The Dancer Girl, Rin
Tubuhku panas
Pesta yang meriah. Semua orang antusias melihat Rin menari. Tapi tak ada satu malampun, bahkan satu orangpun, membuat Rin menari seperti ini. Selembut ini. Seringan ini. Sampai L datang, dan melihat tariannya.
Dari sekian banyak orang, Rin langsung menyadari kehadirannya.
Karena L istimewa.
Dia duduk tak jauh dari panggung, memegang selendang yang dipakainya. Siku tangannya yang memegang seledang bersandar di meja, dekat minuman yang sama sekali tak disentuhnya sementara jemarinya menopang bagian dekat hidung.
Benar-benar posisi yang membuat malu.
Bukan hanya wajah, tapi seluruh tubuh Rin memanas. Jika tadi L hanya menatap matanya, sekarang disadarinya pria itu menatap sosoknya. Tariannya.
Dirinya.
Hanya dirinya.
Rasanya memalukan. Batin Rin, antara malu, bingung dan senang. Seolah dia melihat seluruh diriku, mengeksposnya tanpa kecuali.
Bahagia.
Lihat aku, batin Rin bergelora melirik sekilas mata L. Lihat aku lebih jauh lagi.
Lihat aku untuk selamanya.
