A Romantic Story About Ryeowook
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Genre : Romance & Drama
Rate : M
Ini adalah FF remake dari novelnya Shanthy Agatha yang judulnya "A Romantic Story About Serena". Aku Cuma mengedit nama tokoh dan sedikit latar tempat kejadian untuk keperluan cerita.
Pairing : Yewook, GS
DLDR
.
.
.
.
.
CHAPTER 17
.
.
Ryeowook membuka pintu apartemen dengan berhati-hati dan menemukan dokter Jaejoong sedang duduk di ruang tamu sedang menyesap kopi dan menonton televisi.
Dokter Jaejoong tersenyum penuh pengertian ketika menatap Ryeowook. Saat itu jam 8 pagi, Ryeowook sengaja meminta Yesung memulangkannya pagi-pagi sehingga Donghae belum bangun. Semalampun ia berangkat setelah yakin Donghae sudah tertidur pulas.
"Donghae belum bangun." jawab dokter Jaejoong tenang, menjawab pertanyaan di mata Ryeowook.
Ryeowook menarik napas lega.
"Dokter menginap di sini?" tanyanya pelan.
Jaejoong mengangguk.
"Leeteuk memintaku menemani untuk berjaga-jaga, dan aku tidak keberatan, toh aku tidak ada acara apa-apa," Jaejoong tersenyum lembut kepada Ryeowook, "Kuharap semalam menyelesaikan segalanya."
Pipi Ryeowook memerah mendengar ucapan Dokter Jaejoong yang penuh arti itu.
"Dia agak marah tadi pagi saat saya buru-buru pulang demi Donghae", bisik Ryeowook pelan.
Jaejoong terkekeh sambil meletakkan cangkir kopinya.
"Dia memang begitu, tak usah pedulikan, aku yakin sebenarnya dia bahagia kau telah memberinya kesempatan," suara dokter Jaejoong berubah serius, "Dan setelah semalampun kau tetap pada keputusanmu Ryeowook?"
Ryeowook tercenung mendengar pertanyaan itu, sejenak ragu, tapi lalu menganggukkan kepalanya mantap.
"Saya harus terus bersama Donghae, dia membutuhkan saya." jawabnya lembut.
"Kau selalu memikirkan orang lain, bagaimana dengan dirimu sendiri?" tanya dokter Jaejoong tiba-tiba.
Dengan masih tersenyum Ryeowook menjawab.
"Saya tidak apa-apa dokter, saya merasa bahagia karena semua orang bahagia."
Semua orang bahagia selain kau dan Yesung. Pikir Jaejoong miris ketika Ryeowook berpamitan ke kamar untuk berganti pakaian. Jaejoong tahu kalau Ryeowook sama tersiksanya dengan Yesung. Dan dia ingin berteriak marah kepada Ryeowook, memarahi ketidakegoisan perempuan itu, sekaligus bertanya sampai kapan Ryeowook mendedikasikan hidupnya untuk kepentingan orang lain? Untuk kebahagiaan orang lain? Jaejoong merasakan dorongan kuat untuk memaksa Ryeowook berbuat egois, mementingkan kepentingannya sendiri, berusaha meraih kebahagiaannya sendiri. Tapi dia tahu Ryeowook, dengan kebaikan hatinya yang luar biasa itu tidak akan mau melakukannya.
Dan tiba-tiba Jaejoong teringat pertemuannya dengan Yesung ketika lelaki itu baru pulang dari Eropa beberapa hari lalu, mata Yesung saat itu tampak penuh tekad, setengah gila dan menyala-nyala.
"Kalau dia tidak bisa memilihku, maka aku akan memaksanya memilihku."
Wajah Jaejoong memucat mendengar nada final dalam ucapan Yesung waktu itu.
"Astaga Yesung, kau tidak sedang berencana melakukan tindakan kasar dan pemaksaan untuk memiliki Ryeowook kan?" berbagai pikiran buruk melintas di pikirannya, seperti kemungkinan Yesung menculik Ryeowook dan membawanya pergi, atau kemungkinan Yesung akan menyingkirkan Donghae dengan cara kasar.
Itu semua bisa dilakukan Yesung dengan kekejaman dan kekuasaannya. Dan Jaejoong takut Yesung kehilangan akal sehatnya dan memutuskan melakukan salah satu dari hal yang ditakutinya itu.
Yesung menarik napas panjang,
"Aku akan membuatnya hamil anakku." gumamnya setelah jeda yang cukup lama.
Jaejoong menganga mendengarnya.
"Apa?" Jaejoong sudah mendengar cukup jelas tadi, tapi dia sama sekali tidak yakin dengan apa yang didengar telinganya, dia butuh mendengar lagi.
"Aku akan membuatnya mengandung anakku." gumam Yesung penuh tekad.
