A Romantic Story About Ryeowook

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Genre : Romance & Drama

Rate : M

Ini adalah FF remake dari novelnya Shanthy Agatha yang judulnya "A Romantic Story About Serena". Aku Cuma mengedit nama tokoh dan sedikit latar tempat kejadian untuk keperluan cerita.

Pairing : Yewook, GS

DLDR

.

.

.

.

.

CHAPTER 16

.

.

Sejak saat itu Yesung seolah-olah menghilang dari kehidupan Ryeowook, Ryeowook merenung dalam mobil rumah sakit yang membawa mereka pulang ke apartemen.

Hari ini Donghae sudah boleh pulang dari rumah sakit, bersama Jaejoong dan suster Leeteuk mereka pulang ke apartemen. Leeteuk memutuskan untuk tinggal sementara membantu Ryeowook, dan Jaejoong sudah berjanji akan berkunjung setiap hari untuk mengecek kondisi Donghae dan melakukan terapi rutin.

Kata Dokter Jaejoong, Yesung memutuskan mengambil tugas perjalanan ke Eropa dan mungkin akan kembali dalam waktu yang lama.

Dada Ryeowook terasa nyeri, ketika sekali lagi mengakui kenyataan itu kepada dirinya sendiri. Oh ya, dia merindukan Yesung, sangat merindukannya. Ternyata cinta memang bisa tumbuh tanpa direncanakan. Ryeowook mencintai Yesung. Dia tidak tahu kapan perasaan ini bertumbuh. Dia hanya tahu dia mencintai Yesung, itu saja.

"Aku tidak menyangka bosmu yang kelihatannya sombong itu bisa begitu baik, meminjamkan apartemennya", Donghae memecah keheningan, menatap Ryeowook dengan sedikit menyelidik, dia bertanya-tanya karena akhir-akhir ini Ryeowook begitu murung.

"Aku yang membujuknya", Jaejoong yang duduk di kursi depan cepat-cepat menjawab, tahu bahwa Ryeowook pasti kebingungan dengan pertanyaan Donghae itu.

"Yesung adalah sahabat suamiku, aku bilang merawatmu penting bagiku, karena kamu adalah salah seorang yang selamat dari kecelakaan yang menewaskan suamiku. Jadi Yesung mau meminjamkan apartemen itu, toh apartemen itu tidak terpakai."

Diam-diam Ryeowook dan Leeteuk menarik napas lega mendengar kelihaian dokter Jaejoong menjawab.

Mereka sampai di apartemen, dan Ryeowook mendorong kursi roda Donghae memasuki ruangan itu.

Begitu mereka masuk tanpa sadar Ryeowook mengernyit, semua kenangan itu seolah menghantamnya. Di sini, di apartemen ini dia menghabiskan waktu berdua dengan Yesung, makan malam bersama, bercakap-cakap bersama….

"Apartemen yang sangat bagus, kita beruntung Ryeowook, bos mu sangat baik."

Donghae mendongakkan kepalanya ke belakang menatap Ryeowook sambil tersenyum. Mau tak mau Ryeowook memaksakan senyuman di bibirnya. Kuatkah ia berada di sini? Apalagi di kamar itu... Ryeowook melirik kamarnya, tempat Yesung juga menghabiskan sebagian besar waktunya di sana. Tidak! dia tidak mau masuk lagi ke kamar itu!

Dengan cepat dan efisien mereka menyiapkan segalanya sehingga Donghae selesai di terapi dan beristirahat di kamarnya. Leeteuk menjaganya sebentar, lalu berpamitan untuk kembali ke rumah sakit, berjanji akan pulang dan menginap di sini nanti malam.

Setelah memastikan Donghae tertidur pulas, Jaejoong menyeduh teh dan mengajak Ryeowook duduk di ruang depan.

"Dia sudah kembali dari Eropa." Jaejoong membuka percakapan, menatap Ryeowook dari atas cangkir kopi yang diteguknya.

Seketika itu juga hati Ryeowook melonjak, tahu siapa yang di isyaratkan sebagai 'dia' itu.

"Apakah dia baik-baik saja?" Tanya Ryeowook pelan.

Jaejoong tersenyum miring mendengar kelembutan dalam suara Ryeowook.

