Author : Han NN

Tittle : Can't be Love

Cast : Jung Daehyun / Choi Junhong a.k.a Zelo / Oh Sehun / Xi Luhan / Yoo Youngjae / Moon Jongup

.

Genre : school life, drama, romance, sad dll..

.

A/N : Zelo punya Daehyun tapi Daehyun punya saya, Yongguk punya Himchan tapi Himchan punya saya.

.

Warning : BOYXBOY, shonen-ai, still have a Typo, Not EYD its yes, don't like with my pair? Dont read.

.

.

A/N : LOVE YOU ALL MY READER...

HAPPY READING..

.

.

.

.

Bunga mawar itu memang indah..

Seperti jatuh cinta yang juga indah..

Tapi, bunga mawar mempunyai duri yang dapat menyakiti siapa saja..

Begitupun jatuh cinta..

Bisa menyakiti siapa saja..

.

.

.

.

Yougjae baru saja turun dari mobilnya kala dia melihat pemuda itu berdiri tegak didepan pintu rumahnya. Ada sekelebat keinginan untuk berbalik dan pergi. menghindar adalah salah satu cara agar sakit dihatinya tidak bertambah perih. Namun nyatanya, dia hanya terdiam. Memandangi punggung pemuda itu yang nampak lelah. Dia tak ingin mengeluarkan kata-kata karena dia takut pemuda itu menyadari kehadirannya dan langsung bergerak berbicara padanya.

Nampaknya seperti ini lebih baik, memandangi pemuda itu sepertinya lebih baik daripada harus bertatap wajah. Namun itu tak berlangsung lama. Pemuda itu membalikkan tubuhnya.

Youngjae menutup kontak mata yang terjadi. Iris matanya menunduk dan menolak untuk memandangi iris kelam milik pemuda itu.

"Hyung.."

Satu pertahanan luluh. Mendengar suaranya bagai merobohkan satu lapisan pertahanan yang dia buat.

Youngjae melangkah mendekat. Genangan air hujan yang menyerbu seoul 2 jam yang lalu masih nyata terlihat pada pekarangan rumahnya. Ini juga yang membuatnya tertahan di rumah salah satu temannya, karena hujan yang tak berhenti turun walau tadi bintang begitu indah menghias langit.

"Kau sedang apa?" tanyanya. Tetap tak mau menatap mata itu.

"Menunggu mu tentu saja" suara itu nampak sedikit bergetar. mungkin.. karena angin dingin yang berhembus.

"Jangan menunggu ku. Itu tidak penting" Youngjae melangkah melewati Jongup.

Tapi dengan cepat, Jongup menarik menggenggam lengannya dan menariknya. Youngjae jujur saja ingin berontak. Tapi apa? Dia membiarkan jemari dingin itu meresap pada suhu tubuhnya yang panas.

"Dengarkan aku untuk kali ini saja" suaranya menegas. Youngjae bahkan bisa merasakan lembab baju Jongup yang menempel pada kulitnya. Itu membuatnya terkejut. Dia.. tak menyangka.

"Kau bodoh.. kau menunggu ku dan kehujanan seperti ini?" Youngjae membalikkan tubuhnya dan baru menyadari jika tetesan air hujan masih mengalir diantara untaian rambut Jongup.

Jemarinya meraba pada kaus Jongup yang sudah basah. 2 jam yang lalu, dia bahkan begitu malas pulang jika tidak ingat jika jam sudah menunjukkan pukul 1 pagi. Dia bahkan berniat tidak pulang dan meminta ijin untuk menginap dirumah Daehyun.

Dia memukul dada Jongup dan mendorongnya.

"Bodoh.. jangan lakukan itu lagi. kau bisa sakit!"

"Aku hanya ingin kau mendengarkan penjelasan ku" pelan ucapan Jongup. Hembusan angin kembali membuat tubuh keduanya bergetar karena menahan dingin.

"sudah kukatakan tidak ada lagi yang perlu kau jelaskan pada ku. ini semua sudah cukup jelas Moon Jongup!" Youngjae menggertakkan giginya. Entah menahan dingin atau karena lelah.

"aku hanya tida bisa menolak tawaran Kris. aku tak sedikitpun berniat memainkan mu hyung.. aku hanya... sedang tidak berada dalam kesadaran ku saat menerima tawaran dari Kris"

Penjelasan yang sama sekali tak ingin didengar oleh Youngjae. inilah dia..Youngjae adalah orang yang akan mudah sekali jatuh cinta dan akan mudah juga membenci orang, dan jika dia sudah menetapkan hatinya untuk membenci orang tersebut, dia tidak akan menghapus perasaan itu dengan mudahnya. Dia hanya tidak mau jatuh kedalam lubang yang sama.

