Author : Han NN
Tittle : Can't Be Love
Cast : Jung Daehyun / Choi Junhong A.K.A Zelo
Oh Sehun / Yoo Youngjae / Bang Yongguk / Kim Himchan / Moon Jongup
.
.
Genre : Romance, school life, drama
.
Warning : THIS YAOI FANFICTION. BOYXBOY. Typo masih bertebaran, not EYD
.
A/N : Zelo punya Daehyun, Daehyun punya saya. Yongguk punya Himchan, Himchan punya saya.
.
.
.
HAPPY READING.
.
.
.
.
Sehun melangkah pelan memasuki rumahnya. Keadaan gelap langsung menangkap indra penglihatannya. Sehun meneguk air liurnya paksa, jemarinya menggenggam dengan erat kenop pintu kayu rumahnya. Menghembuskan nafas panjang, menempelkan dahinya pada kokoh dan dingin kayu pintu besar yang menyangga yang terkatup rapat mulai bergetar. Sedang memilih, sedang mengimbangi perang dihatinya.
Dan dengan kekuatan yang entah bagaimana bisa dia punyai. Jemarinya mulai mendorong pintu kayu tersebut. Memang sudah kebiasaan bagi para maid dirumahnya untuk tidak mengunci pintu tersebut setiap malam. karena itu adalah Permintaan Luhan..
Luhan..
.
'dia bisa saja pulang saat kita sedang terlelap'
.
Iris matanya tak menangkap apapun karena kegelapan. Mengerjapkan matanya perlahan dan menemukan cahaya lilin tak jauh dari tempatnya berdiri. Derit pintu yang Sehun buka mungkin terdengar oleh sosok pemuda berambut kecoklatan yang sedang duduk tepat dihadapan lilin tersebut. Wajahnya yang disinari lilin terangkat. Menampilkan wajah manis dengan lekukan bibir menyunggingkan senyuman. Tak sadar, jika senyuman pun sudah terbentuk diwajah dinginnya.
Sehun melangkah. Menghampiri pemuda itu yang terduduk menanti Sehun. binar matanya menandakan jika dia sangat bahagia melihat Sehun berada disampingnya kini. Sehun mendudukkan tubuhnya disamping sang pemuda.
Matanya tak bisa lepas melihat Sehun. dan dengan senyuman, memeluk tubuh Sehun dengan erat. tangan Sehun berada di udara. Matanya sesaat nampak tak fokus. Mengepalkan jemarinya, masih dengan kebimbangan. Membalas pelukan pemuda itu atau tidak. tangannya perlahan turun, melingkar di pundak kecil pemuda itu.
"Sehun, jangan pernah tinggalkan aku sendiri"
Bisiknya lirih. Sehun tersenyum, walau ada paksaan. Dia mengelus lembut punggung pemuda itu.
Luhan. Pemuda itu menyamankan kepalanya di dada Sehun. mencari letak dimana detakan tak biasa akan berdegup dengan cepat. namun malam ini, degupan itu tak dapat Luhan temukan. Degupan itu terdengar samar, tak dapat terdeteksi oleh pendengarannya. Namun Luhan mencoba mengacuhkannya. Mencari kehangatan pada lengan Sehun yang memeluknya.
"kau sudah membaca surat darinya?" tanya Sehun sambil menumpukkan dagunya pada pucuk kepala Luhan.
Luhan menggeleng, memainkan kerah baju Sehun.
"kenapa belum?" bertanya kembali.
"dia pasti hanya akan membuat ku berharap. Berharap terlalu dalam itu.. sakit" jelas Luhan sambil memejamkan matanya.
Mereka terdiam. membiarkan keheningan sesaat menjadi pelengkap. Bola mata keduanya mencari titik fokus. Berharap dimana mereka akan menemukan kerapuhan dan menumpahkannya dengan hentakan. Sehun mencengkram kuat kaus Luhan.
Matanya mencari, mengitari ruangan dimana mereka berada. Berbagai bingkai foto terpajang di dinding. Mata Sehun menyusuri foto demi foto tersebut.
Luhan dan Sehun itu bagaikan kembar. Ditakdirkan dengan bentuk wajah yang sangat mirip. Mereka melengkapi, dengan wajah manis Luhan dan wajah tampan Sehun. tapi, mereka bukan kembar. Mereka hanya..
.
Terikat dengan ikatan darah..
.
Dan itulah yang membuat Sehun sekuat tenaga menghindari Luhan.
Jika saja tak ada ikatan itu.
jika saja dia bukan adik Luhan.
