Author : Han NN

Tittle : Can't Be Love

Cast : Jung Daehyun / Choi Junhong A.K.A Zelo

Other cast coming soon

Genre: romance, sad, drama, dill

Desclaimare : zelo milik daehyun, daehyun milik saya. Yongguk milik himchan, himchan milik saya.

Warning : masih penuh dengan Typo dan agak sedikit engga EYD *banyak malah* BOYXBOY, SHONEN-AI.

Ini adalah fanfiction DaeZel pertama yang aku buat. Lagi suka banget nih sama couple B.A.P semogaaa sukaaa... terimakasih yang sebesar besarnya untuk yang udah review. Cium satu satu :*

Summary : Zelo membenci korea, namun seseorang membuatnya menyukai korea kembali. Terjebak dalam hatinya sendiri. Triangle Love. Kejadian masa lalu membuka kenangan pahit Jung Daehyun.

:

:

:

Happy Reading..

:

:

:

Zelo melempar ransel yang menggantung dipundaknya. Merebahkan tubuhnya pada sofa berwarna coklat lembut. Matanya menatap kearah sekitar tempatnya kini akan tinggal. Kakaknya memang tidak ingin dia kekurangan satupun. Bisa dibilang, apartemen ini terlalu mewah untuk ukuran remaja seusianya. Menghembuskan nafas panjang. dia sangat lelah saat ini. jetlag membuat perutnya mual.

"aku butuh tidur" gumamnya sambil menegakkan tubuh dan berjalan menuju kamarnya.

Esok hari masih menunggunya. Kembali pada kesibukan yang dulu pernah dia alami. Kembali bersekolah dengan seragam yang rapi dan tak bebas seperti di amerika. Kembali mempunyai kawan yang pastinya kehidupan bergaulnya sangat berbeda dengan di amerika. Dia terlalu betah dengan amerika. Dengan segala gaya remaja disana, dengan segala ucapan bebas yang bisa dikeluarkannya disana. Dan lagipula, lidahnya agak kaku kembali berbicara menggunakan bahasa korea.

Membanting tubuhnya keras pada tempat tidur. Memejamkan matanya. Namun sesaat fikirannya terulang pada sosok pemuda dengan wajah dingin yang dia temui di dilantai bawah. Entah, ia seakan mengenal pemuda itu. wajahnya tidak asing.

Rasa lelah menguasainya dengan cepat. tak sampai 1 menit kemudian. Kelopak matanya tertutup..

:

:

:

:

Getaran terus menerus mengganggu acara tidurnya. Merogoh saku celana karena dia tidak sempat berganti baju semalam. Mengeluarkan ponselnya yang terus bergetar. Menyipit menahan kantuk.

'Himchan Nuna Calling'

Mengerang sebelum menempelkan ponselnya pada telinga. Membaringkan tubuhnya dan mendengar suara melengking himchan diujung sana.

'pasti kau belum bangun. Choi Junhong.. ini sudah hampir jam 6 pagi'

"aku tahu nuna. Dan aku masih mengantuk. Dua belas jam perjalan menuju korea itu tidak mudah" bela Zelo sambil menggapai-gapai bantal dan memeluknya erat.

'berhenti memanggil ku nuna. Aku ini namja. Cepat bangun dan segera berangkat sekolah' decakan kesal terdengar dengan jelas oleh telinga Zelo. Menahan tawa sesaat. jangan salahkan dirinya karena dia memanggil himchan dengan sebutan nuna. Salahkan wajah himchan yang menurut Zelo sangat manis *ga nyadar kalo sendirinya juga gitu*

"baiklah nuna~" jawabnya dengan nada menggemaskan.

"astaga, jangan gunakan nada itu. sial, aku tidak bisa memarahi mu lagi kini. sekarang cepat bangun'

Zelo tertawa. Memutuskan hubungan telponnya dan beranjak bangun. Menatap sinar matahari yang menyinar wajahnya dengan hangat.

Sesaat dia merasa rindu pada kehangatan pagi korea. Merasakan luapan hangat mengali perlahan pada hatinya. Zelo menggeleng lemah, menguatkan hatinya, rasa benci menguasainya dengan cepat, menyampirkan selimutnya dan segera bangkit dari tempat tidurnya.

