A Romantic Story About Ryeowook
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Genre : Romance & Drama
Rate : M
Ini adalah FF remake dari novelnya Shanthy Agatha yang judulnya "A Romantic Story About Serena". Aku Cuma mengedit nama tokoh dan sedikit latar tempat kejadian untuk keperluan cerita.
Pairing : Yewook, GS
DLDR
.
.
.
.
.
EPILOG
.
.
Ryeowook mulai larut dalam kantuknya ketika suara berderap terdengar di lorong kamar rumah sakit itu. Matanya terbuka, bersamaan dengan sosok Yesung, acak-acakan dengan rambut berantakan, dasi dilonggarkan seadanya dan mata yang menatap tajam. Setengah panik.
Dengan menahan geli, Ryeowook menatap Yesung yang sedang mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan tempat Ryeowook berbaring. Ketika pada akhirnya mata mereka bertatapan, seulas senyum tampak di mata mereka. Senyum yang sama yang selalu mereka bagi ketika mereka bertatapan, bahkan sejak 5 tahun yang lalu di hari pernikahan mereka.
"Aku pikir aku terlambat," Yesung mengusapkan jemari di rambutnya yang berantakan, "Mereka menelepon kantor dan bilang kau di bawa ke rumah sakit karena sudah kontraksi, aku tadi ke sekolah Jongin dulu baru kesini."
Ryeowook tersenyum, menatap perutnya yang membuncit. "Belum Yesung, kata dokter aku harus menunggu sebentar lagi."
Yesung mendesah melangkah masuk, dan duduk di tepi ranjang, digenggamnya tangan Ryeowook penuh kasih.
"Aku panik," matanya menatap Ryeowook cemas, "Bagaimana rasanya sayang? Apakah kau sakit? Apakah kau merasa nyaman?"
Ryeowook mengangguk sambil membalas remasan jemari Yesung, kemudian seperti menyadari sesuatu, tatapannya melirik ke belakang punggung Yesung.
"Dimana Jongin?"
Dengan senyum dikulum, Yesung ikut menoleh ke arah pintu.
"Tertahan di pintu seperti biasanya, suster-suster sibuk mengagumi dan merubunginya, dan meskipun masih kecil sepertinya dia menikmati banyaknya perhatian dari perempuan-perempuan itu." Alis Yesung tampak berkerut bersungguh-sungguh ketika mengucapkan kata-kata itu sehingga Ryeowook terkekeh geli.
"Mungkin karena dia putra Kim Yesung, seorang playboy sejati." canda Ryeowook sambil menahan tawa.
Ryeowook menatap suaminya dengan penuh perasaan sayang. selama lima tahun perkawinan mereka. Cintanya kepada suaminya semakin dan semakin dalam, oh... Yesung memang tidak berubah, dia masih lelaki yang sama, yang arogan dan keras kepala dengan mata biru menyala ketika marah, tetapi lelaki itu sekaligus berubah menjadi lembut dan... banyak tertawa. Pada awal mulanya Yesung masih membatasi diri, tetapi sekarang sudah tidak ada lagi batasan di antara mereka. Yesung ternyata bisa menjadi suami yang begitu penyayang dan lembut, membuat Ryeowook merasa menjadi istri yang luar biasa bahagia dan dicintai.
Mendengar perkataan Ryeowook, Yesung cemberut meskipun ada senyum menari-nari di matanya, dikecupnya jemari Ryeowook lalu matanya mendongak, menatap nakal.
"Playboy sejati yang akhirnya tunduk di bawah kuasa Nyonya Kim yang mempesona." godanya setengah berbisik.
Pipi Ryeowook memerah, dalam kondisi hamil sembilan bulan, dia tampak cantik dan berisi, apalagi dengan pipi merona yg begitu menggoda.
Tatapan Ryeowook meredup penuh arti, "Dan sekarang Nyonya Kim yang cantik, mengingat sudah cukup lama aku tidak menyentuhmu, maukah kau setidaknya memberikan kecupan dibibir suamimu yang merana ini?" tambahnya nakal.
Pipi Ryeowook makin terasa panas oleh godaan Yesung itu, dan rupanya itu, membuat Yesung gemas, dengan lembut disentuhnya dagu Ryeowook, di dekatkannya bibirnya ke bibir ranum Ryeowook yang sedikit membuka, menanti. Napasnya mulai terengah, ah... Betapa manisnya ciuman ini... Yesung amat rindu merasakan bibir mereka berpadu dalam tautan panas yang...
Suara berdehem keras membuat bibir mereka yang hampir bersentuhan menjauh seketika. Yesung mengumpat pelan, sedangkan Ryeowook menoleh dengan penuh rasa bersalah ke arah pintu.
"Aku harap aku tidak mengganggu," gumam Suster Leeteuk dengan senyuman lebar tanpa rasa bersalah. "Tetapi bocah kecil yang kalian lepaskan ini membuat para perawat sibuk merubunginya dan lupa pada pekerjaannya."
