Author : Han NN
Tittle : Can't Be Love
Cast : Jung Daehyun / Choi Junhong a.k.a Zelo / Oh Sehun / Xi Luhan / Yoo Youngjae
.
Chapter : 6
Genre : drama, romance school life, and find by yourself
A/N : Zelo punya Daehyun tapi Daehyun punya saya, Yongguk punya Himchan tapi Himchan punya saya.
Warning : BOYXBOY, shonen-ai, still have a Typo, Not EYD its yes, don't like with my pair? Dont read.
.
.
.
.
Thanks to BAP It's all lies, Sistar Give it to me, 2PM A.D.T.O.Y, JB Overboard and Nu'est Hello. This song is god damn it make my feel up.
.
.
.
HAPPY READING.
.
.
.
Ini hanya sebuah kisah cinta
Tentang kesalahpahaman
Juga tentang rasa sakit
Ayo dengarkan..
Jika kau kuat untuk melawan semua laju waktu yang telah terjadi.
Ayo tutup mata mu.
Dan hitung sampai hitungan keberapa kau sanggup untuk menahan rasa penasaran mu.
Ayo.. kita pilah..
Dimana letak rasa suka dan juga cinta yang tersimpan dalam cerita ini.
Beritahu aku..
Letak dimana cinta..
Juga suka..
Bedakan aku..
Pahami aku..
Karena aku tidak dapat menemukannya.
Juga membedakannya.
Dan aku tidak memahaminya.
Buat aku mengerti..
.
.
"aku punya seorang adik"
Hanya itu yang dikatakan Yongguk saat Daehyun betanya perihal keluarganya.
"seorang adik?" tanggap Daehyun sambil memakan es krim yang berada ditangan kanannya. Tangan kirinya memegang stang sepedanya dan menuntun sepeda itu berjalan beriringan dengannya.
Yongguk berjalan disampingnya, menuntun sepeda sport berwarna merah.
"ya, dia sangat manis" jawab Yongguk acuh.
"perkenalkan pada ku" ucap Daehyun dengan cepat.
Yongguk mendengus kasar "tidak akan"
Daehyun membulatkan matanya tidak suka "waee?"
Yongguk mengegernyitkan alisnya "karena dia terlalu berharga, dan aku tidak akan mengijinkan siapapun mengenalnya. Termasuk kau, ah.. terutama kau" jelas Yongguk sambil meminum minuman soda yang berada ditangan kirinya.
"hey.. kenapa kau seperti itu? kita sudah bersahabat kurang lebih.." Daehyun menghitung dengan jemarinya.
"2 tahun.. dan aku belum mengenal keluarga mu sama sekali"
Daehyun bukanlah orang yang serba ingin tahu. namun saat ini, dia hanya ingin mengetahui sedikit tentang sahabatnya itu. Yongguk terlalu acuh pada sekitarnya, Yongguk terlalu tak ambil pusing dengan segalanya. Dia hidup dengan sederhana tanpa tanda tanya dalam fikirannya. Dia hidup dengan sangat lurus.
"cukup seperti ini saja" ucap Yongguk setelah sekian menit terdiam.
Daehyun menolehkan kepalanya ke arah Yongguk. Dia suka berteman dengan Yongguk karena sikap dinginnya. Mengimbangi sedikit sifat cerewetnya. dia suka bercerita kepada Yongguk tentang segala hal. Orang yang disukai, pertemanan, permasalahan disekolah, game online, bahkan keluarga.. Yongguk pun sama halnya, mereka bergagi tentang segala hal. Tapi satu yang tak mau sedikitpun Yongguk bagi dengan Daehyun.. masalah keluarga.
"batas untuk dapat kau ketahui tentang keluarga ku cukup sampai kau tahu jika aku mempunyai adik saja" lebih memperjelas. "karena menurut ku, masalah keluarga tidak akan bisa diselesaikan dengan orang luar yang masuk kedalamnya. Cukup.. aku dan keluarga ku sendiri. maaf"
Daehyun mengenal Yongguk saat mereka kelas 3 di menengah pertama. Mereka sekelas. Dan Yongguk yang dingin namun mampu berfikir kritis disaat tertentu membuat Daehyun seakan mempunyai teman satu pemikiran yang sama. Daehyun akan bersikap sangat kristis terhadap sesuatu hal, dan Yongguk membuat pemikirannya terimbangi. Satu hal juga yang menjadi mereka dekat, mereka sama-sama suka menaiki sepeda.
"aku mengerti" ujar Daehyun sambil melayangkan tatapannya menjauh dari wajah Yongguk.
Yongguk hanya tak ingin Daehyun mengetahui tentang kekacauan yang terjadi dalam keluarganya.
Seragam menengah atas yang mereka pakai tersibak angin musim panas. Mereka hanya terdiam. Daehyun mengerti. Dia tidak perlu penjelasan.
Kadang..
Ada saatnya sebuah batas diantara persahabatan harus tercipta.
Dan saat ini, batas itu telah terbentuk.
Dan dia berjanji tidak akan melewati batas yang telah di buat.
:
:
:
:
"aku seperti pernah melihat sepeda ini"
Ucap Zelo sambi menepuk stang sepeda yang tengah dia tuntun. Daehyun bergumam.
"benarkah?"
Zelo mengangguk, dia mengadahkan kepalanya dan membuat angin mengibaskan anak-anak rambut biru kelamnya.
"ya, mm.. seperti.. didalam foto yang berada di ruang kerja hyung ku" ujar Zelo.
Daehyun menghembuskan nafas kecil "mungkin saja memang sama" ucapnya acuh.
Zelo tertawa kecil, memukul lengan Daehyun dengan pelan "jangan bercanda, kau tidak mungkin mengenal hyung ku"
Daehyun mengaduh, tidak sakit sih. malah terkesan lembut. Hey.. jantungnya yang normal kini mulai terasa tidak normal lagi. ayolah.. itu hanya sebuah sentuhan kecil.
"lagipula, itu bukan sepeda ku" ucap Daehyun pelan namun cukup terdengar oleh Zelo yang berjalan disampingnya.
Zelo membulatkan matanya, semakin membuat wajah manisnya terlihat menggemaskan.
"lalu punya siapa? Jadi kau membuat ku menaiki sepeda yanng bukan milik mu?" Zelo kini sudah benar-benar memukul lengan Daehyun dengan cukup kencang.
Daehyun sedikit menghindar. Tapi, dia menyukainya..
"dengarkan aku dulu" ucapnya sambil menahan tangan Zelo. Dan berhasil, namun kini dia tengah menggenggam pergelangan tangan Zelo dengan erat. tangan mereka yang satunya lagi menuntun stang masing masing sepeda mereka. Langkah mereka terhenti. Daehyun masih menggenggam pergelangan tangan Zelo, bahkan sedikit mengeratkannya. Mengisyaratkan pada Zelo untuk terdiam sesaat.
