A Romantic Story About Ryeowook
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Genre : Romance & Drama
Rate : M
Ini adalah FF remake dari novelnya Shanthy Agatha yang judulnya "A Romantic Story About Serena". Aku Cuma mengedit nama tokoh dan sedikit latar tempat kejadian untuk keperluan cerita.
Pairing : Yewook, GS
DLDR
.
.
.
.
.
CHAPTER 19
.
.
Ryeowook masih tertidur di ruang perawatan. Jaejoong menungguinya. Sementara Yesung yang baru terbangun, dua jam setelah kecelakaan itu berjalan pelan, menuju ruang tunggu, dia sudah mencuci muka dan agak segar, tapi mau tak mau nyeri di kepala dan bahunya membuatnya mengernyit ketika berjalan.
Donghae sedang duduk membelakanginya di kursi roda. Menatap ke luar, ke arah jendela lebar yang ada di ruang duduk itu, hujan sedang turun deras di luar membuat suasana ruangan itu begitu suram.
"Bagaimana keadaan Ryeowook?" Tanya Donghae, menyadari kehadiran Yesung tetapi tidak menoleh untuk menatapnya.
"Baik, Jaejoong sudah mengatur perawatan dan obatnya, sekarang dia masih tertidur." Yesung berdiri, bersandar di tembok dekat Donghae, ikut menatap hujan yang mengalir deras di luar yang gelap, hanya menyisakan tetes air yang berkilauan terkena cahaya lampu.
"Kau pasti tahu kenapa aku ingin berbicara denganmu."
Yesung mengangguk meski tahu Donghae tidak menoleh untuk melihatnya. Hening sejenak, terasa begitu lama sampai kemudian terdengar Donghae menghela nafas panjang.
"Apakah kau mencintainya?" tanyanya pelan.
"Sangat." jawab Yesung cepat, tulus.
Donghae memejamkan mata ketika rasa perih menyengat di dadanya mendengar ketulusan Yesung kepada Ryeowook. Mengetahui bahwa ada lelaki lain yang mencintai Ryeowook dengan intensitas begitu besar kepada Ryeowook ternyata menyakitinya, membuatnya terasa terpuruk dan di kalahkan. Tapi Donghae menguatkan hatinya, semua demi Ryeowook, demi kebahagiaan Ryeowooknya.
"Apakah kau akan membahagiakannya?"
"Kebahagiaannya akan menjadi tujuan hidupku." gumam Yesung jujur, dia lalu menoleh menatap Donghae yang sedang menatapnya, dua laki-laki yang mencintai satu wanita saling bertatapan.
"Maafkan aku..." Yesung mengehela nafas, "Aku tidak pernah bermaksud mencuri Ryeowook darimu, aku tidak mengetahui keberadaanmu sampai saat terakhir, kau tahu."
Donghae mengernyit mendengar informasi yang baru didapatnya itu, Jaejoong belum menceritakan semua ini padanya, mungkin Jaejoong ingin Donghae mendengar sendiri dari mulut Yesung.
"Ryeowook tidak menceritakan alasan kenapa dia menjual diri padamu?"
"Tidak, mungkin semua akan berbeda jika dia menceritakan semuanya dari awal," gumam Yesung penuh penyesalan, "Aku memang jahat dan selalu mengambil apa yang kuinginkan tanpa tanggung-tanggung, tapi aku tidak pernah mengambil keuntungan dari penderitaan seseorang. Saat itu dia datang padaku, menjual dirinya padaku... kau tahu apa yang kupikirkan waktu itu?"
Yesung menatap Donghae dengan sedih, "Kupikir dia pelacur penggemar barang-barang mahal yang putus asa membutuhkan uang untuk memenuhi hasratnya akan kemewahan."
"Ryeowook tidak seperti itu." geram Donghae marah.
"Ya, dia tidak seperti itu," Yesung setuju, "Tapi waktu itu apa yang bisa dipikirkan lelaki seperti aku? Lelaki dengan kekayaan yang selalu mendapatkan wanita karena uang? Aku memang salah waktu itu, aku menginginkan Ryeowook dan aku punya uang yang diinginkannya, jadi kuterima tawarannya."
"Tapi pada akhirnya kau tetap jatuh cinta padanya meskipun kau menganggapdia pelacur murahan." Donghae merenung.
Sekali lagi Yesung menganggukkan kepalanya.
