Tampak seorang pria memasuki ruangan gelap itu lagi. Lelaki yang sama. Ia tersenyum dan berjalan menuju meja tulisnya lalu berjalan kembali ke arah salah satu sisi dinding setelah menuliskan beberapa patah kata di sebuah kertas.
Ia kembali menempelkan kertas tersebut dan kembali tersenyum. Melihat keadaan sekelilingnya, ruangan itu tak jauh berbeda sejak terakhir kali terlihat, hanya bertambah debu saja. Namun, lelaki tersebut tampak tak peduli dan fokus membaca sebuah file di atas meja tulisnya.
Sesaat ia tampak akan marah, namun ternyata ia hanya tersenyum. Bangkit dari duduknya dan bersiul, tampak tak perduli dengan sekitarnya. Ia sudah akan keluar dari ruangan itu sebelum ia melihat lagi ke dalam dan tersenyum dengan sinis.
.
.
.
KUROKO NO BASUKE
BY TADATOSHI FUJIMAKI
.
.
RATED : T
.
.
HAPPY READING :)
"Aomine-kun, apa yang sedang kau lakukan?" tanya Kuroko mengambil tempat duduk tepat di sebelahnya.
Aomine menoleh menghadap Kuroko, "Ah, Tetsu! Aku sedang menulis ulang catatanku. Oh, iya, apa kau menerima pesan dari Akashi?"
Sebelum Kuroko sempat menjawab, Kagami sudah lebih dulu menyapa mereka. Kagami mengambil tempat duduk di sebelah Kuroko dan mengeluarkan sebuah buku dan pensil lalu tampak serius mengerjakan sesuatu.
"Kagami-kun, apa itu?" Tanya Kuroko penasaran sambil mencoba untuk mengintip apa yang sedang dikerjakan Kagami.
Kagami menghela napas lalu memandang Kuroko, "Aku semalam ketiduran gara-gara begadang bersama Aomine. Jadi tugas untuk hari ini lupa untukku kerjakan,"
Kuroko tampak sedikit terkejut dengan ucapan dari Kagami, karena tak biasanya Kagami begitu teledor dengan tugas-tugasnya. Namun ia hanya menghela napas mengingat hanya dia satu-satunya yang tidak mengerjakan apapun.
"Ah, Tetsu, bisa tolong belikan aku cola?" Pinta Aomine tanpa memalingkan wajahnya dari buku yang tengah ia kerjakan.
"Aku juga!" Kagami pun sama seperti Aomine, tak menoleh sedikit pun ke arahnya. Bisa dibilang, Kagami terlihat lebih fokus pada tugasnya.
Kuroko berjalan ke arah mesin penjual dan membeli minuman untuk mereka bertiga sampai ia merasakan seseorang tengah memerhatikannya. Ia melihat sekeliling namun tak ada satu pun orang yang tengah memandangnya.
Apa lagi ini, pikirnya. Tak ambil pusing, ia melangkahkan kakinya kembali menuju tempat Aomine dan Kagami. Jam menunjukan pukul 10 ketika akhirnya Aomine dan Kagami selesai dengan tugasnya masing masing.
Kagami menguap dan merentangkan tubuhnya, "Ah, hari ini melelahkan sekali!"
"Kau benar, Kagami," Aomine mengangguk, " Kapan liburan dimulai?"
"Mungkin beberapa minggu lagi," Jawab Kuroko sambil menyerahkan dua kaleng minuman bersoda ke arah Aomine dan Kagami.
Kagami meminum cola-nya hingga ada beberapa gadis yang mendatanginya. Melihat gadis-gadis itu histeris di dekatnya, Kagami hanya tersenyum dan melambai ke arah mereka.
"Woah! Tetsu hilang!" Aomine kaget setelah sadar kalau Kuroko sudah tidak ada di sebelahnya lagi.
Kagami menjulurkan kepalanya dan mengerutkan kening, "Kuroko?"
Langsung saja, Kagami pamit pada gadis-gadis itu dan pergi bersama Aomine untuk mencari Kuroko. Saat mencari, mereka malah bertemu dengan satu sosok yang membuat mereka sedikit kaget.
"Akashi?" ucap Kagami dan Aomine bersamaan.
"Daiki." Balas Akashi dengan senyum sinisnya yang seperti biasa.
"Akashi-kun?" Tiba tiba sosok Kuroko sudah ada di sebelah Aomine. Tentu saja itu membuat Kagami dan Aomine merasa kaget.