Daehyun hanya sedang mengagumi kelam iris dari mata Zelo. Mata yang indah..
.
DEG
.
Mata itu seperti.. dia mengenal mata itu..
Fokus pada pupilnya buyar. Dia mengalihkan matanya dari mata kelam milik Zelo. Entah bagaimana, rasa nyeri merambat perlahan menuju letak hatinya. Sesak. sedikit membuat Daehyun tak bisa bernafas.
Mata yang sama.. mata yang hampir sama.. atau memang sama?
"hyung, kau kenapa?" Zelo bertanya dengan heran. Pasalnya binar pada Daehyun dengan nyata berubah. Zelo merasakan pipinya memanas saat mata Daehyun terlihat seperti mengaguminya. Namun detik berikutnya, sinar kelam langsung masuk dan menghancurkan binar itu.
"tidak kenapa-kenapa" jawab Daehyun setelah diam cukup lama. Mereka tak menyadari atau memang sadar namun tidak ingin menyadari jika Daehyun masih menggenggam pergelengan tangan Zelo.
Daehyun menghembuskan nafas kasar.
.
Mata itu.. tidak.. dia bukan Yongguk..
.
Terus menerus memantapkan hatinya.
"ayo kita jalan lagi" ajak Daehyun. ini memang disengaja, saat tangan Daehyun turun dari pergelangan tangan Zelo dan malah mengikat jemari pemuda itu dengan erat.
Zelo menahan nafasnya, saat hangat jemari milik Daehyun menuntun langkahnya. Dia butuh waktu untuk menjalankan kembali otaknya yang terasa beku. Mimpikah? Saat jemari hangat itu semakin mengeratkan jemarinya dan melangkah bersama. Senyuman terbentuk di wajah manisnya, dengan rona merah yang kentara jelas terbentuk.
"sepeda itu milik sahabat ku" Daehyun membuka percakapan. Dia memang tak habis fikir, bagaimana bisa dia dengan berani menggenggam tangan Zelo? Namun, melihat tak ada protes atau perlawan dari Zelo.. dia menikmatinya..
"kita memiliki kegemaran yang sama. Naik sepeda. Bersama Youngjae dan satu sahabat ku lagi" lanjutnya sambil mengelus lembut jemari milik Zelo.
Zelo mencoba berkonsentrasi dengan cerita Daehyun, namun jemari Daehyun yang mengelus jemarinya membuat semuanya buyar. Dia menunduk, wajahnya sudah sangat memerah saat ini.
"lalu apa yang terjadi?" suaranya pelan. Menahan luapan dalam hatinya yang ingin menjerit.
"dia pergi...
.
.. dia mengkhianati ku"
Zelo langsung menatap dalam pada wajah Daehyun. bibirnya terkatup rapat-rapat. Kata 'mengkhianati' terasa sangat menyekat dalam hatinya.
"khianat?" ulangnya dengan nada bergetar.
Daehyun tertawa kecil, dia menolehkan kepalanya dan menatap pada mata polos Zelo yang memandangnya sedih. Dia tidak menyukai pandangan kasihan dari orang lain.
"Ya, dia menyukai kekasih ku. dan kekasih ku memilih dia dan meninggalkan ku" jelasnya dengan tenang, tak pernah sebelumnya Daehyun nampak setenang ini saat menceritakan tentang masalah yang satu ini.
"apakah kau akan memaafkann mereka?" pertanyaan polos itu terlontar dari belahan bibir Zelo.
Daehyun terdiam. dia mencerna perkataan Zelo. Apakah kau akan memaafkannya mereka? mungkin lebih tepatnya adalah, apakah kau bisa memaafkan mereka?
Sedikit tarikan disudut bibir Daehyun menjadi kemudahan dalam setiap helaan nafas yang tercipta.
"aku sempat berfikir untuk tidak akan memaafkan mereka" ujarnya dengan sangat tenang. Melawan pada hatinya yang sudah bergemuruh. Mengingat kejadian itu membuat rasa nyeri semakin menekan kuat dadanya.
"aku tidak akan memaafkan mereka atas apa yang telah mereka lakukan pada ku. mereka tak pantas dimaafkan" lanjutnya kini dengan nada amarah masuk didalamnya.
Zelo menatap gusar. Dia mengenal arti 'khianat'. Kilasan masa lalu saat kedua orang tuanya bertengkar dan saling berteriak kata 'khianat' berputar. Khianat telah membuat kedua orang tuanya berpisah. Khianat telah membuat kenyataan pahit harus dia terima saat umurnya belum mampu untuk menerima kenyataan yang cukup kasar. Mereka berkhianat..
Daehyun menatap pada wajah Zelo yang memucat. Dengan segera dia menghentikan langkahnya dan meletakkan tangannya di pipi Zelo.
"kau baik-baik saja?" dia bercerita, namun Zelo nampak berpengaruh dengan segala kata-kata yang keluar dari bibirnya.
"aku membenci korea karena adanya khianat. Orang tua ku berkhianat. Mereka membuat ku membenci korea karena pengkhianatan yang mereka lakukan. Mereka membuat ku dan hyung ku menderita. Mereka.. mereka..." fokus mata Zelo tak pasti. sesuatu dalam mata bening itu tengah menceritakan sesuatu. Trauma. Terlihat nyata dan jelas.
"aku membenci mereka.. aku membenci korea.." gumaman itu terus menerus keluar dari katup bibir Zelo. Bahkan kini, sudut mata Zelo telah mengalir air mata yang sangat tidak diinginkan dilihat oleh Daehyun.
Jalanan yang ramai, membuat Daehyun dengan segera memeluk Zelo untuk menutupi wajah pemuda manis itu yang kini tengah menangis. Membiarkan pemuda manis itu menangis didalam pelukannya. Tak peduli pada tatapan penuh heran dan penasaran. Satu-satunya yang ingin dia lakukan adalah meredakan tangisan Zelo..
Meredakan siratan mata penuh kesakitan dalam binarnya..
:
:
:
"kau menyukainya bukan?" bisik Youngjae sambil menumpukkan dagunya di atas meja besar yang terletak ditengah ruangan dimana mereka berada.
"hmm?" Daehyun sedang membaca sebuah buku. Mencari bahan tentang tugasnya.
"Zelo"
Cukup kuat. Pengaruh nama itu sangat kuat bagi Daehyun, wajah yang nampak serius itu langsung menatap Youngjae dengan tajam.
"jangan sembarangan berbicara" gumamnya sambil kembali menenggelamkan fikirannya ke dalam bacaan didepannya.