Hari pertama kesekolah..

:

:

:

Daehyun meminum kopi dengan perlahan. matanya tak lepas dari koran dihadapannya. Sekedar mengusir kepenatan pagi sebelum dia berangkat menuju universitasnya. Dan dia merasa bosan karena berita yang terpampang hanya itu-itu saja. melempar koran itu dan lebih memilih meminum kopinya dengan seksama.

Menyilangkan kedua kakinya. Suasana lobi apartemennya nampak lengang. Melihat jam tangannya sesaat. jam 06.15. Ini sudah siang. Daehyun ada kelas jam 7, namun dia sudah siap-siap dari jam 5 pagi dan segera turun ke lobi untuk memesan kopi pada jam 6.

Ini hanya dikarenakan dia tidak bisa tidur. Setelah 1 tahun dia bisa tidur tenang, kini dia harus kembali merasakan rasanya tidak bisa tidur. Butuh waktu 5 tahun bagi Daehyun melupakan masa lalunya. 5 tahun dengan tidur yang selalu dibayangi oleh wajah manisnya. 5 tahun dengan tidur ditemani rasa sesak pada dadanya.

Lagi. sesaknya kembali. Membuat nafasnya tercekat seketika.

Daehyun menerawang sesaat. sebelum sebuah suara membangunkannya.

"ajusshi kopi mu tumpah"

Kesadarannya kembali, merasakan rasa panas merambat pada kakinya. Tangannya mengibas-ngibaskan rasa panas yang membakar kulitnya. Sebuah uluran tangan membuatnya terdiam sesaat.

Melihat dengan jelas tangan berkulit putih yang seakan pecah bila dia sentuh. Jemarinya memegang sebuah sapu tangan berwarna biru muda dengan gambar kelinci disalah satu sudutnya.

"pakai sapu tangan ku saja. nanti tangan mu bisa kotor" ucapnya sambil mengulurkan lebih dekat tangannya.

Mengambilnya dengan canggung, dan entah mengapa Daehyun tidak berani untuk mengangkat wajahnya. Entah, dia hanya takut memandang wajahnya.

"aku pergi dulu ajusshi. Jangan lupa kembalikan sapu tangan ku" ucapnya sambil berdiri dan mulai berlari.

Daehyun mendongakkan kepalanya. Menatap punggung seorang pemuda yang memakai seragam sekolah. Rambut birunya membuat Daehyun tak sadar jika dia menarik sudut bibirnya. pemuda itu membalikkan tubuhnya dan tersenyum. terasa seperti semuanya bergarak dengan perlahan. saat wajah tinggi pemuda itu tersinari matahari pagi dibelakangnya. tangannya meremas kuat sapu tangan milik pemuda berambut biru itu.

"bocah itu lagi ternyata. Eh.. tadi dia memanggil ku apa?"

Daehyun mengerutkan keningnya.

.. ajusshi?" gumamnya geli

:

:

:

"ada apa dengan hari ini? Seorang Jung Daehyun kini sedang tersenyum di pagi hari"

Ucap Youngjae sambil melempar tasnya ke arah bangku tepat disebelah Daehyun. Daehyun mendorong keras tas Youngjae hingga terjatuh.

"Ya. Apa yang kau lakukan?" jerit Youngjae sambil mengambil tasnya dan kembali meletakkannya.

Dengan acuh mengangkat bahunya membuat Youngjae berdecak tak mengerti.

"setelah sekian lama, baru kali ini aku kembali melihat senyum mu. apa yang terjadi? Kau menang undian?" tanya Youngjae sambil terkekeh.

Tersenyum sangat hangat untuk menjawab pertanyaan Youngjae membuat Youngjae sedikit merinding akibatnya.

"oke. itu terlihat menyeramkan. Ayo ceritakan pada ku" desak Youngjae

Terdiam sesaat. mengulum senyum sambil memutar-mutar pena dengan jemarinya.

"hanya merasakan lebih baik dari hari-hari kemarin" jawabnya singkat.

