HATSUKOI

Declaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : Sasori x Deidara

Rated : M

WARNING :

Boys x Boys, OOC, AU, Typos/Misstypos, YAOI, Bahasa acak acakan, FULL OF LEMON (jadi yg gak suka lemon silahkan tunggu chapter depan aja ya xD)

Summary :

Masa SMA adalah masa terindah bagi semua orang, tak terkecuali untuk Deidara, masa SMA memberikannya sebuah memori yang tak akan pernah ia lupakan, terutama tentang kisah cintanya atau orang menyebutnya 'CINTA PERTAMA', apakah cinta pertama akan terus diingat hingga 10 tahun kedepan?

.

.

.

Don't Like? Don't Read!

Chapter 2

Sasori menghimpit tubuh Deidara didepan pintu, dan dengan cepat ia mencuri bibir si pirang "hmmpp... mmmmhh" Sasori meraba cuping Deidara dengan jempolnya dan sedikit memasukannya kedalam lubang cupingnya "MMMPP...AAH" Deidara membuka mulutnya dan dengan cepat Sasori melesakkan lidahnya masuk kedalam mulut Deidara, ia mengobrak abrik isi mulutnya, memutar mutar lidahnya, mengajak lidahnya untuk berdansa didalam sana bahkan ia sampai menggigit lidahnya hingga Deidara spontan mendorongnya dengan sekuat tenaga "NA.. NANI SUNDA BAKA!" Deidara menaikkan nada suaranya sedangkan Sasori sama sekali tidak menjawabnya ia malah kembali mendorongnya ke pintu dan menghimpitnya "HO..HOI! JA... JANGAN BERCANDA.. UN!" seakan tuli Sasori sama sekali tidak mengindahkan apapun yang dikatakan Deidara, malah ia semakin berani untuk menyelipkan tangan kanannya kedalam seragam Deidara dan menggesek gesek nipplenya, memelintirnya dan bahkan menarik nariknya hingga menegang "Sa... Sasori... hen... ttikan unh!" wajah Deidara sudah seperti kepiting rebus karena perlakuan Sasori, ia berusaha menyingkirkan tangan tangan nakal Sasori dari tubuhnya "kenapa? Bukankah kau seharusnya senang diperlakukan seperti ini, Deidara" dengan nada berat Sasori mengatakannya tepat ditelinga Deidara, Deidara memejamkan matanya dengan erat dan ia juga menggigit bibir bawahnya untuk menahan suara aneh yang selalu ia keluarkan tiap kali Sasori menyentuhnya "ggghh...kkhh..." Sasori mengalihkan pandangannya pada Deidara ia melihat sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya, wajah yang dihiasi rona merah, peluh bercucuran dipelipisnya, matanya tertutup erat, dan bibir bawahnya yang ia gigit untuk menahan suara suara yang menurutnya aneh tapi Sasori sudah dibutakan oleh nafsu ia sama sekali tidak melihatnya seperti tersiksa justru ia semakin kalap saat melihat wajahnya, ia melihat Deidara yang tengah menggigit bibir bawahnya ia berpikir seharusnya yang menggigit bibir itu bukanlah dirinya sendiri seharusnya dialah yang menggigit bibir indah itu, direbutlah bibir itu olehnya dan kembali membawanya kedalam sebuah ciuman yang tidak kalah panas dengan ciuman pembukaan tadi. "mmpphh... mmmmppphh" Sasori terus memanjakan lidahnya hingga 5 menit mereka terus berciuman panas sampai bibir mereka basah oleh saliva, entah itu saliva milik siapa, yang pasti saliva mereka sudah tercampur menjadi satu karena ciuman tersebut, Deidara terengah engah setelah Sasori melepaskan ciuman panasnya "huff.. huff... ke.. kenapa? Sasori? Kau... apa kau sedang... mempermainkanku... un?" perasaan Deidara saat ini campur aduk, ia tidak mengerti kenapa Sasori melakukan ini padanya, apa dia sedang mempermainkan perasaannya? Pikir Deidara.

