'Hai author is back ! udah lama ya gak update.'
'Yaudahlah gak usah banyakbacot thor ! Lanjut aja cepet.'
'Sip dah'
Disclaimer : I don't own bleach or it's characters. I own nothing
Warnings:
OOC banget, gajeness overload, typo, alay, EYD berantakan, tanda baca bersalahan.
Enjoy reading !
The next day *at school*
Tumben tidak ada laporan tentang Ukitake akhir-akhir ini. Mungkin dia lelah kumarahi setiap hari atau mungkin... ah lupakanlah !
Karena bosan dudukdi ruang OSIS tanpa laporan apa-apa, akhirnya aku pun keluar untuk menghirup udara segar.
Saat sedang berjalan di koridor, aku bertemu si Ukitake.
"Hai, Kuchiki" sapanya yang mengagetkanku.
"Hai" balasku singkat.
"Ehm, nanti jadi di rumahmu, kan ?"
"Iya"
*Hening*
*Hening*
"Yaudah, aku ke kelas dulu, ya." Kata si Ukitake sambil berjalan menuju ke kelas.
*Kuchiki's house*
"Cie kakak, bawa Ukitake senpai ke rumah kita lagi"
"Cie"
"Cie"
"Cie"
"sudahlah, Yuka. Kan, kita mengejakan tugas kelompok." Ujarku kesal.
"Ngerjain tugas atau pacaran ?"
"Apaan, sih. Sana masuk kamar !" kataku sambil mendorongnya ke arah tangga.
"Oh, iya, kak !"
"Apa ?"
"Nanti teman-temanku mau datang untuk mengerjakan tugas kelompok, nah, kami ingin memakai ruang tamu soalnya kami ada 7 orang."
"Nah, kami gimana, dong ?" tanyaku bingung.
"Yah, tolonglah, kak. Kan, bisa di atas atau dimana gitu"
"Diatas dimananya ?"
"Yah, kalau itu, sih, terserah kakak aja."
"Kan, gak ada ruang duduk di atas. Di atas kan Cuma ada kamar."
"Yah, kakak aturlah !"
TENG TONG
"Itu mereka ! Yaudah, kakak ke atas aja sana !" ujarnya sambil mendorongku ke arah tangga.
"Tck. Yaudah, Ukitake. Ayo ke atas." Ajakku kesal.
"Kita akan mengerjakan tugas dimana ?" tanya si Ukitake bingung.
Dia aja bingung. Apalagi aku. Mau kubawa kemana ini anak orang. Setelah berpikir keras selama satu menit, akhirnya aku memilih (?)
"Ehm, di kamarku saja."
*Rukia's POV*
"Ehm, di kamarku saja."
Apa katanya ? Di kamarnya ? Seenaknya saja dia mengajak perempuan masuk ke kamarnya. Apa maunya ? Jangan-jangan dia mau...
"Heh ! kenapa kau menatapku seperti itu ?" tanyanya bingung.
"Apa maumu ?" tanyaku seperti orang meneror.
"Aku tau kau berpikir apa tapi aku tak akan seperti yang kau pikirkan." Ujarnya seolah-olah dia bisa membaca pikiranku.
Aku masih menatapnya sinis seperti death glare lah.
"Aku tidak akan macam-macam" ujarnya sambil mengangkat kedua tangannya.
=,=
Ini adalah kali pertama aku masuk ke kamar seorang laki-laki. Bisa dibilang kamar si Kuchiki ini sangat rapi. Tidak ada debu satu pun yang menempel. Dia juga memiliki bejibun buku serta tersusun berjejer segala macam piala yang telah ia raih.
"Ngapain, sih, bengong ? Kagum, ya, sama kamarku ?" lamunankun pun buyar. Seenaknya saja dia mengagetkanku begitu dan bicara pede begitu. Asal dia tau, kamarku jauh lebih rapi dari ini.
