A Romantic Story About Ryeowook
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Genre : Romance & Drama
Rate : M
Ini adalah FF remake dari novelnya Shanthy Agatha yang judulnya "A Romantic Story About Serena". Aku Cuma mengedit nama tokoh dan sedikit latar tempat kejadian untuk keperluan cerita.
Pairing : Yewook, GS
DLDR
.
.
.
.
.
CHAPTER 18
.
.
"Ryeowook." dengan lembut Jaejoong menggoyangkan pundak Ryeowook yang tertidur pulas. Sementara Donghae mengikuti di belakangnya.
Dengan sedikit lemah Ryeowook membuka mata dan agak waspada melihat wajah dokter Jaejoong yang pucat pasi, dengan segera dia duduk, gerakan tiba-tiba itu langsung membuat kepalanya pening, tapi Ryeowook menahannya sambil mengernyit.
"Ada apa dokter? Donghae kenapa?"
"Aku baik-baik saja di sini." gumam Donghae dalam senyum.
Ryeowook menatap Donghae dengan lega, tapi lalu menatap dokter Jaejoong yang begitu
pucat pasi.
"Ryeowook, aku... Ah aku bingung bagaimana mengatakannya, tapi aku harus segera pergi, ini darurat... Tapi aku bertanya-tanya mungkin kau mau ikut."
"Ada apa dokter?", Ryeowook mulai tegang ketika dokter Jaejoong tidak juga mengatakan maksudnya.
"Yesung, barusan kecelakaan di jalan tol, dia sudah dibawa ke rumah sakit, tapi kami belum tahu kondisinya, Kangin juga sedang dalam perjalanan menuju kesana."
"Apa?" warna pucat mulai menjalar ke wajah Ryeowook, lalu segera digantikan dengan kepanikan luar biasa, "Ya Tuhan, aku ikut ke rumah sakit, dokter!"
Donghae mengamati kepanikan Ryeowook dari kejauhan, tapi dia hanya diam dan menatap. Ryeowook tampak pucat pasi dan ketakutan luar biasa. Kenapa sampai begitu? Seolah-olah kondisi Yesung benar-benar membuatnya cemas. Padahal Yesung kan hanya atasannya di perusahaan? Atau... Jangan-jangan lebih dari atasan? Pikiran buruk itu menyeruak dalam benak Donghae, dan dia cepat-cepat menyingkirkannya. Tapi ketika dia melihat betapa Ryeowook mulai gemetaran karena cemas dan panik ketika bersiap-siap berangkat, mau tak mau pikiran buruk itu memenuhi benaknya, ada hubungan istimewa apa antara Yesung dengan Ryeowook?
Perjalanan ke rumah sakit berlangsung begitu menyiksa bagi Ryeowook, dia terus menerus berdoa, seakan semua trauma masa lalu menghantamnya lagi keras-keras. Ini hampir sama dengan kecelakaan yang membunuh kedua orangtuanya dan melukai Donghae dulu. Dan Ryeowook tidak akan kuat menanggungnya kalau sampai terjadi apa-apa kepada Yesung. Ya Tuhan! Jangan sampai terjadi apa-apa pada Yesung, dia belum sempat mengatakan... Dia belum sempat mengatakan dengan jelas, bahwa dia... Bahwa dia mencintai Yesung.
Ryeowook berlari di depan menuju ruangan gawat darurat sementara Jaejoong mendorong kursi roda Donghae di belakangnya.
Dia melangkah memasuki ruang perawatan itu dan langsung bertatapan dengan Yesung.
Lelaki itu duduk di meja perawatan, telanjang dada, kepalanya terluka dan sudah di tutup perban, dokter sedang membalut luka di pundak dan lengannya. Banyak darah, tapi sudah dibersihkan. Selebihnya, Yesung tidak apa-apa. Lelaki itu masih hidup, masih untuh, dan ketika Yesung memalingkan kepalanya lalu menatap Ryeowook dengan mata birunya yang menyala-nyala.
Ryeowook pingsan.
.
.
Yesung berteriak memanggil Ryeowook, begitu juga dengan Jaejoong dan Donghae yang ada di belakang Ryeowook. Tapi Ryeowook pingsan mendadak dan jatuh ke lantai.
Dengan kasar Yesung menyingkirkan tangan dokter yang sedang membalut lukanya dan melompat turun, setengah berlari menghampiri Ryeowook, perawat datang menghampiri, tapi Yesung menyingkirkannya.