Sasori hanya terdiam tidak berniat untuk menjawab pertanyaan Deidara, ia menatap wajah pria dihadapannya dengan pandangan lembut, Deidara menunduk berusaha menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah karena perbuatan teman masa kecilnya tersebut. Tiba-tiba Saori menarik(-bukan-) lebih tepatnya menyeret Deidara masuk kedalam rumahnya, ia menyeretnya kedalam kamar, "hee... tu... tunggu un!" Deidara berusaha melepaskan cengkraman tangan Sasori, tapi Sasori sama sekali tidak melembutkan cengkraman tangannya. Sesampainya dikamar Sasori langsung mendorong tubuh Deidara keatas ranjang, "ho..hoi! kau..." belum sempat Deidara melayangkan protesnya, Sasori sudah lebih dulu memposisikan dirinya diatas tubuh Deidara, Deidara terlonjak kaget saat wajah mereka kembali bertemu dan kali ini dengan posisi yang lebih berbahaya, "TEME! NANI..." lagi-lagi Sasori tidak memberikannya kesempatan untuk protes ia segera membungkam bibir itu dengan bibirnya, "mmpph" Deidara membulatkan matanya semburat merah lagi-lagi terlihat menambahkan kesan manis diwajahnya. Perlahan Deidara mulai menikmati ciuman yang diberikan Sasori, ia mulai menutup matanya dan melingkarkan tangannya dileher pria berambut merah tersebut, Sasori menggigit bibir bawah Deidara yang membuatnya refleks membuka sedikit mulutnya dan kesempatan itu dimanfaatkannya untuk melesakkan lidahnya kedalam mulut Deidara, "mmpph..." Sasori menekan-nekan lidah Deidara mengajaknya untuk bermain didalam mulut, dan ternyata Deidara membalasnya lidah mereka pun saling berputar seakan tengah menari didalam sana, Sasori menggigit lidah Deidara dan menariknya keluar untuk mengajaknya memainkan lidah mereka diluar mulut dan tentu saja kegiatan itu membuat saliva mereka mengalir disudut bibir mereka.

"hah...hah... hah..." setelah 5 menit mereka pun mengakhiri ciuman panas mereka, Deidara tampak terengah-engah dibuatnya, semburat merah terlihat diwajahnya ditambah matanya yang sayu dan saliva yang mengalir disudut bibirnya membuatnya terlihat sexy dimata Sasori, dan karena itulah Sasori kembali dengan aksinya ia mulai mengendus leher Deidara dan tentu saja hal itu membuat Deidara kegelian "nggh... sa...sori.." ia menjilat leher jenjang itu dengan sensual dan menghisapnya dengan lembut "ahh..." Deidara tidak bisa mengatakan apa-apa selain desahan yang keluar dari mulutnya, Sasori mengganti daerah jajahannya ia mendongakkan wajah Deidara dan ia kembali menghisapnya dan kali ini lebih kuat hingga menghasilkan bercak kemerahan dileher jenjang itu "nngghh..." selagi mulutnya sedang sibuk menyantap leher pria pirang itu kedua tangannya ia perintahkan untuk melucuti satu persatu kancing kemeja gakuen yang masih dikenakan Deidara, hingga tanpa disadari Deidara saat ini sudah bertelanjang dada, Sasori menghentikan kegiatannya ia mengalihkan matanya menatap tubuh deidara yang saat ini terlihat erotis, masih dengan wajahnya yang bersemu merah, rambutnya yang acak-acakan, ditambah nipples yang terlihat berwarna pink dan menegang yang membuat Sasori kembali kehilangan akal sehatnya. Sasori mulai menggerakkan tangan kanannya kearah nipple Deidara sebelah kiri ia gesek-gesek nipple yang menegang itu dan sesekali ia mencubitnya hingga menariknya dengan gemas yang membuat Deidara semakin tidak bisa mengendalikan dirinya untuk tidak mengeluarkan desahan yang terdengar sangat merdu ditelinga Sasori "ahh! Ahh... hen.. tikan Sasori" Deidara berusaha menghentikan perbuatan Sasori tapi sepertinya Sasori sama sekali tidak berniat untuk berhenti, ia seakan menulikan pendengarannya, ia terus menggesek-gesek kali ini kedua nipple Deidara dengan kedua tangannya dan menarik-narik sambil memelintirnya dengan gemas "ahh.. nghh... aahh...sasori... cu.. cukup unh" Deidara sudah kewalahan dengan perlakuan Sasori pada nipplenya yang sekarang sudah terlihat kemerahan, dan beruntung kali ini Sasori mendengarkannya ia menghentikan kegiatannya sejenak Deidara merasa lega tapi tiba-tiba Deidara membulatkan matanya saat ia merasakan sesuatu yang keras tengah menekan-nekan selangkangannya dan ternyata "sa...sasori... hard un!" katanya dalam hati.

