Swaggy-Land Present
Because of Transformation?
Chapter 4
Disclaimer: J.K. Rowling of course! Aku cuma pinjem tokohnya huahah
Cast: etc.
Rated: T semi M soalnya ada yang lumayan M hehe
Note: Disini lumayan banyak bagian M nya hehe tapi maaf kalau banyak basa basi nya soalnya aku baru pertama kali nulis bagian M kayak gitu XD dan ini akhirnya sedikit gak jelas..
Review please, thank you
Xxx
Hermione's POV
Aku memasuki common room asrama Slytherin dengan canggung. Tidak lupa aku minum polyjuice terlebih dahulu karena aku sudah merasakan perubahan pada rambutku. Tidak ada tanda tanda Malfoy disini. Kemana dia? Bukannya Daphne bilang dia ada di asrama?
Aku duduk diam di sofa berwarna hijau dengan canggung. Aku memandangi ruangan ini yang kelihatan chic dengan warna hijau dan silver.
"Pansy?"
Sontak aku menoleh kearah suara itu. Malfoy. Dia turun dari kamarnya menuju sofa dipinggirku. "Kenapa kau disini? Bukankah kau ikut ke acara 1 tahun kematian Crabbe?"
"Em, itu… aku mendadak sakit," jawabnya. Malfoy menatapku seakan tidak percaya. Dia menatapku dengan aneh. Apa dia tahu aku bukan Pansy?
"Apa yang ditanganmu itu?" Tanya Malfoy dan menatap botol yang aku pegang. Yaampun, aku lupa memasukan botol polyjuice ini kedalam jubahku!
"Ah em, ini obat," jawabku dan memasukan botol itu ke jubahku.
Now what? Apa yang harus aku lakukan? Dari mana aku harus mulai mengintrogasi dan menanyai penawar periculumtertia? Lebih parah lagi, aku tidak tahu bagaimana sikap biasa Pansy—yang asli—kepada Malfoy. Oke rileks and go for it.
"Malfoy," akhirnya aku memberanikan diri memanggilnya.
"Hah?" Malfoy berhenti memain mainkan tongkat sihirnya dan menghadap padaku. "Tumben kau memanggilku 'Malfoy' bukan 'Draco' atau 'Drakie'".
Gawat. Seharusnya aku memanggilnya Draco. Tunggu. Atau aku harus memanggilnya 'Drakie'. Tidak, tidak mau. Itu menggelikan.
"Oh, ya. Draco—maksudku. Apa kau sudah tahu keadaan Slughorn?" tanyaku.
"Tentu."
"Kenapa kau meracuninya?"
Malfoy tertawa sini, "Aku kan sudah cerita padamu kemarin. Harus berapa kali aku bilang padamu?"
This world is mental. Sepertinya akan semakin sulit mengintrogasi Malfoy.
"Well Mal—Draco, aku lupa. Tolong ceritakan lagi." Ucapku memohon.
"Daripada membahas itu, aku mau membahas soal si Granger itu."
HAH?
Normal POV
Hermione terkejut mendengar Draco lebih memilih membicarakan tentang dirinya dibanding membicarakan soal Profesor Slughorn.
"Kau tahu, Pansy? Aku muak menjalankan tugas ketua murid bersamanya. Dia cerewet dan selalu mengancamku akan melaporkanku pada Mcgonagal jika aku terus membawa perempuan kedalam asrama. Dasar si Granger itu," cerita Draco.
Hermione yang mendengar itu terkejut. Jadi itu tanggapan Malfoy tentangku? Pikirnya.
"Tapi Draco, mungkin Granger benar. Lagipula kau tidak bisa melakukan sex dengan setiap perempuan. Mungkin kau bisa terkena herpes atau yang lebih parah HIV-aids," ujar Hermione berusaha membela diri.
"Tumben kau membelanya dan tidak mengejeknya seperti biasa,"ujar Draco heran.
"Eh… itu… Hatchih!" Gadis berambut semak itu bersin secara sengaja karena dia tidak tahu harus bicara apa pada Draco.
