Author : Han NN
Tittle : Can't Be Love
Cast : Jung Dehyun / Zelo / Oh Sehun / Yoo Youngjae / Kim Himchan / Bang Yongguk / Moon Jongup..
.
Genre : romance, School Life, Yaoi, Shonen-ai
.
Warning : THIS YAOI FANFICTION. BOYXBOY. Typo masih bertebaran, not EYD..
.
A/N : Zelo punya Daehyun, Daehyun punya saya. Yongguk punya Himchan, Himchan punya saya.
.
Summary : Zelo membenci korea, namun seseorang membuatnya menyukai korea kembali. Terjebak dalam hatinya sendiri. Triangle Love. Kejadian masa lalu membuka kenangan pahit Jung Daehyun..
.
.
HAPPY READING..
.
.
.
Flashback..
Musim dingin di hari pertama merupakan hal yang paling dibenci oleh Daehyun. Sepatu boot yang dia pakai hampir seluruhnya tenggelam oleh tumpukan salju. Gerutuan lolos dari sela bibirnya. Daehyun menundukkan tubuhnya, mengais salju yang hampir masuk kedalam sepatunya.
Dia bisa dibilang tidak ingin berada dalam kondisi seperti ini. memakai baju super tebal dengan tumpukan sweater yang membungkus tubuhnya. Juga kupluk dan sarung tangan paling tebal yang dia punya di rumah. Jika saja ini semua bukan untuk dia.
.
Ya..dia..
.
Walaupun Daehyun sudah memakai sarung tangan, tetap saja. telapak tangannya terasa membeku dengan jemari yang bergetar sedari tadi. Daehyun menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya, lalu menempelkannya dipipi. Membuat aliran hangat setidaknya merayap pada pipinya yang juga dingin.
Daehyun menarik lengan baju yang menutupi tangannya. mengamati pergerakan jarum jam pada jam tangan berwarna coklat tua yang melingkar ditangannya. Pemberian dari dia. Senyuman terbentuk, seolah mengatakan jika dia baik-baik saja berdiri hampir kurang lebih 1 jam untuk menanti kedatangannya.
Daehyun bahkan hampir tidak menyadarinya. Jalanan lengang juga para pejalan kaki yang mulai menyepi membuat Daehyun meragu sesaat.
Apakah dia akan datang?
Matanya yang satu jam tadi nampak bersemangat mulai meredup, walau dengan sekuat tenaga dia mencoba mengusirnya.
"kau akan datang, bukan?"
Lirih suaranya hanya akan menjadi tameng bagi angin yang berhembus untuk menyindirnya. Memberikan hembusan lebih kencang dan membuat Daehyun merapatkan jaket yang dipakainya.
Semua tak akan terasa.
Saat waktu terasa memihak pada yang tak beruntung..
Tak merasakah jika kau sedang terbohongi?
Mata meredup. Semangatnya pun sudah terkuras. Untuk apa dia keluar di tengah musim dingin seperti ini jika bukan untuk dia? Buat apa dia rela berdiri hampir sejam lebih hanya untuk bertemu dengannya? Untuk apa dia masih saja percaya jika dia akan menemuinya?
Daehyun menghembuskan nafas panjang. harusnya dia tahu jika ini akan terjadi. Dia yang pergi ke jepang dan berjanji akan datang hari ini. dia yang berjanji akan menemuinya. Dia yang berjanji akan memilihnya..
Kakinya sudah melangkah, saat matanya menatap lurus kedepan. Untuk terakhir kalinya.. dia berharap..
Mungkin keberuntungan sedang menyapanya malam ini..
Atau mungkin, ini hanyalah keberuntungan sesaat?
Daehyun yakin jika matanya masih normal. Dia masih bisa mengenali sosok itu. sosok anggun walaupun tubuhnya di bungkus dengan ketebalan baju musim dingin. Lengannya terangkat, menampilkan sarung tangan tebal yang pemuda disebrang sana pakai.
Pemuda itu tersenyum. dan Daehyun tak bisa menghentikan laju detak jantungnya. Ini terlalu cepat. dan terlalu gila. Daehyun membalas senyuman manis yang terbentuk di wajah pemuda itu.
Dan semenjak itu, Daehyun sangat menyukai musim dingin..
.