Jika saja saat ini Luhan masih berstatus lajang tanpa marga Kim didepannya.
Dan yang lebih dia sayangkan adalah..
.
.
Jika saja dia tidak jatuh cinta pada Luhan..
:
:
:
"j-jadi kau mau menginap disini?"
Daehyun membenarkan letak bantal sofa yang tak beraturan. Zelo tersenyum melihat tingkah aneh Daehyun. Dia mengangguk dan duduk pada sofa lembut berwarna cream tersebut.
"bolehkah?" tanya Zelo sambil menatap pada lilin yang sengaja Daehyun pasang di atas meja.
Binar bening mata Zelo yang terpantul dengan sinar lilin menjadi pemandangan menakjubkan bagi Daehyun. Dia menatap taat pada binar mata itu. dan sesaat, dia seakan mengenali sosok Zelo. Dia seakan pernah merasakan hal seperti ini pula. Daehyun segera menggelengkan kepalanya.
Bukan.. bukan Zelo..
Tapi sosok yang lain..
"tentu saja boleh, kau bisa tidur dikamar ku dan aku akan tidur di kamar tamu"
Pandangan Zelo yang sedang terpaku pada lilin memudar. Dia menegakkan kepalanya. Dan memberanikan diri menatap mata Daehyun.
"tapi.. aku bisa tidur di kamar tamu, hyung"
Katakan dia bodoh saat ini. erangan sesal keluar dari katup bibirnya. Daehyun meringis karena sudah terlebih dahulu membayangkan Zelo akan tidur di dalam kamarnya. Dia atas tempat tidurnya.
"lebih baik kau tidur dikamar ku saja. di kamar tamu penghangat ruangannya sedang rusak"
Ucap Daehyun dengan serius. Itu kenyataan. Dan Daehyun memang tidak ingin membuat Zelo tidak nyaman menginap di apartemennya.
Zelo sempat berdebat dengan Daehyun. Menentukan siapa yang akan tidur dimana. sesaat Zelo melupakan rasa takutnya akan gelap. jantungnya yang biasa berdetak tak nyaman saat kegelapan menyelimutinya perlahan tenang. Yang ada adalah perasaan nyaman karena bisa beradu argument dengan pemuda berambut coklat didepannya. Zelo sangat menyukai nada bicara yang Daehyun pakai untuknya. penuh perhatian. Padahal mereka baru bertemu. Padahal bisa dikatakan tidak sopan seseorang yang baru kau kenal tiba-tiba saja meminta untuk menginap dalam satu ruangan dengan mu dengan alasan yang sangat tidak masuk akal. Takut kegelapan.
"kau itu tidak suka dingin kan? Kau bilang jika kau akan terkena flu jika lama-lama berada di udara dingin? Maka dari itu kau harus mau tidur dikamar ku. biar aku yang tidur di kamar tamu..
Daehyun terus saja berbicara. mengatakan jika Zelo bisa sakit kalau dia tidak tidur dikamarnya. Mengatakan jika Zelo bisa kedinginan. Mengatakan jika Zelo harus memakai selimut yang sangat tebal agar dia tidak kedinginan.
Mirip Yongguk. Daehyun sangat mirip dengan Yongguk. Mengingatkannya pada sosok sang kakak. Yongguk yang dingin dan pendiam namun akan sangat cerewet jika sudah memikirkan hal tentang Zelo. Dan seperti inilah Daehyun saat ini. sangat cerewet.
Dan Zelo sempat terkejut karena Daehyun sampai mengenalnya sejauh itu. dia bahkan mengingat tentang kebiasaan Zelo yang akan flu jika berada lama di udara dingin.
"bagaimana kalau kita berdua tidur dikamar mu hyung?"
Suara yang tiba-tiba Zelo suarakan membuat Daehyun yang saat itu sedang minum, tersedak. Daehyun menatap lebih patuh pada wajah Zelo. Pandangan polosnya. Daehyun membuka dan menutup mulutnya. ingin protes, namun... ini sebuah kesempatan bukan?
Tidak..
Daehyun menggeleng dengan cepat. pemikiran apa itu..
"tidak. kau tidak bisa.. kita.. tidak.. mungkin, tidak.."
"kenapa tidak bisa? Lagipula aku takut gelap hyung.."
Suara lirih Zelo menjadi penimbang pada pemikiran Daehyun. Zelo memegang lengan Daehyun dan menggoyangkannya.