Youngjae menghembuskan nafas panjang. Daehyun memang selalu seperti ini, dia harus disadarkan dulu baru mengaku. Dulu, kejadian seperti ini pernah terjadi. dan Youngjae sempat menjadi sosok yang menyadarkan itu.
"jangan mengelak Jung Daehyun" melempar penghapus yang berada didekatnya.
Bisa dia dengar Daehyun mengaduh kecil sambil menunduk untuk mengambil penghapus yang mengenai kepalanya dan terpental ke arah kakinya.
"aku tidak" sergah Daehyun sambil meletakkan penghapus itu diatas meja. Sedikit menjauhkannya dari jangkauan tangan Youngjae.
Youngjae memutar bola matanya karena kesal, dia memundurkan punggungnya hingga kini bersandar. Dia tidak bisa berteriak dan memaki Daehyun karena mengelak perkataanya, well, mereka sedang berada diperpustakaan. Menemani Daehyun untuk mencari buku yang sesuai dengan tugasnya.
"Ayolah.. aku tidak baru-baru ini mengenal mu" ujarnya sambil memajukan kepalanya hingga kini dagunya bertumpu lagi di atas meja.
"Lalu aku harus bagaimana? Berkata jika 'ya Youngjae-ah, aku menyukai nya'"
Youngjae menepuk tangannya cukup keras, membuat beberapa mahasiswa yang berada di dekat mereka langsung melirik ke arah Youngjae dengan kesal.
"Tepat. Seperti itu" ucap Youngjae tanpa berniat sedikit pun untuk meminta maaf atas sedikit kerusuhan yang dia buat. Itulah Youngjae, yang tidak mau ambil pusing dan cuek.
Youngjae dan Yongguk mempunyai satu persamaan yang membuat Daehyun menyukai berada didekat kedua pemuda itu. Cuek.
Daehyun hanya menghembuskan nafas sambil mencoba mengumpulkan kembali konsentrasinya.
"tidak usah bertingkah seolah kau tidak peduli. Aku tahu, kau sangat ingin bertemu dengannya bukan?"
Menggeram sambil menutup dengan kesal pada buku dalam genggamannya.
"jangan sok tahu!" sergahnya cukup pelan.
Youngjae tertawa kecil, dia memiringkan kepalanya.
"benarkah? Berapa minggu kau tidak bertemu dengannya? Ng..." Youngjae mengetuk-ngetukan jemarinya di atas meja kayu itu .".. dua minggu bukan?"
Daehyun hanya mampu menahan rasa kesalnya. Agaknya, dia sedikit sensitive jika sudah membahas pemuda manis itu. dia meletakkan bukunya di atas meja dengan kasar, membuat bunyi cukup keras dan lagi-lagi pengunjung di perpustakaan itu akan menatap mereka dengan kesal. namun Daehyun tak ingin ambil pusing, dia sedang kesal. akhir-akhir ini dia tidak dapat mengontrol emosinya dengan baik.
Daehyun mendudukan tubuhnya didepan Youngjae dan pemuda itu hanya menatapnya dengan penuh kemenangan.
"aku cukup mengetahui diri mu, bagaimana sikap mu jika sedang menyukai orang.. dan.. kau sungguh-sungguh terlihat seperti itu." ujar Youngjae. "dan saran ku adalah, segera temui dia sebelum otak mu menjadi semakin tidak beres Jung"
Daehyun memainkan pena yang ada ditangannya, Youngjae benar.. akhir-akhir ini dia seperti orang tak ada semangat hidup, lebih sering terlihat marah-marah, dan sedikit saja ada yang menyinggung perasaanya dia akan langsung meluapkannya, emosinya tidak dapat dia kendalikan. Dan ini hanya karena disebabkan..
"—Zelo sudah selesai ujian sekolah tepat hari ini"
Pemuda itu sedang sibuk dengan ujian sekolahnya. Membuat waktu untuk bertemu dengannya semakin sempit karena pemuda itu sedang berusaha keras untuk lulus dalam ujian kali ini.
Bersepeda pagi adalah pertemuan terakhir dia dengan Zelo. Dan itu berarti sudah sekitar dua minggu yang lalu..
"Jung, jangan sampai perhatiannya terambil oleh orang lain"
Daehyun menyipitkan matanya mendengar perkataan Youngjae. meminta penjelasan lebih lanjut.
"ingat.. dia masih remaja. Akan ada dimana dia berfikir jika orang yang berada disekitarnyalah yang akan dia utamakan. Dan kau telah mengambil tempat itu. tapi dua minggu.. itu waktu yang cukup untuk seseorang mengganti tempat mu" jelas Youngjae dengan cukup serius
"aku hanya mengingatkan mu.." Youngjae jelas melihat sirat kekhawatiran di mata Daehyun.
Daehyun mengepalkan jemarinya..
Sehun..
Orang pertama yang langsung terlintas difikirannya..
:
:
:
"jadi siapa namanya?"
Sebelah alis Sehun terangkat. Menatap sang kakak yang kini tengah memakaikan dasi dilehernya.
"jangan berpura-pura tidak mengerti" ujar sang kakak kembali sambil sedikit menarik dasi Sehun.
Membuat kepala Sehun semakin merendah dan berjarak sangat minim dengan wajah Luhan.
"aku memang tidak mengerti, hyung" ucap Sehun sambil menahan keinginannya untuk semakin mendekatkan wajahnya.
Luhan mengangkat wajahnya, membuat mata mereka bertatapan.
"pemuda yang kau sukai"
Sehun membulatkan matanya, dia menggelengkan kepalanya pelan.
"aku tidak memilki orang yang ku sukai" jawab Sehun sambil mengalihkan tatapannya dari mata Luhan.
"jangan mencoba berbohong dengan kakak mu sendiri" Luhan menarik lebih kencang pada dasi Sehun. tepat. Wajah mereka sangat dekat saat ini.
"untuk apa aku jujur jika kau pun selalu berbohong dengan ku, hyung"
Ucapan Sehun cukup membuat cengkraman Luhan melonggar pada dasi Luhan. Namun tetap, Sehun tetap mempertahankan kedekatan pada wajah mereka.
"kau selalu berbohong kepada ku" melanjutkan suaranya.
"aku tidak pernah berbohong!" sergah Luhan.
"kau berbohong, hyung" Sehun mulai mencengkram pergelangan tangan Luhan.
"kau bertanya pada ku tentang orang yang ku sukai, padahal kau tahu jelas siapa orang itu.."
"cukup Sehun! jangan di teruskan!" bentak Luhan sambil menyentakkan tangannya dari cengkraman Sehun.
"sampai kapan kau mau berbohong seperti ini terus, hyung...
