Author : Han NN
Tittle : Can't be Love
Cast : Jung Daehyun / Choi Junhong a.k.a Zelo / Oh Sehun / Xi Luhan / Yoo Youngjae / Moon Jongup
.
Genre : school life, drama, romance, sad dll..
.
A/N : Zelo punya Daehyun tapi Daehyun punya saya, Yongguk punya Himchan tapi Himchan punya saya.
.
Warning : BOYXBOY, shonen-ai, still have a Typo, Not EYD its yes, don't like with my pair? Dont read.
.
.
I LOVE YOU ALL MY READER.. SO MUCH :*
.
.
.
HAPPY READING.
.
.
.
Jangan tanyakan aku tentang apa arti itu cinta
Karena aku juga tidak tahu
Kita tidak tahu
Lalu, bagaimana kita bisa memulai sebuah kisah cinta?
Lalu, bagaimana kita akan memutuskan hubungan dalam cinta?
.
.
.
Youngjae mengetuk ngetukkan pena nya pada meja kayu. Menimbulkan suara yang cukup berirama, namun..
"ssst.. kita sedang di perpustakaan, bodoh" Daehyun berbisik sambil memukul kepala Youngjae dengan buku yang cukup tebal.
Youngjae hanya mendesis, mendorong tangan Daehyun dan kembali berkutat dengan buku tebalnya. Youngjae menarik nafas cukup panjang dan menyerah untuk membaca buku. Dia menempelkan dahinya pada permukaan meja dan menarik nafas dalam dalam.
Kenapa dia begitu gelisah seperti ini?
Mengapa dia merasa kurang dengan hari-hari yang dia lalui?
Dan Youngjae cukup sulit untuk menemukan apa yang hilang dari hari-harinya tersebut. Sambil menarik nafas Youngjae mengangkat kepalanya dan menumpukkan dagunya pada permukaan kayu.
Tunggu sebentar... Youngjae menyipitkan matanya.
Sungguh, matanya masih peka dengan sosok Jongup yang kini berdiri tak jauh dari posisinya. Pemuda berambut coklat itu sedang mencari buku diantara rak-rak yang menjulang tinggi. Senyuman yang bahkan tak ia sadari terkembang. Rasa hangat yang lama tak dia rasakan kenapa kini menyebar dengan perlahan dan begitu pasti. kupu-kupu yang bagaikan terbang didalam perutnya.
Seorang wanita nampak menghampiri Jongup. Berbincang sesaat dan mereka tertawa. Aura kelam yang menggelayuti fikirannya membuat Youngjae ingin sekali rasanya melempar buku yang tebalnya hampir sama dengan buku harry potter itu.
"apa-apaan dia.." desis Youngjae kesal.
Namun... sedetik kemudian dia sadar.
Siapa dirimu? Berhakkah kau?
Bahkan dia tak mempunyai sedikitpun hak untuk merasa sakit hati.. tapi kenyataannya.. hatinya sakit.
Ruang kosong yang selama ini hampa mulai menemukan milik siapa yang telah berhasil membuat lubang kelam itu terisi.
Iya..
Sosoknya disana..
.
.
Sosoknya... Moon Jongup.
:
:
:
Sehun kembali pada aktivitas paginya menunggu pos, tak secerah biasanya. Malah, terkesan buruk dengan lingkaran hitam disekitar matanya.
Tarikan nafas tak membuat segalanya terasa ringan. Ini semua memberatkannya. Sungguh.
Saat lelaki paruh baya itu memasuki pintu gerbang rumahnya. Sehun tersenyum sebisanya.
"selamat pagi,nak"
Sehun menjawabnya dengan gumaman, melihat ada dua surat yang kini berada dalam genggaman lelaki paruh baya itu.
"terimakasih" Sehun tak langsung masuk, melainkan terdiam dan mengamati dua surat yang berada dalam genggamannya.
Dua..?
Sama sama berwarna biru lembut. Sehun membalikkan surat tersebut demi melihat nama yang tertera disana.
Untuk.. Sehun?
Dan berikutnya Sehun membuka surat itu dengan hati-hati. Membaca surat bertuliskan rapi khas seorang Kim Jongin. Tapi.. detik berikutnya Sehun merobek cukup kasar surat itu dan membuangnya ke tempat sampah. Berlari masuk kedalam rumah dan melupakan apa yang tertera didalamnya.
Bagaimana jika, dia tidak bisa menjaga 'rahasia' kecil ini lagi?
:
:
:
"kapan hyung dan nuna akan menjengukku di korea?" Zelo memunguti pakaiannya yang berada dilantai. Sungguh, saat masih di amerika dia tidak akan susah-susah mengumpulkan pakaian kotornya yang tersebar dimana-mana. Khususnya kamar. Karena ada himchan yang akan membereskan segala keperluannya. Tapi kini, dia kesal pada dirinya sendiri yang selalu menomorduakan kebersihan.
"kapan kau mulai liburan?" suara berat kakaknya disebelah sana.
"mm... aku sudah liburan." Zelo memasukkan seluruh pakaian kotornya pada keranjang khusus pakaian dan mengangkatnya.