End of Flashback
;
;
;
Kembali. Jam ditangannya sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Menyeruput kopinya dengan perlahan, matanya mengawasi dengan seksama pintu lift yang terletak 100 meter didepannya. Berharap sesorang keluar dari pintu lift itu. menghembuskan nafas kecewa karena sosok yang diharapkannya tak kunjung tiba.
Daehyun melipat koran didepannya. Mencoba mengalihkan perhatiannya, namun.. tidak.. dia tidak bisa. Justru bayangan wajah pemuda itulah yang nampak dalam penglihatannya. Menggerutu kesal, menyerah untuk membaca koran lalu membiarkan koran itu terlgeletak.
"Daehyun hyung"
Suara itu.
Mengangkat kepalanya, menemukan sepasang iris bening yang memandangnya lembut. Menemukan wajah berkulit putih yang berdiri tak jauh dari tempatnya duduk kini. Senyumannya terbentuk. Dan lagi.. jantungnya tak normal.. berdegup seiring dengan langkah sang pemuda yang kini tengah duduk disampingnya.
"hyung, kau tidur dengan baik?" tanya Zelo. Pemuda itu sambil mengambil koran yang tergeletak dan membukanya.
"Yaa. Kau sendiri?" oh.. ayolah.. hentikan nada gugup ada suaranya.
Zelo mengangguk, merasa bosan pada koran yang menampilkan berita tentang pemubunuhan seorang anak kepada sang ayah. Zelo nampak memainkan ponselnya. Seolah acuh, seolah mengingkari jika tangannya berkeringat dan membuat layar ponselnya menjadi sedikit kabur.
"hyung suka kopi?" tanya Zelo sambil menunjuk gelas berisi kopi milik Daehyun.
Daehyun mengangguk "kau mau?"
Zelo menggeleng, dengan mata polosnya.. "aku tidak boleh minum kopi di pagi hari"
Daehyun mengerutkan keningnya. Setidaknya, pagi yang selalu buram sedikit berwarna akan kehadiran Zelo. Daehyun masih ingat, hampir 5 tahun ini dia selalu duduk sendiri dengan ditemani segelas kopi dan juga koran. Rasa bahagia setidaknya merayap. Menyadari jika paginya sudah tak seburam dulu.
"nuna ku bilang tidak baik minum kopi di pagi hari. tapi anehnya, hyung ku selalu diperbolehkan untuk meminumnya" jelas Zelo sambil memandang dengan dalam pada cangkir kopi Daehyun.
"kau punya nuna?" hey.. dia ingin mengenal lebih jauh sosok Zelo.
Bola mata yang bersih itu bergerak. Menemukan kedua mata Daehyun. Daehyun bersumpah dia tidak pernah merasakan hal seperti ini lagi. percikan. Rasa bagai ada sengatan kecil yang merayap pada tubuh Daehyun dan membuatnya bergetar.
"hihihi" bukannya menjawab Zelo malah tertawa. Membuat kerutan di kening Daehyun semakin nyata.
Namun tak bisa dipungkiri, senyuman tertahan terbentuk di wajah Daehyun. Tawa Zelo terdengar sangat renyah. Sungguh, dia menyukai derai tawa yang keluar dari bibir Zelo.
"aku harus pergi, hyung" ucapnya sambil bangkit.
Bahkan Zelo belum menjawab pertanyaan Daehyun. Daehyun sudah terbiasa dengan Zelo yang selalu mengacuhkan pertanyaanya. Namun sepertinya, Daehyun sedikit melupakan pertanyaannya itu. dia hanya tersenyum sambil mengangguk. Melihat bagaimana pemuda bertubuh tinggi itu berjalan keluar dari lobi apartemen. Melihat punggung Zelo perlahan menghilang dari pandangannya.
Senyumannya terbentuk kembali..
.
"mengapa kau sangat mudah membuat ku tersenyum?"
:
:
:
Entah apa yang menyebabkan Sehun tak bisa berhenti menyunggingkan senyuman. Dia menyapa tukang pos yang selalu berkunjung kerumahnya untuk mengantarkan surat. Dan lagi, senyuman tak hilang dari wajahnya. Membuat lelaki tua itu terkejut sesaat. pasalnya sudah hampir 50 tahun dia mengantarkan surat ke kediaman Mr. Oh namun baru kali ini dia melihat senyuman di wajah dingin Sehun. memang pernah, namun tak setulus dan seceria sekarang.