Sasori tiba-tiba memeluk Deidara, dan hal itu mebuatnya sedikit terlonjak tapi ia tidak berusaha untuk menolaknya ia membiarkan Sasori memeluknya, tidak ada yang bicara satu pun keduanya terdiam. "Sa.. Sasori?" Deidara berusaha memanggil Sasori yang sama sekali tidak bicara semenjak mereka memasuki rumah sampai saat ini, Deidara khawatir apa yang sebenarnya terjadi pada teman masa kecilnya itu? Walaupun ia akui ada sedikit rasa bahagia saat Sasori menciumnya atau bahkan ia menyukai semua hal yang Sasori lakukan padanya tapi tetap saja ia merasa sedikit kecewa jika hal itu dilakukannya hanya untuk mempermainkan perasaanya. Tiba-tiba Sasori mengangkat sedikit tubuhnya, ia kembali menatap Deidara yang berada dibawahnya dan Deidara membalas tatapannya dengan lembut, Sasori menurunkan sedikit tubuhnya dan berbisik ditelinga Deidara "Deidara aishiteru" Deidara membulatkan matanya tidak percaya dengan apa yang dikatakan Sasori barusan, apa ia salah dengar? Atau telinganya ada gangguan? Ia menoleh kearah Sasori dan ia mendapati Sasori tengah tersenyum padanya, senyuman lembut yang baru kali ini ia lihat dari wajah Sasori teman masa kecilnya yang selalu bersikap dingin dan sangat tidak suka tersenyum, tapi kali ini ia bersumpah ia benar-benar melihat Sasori ternyesum lembut padanya, ia semakin bingung ia tidak tahu apakah ia harus merasa bahagia atau menanggapinya dengan candaan seperti biasanya? Tapi senyum itu... belum selesai segala pemikiran Deidara dan logika-logikanya ia sudah kembali dibuat terlonjak karena Sasori menggerakkan pinggulnya sehingga 'miliknya' bertabrakan dengan 'milik' Sasori yang 'hard' dan ia pun baru sadar ternyata yang 'hard' tidak hanya Sasori tapi ia pun merasakan hal yang sama dengan 'miliknya', wajahnya masih bersemu merah dan mereka kembali bertatapan, mata mereka sayu menikmati aktifitas yang terjadi dibawah sana, Sasori menggerakkan pinggulnya dan dengan sengaja menggesek-gesek 'milknya' dengan 'milik' Deidara yang keduanya sama-sama 'hard' walaupun masih terhalang oleh celana gakuen yang mereka kenakan tetap saja Deidara masih bisa merasakannya dengan sangat jelas betapa 'hardnya' Sasori dibawah sana. Deidara kembali mengeluarkan desahannya saat Sasori dengan sengaja menekan-nekan 'miliknya' dengan 'milik' Deidara "ah.. hah... hah...", Sasori kembali melanjutkan aktifitasnya yang sempat tertunda, kali ini ia menurunkan kepalanya hingga ia berada tepat di nipple kemerahan milik Deidara, ia menjilat nipple itu dan memutar-mutarnya dengan lidahnya hingga menghisapnya dengan kuat secara bergantian kiri dan kanan "ngahh... ahh... sa...sori... hahh" Deidara mencengkram rambut merah Sasori karena tidak tahan dengan perlakuannya. Sasori menurunkan kembali daerah jajahannya sampai ia berada tepat di antara kedua paha Deidara, ia perhatikan sesuatu yang menonjol dibalik celana panjang gakuen yang dikenakan Deidara dan menekannya dengan jari telunjuk "hmm~... lihat apa yang terjadi disini, Deidara~" Sasori menyeringai dan dengan suara menggoda ia mengatakan itu pada Deidara, spontan wajah Deidara semakin memerah dan sudah seperti kepiting rebus "ba... baka! Ja... jangan sentuh un!" Deidara berusaha menghentikan Sasori, tapi sepertinya Sasori justru semakin tertarik dan ia seperti ingin melihat kembali wajah erotis seperti yang diperlihatkan Deidara beberapa saat yang lalu, Sasori terkekeh dan dengan sengaja ia meremas 'milik' Deidara yang menegang dibalik celananya, "aahh..." desahan itu kembali terdengar ditelinga Sasori yang membuatnya semakin 'bersemangat', "ja... jangan... kumohon... unh" Deidara berusaha memohon pada Sasori dengan wajah memelas tapi yang dilihat Sasori justru sebaliknya ia merasa Deidara tengah menggodanya dengan wajah erotis itu, dan dengan sekali gerakan Sasori sukses melepaskan celana gakuen yang mengganggu kegiatannya dan