"Sudah? Aku bisa masuk kedalam berarti" Youngjae sekali lagi mencoba melangkah mengabaikan tatapan memohon pada mata sipit jongop. Jongup masih memegang erat lengannya, tak mengijinkan langkah Youngjae membuat mereka menjauh.

"Apa lagi?!" dia sungguh sudah lelah. Tubuh juga hatinya.

"Apa kau sudah tidak menyukai ku lagi, hyung?"

Harusnya mudah bukan menjawab pertanyaan itu. Youngjae hanya perlu menganggukkan kepalanya dan dengan tegas mengatakan 'Ya'. lagi, hembusan angin seakan menertawakan pada tubuh keduanya yang dingin karena terlalu lama berdiri, terlagi pada Jongup yang seluruh pakaiannya lembab.

"Ya.. aku sudah tidak menyukai mu lagi" akhirnya kata itu terucap.

Dalam sekali hentakan dia melepaskan cekalan jemari Jongup yang menggenggam lengannya. Bahkan Jongup terlalu lemas untuk menghentikan langkah Youngjae yang semakin jauh dan masuk kedalam rumahnya.

Meninggalkan dirinya yang menunduk. Jongup tersenyum kecil, suara petir yang cukup jauh terdengar. Dan detik berikutnya, rintikan besar hujan menghujam tubuhnya tanpa ampun. Senyuman miris itu terhapus. Sesak menderanya, ingin sekali dia berlari menuju pintu rumah Youngjae dan mengetuknya. Mengatakan jika dia telah terbiasa dengan kehadiran Youngjae disisinya. Rasa kosong dan hampa itu dengan leluasa bermain dalam hatinya.

Jongup ingin memeluk tubuh Youngjae.

.

.

Mengatakan jika dia sangat... mencintai pemuda itu.

Tak jauh dari sana.. sosok Youngjae tengah meringkuk dibalik pintu dengan memeluk erat lututnya yang tertekuk.

:

:

:

Daehyun terkejut kala Zelo langsung berdiri dan mengambil jarak dari tempatnya berada. Kepala Zelo menggeleng-geleng kecil mungkin tidak membiarkan kejadian yang baru saja terjadi.

"aku sudah punya Sehun, hyung" kata-kata itu bagaikan jarum, menusuk hatinya.

Daehyun masih terduduk tak bergerak untuk merengkuh tubuh Zelo yang bergetar. dia sudah bertekad akan menghapus bayangan Sehun dari mata Sehun, tapi mengapa bayangan itu mengikat sosok manis itu cukup kuat?

"aku menyukai mu lebih dahulu sebelum Sehun" ucap Daehyun nampak tenang.

"tapi kau tak mengatakannya pada ku" bisikan itu terdengar nyata.

"kau menyukai ku namun tak pernah mengatakannya. Lagupula... bukankah kau sudah mencintai orang lain?"

Menatap dengan kalut pada iris kelam Zelo yang menatapnya dalam. Dan dengan cepat Zelo mengalihkan tatapannya dan tersenyum kecil, sedikit mengulang kejadian malam itu, merasakan sesak saat kata-kata manis itu keluar dari bibir yang baru saja mengecupnya.

"orang lain?"

Zelo mendengus pelan, rasanya seperti mengangkat luka kering yang berada diatas kulitnya, perih.

"aku mendengarnya.. yang membuat ku berfikir jika kau tidak menyukai ku seperti aku menyukai mu" suaranya bergetar, mengapa dia menjadi seperti ini?

"kau mencintai orang lain hyung.. aku mendengarnya.. malam itu, ditelepon. Kau mengatakan jika kau mencintainya"

Daehyun nampak berfikir, sebelum matanya melebar dan menyadari betul peristiwa apa yang sudah dilihat Zelo. Daehyun berdiri, mencoba mendekat pada tubuh sang pemuda yang lebih muda.

"dengar.. itu tidak seperti yang kau fikirkan" Daehyun mengulurkan tangannya, menggapai pada jemari Zelo yang dingin.

Sesaat dia bisa rasakan jemari Zelo yang membalas genggamannya, namun tak berapa lama kemudian, tangan lembut itu merapuh dan melepaskan genggaman tangan Daehyun.

"kita sudah mempunyai cinta masing-masing bukan? Aku... aku pergi" Zelo langsung berjalan dengan langkah gusar ke arah pintu apartemen Daehyun,hingga tubuh tinggi itu hilang dalam pandangan Daehyun.