Hermione's POV
"Hatchih!" aku berpura-pura bersin karena aku tidak tahu harus bicara apa lagi. Aku segera mengelap hidungku. Dan aku sadar Malfoy memandangiku. "Apa?" tanyaku.
"Kau aneh Pansy. Biasanya kalau kau bersin atau sakit kau akan langsung bermanja padaku dan berkata 'Drakie aku kedinginan, bisa kau hangatkan aku?'. Kau tahu, walaupun itu mengjengkelkan, tapi tetap saja kau aneh hari ini," ujar Malfoy. What the bloody hell was that? Jadi Pansy biasa bermanja manja pada Malfoy? Menjijikan! Apa aku harus bermanja juga agar aku tidak ketahuan memakai polyjuice? Oh tidak! Tidak mungkin dan tidak akan!
"Ehm, well, mungkin hari ini aku sedang tidak mood melakukan 'itu' denganmu, haha," ujarku garing.
Tiba tiba Malfoy sudah ada dihadapanku dan, cup, aku merasakan bibirku hangat sekaligus sedikit basah. Aku membelalakan mataku dan aku baru sadar Malfoy menciumku! Walaupun ini tubuh Pansy, tetap saja aku bisa merasakan ciuman Malfoy.
"Pansy, mari kita lakukan yang seperti biasanya. Aku sedang membutuhkanmu," aku mendengar Malfoy berkata itu disela-sela ciumannya. Dia kembali menciumku—tapi aku tidak membalasnya—dan salahsatu tangannya mengusap punggungku dan satu tangannya lagi berusaha membuka kancing kemejaku.
Gila. Ini gila.
"Tu—tunggu!" aku sedikit mendorong dada Malfoy dan mencoba menghentikan perlakuannya padaku. Tentu saja dia menganggapku Pansy tapi sebenarnya aku Hermione Jane Granger. Aku bukan Pansy—walaupun sekarang aku sedang berwujud Pansy—yang terkenal seperti bitch dan suka bermanja manja. Bagaimanapun ini, ini gila. Aku tidak mau melakukan 'itu' dengan Malfoy.
"Apa?" kata Malfoy sedikit ketus. Sepertinya dia kesal karena aku menolak melakukan-hal-tidak-senonoh itu dengannya.
"Daripada begitu, aku ingin tanya apa itu periculumtertia. Kau tahu? Aku mencari di perpustakan dan tidak menemukan apa itu periculumtertia," kataku beralasan.
Malfoy sedikit bangkit dan berkata, "Periculumtertia ya? Itu ramuan yang bisa dibilang mematikan dan bahaya. Aku mempelajarinya dari Snape. Memangnya ada apa?"
"Kenapa kau memberikan ramuan itu pada Slughorn?"
"Blimey, Pansy. Kau ini benar-benar pelupa. Aku kan sudah bilang kemarin kalau aku tidak menyukai Slughorn yang semena sema kepada Slytherins. Jadi aku berikan saja ramuan itu biar dia tahu rasa," jawab Malfoy. Yaampun, dia kejam sekali!
"Apa ada penawarnya?" Tanyaku lagi. Malfoy hanya mengangkat alisnya satu.
Tiba-tiba Malfoy menghimpitku di sofa dan mengunci gerakanku. Dia berkata sambil menyeringai, "Aku akan beritahu jika kita sudah menyelesaikan ini." Dia kembali menciumiku sampai aku sesak nafas. Bagaimanapun juga, aku tidak membalas ciumannya ini. Ini terlalu menjijikan dan bernafsu. Malfoy menurunkan ciumannya pada leher (Pansy) ku. Dia membuka semua kancing kemejaku dan menurukan ciumannya lebih bawah lagi dan…
"S-stop! Berhenti! Tunggu!" aku kembali mendorong Malfoy dan sedikit merapikan kemejaku. "Ada apa lagi, Parkinson?" Malfoy menekankan kata 'Parkinson'. Sepertinya dia benar-benar kesal.
"Ki-kita akan melakukan ini, tapi jawab satu hal; apa penawar untuk periculumtertia?" tanyaku dengan terengah engah. Aku pun tidak percaya apa yang baru kukatan.
