"Ayo! Kita menuju tempat segerombolan orang itu!" Luffy mulai berjalan menuju depan gedung itu, "Oee! Kalian yang disana!"
One Piece Eiichiro Oda
Jogja, Dab! 2 masnya & Click Clack Blauw
Pairing : ZoroxLuffyxSanji
Warning : aman, kok. Typo(s), bisa jadi OOC, dan masih out of genre
.
.
Teriakan Luffy terdengar oleh segerombolan orang tadi. Luffy dan yang lainnya pun mendekat. Dan terlihat ada empat orang yang berada di depan gedung itu.
"Maaf, kami ingin bertanya," ucap Sanji.
"Silahkan," kata seorang pria dewasa muda sambil merokok.
"Adakah yang punya korek api? Aku juga ingin menyalakan rokok."
"Ada," pria itu memberi Sanji sebuah korek gas.
"Terima kasih."
"Itu bukan tujuan kita, dasar koki bodoh!" seru Zoro.
"Ah, iya. Aku lupa," Sanji menghembuskan asap rokok yang dihisapnya ke udara, "Sebenanya tempat apa ini? Dan apa nama kotanya?"
"Jadi, kalian kesasar, ya?" tanya pria itu.
Mendengar pertanyaan tersebut, Sanji dan Luffy menatap ke arah Zoro dan berkata, "Tidak."
"Apa maksud tatapan kalian itu?!" Zoro curiga.
"Tempat ini adalah Alun-alun Utara, dan sedang mengadakan sekaten*," kata pria itu "Dan kota ini bernama Jogja, Dab!" *Sekaten : tradisi yang digelar setahun sekali untuk memperingati Maulid Nabi di Jogja dan diadakan di Alun-alun Utara. Isinya seperti taman hiburan. (Kira-kira gitu)
"Jogja?" Luffy nampak kebingungan, "Dab?"
"Dab itu hanya sebuah panggilan."
"Begitu. Lalu apa ini masih di daerah Grand Line?" tanya Sanji.
"Grand Line? Apa itu? Makanan?" pria itu benar-benar tidak mengerti apa maksud pertanyaan Sanji.
"Sepertinya Franky buta arah sehingga kita benar-benar keluar dari Grand Line!" kata Zoro kesal.
"Yang buta arah itu kau!" teriak Sanji.
Tiba-tiba, seorang teman dari pria tadi mendekati Luffy dan mengambil topi jeraminya, "Kalian petani, ya?" tanyanya sambil memainkan topi milik Luffy.
"Petani?! Kita bajak laut! Dan kembalikan topi itu!" paksa Luffy.
"Ini, 'kan hanya sebuah topi jerami. Apa benda ini berharga?" tanya pria jangkung itu.
"Sangat! Topi itu memang sangat berharga!" seru Luffy dengan mantap.
"Hei, kau. Kembalikan topi miliknya. Atau kau ingin kupotong?" Zoro mengancam. Ia tidak terima topi kesayangan sang kapten diambil seenaknya oleh orang lain.
"Menarik. Sebegitu berharganya kah topi ini?"
Dan angin pun berhembus kencang secara mendadak. Membuat topi jerami itu terbang.
"Gawat!" melihat hal itu Luffy segera memanjangkan lengannya dan mengambil topinya.
"Hei, hei. Lenganmu memanjang." Kata pria berambut panjang, yang merupakan salah satu dari empat orang tadi.
"Ya. Karena aku pemakan buah Gomu Gomu no Mi, aku manusia karet!"
"Pfft," mereka nampak asing akan hal itu, "Karet, katanya? Mereka benar-benar orang yang humoris!"
"Kalian pikir aku bercanda?" Luffy menarik-narik pipinya untuk meyakinkan mereka.
Mereka masih saja tertawa hingga terbahak-bahak.
"Sudahlah, Luffy. Kita sudah tahu kota apa ini. Lebih baik kita pergi saja!" Sanji mulai kesal.
"Dan sepertinya orang-orang disini sangat berbeda dengan orang-orang di Grand Line." Tambah Zoro.
Lalu mereka bertiga pun pergi menjauhi pria tadi.
.
.
"Kyaaaaaa!" terdengar suara jeritan.
"Nami-swan! Itu suara Nami-swan!" seru Sanji yang kemudian berlalri mencari tempat Nami berada, diikuti oleh Zoro dan juga Luffy.