Daehyun hanya mampu menjambak rambutnya kuat-kuat.

"BODOH!"

.

.

.

Flashback

.

"aku mencintai mu.."

Hening.. Daehyun bisa dengar isakan kecil. Himchan sangat cengeng, pemuda itu mudah menangis dan susah sekali didiamkan.

"dulu.. aku sangat mencintai mu" lanjutnya begitu pelan.

"tapi tidak dengan sekarang. biarkan aku hidup tenang Kim Himchan.. jangan ganggu atau hubungi aku lagi karena itu hanya akan membuat kita sama-sama merasakan sakit" Daehyun bahkan meremas kausnya kala mengucapkan kata-kata itu.

"kau telah memilih Yongguk. Dan jangan buat pilihan mu goyah karena rasa bersalah. Aku baik-baik saja.." Daehyun berbisik. Mungkin jika kini dia tidak menopang tubuhnya pada dinding disampingnya tubuhnya bisa saja terjatuh ke bawah keramik yang dingin. Lututnya pun terasa lemas.

"aku sudah mempunyai cinta yang baru"

Dan dengan ketekatan, dia mengakhiri dan menghembuskan nafas lega. Namun tetap saja dadanya masih terasa terhimpit sesuatu.

Melupakan itu sangat sulit, bukan?

.

End

:

:

:

Daehyun hanya menatap kosong, dia tidak tahu cara menjelaskan kejadian malam itu pada Zelo. Melalui kaca besar didepannya, bisa dia liat buliran air hujan yang mulai turun dan membuat pantulan wajahnya menjadi kabur. hembusan nafasnya pun menjadi uap yang membuat Daehyun bisa merasakan dingin udara yang dia hirup.

Baru sekitar satu jam yang lalu bintang menghiasi langit dan kini hujan lebat tengah mendera kota Seoul. Harusnya memang Daehyun mengejar Zelo berusaha keras untuk menjelaskan tentang kejadian malam itu secara jelas. Namun, kata-kata pemuda manis itu terngiang pada telinganya.

'aku sudah punya Sehun,hyung'

Daehyun membenturkan kepalanya berkali-kali pada kaca bening didepannya, merasakan getaran saat kepalanya berbenturan dengan kaca yang mulai seperti es karena dinginnya. Daehyun memejamkan matanya, menarik nafas panjang dan mengingat kejadian satu jam yang lalu. Betapa dia begitu ingin memiliki Zelo.

Tidak... ini bukan pelampiasan.

Daehyun membuka matanya dan melihat keadaan sekelilingnya yang gelap. gelap.. mati lampukah?

Gelap langsung mengingatkannya pada Zelo. Daehyun berdiri mengambil kunci apartemennya dan hampir berlari menuju pintu dan membukanya dengan gusar.

Walaupun memang mereka dalam kondisi yang tidak baik. walau mungkin Zelo masih tidak ingin menemuinya, Daehyun ingin menjadi orang pertama yang berada disamping pemuda manis itu. namun langkahnya memelan. Dia ragu... ragu.. saat memasuki lift dan jemarinya terulur untuk menggapai tombol lantai. Bukan pada angka 3 tapi dengan bodohnya dia memencet tombol dengan angka 1..

'diapun belum siap akan kemungkinan yang terjadi'

:

:

:

"Sehun-ah, lihat aku dapat kiriman dari Jongin?"

Luhan dengan wajah ceria mengangkat sebuah bungkus kado berwarna biru muda dengan ornamen bergambar rusa. Tersenyum senang seraya membiarkan Sehun menatap sebentar dan mengangguk kecil.

"coba saja buka hyung" Sehun kembali sibuk dengan tabletnya dan mengacuhkan antusias Luhan yang kini dengan hati-hati tengah membuka bungkus kado tersebut.

"ini bukan ulang tahun mu, lalu untuk apa Jongin memberi mu kado?" masih tetap fokus pada layar tabletnya dan menggerutu kecil kala jemari panjangnya salah menekan layar flat tablet tersebut.

"hari ini.. mmm" Luhan menumpukkan dagunya pada bungkus kado yang belum sempurna terbuka "tepat satu tahun pernikahan kami" Luhan tersenyum bahagia.

Jemari Sehun menekan dengan tidak wajar pada layar tabletnya. Hingga dia berteriak kecil saat melihat tulisan 'game over' pada permainan yang sedang dimainkannya.

"hm.."

Sehun mencoba bersikap biasa. Bagaimanapun , Sehun harus membatasi perasaannya. Rasa sayang yang begitu berlebihan pada Luhan... kakaknya.

