Happiness is not something ready made. It comes from your own actions

Dalai Lama XIV

"Namanya Kyuhyun, Cho Kyuhyun!"

"Seperti apa dia? Ah, aku penasaran sekali!"

"Dia sangat tampan!" Bisik-bisik itu semakin jelas terdengar saat aku menelusuri lorong menuju ruang administrasi dari sekolah baruku ini. Hampir semua dari mereka adalah perempuan yang sedang duduk santai dimuka kelas. Ada yang terllihat acuh sampai begitu tertarik saat melihatku.

"Boleh kita berkenalan?" Seorang perempuan menghalangi jalanku, alih-alih menerima perkenalannya. Melihat penampilannya pun aku sudah tak minat untuk mengetahui siapa dirinya. Dengan rok yang menurutku sudah tak wajar digunakan oleh seorang pelajar seperti dirinya, make upnya pun terlihat sangat berlebihan.

"Ya, nenek sihir! Kau dipanggil guru Shin." Ada seseorang menghampiri kami, dia berdiri membelakangiku. Perempuan yang mengajakku berkenalan tadi tiba-tiba memasang muka horor, mungkin ketakutan. Tanpa berkata apa pun dia pergi menjauh sambil berlari, mungkin dia terburu-buru, pikirku acuh. Aku membalik badan, penasaran dengan seseorang dibelakangku.

Perempuan dengan tubuh kecil dan rambut panjang dikuncir kuda, lalu dia tersenyum padaku. Ketika tersenyum dapat kulihat gusi-gusi merah mudanya. Lucu sekali. "Cho Kyuhyun," ucapku padanya sambil menyodorkan tangan sebagai tanda perkenalan. Dia membersihkan kedua tangannya sebelum menjabat tanganku. "Lee Eunhyuk, apa kau anak baru itu?" Anak baru itu? Apa maksudnya?

"Ah, begini. Kemarin guru Shin mengatakan pada kami bahwa ada anak baru dari Jepang." Lanjutnya memperjelas.

"Bisakah kau..." Tanpa aba-aba Eunhyuk langsung menarik tanganku sebelum kalimatku berakhir. Aku juga tidak tahu tepatnya ia akan membawa kemana. Ternyata Enhyuk langsung membawaku keruangan guru Shin, dia meninggalkan kami berdua setelah guru Shin memintanya kembali ke kelas. Awalnya, guru Shin yang ada dipikiranku adalah seorang guru yang sangat galak. Faktanya setelah aku bertemu, dia telihat baik juga ramah.

"Kau yang bernama Cho Kyuhyun? Ah, selamat datang disekolah kami," sambutnya sambil menjabat tanganku erat, hangat sekali. Dia lalu mengajakku untuk ke kelas baruku. Sebelum pintu dibuka dia memintaku untuk menunggu sebentar. Ternyata hari ini yang mendaftar menjadi siswa baru bukan hanya aku, ada seorang yeoja lagi. Setelah keluar dari ruang adminstrasi, guru Shin membimbing kami dengan berjalan didepan. Aku dengannya berada dibelakang, berjalan beriringan. Suasana tiba-tiba hening, tidak ada percakapan yang tercipta diantara kami berdua. Aku juga bingung mau berkata apa. Baru aku akan membuka mulut untuk mengajaknya berkenalan, guru Shin memotong dengan mengatakan bahwa kami sudah sampai. Dia mempersilahkan kami masuk kekelas dan seketika suasana kelas yang tadinya hening menjadi ricuh, entahlah.

Aku berdiri bersandingan dengannya didepan kelas. Seperti biasa, tradisi siswa baru yang selalu memperkenalkan diri didepan kelas kami lakukan, aku mendapat giliran pertama. Dengan suara lantang aku menyerukan nama juga asal sekolah lamaku, banyak diantara mereka yang menanyakan dimana alamat tempat tinggalku, aku hanya menjawabnya dengan senyuman. Tiba gilirannya, kelas kembali hening, 1 menit, 2 menit masih tidak ada suara. Seisi kelas juga aku menatapnya penasaran. Ada apa dengannya?

"Lee Sungmin imnida," bisiknya nyaris tidak terdengar. Tidak ada senyum diwajahnya. Semuanya begitu datar.

Cos everytime you're by my side

My blood rushes through my veins

And my geeky face, blushed so silly

Mine – Petra Sihombing

Sudah sepuluh menit aku berjemur dipinggir lapangan tanpa melakukan apa pun selain menimang-nimang botol air mineral. Mataku lurus menatap satu objek, teman sebangkuku. Sudah sepuluh menit juga aku melihatnya hanya membaca buku. Bersandar pada dinding dengan earphone di telinga, dia semakin terlihat unik. Tidak ada ekspresi di wajahnya, semuanya masih sama, datar.

Segera ku keluarkan Coco, kamera DSLR kesayangan. Ku angkat Coco, bersiap untuk membidiknya. Sial. Dia sudah pergi.

"Gagal? Wanna try?" Skat mat, habislah kau Kyuhyun!

Ku putar kepala dengan gerakan slow motion, takut-takut jika seseorang dibelakangku menodongkan senjata lalu manarik peletuk tepat dipelipisku, ah, konyol sekali. Aku menarik nafas lega saat mengetahui itu bukan Sungmin. Eunhyuk mengambil posisi disampingku lalu menyodorkan sebungkus makanan ringan. Aku tersenyum sambil menggeleng menolaknya. Seluruh wajahnya ditutupi keringat sebesar biji jagung. Baru aku sadari disamping Eunhyuk ada bola basket, sepertinya dia habis bermain basket. "Apa kau menyukainya?" Eunhyuk bertanya dengan nada antusias. Aku melarikan diri dari padangannya. Kaget, tentu saja.

"Anni, aku hanya.." aku hanya, tiba-tiba sesuatu menyangkut di tenggorokanku. Membuatku sulit berkata juga terheran-heran dengan diri sendiri. Aku mengalihkan pandangan saat tatapan Eunhyuk mulai mengintimidasi. Dia masih disana, bersandar pada sisi lain. Aku mengucek mata berkali-kali, berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa yang baru saja kulihat bukan sekedar halusinasi. Lengkungan perahu naga tercipta dibibirnya, dan yang semakin membuatku tak yakin dengan pengelihatan mata sendiri adalah senyum itu ditunjukan saat pandangan kami bertemu. Untukku.

"Dalkomhan (manis)," ucapku tanpa sadar. Eunhyuk yang masih setia menatapku memasang wajah heran lalu mengikuti arah pandangku. Buru-buru aku bangkit sebelum dia mulai berkata macam-macam lagi.

"Ya, Kyu!" panggilnya saat aku mulai menjauh. Dengan langkah lebar-lebar Eunhyuk mulai menyamai langkahku. "Kau tidak mau cerita padaku?" Aku masih memasang wajah kesal, tanpa melihat lagi kearahnya aku mulai mempercepat langkah. "Aku kan temanmu Kyu, kau tidak ingin cerita padaku?" tanyanya lagi. Aku berhenti. Teman katanya?

Aku membalik badan, dia tersenyum lalu membimbingku berjalan lagi, kali ini dengan langkah pelan teratur. Aku menarik nafas, ingin mengatakan sesuatu tapi Eunhyuk lebih dulu berkata, "Jika kau tidak ingin menceritakannya tidak apa-apa. Sebagai teman aku tidak akan memaksamu." Aku terhenyak, sebelumnya tidak pernah ada yang berkata seperti itu. Sebelumnya tidak pernah ada yang mengangapku teman.

.

.

.

toBeContinued