"kami akan segera kesana. Mungkin, lusa atau minggu depan"
"dimana nuna? Aku merindukannya" Zelo memasukkan satu-persatu pakaiannya kedalam mesin cuci.
"Himchan.. sedang tidak enak badan. Dia masih tidur"
"mm.. ohiya hyung. aku mau bertanya" Zelo tiba-tiba menegakkan badannya, yah.. mumpung dia ingat.
"apa?"
"aku mempunyai seorang tetangga.. ah.. tidak bisa disebut tetangga juga, dia berada satu gedung apartemen tetapi dia menempati satu lantai dibawah apartemen ku" entah kenapa menceritakaan Daehyun membut pipinya memanas.
"dia seorang pemuda yang baik, memiliki senyum yang memikat dan memiliki mata yang indah" Zelo meremas pakaian yang hendak dimasuki kedalam mesin cucui dengan erat "dia lebih tua sekitar.. 4 tahun, dia kuliah di jurusan arsitek.."
"...dan kau menyukainya" sang kakak memotong ucapan Zelo.
"a-apa?" Zelo langsung melempar pakaiannya.
"hey.. kau adikku. Lalu apa yang bisa kau sembunyikan dari kakak mu ini?" suara Yongguk nampak sangat tenang.
"yaaa..." Zelo menepuk-nepuk pipinya "bi..sa dikatakan seperti itu. tapi bukan itu yang ingin aku tanyakan" mencoba menghindar dari cecaran sang kakak.
"lalu apa?"
"sewaktu aku sedang berada di apartemennya, aku melihat ada poto Himchan hyung disana. Mungkin saja... kau mengenalnya?"
Hening..
Zelo melepaskan ponselnya yang melekat ditelinga dan menatap layar ponselnya. Masih terhubung.
"hyung?"
"siapa nama pemuda itu?" suara Yongguk sedikit mengeras.
Zelo mengerutkan keningnya. Suara kakaknya terdengar sangat berbeda.
"namanya.. Jung Daehyun"
Ada helaan nafas tertahan. Seperti tersentak kaget. Seperti ada berat beban yang terhempas.
"kau benar-benar menyukainya?" Zelo tahu, kakakknya menahan suara amarah yang bersembunyi.
"a-aku.. ya.. aku menyukainya. Tetapi.. aku sudah memiliki kekasih" setiap kata yang diucapkan seolah membayangi segala kepenatan dalam tutupan matanya.
"Zelo-ah.." suara kakkanya melembut. Membuat Zelo tersenyum kecil.
"jika kau berada diantara dua pilihan.. maka pilihlah pilihan yang dari pertama telah memikat mu"
Dan Zelo mematung..
.
Dari pertama.. memikatnya?
:
:
:
Flashback
.
Musim gugur.. dedaunan yang menguning mulai berterbangan disekitarnya. Senyuman kecil terbentuk. sangat manis. tangannya bergerak untuk mengambil sehelai daun yang bergerak menuju arahnya. Namun tiupan angin nakal membuat pipinya yang mengembung karena membuat daun itu menjauh darinya.
Mata beningnya menatap gusar ke arah bangunan sekolah dibelakangnya. Mata polos itu mengitari luasnya lapangan yang terhampar dan mencari sosok kakaknya yang mungkin berada diantara kerumunan pada pemuda yang sedang berjalan menuju ke arahnya.
Seragam menengah pertama masih melekat ditubuhnya. Dia memang sengaja, kabur dari pengawasan supirnya dan berlari menuju sekolah kakaknya yang tidak terlalu jauh dari letak sekolahnya. Dia hanya ingin pulang bersama dengan sang kakak. Tapi ini, dia sudah 2 jam lebih menunggu didepan gerbang sekolah sang kakak dan belum ada sedikitpun tanda-tanda kehadiran kakaknya.
Iris kelamnya menatap pada seorang pemuda yang bermain dengan seorang anak kucing. Pemuda itu memakai kemeja putih tanpa outfit, mungkin sengaja melepaskannya. Tangan kanannya mengelus lembut kepala anak kucing berwarna putih dengan garis orange lembut. Tangan kirinya menenteng ransel sekolah dan juga seragam outfti berwarna biru tua.
Senyuman terbentuk kembali diwajah manisnya. pemuda itu tampan, dengan rambut berwarna coklat lembut, rambut-rambut halus nampak menutupi keningnya, dan bisa dikatakan.. senyuman diwajah pemuda itu membuat dia merasakan desiran tak wajar menyapa hatinya.
"baiklah pedro.. aku harus pulang. sana.. kembali pada istri mu" ucap pemdua itu sambil menurunkan kucing yang berada dalam dekapannya dan membuat kucing manis itu berjalan.
Tapi, kucing itu malah berlari.. semakin dekat... dan menghampirinya..
Junhong. Pemuda itu terkejut kala kucing itu memainkan kepalanya pada sepatu Junhong.
"HEY.. PEDRO KEMBALI KAU" pemuda itu berlari menuju arahnya.
Junhong langsung mengambil kucing itu dan mendekapnya. Mengelus bulu halusnya.