"menurutmu aku harus memberikan Jongin apa?" Luhan mulai sibuk membuka bungkus kado tersebut tanpa melihat ekspresi wajah Sehun yang sudah tak wajar.

"sesuatu yang tak pernah kau berikan kepadanya" Sehun mencoba menekan keinginannya untuk melempar tabletnya saat itu juga.

"sesuatu yang tak pernah aku belikan? Hmm... apa ya, mau menemani ku membelinya?" Luhan menatapnya dengan pandangan memohon.

Tak ada yang bisa membuat Sehun menolak permintaan Luhan, Luhan memintanya menjadi pendampingnya kala dia menikah dengan Jongin pun, Sehun menurutinya. Walau saat itu Sehun yakin langkahnya seakan tak pasti dan ingin sekali membawa Luhan dari sana.

"baiklah hyung" Sehun mengelus lembut pipi Luhan. pipi dengan tekstur kulit yang begitu halus.

Luhan berteriak senang, memeluk leher Sehun, Luhan agak berjinjit karena memang tubuh Sehun lebih tinggi darinya, walau fakta gelar kakak dipegang oleh pemuda bertubuh mungil ini.

"aku sangat menyayangi Sehun" bisiknya begitu lembut.

"hanya Sehun yang ada saat aku membutuhkan, hanya Sehun yang selalu memeluk ku kala gelap tiba. Tidak... orang lain, tidak.. Jongin. Hanya Sehun"

Sehun mengelus punggung Luhan dengan ibu jarinya, tersenyum walau dia yakin senyumannya sangat tidak wajar.

"jika hanya aku, kenapa kau tidak meninggalkan Jongin dan berbalik pada ku,hyung?"

Sehun bisa mendengar tawa Luhan, tawa yang Sehun tau pasti dipaksakan.

"jangan bercanda.. kau kan sudah punya kekasih"

Sehun membenci kala Luhan mengingatkannya akan sosok kekasihnya. harusnya dia memang tidak bisa seperti ini. ikatan darah diantara dia dan Luhan sampai kapanpun tidak akan berubah. Mereka terikat, dengan aliran darah yang sama...

"jadi jika aku memutuskan kekasih ku, kau mau dengan ku?"

"jangan bercanda" Luhan memukul dadanya sambil melepaskan pelukannya pada leher Sehun. Luhan membasahi bibirnya yang kering, dia kembali memukul dada Sehun dengan kepalan tangannya.

"ini sungguh tidak lucu Sehun, kau selalu bercanda sedaritadi.. kau tidak boleh meninggalkannya"

"kenapa? Jika aku katakan aku lebih mencintai mu, bagaimana?"

Luhan memalingkan wajahnya, nampak memerah. Entah karena marah atau malu. Luhan langsung beranjak sambil mengambil kado yang belum sempurna dia buka bungkusnya. Luhan mendekap kado tersebut erat sambil menatap Sehun dengan sedikit kesal.

"jangan pernah mencintai kakak mu sendiri, Oh Sehun"

Luhan meninggalkannya...

:

:

:

Zelo tak mengerti kenapa dia menekan nomor Daehyun pada ponselnya. Dia langsung merutuk dirinya sendiri dan membatalkan panggilan walau nada sambung sudah sampai pada panggilannya. Dengan tangan gemetar, dia mencari nomor Sehun.

Oh shit, nomor kekasihnya sendiri pun dia tak ingat. Malah mengingat nomor orang lain..

Zelo menempelkan ponselnya pada telinga, menggigiti bibirnya sambil memegang senter dan bersembunyi dibalik selimut. dia sungguh membenci gelap.

Saat sambungan teleponnya sudah terhubung, dengan suara cepat dan ketakutan dia meminta Sehun untuk datang ke apartemennya. Merepotkan memang, jam sudah menunjukkan pukul satu pagi, dan lagi... diluar hujan.

"tapi Sehun.. apakah tidak apa-apa? Diluar s-sedang hujan lebat" Zelo memejamkan matanya kala bunyi kilat menyambar dan menimbulkan bunyi yang memekakkan.

"tentu saja. aku tidak mau kau ketakutan seperti ini. tunggu aku okay, pastikan pintu mu tidak terkunci agar aku bisa mudah masuk jika datang" suara Sehun begitu khawatir, Zelo bisa dengar sibuknya Sehun memakai bajunya dan deru nafas Sehun.

"b-baiklah.. cepat datang" bisik Zelo sambil mengakhiri panggilannya.