Youngjae menaikkan sebelah alisnya. Terlalu mengenal sosok disampingnya hingga dia merasakan hal berbeda yang terlihat pada sinar matanya. Mata yang biasanya dingin seakan tak tersentuh, mata yang beku seakan tak ada kehidupan. Kini, mata itu terlihat berbeda. Ada cahaya yang menyelimutinya. Cahaya yang sama dengan 5 tahun yang lalu.

Memilih untuk diam dan tidak menggubris rasa penasarannya, membuka tasnya dan mengambil sebuah buku yang cukup tebal.

"senang melihat mu tersenyum kembali, walau aku tidak tahu dengan jelas apa yang membuat mu tersenyum seperti ini. hanya saja, yah.. aku senang melihatnya" ucapnya sambil memfokuskan matanya untuk membaca buku didepannya.

Youngjae benar. Dia bahkan lupa bagaimana caranya tersenyum selama hampir 5 tahun ini. namun senyumannya kembali, hanya dengan menatap punggung pemuda itu. masih teringat dengan jelas wajah manis yang kemarin sore dia perhatikan.

Wajah manis yang kini membuatnya tersenyum. nada menggemaskan yang keluar dari sela bibirnya. panggilan lucunya pada Daehyun.

"Jung Daehyun hentikan senyuman mu"

Dan Daehyun hanya bisa terkikik mendengarnya.

:

:

:

"Choi Junhong imnida. Tapi kalian bisa memanggil ku Zelo. Mohon bantuannya" ucapnya sambil membungkukkan tubuh pada 29 remaja yang mengenakan seragam serupa dengannya.

Mengambil tempat duduk agak dibelakang karena postur tubuhnya yang memang tinggi. Tersenyum pada seorang pemuda disampingnya.

"Oh Sehun"

Jemarinya terulur, dan dengan senyuman Zelo membalas uluran tangan itu.

"Zelo" ucapnya singkat. Memutuskan kontak fisik yang terjadi dan lebih memutuskan untuk mengenal lebih jauh teman barunya saat istirahat tiba.

Zelo memutar kepalanya ke arah depan. Memperhatikan penjelasan guru didepan kelasnya. Dia tidak tahu, jika diam-diam pemuda disampingnya meliriknya sambil tersenyum penuh arti.

:

:

:

Daehyun terdiam didepan pintu lift. Bimbang antara masuk kedalamnya dan memencet tombol lantai 3, atau kembali ke kamarnya dan terdiam diri memikirkan pemuda manis itu. mengacak rambutnya frustasi.

Mengapa dia bisa seperti ini?

TING

Pintu lift didepannya terbuka lebar. Sepi. Tak ada satupun orang didalamnya. Dengan langkah ragu, dia masuk kedalam ruangan sempit itu. dan dengan tangan bergetar menekan angka 3.

Jarum jam pada jam tangan ditangannya sudah menunjukkan pukul 23.30. apakah tidak apa-apa bertamu semalam ini? namun segera kepalanya menggeleng pelan. Daripada dia tidak bisa tidur.

Daehyun mendongakkan kepalanya. Berfikir apa yang nanti dia akan ucapkan saat bertemu pada pemuda itu. namanya saja dia tidak tahu.

'hey.. aku pemuda yang tadi menumpahkan kopi ke celananya sendiri. ini sapu tangan mu'

:

:

'nama ku Daehyun. Siapa nama mu? ini sapu tangan mu. terimakasih'

:

:

'kau masih ingat pada ku? pemuda yang tadi pagi kau panggil ajusshi?'

:

:

Menggelengkan kepalanya saat fikirannya sudah mulai terasa tidak beres. Dia tidak tahu jika sampai pada lantai 3 bisa secepat ini. merasakan pintu lift dihadapannya terbuka. Daehyun membelalakkan matanya saat melihat sosok itu berdiri tepat dihadapannya.

Pemuda dengan rambut biru kelamnya. Memasuki lift yang sama dengannya. Dan Daehyun tidak bisa berbuat apa-apa selain diam. Sesaat jemarinya terasa dingin dengan degup jantung yang tidak biasa.