"Apaan, sih. Ge-er amat."
"Ya sudah. Ayo duduk."
Saat duduk, ada sesuatu yang menarik perhatianku. Ada banyak sekali surat-surat diatas mejanya. Surat-surat apa itu ? Apa surat OSIS dia bawa pulang semua ? Apa surat-surat OSIS sebanyak ini ? tck, Rukia kau kepo sekali. Tapi tak apa. Sekali-sekali tak apa kan kalau kita kepo ?
"Kamu bawa pulang semua surat OSIS ?" tanyaku ingin tau. Liat saja, sekali seorang Rukia Ukitake kepo, semuanya akan terungkap. Hahaha.
"Enggak." Balasnya singkat.
"Terus ini surat apa ? Banyak banget."
"Gak usah banyak tanya, deh."
"Serius , ini surat apa ? Ada gambar hai segala. Jangan-jangan..." Habislah kau Kuchiki Byakuya . Hahahaha.
"Tck. Kau sudah tau, kan ? Puas ?" ujarnya geram.
"Hahaha. Kau sudah baca semua ?" tanyaku ingin tau.
"Belum." Balasnya singkat. Tiba-tiba suatu keinginan cemerlang muncul dibenakku.
"Ayo kita baca ! Aku jadi ingin tau." Ujarku seperti sorak kegirangan ? hm mungkin.
"Terserahmu saja." Hahaha ternyata mudah menghasut seorang Kuchiki.
"Yeay ! Kita bacanya barengan, ya. Biar seru."
"Iya. Biar seru ngejekin aku, kan ?" katanya sebal.
"Yah, bukan begitu, lah. Ayo baca !"
"Iya...iyaa..."
"Oke ! Surat pertama !"
[Dear Byakuya-kun, "Hahaha 'Byakuya-kun'." "Diam !"
Selama ini aku telah mengamatimu "Mengamati ? Dikira taneman ?"
Kau mengagumkan
Kau menarik
Kau tampan, pintar, berbakat, ketua OSIS, sungguh mengagumkan
Aku menyukaimu
Ku harap kau dapat membalasku
Love,
Xxxxx ]
"Wow dia sedikit berlebihan kurasa." Kataku.
"Bagaimana aku akan menjawabnya bila tidak ditulis siapa pengirimnya ?"
"Memangnya kau mau balas?"
"Tidak, sih."
"Yasudah. Oke, surat selanjutnya !"
[ Byakuya-kun, aku menyukaimu !
Tembak aku, ya ! Kau akan puas ! (A.N : if you know what I mean. *cukup thor jangan bokep*)
-R. Matsumoto ]
"Maksa banget." Ujarnya kesal.
"Hahahahaha. Apa maksudnya kau akan puas ?"
"Mana aku tahu ! Matsumoto gila."
"Kayaknya aku tau, deh, maksudnya. Hehehehe."
"Kalau kau tau, lebih baik tidak usah dibicarakan.
"Hahahaha. Kau pasti puas ! Mantap."
"Udah, ah. Gak usah banyak bacot."
"Oke ! Surat selanjutnya !"
[ Byakuya kau ganteng !
Aku menyukaimu !
Tolong tembak aku ya !
Sweet dream :*
-Riruka-]
"Riruka ? Siapa Riruka ?" tanyanya bingung.
"Adik kelas."
"Oh..."
"Yaudah. Surat selanjutnya !"
[Byakuya kau terus menghantuiku
Menghantui pikiranku
Kau menawan
Bagaikan seorang pahlawan
Kau menarik perhatianku
Aku menyukaimu
Ku harap kau dapat membalas perasaanku.
-Nishimura Keiko-]
"Wah, Kuchiki, Nishimura-san ini kan primadona sekolah. Banyak yang naksir sama dia. Pantesan dia menolak semua laki-laki, ternyata dia menyukaimu."
"Lalu ?"