Dalam gendongan Suster Leeteuk, tampak Kim Jongin, putra pertama Yesung dan Ryeowook yang baru berusia 4 tahun. Bocah lelaki itu sudah mewarisi ketampanan ayahnya, dengan rambut cokelat berkilau, mata biru pucat yang tajam dan struktur wajah aristrokrat yang diwarisi turun temurun oleh setiap keturunan keluarga Kim, sudah pasti di tahun-tahun mendatang dia akan memikat hati banyak wanita.
Jongin meluncur turun dari gendongan Suster Leeteuk begitu melihat Ryeowook, lalu berlari ke arah ranjang.
Yesung langsung mengangkat Jongin dan meletakkannya ke pangkuannya, bocah kecil itu tampak begitu pas dalam pelukan ayahnya.
"Lihat Eomma yang aku bawa." seru Jongin memamerkan barang bawaannya.
Ryeowook mengernyit melihat barang-barang yang dibawa oleh Jongin, ada sekantong permen, cokelat, berbagai kembang gula dan makanan-makanan manis lainnya, dan senyumnya muncul, "Darimana kau mendapatkannya sayang?"
"Dari suster-suster yang berlomba-lomba memberikannya hadiah," Suster Leeteuk mendekat dan tersenyum pada Ryeowook, lalu menatap serius pada Yesung, "Kau benar-benar harus menjaga bocah kecil ini Yesung, dia benar-benar menimbulkan keributan di divisiku tadi," gumamnya dalam tawa, lalu matanya menatap serius ke arah Ryeowook, "Bagaimana kondisimu sayang? Apakah kau dan putri kecil di dalam perutmu baik-baik saja?"
Ryeowook mengangguk, tanpa sadar mengusap perutnya, diikuti tatapan lembut Yesung,
"Dokter bilang tinggal tunggu... Sudah pembukaan empat, biasanya kontraksi makin cepat..." Wajah Ryeowook tiba-tiba mengerut. "Tapi perutku terasa sakit..." Ryeowook memegang perutnya.
Wajah Yesung langsung pucat pasi, "Ryeowook? Ryeowook? Kau tidak apa-apa?"
Suster Leeteuk langsung bergerak sigap keluar, memanggil dokter supaya datang ke ruangan.
"Sepertinya aku kontraksi lagi..." Ryeowook menatap Yesung panik, "Sepertinya si kecil tak mau menunggu lebih lama..."
"Tahan ya sayang." kali ini wajah Yesung benar-benar pucat sehingga mau tak mau meskipun menahan nyeri kontraksi di perutnya, Ryeowook tertawa.
"Kenapa kau malahan tertawa?!" Yesung mengerutkan keningnya setengah membentak, tetapi kemudian ikut tertawa melihat ekspresi Ryeowook, lelaki itu mengacak-acak rambutnya dengan gugup, "Maafkan aku... aku terlalu berlebihan ya?"
"Dari ekspresi kalian, kupikir Yesung lah yang akan melahirkan, bukan Ryeowook," Suster Leeteuk terkekeh ketika masuk bersama dokter dan beberapa perawat, menyiapkan Ryeowook untuk dibawa ke ruangan bersalin, Suster Leeteuk menatap Ryeowook dan tersenyum, "Tenang sayang, si kecil yang ini sepertinya ingin cepat keluar."
Ryeowook tersenyum dan menggenggam tangan Yesung yang langsung merangkumnya erat dalam jemarinya. Yesung selalu ada. Kapanpun dia membutuhkannya, Yesung selalu ada untuknya. Perasaan Ryeowook menjadi hangat, kenangan akan hari kelahiran Jongin, putra pertama mereka menyeruak. Ketika itu dia melahirkan tengah malam, dan lebih cepat tiga minggu dari jadwal yang seharusnya, Yesung mengebut seperti orang gila dan menyumpahi siapapun yang menghalangi jalannya ke rumah sakit malam itu, dan mereka sampai tepat waktu. Ketika proses kelahiran Jongin pun, Yesung ada di sampingnya. Ketika Ryeowook mengerang Yesung mengerang, seolah ikut merasakan sakit, dan selama proses itu, Yesung menyediakan lengannya yang kuat sebagai pegangan bagi Ryeowook.
Ryeowook meringis lagi ketika rasa nyeri bercampur ketegangan kontraksi menyerangnya lagi, dan makin lama jedanya semakin cepat.
"Mari kita lahirkan putri kecil kita di dunia." bisik Ryeowook dalam senyum, menenangkan Yesung.
Proses kelahiran bayi mungil mereka berlangsung cepat dan lancar, selama proses itu, Yesung terus mendampingi Ryeowook, memberikan semangat dan kekuatan sampai akhir. Dan akhirnya Kim Jongin, bayi perempuan mungil mereka lahir ke dunia ini.
Bayi itu sangat cantik. Bahkan dalam kondisi tertidurpun, dia begitu mempesona bagaikan malaikat. Rambutnya lebat dan berwarna cokelat muda, dengan bibir merah muda yang merona, dengan tubuh yang montok dan sehat khas bayi.