"Untuk apa?" Malfoy bertanya balik.
"Erm, a-aku ingin memberikan ramuan itu pada Her—Granger tapi aku ingin tahu apa penawarnya agar dia tidak langsung mati," kataku yang jelas jelas alasan yang dibuat buat. Mana mungkin aku mau menyakiti diriku sendiri? Haha.
"Kau bisa ambil buku catatan hitam ditasku. Kau bisa baca penawarnya disana," jawab Malfoy. Akhirnya! Aku bisa tahu penawarnya dan menyelamatkan Profesor Slughorn!
"Terimakasih Drac—oomph," Malfoy menciumku lagi. Dan sekarng jauh lebih ganas. Oke, karena aku sudah berjanji akan melakukan sex dengannya, aku akan melakukannya. Aku tahu ini gila, tapi inikan tubuh Pansy, jadi mungkin tidak apa apa kan?
Malfoy mulai membuka bra-ku tapi belum menurunkannya. Dia masih mencium bibirku. Aku pun mulai membalas ciumannya dengan terpaksa. Disaat aku membalas ciumannya, Malfoy tiba-tiba berhenti dan menarik tubuhnya sendiri menjauh dari tubuhku. Dia berjalan pergi sambil menutupi mukanya.
"A-ada apa?" Tanyaku sambil merapikan kemejaku.
"Tidak apa-apa. Kau ambil saja buku catatan penawar itu di tasku."
Malfoy menaiki tangga dan menuju kamarnya. Ada apa? Well, tidak apa. Aku bersyukur karena tidak usah melakukan sex dengannya.
Aku merapikan bajuku dan mengambil buku catatan Malfoy di tasnya. Aku segera keluar dari asrama Slytherin. Aku harus segera menemui Harry, Ron, dan Ginny!
Xxx
Normal POV
Gadis berambut coklat tebal—efek polyjuice nya sudah hilang—itu berjalan menuju toilet moaning Myrtle. Disana didapatinya Ginny. "Ginny!" panggil Hermione seraya Ginny langsung memeluknya.
"jadi kau dapat informasi apa?" Tanya Ginny.
"berita bagus. Aku dapat penawar untuk periculumtertia," jawab Hermione
"wah bagus! Jadi kita bisa membuat penawar itu begitu Harry dan Ron datang. Ngomong-ngomong, Mione. Kenapa bajumu berantakan sekali?"
"Ah itu, ceritanya panjang. Untuk mendapatkan resep penawar ini, Malfoy memaksa untuk melakukan 'itu' denganku."
"'itu'?"
"sex."
"BLIMEY, MIONE! Apa kau benar benar melakukannya!?" tanya Ginny histeris dan ternyata teriakan Ginny membangunkan Moaning Myrtle.
"Kalian ini ribut sekali," kata Myrtle.
"Mytrle! Kau harus tahu, Hermione melakukan sex dengan Malfoy!" Ginny memberitahu Mytrle dengan histeris.
"Enaknya masa muda kalian. Penuh dengan cinta sedangkan aku hanya dilempari buku dan berakhir seperti ini. Haaaa~" Myrtle terbang masuk kedalam kloset toilet. Hermione dan Ginny sudah biasa melihat Myrtle yang super sensitive begitu.
Ginny kembali mengarahkan pandangan pada Hermione, "Jadi, Mione. Bagaimana rasa melakukannya?"
"Aku tidak benar-benar melakukannya, Gin. Malfoy tiba-tiba berhenti dan aku bersyukur karena tidak perlu melakukan sex dengannya," jawab Hermione lega.
Blup blup. Moaning Myrtle muncul dari dalam kloset, "Ngomong-ngomong, Mione. Aku sering melihat Draco Malfoy datang kesini dan sesekali menyebutkan namamu. Aku tidak tahu apa yang dilakukannya karena aku takut ketahuan jika mengintip. Bisa-bisa aku dilempari buku. Haaaa~". Myrtle kembali masuk kedalam kloset.
Malfoy? Menyebutkan namaku didalam toilet? Apa maksudnya? Pikir Hermione.