Lelaki itu membalas sapaan Sehun, tak lupa untuk menyunggingkan senyuman hangat.
"kau nampak lebih tampan nak jika tersenyum" ucapnya sambil mengeluarkan surat-surat dari dalam tas yang dipakainya.
Sehun menundukkan kepalanya, memang kebiasaanya untuk menunggu pos datang. Memilah dengan teliti pada surat yang berdatangan. Ini bisa dilakukan oleh para maid nya. namun Sehun punya alasan tersendiri mengapa dia lebih menginginkan menjadi orang pertama yang memegang tumpukan surat yang datang ke rumah mereka.
"satu surat dari luar negeri. Tepatnya, dari Eropa" jelas lelaki tua itu sambil menyodorkan sebuah surat yang berbeda. Berwarna biru lembut, tak seperti surat-surat lain yang begitu formal.
Senyuman di wajah Sehun semakin melebar. Dia membungkukkan tubuhnya dan mengucapkan terimakasih saat lelaki tua itu berjalan pergi meninggalkan rumahnya.
Surat yang pasti akan membuat seseorang didalam rumahnya bergitu bahagia..
:
:
:
Hal pertama yang ingin dilakukan saat dia tiba di kampusnya adalah mematahkan tangan Youngjae. matanya menatap tajam pada sahabatnya yang sedang tertawa, Daehyun melemparkan tasnya yang seingatnya dia isi dengan buku-buku tebal pada wajah Youngjae. membuat pemuda itu mengaduh cukup keras karena terpaan tas Daehyun.
"gila.. ini sakit kau tahu" kesal Youngjae sambil melempar tas Daehyun ke arah tempat duduknya.
Ya.. walaupun dia tidak bisa mematahkan tangan Youngjae, setidaknya dia bisa membuat hidung Youngjae berwarna merah akibat lemparan tasnya. Dan lagipula, mana tega dia mematahkan tangan sahabatnya itu.
Daehyun hanya tersenyum tipis, berjalan dengan santai menuju tempat duduknya. Disampingnya, Youngjae masih mengusap-ngusap hidungnya. Pasti sakit.
"entah ini baik atau tidak. tapi setelah kau bertemu Zelo, kau terlihat lebih sering menyiksa ku" gerutu Youngjae sambil mendorong buku yang ada didepannya.
Daehyun melirik sesaat, mengambil tasnya dan mengeluarkan sebuah buku tebal didalamnya.
"hey, bagaimana jika nanti kita mengajak Zelo lagi?" menekankan kata lagi.
Pertanyaan itu sukses membuat Daehyun yang sedang membaca terdiam sempurna. Gerakan bola matanya yang mengikuti alur baris didalam bukunya terhenti. Meneguk air liurnya dengan kasar dan berdehem kecil.
"Y,ya terserah saja" ucapnya terdengar biasa.
Mungkin Youngjae memang sangat mengenalnya. Youngjae tertawa keras sambil memukul meja. Membuat orang-orang yang berada disekitar mereka menatap Youngjae dengan penasaran. Pemandangan yang sudah sering Daehyun dapatkan. Daehyun merutuk, kenapa Youngjae memiliki kebiasaan memukul meja saat tertawa. Daehyun mengetuk-ngetukkan bukunya ke kepalanya.
"bilang saja jika kau setuju. Dasar Jung Pabo" Youngjae mengeluarkan ponselnya. Menggerakkan jemarinya dengan cepat.
"kau sedang apa?" Daehyun penasaran dengan wajah Youngjae yang senyum-senyum sambil menatap layar ponselnya.
Youngje menatap Daehyun. Ohh.. tidak. mata Youngjae sudah menyiratkan sesuatu yang tidak mengenakkan. Dan dengan bangganya, Youngjae mengulurkan tangannya yang menggenggam erat ponselnya. Daehyun bisa lihat ketikan Youngjae pada layar tersebut.
'Zelooo, Daehyun ingin mengajak mu makan siang bersama. Bagaimana? Maaf jika aku yang mengirim mu pesan seperti ini. kau tahu? Daehyun itu pemalu'
Daehyun membulatkan matanya, ingin meraih ponsel dalam genggaman Youngjae, namun dia kalah cepat. Youngjae sudah menekan perintah kirim.