"namanya Pedro" ujar pemuda itu yang ternyata kini sudah berada disampingnya. Junhong menunduk, suara pemuda itu sedikit berat walau ada kelembutan.
"manis" ujar Junhong sambil mengelus kepala kucing bernama Pedro itu.
"dia itu jantan loh" ujar pemuda itu sambil mengikuti Junhong mengelus kepala Pedro.
"JUNG DAEHYUN.. AYO PULANG, KAU MAU AKU TINGGAL?"
Pemuda yang berdiri disampingnya itu menoleh ke arah suara dan balas berteriak.
"YOO CEREWET. AKU AKAN SEGERA KESANA"
"aku pulang dulu Pedro. Dan kau.." dia melihat seragam sekolah Junhong.
"berhati-hatilah. Cepat pulang ini sudah hampir sore" Junhong hanya tidak menyangka jika pemuda itu mengusuk surainya sebelum berlari menuju ke arah temannya yang memanggilnya.
Pada dedaunan yang berterbangan disekitarnya. Sehelas daun bergerak perlahan dan mendekatinya.. Junhong membuka telapak tangannya.
TAP..
Dengan mulus, daun itu mendarat ditelapak tangannya.
'musim gugur telah membuat ku bertemu dengan pemuda pertama yang memikat ku.. bisakah... kita bertemu lagi?'
Dan kemudian suara kakaknya mengalihkan pandangannya yang menerawang.
"selamat tinggal Pedro" meletakkan kucing itu didepan gerbang dan berjalan ke arah sang kakak yang memandangnya khawatir.
"Yongguk Hyung~"
.
End..
:
:
:
Zelo masih terus menerus mengingat ucapan kakaknya. Lalu harus bagaimana? Saat hatinya sendiri pun tidak bisa membohongi apa yang sudah ada didalamnya.
Berulang kali Zelo mengingkari. Dia membohongi. Dia berharap adanya Sehun bisa membuat sedikitnya melupakan sosok Daehyun. tetapi apa? Dia menemukan dirinya sendiri terbaring dengan bayangan usapan lembut jemari Daehyun di rambutnya. Dia menemukan dirinya mematung di depan jendela dan mengingat ciuman Daehyun pada dirinya.
Bahkan... dia berulang kali salah memanggil Sehun dengan menyebutkan nama Daehyun. setelah semua ini terjadi, lalu dia bisa berbuat apa?
Zelo memasuki lobi gedung apartemennya. Sepi. Mungkin karena ini hari minggu dan para penghuni apartemen biasanya pergi keluar. Zelo sendiri baru saja bertemu dengan Sehun, menemani kekasihnya itu membeli hadiah untuk temannya yang berulang tahun.
Zelo terdiam. apa yang dia cari disini? Apa yang ingin dia temukan dengan tetap terdiam disini dan memandang ke arah lurus dihadapannya. Berharap melihat sosok Daehyun duduk dengan secangkir kopi dan juga koran yang menutupi wajahnya? Menunggu sapaan hangatnya atau bahkan... senyumannya?
Menarik nafas panjang, Zelo sungguh tak mengerti tentang apa yang terjadi dengannya kini. Dia melanjutkan langkah kakinya. Pintu lift yang tertutup dan membiarkannya terkurung pada kotak segipanjang yang mulai berjalan pelan ke arah atas membuatnya menggigit bibirnya dengan desakan kecewa.
Apa yang kau ingin temukan Choi Junhong?
Apa yang kau harapkan berada disisi mu?
Sesak dan desakan air mata yang mengalir dipipinya semakin membuat dirinya sadar.
.
.
Dia... merindukan Jung Daehyun.
:
:
:
Daehyun baru saja hendak meminum kopi yang baru saja dia buat saat dentingan bel dirumahnya berbunyi. Sungguh, dia mulai membenci dentingan pintu yang selalu mengganggunya.
Tapi rasa kesal itu tertepis saat melihat siapa pembunyi denting pintu yang menyebalkan ini. bahkan Daehyun tak sadar jika mulutnya tertarik ke bawah demi melihat sosok Zelo yang berdiri didepannya kini.
Daehyun langsung menyadarkan dirinya, tersenyum sebisa mungkin.
"Zelo, ada apa?"
Sosok manis itu menggigit bibirnya dan menggaruk belakang lehernya.
"itu..." dia menunjuk ke arah atas.
"apa?" Daehyun mendongakkan kepalanya. Mungkin saja Zelo melihat hantu diatasnya.
"itu ruang tamu dikamar ku.. lampunya mati" Zelo berkata terlihat salah tingkah.
Daehyun mengulum senyuman. Sangat manis. tidak.. jangan memeluknya.
"lalu?"
"bisakah... tolong gantikan bola lampunya?"
Daehyun tertawa. Dia refleks langsung mengacak rambut Zelo. Mengambil sweater yang tersangkut dibelakang pintu dan memberikannya pada Zelo.
"ayo kita ke apartemen mu" Daehyun masih saja tertawa. Ternyata selain Youngjae, ada juga yang tidak bisa memasang bola lampu. Daehyun mengunci pintu apartemennya dan berdiri didepan Zelo.