"di amerika, hyung ku selalu menemani ku tidur saat lampu mati.. dan aku sudah terbiasa.. hyung.. aku takut gelap.. sungguh. Ku mohon. Hanya malam ini saja.
Daehyun menggaruk belakang kepalanya. Dia hanya takut. Takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Karena Daehyun sudah terlanjur memiliki rasa lebih pada pemuda polos disampingnya. karena Daehyun sudah terlampau ingin menatap lebih lama pada beningnya iris yang dia pantulkan di mata indahnya.
"t-tapi.."
Belum kata-kata keluar dari bibirnya. namun sosok Zelo sudah berdiri. Menutup telinganya dengan kedua tangannya.
"Zelo tidak mau dengar.. Zelo mau tidur"
Nada menggemaskan itu masuk kedalam telinga Daehyun. Berulang kali meredam degup jantungnya. Ini gila. Membayangkannya saja sudah membuat Daehyun gila. Dia akan tidur satu tempat tidur dengan Zelo. Bangunkan dia jika memang ini sebuah mimpi.. sadarkan jika dia memang dia kini tengah didalam kelas dan melamun hal yang seperti ini..
Namun ini kenyataan. Zelo memeluk boneka stitch miliknya sambil menarik-narik lengan Daehyun.
"hyung.. ayo.."
Dan masih dengan wajah tak menyangka. Dia melangkah menuju kamarnya dengan Zelo disampingnya, mendekap lengannya dengan kuat. Jemari Daehyun yang memegang lilin bisa saja terjatuh saat itu. merasakan hangat jemari Zelo mengikat lengannya kuat.
Jantung. Jantungnya.. selamatkan jantungnya..
Dan Daehyun yakin.. jika dia tidak akan bisa tidur malam ini..
:
:
:
Flashback
.
"bolehkah aku selingkuh?"
Daehyun tersedak kopi yang sedang dia minum mendengar perkataan pemuda didepannya. Pemuda berkulit putih itu mengambil beberapa lembar tissu, mengusap lembut dagu Daehyun.
"minum dengan hati-hati" ucapnya dengan nada khawatir.
Daehyun hanya terdiam. dia membiarkan jemari lentik pemuda itu membersihkan noda kopi yang mengenai kemeja putihnya. Dengan sigap. Jemarinya menggenggam lengan pemuda itu. membawa mata mereka pada tatapan dalam.
"apa maksud mu?"
Hembusan nafas terdengar dari pemuda didepannya. Dengan cukup kasar, menghentakkan tangannya. membuat genggaman Daehyun sedikit melonggar. Karena dia tidak ingin menyakiti pemuda ini. pemuda ini terlalu berharga untuknya. terlalu memujanya hingga dia dapat melakukan apa saja untuknya.
"aku hanya bercanda. Jangan difikirkan" ucapnya lirih sambil melipat tangannya didepan dada.
Sosoknya yang angkuh. Sosoknya yang anggun. Sosoknya yang meremehkan segalanya. Bahkan cinta sekalipun.
"kau sudah memilih ku bukan?" tanya Daehyun dengan tajam. Memegang cuping cangkir berisi kopi dalam genggamannya dengan erat.
Pandangan angkuhnya memudar. Daehyun sangat tahu, jika sosok didepannya adalah sosok yang sangat rapuh. Dia hanya mencoba tegar. Walau sebenarnya.. mata indahnya selalu memancarkan kerapuhan. Dia butuh perlindungan.
"terkadang, pilihan dapat berubah bukan?"
Daehyun mendengus. Dia mengerti kenapa pemuda didepannya ini menjadi seperti ini. sangat tahu.
"kau memilih ku. kau sudah memilih ku..
.
Kim Himchan.."
:
:
:
"sudah belum?"
Daehyun mengetuk pintu kamar mandinya. Menarik nafas sedalam mungkin sambil memegangi lilin. Gumaman 'belum' terdengar redam didalam sana. Daehyun mencoba mengontrol detak jantungnya. Saat ini Zelo sedang mengganti pakaiannya menjadi piyama. Dan bayangkan, Zelo yang merengek padanya agar menemani dia mengganti baju. Sungguh. Daehyun bisa gila jika lama-lama seperti ini dengan Zelo.
Lamunannya buyar saat pintu dihadapannya terbuka. menampilkan sosok Zelo memakai piyama berwarna putih dengan gambar boneka stitch kecil menghiasinya. Rambut birunya sedikit basah, mungkin sengaja dia basahkan. Zelo memegangi bag paper berisi baju yang tadi dia pakai, tangannya satu lagi memegangi lilin yang sudah hampit setengah.