"YA, YOO YOUNGJAE" Daehyun tak bisa menghentikan teriakannya. Dia menggapai gapai ponsel Youngjae yang diletakkan di tangan satunya lagi. Youngjae memegang kepala Daehyun agar pemuda itu tidak bisa merebut ponselnya dan mengirimkan pesan pembatalan.
Baru saja Daehyun ingin benar-benar mematahkan tangan Youngjae, saat sebuah suara menginterupsi keduanya.
"Youngjae hyung"
Keduanya terdiam. dengan cepat Youngjae segera merapikan bajunya yang berantakan karena sedikit bertarung dengan Daehyun. Memasang senyuman manisnya.
Daehyun mendengus. Merelakan perbuatan semena-mena Youngjae yang sebenarnya jika dia boleh jujur Daehyun suka. Mendudukkan tubuhnya dan menarik bukunya mendekat.
"Jongup, ada apa?"
Lihat? Youngjae selalu memakai nada lembut jika sudah berbicara dengan Jongup.
Jongup. Pemuda yang lebih muda dua tahun dari Youngjae itu menggaruk-garuk tengkuknya, terlihat salah tingkah. Tidak. jangan bilang jika Jongup juga menyukai Youngjae. Jongup mengangkat wajahnya dan terlihatlah mata sipitnya yang menatap serius pada mata Youngjae.
"bisakah kita berbicara berdua?" ucap Jongup sambil menatap Daehyun, seolah berkata jika Daehyun adalah pengganggu dari keinginannya untuk berbicara.
Daehyun menutup sebelah telinganya dengan tangan. Entah apa yang membuat Youngjae menyukai Jongup. Wajahnya yang terlalu polos, matanya yang terlalu kosong. Seolah jika kau melakukan apapun padanya dia akan berkata 'aku baik-baik saja'.
Dan yeah.. Daehyun akui Youngjae mamang pantas dengan Jongup. Sikap cerewet Youngjae sepertinya dapat menutupi sikap Jongup yang pendiam dan sedikit kaku.
"tentu saja bisa" jawab Youngjae dengan semangat. Dia berdiri, menyenggol lengan Daehyun dengan keras. membuat kepala Daehyun terjatuh akibat tangan yang dia pakai sebagai penyangga kepalanya disenggol Yougjae.
"demi Tuhan Youngjae.. bisakah kau tidak melakukan itu?" geram Daehyun sambil mendesis.
Dan Youngjae hanya tersenyum lebar. melambaikan tangannya sambil menggamit lengan Jongup. Itulah yang Daehyun suka dari Youngjae. dia berani mengungkapkan rasa ketertarikannya pada Jongup. Dan Daehyun bisa lihat keduanya berjalan keluar dari ruangan.
Daehyun menghembuskan nafas panjang. tidak mengerti bagaimana bisa Youngjae memiliki nomor ponsel Zelo. Bahkan dia tidak punya, mungkin lebih kepada tidak berani untuk memintanya.
Daehyun meletakkan kepalanya di atas meja. Memikirkan bagaiman nanti jika dia makan siang dengan Zelo membuat Daehyun tersenyum senang. Entah dia harus berterimakasih atau mengutuk Youngjae saat ini,
Daehyun memejamkan matanya.
Membayangkan wajah Zelo yang tertawa..
:
:
:
Zelo menahan senyumannya, lebih tepatnya jeritannya.. ketika ponselnya bergetar dan menampakkan sebuah pesan. Memang, kemarin dia sempat bertukar nomor dengan Youngjae. dan lihat? Semu merah nyata terbentuk diwajahnya saat membaca pesan dari Youngjae. pipinya memanas dan dengan tangannya dia mengibas-ngibaskan pipinya yang memerah.
Baru saja dia akan memabalas pesan dari Youngjae saat Sehun datang dan menaruh tasnya dengan gusar. Zelo mengangkat kepalanya, melihat dengan jelas senyuman di wajah Sehun.
Zelo mengangkat alisnya, tak biasanya dia melihat Sehun tersenyum secerah ini pada pagi hari. biasanya Sehun akan langsung menangkupkan tangannya di meja dan tertidur menunggu bel masuk berbunyi.