.
...berbohong pada hati mu tentang perasaan mu" bisik Sehun lirih.
"cukup!" Luhan mendorong dada Sehun cukup kencang. Berjalan menjauh dari Sehun yang menatapnya dalam.
Sehun mengacak rambutnya dengan frustasi.
"kau tahu dengan jelas hyung..
.
.
..jika aku menyukai mu"
:
:
:
Daehyun menyeruput americanonya dengan perlahan. kaca besar disampingnya mampu membuat dia mengamati keadaan diluar sana. Rasa hangat cangkir yang berisi cairan kecoklatan itu menyebar kedalam tubuhnya. Rasa lelah sedikitnya hilang. Kepenatannya sedikit terhapuskan.
Di atas mejanya, tergeletak ponsel berwarna hitam legam dengan menampilkan kontak nama seseorang. Mata itu melirik sesaat.
'haruskah aku menelponnya?'
.
Daehyun mendegus.
.
'tidak perlu'
.
Namun detik berikutnya.
.
'aku...
.
..merindukannya'
.
Jemarinya bermain pada cangkir dalam genggamannya, saat.. suara itu mengalihkan segalanya..
"hyung.."
Dia merindukan suara itu.
"hyung.. Daehyun hyung.."
Seseorang menggoyangkan bahunya.
Daehyun langsung mengalihkan tatapannya. Mata mereka bertemu. Hanya beberapa detik, namun mampu membuat tubuhnya seperti tersengat listrik. Dia hanya terdiam, mungkin masih mengimbangi.. apakah ini mimpi atau tidak?
"dimana Youngjae hyung? dia tidak bersama mu?"
Pemuda itu mendudukkan tubuhnya di depan Daehyun. senyuman terbentuk diwajah manisnya. dan Daehyun bersumpah, dia bisa saja mendorong meja didepannya yang sudah menghalanginya untuk dapat merengkuh tubuh itu.
"hyung.. kau mendengarkan ku kan?"
Ini bukan mimpi.
"T-tentu" Daehyun membenarkan posisi duduknya.
Lagi, senyuman itu terbentuk. Dan Daehyun tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Memang sepertinya hanya ini yang dia butuhkan. Senyuman. Youngjae benar. Harusnya dia memang bertemu dengan Zelo untuk menjernihkan otaknya yang seperti ingin pecah.
"dimana Youngjae hyung?"
"dia ada acara dengan Jongup.
Hening cukup lama.
"kau sendiri di sini?" tanya Daehyun sambil mengambil ponselnya dan segera memasukkannya kedalam saku celananya. Tak ingin pemuda didepannya mengetahui tentang keinginannya tadi untuk menghubunginya.
Zelo yang saat itu tengah bermain dengan kaca disampingnya serentak langsung menatap Daehyun.. lembut. Mata indah itu.. dia sangat merindukannya.
"tidak"
Jawaban Zelo membuat Daehyun mengerutkan keningnya.
"aku bersama Sehun.."
Tahukah kau rasanya saat kau berada diatas sebuah kebahagian namun tiba-tiba sebuah berita menyesakkan datang dan dengan seketika menghancurkan rasa bahagia mu?
Saat inilah Daehyun merasakannya.
"S-Sehun?" ulangnya memastikan.
Anggukan dikepala Zelo cukup membuat Daehyun mencengkram kuat cangkir dalam genggamannya. Dan tak lama kemudian, pemuda yang dibicarakan datang dengan dua buah cangkir dimasing-masing tangannya. duduk tepat disamping Zelo dan memberikan cangkir itu pada Zelo. Dan, melihat binar pada mata Zelo membuat sesuatu dalam hatinya terasa berbunyi dengan sangat keras.
"hyung.." Sehun tersenyum sambil menundukkan kepalanya sedikit.
Daehyun membalas senyuman Sehun dengan cukup baik. walau ada rasa kesal dibaliknya.
Ini tidak begitu membahagiakan. Saat Zelo terkadang akan mendekatkan kepalanya dan berbisik ke arah Sehun lalu mereka berdua akan tertawa. Mengacuhkannya..
Mungkin Youngjae memang benar.
Zelo akan perlahan mengganti sosoknya dengan sosok yang terbiasa dengannya.
Dan Daehyun bertekad untuk membuat Zelo terbiasa kembali dengannya..
:
:
:
"bagaimana ujian mu?" tanya Daehyun pada pemuda yang kini tengah berjalan disampingnya. berterimakasih pada Sehun yang memilih pulang dengan kendaraan pribadinya dan membuat dia bisa berjalan bersamam seperti ini lagi dengan Zelo.
Zelo. Pemuda itu tersenyum sekilas.
"baik. Sangat baik. Sehun sangat membantu ku"
Sedikit menggeram saat nama itu lagi-lagi disuarakan
"kau menyukai nya?" entah mengapa dia tiba-tiba berkata seperti itu.
Zelo membulatkan matanya, langkahnya terhenti sesaat. dia terlihat salah tingkah. Dan Daehyun membenci rona merah yang menyebar dipipi putih pemuda itu. karena rona itu bukan dikarenakan dirinya.
"s-siapa?" gugupnya
"sehun tentu saja"
"tidak tahu" gumam Zelo.
Tidak tahu? berarti bisa saja iya.
Daehyun mengulurkan tangannya ke arah Zelo, membuat pemuda itu menatap Daehyun dengan bingung.
"ayo, kita jalan lagi" ajaknya sambil tersenyum.
Bukan saatnya untuk menekan Zelo. Namun ini adalah saatnya untuk Daehyun mengambil perhatian Zelo yang teralihkan darinya.
Mata itu agak bimbang. Dia memang sudah pernah berpegangan tangan dengan Daehyun. dan jujur, Zelo menyukai itu. namun akhir-akhir ini, bayang-bayang Sehun sedikit menggantikan bayangan Daehyun dalam pandangannya. Zelo menggeleng-gelengkan kepalanya, bagaimana bisa dia berfikir seperti itu?
Perlahan, Zelo mengulurkan tangannya hingga jari-jarinya menelusup sempurna diantara jemari Daehyun. tak bisa dipungkiri, jantungnya yang sekitar dua minggu ini terlihat aman-aman saja bisa menjadi tidak terkontrol saat ini. rona merah semakin kentara dipipinya.
Dan dengan tiba-tiba Daehyun mencubit pipinya.
"manis" gumam Daehyun sambil tersenyum.
Wajahnya sudah memerah sekarang. dia segera menglihkan pandangannya, Sehun juga sering mengatakan jika dia manis dan mencubit pipinya namun mengapa rasanya berbeda? Sangat berbeda. Saat Daehyun mengucapkannya, ini terlihat gila. Ini membuat jantung dan tubuhnya bereaksi diluar kendalinya.