"Kau itu baik hati ya, sudah menerima arogansinya yang tidak tanggung-tanggung, tetapi masih saja mencemaskannya," dengan pelan Jaejoong meletakkan cangkirnya, "Yah, dia baik-baik saja, sedikit kurus, terlalu memaksakan diri dan jadi pemarah seperti beruang terluka, tak ada yang berani menyinggungnya dan mendekatinya dalam radius 100 meter kalau dia sedang mengeluarkan aura pemarahnya, bahkan direktur keuangan memilih berhubungan dengannya via telepon," Jaejoong terkekeh. Lalu wajahnya berubah serius melihat kesedihan Ryeowook, "Yah... dengan melupakan fakta kalau akhir-akhir ini dia lebih seperti mayat hidup daripada manusia, sepertinya dia baik-baik saja."

Ryeowook memalingkan wajahnya dengan pedih.

"Dia menderita Ryeowook..." desah Jaejoong kemudian, "Aku tidak pernah melihatnya seperti ini sebelumnya."

"Sudah..." Ryeowook tidak tahan lagi mendengarnya, penderitaan Yesung serasa mengiris-iris hatinya, "Sudah aku tidak mau mendengar lagi."

Jaejoong menarik napas.

"Tapi tadi dia memintaku menyampaikan pesan kepadamu."

Kata-kata Jaejoong yang menggantung membuat Ryeowook menoleh, tertarik.

"Pesan?"

Jaejoong menggangguk.

"Ya, sebuah pesan... malam ini jam delapan, ditunggu di restaurantnya," lalu Jaejoong menyebutkan nama sebuah hotel.

Dan Ryeowook mengernyit, hotel tempat pertama kali dia bersama Yesung.

.

.

Ryeowook merasa tidak nyaman, pakaiannya terlalu biasa-biasa saja untuk ukuran hotel yang mewah ini. Dia berdiri dengan kikuk di lobby, tak tahu harus berbuat apa.

Entah dorongan apa yang membuatnya datang menemui Yesung malam ini. Dia tahu dia nekat, seperti memancing iblis untuk membakarnya. Tapi dia tidak bisa menahan diri. Dia ingin bertemu Yesung, walaupun mungkin ini untuk terakhir kalinya.

"Bisa dibantu nona?" Lelaki petugas hotel itu datang menghampiri, sepertinya melihat kebingungan Ryeowook.

"Eh saya... saya Ryeowook... saya sudah ditunggu..."

"Nona Ryeowook," petugas itu berubah sopan dan membungkukkan tubuh, "Silahkan, anda sudah ditunggu, mari saya antar."

Dengan ragu Ryeowook melangkah mengikuti petugas hotel itu, memasuki restaurant yang tertata dengan mewah dan elegan.

Dan disanalah Yesung, duduk dengan pakaian resminya, mata Yesung sudah melihatnya ketika dia memasuki ruangan. Dan tidak lepas memandanginya dengan tajam setelahnya.

Ketika Ryeowook mendekat, Yesung berdiri dengan sopan lalu duduk lagi setelah Ryeowook duduk.

Hening sejenak, masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri.

"Terimakasih sudah datang." gumam Yesung lembut.

Ryeowook mengangguk, matanya berkaca-kaca melihat kelembutan tatapan Yesung.

"Mungkin ini untuk terakhir kalinya, mungkin setelah ini aku tidak akan datang lagi." gumam Ryeowook pelan.

Yesung menggangguk.

"Setelah ini aku tidak akan pernah memintamu datang lagi."

Hening lagi. Sampai pelayan membawakan makanan pembuka, mereka makan malam dalam diam.

Sampai kemudian Yesung menuangkan anggur ke gelas Ryeowook, Ryeowook mengernyit.

"Aku tidak pernah minum alkohol."

Yesung tersenyum menggoda, senyum pertamanya malam itu.

"Tenang saja, aku akan menjagamu. Kemungkinan terburuknya mungkin kau diperkosa saat mabuk."

Pipi Ryeowook langsung merona dan Yesung terkekeh.

Anggur itu mencairkan segalanya, suasana menjadi hangat, dan percakapan mereka mengalir lancar, Yesung menceritakan tentang perjalanannya ke Eropa dan Ryeowook mendengarkannya dengan penuh minat.