Zelo memeluk erat boneka stitchnya. Berdiam diri dengan sinar yang hanya bersumber dari senternya. Jarak rumah Sehun dan apartemen Zelo cukup jauh. Membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk sampai. Dia merasakan ponselnya bergetar.. dan tanpa melihat nama yang tertera pada layarnya, dia langsung mengangkatnya.

"Ya Sehun, kau ada sudah sampai?" bisik Zelo.

Hening.. keheningan dan tak ada jawaban.

"S-Sehun?"

Zelo baru saja hendak memeriksa nama yang tertera saat suara yang sangat dikenalinya terdengar dari ujung sana.

"Daehyun... ini Daehyun.. bukan Sehun"

Zelo mencengkram kuat ponselnya, sesaat dia begitu lupa dengan segala ketakutannya. Yang dia rasakan hanya degupan tak nyaman yang memukul dadanya. Bukan.. bukan degupan yang membuatnya ingin tersenyum sendiri, bukan.. tapi degupan yang membuatnya tercekat karena rasa sesak yang merayap. Dia salah..

"M-maaf"

Zelo bisa dengan hembusan nafas Daehyun yang berat.

"kau tadi menghubungi ku, aku mencoba menghubungi namun nada sibuk terdengar. A-aku.. aku hanya khawatir. Dan lagipula saat ini gelap, apakah kau baik-baik saja?"

Zelo tersenyum kecil "maaf, tadi aku tidak sengaja menekan nomor mu. dan.. aku baik-baik saja"

Hening cukup panjang menguasai mereka berdua. Walau setiap tarikan dan hembusan nafas begitu nyata mereka rasakan satu sama lain.

"he's coming.."

Dan hubungan itupun terputus kala Daehyun mengatakan hal tersebut. Detik berikutnya.. dia bisa dengar bunyi pintu apartemennya yang terbuka dan suara Sehun yang meneriaki namanya.

Daehyun bahkan memastikan Sehun benar-benar sampai ke apartemennya..

:

:

:

Daehyun terkejut kala nomor Zelo tengah menghubunginya saat itu. namun belum sempat dia menekan tombol virtual berwarna hijau, hubungan telepon itu sudah terputus. Panik. Daehyun mencoba menghubungi nomor Zelo.

Cuaca yang buruk membuat kualitas sinyal yang dia dapatkan juga sama buruknya. Daehyun bahkan hampir berkeliling lobi demi mendapat sinyal untuk menghubungi Zelo kembali.

'Bodoh.. kenapa aku tidak langsung saja ke apartemennya'

Daehyun memukul kepalanya sendiri, lalu berjalan tergesa menuju lift. Dia menekan tombol 3, dan saat pintu liftnya sudah hampir tertutup, lengan putih dengan jemari yang basah menghentikan gerakan pintunya. Masuk kedalam lift dan tak menyadari jika Daehyun menatapnya dengan tidak suka.

"S-Sehun?"

Sehun mengangkat wajahnya, dia yang sibuk melihat keadaannya yang basah karena terkena rintikan hujan.

"Daehyun hyung" Sehun sedikit membungkukkkan tubuhnya.

Daehyun ikut membungkukkan tubuhnya. tetap, mata kelamnya tak suka. Karena dia begitu tahu jika Sehun akan kemana.

"kau mau ke apartemen Zelo?" suaranya sedikit bergetar. hawa dingin yang Sehun bawa nampaknya menguasai dirinya juga. Daehyun hanya bisa mengepalkan jemarinya kuat kala anggukan pada kepala Sehun.

"dia menelpon ku dan meminta datang, dia takut gelap, bukan?"

Bodoh.. dia masih tak yakin jika Zelo takut pada kegelapan. Daehyun menarik nafas panjang, membenamkan kepalan tangannya pada jaket tebal yang dia pakai, hanya tak ingin memperburuk suasana yang ada.

Mereka terdiam, bahkan Daehyun mengabaikan lantai apartemennya berada. Sehun melirik sekilas, dia tidak cukup bodoh untuk lupa jika apartemen Daehyun terletak di lantai 2, namun tubuh Daehyun tak bergeming kala lift terus naik dan melewati lantai dimana apartemennya berada.

Sehun tersenyum simpul, dia menatap pantulan wajahnya dan Daehyun pada pintu lift.

"kau benar-benar menyukainya bukan?"

Daehyun membuka percakapan, walau dengan nada dingin dan tak bersahabat. Oh.. ayolah, Sehun tidak mempunyai wajah yang begitu menyeramkan bukan hingga Daehyun begitu mengambil jarak dengannya.