"hyung.." panggil Zelo dengan suara yang terkesan malu-malu.
"ya?" Daehyun menggoyang-goyangkan tangan keduanya yang berpegangan ke arah depan dan belakang dengan pelan.
"aku pernah berkata jika aku membenci korea, bukan?"
Daehyun bergumam sambil menganggukkan kepalanya.
"aku rasa.. aku sudah tidak membenci korea lagi.. maksud ku, tidak sebenci dulu" ucapnya terdengar gugup.
"benarkah? Itu bagus.." Daehyun mengusap rambut Zelo.
"hyung.. bisakah kau berhenti menyentuh ku?" Zelo tak mau menatap mata Daehyun.
"kenapa begitu?" tanya Daehyun sambil mengernyitkan keningnya.
"rasanya tidak enak. Kau tahu? tubuh ku itu terasa seperti di aliri listrik saat kau menyentuh ku"
Daehyun tertawa, dia semakin mengeratkan jemari mereka.
"rasanya seperti ini?" Daehyun mencubit pipi Zelo.
"itu sakit, hyung.." rengek Zelo sambil mengusap pipinya.
"lalu, seperti ini?"
Kejadiannya cepat, saat dengan tiba-tiba Daehyun mengecup pipi Zelo. Sangat cepat, saat Daehyun merasakan lembut dari kulit Zelo yang dia sentuh dengan bibirnya. mereka berdua kini sama-sama terdiam. wajah Daehyun masih berdekatan dengan pipi Zelo yang dirinya masih mencerna tentang apa yang sedang terjadi.
"rasanya seperti itu?" bisik Daehyun.
Zelo memejamkan matanya "Ya".
Tubuhnya benar-benar seperti dialiri listrik. Bahkan hingga saat ini, aliran itu masih dengan nyata mengalir ditubuhnya. Listrik. Listrik. Getaran.
"kau mau merasakannya, hyung?" tanya Zelo sambil membuka matanya.
Daehyun memiringkan kepalanya "A-apa?"
Tidak secepat Daehyun, Zelo memalingkan wajahnya hingga berhadapan dengan Daehyun. Sempurna. Wajah Zelo yang berada sangat dekat dengannya membuat Daehyun bisa meneliti lebih dalam dan jauh pada kulit Zelo yang seputih salju. Manik kelam yang seolah berlawanan dengan kulit putihnya. Pupilnya dengana jelas mengikuti gerakan wajah Zelo saat perlahan pemuda manis itu mendekatkan lebih jauh pada wajahnya.
Mengecup dengan cepat pipi Daehyun dan langsung mengalihkan wajahnya. Tak ingin menatap Daehyun.
Daehyun tersenyum lebar, mungkin Zelo sudah terbiasa hidup di amerika hingga dia sepertinya terlihat biasa dengan perlakuan Daehyun yang dengan seenaknya mengecup pipinya tanpa ada ikatan apa-apa diantara mereka. dan Daehyun bertekad untuk membentuk hubungan tersebut.
Zelo benar. Tubuhnya bergetar bagai tersengat listrik.
Daehyun langsung menarik tangan Zelo untuk melanjutkan kembali langkah mereka yang terhenti. Mungkin, mereka tidak menyadari jika saat ini mereka sedang ditengah jalan dan orang lain bisa saja melihat acara 'kecupan pipi' yang mereka lakukan.
"jadi.. kau belum meneruskan alasan mu tadi" ujar Daehyun membuka percakapan.
"ahh.. iya. Tapi, aku jadi sedikit canggung untuk membicarakannya" jawab Zelo. Masih tidak mau menatap mata Daehyun.
"katakan saja..."
"jadi.. ya.. aku sudah tidak lagi membenci korea seperti dulu" jelasnya lagi.
"lalu? Alasannya?"
"mungkin..
..karena diri mu, hyung" jawab Zelo sambil memalingkan wajahnya ke arah samping yang berlawanan dari pandangan Daehyun.
Daehyun tersenyum "karena ku?" godanya
"ya" jawab Zelo dengan cepat.
"kenapa aku?"
Zelo perlahan melepaskan genggaman tangan keduanya, dia mencengkram kuat-kuat lengan ransel yang tersampir dipundaknya.
"karena aku rasa.."
Zelo menunduk dan mulai berjalan menjauh dari Daehyun. dan Daehyun hanya bisa melihatnya dengan pandangan heran.
.
.
"aku menyukai mu, hyung.."
Dan Zelo langsung berlari menuju ke dalam lobi apaertemen mereka dengan cepat.
Jantungnya berdetak dengan kuat dan tak bisa tertahankan.
Daehyun masih tak menyangka. Pemuda manis itu, pemuda itu dengan polosnya mengatakan jika dia menyukai mu?
.
"aku juga menyukai mu.." lirihnya pada bayangan Zelo yang semakin menjauh.
:
:
:
Hidup layaknya sebuah film.
Kau akan merasakan dimana akan ada adegan penuh kebahagiaan.
Namun berikutnya, kesedihan yang akan terjadi..
Kau akan tertawa, namun detik berikutnya kau akan menangis..
Kau akan terangkat, dan pada akhirnya kau akan terjatuh..
Kau akan mengenal.
Arti kejam dari hidup..
:
:
:
Daehyun sedikit merapatkan sweater yang dia pakai, namun langkahnya terganggu saat ponsel dalam saku celananya bergetar. dia menatap pada lobi di apaertemennya yang masih sepi, belum ada Zelo. Dia memang membuat rencana dengan Zelo untuk makan malam diluar bersama. Langsung, senyuman merekah dibibirnya saat memikirkan Zelo.
Tanpa melihat siapa yang kini tengah mencoba mengubunginya, dia langsung menekan virtual berwarna hijau disudut layar ponselnya.
"hallo" ucapnya nampak bersemangat.
Diam. Seseorang di ujung sana terdiam.
"hallo" ulangnya sambil mengecek layar ponselnya apakah hubungan udara itu masih terhubung atau tidak.
"Daehyunnie"
.
DEG.
.
Hanya satu orang yang memanggilnya seperti ini.
"jangan ditutup"
Cegah suara lembut itu saat dia memang berencana untuk mengakhiri sambungan udara yang saat ini terjadi.
"kau mau apa?" nada pada suaranya langsung mendingin.
"bagaimana kabar mu?"
"jangan berbasa-basi. Apa mau mu?" tekannya lagi. ini sakit. ini menyakitkan.
Cukup lama mereka terdiam. hanya membiarkan udara yang melekatkan keduanya.