Zelo memandang Daehyun dengan matanya yang berkedip bingung. Detakan jantung dan luapan ingin memeluk Daehyun membuat Zelo ingin kabur saat ini juga dari hadapan Daehyun. tapi dia tidak bisa. Lampunya harus nyala. Dia memikirkan hal itu.
"tapi.. ini sweater mu kenapa diberikan pada ku?" Zelo mengulurkan sweater berwarna merah gelap milik Daehyun.
"karena aku mengambilnya untuk kau pakai. Musim dingin mulai datang, udara disini semakin dingin saja" Daehyun mengusap tangannya sendiri.
"t-tapi... hyung.."
"aku kan lelaki. Jadi aku kuat untuk dingin seperti ini"
"tapi aku juga kan lelaki, hyung"
Daehyun terdiam dengan wajah bodohnya.
"sudah pakai saja" dan Daehyun menarik tangan Zelo menuju lift.
:
:
:
Luhan memejamkan matanya, menarik nafas dengan tenang dan tersenyum perlahan membuka kelopak matanya, menatap pada wajah Sehun yang sedang terlelap. Wajah adiknya yang sangat manis jika sedang terdiam dan bernaung dialam mimpi.
Luhan.. tak bisa terus menerus berkata jika dia baik-baik saja dengan ini semua. maksudnya, dengan segala perkataan Sehun yang selalu membuatnya sesak.
Kata cinta yang dengan gamblang terucap dari bibir adik manisnya. Luhan mengusap rambut Sehun dengan lembut. Tapi Luhan sadar, adiknya yang manis telah berubah menjadi adik yang begitu tampan dan jujur saja memikat adik yang akan mematuhi apa saja keinginan Luhan telah berubah menjadi sosok dengan pendirian yang sangat kuat.
"kau tidak boleh mencintai kakak mu sendiri, Oh Sehun" Luhan berbisik. Diantara keremangan ruangan. Terhiasi sinar bulan yang masuk melalui kaca besar disisi kamar Sehun. mengarahkannya langsung pada pohon pohon sejuk yang dulu selalu menjadi tempat faforit mereka.
"karena..." Luhan menyapukan jemarinya pada dahi Sehun.
"aku takut aku akan membalas perasaan mu" detik berikutnya Luhan menarik nafas begitu panjang. ingin sekali melenyapkan rasa tercekik yang mengikat tenggorokannya.
Merasa tak kuat berada terlalu dekat dengan Sehun dan ditambah dengan ucapan yang baru saja dia ungkapkan membuat Luhan beranjak dari tepi tempat tidur Sehun.
Luhan melangkah menuju pintu dan menghilang dibalik pintu yang perlahan tertutup.
Tak sadar, jika sosok Sehun perlahan membuka kelopak matanya...
:
:
:
"nah.. kau hanya perlu memutarnya saja" ucap Daehyun sambil menunjukkan cara memasang bola lampu di ruang duduk Zelo.
Zelo menatapnya sambil memegangi kursi yang menjadi tempat Daehyun berdiri untuk mencapai bola lampu dilangit langit ruang duduknya.
"kau bisa kan melakukannya sendiri? masa harus selalu meminta orang lain?" ucap Daehyun sambil memandang kepala Zelo yang menunduk.
"tapi aku kan takut kesetrum" ujarnya sambil mengembungkan pipinya.
"tidak akan kesetrum jika kau hati-hati. Nah, sudah selesai. Coba nyalakan" Daehyun turun dari atas kursi dan memperhatikan keadaan gelap disekitarnya.
Zelo menjentikkan saklar lampu sambil menatap fokus pada letak bola lampu.
Tak ada yang terjadi. lampu tak menyala. Tetap gelap.
"ng... Daehyun hyung, kau yakin bisa memasang bola lampu?" tanya Zelo dengan ragu-ragu.
Daehyun mengerutkan keningnya. Dia menaiki kembali kursi dan berujar "matikan lagi saklarnya Zelo-ah"
Zelo menuruti perintah Daehyun. memandangi sosok Daehyun dari kegelapan. Hanya disinari lampu dari ruang kamarnya yang terbuka.
"coba nyalakan lagi" ujar Daehyun turun dari kursi.
Zelo kembali menjentikkan saklar lampu. Tetap. Keadaan gelap masih melingkupi.
"Daehyun hyung, jangan main-main" Zelo menatap kesal.
"aku tidak sedang bermain-main. Nampaknya, bukan bola lampunya yang rusak, tapi ada yang rusak dengan kabel penghubungnnya" ujar Daehyun sambil menatap ke arah bola lampu.
"lalu bagaimana?"
"ya, aku tidak bisa berbuat apa-apa" ujarnya sambil tersenyum. walau keadaan mereka gelap, Zelo tetap bisa melihat lengkungan indah terbentuk dibibir Daehyun.
"t-tidak bisa bagaimana? Lalu ini bagaimana?" Zelo terlihat panik.
"aku kan bukan tukang listrik. Lebih baik kau besok mendatangi resepsionis dan beritahu jika ada ada kerusakan pada kabel ruang duduk mu" jelas Daehyun sambil berdiri disamping Zelo.