Sehun mengangkat bahunya "entahlah"

Dia bisa dengar dengusan Daehyun, gemeretuk giginya yang beradu membuat Sehun semakin melebarkan senyumannya.

"pastikan jika kau benar-benar menyukainya, Sehun-sii" sekarang nada bicara Daehyun sudah tajam.

"tidak ada yang bisa membaca perasaan seseorang, hyung" Sehun berkata tenang "aku bisa saja berkata jika kau menyukainya saat ini. sangat menyukainya, tapi..." Sehun nampak menerawang, membayangkan wajah Luhan dan membuat segalanya nampak buyar "aku bisa saja berubah fikiran keesokan harinya"

"kau tidak akan berbuat seperti itu jika kau memang benar-benar menyukainya" sekarang nada suara Daehyun sudah mulai tenang.

"kau hanya tidak bisa memilih.. siapa sebenarnya orang yang kau sukai. Kau hanya tidak bisa menentukan untuk menyerah atau mencari pengganti. Kau sedang bimbang, Sehun. "

Denting lift yang berbunyi membuat Sehun melangkahkan kakinya keluar, meninggalkan Daehyun yang terdiam sambil memandangi punggung Sehun yang semakin menjauh.

Mata Sehun nampak tak fokus, perkataan Daehyun entah bagaimana bisa dengan mudah meresap kedalam hatinya. bagaimana bisa Daehyun dengan mudah membaca situasinya kini.

Daehyun menggenggam erat ponselnya, dia membiarkan dirinya menenakn nomor Zelo. Setelah percakapan kecil yang mereka lakukan. Daehyun ingin membalikkan kata-kata yang dia ucapkan pada Sehun untuk dirinya sendiri.

'biarkan kau memilih untuk mengejar atau menyerah'

:

:

:

"Sehun-ah"

Zelo memanggilnya pelan, Sehun menyahut dengan gumaman, memainkan helaian halus rambut Zelo dengan tangannya. Zelo baru saja memberitahunya jika dia sangat menyukai seseorang memainkan rambutnya, dan itu juga hal itu bisa membuatnya tertidur tanpa sengaja.

"aku... ingin serius"

Sehun menyunggingkan sebuah senyuman hangat, merasakan jika Zelo kini tengah terlihat begitu kebingungan.

"apa yang terjadi dengan mu? sesuatu yang buruk?"

Zelo memukul lengannya dengan boneka stitch yang nampaknya selalu harus berada dimanapun Zelo tidur.

"dengarkan aku dulu" gumamnya smabil menyembunyikan wajahnya pada boneka besar berwarna biru itu.

Terdengar sebuah kekehan dari Sehun, jemarinya tak berhenti memainkan rambut Zelo. Tentu saja,sekelebat pemikiran berada dalam fikirannya, jangan.. Oh Sehun, jangan selalu membandingkan Zelo dengan Luhan..

"bisakah kita serius menjalani hubungan ini? m-maksud ku nampaknya kita sedikit bermain selama beberapa hari terkahir, tapi... bisakah kita benar-benar serius dan.. menjalaninya?"

Wajar jika gerakan jemari Sehun terhenti, beruntung keadaan disekitar mereka gelap jadi Zelo tak dapat melihat mimik wajahnya yang kelewat panik. Dia panik, bagaimana bisa dia hidup dengan mengabaikan Luhan?

"jika aku katakan aku memiliki orang lain yang ku suka selain diri mu, bagaimana?" perlahan Sehun mulai menggerakan jemarinya.

Zelo tersenyum tipis, usapan jemari Sehun dan Daehyun memang berbeda, tak ada debaran.. tidak.. hanya keheningan yang nyaman. Kenyamanan yang hanya bisa Zelo dapatkan jika berada disamping Sehun.

"maka aku akan berkata jika aku juga berada dalam hal yang sama dengan mu"

"jadi kau ingin masing masing dari kita melupakan orang itu?"

"kita bisa mencoba"

Tapi di hati masing-masing dari mereka menolak jika mereka akan bisa melakukan hal itu.

"kau mau menolong ku?" Sehun sedikit menundukkan kepalanya, menempelkan dahinya pada rambut Zelo dan menghidup aroma lembut.

"apa?" Zelo menggenggam erat sweater Sehun yang sedikit lembab.

"dia kakak ku..." Sehun berbisik lirih "dan aku begitu mencintainya.."

Zelo bahkan bisa merasakan rasa sakit dalam suara Sehun.