Wajah putih yang nampak basah karena memang sepertinya Zelo mencuci wajahnya dahulu sebelum tidur mampu membuat sosok Daehyun mengalihkan pandangannya dengan cepat. dia berdehem kecil dan berjalan menuju tempat tidurnya. Dia bisa rasakan pergerakan Zelo yang mengikutinya.
Mereka terdiam sesaat. Daehyun menatap pada mata Zelo yang balas menatapnya. Dan dengan serempak keduanya akan memalingkan wajah dengan segera.
"sepertinya, kau lebih dahulu" gumam Daehyun sambil menunjuk ke arah tempat tidur besar yang biasa dia tempati seorang diri.
Ini pertama kalinya bagi Daehyun membagi tempat tidurnya dengan orang lain. Orang lain yang baru sekitar seminggu dia kenal. Orang lain yang ingin sekali Daehyun lindungi. Berharap pada keteguhan hatinya agar tidak memandang pada hawa negatife yang mengelilingi fikirannya.
Zelo mengangguk kecil, dia menaiki tempat tidur berukuran besar itu dengan sedikit canggung. Kemana semua rasa takutnya? Bahkan Zelo tak merasakannya sama sekali, walau keadaan disekelilingnya sangat nyata akan kegelapan.
Aroma khas Daehyun langsung menguar dalam indra penciumannya. Bantal yang ia pakai sebagai alas sangat kentara akan keberadaan Daehyun setiap harinya pada bantal itu. aroma shampo yang dipakai Daehyun melekat. Sedikit membuat jantung Zelo berdetak cepat.
Perlahan, Daehyun menaiki tempat tidurnya. Aura canggung menghiasi keduanya. Cahaya pendar lilin menjadi peneman dimana kediaman nampak mendominasi keduanya.
"lebih baik kau tidur, kau sekolah bukan?" mencoba membuka percakapan.
Sosok Zelo yang kini tengah memainkan selimut yang menutupi bagian bawah hingga dadanya menatap sosok Daehyun yang menyangga bantalnya menjadi sandaran.
"besok hari minggu, hyung.."
Menepuk dahinya dengan kuat. Merutuk sikapnya yang menjadi sangat bodoh jika sudah berhadapan dengan Zelo. Daehyun menggumamkan kata 'lupa' sambil membenarkan posisi tidurnya.
"kau masih kedinginan?" tanya Daehyun sambil menaikkan selimut hingga batas dadanya.
Zelo menggeleng pelan "sedikit sih" jawabnya terdengar ragu.
Dan tiba-tiba saja tangan Daehyun menggenggam tangan Zelo. Membuat pemuda manis itu tersentak sesaat dan menatap jemari Daehyun yang menggenggam tangannya.
"dingin.. akan aku ambilkan selimut lagi"
Saat sosok Daehyun beranjak dari pembaringan nyamannya. Saat sosok Daehyun menyampirkan selimut tebal di atas selimut yang juga tebal di atas tubuhnya. Zelo hanya menatap taat pada wajah Daehyun yang tak terlalu nyata akibat ruangan gelap. mengapa dia bisa sangat memperhatikan Zelo saat waktu pertemuan mereka dan masa perkenalan mereka bisa dihitung dengan jari?
"saatnya tidur. Ini sudah hampir jam sebelas malam" ucap Daehyun sambil melirik ke arah jam dinding yang menempel di sudut ruangan.
Namun gelengan kepala Zelo mambuat Daehyun menaikkan sebelah alisnya.
"aku belum mengantuk" ujarnya sambil menyembunyikan wajahnya di balik selimut.
Zelo bisa dengar hembusan nafas kasar dari Daehyun.
"tadi kau berkata jika kau mengantuk. Lalu sekarang tidak.. " gumaman Daehyun terhenti dan lebih memilih terdiam dengan fikiran menerawang. Mencoba membuat dirinya sendiri mengantuk, karena bagaimanapun detak jantung yang sedari tadi seperti berdetak tak normal membuatnya sulit untuk tertidur.
Zelo sedikit membuka selimut yang menutupi wajahnya hingga batas mata. Dia menatap Daehyun yang hanya terdiam.
"hyung.." panggil Zelo.
"hmmm"
"maukah melakukan sesuatu untuk ku?"
Daehyun langsung memfokuskan matanya pada surai biru yang timbul dibalik selimut.
"apa?"
"usap rambut ku" pintanya lirih sambil perlahan kembali menyembunyikan wajahnya dibalik selimut. Meredam semu merah yang menyebar di pipi putihnya.