"Ya, aku jatuh cinta kepadanya, bahkan aku mulai tidak peduli kalau ternyata dia memang hanya menginginkan uangku, aku berpikir, tidak apa-apa, toh aku punya uang banyak, tidak apa-apa selama dia ada di sisiku." Yesung menghela nafas panjang.
"Kenyataan tentang keberadaanmu pada akhirnya menghantamku... Bahwa dia melakukan semua ini demi cintanya kepadamu."
Donghae memejamkan matanya.
"Dia sudah tidak mencintaiku lagi, dia hanya kasihan dan merasa bertanggung jawab."
"Dia tetap mencintaimu," Yesung tersenyum sayang ketika membayangkan Ryeowook, "Hatinya selalu dipenuhi cinta tanpa pandang bulu, mungkin karena itulah dia berhasil menyentuh hatiku yang gelap."
Donghae menganggukkan kepala, ikut tersenyum ketika membayangkan Ryeowook.
"Yah... Meskipun begitu, hatinya sudah kau miliki," Donghae menghela nafas, "Aku akan melepaskan Ryeowook."
"Kau pikir dia akan mau?" sela Yesung sedih, "Dia sudah memutuskan akan menjagamu, dia tidak akan mau."
"Dia pasti mau, aku sendiri yang akan berbicara padanya, aku tidak perlu dijaga, terapi ini berhasil dan Jaejoong meyakinkan kalau aku rutin melakukannya, dalam waktu empat bulan aku sudah akan bisa berjalan dengan normal. Aku masih bisa melanjutkan karirku sebagai pengacara setelahnya, mungkin butuh waktu lama dan aku harus belajar lagi, tapi kurasa aku bisa melangkah dengan kekuatanku sendiri."
Yesung menganggukkan kepalanya, yakin kalau Donghae pasti mampu melakukan apa yang dikatakannya.
"Maafkan aku." gumamnya tulus.
"Kenapa?", Donghae mengernyit menatap Yesung ingin tahu.
"Karena sudah mengalihkan hati Ryeowook darimu."
Donghae tersenyum, kali ini senyum yang benar-benar tulus.
"Seharusnya aku berterimakasih kepadamu, kau menjaganya selama aku tidak bisa ada untuk menjaganya."
Yesung terdiam, Donghae juga terdiam lama.
Lalu Yesung mengaku.
"Kau mungkin ingin memukulku, bahkan membunuhku setelah aku mengatakannya padamu..."
"Tentang apa?" mau tak mau Donghae merasakan ingin tahu ketika mendengar nada
misterius di suara Yesung.
Sesaat Yesung tampak kesulitan berbicara.
"Aku... aku punya rencana jahat untuk merebut Ryeowook darimu, aku pikir kalau Ryeowook tidak mau memilihku, aku akan memaksanya memilihku."
"Rencana jahat apa?" sela Donghae, langsung waspada.
Yesung tertawa getir.
"Bukan... rencana ini tidak menyakiti siapapun... kau tahu... Aku ingin sengaja membuat Ryeowook hamil... agar mau tak mau dia menjadi milikku."
Sejenak Donghae terdiam, pengakuan Yesung ini mau tak mau menyulut kemarahannya. Menyadari bahwa Yesung memanipulasi kepolosan Ryeowooknya.
"Dasar Brengsek." geram Donghae pelan.
Yesung menganggukkan kepalanya.
"Ya memang, aku brengsek. aku putus asa, setengah gila untuk memiliki Ryeowook, aku minta maaf."
"Menurutmu apakah rencana jahatmu itu sudah berhasil?" Tanya Donghae kemudian, tiba-tiba menghubungkannya dengan kondisi sakit Ryeowook.
Yesung mengangguk, menahan perasaannya untuk menjaga perasaan Donghae, tapi mau tak mau Donghae melihat sorot bahagia yang menyala-nyala di mata Yesung.
Tiba-tiba dia merasa tenang, lelaki ini sungguh mencintai Ryeowook, putusnya dalam hati, mungkin lebih dalam dari cintanya sendiri kepada Ryeowook...
"Jaejoong tadi sore menghubungiku, memberitahu kondisi Ryeowook, dan entah kenapa aku tahu. Aku tahu bahkan sebelum mereka melakukan test, aku tahu begitu saja."
"Dan karena itu kau kecelakaan, kau dalam perjalanan menemui Ryeowook?"
Yesung tersenyum, tidak berkata-kata, tapi matanya menjelaskan semuanya.
"Lelaki bodoh." gumam Donghae getir. Dan Yesung tertawa mendengarnya.
