerang, mencoba melawan kebenaran yang menyiksanya. Dia merindukan Yesung, dia memang merindukan lelaki itu. Sering di malam-malam dia berbaring di sendirian di sofa rumah sakit, menunggui Donghae. Dia merindukan Yesung, merindukan pelukannya yang melingkari perutnya dengan posesif, merindukan lengannya yang selalu menjadi bantal tidurnya, merindukan desah napas teratur Yesung di telinganya ketika tertidur pulas. Tapi Ryeowook menahannya, mencoba mengenyahkannya. Perasaan itu tidak boleh ditumbuhkan. Dia sudah mempunyai Donghae, Donghaenya, tunangannya. Kekasih yang dicintainya. Kekasih yang ditunggunya tanpa putus asa selama dua tahun. Kekasih yang sekarang sedang berjuang untuk pulih kembali demi dirinya.

Air mata mengalir deras di pipi Ryeowook.

"Aku merindukanmu Yesung." pengakuan itu, pengakuan yang sama sekali tidak di duga-duga Yesung membuat gerakan lelaki itu yang sedang mencumbu Ryeowook terpaku.

Yesung langsung menegakkan tubuhnya, mengangkat dagu Ryeowook agar menatapnya.

"Apa? Katakan sekali lagi, katakan," Yesung mendesak ketika Ryeowook menghindari matanya. "Katakan sekali lagi Ryeowook, aku perlu mendengarkan lagi."

Ryeowook menarik napas panjang, lalu menatap mata biru yang berbinar-binar itu.

"Aku merindukanmu Yesung." gumamnya lagi, lebih pelan dan bergetar.

"Demi Tuhan," Yesung memejamkan matanya lama, lalu memeluk Ryeowook, "Betapa aku ingin mendengar pengakuan itu darimu..."

Mereka berpelukan lama, menikmati saat-saat yang penuh dengan keheningan itu, sampai kemudian Yesung menjauhkan pelukannya dan menatap penuh tekad.

"Kita harus berbicara dengan Donghae."

"Jangan!" Ryeowook langsung berteriak mencegah dan ketakutan, "Jangan Yesung!"

Mata Yesung berkilat-kilat.

"Kau harus menentukan perasaanmu Ryeowook, aku atau Donghae. Salah satu dari kami harus mendapat kepastian tentang perasaanmu." gumamnya tegas.

Ryeowook menangis lagi, tangannya bergerak lembut, mengelus pipis Yesung, lelaki itu langsung memejamkan matanya.

"Yesung... Mungkin aku juga menyayangimu, mungkin aku juga mencintaimu. Tapi Donghae lebih membutuhkan aku, tanpa aku dia tidak punya siapa-siapa lagi. Sedangkan kau, kau lelaki yang hebat, kau bisa mencari banyak penggantiku, kau pasti masih bisa hidup tanpa aku." gumam Ryeowook lembut.

Ketika Yesung membuka matanya, kesakitan dan kepedihan yang terpancar di dalamnya begitu mengiris hati Ryeowook.

"Jadi aku dikalahkan karena aku hebat?" suara Yesung terdengar begitu pedih.

"Apakah aku harus luka parah seperti Donghae dulu biar kau memilihku?"

"Yesung!" Ryeowook berseru spontan, terkejut, "Jangan pernah... jangan pernah berpikir seperti itu, kau... kau pasti bisa memahami keputusanku."

Yesung melihat air mata Ryeowook yang mengalir dan mengusapnya lembut.

Kemudian Yesung merangkum pipi Ryeowook dengan kedua tangannya, menghadapkan wajah mungil pucat pasi itu agar mau menatap matanya.

Mereka bertatapan. Yang satu penuh air mata, yang lain penuh tekad, saling memandang dalam keheningan,

Lalu sebuah senyum kecil muncul di bibir Yesung,

"Dasar perempuan kecilku yang bodoh, kau tidak perlu mengatakan apa-apa lagi. Cukup dengan kau bahagia. Itu saja, kau mengerti? Sekarang hapus air matamu itu dan tersenyumlah!"