Xxx
Hermione's POV
Pagi ini aku bersama Harry, Ron, dan Ginny sedang berkumpul di Great Hall. "Apa bahannya sudah terkumpul semua?" tanya Ron.
"Belum. Kita masih belum punya 3 ekor naga albino," jawabku dengan sedikit kecewa. Tidak kusangka bahan-bahan penawar ini begitu sulit dicari. Aku kembali membolak balik buku Malfoy. Berharap ada petunjuk dimana harus menemuka 'ekor naga albino'. Yang benar saja! Haruskah kita memotong ekor naga yang jelas jelas beratnya bisa berton-ton? Konyol!
Aku sudah mencari tentang naga albino di perpustakan. Hanya sedikit informasi yang kudapat. Tidak ada spesifik dimana bisa mendapatkannya, dan tidak ada spesifik berat badannya.
Aku menghela nafas. Tiba tiba sesosok tangan menarik buku yang sedang kupegang. "Hey!" umpatku kesal. Aku berbalik badan untuk mengetahui siapa yang mengambil buku itu. Oh tidak. Malfoy.
"Darimana kau dapat buku ini, Granger?" tatapannya sangat dingin dan tajam.
Aku menahan nafasku. Aku tidak tahu harus jawab apa.
"Jawab, Granger."
"Itu.. aku melihat Parkinson tidak sengaja menjatuhkannya lalu aku berniat akan mengembalikannya. Jadi bisakah kau berikan itu padaku? Aku akan segera mengembalikannya pada Pansy," jawabku takut.
"Apa kau sudah baca isinya?" Tanya Malfoy.
"Belum."
"Aku saja yang mengembalikan ini pada Pansy." Malfoy segera berbalik menuju meja Slytherin dan memasukan buku itu ke jubahnya.
"Bagaimana ini? Tanpa buku itu, kita tidak bisa apa-apa," aku gelisah.
"Tenang Mione, aku sudah mencatat bahan bahannya. Dan aku juga tahu dimana menemuka naga albino," kata Harry.
"Yang benar?" kata Ginny tidak percaya. "Ya, aku tanya pada Hagrid. Ternyata naga ini bisa ditemukan di Dark Forest," Lanjut Harry lagi.
"Bloody hell! Tidak kusangka ada naga di hutan dekat sekolah. Sekolah macam apa ini?!" kata Ron dengan takut.
Aku hanya bisa tertawa.
Xxx
Malamnya, aku dan Ron mencari naga albino itu. Kami sudah mempersiapkan pisau-super-tajam untuk memotong ekor naga yang pasti sangat tebal. Dan tidak lupa kami memakai invisibility cloak milik Harry. Harry dan Ginny bilang, mereka sedang ada 'urusan' jadi tidak bisa ikut.
Ron berjalan dibelakangku. "Ouch, Ron! Kau menginjak kakiku!"
"Maaf Mione, dimana kita bisa menemukan naga itu?"
"Tidak tahu, tapi—" pluk. Aku berhenti bicara karena merasakan sesuatu jatuh ke pundakku dan mulai merayap rayap.
"Her…mione. Itu.. itu..," Ron menunjuk nunjuk pundakku dengan ketakutan. "Dipundakmu ada cicak."
"AAAAHHH!" aku segera mengusap pundakku. Aku sangat jiji dengan cicak. Tapi rambutku terasa panas.
"Mione, rambutmu terbakar!" Ron cepat cepat mengusap api itu sampai padam. Untungnya hanya api kecil.
"Ron! Ini bukan cicak! Ini naga albino! Lihat! Aku mengenalinya dari buku yang pernah kubaca." Aku mengangkat naga albino itu yang ternyata sangat kecil hanya sekitar 7 cm. Aku dan Ron pun segera memotong ekornya dan kembali ke asrama (Ron ke asrama Gryffindor dan aku ke asrama ketua murid).
Sesampainya di asrama, aku segera mandi dan berganti baju. Saat aku keluar kamar, aku melihat Malfoy sedang duduk santai di common room. Dia sedikit terkejut melihatku tapi kembali mengabaikanku.