Merasakan hembusan angin pelan saat tubuh pemuda itu berdiri sempurna disampingnya. harum perfum yang dipakainya menguar pada indra penciumannya. Melihat dengan jelas tangan putih yang tak tergores apapun terulur untuk menekan tombol yang tak jauh darinya.

Lantai dasar. Pemuda itu hendak kelantai dasar. Dan diam menyelimuti keduanya. Ini terasa canggung. Daehyun bingung dia harus berbuat apa.

Mengembalikkan sapu tangannya saat ini juga kah?

Namun dari ekspresi yang tampak pada wajah pemuda itu , dia tidak menampakkan jika pemuda itu mengenalnya. Ragu sesaat. apakah pemuda ini lupa pada wajah tampannya?

"ajusshi. Menurut mu adakah restoran yang menjual makanan tengah malam seperti ini?"

Suara itu mengudara, memecahkan kesunyian yang mendebarkan bagi Daehyun.

"a-ada, tentu saja"

Kenapa suaranya nampak sangat memalukan? Rutuknya

"really? Wow.. i'm very hungry right now" gumam pemuda itu sambil memegang perutnya.

Daehyun melirik sesaat. menatap wajah putih yang nampak sangat mirip dengan anak kecil. Kulitnya yang berwarna seputih susu membuat Daehyun merasakan gatal pada tangannya untuk dapat mencubit pipinya yang sedikit chubby itu.

Bola mata Daehyun bisa saja keluar saat melihat pemuda itu mengembungkan pipinya dan memasang wajah yang begitu menggemaskan. Ohh.. baru kali ini dia merasakan rasa ingin memeluk seseorang yang begitu kuat.

Daehyun menggigit bibirnya, dia tidak kuat berada lama-lama bersama pemuda ini. dan lagipula. Apakah dia tidak mengenali ku? fikirnya.

"oh. Ya. Apa ajusshi bawa sapu tangan milik ku?"

Tubuhnya membeku. Meraba pelan saku jaketnya yang berisi sapu tangan milik pemuda itu. Daehyun kini sangat ingin berteriak. Dia mengingat ku, Tuhan. Jeritnya tertahan.

"a-ah, aku rasa tertinggal di kamar ku" ucapnya sambil meraba tubuhnya seakan dia mencari sapu tangan itu.

Pemuda itu mengangguk-anggukan kepalanya paham. Ada rasa menyesal karena telah membohongi pemuda manis itu. namun mau bagaimana lagi?

Dia masih ingin menyimpan sapu tangan itu.

"nama ku Zelo" ucapnya dengan nada seperti anak kecil.

Dia mengulurkan tangannya ke arah Daehyun. Daehyun baru saja ingin menjabat uluran itu. sungguh, dia sangat ingin merasakan tekstur kulit pemuda manis ini.

TING.

Secara refleks, Zelo menarik tangannya tanpa memedulikan tangan Daehyun yang sudah siap menjabat tangannya.

"aku pergi duluan ajusshi" teriak pemuda itu sambil berlari menuju pintu keluar, tanpa memedulikan Daehyun yang kini hanya terdiam dengan tangan yang masih terulur kearah depan.

"anak itu.."

Gumamnya lirih..

:

:

:

Zelo berjalan dengan riang, sesekali menandungkan nada nada kecil pada sela bibirnya. tangan kanannya menenteng kantung palstik berisikan makanan. Perbedaan waktu yang cukup jauh antara korea dan amerika membuat dia setidaknya merasakan keanehan pada pola tidurnya. Mungkin saat ini di amerika tepat siang hari, namun di korea sudah hampir lewat tengah malam. Dan Zelo tidak bisa tidur dengan perut kosong yang seingatnya hanya dia isi dengan roti panggang sarapannya tadi pagi.