"Sehun, kau baik-baik saja?" tanya Zelo dengan hati-hati.
Tawa kecil keluar dari bibir Sehun, mendudukkan tubuhnya dan meletakkan kepalanya di meja, menghadap pada wajah Zelo.
"tentu, apakah keadaan ku seperti mengatakan jika aku tidak baik-baik saja?"
Zelo menggeleng cepat. tatapan mata Sehun membuat Zelo gugup sesaat. ponselnya yang berada dalam genggaman pun seakan terlupakan. Sibuk meredam rona merah yang mulai menyebar di pipinya semakin parah.
"kau tidak nampak seperti biasanya" gumam Zelo.
Sehun mengangkat kepalanya "benarkah?""
Zelo mengangguk, mencoba untuk tidak menatap mata Sehun.
"kau nampak lebih ceria. Dan, lebih bersinar" ucap Zelo sambil menunjuk daerah sekitar tubuh Sehun.
Apa mungkin ini hanyalah efek matahari pagi yang menyinari tubuh Sehun? namun Zelo merasa Sehun nampak sangat berbeda hari ini. dan itu sukses membuatnya gugup entah apa alasannya.
Sehun hanya tertawa, lagi. tawa yang sungguh sangat indah untuk didengar.
"mungkin kau mulai menganggumi ku" bisik Sehun. namun masih terdengar oleh Zelo.
Zelo membulatkan matanya, menatap Sehun dan refleks mengembungkan pipinya. Sehun yang melihatnya hanya mampu menahan diri untuk tidak mencubit pipi Zelo.
Sehun mulai membuka tasnya. Membiarkan Zelo bergumam entah apa.
"ahh.. Zelo, bisakah nanti kita mulai pada jam makan siang?"
Zelo terdiam. tangannya yang sudah siap mengetik pada ponselnya terdiam. mengerjapkan matanya berkali-kali. Lalu memandang layar ponselnya dengan sedih. Genggaman pada ponselnya mengerat. Ingin sekali rasanya dia menggeleng. Dia ingin makan siang dengan Daehyun.
"kenapa seperti itu?" Zelo meminta penjelasan dengan suara lemah.
"materi yang akan kita pelajari sangat banyak. Dan waktu kita punya bisa dikatakan sedikit. Jadi, mau tidak mau kita harus meluangkan waktu lebih agar kau paham dan mengerti dengan materi yang akan kita ujian kan" jelas Sehun.
Sebenarnya dia tidak tega melihat mata Zelo yang meredup. Apakah dia sudah mempunyai rencana dengan seseorang? Dan mengapa dia tidak suka melihat wajah Zelo yang sedih seperti itu?
"kau tidak bisa?" Sehun memandang khawatir "jika memang tidak bisa, Ya, tidak apa-apa" ujar Sehun sambil menggaruk tengkuknya.
Zelo mengangkat kepalanya, tersenyum sambil mengangguk. Ada paksaan pada tarikan bibirnya.
"bisa kok. Bisa, tenang saja. jadi, kapan? Saat makan siang? Baiklah"
Bisa Sehun lihat raut wajah Zelo yang membuat hatinya terasa terhimpit sesuatu. Zelo menundukkan kepalanya dan mengetik sesuatu di layar ponselnya.
Sehun menghembuskan nafas panjang..
Maafkan aku..
:
:
:
"kita harus menjenguk Zelo saat dia liburan" ujar Himchan sambil mengamati kalender yang terletak di meja kerja Yongguk.
Yongguk yang saat itu tengah membaca buku mengalihkan tatapannya. Menatap pada wajah Himchan yang sedang serius membulatkan tanggal dimana Zelo akan mulai liburan. Yongguk menarik nafas. Memfokuskan kambali matanya pada deretan huruf dalam buku digenggamannya.
"Bbang, kau dengar aku kan?" pasti Himchan sambil menutup spidol berwarna merah yang dia gunakan untuk membulatkan tanggal.
Yongguk mengangguk, namun tidak ingin melepaskan tatapannya. Himchan berdecak dengan kesal. berjalan menuju ke arah Yongguk yang nampak serius. Tapi Himchan tahu, pemuda itu sedang memikirkan sesuatu.