"Kau sudah gila ya Yesung?" suara Jaejoong meninggi menyadari keseriusan dalam suara Yesung.
Tapi Yesung sama sekali tidak terpengaruh dengan nada marah dan ketidak setujuan Jaejoong dia tetap tenang dan berpikir.
"Jika Ryeowook mengandung anakku, mengingat sifatnya, dia tidak akan mungkin mengugurkannya. Itu berarti dia akan mengakui hubungan kami kepada Donghae, dan aku akan menggunakan segala cara - dengan menggunakan anak itu sebagai alasan - agar aku bisa mengklaim Ryeowook."
"Kau gila!" seru Jaejoong tidak setuju, "Apa kau tidak pernah memikirkan perasaan Donghae? Hatinya akan hancur, dan Ryeowook juga akan menderita jika dia sadar dia telah menyakiti hati Donghae."
"Kau pikir mereka saja yang menderita hah?" sela Yesung keras, membuat Jaejoong tertegun, "Aku juga menderita! Aku tidak bisa makan, aku tidak bisa tidur! Aku menjalani detik demi detik, menit demi menit penuh penyiksaan! Aku sama saja sudah mati akhir-akhir ini! Aku juga menderita, menyadari bahwa aku bisa memiliki Ryeowook tetapi tidak bisa berbuat apa-apa untuk membuat perempuan itu memilihku! Sebelum kepulanganku aku sudah bertekad akan melakukan ini! Tidak ada yang bisa mengahalangiku!
"Yesung," Jaejoong melembut, mencoba meredakan emosi Yesung, "Aku mengerti perasaanmu, tapi bagaimana kalau nanti Donghae ternyata menerima kondisi Ryeowook apa adanya dan kemudian Ryeowook memutuskan membesarkan anak itu bersama Donghae?"
"Kalau itu terjadi aku akan menggunakan cara kekerasan," jawab Yesung dingin. "Aku akan memberikan ultimatum, Ryeowook memilihku, atau aku akan merenggut anak itu darinya, kalau perlu aku akan menempuh jalur hukum."
"Kejam sekali." Jaejoong bergumam spontan.
Yesung mengangguk tidak membantah.
"Ya memang kejam sekali." jawabnya menyetujui, tanpa penyesalan dan tampak penuh tekad menjalankan rencananya.
Dan sekarang Jaejoong duduk di ruang makan, mencoba menarik kenangannya kembali. Dengan pelan disesapnya kopinya lagi.
Semoga Tuhan melindungi Ryeowook kalau Yesung benar-benar membuatnya hamil malam kemarin. Semoga Tuhan mengampuninya karena dengan kesadaran penuh dia sudah mendukung rencana Yesung.
.
.
Hampir sebulan sejak kejadian itu, dan Yesung menepati janjinya. Tidak menemui Ryeowook lagi. Atas bujukan dan desakan Jaejoong, Ryeowook kembali bekerja di perusahaan Yesung, lagipula bujukan Jaejoong ada benarnya juga, Ryeowook butuh gajinya untuk menghidupi mereka semua.
Dan selama sebulan itu Yesung, sang CEO menjadi orang yang paling sulit dilihat di kantor, jika tidak sedang melakukan perjalanan bisnis, lelaki itu mengurung diri di ruangan kerjanya dan tidak keluar-keluar. Sesekali Ryeowook masih berpapasan dengan Kangin, lelaki itu masih bekerja di sini, Yesung tidak jadi memecatnya, sepertinya dia dan Yesung sudah berhasil menyelesaikan kesalahpahaman di
antara mereka.
Dan Ryeowook merindukan Yesung. Dia sudah bertekad melupakan Yesung, tetapi hatinya punya mau sendiri, kadang dia menatap lift khusus direksi yang menyambung langsung ke ruangan Yesung dengan penuh harap. Berharap tanpa sengaja dia melihat Yesung keluar dari sana, melangkah ke parkiran mobilnya. Tuhan tahu betapa ia bersyukur seandainya saja dia bisa melihat Yesung, biarpun cuma satu detik, biarpun cuma dari kejauhan. Tapi entah kenapa Yesung seperti punya pengaturan waktu sendiri agar tidak bertemu Ryeowook.
Sore itu Ryeowook melangkah memasuki apartemennya dengan lunglai, dia tidak enak badan, sedikit panas dan meriang, jadi dia minta izin pulang cepat.
Ketika memasuki ruang tamu, dia mendengar suara tawa dari ruang tengah. Suara Donghae dan dokter Jaejoong. Dokter Jaejoong sudah mendapat izin Yesung menggunakan setengah hari kerjanya untuk melakukan terapi khusus pada Donghae.
Terapinya sudah membuahkan hasil, Donghae sudah bisa menggerakkan jari-jari kakinya, sedikit mengangkatnya dan melatih saraf-sarafnya. Optimisme bahwa Donghae akan bisa berjalan lagi semakin besar.