Aku pun berniat membuat coklat panas dan berjalan ke pantry.
"Hai, Granger." Sapa Malfoy tiba-tiba.
"Hei."
"Kau cantik."
"Kau mabuk fire-whiskey lagi?"
"Tidak."
"Hem."
"Kau cantik, Granger."
"Kau sudah bilang itu dua kali."
"Kau ini menyebalkan. Setidaknya bilang 'terimakasih'"
Aku mengabaikan Malfoy dan duduk di sofa sebelah Malfoy. "Hoi, Granger." Katanya lagi.
"Apa?" yaampun, kenapa hari ini dia menganggu sekali?
"Bagaimana rasanya jadi mudblood?" WHAT THE FUCK. Kenapa dia masih terus-terusan bawa bawa status darah? Jelas jelas setelah perang, status darah tidak boleh dibanding bandingkan.
"Hem. Kalau kau? Bagaimana rasanya jadi ferret?" tanyaku sinis.
"Kau ingin tahu tentangku eh, Granger?" Malfoy memperlihatkan seringainya yang er.. sexy?
Aku meminum coklat panas ku, "Tidak."
Malfoy tiba-tiba saja duduk disebelahku. "Siapa bilang kau boleh duduk disini?" kataku ketus.
"Diam, Granger." Malfoy menempelkan bibirnya dengan bibirku. Ini..ciuman kan? CIUMAN?! Ini beda saat aku menyamar jadi Pansy karena sekarang adalah benar-benar tubuhku!
Malfoy sedikit menjilat bibirku dan melepaskan ciumannya, "Lezat. Ada coklat di bibirmu."
BUGH! Aku menyikut perut Malfoy. Malfoy meringis kesakitan. Aku tidak peduli! Bagaimanapun, dia sangat lancing sudah menciumku! "MALFOY, APA KAU LAKUKAN, FERRET! AKU AKAN MEMBERIMU 3 DETENSI!"
Malfoy menyeringai—lagi. Dan mulai menghadapkan mukanya pada mukaku. Tanpa sadar, ternyata Malfoy sudah ada diatasku.
"Silahkan saja kalau kau mau memberiku detensi. Dasar kau menyebalkan. Mudblood. Berang-berang. Rambut semak. Nona-Segala-Tahu," Malfoy terus menghinaku.
"FERRET PIRA—emmphh," Malfoy menutup bibirku dengan bibirnya. "Jangan berisik," ujarnya. Dia terus menciumiku dan juga mengunci gerakanku. Dia sedikit menggigit bibirku agar aku membalas ciumannya. Tentu saja dengan pasrah aku membalas ciumannya.
Tiba-tiba Malfoy berhenti sejenak.
"Hoi, Granger."
"APA?!"
"Bagaimana rasanya menjadi Pansy?"
Hah?
"Ap-apa yang kau bicarakan?" aku gugup. Apa dia tahu aku menyamar menjadi Pansy? Tapi bagaimana dia bisa tahu?
"Jangan mengelak, Granger. Aku sekarang tahu. Kau menyamar jadi Pansy untuk mendapatkan penawar ramuan itu kan?" kata Malfoy sinis.
"Ti—tidak—iya! Aku memang berubah menjadi Pansy menggunakan polyjuice untuk mengetahui maksudmu kepada Slughorn dan untuk mendapatkan penawar periculum tertia," jawabku dan mendorong tubuh Malfoy yang ada diatasku. "Tapi bagaimana kau tahu?" tanyaku.
"Aku mengenal ciumanmu tadi. Ciuman Pansy saat itu berbeda dan sama denganmu. Dasar mudblood mesum. Kalau kau ingin bercinta denganku, tidak usah berubah menjadi Pansy." Malfoy kembali menimpaku dan mencium leherku.
"A—apa? Hen-hentikan, Ferret!" aku memukul mukul kepala Malfoy dan berusaha melepaskan diri. But it's no use. Tubuhnya lebih kuat dariku. Malfoy mencium bibirku lagi.