"Biar aku saja." gumamnya serak, mengeryit sedikit ketika mengangkat Ryeowook menyakiti luka di lengan dan bahunya, tapi dia tidak peduli, dipeluknya Ryeowook dengan posesif dan dibaringkannya ke meja perawatan.
"Tuan, saya belum menyelesaikan membalut lukanya." gumam dokter di ruang gawat darurat itu sedikit jengkel.
"Nanti saja." Yesung bergumam tajam dengan arogansi yang sudah seperti pembawaan alaminya sehingga membuat dokter itu terdiam, mengangkat bahunya lalu pergi.
"Sayang," Yesung menepuk pipi Ryeowook, tapi perempuan itu begitu pucat pasi. Dengan panik, Yesung menoleh ke arah Jaejoong di pintu, mengabaikan Donghae.
"Dia tidak apa-apa?"
Jaejoong mendorong Donghae mendekat, lalu menyentuh Ryeowook.
"Dia demam Yesung, dia sedang sakit ketika memaksa mengikuti aku kesini, terus tepuk pipinya pelan-pelan dan sadarkan dia, sepertinya dia shock,"
Jaejoong menatap Yesung tajam, "Dan kau.. kau tidak pernah kecelakaan selama hidupmu, apa yang kau lakukan di jalan tol tadi sehingga berakhir di rumah sakit ini? Apakah kau mabuk?"
Yesung mengeryit.
"Aku tidak mabuk, aku hanya terlalu buru-buru ingin cepat sampai jadi kurang hati-hati." saat itulah Ryeowook bergerak membuka mata, "Ah, sayang…. sayang, kau baik-baik saja?"
Ryeowook mengerjap-ngerjapkan matanya, begitu mendapati wajah Yesung ada di dekatnya, airmata mengalir di pipinya, tangannya bergetar ketika terangkat dan menyentuh wajah Yesung, meyakinkan dirinya bahwa betul-betul Yesung yang ada di depannya.
Dengan lembut Yesung meraih tangan Ryeowook dan mengecupnya.
"Aku ada di sini, aku baik-baik saja." gumamnya setengah berbisik.
Ryeowook membiarkan tangannya dalam genggaman Yesung, merasakan kulit Yesung yang panas, mensyukuri bahwa lelaki itu masih hidup. Tadi rasanya seperti mau mati saja ketika mengetahui bahwa Yesung kecelakaan, pikiran-pikiran buruk melandanya, membuatnya ingin menangis dan berteriak, membuatnya hampir menyalahkan Tuhan. Karena dia sudah memutuskan akan menerima tidak bisa bersama-sama dengan Yesung lagi asalkan lelaki itu tetap hidup, asalkan lelaki itu masih ada, hidup dan bernafas di dunia ini, biarpun Ryeowook tidak bisa melihatnya lagi. Pikiran bahwa Yesung bisa saja meninggal dan tidak ada di dunia ini hampir membuatnya ingin menyusul saja.
Karena itulah tadi ketika melihat Yesung masih hidup meskipun terluka membuatnya lega luar biasa sehingga pingsan. Ryeowook merasakan dadanya sesak ketika menyadari, bahwa cinta barunya, cintanya yang tidak diduga, cinta yang bertumbuh tanpa disadari karena kebersamaan mereka yang tidak direncanakan itu ternyata sudah mencapai tingkat intensitas yang sangat besar.
"Jangan pernah ulangi lagi," suara Ryeowook bergetar ketika mencoba berbicara serius kepada Yesung, "Jangan pernah ulangi lagi melakukan seperti ini kepadaku."
Yesung meraih kedua tangan Ryeowook dan mengecup jemarinya dengan lembut.
"Aku berjanji," jawabnya penuh perasaan, "Sekarang tidurlah sayang, aku ada di sini."
Dengan lembut Yesung mengusap dahi Ryeowook yang panas, membuat pikiran Ryeowook melayang, dia merasa lelah sekali, tubuhnya, jiwanya dan raganya. Tubuhnya sakit dan lunglai sedang jiwanya kelelahan menahan perasaan.
Usapan tangan Yesung di dahinya membuatnya dipenuhi kelegaan luar biasa, membuatnya dipenuhi rasa damai tidak terkira sehingga Ryeowook akhirnya terlelap lagi.
"Kemari, lukamu harus dibalut." Jaejoong mencoba menarik perhatian Yesung, lelaki itu menatap Ryeowook dengan serius, memastikan bahwa Ryeowook sudah tidur, lalu menurut menggerakkan tubuhnya agar Jaejoong lebih mudah membalut luka di pundak dan lengannya.
