A Romantic Story About Ryeowook
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Genre : Romance & Drama
Rate : M
Ini adalah FF remake dari novelnya Shanthy Agatha yang judulnya "A Romantic Story About Serena". Aku Cuma mengedit nama tokoh dan sedikit latar tempat kejadian untuk keperluan cerita.
Pairing : Yewook, GS
DLDR
.
.
.
.
.
CHAPTER 20
.
.
Semua berlangsung begitu cepat, dokter dan perawat serta Jaejoong hilir mudik di ruangan itu untuk memeriksa keadaannya. Ryeowook merasa sudah baikan, hanya sedikit mual dan demamnya sudah turun, tapi entah kenapa Jaejoong bersikeras agar dia tetap di rawat inap di rumah sakit ini. Sebenarnya dia sakit apa? Ryeowook mulai bertanya-tanya.
Donghae sudah berpamitan tadi, diantar oleh dokter Jaejoong, mengatakan akan mempersiapkan kepergian mereka ke Jerman, kemungkinan dua minggu lagi.
Dan saat Ryeowook sendirian, pikirannya melayang. Dimana Yesung? Apakah dia di rawat di rumah sakit ini? Bagaimana kondisinya? Kenapa Yesung tidak menemuinya? Pemikiran-pemikiran itu membuatnya terlelap lagi.
Ketika bangun hari sudah sore, suasana kamar tampak remang-remang karena lagi-lagi hujan turun di luar membuat langit kelihatan gelap, Ryeowook menatap hujan di jendela dan mendesah.
"Sudah enakan?" suara itu terdengar lembut dan tiba-tiba sehingga Ryeowook terlonjak kaget, dia menoleh dan mendapati Yesung duduk di ranjang, di sampingnya. Lelaki itu begitu diam, Ryeowook mengernyit, pantas dia tidak menyadari kehadirannya.
"Maaf aku mengagetkanmu," Yesung tersenyum samar, lalu menyentuh dahi Ryeowook, "Sudah tidak panas lagi. Syukurlah. Kau masih memuntahkan makananmu?"
Ryeowook menggelengkan kepalanya, masih belum mampu berkata-kata.
"Aku... Aku sudah bisa menelan sup panas dari rumah sakit tadi."
Yesung mengangguk dan tersenyum.
"Aku sudah berbicara dengan Donghae, Ryeowook." Yesung segera berseru ketika melihat Ryeowook akan menyela kata-katanya, "Apapun yang akan kau katakan, aku tidak akan pernah melepaskanmu. Aku sudah mendapat kesempatan ini jadi tidak akan kusia-siakan, kau tidak akan dan tidak boleh menolakku atau melepaskan diri dariku." suara Yesung tegas dan penuh ancaman, matanya menyala-nyala.
Dalam hati Ryeowook merasa geli, ini Yesungnya yang biasa. Tidak berubah meski mencintainya, tetap saja arogan dan terbiasa mengungkapkan keinginannya dengan mengancam. Tapi bagaimanapun juga ini Yesung yang sama yang dicintainya.
"Ya Yesung." jawabnya dalam senyum.
Jawaban sederhana itu membuat Yesung yang begitu tegang karena antisipasi penolakan yang mungkin dilakukan Ryeowook, terpana.
"Apa?" Yesung bertanya seperti orang bodoh.
Ryeowook tersenyum lembut, otomatis tangannya bergerak menyentuh dahi Yesung yang berkerut bingung, mengelusnya lembut, menghilangkan kerut yang ada di sana.
"Ya Yesung, aku tidak akan melepaskan diri darimu."
Yesung seolah kesulitan mencerna jawaban sederhana Ryeowook, tetapi ketika dia bisa memahaminya, seketika itu juga Yesung merengkuh Ryeowook, memeluknya erat-erat.
"Demi Tuhan... Aku sepertinya masih butuh berkali-kali diyakinkan olehmu," bisiknya serak di rambut Ryeowook, "Kau selalu membuatku bertanya-tanya, dengan mata lebarmu yang selalu tersenyum, dengan kelembutanmu, kau selalu membuatku bertanya-tanya apakah kau mencintaiku."