"ne?"
Butuh beberapa detik bagi Daehyun mencerna permintaan Zelo. Meneguk air liurnya dengan kasar. Daehyun mencoba mengusir segala hal negatife yang datang kedalam fikirannya. Dan dengan perlahan, menelusupkan tangannya kebalik selimut yang sangat tebal dan menemukan surai lembut milik Zelo.
Daehyun menahan nafas saat jemarinya perlahan mengusap kelembutan pada surai biru kelam milik Zelo. Ada letupan-letupan kecil didalam dadanya saat kulitnya bersentuhan dengan kehalusan surai Zelo.
"seperti ini?" pasti Daehyun sambil memainkan jemarinya pada helaian rambut Zelo.
Daehyun bisa rasakan anggukan pada kepala Zelo. Dan menit-menit berikutnya, dia bisa dengar hembusan nafas teratur dari sosok Zelo. Daehyun tersenyum sesaat, jemarinya masih memainkan rambut Zelo.
Daehyun menatap pada wajah Zelo yang tertutupi selimut. Dengan sangat hati-hati, menurunkan selimut itu hingga wajah Zelo terlihat jelas dalam pendaran lilin diruangan itu. Daehyun hanya tak mau sosok malaikatnya ini kehabisan nafas karena tertidur dengan ruangan udara yang terbatas.
"apakah aku jatuh cinta pada mu?" bisik Daehyun..
Mengusap lembut dahi Zelo yang tertutupi beberapa anak rambut. Menyingkirkannya dan merasakan kelembutan kulit dari sosok yang polos itu.
.
"dan aku rasa.. aku sudah mulai sedikit melupakannya.."
.
Mendengus sesaat sambil mengusap wajahnya dengan tangan.
"sedikit.. hanya sedikit Himchan.."
Karena Daehyun tahu, sosok itu mengikatnya lebih kuat dari apapun.
:
:
:
"maukah kau berjanji sesuatu?"
Suara berat itu tiba-tiba saja memecah kesunyian yang tercipta. Himchan mengangguk sebagai jawaban. Matanya menatap pada matahari sore yang perlahan menampakkan keindahannya.
"hime.. lihat aku.."
Himchan tak mengerti kenapa tiba-tiba Yongguk menjadi seperti ini. dan diapun dengan kepatuhan menatap mata hitam kelam milik Yongguk.
"ada apa, hmm?"
Mereka kini tengah duduk di teras belakang rumah. Memandangi matahari yang semakin menurun dan mengeluarkan sinar senjanya dengan memukau di temani secangkir teh dalam genggaman tangan keduanya.
"berjanjilah untuk tidak kembali padanya jika kita.. katakanlah bertemu kembali dengannya"
Tatapan mata Himchan menajam. Dan dibalas tak kalah tajam dengan pemuda disampingnya. Himchan menarik nafas panjang. tak mengerti jalan fikiran kekasihnya saat ini.
"tentu saja tidak, mengapa bisa kau berkata seperti itu?" sergahnya sambil menyesap teh dan cangkir digenggamannya.
Yongguk mengalihkan pandangannya, menatap pada langit sore yang dengan tenang menunjukan keindahannya.
"karena aku tahu, ada sebagian hati mu yang masih tertinggal didalam hatinya"
Tenang suara Yongguk seakan menohok Himchan dengan cepat. sosok itu memang pernah memenangkan hatinya, pernah menjadi yang pertama dihatinya.. namun.. apalah arti dirinya saat ini berada disamping Yongguk jika dari awal dia memang berniat memilih sosok itu.
Namun Himchan hanya terdiam. terlalu sulit mengutarakan maksud dihatinya.
"bbang, ini sudah lima tahun berlalu.. korea luas bukan? Yakin pada ku. kita tidak akan bertemu dengannya" menggenggam erat jemari dingin milik Yongguk.
"aku mengenalnya, kim Himchan.. aku sangat mengenalnya"
Mungkin ini adalah ikatan kuat yang bernama persahabatan. Yongguk sangat mengenal sosok itu. sosok yang telah dia kecewakan.
"lalu?"
"berjanjilah pada ku"
Himchan mendongakkan kepalanya, menghirup udara dengan kuat. Disini, bukan hanya Yongguk yang merasakan ketakutan akan bertemu dengan sosoknya. Himchan pun sangat enggan untuk bertemu. Walau tidak bisa dia bohongi, ada sedikit dari bagian dihatinya yang merindukan sosok itu. namun rasa bersalah memukulnya kuat setiap kali pelupuk matanya tertutup dan membayangkan sosok itu. rasa bersalah, rasa sesak akibat pengkhianatan yang telah dia lakukan. Himchan telah banyak memainkan hati pemuda itu. dan Himchan takut..