"maafkan aku.. Daehyun-ah.. maafkan aku"
Daehyun menarik nafas panjang "setelah lima tahun kau meninggalkan ku. setelah lima tahun kau melakukan semua ini pada ku, kau baru meminta maaf sekarang?"
Daehyun bisa dengar isakan lirih di ujung sana "kau tahu, tidak mudah untuk menghubungi mu"
Daehyun yakin jika Youngjae-lah yang telah memberikan nomor ponselnya pada sosok ini. dia memang menutup segala kemungkinan agar pemuda diujung sana tidak dapat mengetahui keberadaanya.
"aku memang tidak pernah menginginkan mu untuk menghubungi ku"
"kau tidak mau aku meminta maaf pada mu?"
"tidak"
"kenapa seperti itu?"
"karena.. aku pasti tidak akan bisa memaafkan mu
"Daehyun-ah, tidak seperti ini"
"lalu harus bagaimana?!" tak bisa menghentikan teriakan pada nadanya.
"aku minta maaf.. dengan semua yang telah aku lakukan pada mu. hidup ku tak pernah tenang. Aku selalu memikirkan mu. aku merasa sangat bersalah"
"telat, kau telat Kim Himchan.. kau telat" ucapnya gusar sambil mengacak rambutnya kasar.
"aku tahu ini telat. Tapi aku sangat meminta maaf..
.
..aku mencintai nya, Daehyun.. aku mencintainya.."
Daehyun menggenggam sangat erat ponselnya, dia tak bisa memfokuskan segala dikirannya saat ini.
"kau juga tahu jika aku sangat mencintai mu.." ucapnya lirih sangat pelan. Namun cukup mampu membuat pemuda di ujung sana terkesiap.
Segala rasa bahagia dihatinya seolah sudah hilang entah kemana. Tergantikan oleh rasa sesak yang mengikatnya dengan kejam.
"aku bisa melakukan apapun untuk mu. aku bisa melakukan asal kau tetap bersama ku.. kau tahu jelas aku sangat mencintai mu.." mereka terdiam beberapa saat.
"aku mencintai mu..":
:
:
:
"aku mencintai mu.."
Zelo memundurkan langkahnya begitu suara berat Daehyun menggumamkan kata itu. menyebar dengan cepat segala rasa sakit yang tiba-tiba saja menyapa hatinya. dia harusnya sadar.. jika Daehyun tak pernah mengatakan jika dia menyukainya.. dia harusnya sadar jika mungkin saja segala perlakuan Daehyun padanya hanyalah sebatas antara adik dengan kakak saja.
Lalu apa arti kecupan ringan dipipinya tadi sore? Zelo tertawa merutuki kebodohannya. Dia tak pernah menyukai mu. kau saja yang berharap terlalu berlebihan dengannya.
Sebelum tubuh Daehyun berbalik dan melihat dirinya, Zelo sudah terlebih dahulu berlari dan segera memasuki lift. Dia mengontrol air mata yang ingin kelaur dari sudut matanya. Bahkan dia tidak sadar, saat langkahnya tersaruk menuju pintu apartemennya dan dengan segera terjatuh dibelakang pintu yang sudah tertutup sempurna itu.
Dia bukan siapa-siapa mu..
Ini adalah urusannya jika dia mencintai orang lain.
Tapi dirimu..
Diri mu sudah terlanjur masuk kedalam perangkap hatinya..
dia menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak.
"bodoh.. kau bodoh. Dia sama sekali tak menyukai mu. bagaimana bisa kau dengan percaya diri mengatakan jika kau menyukainya?" suaranya lirih. di memeluk kedua kakinya yang terlipat. Air matanya tidak bisa berhenti mengalir.
Rasanya sakit. sangat sakit. ponselnya bergetar dan menampilkan nama pemuda itu.
Zelo langsung membuang ponsel itu jauh-jauh. Dia kecewa. Sangat kecewa. Pada dirinya sendiri juga pada Daehyun.
Walau bel apartemennya berbunyi terus menerus menandakan jika ada seseorang yang kini mencoba untuk mengunjungi kediamanannya. Zelo tetap terdiam. dia tahu jelas siapa orang itu.
Dan dengan gerakan pelan, dia menggapai letak dimana ponselnya. Hanya satu orang yang langsung terfikirkan olehnya.
"hallo" suara lembut namun terkesan berat itu bersuara.
:
"Sehun.."
:
:
:
Youngjae lagi-lagi menatap heran pada Daehyun yang kini terlihat sibuk dengan ponselnya. Mendekatkan ponsel itu ke telinga lalu kemudian mendesah kesal seolah akan melempar ponsel itu saat juga. Daehyun tak bisa diam. Dia terus-menerus berjalan bolak-balik di dalam ruang tamu rumahnya ini. setelah sekitar tiga pulu menit lamanya daehyun memarahinya karena telah memberikan nomor ponselnya pada Himchan.
"aku hanya ingin kau dan dia dapat berhubungan baik"
"itu tidak akan terjadi. kau tahu jelas apa yang telah dia lakukan"
Dan mereka terdiam. menyimpan argument mereka masing-masing.
"kau kenapa sih?" tanyanya nampak jengah dengan sikap Daehyun. mengambil minuman soda yang dia letakkan di atas meja.
"Zelo tak mau mengangkatnya" jawab Daehyun dengan pelan. Terdengar seperti putus asa.
"memangnya apa yang terjadi antara dirimu dengannya?"
Daehyun menceritakan semuanya. Saat dia berencana makan malam diluar bersama namun tiba-tiba saja Zelo tidak bisa dihubungi, Zelo tak datang. Saat Daehyun datang ke apartemennya dan tidak bisa sama sekali bertemu dengannya. Daehyun tak mengerti kenapa tiba-tiba Zelo seperti menjauhinya. Saat mereka bertemu di lobi seperti biasa pada pagi hari. Zelo akan berjalan menjauh. Tak mau menyapa.
"dia mengatakan jika dia menyukai mu?" Youngjae nampak kaget saat Daehyun menceritakan perihal kejadian sore itu.
Daehyun mengangguk.
"lalu kau berkata apa?" tanya Youngjae nampak antusias.
Daehyun menggeleng bingung.
"KAU TIDAK MENGATAKAN APA-APA?" Youngjae berteriak sambil berdiri dari duduknya.
"aku harus berkata apa?" Daehyun terlihat bingung dengan reaksi Youngjae.
Youngjae langsung melempar bantal sofa yang berada didekatnya "bodoh, pantas saja dia menjauhi mu. dia mungkin menyangka jika kau tidak menyukainya. Dia mungkin berfikir jika perasaanya tidak terbalas"
Daehyun mengaduh. Ini benar-benar sakit. kepalanya dengan mulus menerima lemaparan bantal sofa tersebut. Nampaknya dia harus menjauhkan Youngjae dari barang-barang yang dapat dia lempar kepadanya.