Himchan berdiri didepan Yongguk, perlahan.. menutup buku yang ada dalam genggaman Yongguk, membuat pemuda itu mengangkat wajahnya dan menatap Himchan dengan tajam.
"kau harus mau pergi ke korea" ucap Himchan lembut.
Yongguk melepaskan kacamata baca yang bertengger dihidungnya. Memijit pelipisnya kuat-kuat. Denyutan sakit masih terasa setiap dia menginngatkan korea. Ada sesauatu yang dia takutkan pada korea.
"aku hanya tidak ingin bertemu dengannya lagi" gumam Yongguk.
Himchan mengerti. Dia memegang erat jemari Yongguk.
"Bbang, kau percaya pada ku kan?"
Mata mereka bertatutan. Yongguk bisa lihat mata kelam milik Himchan yang menguatkannya. Membuatnya teguh jika apa yang dia khawatirkan selama ini tidak akan terjadi. Yongguk hanya terlalu takut, itulah fikiran Himchan.
"aku percaya" ucap Yongguk sambil mengelus lembut pipi Himchan.
Himchan tersenyum. mata Yongguk masih terlihat keraguan. Dia menggenggam jemari Yongguk lebih erat. sungguh, ketakutan Yongguk sebenarnya tidaklah beralasan. Karena sampai kapan pun Yongguk telah mengikatnya kuat.
"kau mau kan ke korea?" pasti Himchan sekali lagi,
Walau berat, anggukan kepala Yongguk membuat Himchan tersenyum. seraya memeluk tubuh Yongguk dan mengelus punggung Yongguk.
"semua akan baik-baik saja. mungkin kita bisa memperbaiki semuanya" bisik Himchan.
Yongguk menggangguk. Entah, dia rasa semua tidak akan bisa diperbaiki.
Kesalahan fatal telah dia lakukan. Dan jika dia jadi pemuda itu, dia tidak akan memaafkan atas apa yang telah Yongguk lakukan padanya.
:
:
:
Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Zelo menguap, namun sekuat tenaga mendengarkan penjelasan Sehun tentang rumus-rumus fisika didepannya. Mereka memang berencana belajar semenjak jam makan siang. Tapi siapa sangka, mereka terlalu sibuk mengobrol hingga jam menunjukkan pukul lima sore. Dan disinilah mereka.
Didalam apartemen Zelo. Dan dua jam lebih berkutat dengan rumus fisika. Hari ini memang cukup menyenangkan. Dimana Sehun sangat membuat Zelo nyaman. Sikap Sehun yang hangat dan juga perhatian sedikit merubah kesedihannya karena tidak bisa makan siang dengan Daehyun. Selera humor Sehun bagus. Hampir sepanjang hari ini dia tertawa mendengar cerita konyol dari Sehun.
Tanpa disadarinya, Zelo tersenyum mengingat kejadian hari ini. membuat Sehun menghentikan penjelasannya dan mengetuk kepala Zelo dengan pena.
"dengarkan penjelasan ku, Zelo" ucap Sehun. sedikit gemas karena tingkah Zelo yang mengusap kepalanya.
"aku mendengarkan. Cepat lanjutkan" ucapnya sambil tersenyum. membuat Sehun menurut dan kembali menjelaskan perihal materi tentang hukum rotasi itu.
Terkadang, Zelo akan menginterupsi Sehun. menanyakan hal yang tidak dia mengerti. Dan dengan sabar Sehun akan menjelaskannya secara terperinci.
"sudah jelas?" tanya Sehun sambil menatap Zelo.
Zelo mengangguk-anggukkan kepalanya, menguap kembali. Sehun tertawa, entah tingkah kecil Zelo selalu bisa membuatnya tertawa.
"baiklah, ini sudah malam. Aku rasa sudah cukup" usai Sehun sambil memasukkan buku-buku yang berserakan dimeja.
Zelo mengangguk setuju, membantu Sehun merapikan buku-buku tersebut.
"kau tinggal sendiri?" tanya Sehun.
Zelo mengangkat kepalanya "Ya"
"tidak takut?"
"tentu saja tidak. aku hanya takut jika.."
Ucapan Zelo terhenti ketika lampu diruangan dimana mereka berada mati. Sehun mencoba membiasakan matanya. Menatap pada bayangan tubuh Zelo yang terdiam.