Takut untuk menatap pada mata yang dulu pernah membuatnya jatuh cinta pada sosok itu..
"aku berjanji"
Dan Himchan segera beranjak dari tempatnya. Meninggalkan Yongguk yang hanya terdiam. memegang perkataan Himchan dengan teguh.
Dia hanya terlalu takut..
Sosok Himchan adalah sosok yang sangat berarti baginya. Sangat berarti hingga dia berani mengkhianati sahabatnya sendiri untuk mendapatkan Himchan..
:
:
:
Jam disudut kamarnya sudah menunjukan pukul tiga pagi. Namun matanya tak tertutup sedikitpun. Berarti dari tiga jam dia lalui dengan berdiam diri. Mengusap perlahan surai lembut milik Zelo. Daehyun sudah duga jika dia tidak akan bisa tertidur. Dia hanya ingin menjaga sosok Zelo. Menjaganya.
Saat jemarinya sedang menata pada helaian rambut Zelo. Sosok manis itu bergumam kecil, sinar lampu kamar Daehyun yang dua jam lalu sudah menyala membuat Daehyun bisa melihat dengan jelas pada wajah Zelo yang perlahan membuka matanya.
"hyung.." gumam parau dari kedua bibir Zelo membuat Daehyun tersenyum.
Zelo mengusap matanya, dia menegakkan tubuhnya dan menatap pada mata Daehyun yang masih terbuka lebar. sesaat, Daehyun merasa kosong melingkupi jemarinya yang sedari tadi mengelus rambut Zelo.
Zelo menumpukkan bantalnya, mensejajarkan tubuhnya dengan Daehyun.
"hyung.. kau belum tidur?" tanya Zelo sambil menguap dan mengacak rambutnya.
Daehyun hanya menjawabnya dengan gelengan kecil. Tertawa tertahan melihat kelakuan Zelo yang menurutnya menggemaskan.
Mata sayunya menatap pada jam yang menunjukan pukul tiga pagi. Dia membelalakkan matanya sambil menjerit pelan.
"ini sudah jam tiga, hyung.. dan kau belum tidur? Keterlaluan" ujar Zelo sambil memukul lengan Daehyun dengan boneka stitch yang ternyata sedaritadi berada disamping Zelo.
Daehyun mengaduh kecil. Dia mendengus sambil menahan boneka itu mengenai tubuhnya lagi.
"aku tidak bisa tidur" ujar Daehyun pelan sambil memijat pelipisnya.
Mereka diam beberapa saat. Daehyun mengira Zelo sudah tertidur kembali. Daehyun menoleh dan melihat jika Zelo kini tengah menatap kosong pada lurus tatapannya.
"lebih baik kau tidur lagi" saran Daehyun "sini, biar aku usap lagi kepala mu" jemari Daehyun sudah bergerak ke arah kepala Zelo, namun Zelo segera berkelit dan menggeleng.
"hyung harus tidur!" kerasnya.
Daehyun menarik nafas panjang "aku baik-baik saja. aku sudah biasa"
Namun Zelo tetap menggelengkan kepalanya. Dia menatap ragu pada wajah Daehyun. Dan Daehyun hanya membalas tatapan Zelo dengan kerutan tipis dikeningnya.
"hyung berbaringlah" perintah Zelo sambil menepuk tempat tidurnya.
"ya?"
Namun bahunya segera ditarik Zelo hingga membuat Daehyun menjadi posisi berbaring. Detak jantung yang tadi sempat teredam kini telah timbul kembali.
"samping.. kesampingkan tubuh mu menghadap ku hyung.." ujar Zelo dengan semangat.
Dan dengan jantung yang terus berdetak cepat, dia mengesampingkan tubuhnya. Menjadikan wajahnya kini berhadapan dengan paha milik Zelo yang tertutupi selimut. Daehyun mengontrol fikirannya. Mengontrol segala hal buruk yang masuk dengan cepat kedalam naluri lelakinya.
Jemari dingin nan lembut itu perlahan bergerak diantara helaian surai coklat milik Daehyun. Mengelusnya dengan pelan dan kadang, kelembutan kulit Zelo akan mengenai lehernya. Memberikan sengatan tipis yang mampu menggetarkan seluruh tubuh Daehyun.