"Kau beruntung, Kuchiki !" apakah dia bodoh sampai dia tak tau dimana letak keberuntungannya ?
"Maksudmu ?" Huft. Kuchiki Kuchiki. Memang tidak peka.
"Jika kau pacaran dengannya, kalian akan menjadi pasangan paling keren." Jelasku
"Jadi kau menyuruhku untuk menerimanya ?" tanyanya.
Serrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr
Something's not right. Aku tak menyuruhnya untuk menerimnya. Tapi... ah ! Back to earth Rukia !
"Ehm, kalau itu terserahmu saja. Why not ?" It feels not right. Perasaanku aneh, nih. Ayo Rukia ada apa denganmu ?
"Kau kenapa Ukitake ? Seperti merenungkan sesuatu saja." Ugh! Pintar sekali dia membaca pikiran orang.
"Tidak. Aku tidak apa-apa."
"Ehm, kau kenal si nishimura nishimura itu ?" tanyanya.
"Yah, tidak terlalu dekat juga. Aku tak pernah berurusan dengannya."
"Oh."
"Kenapa ?" sekarang giliranku bertanya.
"Tidak."
"Kau tertarik padanya?" hey ! what kind of question is this, Rukia ? Okay, Rukia back to earth.
"Kenapa, sih ? Masalah banget. Itu kan bukan urusanmu ! urusilah masalahmu sendiri !" ujarnya serius sambil menatapku dengan padangan yang sangat dingin.
"Cuma nanya aja sih. Selo aja." Cibirku.
Tiba-tiba dia mencubit pipiku. "Cuma bercanda doang, Ukitake. Jangan marah, ah."
"Kau nya juga,sih."
"Aku kan Cuma bercanda, Rukia. Lagi pula aku tidak akan marah padamu hanya karena kau menanyakan 'kau tertarik padanya ?'."
Wait. What ? Rukia ? He just called me Rukia ? Sejak kapan dia memanggilku dengan nama kecilku. "Terserahmu sajalah." Balasku singkat.
"Ah, jangan marah."
"Iya..Iya.."
"Ya sudah. Ayo lanjutkan menjahitnya" katanya mengalihkan pembicaraan.
"Um, Ukitake."
"Ya ?"
"Apakah kau pernah menyukai seorang pria?" angin apa yang membuatnya bertanya seperti ini ?
"Itu bukan urusanmua." Jawabku singkat.
"Aku serius, Ukitake. Apakah kau pernah menyukai seorang pria ? Kalau belum, ya ngaku saja, gak usah malu-malu."
"Iya iya ! Aku belum pernah menyukai seorang pria dan jangan pernah tanyakan padaku apakah aku menyukai sesama jenis."
"So, you've never been in a relationship with someone ?"
"Yes. So what ? You too, right ?"
"Aku kira kamu pernah."
"Apa yang membuatmu berpikir begitu ?"
"Kenapa sih ? kan Cuma nanya."
"Iya...Iya.."
"Jadi tidak ada laki-laki di sekolah yang menarik perhatianmu ?" Apa maunya si Kuchiki ini, sih ? Banyak sekali pertanyaannya.
"Tidak ! Bisakah kita tidak membahas ini?"
"Baiklah, nona Ukitake, Kalau itu maumu."
"Kau anti pria, ya, Ukitake ?" tanyanya kembali.
"Tidak."
"Kau bicara seolah-olah kau adalah seorang anti pria."
"Kalau aku anti pria, aku tidak akan bicara padamu."
"Oh, iya, benar juga."
"Yeay ! sedikit lagi selesai." Sorakku kegirangan. Akhirnya setelah beberapa hari mengerjakan tas membosankan in, jadi juga hasilnya. Yah, walaupun sedikit lagi. "Akhirnya." Ujar si Kuchiki lega. "Ayo cepat lanjutkan, biar cepat selesai." Lanjutnya.