"Zelo" panggilnya sambil beringsut mendekati Zelo.
Kejadiannya tak terduga. Saat lengan ramping Zelo tiba-tiba saja memeluk erat pinggangnya. Menyembunyikan kepalanya didada Sehun. entah, apakah Zelo bisa dengar atau tidak degup jantungnya yang sangat berisik. Gugup. Sehun memegangi pundak Zelo yang sedikit bergetar.
"mati lampu.. aku takut gelap"
Sehun tersenyum lembut, perlahan merilekskan tubuhnya. Hangat tubuh Zelo membuat getaran tersendiri. Sehun merangkul pundak Zelo. Mengusap lembut pundak Zelo.
"maafkan aku jika aku memeluk seperti ini. nuna selalu memeluk ku jika mati lampu" uca Zelo terdengar parau.
Sebenarnya dia merasa tidak enak. Tiba-tiba memeluk Sehun. namun mau bagaimana lagi? dia sangat tidak menyukai kegelapan. Masih teringat jelas difikirannya kejadian 13 tahun lalu. Dimana dia pernah terkunci diruang bawah tanah selama hampir seharian penuh, untung saja Yongguk menemukannya dan segera membawanya keluar dari ruang bawah tanah itu.
Gelap. itu menakutkan.
Gelap itu kotor.
Gelap itu menyakitkan..
Entah sudah berapa lama mereka berpelukan. Masing-masing mencoba meredam degup jantung. Keheningan menjadi teman. Namun itu buyar saat ponsel dalam saku celana Sehun bergetar. Mencoba mengabaikannya. Kehangatan tubuh Zelo membuatnya terlelap sesaat.
"Sehun.. ponsel mu"
Zelo menyadarinya. Dengan malas, Sehun merogoh saku celananya. Melihat ID nomor yang tertera pada layarnya. Sesaat, dia ingin sekali menekan tombol merah di sudut kirinya. Wajah seorang pemuda manis nampak menghiasi layar ponselnya. Dia menggenggam erat ponselnya, membiarkannya sesaat dan layar ponselnya kembali gelap. namun, tak semenit kemudian. Ponselnya kembali bergetar.
"Sehun, kenapa tidak diangkat?" tanya Zelo masih dengan wajah dalam dada Sehun.
Sehun mengelus rambut Zelo. Merasakan kelembutannya. Sehun meneguk air liurnya dengan kasar. Sebelum menguatkan hatinya untuk menekan tombol hijau dan menempelkannya di telinga.
-"S-Sehun.."
Sehun menggigit bibirnya.
"Ya"
-"Sehun, aku takut..."
Suara lirih diujung sana membuat Sehun mengeratkan pelukannya pada Zelo. Seolah meminta kekuatan. Namun tak bisa dipungkiri, jika kekhawatiran terlihat jelas pada raut wajahnya.
-"Sehun.. pulanglah.. aku takut"
Menggenggam erat ponselnya. Berperang dalam batinnya. Memilih berlari sekarang juga dan meinggalkan Zelo untuk seseorang diujung sana yang tengah terisak sambil memanggil namanya. Atau meredam segala keegoisannya dan menutup hubungan udara yang mereka lakukan.
Itu kejam.
Ya dia tahu..
"hyung.. kau bisa. Kau tidak usah takut" ucapnya lirih. mencengkram kuat-kuat kaus yang dikenakan Zelo. Membuat pemuda manis itu mengernyitkan keningnya. Tak mengerti dengan sikap Sehun yang seolah meminta kekuatan padanya. Zelo mengusap pundak Sehun. entah, firasatnya ingin dia melakukan hal itu.
-"p-pulang.. ku mohon.."
Sendunya suara lembut diujung sana membuat pertahanan Sehun runtuh. Bibirnya bergetar. Dia tahu, sampai kapanpun dia tidak akan bisa lepas dari sosok itu.
"baiklah"
Sehun menutup hubungan udara keduanya. Meminta maaf pada Zelo untuk karena tidak bisa menemani pemuda tersebut. Zelo mencengkram kuat ujung kemeja Sehun sambil menggeleng. Menolak ditinggalkan sendiri.
"antarkan aku.." gumam Zelo.