"Tetsuya," Angguk Akashi dan tetap memberikan senyum sinisnya.
Mereka berempat kembali menuju kantin untuk berbincang bincang. Saat mereka sampai di Kantin, kondisinya sudah sangat sepi. Mungkin sudah bel masuk, pikir Kagami.
Akashi melihat keadaan sekitar, lalu menyuruh mereka untuk duduk di ujung ruangan. Setelah mereka mengambil tempat duduknya masing-masing, mereka tidak bicara sedikitpun. Akashi memandang mereka bertiga lalu tersenyum.
"Jadi?" Tanya Akashi melipat tangannya. Sangat santai.
"Jadi?" Mereka bertiga kompak mengatakannya, bingung karena ucapan Akashi.
Akashi tersenyum dan sedikit menggelengkan kepalanya, "Kudengar kalian berada di tempat kejadian saat mayat Atsushi ditemukan?"
Mereka bertiga mengangguk.
"Jadi, siapa di antara kalian yang menemukannya paling awal?" Lanjut Akashi tanpa memedulikan mimik wajah Kagami, Aomine dan Kuroko yang mulai pucat.
"Akashi-kun, aku lah yang pertama kali menemukan mayatnya," Jawab Kuroko dengan suara yang tenang. Berbanding terbalik dengan degup jantung yang ia rasakan saat ini. Keringat mulai jatuh dari wajah Kuroko, tapi wajahnya tetap datar.
Akashi hanya tersenyum, dan memandang jari-jari tangannya. Ia kembali memandang mereka bertiga seolah belum puas dengan pertanyaan-pertanyaan yang sebelumnya telah ia lontarkan.
"Baiklah, kupikir itu cukup membuatmu terkejut, Tetsuya." Akashi kembali tersenyum, "Mungkin mulai minggu depan aku akan pindah ke sekolah ini."
Tentu saja berita ini membuat Kagami dan Aomine terkejut, namun lagi-lagi berbeda dengan Kuroko. Ia hanya tersenyum dan mengangguk. Akashi bangkit dari duduknya dan memandang jam tangannya.
"Ah, aku dengar Kise juga bersekolah di sini?" Tanya Akashi tiba tiba.
"Ya, Kise memang bersekolah disini," kali ini, Kagami lah yang menjawab. Ia mulai tampak seperti Kuroko, tenang.
"Kami beberapa kali berpapasan dengannya di lorong sekolah," Lanjut Aomine sambil menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Tampaknya sekolah di sini sangat menyenangkan sekali. Benarkan, Kagami?" senyum sinis Akashi mulai tampak lagi. Kagami yang merasa diajak ngobrol dengan Akashi pun memandangnya dan tersenyum.
"Tentu saja," kenapa tidak?
Setelah beberapa menit berlalu yang dipenuhi oleh keheningan, akhirnya Akashi pun bangkit dari duduknya dan pamit pada mereka bertiga. Sebelum berlalu pergi, Akashi kembali menampakan senyum sinisnya yang cukup membuat Aomine, Kuroko dan Kagami was-was.
"Tetsu-kun!"
Kuroko yang saat itu sedang membaca sebuah buku kaget ketika seseorang merangkul tubuhnya dari belakang. Setelah sadar itu adalah kelakuan Momoi, ia pun hanya tersenyum dan menyapanya.
"Dai-chan mana, Tetsu-kun?" Momoi memandang sekeliling, berharap menemukan Aomine "Tumben tidak kelihatan?"
Kuroko menutup bukunya dan meminum minuman kesukaannya, milshake dengan rasa vanilla, dan menutup buku yang tengah dibacanya sebelum memberi tanda pada halaman terakhir yang ia baca.
"Aomine-kun sedang main street ball di lapangan dekat sini, Momoi-san." Jawab Kuroko sambil tersenyum, "Mau kuantar?"
Momoi tersenyum dan kembali merangkulnya, "Tentu saja!"
Selama perjalanan, Momoi tampak senang sekali mengobrol dengan Kuroko. Kuroko yang sesekali tersenyum mendengar ucapan yang di lontarkan Momoi pun terdiam sejenak saat ponselnya bergetar.
Ketika menyadari bahwa itu merupakan sebuah pesan masuk, Kuroko segera membukanya. Seperti yang kuduga, pikir Kuroko. Pesan yang masuk itu adalah pesan misterius, pesan yang selalu membuat Kuroko, Aomine dan Kagami cemas belakangan ini.