"Memang," gumamnya dalam tawa, lalu mengulurkan tangannya kepada Donghae, "Terimakasih atas kebaikan hatimu."
Donghae menyambut jabatannya dengan hangat.
"Aku melakukannya demi Ryeowook, bukan demi kamu, jadi ingat saja, kapanpun kau berani-beraninya membuat Ryeowook tidak bahagia, kau akan mendapati dirimu berhadapan denganku."
Yesung tersenyum mempererat jabatan tangannya.
"Aku berjanji kau tidak akan pernah berhadapan denganku."
.
.
"Ketika Ryeowook membuka matanya, dia mendapati Donghae duduk di sisi ranjangnya.
Menatapnya dalam senyum.
Ryeowook langsung sadar bahwa karena kepanikannya tadi dia melupakan keberadaan Donghae. Ya Tuhan! Apa yang dipikirkan Donghae ketika menyaksikan semuanya tadi? Pikiran itu membuatnya panik dan hendak bangkit dari ranjangnya, tapi Donghae menahannya dengan tangannya.
"Tidak apa-apa, tetap berbaring." gumamnya lembut.
Ryeowook menurut membaringkan tubuhnya, tetapi menatap Donghae dengan kepanikan mendalam.
"Donghae aku..."
"Sudah kubilang tidak apa-apa, aku sudah tahu semuanya Ryeowook, dan aku mengerti."
Kata-kata itu membuat wajah Ryeowook pucat pasi,
"Tahu apa? Mereka mengatakan apa padamu?" bisiknya lemah.
"Semuanya, tentang dirimu dan Yesung, dan perasaanmu kepadanya."
"Aku tidak punya perasaan apa-apa kepada..."
"Sttttt," Donghae menghentikan kata-kata Ryeowook, "Tidak perlu membohongi dirimu sendiri lagi Ryeowook, aku sudah tahu semuanya, kau begitu menyayangiku sehingga mau berkorban untukku, tubuhmu kau korbankan," Donghae menghela nafasnya pedih, "Dan sekarang, bahkan jiwa dan kebahagiaanmu mau kau korbankan juga untukku?"
Mata Ryeowook mulai berkaca-kaca.
"Aku tidak merasa mengorbankan apapun Donghae, aku mencintaimu, aku ingin menjagamu, aku..."
Dengan lembut Donghae meraih tangan Ryeowook dan menggenggamnya.
"Ya aku yakin, kau sangat mencintaiku, aku percaya itu," dengan lembut Donghae menoleh ke arah pintu, "Dia ada di luar, menunggu waktu untuk menemuimu, aku sudah berbicara dengannya dan yakin bahwa cintanya padamu begitu besar, bahkan mungkin lebih besar dari cintaku padamu." desah Donghae getir.
"Jangan berkata seperti itu." air mata mulai menetes di pipi Ryeowook, dan Donghae mengapusnya dengan lembut.
"Itu kenyataannya, dia begitu mencintaimu sehingga mau mengambil resiko apapun agar kau bahagia, dan dia rela dibenci olehmu agar kau bahagia," Donghae tersenyum lembut, "Terus terang aku mengaguminya dan aku merasa tenang kalau dia yang menjagamu."
"Jangan berkata seperti itu." Ryeowook mulai merasa dirinya seperti kaset yang rusak, mengulang-ulang kalimat yang sama.
"Aku harus mengatakannya." gumam Donghae sedikit geli dengan kata-kata Ryeowook.
Yah, dia ternyata bisa bahagia juga menyadari bahwa pada akhirnya dia akan memberikan kebahagiaan pada Ryeowook, kebebasan yang akan di berikan pada Ryeowook akan membawa perempuan yang dicintainya itu kepada kebahagiaan, dan Donghae merasakan kebahagiaan tersendiri ketika dia pada akhirnya merelakan Ryeowook. Semua patah hati dan kesakitannya akan sepadan dengan senyum dan kebahagiaan Ryeowook pada akhirnya. "Tapi sebelumnya aku harus bertanya kepadamu, Ryeowook, apakah kau mencintai Yesung?"
Pertanyaan yang diungkapkan secara langsung tanpa diduga itu membuat Ryeowook tertegun.
"Donghae... aku..."
"Tanyakan kepada hatimu Ryeowook," bisik Donghae lembut, mendorong Ryeowook agar mau jujur kepada dirinya sendiri, "Aku yakin kau sudah menyadarinya, kau hanya perlu mengakuinya kepadaku."