Ryeowook melangkah ke ruang tamu dan melihat Donghae sedang duduk di kursi rodanya sedang dokter Jaejoong menuangkan teh untuknya, sepertinya session terapi sudah selesai.
Donghae mendongak ketika merasakan kehadiran Ryeowook dan tersenyum lebar, mengulurkan tangannya,
"Hai sayang."
Dengan senyum pula Ryeowook melangkah mendekat, menyambut uluran tangan Donghae. Lelaki itu membawanya ke mulutnya dan mengecupnya.
"Bagaimana session terapi kali ini?" tanyanya lembut.
Donghae tertawa dan Ryeowook mengamatinya dengan bahagia, Donghae banyak tertawa akhir-akhir ini. Lelaki itu makin sehat, warna kulitnya juga sudah jadi cokelat sehat, tidak pucat pasi seperti dulu. Badannya sudah berisi dan tampak lebih kuat. Donghae sudah menjadi Donghaenya yang dulu, yang penuh tawa dan vitalitas, dengan semangat hidup yang memancar dari dalam dirinya.
"Aku tadi sudah belajar berdiri, sulit sekali Ryeowook sampai keringatku bercucuran, tapi aku senang sudah sampai di tahap sejauh ini", jelas Donghae bahagia.
Ryeowook membelalakkan matanya senang.
"Benarkah?", dengan gembira ditatapnya dokter Jaejoong, "Benarkah dokter?"
Dokter Jaejoong mengangguk dengan senyum dikulum.
"Perkembangan Donghae sangat pesat Ryeowook, aku optimis dia akan bisa berjalan lagi."
Dengan bahagia Ryeowook memeluk Donghae erat-erat.
"Oh aku bangga sekali padamu mendengarnya sayang!" serunya dengan kegembiraan murni.
Tapi tiba-tiba Donghae melepaskan pelukannya dan menatap Ryeowook sambil mengerutkan alisnya.
"Sayang, badanmu panas."
Gantian Ryeowook yang mengerutkan keningnya lalu meraba dahinya sendiri.
"Benarkah? Aku memang merasa tidak enak badan, makanya aku pulang cepat."
Dengan cemas, Donghae menoleh ke arah Jaejoong.
"Dokter, badannya panas bukan?"
Jaejoong segera mendekat dan menyentuh dahi Ryeowook lembut.
"Benar, kau panas Ryeowook, apakah kau terserang flu?"
Ryeowook menggelengkan kepalanya.
"Tidak, saya tidak pilek ataupun batuk dokter, tapi ada masalah dengan perut saya, akhir-akhir ini saya sering memuntahkan makanan yang saya makan, makanya badan saya terasa lemah dan..."
"Memuntahkan makanan?" dokter Jaejoong mengernyitkan keningnya, begitu serius.
Ryeowook menganggukkan kepalanya, tidak menyadari betapa seriusnya pandangan dokter Jaejoong menelusuri tubuhnya.
"Sudah berapa lama?" tanya dokter Jaejoong lagi.
Ryeowook tampak berpikir.
"Baru beberapa hari ini, mungkin seminggu terakhir ini."
"Apa kau kena maag Ryeowook?" Donghae menyela tampak semakin cemas.
"Mungkin," Ryeowook mengusap perutnya, "Soalnya aku sering mual."
Dokter Jaejoong mengikuti arah tangan Ryeowook dan menatap perut Ryeowook.
"Kau tampak pucat Ryeowook, berbaringlah dulu, aku akan menyusul dan memeriksamu nanti setelah selesai dengan Donghae."
Ryeowook menganggukkan kepalanya, lalu menunduk dan mengecup dahi Donghae.
"Aku berbaring dulu ya." bisiknya lembut dan Donghae mengangguk, balas mengecup dahi Ryeowook.
Seperginya Ryeowook, Jaejoong memijit kaki Donghae untuk session pelemasan akhir sambil berpikir keras... Tidak enak badan, mual, memuntahkan makanannya... Jika dihitung-hitung tanggalnya, semuanya tepat. Apakah Ryeowook sudah hamil dan tidak menyadarinya?
"Dokter?" Donghae yang menyadari kalau Jaejoong melamun menegurnya hingga Jaejoong tergeragap, "Dokter tidak apa-apa?"
Jaejoong berdehem salah tingkah.
"Ah, maafkan aku Donghae, aku sedang memikirkan Ryeowook."
"Kalau begitu sebaiknya dokter memeriksa Ryeowook dulu, aku juga mencemaskannya dok," Donghae tersenyum melihat Jaejoong ragu-ragu, "Tidak apa-apa dok, aku sudah lebih kuat sekarang, aku bisa membawa diriku sendiri ke kamar dan mengurus diriku sendiri. Kumohon, uruslah Ryeowook dulu."