" .."
"tapi apa?"
"hyung.." Zelo memukul lengannya "aku kan... takut gelap"
"eh? Yang lampunya mati kan hanya ruang duduk mu, kamar mu tidak" ujar Daehyun sambil menunjuk ruangan Zelo yang terang benderang dengan dagunya.
"tapi kan sama saja... ruangan ini gelap. aku kan sering mondar-mandir untuk mengambil minum. Lalu bosan dan menonton televisi. Apalagi ini liburan.. aku biasa menonton televisi sampai larut malam" jelas Zelo dengan raut yang begitu panik.
"lalu mau bagaimana? Aku temani?" tawar Daehyun.
Jujur, hatinya berdetak tak biasa kala Daehyun menawarkan hal tersebut. Mau menolak pun Zelo tahu dia tidak bisa sok berani dan sok tidak butuh bantuan dalam keadaan seperti ini.
"ta-tapi.."
"atau mau menginap di apartemen ku?"
Zelo semakin mematung, dia menggaruk tengkuknya. Memperhatikan wajah Daehyun yang menatapnya. Dalam keadaan gelap seperti ini, mengapa tatapan Daehyun seolah menusuknya?
Dan pada akhirnya.. dia memilih pilihan yang kedua...
:
:
:
"aku mau minum susu, hyung"
"ng?"
"aku mau susu" ulang Zelo sambil menarik-narik lengan Daehyun.
"hng? Susu? Sebentar... ini sedang adegan yang sangat seru" Daehyun tak melepas tatapan matanya pada layar televisi. Tak menggubris Zelo yang sedari tadi menarik tangannya.
"yasudah aku buat sendiri saja!" Zelo menghentakkan lengan Daehyun. dan dengan sengaja, menginjak kaki Daehyun saat dia lewat.
Daehyun mengaduh sakit, tapi ada senyuman dibibirnya. Zelo sangat manis saat dia tengah merajuk. Lalu Daehyun pun mengikuti Zelo yang masuk kedalam dapurnya.
"apa?! Sudah sana!" Zelo mendorong tubuh Daehyun agar keluar dari garis pintu dapurnya.
"hey, aku juga kan mau membuat minuman.. dan ini.." Daehyun menunjuk dahi Zelo dengan telunjuknya "adalah dapur ku"
Zelo mendesis sebal, ingin rasanya dia mencekik Daehyun. tapi... mana berani dia berbuat seperti itu. yang ada dia akan menemukan dirinya memeluk Daehyun bukan mencekiknya. Menarik nafas gusar dan berdiri disamping Daehyun.
"dimana susu nya?" Zelo tak menemuka kotak susu yang diinginkannya.
"aku lupa aku masih mempunyai persediaan susu atau tidak" ucap Daehyun dengan santai, membuka tempat bubuk kopi dan menaruk dua sendok bubuk kopi kedalam cangkirnya.
"mungkin ada di lemari pendingin" Daehyun tak tega melihat tatapan Zelo yang menginginkan susu. Wajah putih bersih itu bersinar. Berlari kecil ke arah lemari pendingin dan membuka pintu beratnya.
"wah... kau suka minum susu juga hyung? wah.. aku mau rasa coklat, tapi.. vanilla. Eh ada rasa strawberry?" Zelo terlihat begitu antusias, dia mengeluarkan ketiga kotak susu dengan rasa yang sudah dia sebutkan.
"menurut mu yang mana yang enak?" Zelo mengangkat ketiga kotak hingga sejajar pada dadanya.
"semuanya. Tapi kau ingin minum yang mana?" Daehyun mengaduk kopi racikannya yang sudah jadi.
"aku mau semuanya" jawabnya dengan tatapan bingung nan polos.
"yasudah, campur saja semua jadi satu" saran Daehyun.
"apakah tidak apa-apa?" Zelo terlihat ragu dengan usul Daehyun.
"memangnya apa yang akan terjadi? kemari, biar aku yang membuatnya"
Zelo membawa ketiga kotak susu itu, menaruhnya pada meja makan dan memperhatikan Daehyun yang memasukkan ketiga susu itu dalam satu gelas besar.
"lalu siapa yang akan mencobanya pertama kali?" Zelo menutup mulutnya dengan telapak tangan.
Demi Zelo. Gumamnya dalam hati. Meminum campuran susu itu dan mengernyit.
"bagaimana, hyung?" Zelo menatap pada wajah Daehyun yang terlihat samar antara menikmati dan tidak.
"rasanya unik" ujar Daehyun sambil meneguknya lagi.
"enak.. kau harus mencobanya" Daehyun mengulurkan gelas itu kearah Zelo.
"yakin rasanya enak?" masih nampak ragu. Zelo akhirnya memegang gelas itu dan mencoba meminumnya.
"bagaimana? Enak kan?"
Zelo tertawa, lalu mengangguk sambil terus meminumnya.
"enak hahah rasanya unik" Zelo membawa segelas besar berisi campuran itu ke ruang duduk.