Kita lihat sampai mana kau bisa tersenyum polos seperti itu.
-X
Momoi melihat perubahan ekspresi Kuroko dengan sedikit khawatir, "Ada apa, Tetsu-kun?"
Tak ingin menambah rumit, Kuroko hanya menggelengkan kepalanya dan menyimpan kembali ponselnya. Tak lama setelah ittu, sampailah mereka di lapangan basket. Mereka segera menghampiri Aomine dan Kagami yang kebetulan sedang ada di situ juga.
"Yo, Tetsu!" Senyum Aomine yang tampak kelelahan setelah bermain basket, tapi tetap tampak bersemangat.
"Aomine-kun," Angguk Kuroko dan tersenyum, berjalan ke arahnya dan duduk tepat di sebelahnya.
"Kuroko, dari mana saja kau?" Kagami memandang Kuroko. Ternyata Kagami bermain bersama Aomine, ia juga tampak kelelahan seperti Aomine.
"Aku habis membeli milkshake," jawab Kuroko menunjukan milkshakenya sebagai bukti.
"Dai-chan, tadi ibumu mencarimu, tuh!" ucap Momoi menghadap Aomine.
Aomine menatapnya balik, "Ah, merepotkan,"
"Baiklah, aku akan pulang. Kuroko, kau dengan Kagami tak apa kan?" tanya Aomine dengan nada sedikit khawatir.
Kuroko tersenyum tenang, "Aku tak apa, Aomine-kun."
"Baiklah, aku mau pergi ke toko buku dulu." Pamit Momoi dan memeluk Kuroko lagi sebelum pergi. Setelah Momoi dan Aomine tak terlihat lagi, Kagami dan Kuroko pun bangkit dari duduknya dan berjalan pulang.
Awalnya semua tampak normal hingga ada sebuah kegaduhan beberapa meter dari tempat Kagami dan Kuroko berada. Mereka berdua segera berlari menuju tempat itu dan melihat apa yang sedang terjadi, tapi apa yang mereka lakukan itu merupakan kesalahan. Mereka diam membeku di tempatnya, tak mampu bergerak ataupun bersuara karena shock yang melanda mereka.
"Mo-Momoi...cchi,"
Suara itulah yang menyadarkan Kagami dan Kuroko dari keterkejutannya dan segera memandang sumber suara tersebut. Didapatinya Kise yang tengah memakai baju santai juga terperanjat kaget.
Ternyata yang dilihat oleh mereka bertiga adalah sesosok tubuh tak bernyawa yang beberapa saat lalu tampak ceria. Momoi Satsuki. Kagami tampak tak percaya dengan apa yang di temuinya, dan menampar wajahnya berharap apa yang dilihatnya hanya mimpi. Ia akhirnya sadar kalau usahanya sia-sia. Ini kenyataannya, Momoi Satsuki telah tewas.
Beberapa menit kemudian polisi pun datang. Kuroko dan Kagami memutuskan pulang setelah memberi penjalasan mendasar kepada polisi. Mereka tak berbicara sama sekali, kepala mereka seakan penuh dengan pikiran-pikiran yang terus bermunculan di kepala mereka.
Seakan tak sadar dengan waktu yang berlalu, mereka telah sampai di depan rumah Kagami. Kagami yang segera sadar pamit pada Kuroko dan masuk ke dalam rumahnya. Kuroko hanya mengangguk dan kembali berjalan ke rumahnya dengan pikiran yang menggunung.
Aomine yang sedang tiduran di kasurnya dikagetkan oleh sebuah pesan masuk di ponselnya. Ia segera membuka pesan itu dan membacanya perlahan.
Kau melewatkan sebuah pertunjukan yang bagus.
-X
Di lain pihak, pada waktu yang hampir bersamaan dengan pesan yang diterima Aomine, Kagami dan Kuroko pun mendapat sebuah pesan dari pengirim yang sama. Seakan tak memberi waktu berpikir, Kuroko dan Kagami membuka pesannya masing-masing yang berisi sama.
Bagaimana pertunjukannya? Kalian pasti menikmatinya!
-X.
.
.
.
TBC
A/N: Makasih sebelumnya buat yang udah review dan baca fic ini! Saya masih author baru, jadi mohon bantuannya, ya, Senpaitachi! *bows*.
Review, please! *wink* /plak