"Kau menyebalkan, Granger…"
Dia mengatakan itu disela sela ciumannya. Dan mulai menciumku lagi.
"…cewe cerewet…"
Dia mengatakan itu disela sela ciumannya—lagi. Dan mulai menciumku lagi.
"…keras kepala…"
Dia mengatakan itu disela sela ciumannya—lagi—dan lagi. Dan mulai menciumku lagi.
"…itulah yang membuatku menyukaimu."
APA? TUNGGU? MALFOY SUKA PADAKU? YANG BENAR SAJA!
Malfoy mulai menciumku lagi. Dari yang awalnya lembut, menjadi ganas. "Balas aku, Granger." Dia mendorong pelan leherku untuk memperdalam ciumannya. Aku benar-benar kehabisan nafas. Malfoy menurunkan ciumannya pada leherku. Berusaha membuka kancing bajuku dan membuka bra-ku. Yaampun, ini tidak boleh terjadi!
"Berhenti, Malfoy!" aku menendang perut Malfoy dan merapikan bajuku. "Jangan bercanda!"
"Aku tidak bercanda Granger. Aku benar-benar menyukaimu. Mencintaimu." Malfoy menyatakan itu padaku. Dia mendekatkan wajahnya padaku dan memegang pipiku. "Aku. Sangat. Menyukaimu. Hermione." Dia menekankan setiap kata-nya dan yang paling membuatku kaget adalah dia memanggilku 'Hermione'.
Malfoy kembali menciumku dan menurunkan bra-ku. Reflex, aku menutupi dadaku. "Mione.." Malfoy menghembuskan nafasnya ditelingaku dan itu membuat ada rasa aneh didalam perut dan jantungku. "Aku ingin kau menjadi milikku," lanjutnya.
Malfoy melepas baju dan bra-ku. Aku sudah shirtless. Bloody hell, ini mengerikan dan memalukan! Malfoy mulai memberikan ciumannya kepada dadaku.
"Mal..foy..emphh hen—hentikan..," tanpa sadar aku mendesah. Yaampun, suaraku bergetar dan sungguh memalukan. Tangannya mulai menurunkan celanaku. Tu—tunggu! Ini menjijikan!
"Malf..oy..t-to-tolong hentikan..," suaraku bergetar dan mulai menangis. Aku sangat takut diperlakukan seperti ini. It feels like I'll be raped! Malfoy menatapku dengan tatapan bersalah.
"Maaf, Granger." Malfoy bangun dan berjalan pergi.
Melihat dia pergi begitu saja membuat hatiku sakit. Entahlah, tadi aku cukup menikmatinya. Apa aku juga mulai menyukai Malfoy? Melihat wajah bersalahnya tadi aku merasa sedih dan tidak rela ditinggalkannya.
"Mal-Malfoy," panggilku pelan. Malfoy berbalik arah padaku. "Ada apa?"
"Ja-jangan pergi begitu saja," kataku.
"Kenapa?" dia menyeringai lagi. Blimey, aku baru sadar ternyata dia se-sexy ini. OMG damn. Merlin's beard, he's fuckin' hot..
"Kau membenciku, Granger?" tanyanya.
Aku menggeleng.
"Kau mencintaiku?"
Aku terdiam. Aku tidak tahu. Aku masih ragu akan perasaanku ini.
Malfoy berjalan mendekatiku. Menciumku lembut. Damn. Setiap dia menyentuhku seperti ini, badanku serasa terbakar. Aku membalas ciumannya dengan tulus. Dia mengelus punggungku. Aku melingkarkan tanganku dilehernya. Aku menikmatinya.
Malfoy melepaskan ciumannya dengan lembut. "Kau pasti mencintaiku, Granger," katanya dengan seringai khasnya. Mendengar dia berkata seperti itu membuatku blushing.
Hup. Malfoy menggendongku ala Bride style. "Turunkan aku, Malfoy!"
Malfoy membawaku ke kamarnya dan merebahkanku diranjangnya. Dia menatapku dengan intens dan membuatku sedikit risih.
"A—apa?"
"Kau akan menjadi milikku, Granger."