Saat itulah Yesung menyadari kehadiran Donghae, yang hanya diam saja menatap semua kejadian itu tanpa berkata-kata. Mata Yesung berkilat-kilat.
"Aku mencintainya." gumamnya terus terang, membuat Jaejoong tersedak dan saat itulah dia juga baru menyadari kehadiran Donghae.
Donghae hanya terdiam, menatap Ryeowook yang tertidur pulas dengan sedih.
"Aku tahu." gumamnya pelan.
Yesung mengangkat dagunya, mengernyit ketika perban itu membebat kencang lukanya.
"Dan dia juga mencintaiku, tetapi dia memilihmu." sambungnya getir.
Donghae menghela nafas.
"Itupun aku juga tahu."
"Sudah selesai." Jaejoong menyela cepat, lalu menepuk pundak Yesung.
"Berbaringlah dulu di ranjang sebelah", Jaejoong mengedikkan bahu ke ranjang di sebelah ranjang yang dipakai Ryeowook yang masih kosong. "Kau harus berbaring, kepalamu terbentur dan jika kau tidak segera berbaring kau akan mengalami vertigo." sambungnya tegas ketika melihat Yesung akan membantah.
Semula Yesung akan membantah, dia ingin melanjutkan pembicaraan dengan Donghae, menjelaskan semuanya. Tetapi Jaejoong benar, rasa pusing mulai menyerangnya, pusing dan nyeri di bahu dan kepalanya. Obat penghilang rasa sakit yang disuntikkan dokter jaga tadipun mulai bereaksi, membuatnya merasa lemas dan lunglai. Akhirnya Yesung mengangkat bahu dan melangkah ke ranjang kosong itu.
"Kita belum selesai bicara." gumamnya pada Donghae, mulai menguap.
"Nanti saja." sela Jaejoong mengernyit, lalu meraih kursi roda Donghae dan mendorongnya keluar, "Ayo Donghae, kita harus membiarkan mereka beristirahat." bisiknya lembut dan mendorong mereka keluar dari ruangan perawatan itu.
Jaejoong mendorong Donghae sampai di ruang tunggu yang tenang dan sepi, lalu duduk di sofa di sebelah Donghae. Suasana hening, dan Donghae hanya termenung tidak berkata-kata sampai lama. Jaejoong menunggu, menunggu sepatah pertanyaan dari Donghae sebelum menjelaskan semuanya, dan akhirnya pertanyaan itu datang setelah menunggu sekian lama.
"Apa yang terjadi di sini?", gumam Donghae serak, dia tetap bertanya meskipun kebenaran itu sudah menyeruak dalam kesadarannya, membuat dadanya sesak. Jaejoong menghela napas mendengarnya.
"Ceritanya panjang..."
"Aku punya banyak waktu", sela Donghae tak sabar, "Jelaskan semuanya"
"Ryeowook tidak pernah bermaksud mengkhianatimu kau tahu," gumam Jaejoong sedih, "Dia selalu berusaha setia kepadamu."
"Kau bicara begitu padahal jelas-jelas di depan mataku tadi dia jatuh cinta setengah mati kepada lelaki lain?" gumamnya getir.
"Kau tahu, Ryeowook putus asa ketika dia akhirnya berhubungan dengan Yesung... biaya operasimu... operasi ginjalmu – dokter mengultimatum kau harus segera dioperasi ginjal untuk menyelamatkan nyawamu – sangat mahal, hampir mencapai tiga ratus juta, sementara seluruh harta Ryeowook sudah habis, dia menanggung hutang yang sangat besar di perusahaan... jadi... jadi Ryeowook memutuskan menjual keperawanan dan tubuhnya kepada Yesung."
"Oh Tuhan!"
Wajah Donghae pucat pasi, keringat dingin mengalir di tubuhnya. Jadi semua ini bermula dari dirinya? Semua kegilaan tak diduga ini bermula dari keinginan Ryeowook menyelamatkan nyawanya? Menjual keperawanannya! Oh Tuhan, Donghae tidak pernah peduli apakah Ryeowook masih suci atau tidak, baginya Ryeowooknya adalah Ryeowook yang sama. Tapi... Mengetahui bahwa Ryeowook melakukan itu demi dirinya benar-benar menghancurkan hatinya. Mengetahui bahwa pada akhirnya Ryeowook menyerahkan hati pada lelaki lain yang disebabkan oleh dirinya sangat menyakiti perasaannya.