melemparkannya kesembarang arah hingga hanya tersisa CD yang masih menempel di bagian bawah Deidara, wajah Deidara semakin merah belum sempat ia protes dan berusaha menutupi bagian bawahnya Sasori sudah menjilat 'miliknya' yang menegang dengan gerakan sensual yang membuat Deidara semakin bungkam dan tidak bisa melakukan apa-apa bahkan untuk memprotesnya, "ngg...ahh... " Deidara memejamkan matanya dengan erat dan ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan desahan yang selalu keluar entah dari mana datangnya. Sasori menyelipkan jempolnya kedalam CD Deidara dan mengelus-elus rektumnya hingga membuat Deidara sukses membulatkan matanya dan wajahnya semakin panas "ah! A.. apa yang kau lakukan... baka!" Deidara berusaha protes tapi Sasori malah semakin berani ia menekan jempolnya ke lubang rektum Deidara hingga berhasil masuk sedikit dan menggerak-gerakkannya hingga membuat Deidara mendongakkan kepalanya "aahh!" Sasori kembali menyeringai dan bersamaan dengan itu ia melesakkan kembali jempolnya hingga masuk seluruhnya dan mengobrak abrik rektum sempit itu "ahh... ahh... nggahh... hentikan... kumohon unhh" bukannya berhenti Sasori justru mengganti jempolnya dengan 2 jari lain dan kembali mengobrak abrik rektum Deidara memutar-mutarnya dan menggerakkannya keluar masuk dengan cepat "nggghhh... ahhh... Sa.. sori.." Sasori mengeluarkan 2 jarinya dan dengan cepat ia membuka satu-satunya penghalang ditubuh Deidara, ia melemparkan CD itu kesembarang arah dan kembali melanjutkan aktifitasnya ia menambahkan 1 jari kedalam rektum Deidara hingga 3 jari berada didalam sana mengobrak abrik rektumnya sedangkan Sasori tengah asik menjilati batang 'milik' Deidara yang menegang dan memasukkannya kedalam mulut "aahh... ahhh... haahh..." Deidara merasa tubuhnya semakin panas dan semakin tidak terkendali, ia mencengkram erat rambut merah Sasori dan ia menggulingkan tubuhnya kekanan dan kekiri karena ia tidak tahan dengan kenikmatan yang disuguhkan oleh Sasori padanya, sedangkan Sasori ia masih menggerakkan ke 3 jarinya didalam rektum Deidara dengan cepat sambil menghisap batang milik Deidara naik turun "nngghh... mmmhh..." Deidara berusaha mati-matian agar desahannya tidak keluar dengan menggigit tangan kanannya dan Sasori yang menyadari itu pun langsung menghentikan 'blow job' nya dan beralih ke wajah Deidara yang terlihat 'tersiksa' dengan perbuatannya, Sasori yang tidak tega melihat Deidara menggigit tangannya sendiri akhirnya menyingkirkan tangannya dan menggantinya dengan sebuah ciuman dengan jari-jarinya yang masih setia mengobrak abrik rektum Deidara, "mmmmhh... mmmhhh" tidak lama tiba-tiba Deidara menyemprotkan cairan putih kental dari 'miliknya' yang langsung mengarah keperut Sasori "MMMPPHH" Sasori pun melepaskan ciuman dan ke 3 jarinya ia melihat kearah perutnya yang saat ini terdapat banyak cairan sperma yang dikeluarkan Deidara, ia colek cairan itu dengan jarinya dan menjilatinya dihadapan Deidara yang sukses membuat wajah Deidara tambah panas "Hayai" ejek Sasori sambil menyeringai dibalik jari-jarinya yang tengah ia jilati, "ba... baka! i... itu semua gara gara kau, Sasori no baka!" dilemparkannya bantal yang ada disampingnya kearah Sasori tapi dengan sukse dapat dihindari olehnya, Deidara memperlihatkan wajah jutek #plakk xD plus semburat merah yang membuatnya terlihat manis dimata Sasori. Ia kembali memposisikan Dirinya diatas Deidara dengan kedua tangannya yang membuka kaki Deidara lebar dan memposisikan 'miliknya' didepan lubang rektum Deidara, ia mengecup bibir Deidara sesaat "Deidara, bolehkah?" tanyanya dengan tatapan lembut mencoba meminta ijin Deidara untuk melanjutkan aksinya, dan yang ditanya wajahnya semakin panas ia mengalihkan pandangannya kearah lain, Deidara terdiam sejenak sampai akhirnya ia mengangguk dan mengkomando Sasori untuk melanjutkan aksinya.