Xxx
Cip. Cip. Cip.
Sudah pagi. Aku membuka mataku.
Dimana ini?
Kamar dengan nuansa hijau-silver. Bukannya ini kamar Malfoy? Wait. Kamar...Malfoy?! yaampun! Aku baru ingat kejadian tadi malam. Aku dan Malfoy bercinta! Yaampun ini gila. Gila. Gila! Semalam pasti otakku sedang berjalan tidak baik. Aku baru terpikir bagaimana kalau Malfoy bohong soal mencintaiku? Mungkin saja dia sudah bilang begitu kepada perempuan banyak? Ah ini gila. Dan yang lebih gila, aku baru menyadari Malfoy tidur disebelahku. Satu kasur. Satu selimut.
"AAAAAAAAAHHHHH!" teriakku—dan ini membangunkan Malfoy.
Cowo pirang itu mengusap mata dan rambutnya, "Morning, love."
"Menjijikan, Malfoy!"
"Tadi malam kau memanggilku 'Draco'. Sekarang kau juga harus memanggilku begitu."
"Mungkin aku akan memanggilmu 'Draco' kalau kau menyembuhkan Profesor Slughorn."
"Tidak mau."
"Menyebalkan!" aku menarik selimut itu untuk menutupi tubuhku dan berjalan keluar menuju kamarku dan mandi.
Xxx
Aku berjalan tergesa-gesa bersama Harry, Ron, dan Ginny menuju hospital wings. Harry membawa penawar periculumtertia. Saat memasuki Hospital Wings, kami melihat Profesor Slughorn sudah segar bugar dan disebelahnya...
"Malfoy?" kata Harry sinis.
"Apa, Potter?" kata Malfoy yang sama sinisnya.
"Mau apa kau disini?" kata Ron yang langsung emosi.
Sementara aku hanya bisa diam karena masih malu mengingat kejadian tadi malam.
"Well, seperti yang kau lihat Weasel-Bee. Aku menyembuhkan Profesor Slughorn," kata Malfoy bangga sekaligus dengan nada merendahkan.
"Apa yang dibilang Mr. Malfoy benar. Dia sudah menyembuhkanku dan dia juga sudah minta maaf akan perbuatannya. Jadi tidak perlu ada yang dikhawatirkan," ucap Slughorn sambil terus terusan berterimakasih pada Malfoy.
Ginny mendengus kesal, "Jadi ramuan penawar yang kita buat sia-sia?"
Aku, Harry, dan Ron mengangguk.
"Mione," panggil Malfoy.
"Eh?" aku mendongak mengarah Malfoy.
"HERMIONE! Sejak kapan Malfoy memanggilmu dengan nama depan?" tanya Ginny histeris.
"Eh.. ini..." tiba-tiba saja Malfoy mendekatiku dan berkata, "Aku sudah menyembuhkan Slughorn. Jadi mana janjimu?"
"Janji apa?" seingatku aku tidak janji apa-apa.
Ron dengan geram memisahkan aku dan Malfoy, "Apa-apaan kau, blonde Ferret? Jangan panggil nama Hermione! Aku tidak sudi nama sahabatku disebutkan oleh makhluk sepertimu!"
"Awas, Weasel!" Malfoy menarik baju Ron dan mendorongnya. Malfoy bicara padaku, "Kau berjanji untuk memanggil namaku. 'Draco'."
"KALIAN PACARAN?" Ginny berteriak histeris.
"Mione, jangan mau pacaran dengannya!" kata Harry.
"Jangan panggil nama depannya!" kata Ron.
Aku mendengus kesal, "Hem. Aku hanya akan memanggil dia 'Draco' dan itu tidak berarti kami pacaran, ok?". Aku berbalik ke Malfoy, "Terimakasih Mal—Draco."
Draco menyeringai padaku dan menatap Harry, Ron, Ginny satu-satu. "Kalian tahu? Hermione memanggil namaku, dan, ya, kami berpacaran," ucapnya bangga.
Dia menarik tubuhku dan mulai menciumku didepan mereka semua.
Ini gila!
The end.
REVIEW PLEASE