Setelah Sanji menemukannya, ia langsung bertanya pada wanita peggemar jeruk itu.
"Ada apa, Nami-swan?! Dimana Robin-chwan?!"
"Dompet! Dompetku diambil oleh dia!" seru Nami sambil menunjuk seseorang yang sedang berlari dengan dompetnya yang masih berada digenggaman orang tersebut. "Robin sedang pergi mencari toilet."
"Kurang ajar! Kenapa orang-orang disini tidak ada yang membantumu?!"
"Entahlah. Mereka sibuk dengan urusannya masing-masing, mungkin."
"Oe, Sanji. Bukannya itu pria yang memainkan topiku tadi?"
"Benar juga," Sanji mulai memanas, "Mereka benar-benar sedang mencari masalah dengan Nami-swa—maksudku kita! Ayo Luffy, Marimo, kita lawan mereka!"
"Siapa yang kau sebut 'Marimo'?! Dasar alis keriting tukang marah!"
Tanpa pikir panjang , Sanji berlari mengejar pria tadi, dengan Luffy juga Zoro dibelakangnya.
"Mungkin ia berlari ke depan gedung tadi, Sanji!" kata Luffy.
"Benar juga. Baiklah, kita harus cepat!" Sanji nampak sangat bersemangat.
.
.
Benar, pria yang mengambil dompet milik Nami berhenti di depan gedung tadi, dan masih bersama tiga orang temannya yang lain. Dengan segera, Sanji dan yang lain mendekati pria itu.
"Kau! Kembalikan dompet Nami-swan!"
"Ooh, kalian orang yang tadi. Ada apa lagi?" kata salah satu dari mereka.
"Orang itu sudah mencuri dompet milik teman kami!" seru Sanji sambil menunjuk pria jangkung itu.
"Aku bukan mencuri, hanya saja dompet temanmu jatuh. Lalu aku ambil, dan pergi." Jelas pria yang ditunjuk Sanji tadi.
"Sama saja, bodoh!" Sanji mengambil ancang-ancang untuk menendang pria yang membuatnya kesal, "Cooler Shot!"
setelah sanji mengeluarkan jurusnya itu, pria tadi terpental tinggi dan membuat orang-orang disekitar yang melihatnya tercengang. Akibat tendangan Sanji, pria tadi mendarat di atas gedung yang berada di belakang mereka dan membuat kerusakan yang cukup parah di atap gedung itu.
"Orang ini!" seru salah satu teman dari pria jangkung, "Orang ini telah menghancurkan atap Kraton!" orang-orang yang melihat kejadian itu terkejut. Dan tak lama kemudian, banyak orang berseragam lengkap denga senjata keluar dari gedung yang mereka panggil 'Kraton' tadi.
"Siapa mereka? Seragam yang mereka kenakan sungguh—sugeee~~!"
"Entahlah, tapi sepertinya mereka tidak berpihak pada kita!" seru Sanji.
"Mungkin sebentar lagi akan terjadi peperangan kecil!" Zoro bersiap-siap mengeluarkan pedangnya.
"Tapi orang-orang ini tidak terlihat kuat," tutur Luffy.
"Jangan serang dulu. Siapa tahu mereka tidak berniat mengadakan perang." Saran Sanji.
Setelah orang-orang tersebut keluar semua, salah satu dari mereka mendekati Luffy, Zoro, dan Sanji.
"Selamat malam. Apa kalian yang menghancurkan atap gedung ini?" tanyanya dengan ramah.
"Ya, benar dan aku yang melakukannya. Apa kau dan pasukanmu ingin melawan? Akan kami terima dengan senang hati!" sahut Sanji.
"Ti-tidak bukan begitu. Kami tidak akan melawan. Tetapi apa alasan kalian sehingga menghancurkan atap itu?"
"Psst, orang ini banyak tanya." Bisik Luffy kepada Zoro.
"Kau benar. Ia bersikap sungguh ramah, mencurigakan sekali, psst."
"Alasan? Nah, dengarkan ini pria berseragam aneh, orang itu telah mencuri dompet milik teman kami, lalu aku tendang dia. Dan kebetulan sekali ia mendarat di atap itu!" Sanji mulai emosi.
"Psst, Sanji memang orang yang pemarah. Lihat alis keritingnya hampir terbakar!" Zoro berbisik kembali pada Luffy.