Sasori mulai mencoba memasukkan 'miliknya' ke dalam rektum Deidara dengan susah payah "nggh... Deidara tahan sebentar" Deidara memejamkan matanya erat sambil menggigit bibir bawahnya dengan tangan yang mencengkram kuat tangan Sasori, Sasori menarik nafas sebentar dan dengan sekali hentakan ia melesakkan 'miliknya' kedalam rektum Deidara "NGGGHHH!" Deidara merasakan sakit yang luar biasa dibagian bawahnya rasanya seperti ada ribuan pisau yang menghantamnya, setetes cairan bening mengalir disudut matanya dan Sasori yang melihatnya dengan sigap ia mengusap air mata yang mengalir dipipi Deidara dan ia mengecup keningnya dengan lembut "Gomen" Sasori merasa bersalah karena ia telah membuat Deidara mengeluarkan air mata yang tidak pernah ia lihat selama ini, karena selama ini Sasori mengenal Deidara sebagai orang yang periang, Deidara menggeleng ia membuka matanya perlahan dan ia menarik Sasori kedalam pelukannya, mereka berpelukan sambil menunggu Deidara benar-benar siap untuk digenjot(?) #PLAK xD

Hampir 5 menit mereka tidak bergerak sedikitpun, "Deidara?" Sasori mencoba bertanya kesiapan(?) partnernya dan dengan anggukan Deidara Sasori tersenyum sekilas dan mulai menggerakkan pinggulnya perlahan "nggh~... ngghh~... ahhh ahh~" Sasori masih menggerakkan pinggulnya dengan kecepatan normal karena ia tidak ingin Deidara kesakitan, "hahh~ hahh~... S..Sasori~" dengan wajah semerah tomat ia terus mengeluarkan desahan desahan yang membuat Sasori semakin 'bersemangat' dan hal itu dirasakan betul oleh Deidara, ia merasa batang Sasori didalamnya berkedut setiap kali ia mengeluarkan desahannya, 10 menit Sasori tetap konsisten dengan kecepatan normalnya tapi sepertinya pria dibawahnya justru merasa tidak puas, tubuhnya menginginkan lebih dan entah dengan sadar atau tidak Deidara menggerakkan pinggulnya berlawanan dengan gerakan pinggul Sasori, hal ini sepertinya dimengerti oleh Sasori ia membawa Deidara kedalam ciuman panasnya bersamaan dengan gerakan pinggulnya yang semakin cepat "mmhh~ ... mmmhhmm~... mmhhh" semakin lama Sasori semakin menggila sampai ranjang pun dibuat berderit oleh aktifitas mereka "mmmhhh... aaahh... ahh...a ahh...haahh