Daehyun masih terdiam. dia merasakan jika Zelo sangat dekat dengannya saat ini. melihat tawanya, melihat wajahnya yang merajuk, melihatnya tersenyum, melihat raut wajah cemasnya. Daehyun menekan dadanya yang tertutupi kaus. Detak ini... bukan rasa sesak, tapi dipenuhi rasa bahagia.
Daehyun tersenyum kecil.. dia berharap malam ini tak akan berlalu dengan cepat.
:
:
:
Youngjae baru saja keluar dari toko buku saat matanya berpapasan dengan mata sipit nan teduh milik Jongup. Terkejut.. Youngjae menghentikan langkahnya. Dia membalikkan tubuhnya dan tidak berniat untuk menyapa Jongup. Walau sebenarnya, sikapnya ini berbanding terbalik dengan keinginan hatinya
Kenapa dia ada disini?
Youngjae berkali-kali bergumam seperti itu. melirik ke arah belakang dan melihat Jongup yang masih berdiri di pintu keluar.
Kenapa dia tidak pergi saja?
Pertanyaan kedua yang membuat Youngjae ingin menggigit buku dalam genggamannya.
Tunggu...
Apakah Jongup menunggunya?
Apakah Jongup berniat untuk menjelaskan hal yang tak ingin Youngjae dengar?
Youngjae menyipitkan matanya, meletakkan buku yang tadi ada digenggamannya dan melangkah kecil menuju tempat Jongup berdiri.
Langkahnya ragu, melihat tubuh Jongup yang seolah menarik dirinya untuk mendekat dan membuatnya tak bisa berhenti melangkah.
Nafasnya tercekat... ingin rasanya Youngjae memeluk sosok tegap yang tengah memasukkan tangannya kedalam saku celana. Youngjae tersenyum kecil.. lihat? Kau merindukannya Yoo Youngjae.
Langkahnya sudah mendekat jika saja tidak ada seorang wanita yang menghampiri Jongup dan menggamit lengannya.
Wanita itu... adalah wanita yang dilihatnya tadi siang diperpustakaan bersama Jongup.
Lagi-lagi mereka tertawa, Youngjae meremas bungkus plastik dalam genggamannya. melihat Jongup yang mengusuk surai panjang milik wanita itu membuat Youngjae langsung berpegangan dengan rak buku didekatnya. Melihat Jongup yang menggenggam jemari sang wanita dan berjalan beriringan. Menekan kuat dadanya.
"aku baik-baik saja" bisiknya menguatkan dirinya.
Bahkan untuk bernafas saja dia sangat sulit. Bersikap kuat dan baik-baik saja. tapi sesungguhnya.. inilah Youngjae.
Sosok yang juga akan lemah akan hal bernama cinta.
:
:
:
Jam sudah menunjukkan pukul dua pagi. Tapi kedua sosok itu masih terlihat menatap antusias bercampur ngeri ke arah televisi flat didepan mereka.
"apakah boneka itu akan membunuh kekasihnya sendiri?" Zelo bertanya sambil menyipitkan matanya karena sedikit takut.
"iya, nanti saat kekasihnya sedang mandi" ujar Daehyun sambil menatap layar televisinya dengan intens.
"kenapa saat kekasihnya sedang mandi?" Zelo memalingkan wajahnya dan menatap Daehyun.
"aku tidak tahu" Daehyun ikut memalingkan wajahnya dan mengangkat alisnya.
"kenapa bonekanya mesum sekali" gumam Zelo sambil menyilangkan lengannya didepan dada.
Daehyun menahan tawa. Jika saat ini yang mengatakan hal semacam itu adalah Youngjae, sudah pasti Daehyun akan terbahak dan memukul kepalanya dengan bantal sofa yang berada dipangkuannya.
"AAAAAAA. KENAPA DIA DATANG TIBA-TIBA SEPERTI ITU?" Zelo menarik-narik baju Daehyun hingga kerah baju Daehyun tertarik dan membuat bajunya merosot.
Daehyun tersenyum. dia membiarkan Zelo menutup wajah dibalik punggungnya. Merasakan deru nafas tak teratur menyapa lehernya.
"hyung... bisakah kita ganti filmnya?" Zelo berbisik pelan.
"tidak. ini sudah tanggung. Habis film ini selesai, kau boleh memilih film apapun yang kau mau" janji Daehyun.
Zelo benar-benar akan menagih janji Daehyun. dia tetap bersembunyi di balik pundak Daehyun. kadang menumpukkan dagunya pada pundak Daehyun, dan saat televisi didepannya menampilkan scene yang menakutkan, Zelo akan meremas baju Daehyun dan menyembunyikan wajahnya di punggung Daehyun. Himchan tak sedikitpun memperbolehkan dirinya menonton film horror, karena ia tidak suka dengan film seperti ini. dan Daehyun malah memilih film seperti ini untuk ditonton ditengah malam seperti ini.
Zelo meremas lengan Daehyun. membuat pemuda itu langsung mengalihkan tatapannya pada Zelo.
"a-aku tidak mau melihatnya" ujarnya sambil menunduk.
"kau takut?"
"sedikit"
"sebentar.."