"Hahaha, kau benar, Zoro alis Sanji sudah terbakar sekarang, gyahahaha!" Luffy lupa memelankan suaranya.
Duag! Duag!
"Kalian berdua diamlah, bodoh!" bentak Sanji. Lalu kepala Zoro dan Luffy pun menghasilkan sebuah bundaran merah panas nan besar.
"Begitu rupanya," ujar pria yang bertanya tadi, "Sekarang apa yang kalian inginkan?"
"Peraang!" teriak Luffy dan Zoro serentak.
"Oe, oe. Jangan buat masalah!" kata Sanji.
"Kita sudah dapat masalah, dan itu karena kau, alis super keriting!" seru Zoro sambil memperagakan gaya Franky.
"Itu salah pria jangkung menyebalkan tadi, dasar Marimo bodoh!"
Lalu adu mulut antara Zoro dan Sanji berujung sebuah peperangan antara mereka berdua.
"Maaf, jika perang kita tidak bisa mengabulkannya." Nada pria tadi merendah
"Jadi kita boleh minta apa saja?" tanya Luffy.
"Iya, kecuali perang."
"Sebelumnya aku ingin bertanya. Kalian mengenakan baju yang sama. Apa kalian tentara sebuah kerajaan?"
"Mungkin bisa dikatakan begitu. Kami yang menjaga gedung itu, namanya Kraton." Jawab pria itu.
"Apa itu istana?"
"Begitulah."
"Kalau begitu. Aku ingin merajai istana ini. Gyahahaha!"
"Ti-tidak mungkin!" pria itu terkejut setelah mendengar permintaan Luffy.
"Kau bilang apa saja, bukan?"
"Iya, tetapi—
"Biarkan, saja." Tiba-tiba keluar seorang pria dari kraton.
"Sugee! Siapa paman itu? Aku ingin baju yang ia kenakan!" Luffy kegirangan.
"I-itu raja dari istana ini!" seru para semua penjaga kraton serempak.
"Silahkan saja kau merajai tempat ini. Asalkan jangan buat kekacauan atau pun perang!"
"Baiklah, paman! Aku menerimanya!"
.
.
Singkat cerita, Luffy menjadi raja di kota itu. Tetapi raja sebelumnya juga masih tinggal bersama Luffy, dan semua krunya di kraton.
Selama Luffy menjadi raja, yang ia lakukan hanyalah makan. Zoro terus menerus minum, Nami berbelanja, Usopp, Chopper dan Franky hanya bermain di Alun-Alun Utara. Sementara Robin mempelajari sejarah tentang kota Jogja, serta Sanji belajar menu masakan baru yang khas di kota itu.
"Haah, menjadi raja di kota ini membosankan!" keluh Luffy, "Tapi daging ini enak juga. Rasanya berbeda dari daging di Grand Line!"
"Tapi ini bukan tujuanmu, 'kan, Luffy?" kata Zoro mengingatkan.
"Benar. Tujuanku menjadi raja di lautan, dan mengembalikan topi jerami ini kepada Shanks!" nyam, nyam, nyam, Luffy menggigit sebuah daging yang digenggamnya, "Ywa Swudah. kwita haryus puergi dwari tyempwat wini dwan mwelanjyutkan pwerjalanwan!" (ya sudah, kita harus pergi dari tempat ini dan melanjutkan perjalanan!)
"Kalau begitu, kita harus cepat-cepat pergi dari tempat ini!" seru Zoro.
"Baiklah, Zoro! Panggil yang lainnya, kita akan pergi hari ini juga!" pinta Luffy.
"Akan kulaksanakan, kapten!"
-Bersambung-
A/N :
Untuk yang istilah sekaten-sekaten itu Cuma saya beritahu setahu saya. Kalau ada yang lebih tahu, boleh protes, kok~
Yosha! SBS dimulaii *TebarBunga* /salah/
Hancock's : =3= ga tanya kalau anda. Omong-omong namanya, plis. Bukannya harusnya 'Ivankov's'? XDD
Monkey D. Nico : jadi, anda nge-ship LuffyxRobin? .w. abaikan. Jogjanya di Altar niatnya. Waktu ada sekaten kemarin. Tapi—saya apdetnya telat *pundung* dan ga mungkin taman pintar karena kalau malam sudah tutup. Huehehe XD
SBS ditutuup! *MungutinBunga*
Ano.. review lagi? X3