"kau menyukainya kan?" tanya Youngjae dengan serius. Dia kini sudah mulai duduk kembali.
Ini adalah hari ke lima dia tidak bertemu dengan Zelo.
Daehyun terdiam. setelah panggilan dari Himchan malam itu. dia sedikit merasakan ragu pada hatinya. tidak bisa dipungkiri, masih ada sosok Himchan yang masuk kedalam hatinya. dia masih menyisakan Himchan disudut hatinya.
"aku tidak tahu" Daehyun memijit pelipisnya..
Youngjae berkata dengan penuh keseriusan. "kau harus sadar Jung, Himchan sudah memilih Yongguk"
Bimbang. Dia tahu dengan jelas kenyataan itu. namun mengapa hatinya masih berharap pada Himchan?
"jangan sampai kau menyesal"
"menyesal karena apa?"
"menyesal jika Zelo menerima cinta yang lain."
"cepat katakan padanya jika kau juga menyukainya. Kau tidak perlu jujur pada ku. tapi kau harus jujur pada hati mu sendiri. cepat.. demi Tuhan Jung Daehyun kau tidak bisa seperti ini terus!"
Youngjae melihat keraguan pada iris kelam milik Daehyun.
"cepat.. sebelum kau terlambat.."
:
:
:
"terimakasih karena akhir-akhir ini kau mau menemani ku" ujar Zelo sambil tersenyum ke arah Sehun yang kini sedang duduk disampingnya. mereka tengah menikmati secangkir teh sambil duduk diatas balkon apertement Zelo. Merasakan semilir angin menghembuskan untaian rambut keduanya.
Sehun membalas senyuman Zelo seraya mengalihkan pandangannya dari wajah sang pemuda "sama-sama. Aku juga sedang membutuhkan peneman saat ini"
"kau sedang dalam masalah?" tanya Zelo sambil menyesap tehnya. Melayangkan pandangannya pada riak awan yang bergerak perlahan. sore hari di musim gugur memang sangat indah.
"sedikit" Sehun nampak mencoba menenangkan deru hatinya yang berkecamuk.
Katakan dia jahat karena seakan dia menjadikan Sehun pelindung dari Daehyun yang terus-menerus mencoba mendekatinya. Dia hanya tidak ingin bertemu dengan Daehyun untuk saat ini. Dia hanya perlu menyiapkan hatinya jika cintanya telah bertepuk sebelah tangan. Zelo menjadi semakin dekat dengan Sehun. semakin dekat dan berusaha melupakan Daehyun. melupakan perasaanya, walau dia tahu itu pasti sulit.
"pernahkah kau merasakan rasanya menyukai orang yang tidak mungkin bisa kau dapatkan?" tanya Sehun dengan tiba-tiba.
"a,aku? aku belum pernah" jawab Zelo sedikit gugup. Dia baru jatuh cinta satu kali. Dan itu pada Daehyun..
"kau sedang merasakannya?" tanya Zelo dengan hati-hati saat dilihatnya Sehun terdiam.
"mungkin"
Jawaban singkat dari Sehun membuat keduanya terdiam cukup lama. Zelo hanya tidak ingin terlaru larut dalam masalah orang lain. Masalahnya sendiri pun dia tidak bisa menanganinya. Sehun menarik nafas gusar, dia tidak mengerti kenapa tiba-tiba dia teringat Luhan saat ini. dia mengingat Luhan saat Zelo menatapnya. Dia merasakan diri Luhan saat berada disisi Zelo. Itulah sebabnya dia menanyakan hal itu. karena itu adalah pertanyaan yang sangat ingin Sehun tanyakan pada Luhan.
Karena dia tidak akan mungkin mendapatkan Luhan..
Namun perlahan.. bayangan Luhan terganti. Menjadi sosok manis Zelo yang menatapnya lembut. Semuanya pun kembali seperti semula. Bayang-bayang Luhan menjadi seperti kabut yang perlahan pudar.
Sehun menatap Zelo dalam. Dia tersenyum dan mengelus dengan lembut pipi Zelo. Membuat pemuda manis itu terkesiap sesaat.
"terimakasih.." ucap Sehun pelan.
Zelo mengerjap-ngerjapkan matanya bingung. Sengatan itu mulai terasa, tubuhnya bereaksi cukup jauh dari yang diharapkan. Sehun mempunyai sentuhan seperti Daehyun. sentuhan yang membuat tubuhnya seakan dialiri listrik. Tak kuasa, jantungnya berdegup cepat.
Secepat inikah kau merasakan jatuh cinta lagi?
"untuk apa?" tanya nya sambil menatap mata Sehun dalam.
Mata yang akan menghipnotisnya.
Sehun hanya terdiam. dia tidak menjawab pertanyaan Zelo dan malah mengalihkan tatapannya lurus kedepan.
'terimakasih kerena telah menghilangkan Luhan dari fikiran ku'
:
:
:
Daehyun berjalan dengan cukup cepat. meredakan degupan tak mengenakkan yang terus menerus memukul dadanya. Oh ayolah.. dia hanya akan mengatakan rasa sukanya. Memberikan standing applause pada Zelo yang dengan begitu mudah mengatakan kata-kata itu padanya. Daehyun mengontrol nafasnya. Meyakinkan dirinya sendiri, menguatkan hatinya.
Daehyun berjalan menuju apartement Zelo. Dia sedikit memperlambat langkahnya saat melihat sileut tubuh Zelo yang tengah membelakanginya. Daehyun memicingkan matanya demi melihat sosok yang berdiri didepan Zelo.
Itu Sehun..
Daehyun menghentikan langkahnya, Sehun tak melihatnya, atau memang dia melihat namun mencoba untuk tidak melihatnya. Lagipula, pandangan Sehun sepertinya terhalang dinding yang mencuat tepat disamping tiap-tiap pintu apartement.
Sehun mengambil jemari milik Zelo. Menggenggamnya kuat. Daehyun menggeram kesal. harusnya, hanya dia yang boleh menggenggam tangan itu.
"aku menyukai mu"
.
DEG
DEG
DEG
.
Daehyun mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Tak disadari, tangannya mengepal kuat.
Sehun nampak meremas lambut jemari Zelo.
"aku menyukai mu,..
.
.
"jadilah kekasih ku"
.
Semuanya nampak seperti kilasan sebuah film. Saat matanya sudah tidak fokus kembali. Dan dia benar-benar merasakan tubuhnya lemas saat Zelo menganggukan kepalanya samar.
Samar. Namun terlihat dan begitu menyakitkan.