"Dan Yesung, atasan Ryeowook itu pasti laki-laki brengsek karena mau mengambil manfaat dari gadis lemah yang sedang kesulitan." desis Donghae marah.
Jaejoong menggeleng,
"Tidak seperti itu Donghae, Yesung sangat kaya, dia bisa mendapatkan gadis manapun yang dia mau, Tapi sudah sejak lama dia menginginkan Ryeowook, menurutku sebenarnya sudah sejak lama Yesung mencintai Ryeowook tetapi dia tidak menyadarinya, karena itu mungkin Yesung menganggap satu-satunya cara untuk memiliki Ryeowook adalah menerima tawarannya."
Donghae mengernyit mendengar penjelasan Jaejoong, hatinya sakit menyadari bahwa sekarang dia menjadi penghalang antara dua orang yang saling mencintai.
"Kenapa Ryeowook tidak membiarkan aku mati saja?" rintihnya dalam geraman penuh kesakitan, "Mungkin lebih baik aku dibiarkan mati saja sehingga aku tidak menghalangi kebahagiannya..."
Jaejoong menyentuh pundak Donghae lembut.
"Jangan pernah punya pemikiran seperti itu," selanya tegas, "Ryeowook mencintaimu sepenuh hati, dia berjuang mati-matian demi kehidupanmu, jangan pernah menghancurkan hatinya dengan kata-kata seperti itu."
"Dia sudah tidak mencintaiku lagi, dia hanya kasihan padaku, tatapan lelaki itu, tatapan Yesung kepadaku ketika mengatakan bahwa Ryeowook lebih memilihku dibanding dirinya tadi begitu penuh penghinaan dan kemarahan, seolah lebih baik aku tahu diri dan menyingkir saja."
"Yesung memang seperti itu, dia marah karena Ryeowook memilih untuk bersamamu. Tapi Yesung mencintai Ryeowook, karena itu dia menghormati keputusan Ryeowook."
"Lelaki itu, apakah benar dia mencintai Ryeowook? Dia terlalu berkuasa, terlalu mendominasi, terlalu arogan… aku takut dia hanya ingin menunjukkan kekuasaannya, hanya ingin memuaskan arogansinya untuk memiliki Ryeowook..."
Jaejoong menggeleng.
"Yesung yang dulu memang seperti itu, tapi ketika bersama Ryeowook, gadis itu dengan segala kepolosan dan kebaikan hatinya telah merubahnya. Yesung benar-benar mencintai Ryeowook, aku mengenal Yesung sejak dulu kau tahu, dan dia tidak pernah seperti itu sebelumnya, begitu mencintai seorang perempuan, begitu tergila gila hingga hampir dikatakan bisa gila karenanya."
Donghae menghela nafas panjang.
"Kalau begitu, kau ingin aku yang melepaskan Ryeowook?"
Jaejoong mengangkat bahunya pedih.
"Keputusan ada di tanganmu... Ryeowook sendiri tidak akan pernah meninggalkanmu, dia terlalu setia dan menyayangimu untuk meninggalkanmu. Dia rela mengorbankan perasaannya demi kamu. Jadi, kalau kau tidak melepaskannya, dia juga tidak akan pernah mengkhianatimu demi Yesung." Donghae memegang pangkal hidungnya, mengernyit seolah kesakitan.
"Aku sangat mencintai Ryeowook." gumamnya perih.
Air mata Jaejoong mulai menetes melihat kepedihan Donghae, pelan dia berjongkok di depan Donghae dan memeluk lelaki itu. Donghae tidak menolak, dia juga tidak menahan air matanya menetes. Kepedihan itu begitu dalam, kepedihan untuk merelakan diri melepaskan sesuatu yang paling berharga di tangannya, agar sesuatu paling berharga itu bisa menemukan kebahagiaannya.
"Aku tahu dan aku bisa mengerti kesedihanmu, kau tak perlu melepaskan Ryeowook kalau kau tak bisa." bisik Jaejoong lembut, mengusap kepala Donghae di bahunya, membiarkan lelaki itu terisak dengan kepedihannya.
Lama Donghae menumpahkan perasaannya, dengan isakan tertahan dan keheningan yang dalam, lalu dia mundur, melepaskan diri dari pelukan Jaejoong, duduk tegak dengan tekad kuat di matanya.
"Aku tidak mungkin membiarkan Ryeowook menderita dengan bertahan bersamaku, tidak setelah aku melihat betapa dalamnya perasaan Ryeowook kepada Yesung tadi, tapi sebelumnya aku ingin berbicara dengan Yesung."