"bantu aku melupakannya"

Dia lain sisi, pemuda manis itu memejamkan matanya dan membuang jauh-jauh rasa khawatir. Dia tidak bisa... bayangan Daehyun melekat dengan erat.

Dia tidak bisa..

:

:

:

"aku ingin bertemu Junhong"

Yongguk mendengar permintaan lirih itu. kelopak matanya terangkat dan menemukan Himchan berdiri didepan meja kerjanya. Sweater merah dengan celana jeans pendek selutut membuat Himchan nampak mempesona dimata Yongguk.

"Junhong atau Daehyun?"

Bahkan dari tempatnya, dia bisa mendengar tarikan nafas Himchan yang lelah.

"Daehyun.."

Yongguk mencengkram kuat-kuat kertas dalam pangkuannya, bunyi remasan terlalu kuat pada kertas itu membuat Himchan membuang pandangan dan menatap pada bangunan-bangunan tinggi yang berada disekitarnya melalui jendela.

"kau sudah menghubunginya. Lalu mau apa lagi?"

Himchan menggigit bibirnya sambil dengan langkah ringan menuju sofa dan duduk disana.

"bertemu Daehyun dalam artian sebagai seorang sahabat" gumam Himchan, menumpukan kepalanya pada bantal sofa.

"Dia sahabat mu. Dia juga sahabat ku. Biarkan kita memperbaiki suasana ini. Apa kau bisa tenang?"

Yongguk menyandarkan punggungnya. Bayangan tentang masa-masa dimana dia dengan Daehyun masih bersahabat akrab membuat iris tajamnya melembut. Seburuk apapun kelakuan mereka saat itu. mereka tetap saling merangkul bahu masing-masing sambil tertawa walau wajah mereka penuh lebam.

"baiklah"

Himchan tersenyum lembut mendengar jawaban Yongguk. Persahabatan itu tetap terikat.

:

:

:

Jika aku dapat menulis kembali akhir dari cerita tentang kita..

Aku akan mencari jalan agar kita tidak berpisah seperti ini..

Agar kita bersama..

Kau dan aku..

.

.

.

Daehyun masih tetap setia duduk di sofa lobi dan menikmati secangkir kopi hangat dengan koran ditangannya. Kali ini dia punya maksud tertentu, bukan hanya menunggu waktu untuk pergi ke kampusnya.

Pertama, dia menunggu Youngjae. pemuda itu berkata jika dia akan menjemput Daehyun dan pergi bersama ke kampus.

'sembunyikan aku dari Jongup'

Itu permintaan Youngjae padanya pagi tadi pemuda itu menelponnya. Bukankah itu bodoh? Jongup pasti tahu jika dimana ada Daehyun disitulah ada Youngjae. tapi Daehyun tak bisa menolak permintaan Youngjae.

Kedua, tentu saja dia menunggu Zelo...

Daehyun melihatnya, pemuda manis bertubuh tinggi itu keluar dari lift, memakai seragam sekolah yang begitu menggemaskan. Mata mereka sesaat bertemu, Daehyun yakin Zelo menatap pada arahnya.

Tapi ada yang salah... Zelo tersenyum. senyuman yang seperti biasanya. Matanya yang sayu menatap pada manik cokelat milik Daehyun.

Ada pandangan cemas.. dan khawatir. Zelo terdiam. dia memperhatikan lantai marmer dibawahnya sebelum Daehyun dapat melihat tarikan nafas panjang yang begitu kentara pemuda manis itu hirup dari gerakan pundaknya yang naik turun.

Dan Daehyun hanya tersenyum tipis, kala Zelo berlalu tanpa ucapan selamat pagi menyapanya.

Apakah kini pertanda jika hubungan mereka benar-benar akan terputus?

:

:

:

Luhan menyiapkan sarapan pagi untuk Sehun seperti biasa. meletakkan piring piring berukiran cantik pada masing masing tempat biasa mereka berdua duduki. Luhan mengumandangkan sebuah lagu dengan suara kecil saat Sehun duduk dan menyerahkan sepucuk surat di meja makan.

Surat berwarna merah muda, dengan nama Jongin tertera diatasnya. Luhan tak tahu mengapa Sehun selalu menunggu surat Jongin. Sehun mempunyai keinginan dan jawabannya sendiri. jemari mungilnya menyentuh permukaan halus surat tersebut. Bertumpuk tumpuk surat yang didatangkan dari Jongin tak satupun yang Luhan kuasa untuk buka dan membacanya.

"bacalah hyung"

Luhan menggeleng kecil, menggeser surat tersebut menjauh.