Sampai kemudian, Yesung menggenggam tangan Ryeowook lalu mengecupnya.

"Aku ingin memelukmu."

Hanya satu kalimat, tapi Ryeowook mengerti. Dia menganggukkan kepalanya. Entah kenapa dia menyetujuinya. Mungkin karena anggur itu sudah mempengaruhi pikiran normalnya. Yang pasti Ryeowook juga ingin merasakan pelukan Yesung.

Dengan lembut Yesung menghela Ryeowook, melangkah ke lantai atas. Ketika Yesung membuka pintu kamar, Ryeowook menatap Yesung bingung, dan Yesung tertawa menyadari kebingungan Ryeowook.

"Yah... kamar yang sama... Kuakui... aku memang agak sedikit sentimental,"

Yesung mengangkat bahu, pipinya sedikit merona, "Kupikir... tempat saat pertama akan cocok untuk menjadi tempat saat terakhir kita."

Ryeowook tersenyum lembut, dan membiarkan Yesung membimbingnya memasuki kamar.

Mereka berdiri dengan canggung, sampai Yesung mengeluarkan sebuah kotak dari sakunya.

"Aku membawa cincin keluargaku, cincin yang diberikan turun-temurun untuk pengantin perempuan," dengan tenang dia membuka kotak itu dan menunjukkan cincin dengan berlian biru yang mungil dan cantik, "Aku ingin memberikannya kepadamu."

"Tidak!" Ryeowook langsung berseru keras, menolak, "Jangan Yesung, itu... itu cincin yang sangat penting, itu untuk pengantin wanitamu!"

"Bagiku, kaulah pengantin wanitaku," Yesung menarik tangan Ryeowook, memaksa memasangkan cincin itu ketangannya, lalu menggenggamnya erat-erat ketika Ryeowook berusaha melepaskan cincin itu, "Aku ingin kau memilikinya."

"Yesung..." Ryeowook merintih penuh penderitaan, penuh air mata. Dan Yesung mengusap air matanya lembut, mengecup air matanya lembut.

"Ryeowook," bisiknya seolah kesakitan, lalu mencium bibirnya dengan lembut dan penuh perasaan, "Astaga... Ryeowook... Ryeowook... Betapa aku merindukanmu..."

Ciumannya semakin dalam, semakin bergairah, semakin penuh kerinduan, tak tertahankan...

.

.

Yesung melepaskan ciumannya dan menatap Ryeowook lembut.

"Kau mabuk ya?" senyumnya. Merasa senang karena Ryeowook membalas ciumannya dengan sama bergairahnya.

Ryeowook hanya merangkulkan tangannya erat-erat di leher Yesung, merasakan benaknya melayang-layang. Sepertinya dia memang mabuk, karena sekarang dia merasa bebas dan begitu nyaman bersama Yesung.

Yesung terkekeh geli.

"Aku senang kalau kau mabuk, kau begitu penurut dan tidak takut-takut," dengan lembut Yesung mengecup telinga Ryeowook, mencumbunya dengan penuh kelembutan, "Biarkan aku mencintaimu malam ini Ryeowook..."

Dengan lembut Yesung menghela Ryeowook ke atas tempat tidur dan mengecupi wajahnya penuh perasaan, "Selama ini kita berhubungan seks... tapi malam ini aku berjanji, kita akan... bercinta."

Yesung menggerakkan tangannya menurunkan gaun Ryeowook dan mulai mengecupi pundaknya, tersenyum senang ketika mendengar desahan Ryeowook.

"Hmm, kau senang sayang? Kau menyukainya ya?" dengan penuh perasaan di kecupinya semua permukaan kulit Ryeowook.

Ryeowook merasa dirinya melayang-layang, pengaruh alkohol, ditambah kemesraan Yesung yang luar biasa membuatnya merasa di awang-awang, dibukanya matanya, dan samar-samar dilihatnya Yesung mengecupi jemarinya, ketika Yesung menatapnya, mata laki-laki itu tampak berkilauan.