Ryeowook mengecup dahi bayi dalam gendongannya dan menghirup aroma khas bayi dengan bahagia. Gerakannya membuat Jongin terbangun, bayi kecil itu membuka mata birunya, mata yang serupa dengan mata ayahnya. Dan kemudian, memutuskan untuk menangis keras-keras sebagai bentuk protesnya karena diganggu dari tidur nyenyaknya.
Yesung, yang duduk di tepi ranjang terkekeh melihatnya, "Satu lagi keturunan Kim yang keras kepala." Gumamnya geli melihat Kyungsoo yang menangis sambil mengepalkan kepalanya, memutuskan bahwa dia sudah merasa lapar dan memprotes karena belum disusui.
Ryeowook membalas senyum Yesung, lalu menyusui Kyungsoo, bayi itu langsung melahap puting Ryeowook dan mengisapnya kuat sehingga menimbulkan bunyi isapan keras.
"Iya, dan putrimu ini sepertinya akan menjadi putri yang tangguh." Diusapnya dahi Kyungsoo dengan penuh rasa sayang.
"Seperti ibunya," bisik Yesung lembut, menikmati pemandangan menakjubkan di depannya, dimana wanita yang dicintainya sedang menyusui anaknya, buah cinta mereka. "Putri tangguh yang berjuang dengan penuh keyakinan, hingga membuatku bertekuk lutut di pelukannya."
Ryeowook tersenyum lembut mendengar kata-kata Yesung dan melanjutkan menyusui Kyungsoo. Beberapa menit kemudian, Kyungsoo rupanya memutuskan bahwa dia sudah kenyang, dia langsung tertidur dan melepaskan puting ibunya, tampak begitu damai dalam pelukan Ryeowook.
Ryeowook mengamati Yesung yang menatapnya penuh sayang, lalu mengamati Jongin, yang tertidur pulas, berbaring meringkuk dipangkuan Yesung, bagaikan miniatur dari sang ayah.
Keluarganya. Ryeowook dulu pernah kehilangan seluruh keluarganya, berjuang sendirian atas dasar keyakinannya. Dan Tuhan begitu baik kepadanya, dia memberikan seorang suami yang luar biasa dan dua malaikat kecil yang membahagiakan. Tidak henti-hentinya Ryeowook bersyukur atas semua anugerah ini.
"Donghae menitip salam tadi lewat telepon ketika kau masih beristirahat," Yesung tersenyum lembut, "Kata Donghae, dengan terapi dari dokter Jaejoong dan teman ahlinya di sana, dia sudah bisa berjalan tanpa bantuan kruk sekarang, dan beberapa saat lagi dia pasti sudah bisa berlari. Sembuh sepenuhnya." Mata Yesung melembut melihat kebahagiaan di mata Ryeowook yang berkaca-kaca, "Katanya dia akan pulang tiga bulan lagi dan memperkenalkan Eunhyuk, perempuan yang dia ceritakan itu, yang telah berhasil mencuri hatinya."
Ryeowook mengangguk, "Aku tidak sabar bertemu dengan Eunhyuk, dia pasti perempuan yang baik, aku bersyukur Donghae bisa menemukan kekasih sejatinya."
"Seperti aku yang akhirnya bisa menemukanmu," Yesung menggenggam tangan Ryeowook. "Terimakasih waktu itu sudah memilihku Ryeowook, terimakasih sudah menjadi istriku, mengandung dan melahirkan anak-anakku, terimakasih sudah menjadikanku laki-laki paling bahagia di dunia."
Air mata mengalir di pipi Ryeowook, mengenang masa-masa dulu. Segala kesakitan, kelelahan, kebahagiaan bercampur aduk, dan pada akhirnya cintalah yang memenangkan segalanya. Perasaan cinta yang membuncah membuat dadanya terasa penuh sehingga dia tak mampu berkata-kata.
Dengan lembut, meskipun gerakannya terbatasi oleh Jongin yang masih lelap dipangkuannya, Yesung mengusap dahi Ryeowook. lalu merangkum pipi Ryeowook di kedua tangannya, "Aku mencintaimu Ryeowook ku."
Ryeowook mengangguk dan mengecup jemari Yesung, "Aku juga mencintaimu Yesungku".
Lelaki itu mendekatkan bibirnya, dan mengecup bibir Ryeowook, mulanya adalah ciuman yang lembut, tetapi kemudian menjadi bergairah, bibir Yesung menikmati bibir Ryeowook, mencecap rasanya dan menghirupnya, lidahnya menelusuri bibir lembut Ryeowook dan kemudian berpadu dengan lidah Ryeowook.
Geliat Jongin dalam tidurnya di pangkuan Yesung membuat bibir mereka terlepas, Yesung memandang Ryeowook lalu mereka tertawa bersama-sama.
Dua anak manusia itu berpelukan, dengan buah cinta yang terlelap di antara mereka. Dua anak manusia yang pada akhirnya berpadu, dalam suatu ikatan perkawinan yang luar biasa indahnya. Penuh kebahagiaan.