"kau selalu menunggunya, lalu kenapa jika hanya surat yang Jongin kirim kau sama sekali tidak mau membukanya?" suara serak Sehun membuat Luhan mendudukkan tubuhnya pada kursi makan.

Luhan tersenyum samar. "rindu itu menyakitkan, Sehun"

"membaca suratnya terasa lebih sulit dibanding membuka pemberian berupa barang dari dia" Luhan berbicara dengan bisikan lembut.

Sehun terdiam, dia mengacuhkan Luhan. berapa kalipun Sehun mengatakan cinta pada Luhan. sungguh, itu tidak berefek apapun pada sang kakak. Dia tetap... menunggu suaminya.

"kalau kau memang merindukannya hubungi saja dia" suara Sehun terdengar malas.

"bukan... bukan suara yang aku butuhkan" Luhan bergumam.

"aku butuh dirinya.. bukan suara, surat, atau kado darinya"

Sehun mencengkram sumpitnya terlampau kuat. Terlihat benar binar cinta pada manik indah milik Luhan.

Bukan untuknya...

Tapi untuk Jongin...

Sehun tersenyum tipis, sebelum menyuapkan sepotong roti kedalam mulutmya.

Mungkin, dia harus menyerah..

:

:

:

Aku ingin menggenggam erat tangan mu saat sayap mu terlihat begitu letih..

Aku akan menempuh jarak sejauh apapun untuk melihat senyum mu.

Aku akan menekan rasa sakit.. demi melihat mu bahagia.

.

.

.

"ada apa dengan wajah mu?" Youngjae memperhatikan wajah Daehyun dari arah samping.

"kenapa dengan wajah ku? masih tampan" Daehyun melihat pantulan wajahnya pada kaca bening yang mereka lewati.

Youngjae memutar bola matanya. Ingin rasanya melepas sepatunya dan melemparnya pada kepala sahabatnya itu.

"kau kurang tidur?"

"mungkin" Daehyun meraba kantung matanya. Dia sempat bercermin dan melihat lingkaran hitam pada matanya.

"mata mu bengkak" kini giliran Daehyun yang menunjuk pada mata Youngjae.

"iya, aku habis menangis" jawab Youngjae santai sambil tersenyum pada salah satu temannya yang menyapa.

"karena jongup?"

Youngjae mengangguk.

"karena Zelo?"

Dan kini giliran Daehyun yang mengangguk.

"ternyata sakit hati itu... sakit juga ya" Youngjae bergumam. Menundukkan kepalanya sambil membenarkan letak ranselnya.

"siapa yang bilang sakit hati itu menyenangkan" Daehyun menyahut.

"bagaimana caranya jatuh cinta tanpa merasakan sakit hati?"

Youngjae menunggu Daehyun untuk menjawab. Tapi pemuda itu hanya memandang kosong pada depannya dan melihat kilatan sedih dalam irisnya. Youngjae menggigit bibirnya. nampaknya Daehyun juga sedang mengalami hal yang sama dengannya... sakit hati.

"bagaimana caranya untuk tidak jatuh cinta?"

Daehyun bergumam. Youngjae pun tak tahu jawaban yang pasti untuk menjawab pertanyaan Daehyun.

"setiap manusia itu diciptakan untuk merasakan jatuh cinta bukan?"

"dan sakit hati?"

Youngjae tersenyum "terutama sakit hati"

Daehyun melirik Youngjae tajam. Sedangkan pemuda manis itu tersenyum dengan riang sambil mengayunkan lengannya kedepan dan kebelakang.

"karena sakit hati akan membuat kita belajar.. untuk tidak terjatuh ke dalam lubang yang sama untuk kedua kali"

Daehyun memandang pada awan yang berjalan pelan.. dia telah membuat kesalahan dengan berbuat bodoh merelakan Himchan dengan Yongguk. Jangan terjatuh dua kali.

"rebut dia Daehyun... rebut Zelo"

Youngjae berbisik pelan.

:

:

:

TBC

.

.

.

Maaf banget aku lama ngepost chapter 8 ini. sumpah kena WB akut... ngestuck dan juga tugas menumpuk. Ada niat tapi tubuh ga mendukung. Jadi maaaaaaap banget yaaaa.

Dan makasih banyak atas reviewnya. Maaf (lagi) ga bisa bales satu satu. Yang pasti sih sayang banget sama reader. Sini aku cium~

Dan rrr maaf (lagi) jika chapter ini ga memuaskan.

Tapi tenang saja... aku pastiin ini endingnyaa daelo pure kok..

Sip/ love sign/

.

RnR juseyooooo...