Daehyun bangkit, Zelo mengikuti langkah Daehyun dengan matanya yang masuk kedalam kamar. Zelo menunduk. Kenapa dia bisa menjadi orang yang penakut?
"ini"
Zelo mengerjap-ngerjapkan matanya. Didepannya, kini.. Daehyun memegang sekitar 5 buah balon dengan warna-warna yang berbeda.
"b-balon darimana?" Zelo menerima benang tipis yang Daehyun ulurkan padanya.
"sebenarnya itu punya Youngjae. dia tadi membelinya dan menitipkannya tidak tahu untuk apa" ujar Daehyun sambil mengambil satu benang tipis diantara genggaman Zelo.
"aku biasa melakukan ini dengan Youngjae" Daehyun membuka ikatan balon tersebut. Memasukkan gas helium kedalam mulutnya.
"Zelo-ah selamat pagi" ucapnya dengan suara mirip anak kecil menggunakan helium voice.
Zelo tertawa, dia memukul mukul Daehyun karena tak berhenti tertawa.
"Zelo-ah, kau sedang apa? Zelo-ah apa kau masih takut?"
Zelo mengusap air mata disudut matanya karena terlalu banyak tertawa.
"aku mau mencobanya" dengan bersemangat mengambil salah satu balon dan membuka ikatannya.
"Daehyun hyung, selamat pagi"
Dan mereka tertawa mendengar suara Zelo yang terdengar seperti anak kecil. sangat manis dan lucu.
Daehyun kembali memasukkan gas helium kedalam mulutnya.
"Junhong-ah, aku merindukan mu" Daehyun berucap jujur. Menanti Zelo yang sambil tertawa memasukkan gas helium kedalam mulutnya.
"Daehyun hyung, aku juga merindukan mu"
DEG
Seolah semua tawa Zelo mengabur. Tergantikan oleh degupan jantungnya yang menggila. Bahkan genggamannya pada benang tipis itu terlepas. Membuat balon berwarna merah gelap itu melayang dan terpantuk pada atap apartemennya.
Pertanyaanya kali ini adalah..
Apakah ucapan Zelo jujur atau hanya sebuah spontanitas atas pertanyaan Daehyun?
Mulutnya sudah terbuka, hendak menanyakan kejujuran. Tapi di lubuk hatinya menyuruhnya untuk diam. Tidak.. Daehyun tersenyum dan kembali tertawa bersama sosok Zelo yang tersenyum manis ke arahnya. Sepertinya Zelo sudah melupakan rasa takutnya.
.
Bukankah hal pertama yang diucapkan ada sebuah kejujuran?
:
:
:
"Zelo-ah, ayo bangun.. ini sudah hampir jam 2 siang" Daehyun menepuk nepuk pipi Zelo yang masih terlelap.
"mm... aku mengantuk"
"siapa suruh tidur jam 7 pagi. Ayo bangun, kau butuh makan sesuatu" Daehyun terus menepuk nepuk pipi Zelo dengan lembut. Membuat pemuda manis itu bergumam dan memukul mukul tangan Daehyun yang menepuk pipinya.
Daehyun sendiri baru bangun sekitar 30 menit yang lalu, mengikuti jejak Zelo yang baru tertidur jam 7 pagi. Daehyun tersenyum melihat wajah manis Zelo yang sedang terlelap. Seperti anak kecil.
"Junhong-ah" Daehyun berbisik. Bersikukuh agar Zelo bangun agar mengisi perutnya terlebih dahulu.
"setelah makan kau bisa tidur lagi"
Zelo akhirnya membuka kelopak matanya yang terasa berat. Memegangi kepalanya yang terasa pusing. Zelo masih bergelung didalam selimut sebelum bangkit dan menutupi wajahnya dengan selimut.
"mengantuk sekaliiiiii"
Daehyun tertawa pelan, betapa bahagianya dia bila mendapati Zelo setiap pagi selalu terbangun ditempat tidurnya dengan keluhan manisnya yang mengantuk.
"ayo.. ini sudah jam 2"
Zelo langsung menarik selimut yang menutupi wajahnya.
"jam 2? Jam 2 siang?" Zelo terlihat panik.
"tentu saja. memangnya kenapa?"
Zelo langsung bangkit. Terlihat begitu panik dan mengacak rambutnya.
"aku harus apa. Ah iya.. pulang. hyung aku rasa aku harus pulang sekarang. aku lupa aku ada janji dengan Sehun jam dua siang hari ini. aduh, bagaimana bisa aku lupa. Bagaimana bisa aku baru bisa tertidur jam 7 pagi.."
Dan gumaman Zelo menghilang seiring dengan menghilangnya sosok itu dibalik pintu apartemen Daehyun.
Sedangkan Daehyun sendiri hanya bisa terdiam. memandangi boneka stitch besar milik Zelo yang masih tergeletak diatas tempat tidurnya. Daehyun mengelus selimut miliknya, hangat tubuh Zelo masih kerasa disana. Elusan itu berakhir dengan cengkraman kuat pada lembutnya kulit selimut.
Dia telah menggunakan caranya untuk menarik Zelo. Lalu bisa itu tidak berhasil membuat pemuda manis itu tertarik padanya.