Ini tidak seharusnya seperti ini. Daehyun langsung mencari pegangan untuk menumpu kakinya yang seolah lumpuh.
Dia terlambat..
Youngjae benar. Dia akan terlambat dan melihat pemuda yang disukainya terambil dari sisinya.
:
:
:TBC:
:
:
Apakah ini kepanjangan? Aku memang sengaja membuat chapter ini lebih panjang dari chapter sebelumnya. Dan aku sangat berterimakasih buat yang sudah mereview FF ku ini. sangat berterimakasih. Dan aku akan mencoba sedikit membalas review kalian di review sebelumnya.
.
Ayo review lagi.. ayo kita saling menghargai.
.
.
9396JC
ciee.. iya, jungdae sekarang udah mulai berani yah. jadi terharu.
sad ending? *mikirkeras* mudah-mudahan mood aku bagus terus yah. hahah. aku nulis tergantung moodsih terkadang. jadi, dohh.. mudah-mudahan ga sad ending deh. aku juga ga mau..
makasih udah sukaaa dan review..
.
.
cacing kawat
unnamenya lucuuuuu.. #abaikan. bukan kok. sebelum sama yongguk Himchan itu sama aku dulu. #PLISDIABAINAJA.
nee.. makasih udah baca dan review.
.
.
AiiAy-Chan
hadohh, deg-degan ya? cie degdgan. aku aja yang bikin ikut degdegan #loh.
hunhannya bersatu kok. nanti aku iket supaya jadi satu #jayus.
jangan gitu ahh.. Himchan ama aku. jangan ama yongguk #disabit
neee.. makasih udah baca dan review.
.
.
Chounjiro21
Cie yang ngertiii. aku ikut senang dengernya.
bukan, mantannya daehyun itu bukan Himchan, tapi aku. #abaikanjuseyo
iya nih. sehun ama luhan saudaraan.. bukan. sehun engga naksir zelo. dia naksir aku #abaikanlagijuseyo.
hahahah.. aku juga ikut ikutan teriak baca review kamu #apadah
neee.. makasih udah baca dan review~
.
.
Kepentok Bokong Tao
Ya rab.. *hening* aku terharu baca un-namenya. #apanya
ihhh... kamu suka? makasih banget loh~ jadi pengen nangis #abaikanaja
neee.. makasih udah mau baca dan review~
.
.
chyshinji0214
bukan, suami luhan itu aku #TIDAKGUECEWE
sehun emang adik sehun deh kayaknya *lagimikirkeras*
plis.. Himchan bukan mantan daehyun, mantan daehyun itu aku #abaianajaya
nasib jelo ada di tangan Tuhan kok. tenang aja. #iniapa
nee.. makasih udah mau baca dan review~
.
.
pinoya
iya ya, akhirnya keluar juga.
bukan kok. masa lalu dae itu bukan Himchan. tapi aku #iyaiyainibohong
huhuuu.. gimana ya? daelo harus dipisahin sih kayaknya #BOHONGKOKBOHONG
nee.. makasih udah mau baca dan review~
.
.
daelogic
apa lo kak? HAHAHA.. maap. maapkan akuuu. salahkan imajinasi liar ku yang terus menerus ngalir kalo udah dikasih poto daelo dikit.
ihh.. kamu emang maunya mereka ngapain dikamar? PASTI YADONG DEH.
emang kamu mau mereka ngapain selain elus-elus rambut? IHH KAKAK YADONG IHH. TOLONG AKU. AKU MASIH POLOS.
aku juga ga tau kenapa si luhan udah punya suami. udah ga tahan kali. #apanya. kagaa ya,, sehun ama gue kak. sanaaa kamu sama daesum aja.
IYAAA HIMDAEEE.. siapa himdae?
neee.. makasih udah mau baca dan review~
.
.
chenma
apa lo kak? hahahah. luhan nikah sama gue kali kak. jongin siapa? tukang somay ddepan rumah? iya donggg. sehun ama luhan adik kakak. yo.. kandung kali, jaman adik kakak tiri? HAHAHAH. PISSS..
ihhh.. aneh-aneh amat. tunggu ajadeh. nanti juga jelas. #soksokan
nee.. makasih udah mau baca dan review.
.
.
baby hongstar
iya ya yongguk emang jahat. minta di culik emang #hubungannyapa
ngggg... gimana yaaa.. bisa aja sih. HAHAHA.
neee.. makasih udah mau baca dan review.
.
.
L
kamu suka myungsoo ya? suka sama un-namenya. hihihi.
Ya ampuunn, kamu ngitungin kapan apdet nya ini epep? aku terharuuu.. sini, sini aku peluk #janganmau.
iya luhan udah nikah. nikah ama aku. #sabitaja
hahahah.. i like incest.
neee.. makasih udah mau baca dan review
.
.
mitatitu
selamattt, tebakan kamu benar.. minta apa nih sebagai hadiahnya #kayakmampubeliinaja
neee.. makasih udah mau baca dan review.
.
.
Daeke Mato
haaaiii. ihh aku terharu loh sama coment kamu. apalagi yang kamu bilang dulunya kamu silent reader tapi sekarang udah engga lagi/ huhuuuuu.. let me hug youuuu *janganmau*
aku berusaha untuk perbanyakin daelo momentnya kok.
iya say, luhan udah nikah. nikah sama aku #sabitaja
JaeUp? huhuuu.. susahh banget ngefeel sama ini pasangan. hahah, kudu bersemedi dulu didalam goe ditemen daehyun. #agaklebayemang
ihhh.. kamu.. ih... iyaaa, dulu juga aku pernah jadi silent reader kok #pengakuandosa . siipp. keep coment ne? suka deh.
neee.. makasih udah mau baca dan review~
.
.
Minkyoo
nee ganbatte selaluu.
siipp.
nee... makasih udah mau baca dan review~
.
.
guest
cieee.. yang otaknya udah kotor pas adegan di kamar. aku juga loh #apanya.
tau tuh. si daesum mah emang kadang kadang. cuma elus-elus doang.. grepe-grepe kek orang mah. #iniapaa
nnee.. makasih udah mau baca dan review~
.
.
Riyoung kim
iyaa. ini dilanjut..
nee. makasih udah mau baca dan review~
.
.
unknown
iyaaa.. pasti dilanjut teruuss. huhuu,, seneng deh kalo feelnya nyampe.
junhong emang kiyeoptaaa~
nee.. makasih udah mau baca dan review~
.
.
alvianti
siiipp. aku berusaha untuk perbanyakin moment daelonya kokkkk. doakan aku ya. #maungapainemang
nee.. makasih udah mau baca dan review~
.
..
Huhuhu maaf baru bisa balas review kalian di part ini. oke.. RnR selalu oke? kita belajar saling menghargai..