Sa... sori~ " tubuh mereka dipenuhi peluh yang bercucuran, bau amis khas orang bercinta mulai merebak diseluruh ruangan mungkin karena Deidara yang sudah klimaks beberapa kali, tapi mereka sama sekali tidak memperdulikan semua itu, karena saat ini mereka sedang saling menikmati tubuh satu sama lain. Sasori terus menggenjot Deidara dengan tangan kanan yang tak henti-hentinya meremas remas batang Deidara naik turun dan tangan kiri memelintir nipple sebelah kanan serta mulutnya yang asik meghisap nipple sebelah kiri dengan kuat seakan berharap akan ada susu yang keluar dari sana #plakk xD, sedangkan Deidara menyilangkan kedua kakinya dipinggang dan kedua tangan yang ia kalungkan dileher Sasori, kenikmatan bertubi-tubi ia terima dari Sasori, Peluh bercucuran dipelipis nya dengan mulut sedikit terbuka disertai saliva yang mengalir disudut bibirnya karena rasa nikmat yang ia dapatkan dari Sasori menambah kesan erotis dan menggoda dimata Sasori dan membuatnya semakin 'gila'. Setelah hampir 1 jam akhirnya Sasori merasakan sesuatu yang mendesak ingin keluar "hah... hah... hah... Deidara... aku... " Sasori mepercepat gerakan pinggulnya sampai ranjang pun bergoyang dibuatnya "aahh.. ng..ah...ahh..." Deidara semakin mengeratkan tangannya pada Sasori dan saat akhirnya Sasori merasa akan klimaks ia melahap kembali bibir Deidara bersamaan dengan keluarnya cairan putih kental yang ia keluarkan didalam rektum Deidara "MMMMMPPHH" Sasori menggenjotnya terus perlahan menikmati sesi klimaksnya sampai cairannya mengalir keluar dari lubang rektum Deidara.

TO BE CONTINUED

Fiuh~ selesai sudah chapter kali ini... #lap mimisan

Moshi mosh~ minna (^0^)/ gomen author updatenya kelamaan, abis author akhir2 ini lagi sibuk sih (sibuk ngegame) wkwkwkwk #dihajar reader rame2

Sesuai janji noh author kasih lemon, tapi tau asem tau kagak... yah semoga aja memuaskan! (_ _ ")

Oh ya makasih ya yang dah ripiuw, dan makasih juga buat silent reader yang udah sudi mampir di fic gaje author satu ini... he he (≥ ᴗ ≤)

Baiklah seperti biasa author gx mau buanyak cing cong yang ada bikin kalian pada eneg, okeh see you next chap~ \\(≥ ᴗ ≤)/

R

E

V

I

E

V

(/\)