Posisi mereka begitu intim, telanjang bersama dengan tubuh menyatu. Yesung mendesakkan dirinya lebih rapat, menikmati tubuh perempuannya yang melingkupinya. Dadanya serasa membuncah oleh perasaan hangat, ketika mata mereka bersatu dalam pesan yang tersirat.

"Aku mencintaimu." bisik Yesung lembut. Dan Ryeowookpun melayang, terbawa oleh cinta Yesung.

.

.

Yesung memeluk tubuh Ryeowook yang lunglai dan terlelap, tubuhnya rileks setelah percintaan mereka. Tapi otaknya berpikir keras.

Dia sengaja membuat Ryeowook mabuk malam ini, agar Ryeowook tidak waspada, agar Ryeowook tidak menyadari, tidak menyadari apa yang sudah dia rencanakan jauh sebelumnya.

Dia tidak memakai pelindung saat mereka bercinta tadi. Dia berusaha membuat Ryeowook hamil.

Yesung memejamkan mata dan mengernyit ketika sengatan rasa bersalah menyerbunya. Dia telah memanipulasi ketulusan perasaan Ryeowook dengan menjebaknya. Tapi mau bagaimana lagi? Dia sudah berusaha melupakan Ryeowook.

Tuhan tahu dia berusaha sangat keras, apa saja agar Ryeowook bahagia bersama Donghaenya yang sudah dipilihnya. Dia bahkan mengajukan diri untuk perjalanan bisnis ke luar negeri agar bisa melupakan Ryeowook. Tapi perempuan itu membayanginya, membuatnya gelisah dan tidak bisa berkonsentrasi. Yesung merasa dirinya nyaris gila ketika memutuskan akan pulang dan memutuskan

untuk memiliki Ryeowook dengan cara apapun. Jika Ryeowook tidak mau memilihnya, maka Yesung akan memaksa Ryeowook memilihnya!

Dengan lembut Yesung mengecup dahi Ryeowook yang berbaring di lengannya. Sebelah tangannya meraba perut Ryeowook yang telanjang di balik selimut dan mengelusnya.

Anakku mungkin sudah bertumbuh di sini, pikirnya posesif. Rasa memiliki dengan intensitas luar biasa muncul tiba-tiba dalam hatinya ketika menyadari bahwa anaknya mungkin sudah mulai bertumbuh dan terbentuk di dalam rahim Ryeowook.

Dengan lembut diusapnya perut Ryeowook, Yesung tidak bisa menahan diri, pelan-pelan diletakkannya kepala Ryeowook di bantal, lalu dia bergerak turun dan mengecup perut Ryeowook.

"Kau harus tumbuh di sana," bisiknya penuh tekad, "Kau harus tumbuh sehat dan kuat di sana, agar ayahmu bisa memiliki ibumu", Yesung berbicara sambil mengecup perut Ryeowook.

Kemungkinan bayi itu terbentuk dari percintaan mereka adalah 80%, Yesung sudah mempelajarinya dari semua referensi yang bisa ia dapat, ia mengetahui bahwa dari rata-rata umur mereka berdua kemungkinan Ryeowook hamil malam ini sangat besar, dan diam-diam dia sudah mencocokkan dengan siklus Ryeowook, dia tahu perempuan itu sedang dalam masa suburnya.

Ciuman-ciuman lembut di perutnya itu membuat Ryeowook terbangun, dia membuka mata dan menatap Yesung,

"Yesung?" Ryeowook bertanya-tanya kenapa Yesung mengecup perutnya.

Yesung tersenyum, senyum yang sedikit kejam menurut Ryeowook, tapi usapan tangan lelaki itu yang dilakukan sambil lalu di sepanjang kulitnya yang telanjang, terasa begitu lembut sekaligus menggoda.

"Aku bergairah lagi." gumam Yesung serak, lalu bergerak naik dan mengecup bibir Ryeowook penuh gairah.

Yesung berbeda dengan tadi, pikir Ryeowook, kali ini sedikit lebih kasar, tidak menahan diri dan sangat posesif. Ciumannya begitu bergairah, melumat bibir Ryeowook kuat-kuat, lidahnya menjelajahi mulut Ryeowook dengan panas, tangannya mengusap tubuh Ryeowook penuh gairah.

"Kau milikku Ryeowook." gumam Yesung parau sebelum bercinta lagi dengan Ryeowook.