Zelo jadi ingat, dia pernah membangunkan kakaknya pada tengah malam hanya untuk memasakkannya sesuatu. malam itu, entah kenapa dia terbangun dan merindukan makanan buatan sang kakak. Mendapat ceramahan dari himchan karena menganggu istirahat sang kakak yang memang sangat itu diperlukan bagi yongguk karena kesibukannya yang padat. Zelo menolak tawaran himchan untuk dia yang memasakkan makanan untuk Zelo. Hanya saja, Zelo merindukan masakan mama, dan yang bisa membuat makanan itu hanyalah yongguk.

Menggeleng-gelengkan kepalanya cepat. tidak. dia tidak boleh mengingat hal itu lagi. Zelo sudah melihat gedung apartemennya, mempercepat langkahnya untuk sampai pada kehangatan kamarnya.

Langkahnya terhenti. Tak sengaja matanya menatap pemuda itu. pemuda bersurai kecoklatan dengan memakai baju merah dan sweater putih yang menutupi. Entah apa yang menggerakkan kakinya untuk menghampiri pemuda itu.

Pemuda yang belum dia ketahui yang kini terduduk di bangku panjang dengan tatapan yang lain. Zelo seakan mengenali tatapan itu. dia mengenal tatapan itu.

Itu tatapannya..

Sinar mata itu. sinar matanya..

Dia seakan menemukan bayangan dirinya pada tatapan pemuda itu. dulu, dia yakin dia pernah memiliki tatapan yang sama. Sinar yang sama.

"ajusshi" panggilnya lirih.

Pemuda itu menolehkan kepalanya. Dan sinar itupun berlalu. Tergantikan oleh pancaran keterkejutan. Dan wajahnya yang terkejut berubah menjadi dingin. Tak berekspresi.

"nama ku Daehyun. Jadi berhenti memanggil ku ajusshi"

Zelo tersentak sesaat. 1 jam yang lalu pemuda ini masih bersikap hangat padanya. namun mengapa sekarang menjadi dingin seperti ini?

"aah.. maafkan aku" tuturnya dengan suara pelan.

"dan lagipula, aku tidak setua yang kau fikirkan. Umur ku masih 21 tahun, jadi panggil aku hyung. tidak ajusshi" jelas pemuda itu dengan nada yang lebih baik.

Menganggukan kepalanya dengan patuh. Zelo menatap wajah pemuda itu dengan seksama. Wajah yang mempunyai kesan ramah namun terlihat dingin. Bibirnya yang terkatup dan tidak mengijinkan sebuah senyuman terlihat. Zelo memasukkan tangannya ke dalam kantung plastik. Mencari-cari sesuatu yang sekiranya bisa membuat bibir itu melengkungkan senyuman.

Dia hanya jengah pada wajah dingin Daehyun. Sudah cukup dia melihat wajah dingin kakaknya, dan dia tidak ingin ada yang menyaingi wajah dingin sang kakak.

Mengulurkan tangannya tepat didepan wajah Daehyun. Membuat pemuda tampan itu menyipitkan matanya heran.

"hyung ku pernah berkata pada ku, jika kau sedang merasa sedih cobalah untuk memakan coklat. Maka sedikit demi sedikit rasa sedih mu akan terobati" jelas Zelo dengan wajah serius.

Memandang beku pada uluran tangan Zelo. Seakan mata itu mengulang peristiwa yang sama dengan saat ini.

"tahu darimana jika aku sedang sedih?" tanya Daehyun sambil mengambil coklat dari tangan Zelo.

Mendudukkan tubuhnya disamping Daehyun "mata mu, hyung"

Mengerutkan keningnya sambil membuka bungkusan coklat yang menutupi "ada apa dengan mata ku?"

Zelo menggerakkan kakinya kedepan dan kebelakang. Mengatupkan erat bibirnya sambil memandang taat ke arah langit.

"karena mata mu sama seperti saat aku bercermin pada waktu dahulu"1

Tangan Daehyun yang sedang mencoba membuka kertas alumunium pembungkus coklat itu terhenti. Memandang pemuda manis yang kini tengah menampilkan senyuman. Senyuman yang tulus, lugu juga polos. Senyuman yang seolah mengatakan semua baik-baik saja dan akan kembali pulih pada waktunya.