Dan tak terasa, matanya mulai terpejam, menikmati setiap sentuhan yang jemari lembut itu berikan pada tubuhnya.
"ini yang biasa dilakukan nuna saat hyung ku tidak bisa tidur" ucap Zelo pelan sambil menyamankan tubuhnya pada penyangga tempat tidur dan tumpukan bantal.
Dan entah bagaimana caranya, hembusan nafas teratur kini keluar dari sela nafas yang Daehyun hembuskan..
Zelo hanya tersenyum, dengan jemari yang masih mengelus lembut rambut Daehyun.
Cara ampuh yang dapat membuat Daehyun tertidur..
:
:
:
Kenyamanannya bergelung pada selimut sedikit terganggu oleh sinar matahari yang masuk melalui jendela kamar yang memang senantiasa dia buka. Seakan melupakan jika mungkin jendela itulah penyebab sosok manis disampingnya menjadi kedinginan tadi malam.
Daehyun bisa saja melanjutkan mimpinya lagi jika tidak mendengar dentingan bel yang terus menerus ditekan oleh seseornag di luar sana. Daehyun mengerang pelan, menyampirkan selimutnya dan melihat pada sosok Zelo yang masih terlihat betah dengan kehangatan selimut tebal yang menutupi tubuhnya.
Dengan langkah tersaruk menuju pintu apartemennya. Membukanya dengan malas, dan..
"DAEHYUN PABOOO.. KAU TAHU SUDAH BERAPA LAMA AKU MENUNGGU MU MEMBUKAKAN PINTU INI HAH? KAU HAMPIR MEMBUAT KU MATI KARENA KRAM"
Teriakan yang didapatkannya. Sosok Youngjae yang berkacak pinggang dengan Jongup yang berdiri disamping Youngjae dengan memasang sebuah senyuman. Daehyun membalas senyuman Jongup dan tidak memedulikan ocehan Youngjae tentang penyakit yang dapat membuat orang mati karena terlalu lama berdiri. Daehyun. Tidak. peduli.
Youngjae dan Jongup memasuki apartemen Daehyun dengan Youngjae yang langsung melesat ke arah dapur dan membuat sarapan.
"memangnya ada keperluan apa kau datang pagi-pagi seperti ini datang kemari. Mengganggu saja. kita tidak ada kelas bukan?" Daehyun berjalan menuju kamar mandi.
Belum Youngjae menjawab, matanya sudah terbelalak melihat sosok pemuda manis bersurai biru kelam yang keluar dari kamar Daehyun dengan menggunakan piyama dan memeluk boneka stitch.
"Zelo" pasti Youngjae sambil mengedipkan matanya berulang kali. Memastikan jika dia tidak salah lihat pagi ini.
"nee" jawab Zelo sambil tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah Youngjae.
"k,kalian?" Youngjae menunjuk ke arah Daehyun dan Zelo bergantian. Memasang wajah curiga.
"apa? Tidak.. ini tidak seperti yang kau fikirkan." Jawab Daehyun cepat saat dia melihat sinar penasaran di mata Youngjae. sahabatnya itu adalah orang yang sangat penuh rasa penasaran.
"hyung.. kami tidak melakukan apapun" suara Zelo berucap sambil menunjuk Daehyun dan dirinya lalu menggoyangkan tangannya. menolak mendapat tatapan curiga dari Youngjae,
Youngjae tersenyum, dia menepuk bahu Daehyun. "kau hebat" bisiknya.
"tidak.. apa yang kau katakan? Aku tidak ada apa-apa. Zelo hanya menginap karena dia takut diapartemennya sendiri, semalam mati lampu dan dia takut gelap" jelas Daehyun dengan suara gugup.
Youngjae hanya tertawa, "baiklah, untuk sementara ini aku percaya. Sekarang.. ayo.. kita bersiap-siap" ucapnya dengan semangat.
"bersiap-siap? Kemana?" tanya Daehyun heran. Dia melupakan pertanyaan yang tadi dia layangkan pada Youngjae.
"kau lupa Jung, hari ini kita akan bersepeda"
"WAH,, BERSEPEDA?"
Kata-kata penolakan tertahan dibibir Daehyun saat melihat betapa antusiasnya Zelo mendengar ajakan Youngjae. dan dengan sebuah anggukan dia meng-iya-kan ajakan Youngjae.
.
demi Zelo..