Sambil mengangguk, Jaejoong bergegas menyusul Ryeowook ke kamarnya. Ryeowook sedang berbaring miring memegangi perutnya, tampak kesakitan dan pucat pasi.
Jaejoong duduk di sebelah ranjang, menyentuh dahi Ryeowook lagi, panas membara, meskipun keringat dingin mengalir deras.
"Saya muntah-muntah lagi barusan dokter." Ryeowook memejamkan matanya dan tidak berani membukanya, seolah takut kalau dia membuka matanya, rasa mual yang hebat akan menyerangnya lagi.
"Berbaringlah dulu, aku akan membuatkan teh mint untukmu, untuk mengurangi mual, nanti aku akan membuatkan resep obat untukmu." obat untuk wanita hamil. Jaejoong mulai merasa yakin melihat kondisi Ryeowook. Ryeowook hanya mengangguk patuh masih memejamkan matanya.
Beberapa saat kemudian, Jaejoong kembali datang dan membantu Ryeowook duduk, lalu membantunya meneguk teh mint itu, setelah itu dia membaringkan Ryeowook yang lemas di ranjang, Ryeowook meletakkan kepalanya di bantal dengan penuh syukur.
"Terima kasih dokter, tehnya sangat membantu, perut saya tidak begitu bergolak lagi seperti tadi."
Jaejoong tersenyum lembut.
"Cobalah untuk tidur." gumamnya sebelum melangkah keluar kamar.
Ketika merasa suasana cukup aman, dengan Donghae yang sepertinya sudah masuk ke kamarnya, Jaejoong meraih ponselnya dan memejet nomor telepon Yesung.
Yesung memang menghilang dari kehidupan Ryeowook, tetapi lelaki itu tetap memantau setiap detik kehidupan Ryeowook, lelaki itu menuntut laporan yang sedetail-detailnya dari Jaejoong setiap saat. Dan menurut Jaejoong, Yesung berhak mengetahui dugaannya ini.
"Jaejoong." Yesung mengangkat teleponnya pada deringan pertama.
"Yesung," Jaejoong berbisik pelan, bingung memulai dari mana. Sejenak suasana
hening, dan tiba-tiba suara Yesung memecah keheningan.
"Dia hamil." itu pernyataan bukan pertanyaan.
"Aku tidak bisa menyimpulkannya seakurat itu sebelum dilakukan test urine dan test lainnya, tapi kemungkinan besar dia hamil, dia memuntahkan semua yang dimakannya, dan mual-mual setiap saat."
"Dia hamil." kali ini rona kegembiraan mewarnai suara Yesung,
"Aku akan melakukan test urine dulu Yesung, kau tak bisa..."
"Aku akan segera kesana." dan Yesung menutup telepon. Membiarkan Jaejoong ternganga di seberang, lalu menggerutu dengan ketidaksabaran Yesung.
Yesung mau kesini, lalu apa? Langsung melemparkan bom itu ke muka Donghae dan Ryeowook? Dasar! Jaejoong berniat menunggu Yesung di depan apartemen, berusaha mencegah Yesung bertindak gegabah, lelaki itu harus berusaha pelan-pelan, apalagi kehamilan Ryeowook belum dipastikan secara akurat.
Lama sekali Jaejoong menunggu di ruang tamu, hampir satu jam. Kenapa Yesung lama sekali? Apakah Yesung membatalkan niatnya kemari? Jaejoong mulai bertanya-tanya. Saat itulah Donghae mendorong kursi rodanya ke ruang tamu, Jaejoong menoleh dan tersenyum,
"Hai Donghae, bagaimana kondisimu?"
Donghae balas tersenyum.
"Tidak pernah lebih baik, aku tadi membaca di kamar, dan mulai merasa bosan jadi aku keluar, bagaimana keadaan Ryeowook?"
Jaejoong menarik napas.
"Dia sudah tidur pulas sepertinya, kasihan sepertinya perutnya bermasalah."
Donghae mengernyitkan keningnya.
"Dia bekerja terlalu keras," gumamnya sendu, "Dan itu semua gara-gara aku."
"Donghae," Jaejoong menyela dengan lembut, "Kita sudah pernah membahas ini kan? Kau tidak boleh menyalahkan diri sendiri, lagipula Ryeowook melakukannya dengan sukarela."
"Benarkah?" suara Donghae menjadi pelan, "Kadang-kadang aku merasa dia hanya kasihan kepadaku."
"Donghae...", Jaejoong tidak melanjutkan kata-katanya karena tiba-tiba ponselnya berdering, dengan cepat diliriknya layar ponselnya. Kangin.
"Kangin?" panggilnya setelah mengangkat telepon, "Kangin kau tahu di mana Yesung? Dia bilang akan ke sini, tapi sampai sekarang dia belum datang..."
"Jaejoong, Yesung kecelakaan di tol."