Ryeowook membalas pelukan Yesung dengan lembut.
"Aku mencintaimu."
"Katakan lagi," Yesung mengerang, memejamkan matanya, mengetatkan pelukannya, "Aku butuh diyakinkan."
"Aku mencintaimu." ulang Ryeowook patuh.
Yesung melepaskan pelukannya lalu mengusap rambut Ryeowook lembut, kemudian meraih tangannya, mengernyit ketika melihat Ryeowook masih memakai cincin dari Donghae, bersebelahan dengan cincin darinya.
Dengan lembut disentuhnya tangan Ryeowook, disentuhnya cincin Donghae disana.
"Boleh aku melepaskannya?"
Yesung tetap akan melepaskannya meskipun Ryeowook menggeleng, Ryeowook tahu itu. Tapi Ryeowook menghargai Yesung yang menyempatkan diri bertanya kepadanya.
Dengan lembut ia mengangguk.
Hati-hati Yesung melepaskan cincin pertunangan Ryeowook dengan Donghae, lalu meletakkannya di meja. Setelah itu dikecupnya jemari Ryeowook yang memakai cincin pemberiannya.
"Aku ingin kau menikah denganku, segera."
Sekali lagi Ryeowook tersenyum, lamaran khas ala Yesung. Bukannya bertanya 'maukah kau menikah denganku?' lelaki ini malah menyatakan keinginannya dengan arogansi yang tak terbantahkan. Tiba-tiba Ryeowook mengerutkan keningnya mencerna kalimat Yesung.
"Kenapa harus segera?"
Dan entah kenapa pertanyaannya itu membuat pipi Yesung memerah. Ryeowook jadi bertanya-tanya apa yang salah dengan pertanyaannya.
"Kau... Eh, mungkin kau tidak menyadari perubahan tubuhmu..." Yesung tampak kesulitan menyusun kata-kata. Tapi pada akhirnya dia melemparkan kebenaran itu, "Kau... Sedang mengandung anakku"
Kata-kata itu membuat Ryeowook ternganga, itu adalah kebenaran yang sama sekali tidak disangka-sangkanya. Yesung sangat hati-hati kalau bercinta dengannya. Bahkan dalam kondisi berhasratpun dia selalu ingat untuk memakai pelindung, jadi Ryeowook tak mungkin hamil. Karena itulah meskipun tubuh Ryeowook menunjukkan gejala seperti perempuan hamil, tidak datang bulan, mual, kram di perut dan sebagainya, tidak pernah sedikitpun terlintas di benaknya kalau dia sedang mengandung.
Kemudian kesadaran itu melintas di benaknya, Ryeowook tidak mungkin mengandung, kecuali kalau Yesung menginginkannya, Ryeowook tidak mungkin mengandung, kecuali kalau Yesung sengaja...
"Kau selalu menggunakan pelindung," gumam Ryeowook menatap Yesung dengan waspada, "Malam itu kau tidak memakainya."
Pipi Yesung agak memerah tapi dia menatap mata Ryeowook tanpa penyesalan.
"Aku memang sengaja, semua yang terjadi malam itu memang sudah kurencanakan," dengan angkuh Yesung mengangkat dagunya, "Aku ingin kau memilihku."
Pipi Ryeowook memucat sedikit marah.
"Kau berencana menjebakku dengan kehamilan?"
Yesung menggenggam tangan Ryeowook erat-erat memejamkan matanya penuh kepedihan.
"Aku memang brengsek dan licik, tapi itu semua kulakukan karena aku hampir gila putus asa ingin memilikimu, aku mencintaimu dan menderita karenanya, aku bersedia minta maaf kalau kau menginginkannya, tapi aku tidak pernah menyesal sudah membuatmu hamil..."
Kata-kata itu, yang diungkapkan dengan sepenuh hari, melelehkan kemarahan Ryeowook, dengan lembut diraihnya kepala Yesung dan dipeluknya. Lama mereka berpelukan dalam diam.