Haruskah dia benar-benar menyerah?
:
:
:
Zelo menggosok gosokkan telapak tangannya. merasakan hawa dingin yang menyerbu tubuhnya. jam 2. Itu yang Sehun janjikan. Dan Zelo telat 45 menit dari jam yang mereka janjikan. Tetapi apa? Dia tertegun saat tak melihat sosok Sehun ditempat yang mereka sepakati untuk bertemu.
Zelo mengeluarkan ponselnya, menekan display nama Sehun dan mendapati suara operator diujung sana. Dia menghembuskan nafas diantara kedua telapak tangannya yang menempel. Zelo menatap jam disudut kota. Melihat kedustaan pada detak jarum yang bergerak maju.
Dia disini.. menunggunya yang kurang lebih telat tiga jam dari jam yang Sehun janjikan. Tapi Zelo tetap disini. Ada yang menahannya disini.
Dia merasa kesal. lihat saja, aku akan memukulnya dengan sepatu jika dia datang. Guguh Zelo sambil menghentak hentakkan kakinya pada aspal.
Tetapi waktu terus membohonginya. Waktu masih tetap mendustakannya. Zelo ingin pulang. meringkuk diatas tempat tidurnya dan tertidur dengan mengutuk nama Sehun. tapi dia menemukan dirinya terdiam mematung ditempatnya tanpa berkutik. Dia percaya Sehun.
Seberkas gumpalan berwarna putih turun dihadapannya. Menyapa hidungnya yang sudah membeku dan membuka lengkungan bibirnya yang sedikit membiru karena kedinginan.
Salju pertama... dan Zelo membenci kenapa dia harus melihat hal indah ini dengan kekacauan hatinya.
Salju semakin turun. Membuat Zelo bergerak dan menujuk box telepon untuk berlindung. Dia membersihkan salju yang hinggap dipakaiannya.
"aku akan benar-benar memukul kepala mu dengan sepatu, oh Sehun.. lihat saja" gerutu Zelo.
Kepalanya terangkat. Dan kini, pandangannya yang mendustakan. Tidak.. udara disekitarnya menipis. Matanya tak henti memperhatikan pundak kokoh yang baru saja melewati tempatnya berada. Pundak kokoh yang sedang memegang payung berwarna hitam dengan seorang pemuda manis disampingnya. menggamit lengan kokoh pemuda bertubuh tinggi.
Sehun.. ya matanya masih sehat.
Sehun mengacak rambut pemuda bertubuh mungil disampingnya. dan dengan kilat mengecup pipinya.
Zelo tersengat. Dia mengepalkan tangannya dengan tak wajar. Bahkan dia tidak merasakan jika buku-buku kukunya menancap pada telapak tangannya.
Dengan tangan gemetar, Zelo mengambil ponsel yang berada dikantung sweaternya.
Menekan display nama Sehun.. dan..
"halo?"
Suara diujung sana seiring dengan sosok pemuda yang tak jauh didepannya sedang menempelkan ponsel ketelinganya.
"Zelo-ya, ada apa?"
"kau sedang dimana? a-apakah kita jadi bertemu?" suaranya bergetar.
Raut wajah Sehun nampak tersentak. Sehun melepaskan gamitan pemuda disampingnya dan berjalan menjauh dari pemuda manis yang menatap punggung Sehun dengan tak rela.
"a-ah. Aku minta maaf sepertinya aku tidak bisa. Maafkan aku, kau masih menunggu ku?" Zelo melihatnya, mata Sehun yang mengitari tempat dimana seharusnya dia berada.
"tidak... tentu saja tidak" Zelo menahan isakan yang ingin keluar.
"aku sudah pulang karena cuaca terlalu dingin" Zelo menutup mulutnya.
"ah begitu? Baiklah.."
"ya.."
Zelo menjatuhkan ponselnya. Menatap Sehun yang kembali berjalan ke arah pemuda tadi dan merangkul pundaknya dengan mesra.
"Sehun... aku disini... aku, disini"
Gumamnya saat sosok Sehun melewatinya.
:
:
:
Jika ini adalah pura-pura belaka..
Lalu mengapa hati ku menangis melihatnya?
Benarkah aku mendustakan hati ini?
Lalu, siapa yang bisa ku pilih?
Dia... tau dia...?
.
.
.
HAAAAIIIIII... ya ampun, maaf banget aku lamaaaaaaaa banget nerusin ini FF. Anjir ya tugas ngestuck banget. Ini tadinya aku ga post hari ini karena tiba-tiba aja dapet pesan yang membuat aku drop banget. Tapi yeah... berhutang FF itu ga enak banget. Serasa ada yang ngeganjel. Dan karena sedikit lagi liburaan, yeah... aku usahakan untuk mengapdet kilat deh. Hehehe.
Thanks banget buat yang udah baca, maaf ga bisa sebutin satu satu. Buat yang meninggalkan jejak ataupun engga. I lope you much lah... terimaksih udah nyempetin baca FF aku yang... such a typo, dan' apa bagusnya sih?' gitulah.
Uh... love you so much lah pokoknyaaa.
RnR juseyooo...