"sinarnya sama, fokusnya juga sama, eskpresinya juga sama. Aku melihatnya seperti aku melihat diriku pada saat dahulu" lanjutnya

Ekspresi wajahnya saat berbicara membuat Daehyun melupakan coklat dalam genggamannya. Merasakan ketenangan sesaat setelah rasa sakit memporak porandakan fikirannya.

"hyung, aku lapar. Aku akan ke kamar untuk makan" pamitnya seraya melambaikan tangannya dan berlari menjauhi Daehyun.

Dia selalu meninggalkan Daehyun yang sendiri. meninggalkan rasa penasaran yang semakin menumpuk untuk dapat dia ketahui tentang pemuda manis itu.

Dan itulah yang membuat Daehyun menyukainya. Rasa penasarannya..

kesedihan yang sesaat terhapuskan saat melihat sosok wajahnya, namun kesedihan itu kembali saat tidak sengaja dia menemukan sebuah foto

.

.

.

Sebuah foto pemuda manis yang sekuat tenaga dia ingin lupakan..

Zelo tidak pernah mengerti kenapa jantungnya berdegup tidak biasa. Saat matanya secara tidak sengaja menatap wajah pemuda itu, saat tiba-tiba dihatinya terasa sangat sakit melihat wajahnya yang nampak sedih.

Hey. Kau bahkan baru mengenalnya.

Ya. Tidak sampai 3 hari mereka bertemu. Namun zelo merasakan rasa lain dihatinya. Rasa yang dia tidak dia mengerti karena ini adalah kali pertama dia merasakan hal seperti ini. dia tidak mengerti dengan dirinya sendiri saat ini. dia tidak mengerti mengapa dia begitu takut untuk dapat bertatap mata atau terdiam disuatu tempat dengannya.

Menjadikan berbagai alibi untuk menghindar. Berbagai alsan untuk tidak menyentuh langsung rasa hangat yang pasti mengalir pada tubuh itu jika menyentuhnya. Hanya karena dia tidak kuasa.

Mungkinkah ini hanya rasa kasihan belaka? Ataukah ini hanya perasaan mengerti yang dia rasakan pada sosok itu? apakah hanya karena dia juga pernah merasakan tatapan mata itu?

Entah. Mendudukkan tubuhnya yang seakan lemas. Kilasan masa lalu berputar.

Lelah. Biarkan fikirannya beristirahat sejenak.

:

:

:

"kau tampak tidak sehat"

Ucap Sehun sambil merendahkan kepalanya untuk melihat wajah zelo yang menunduk dalam.

Mengangkat kepalanya dengan cepat "aku baik-baik saja. hanya mengantuk" jawab zelo

Tersenyum kecil, mengulurkan tangannya dan menyampirkan poni pemuda didepannya untuk dapat menyentuh dahi zelo.

"hmm.. sedikit panas. Kau demam?" tanyanya dengan nada khawatir seraya menarik tangannya dari kehangatan kulit zelo.

Menggelengkan kepala dengan cepat, merapikan rambutnya dengan canggung.

"aku baik-baik saja. percayalah. Hanya mungkin, aku belum terbiasa dengan suhu korea" jelas zelo sambil tersenyum.

Meraba dadanya pelan saat melihat senyuman itu. merasakan degupan berkali lipat yang terasa pada denyut nadinya.

"kau mungkin harus lebih banyak beristirahat" saran Sehun sambil menyembunyikan kegugupan yang timbul akibat tatapan langsung yang dilakukan zelo.

Mengangguk paham. Meletakkan kepalanya pada meja dan menghadapkan wajahnya pada Sehun. melihat dengan jelas wajah manis zelo. matanya yang perlahan terpejam.

Mungkin dia memang benar-benar sedang mengantuk. Fikirnya.

Menolak sekuat tenaga keinginannya untuk menyentuh pipi sang pemuda. Menggeleng kuat.

Jangan bodoh Oh Sehun.. gumamnya sebelum dengan kekuatan penuh mengalihkan tatapannya pada buku didepannya..

TBC

Haduhhh... makasih buat yang udah review. *kecup basah dari daehyun*

RnR juseyoo...

1 Diambil dari kutipan pembicaraan detektif conan episode 71