"Karena itu kau mencium perutku." gumam Ryeowook, teringat keanehan perilaku Yesung saat itu.
"Ya," Yesung tersenyum bangga, "Aaat itu aku yakin dia sedang terbentuk, aku memerintahkannya supaya tumbuh sehat agar aku bisa memiliki ibunya."
Yesung mengangkat bahu, "Aku konyol sekali ya."
Ryeowook tertawa mendengarnya, sisi santai Yesung yang jarang diperlihatkannya ini juga sudah membuatnya jatuh cinta. Ya, dia benar-benar mencintai lelaki ini, dengan segala arogansinya, dengan segala kekeras kepalaannya, sekaligus dengan segala kasih sayangnya yang Ryeowook tahu, melimpah untuknya.
Dengan lembut Ryeowook mengelus perutnya, menyadari bahwa buah cinta mereka sedang bertumbuh di perutnya, semakin lama semakin kuat, hingga akhirnya nanti akan terlahir ke dunia.
Mata Yesung mengikuti gerakan Ryeowook. Lalu tangannya mengikuti Ryeowook, mengusap perutnya lembut.
"Dia kuat dan baik-baik saja di sana." gumam Yesung setengah berbisik.
"Ya." Ryeowook berbisik juga.
"Mungkin nanti dia akan mulai menendang-nendang." dahi Yesung berkerut, mengingat isi buku-buku referensi kehamilan yang mulai dibacanya.
Ryeowook, mengangguk, tersenyum simpul.
"Pasti, seperti pemain sepakbola."
"Aku lebih suka dia seperti CEO handal." dahi Yesung tetap berkerut.
Ryeowook terkekeh.
"Ya, seperti CEO handal," suara Ryeowook berubah seperti bisikan, "Seperti ayahnya."
Mereka bertatapan, mata Ryeowook berkaca-kaca, mata Yesung berkilauan penuh perasaan. Diantara tatapan mereka terjalin setiap impian orang tua tentang anaknya di masa depan.
Lalu Yesung mengecup dahi Ryeowook.
"Terimakasih sudah hadir di hidupku," bisiknya serak penuh perasaan, "Terimakasih sudah mengajari aku mencintai dengan begitu dalam, terimakasih sudah menyentuh hatiku yang gelap dan jahat sehingga bisa merasakan indahnya mencintai seseorang, dan yang terpenting terimakasih sudah mau mencintaiku." lalu dia meraih dagu Ryeowook dan mengecup bibirnya lembut, kecupan penuh kasih sayang yang dengan segera berubah menjadi panas dan bergairah.
Lama kemudian Yesung baru mengangkat kepalanya, meninggalkan bibir Ryeowook yang panas dan basah, matanya berkilat-kilat penuh gairah, tetapi dia menahan diri dan mencoba tersenyum, mengusap rambut Ryeowook dengan lembut.
"Nanti, setelah kau sehat," janjinya penuh arti, membuat pipi Ryeowook memerah, lalu memeluk Ryeowook lagi, "Aku mencintaimu Ryeowook, dan aku berjanji akan membuatmu serta anak-anak kita nanti bahagia, kau boleh pegang janjiku itu."
Ryeowook tersenyum mendengar tekad kuat dalam suara Yesung.
"Aku tahu Yesung, aku juga mencintaimu."
Mereka tetap berpelukan, dipenuhi perasaan cinta yang hangat. Hanya ada mereka berdua dan kebersamaan mereka, Ryeowook dengan Yesungnya yang akhirnya menyerahkan hatinya untuk termiliki satu sama lain. Yang pada akhirnya bisa saling memiliki satu sama lain.
END
Huaaahhhh akhirnnya selesai juga
Terimakasih atas semua review, semangat dan dukungannya
#pelukreadersemua
Sebenernya masih ada epilog, nanti bakal aku post juga kok.
Ditunggu ne...
Sekali lagi terimasih pake banyak