*Skip time*
"Akhirnya selesai !" sorakku kegirangan. Entah kenapa hari ini aku sering kali bersorak sorai.
"Yeah. Finally."
"Um, kalau begitu mari kita baca lagi suratnya."
"Yah, terserahmu saja Ukitake."
"Yeay ! Surat selanjutnya !"
[Bila mana cintaku lenyap, hanya bumi yang menelanku
Bila pun pergi, malaikatlah yang memanggilku
Satu cintaku, Cuma kamu
-Cuma kamu by Bobby 'Kufaku Band'.
From : Vanessa_kfk]
"Vanessa_kfk siapa ?" Tanyaku bingung.
"Hahaha. Aku tau ini siapa."
"Siapa ?"
"Kau tak kan tahu, Ukitake."
"Cih. By the way ini suratnya apa banget."
"Apa banget ?" Tanyanya bingung
"Maksudku dia sampai mengutup lagu di suratnya."
"Haha, anak sekarang kreatif. Pakai lagu untuk dijadikan surat cinta."
"Itu mah namanya gak kreatif."
"Hahahaha"
"Eh, bosen juga, ya, kalau Cuma baca surat." Ujarku.
"Salahmu sendiri. Siapa suruh baca ?"
"Yah, kan, kepo."
"Um. Yaudah gini aja. Gimana kalau kita ke taman ?"
"Taman ? Taman yang mana ?" tanyaku bingung. Ih hari ini aku kebanyakan bingung.
"Taman yang ada di kompleks perumahanku."
"Aku tahu kalau rumahmu ada di kompleks perumahan elit ta−" tiba-tiba dia menarik tanganku dan menyeretku keluar dari kamarnya. "Gak usah banyak bacot. Ikut aja."
"Wah bagus banget tamannya." Aku terkagum-kagum dengan keindahan taman ini. Banyak sekali pohon-pohonnya. Udara disini juga sejuk. Arsitektur tamannya juga keren. Hey Rukia ! Sejak kapan kau mulai berseni ?
"Gimana bagus kan?"
"Iya, kamu tau aja tempat yang bagus-bagus."
"Aku gitu." Ucapnya bangga.
*end of Rukia's POV*
*Byakuya's POV*
Dia begitu cantik−eh ! ada apa denganku ? Maksudku dia begitu senang sampai ia menari-nari di taman. Tapi dia terlihat begitu manis ditambah dengan suasana seperti ini. Kuakui itu.
"Wah, bagus banget"
"Wah, indah banget." Katanya setiap melihat bunga atau pohon yang ia lewati. Dia sangat kagum sampai matanya terbuka begitu besar. Mata violetnya sangat langka dan sangat indah. Ukitake ini beda dangen perempuan-perempuan lain di sekolah yang kerjanya hanya mengejar laki-laki untuk menjadi pacarnya. Dia juga tidak pernah memikirkan laki-laki. Dia tidak genit. Dia baik dan mengasyikkan. Hey Byakuya ! Kau berpikir apa ? Kan, seharusnya dirimu dan Ukitake itu seperti musuh karena dia selalu berbuat ulah di sekolah. Bagaimana, sih?
"Hei, Kuchiki. Kok bengong ?"
"Eh, enggak."
Tiba-tiba...
KRUKKK
KRUKKK
Terdengar suara dari perut si Ukitake. Lantas mukanya pun langsung memerah seperti tomat.
"Kau lapar, ya ?" tanyaku jahil.
"Eh, tidak."
"Ah, jangan bohong. Ayo sini ikut aku !" aku pun langsung menarik tangannya dan menyeretnya keluar dari taman.
"Eh, kita mau kemana ?" tanyanya bingung.
"Tenang saja, Ukitake. Ikut saja."
A.N
Ahhh selesai juga chapter ini. Oke mata author udah sakit karena terlalu lama berkutat didepan komputer. Oke segini aja author's nya dan juga sorry for the late update.
Mind to review