"kemana?"
"lantai dua"
:
:
:
Daehyun memainkan lelehan lilin yang dia letakkan di meja ruang tamu apartemennya. Tetangganya mengatakan, mati lampu ini di akibatkan ada saluran listrik yang rusak di lantai atas. Membuat setidaknya mereka harus menunggu sampai pagi agar pengerjaan itu sukses dilakukan.
Matanya yang berpendar akan cahaya lilin terlihat sedih. Masih teringat dengan jelas perkataan Youngjae tadi pagi.
"dia tidak bisa. Dia ada pelajaran tambahan"
Zelo menolak makan siang bersamanya dengan alasan ada tambahan pelajaran. Daehyun bersikap biasa saja. walau sebenarnya dia kecewa, walau sebenarnya dia sangat ingin makan siang bersama Zelo.
Namun bukan itu yang membuatnya nampak kesal juga sedih. Kenyataan jika dia melihat Zelo sedang makan siang dengan seorang pumuda berkulit putih juga menawan itu membuat Daehyun gusar.
Dia merasa.. Zelo membohonginya.. tapi disisi lain.. untuk apa dia bersikap seperti ini? toh, tidak ada ikatan apapun antara dia dan Zelo.
Bahkan Daehyun baru beberapa kali bertatap wajah dengan Zelo. Baru beberapa kali mengamati iris bening milik Zelo. Baru beberapa kali memuji wajah mulus Zelo dari jarak yang begitu dekat.
Namun mengapa ada rasa sesak dihatinya?
Rasa tidak rela jika Zelo berdekatan dengan pemuda lain selain dirinya.
Bunyi bel yang di pencet oleh orang diluar rumahnya membuat Daehyun mendengus. Merutuk siapa yang bertamu hampir tengah malam seperti ini. jika itu adalah Youngjae, Daehyun yakin dia akan benar-benar mematahkan lengan pemuda itu.
Daehyun berjalan malas menuju pintu. Membukanya kasar. Dan betapa terkejutnya dia melihat Zelo berdiri didepan pintunya. Menggamit sebuah boneka stitch berukuran cukup besar.
"z-zelo?"
Zelo tersenyum. sangat manis. membuat Daehyun mencengkram kuat-kuat kenop pintu apartemennya. Daehyun baru menyadari jika seorang pemuda berdiri disamping Zelo. Pemuda yang dia lihat sedang makan siang dengan Zelo. Dan dengan tatapan tidak suka dia menatap pemuda tersebut. Pemuda yang masih mengenakan seragam sekolah yang nampak acak-acakkan.
Pemuda bertubuh tinggi itu sedikit membungkukkan tubuhnya untk memberi salam.
"aku tinggal, oke? ini piyama mu" bisik Sehun sambil mengulurkan piyama yang ternyata milik Zelo.
Zelo tersenyum, mengangguk dan membiarkan pemuda itu berjalan menjauh. Daehyun menatap kepergian pemuda itu dengan pandangan lega. Lalu dia pun menatap Zelo. Lorong gelap tak membuat Daehyun terhalang untuk melihat wajah Zelo.
Rambut biru kelamnya. Dagu runcingnya juga jangan lupakan putihnya kulit Zelo. Daehyun menunduk sesaat. pemuda didepannya ini sangat manis.
"hyung.. bolehkan aku menginap di apartemen mu?"
.
.
.
TBC.
.
.
Apakah aku terlalu lama mengapdate FF ini? jujur aku sedikit agak ga puas sama chapter ini. hahahah..
.
Terimakasih untuk yang sudah review. Aku sangat berterimakasih pada kalian yang sudah mereview FF ini. sangat berterimakasih.. ayoo. Kita berteman.^^
.
FF ini untuk kalian yang mungkin merindukan DaeLo moment sama seperti ku. maaf jika chapter selanjutnya sedikit agar lama. Lama banget mungkin. Karena eghh.. i hate my assignment.. dan bulan-bulan kedepan adalah bulan-bulan mulai masuk semester genap. Tapi kalau ada waktu luang, aku pasti lanjutin.
.
Keep support me..
.
Maaf jika chapter ini kurang memuaskan..
.
Ayo di review lagi.. aku beliin es krim nanti..
.
RnR juseyoo..