Di luar, Yesung yang menunggu sambil bersandar di tembok dekat pintu masuk mendengar semuanya, jantungnya berdetak keras, penuh antisipasi, ikut menanti jawaban Ryeowook.
Kumohon katakan Ya, bisik Yesung dalam hati, menjeritkan permohonannya dalam diam, kumohon katakan Ya , kau mencintaiku Ryeowook.
Di dalam ruangan Ryeowook tertegun, menatap Donghae, menatap ketulusan yang ada di sana. Tidak apa-apakah kalau dia mengakuinya? Tidak apa-apakah kalau Donghae akhirnya mendengarnya?
Ryeowook menarik napas dalam dalam, menahankan debar jantungnya, lalu menghembuskannya pelan-pelan.
"Ya Donghae," gumamnya lembut setengah berbisik, "Ya, aku mencintai Yesung, aku sangat mencintainya." air mata menetes lagi di pipinya.
Donghae mengusap air mata itu dengan lembut, sedikit melirik ke pintu, menyadari kehadiran Yesung di sana. Kau dengar itu Yesung? Gumamnya dalam hati. Permataku ini mencintaimu, dia sangat berharga dan dia mencintaimu, kau harus menjaganya baik-baik, jangan pernah menyakitinya...
Di luar Yesung memejamkan matanya mendengar pengakuan Ryeowook itu, dia dipenuhi kelegaan yang luar biasa. Ryeowook hampir tidak pernah mengungkapkan perasaan padanya, Yesung harus selalu mengukur-ukur, menebak-nebak dari mata dan tindakan Ryeowook. Dan mendengar sendiri kalimat itu dari bibir Ryeowook, diucapkan dengan penuh keyakinan, mau tak mau membuat tubuhnya dibanjiri aliran kebahagiaan.
"Dia pasti akan menjagamu Ryeowook, kau tidak usah mencemaskan aku lagi, aku sudah tidak perlu dijaga."
"Tapi, Donghae..."
Donghae tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Dokter Jaejoong mengajakku ke jerman. Disana dia punya kenalan spesialis tulang dan saraf yang sangat ahli, yang bisa menyembuhkanku lebih cepat, dan kupikir aku akan mengambil kesempatan itu."
Ryeowook membelalakkan matanya, pucat pasi.
"Donghae... Kau akan pergi?"
Donghae menganggukkan kepalanya.
"Aku akan mengejar kebahagiaanku, aku akan menyembuhkan diri dan memulai karirku, masih ada harapan dan aku tidak akan menyerah. Kau sudah memberiku contoh dengan berjuang untukku tanpa putus asa padahal kemungkinan aku terbangun dari koma sangat kecil, jadi sekarang aku akan berusaha berjuang."
Ryeowook tertegun, kehabisan kata-kata mendengar kalimat Donghae. Dia hanya punya satu hal untuk diungkapkan, kata maaf, maaf karena aku mencintai orang lain, maaf karena aku mengkhianati cintamu, maaf karena aku membiarkan hatiku dimiliki orang lain.
Ketika dia akan membuka mulutnya untuk meminta maaf, Donghae mencegahnya dengan menaruh jemarinya di bibir Ryeowook.
"Jangan meminta maaf, aku tahu kau akan meminta maaf," Donghae tersenyum simpul, "Kau tidak perlu meminta maaf, kau tidak pernah berniat mengkhianatiku, bahkan kau malah berniat mengorbankan hati dan perasaanmu demi aku. Seharusnya aku yang berterimakasih padamu."
Dengan lembut Donghae melepaskan cincin emas pertunangan di tangannya, dan meletakkannya dalam genggaman Ryeowook.
"Aku melepaskanmu, Ryeowook, tunanganku yang berharga. Terimakasih untuk cinta yang pernah kita bagi bersama. Terimakasih untuk semua perjuangan yang telah kau korbankan untukku, Terimakasih karena pernah mencintaiku," dengan lembut Donghae mengecup jemari Ryeowook yang terpaku, "Sekarang kau bebas, kejarlah kebahagiaanmu sendiri."
Air mata mengalir deras makin tak terbendung di mata Ryeowook. Hatinya penuh sesak, campur aduk antara penyesalan dan kelegaan luar biasa, akhirnya dengan pelan Ryeowook duduk lalu memeluk Donghae erat-erat. Berbagi tangis bersamanya.
"Terimakasih Donghae, aku mencintaimu." isak Ryeowook pelan.
"Aku juga mencintaimu." suara Donghae bergetar oleh air mata yang mulai datang.