:
:
:
Zelo sempat berkenalan dengan pemuda yang dibawa oleh Youngjae. namanya Jongup, dia dia adalah pemuda yang pendiam namun memiliki senyuman yang cukup menawan. Zelo menaiki sepeda sport berwarna merah pekat. Sedangkan Daehyun sendiri menaiki sepeda sport berwarna hitam. Youngjae berwarna kuning dan Jongup berwarna hijau.
Sepeda yang kini dinaikan Zelo bisa dikatakan milik Daehyun. Karena Zelo tak pernah ada niat untuk bersepeda selama berada di korea. Daehyun memiliki dua buah sepeda. Dan saat ditanya mengapa dia mempunyai dua buah. Hanya gumaman kecil tak jelas yang Daehyun layangkan. Dan Zelo tidak mau ambil pusing dengan itu.
Youngjae dan Jongup melajukan sepedanya dengan cepat, mereka sedang bertaruh untuk sampai pada perbatasan taman dimana mereka akan bersitirahat. Sedangkan Zelo dan Daehyun melajukan sepedanya dengan pelan. Sesekali mengumbar tawa juga senyuman. Menikmati sentuhan matahari pagi yang mengenai kulit mereka dengan kehangatan.
Zelo mulai terbiasa dengan Daehyun. Dia mulai menyukai berada terus menerus disisi Daehyun. Membuatnya nyaman. Mereka berhenti untuk beristirahat. Melihat pada Youngjae dan Jongup yang saling suap es krim. dan Zelo segera menarik-narik lengan Daehyun untuk membelikannya es krim juga. tanpa suap-suapan tentunya.
"hyung.. aku mau merasakan rasa vanila" ucap Zelo sambil menujuk pada es krim ditangan Daehyun. Ditangannya sendiri sudah ada es krim berwarna coklat. Zelo sangat menyukai coklat.
Daehyun mengulurkan tangannya, membiarkan pemuda manis itu memakan es krimnya. Dan Zelo mengulurkan tangannya, membiarkan Daehyun memakan es krim miliknya.
Berbagi itu indah bukan?
Dan tawa seakan menjadi penyeling diantara kehangatan yang terjadi di sinar mata mereka..
:
:
:
"Sehun.. aku mau es krim"
Sehun tersenyum tipis, mengusap lembut puncak kepala Luhan. Burgatti yang mereka naiki perlahan menepi. Luhan sangat menyukai es krim yang dijual dijalan. Mengenang masa kecil. dia terlihat sangat antusias saat Sehun memberikannya es krim strawberry.
Sehun sedang menunggu es krim pesanannya. Ketika matanya mengitari tempat dimana mereka berada. Dan mata dingin itupun terpaku pada sosok pemuda disana. Dua orang sosok pemuda.
Jemarinya mengepal kuat. Melihat derai tawa yang keluar dari sosok itu. dan yang membuatnya sesak adalah bahwa tawa itu bukan dikarenakan olehnya, tapi dikarenakan sosok pemuda berambut coklat yang sedang memakan es krim yang berada ditangan pemuda yang sedari tadi ditatapnya.
Luhan mengambil es krim yang Sehun pesan kala pemuda tampan itu diam tak bergeming. Matanya menelusuri pada pandangan Sehun yang membeku. Dia tak dapat membaca apa yang tersirat di mata Sehun.
"Sehun.." dia memanggil pelan sambil menarik jaket Sehun.
Mata dingin itu menghunus Luhan dengan kuat. Sehun tak pernah menatapnya dengan pandangan seperti itu. kekalutan nampak bersarang pada kelamnya iris Sehun. dan kali ini, Luhan bersumpah tak pernah melihat Sehun nampak segelisah dan sekesal ini.
Luhan bisa lihat jemari Sehun yang terkepal. Dan tanpa berkata apa-apa dia meninggalkan Luhan seorang diri dan memasuki mobilnya.
Luhan terdiam.. matanya mencari.. dan dia melihat..
Sosok pada fokus Sehun yang terpantul dimatanya. Sosok pemuda bertubuh tinggi dengan surai biru kelam. Sangat manis..
Jadi.. diakah yang membuat mu begitu gelisah?
:
:
:
TBC
:
;
Terimakasih.. haduh.. terimakasih banyak buat yang udah review maaf ga bisa bales satu persatu. Tapi saya sangat berterimakasih. Makasih karena udah nunggu FF ini. sumpah loh, aku jadi semangat kalo baca review-review kalian. Hahahah..
.
Semoga suka dengan chapter ini. jangan lupa review lagi ya #maksa.
.
RnR juseyooooo...
